Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Tanpa Kata

Halaman Depan > Cerpen > Tanpa Kata
___________________________________

Olivia mengedarkan pandangan ke segala penjuru, tampak sedang mencari seseorang. Sementara layar ponselnya terus menyala sedari tadi.

Di layar itu terpampang pesan yang dikirimnya dua hari yang lalu. Dia memberitahu orang itu kalau hari ini adalah hari keberangkatannya. Bukan sekedar melewati batas kota, melainkan melintasi samudera dan benua untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Bahkan, jam keberangkatan pun sudah disebutkan secara detail di pesan itu. Pukul 10.20.

Si Penerima pesan sudah membaca pesan itu, terlihat dari tanda centang dua warna biru di aplikasi itu. Dia bahkan telah memberi balasan. [Iya. Aku akan datang mengantarmu. Tapi mungkin pas hari keberangkatan saja. Sekarang aku masih di kampung. Ada urusan penting]. 

Kini jam dinding yang menempel di pilar besar di depan Olivia sudah menunjukkan pukul 09.05. Lima belas menit lagi dia harus segera masuk ke ruang check-in. Sementara sosok yang ditunggunya masih juga belum terlihat seperti yang dijanjikannya dalam pesan itu. 

Layar ponselnya terus menampilkan obrolan dari orang yang sama.

[Kamu sudah di mana?] Pesan terakhir yang dikirimnya setengah jam yang lalu masih tercentang abu-abu.

Berbagai pesan masuk lainnya tidak digubrisnya sama sekali. Jempolnya berkali-kali ditempelkan pada tombol panggilan. Sepertinya dia ingin melakukan panggilan untuk orang itu, tapi selalu diurungkannya. Dia tampak makin gusar.

“Ayo kita masuk,” ajak ibunya yang sedari tadi sibuk memainkan gawai.

“Bentar, Ma. Lima menit lagi ya,” timpal Olivia tidak langsung mengiyakan.

“Menunggu siapa, sih? Dari tadi matamu enggak pernah diam melirik ke mana-mana. Itu ponselmu nyala terus, tuh!” Ayahnya yang tampak cuek akhirnya ikut nimbrung.

“Enggak ada, Pa.” Olivia mencoba tersenyum. Bibirnya berhasil melengkung ke atas, tapi getir. Matanya tidak bisa berbohong. Tampak kekecewaan dari sorot mata itu.

“Ya sudah. Lima menit lagi.” Ibunya menolerir.

Lima menit berlalu begitu cepat. Sekali lagi Olivia mengedarkan pandangan ke segala arah, termasuk ke tempat parkir motor di ujung tenggara. Tapi tampaknya itu sia-sia. Raut wajahnya masih tampak kecewa. Dia malah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat, seperti sedang menenangkan diri sendiri.

Dia akhirnya menuruti ajakan kedua orang tuanya. Dengan langkah gontai, dia berjalan mengekor di belakang mereka, mengarah ke pintu masuk ruang check-in.

Benaknya mulai memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang makin menyesakkan. Apakah pria itu masih berniat menjaga hubungan ini? Ataukah kisah ini berakhir begitu saja, tanpa kata?

-- Selesai --

Halaman Depan

Cerpen

Komentar

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.