Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Perspektif

Halaman Depan > Perspektif
____________________________________

Alkisah, ada empat orang buta diminta mendeskripsikan gajah. Orang buta pertama mendekat dan mulai meraba-raba. Dia tersentuh bagian kaki gajah dan mulai merayapinya dengan telapak tangan. Setelah selesai, dengan penuh percaya diri dia pun menjelaskan bahwa gajah berbentuk bulat panjang, kokoh, dan tegak lurus. Ukurannya tidak terlalu besar karena dapat dipeluk dengan kedua tangan.

Setelah itu, gantian orang buta kedua yang mendekati gajah. Dia mulai meraba dan tampak mengernyitkan dahi. Gajah menurutnya tidak persis sama dengan deskripsi dari orang buta pertama. Bentuknya memang bulat panjang, tapi tidak tegak lurus ke atas melainkan ke samping. Ukurannya pun jauh lebih besar karena tidak dapat dipeluk.

Mendengar dua penjelasan yang berbeda itu, orang buta ketiga merasa kalau ada yang salah dengan mereka berdua. Sama seperti yng lain, dia juga mulai mendekat dan meraba-raba tubuh gajah. Kebetulan dia mendapati bagian yang berbeda, yaitu belalainya. Awalnya dia mengangguk-angguk tanda setuju, gajah memang berbentuk bulat panjang. Tapi dia kemudian menyadari bahwa gajah tidak sebesar yang disebutkan dua orang itu, karena masih bisa digenggam dengan dua telapak tangan. Jadi tidak harus dipeluk. Selain itu, bentuknya juga tidak kokoh dan kaku, melainkan lentur dan mudah meliuk-liuk.

Orang buta keempat tentu saja sangat penasaran. Dia bertanya-tanya dalam hati, kenapa ketiga orang sebelumnya bisa berbeda pendapat sedemikian rupa. Dia mulai mendekati gajah, menjulurkan tangan, lalu mendapati bagian telinganya. Betapa terkejutnya ia, bentuk gajah sangat jauh berbeda dari yang disebutkan tiga orang sebelumnya. Gajah tidak bulat sama sekali, melainkan pipih dan lebar!

Begitulah kira-kira gambaran sederhana bagaimana kita melihat dunia. Karena memiliki kelemahan dan keterbatasan, kita tidak pernah mendapatkan gambaran utuhnya. Sering kali kita melihat dunia hanya dari satu sisi atau sudut pandang saja. Sudut pandang inilah yang disebut dengan perspektif.

Dalam menjalani kehidupan, kita senantiasa dituntut untuk mengamati dan mempelajari dunia yang maha luas ini, berharap mendapatkan pemahaman dan gambaran yang utuh. Sayangnya, kita biasanya hanya memiliki satu perspektif tentang sesuatu. Lalu orang lain memiliki perspektif yang berbeda, karena mereka melihatnya dari tempat dan sudut yang berbeda. Hasilnya, muncullah perbedaan pendapat di antara kita tentang sesuatu yang sebenarnya sama.

Jika kita teguh dengan perspektif kita dan tidak mau menerima perspektif orang lain, yang muncul kemudian adalah sebuah perdebatan. Jika perdebatan itu tidak menemui titik kesepakatan, ujungnya bisa saja menimbulkan permusuhan atau perpecahan. Alih-alih menyelesaikan masalah, kita malah menambah masalah baru, yaitu bermusuhan dengan orang lain.

Sebaliknya, jika kita mau bersikap terbuka dengan segala kemungkinan yang ada. Kita mau menerima berbagai macam perspektif yang berbeda yang dikemukakan orang lain. Kita lalu berupaya menghubung-hubungkan dan menyusunnya secara proporsional sesuai dengan posisi masing-masing . Kita pun akan mendapatkan gambaran dan pemahaman yang lebih lengkap, utuh, dan menyeluruh tentang fenomena itu. Jika pemahaman utuh itu disepakati, hasilnya adalah sebuah kebijaksanaan yang mendorong tumbuhnya kebersamaan dan persatuan.

Halaman perspektif ini disediakan bagi siapa saja yang hendak membagikan perspektifnya tentang sesuatu. Fenomena yang disoroti boleh apa saja, tapi diutamakan yang terkait dengan dunia kepenulisan. Harapannya, semakin banyak perspektif yang muncul dan dibagikan di sini, semakin utuh dan menyeluruh gambaran tentang dunia tulis menulis.

Di bawah ini disajikan beragam tulisan yang menyoroti tentang dunia penulis dan tulisan dari berbagai sudut pandang. Mudah-mudahan perspektif ini dapat memicu dan membuka banyak perspektif baru sehingga dapat membuat gambaran tentang dunia kepenulisan semakin lengkap, utuh, menyeluruh, berwarna, dan bermakna.

Bagi Anda yang berminat dan ingin menggeluti dunia kepenulisan, membaca pandangan-pandangan yang disajikan di halaman ini mungkin dapat melengkapi perspektif Anda tentang dunia kepenulisan. Harapannya Anda semakin meyakini bahwa dunia inilah yang ingin Anda geluti sepanjang hayat dengan sepenuh hati. Selain itu, Anda juga memiliki hak yang sama untuk membagikan perspektif Anda di sini.

Berikut beberapa perspektif yang sudah tersedia sejauh ini:

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Menghargai tulisan beserta penulisnya merupakan sikap yang sangat penting untuk kita tumbuhkan. Para penulis dan tulisannya telah berkontribusi luar biasa dalam mendukung dan mendorong perkembangan peradaban manusia sehingga menjadi sangat maju seperti yang kita rasakan sekarang. Namun sayangnya, berdasarkan kajian terhadap sejarah peradaban manusia, penulis dan tulisannya sering kurang dikenang dan dihargai secara pantas oleh umat manusia, termasuk oleh generasi kita saat ini. Nama mereka tenggelam di balik nama besar raja, ratu, kaisar, panglima perang, selebritis, atau orang-orang super kaya. Padahal, kontribusi mereka tidak kalah besarnya dibandingkan dengan .... Baca selengkapnya >>>

Menitipkan Impian Melalui Tulisan

Kita semua punya impian, mulai dari impian receh sampai impian tingkat tinggi. Seperti apa pun impian itu, tetap saja harus disyukuri karena itu adalah anugerah yang luar biasa. Impian merupakan ciri khas kita sebagai manusia yang membedakan kita dengan makhluk hidup yang lain. Impianlah yang menggerakkan perubahan dan perkembangan kehidupan manusia sehingga kehidupan berkelompok populasi manusia sangat jauh berbeda dengan spesies lain seperti singa, cacing, ikan, rerumputan, atau bakteri. Baca Selengkapnya >>>

Modal Dasar Menjadi Penulis Istiqomah

Profesi sebagai penulis profesional sudah menjadi pekerjaan yang menjanjikan. Beberapa penulis profesional bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga mendapat rezeki melimpah sehingga menjadi kaya raya berkat tulisannya yang menjadi best seller.

Untuk level internasional, sebut saja J.K. Rowling yang menjadi kaya raya berkat karya fenomenalnya Harry Potter. Ada juga penulis klasik J.R.R. Tolkien yang pundi-pundi uangnya terus mengalir hingga kini berkart trilogi Lord of the Rings-nya. Dan Brown berhasil memukau dunia dengan tokoh Langdon dalam Da Vinci Code atau Angel and Demon-nya sehingga berhasil menjadi salah satu miliarder dari kegiatan menulis. Baca selengkapnya >>>

Kenapa Bukunya Tidak Digratiskan? (1)

Ide tulisan ini muncul ketika saya menghadapi rekan yang bersikeras ingin mendapatkan buku saya secara gratis. Waktu itu saya baru saja menerbitkan buku perdana yang berjudul Pendidikan Sains dan Teknologi, yang ditulis selama hampir delapan tahun. Saya tidak bisa memenuhi permintaannya itu karena saya merasa dia kurang menghargai perjuangan saya yang berdarah-darah dalam menyelesaikan buku itu. Namun, karena pada waktu itu saya tidak enak hati untuk menolak langsung, tiba-tiba munculah ide untuk menuliskan penolakan itu melalui tulisan ini. Baca selengkapnya >>>

Kenapa Bukunya Tidak Digratiskan? (2)

Pada artikel sebelumnya telah diuraikan alasan kenapa sebuah buku sebaiknya tidak digratiskan. Ulasan pada bagian tersebut dikaji dari aspek proses penulisan sebuah buku yang begitu rumit, panjang, dan berliku-liku. Artikel bagian kedua ini akan membahas alasan lainnya, yaitu dilihat dari aspek nilai yang terkandung dalam sebuah buku. Baca selengkapnya >>>

Lima Alasan Saya Membuat Blog

Sebebarnya saya sudah lama tahu tentang Blogger dan manfaatnya dalam dunia kepenulisan. Tapi dulu saya tidak begitu tertarik. Baru beberapa hari ini saya akhirnya memutuskan untuk membuat blog pribadi. Mungkin ada beberapa sahabat di dunia maya terutama di Facebook yang bertanya-tanya, kenapa akhirnya saya membuat blog pribadi. Kalau ada yang penasaran, berikut saya ceritakan alasannya. Paling tidak ada lima alasan. Baca selengkapnya >>>

Diakui di Negeri Canggih,  Dilupakan di Negeri Sendiri?

Wajar rasanya kalau saya merasa bahagia ketika artikel ilmiah kami diterima di jurnal internasional terindeks scopus (Q4) untuk pertama kalinya. Apalagi saya menjadi penulis pertama. Artikel tersebut diterbitkan secara resmi di Malaysian Online Journal of Educational Management (MOJEM) awal tahun 2020. Kebahagiaan itu bukan tanpa alasan. Belakangan ini scopus sedang menjadi primadona yang mempesona sekaligus momok yang menakutkan bagi banyak dosen di Indonesia. Bisa berdamai dan berkawan dengan scopus mungkin merupakan idaman sebagian besar dosen Indonesia. Baca selengkapnya.

Pergeseran Samudera Biru

Dari dulu, saya termasuk orang yang tidak setuju dengan sistem persaingan dengan orang lain untuk memperebutkan hal yang sama. Lebih spesifik lagi, saya tidak setuju dengan sistem peringkat di kelas dan di sekolah karena itu bentuk persaingan yang tidak adil dan tidak sehat. Menurut saya "berkompetisi dengan orang lain tidak pernah adil, sebab titik start dan bekal yang dimiliki setiap orang itu berbeda-beda." Meskipun sebenarnya saya termasuk orang yang diuntungkan dengan sistem peringkat di kelas dan di sekolah, tetap saja saya tidak setuju dengan pemeringkatan seperti itu. Seperti apa keuntungan yang saya rasakan? Kenapa saya malah tidak setuju?  Baca selengkapnya >>>

Profesi Ini Belum akan Tergantikan Oleh AI

Perubahan dan perkembangan memang tidak dapat dihindari. Itu adalah cara kerja alam yang tidak bisa ditolak. Sayangnya, perubahan dan perkembangan tidak selalu menghadirkan berita gembira. Seringkali pula perubahan dan perkembangan menimbulkan ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, hingga masalah-masalah baru yang sulit dipecahkan. Misalnya saja, munculnya robot dan kecerdasan buatan telah mengancam banyak profesi yang berpotensi menimbulkan pengangguran masal. Seperti apa ancaman AI? Bagaimana menyikapinya? Profesi apa yang masih aman? Baca Selengkapnya >>>

Lima Alasan Indonesia Bisa Menjadi Negara Adidaya

Sebagaimana kebanyakan orang, saya pun memiliki impian. Pada awalnya impian itu bersifat pribadi dan sempit, misalnya ingin menjadi penulis terkenal. Lama kelamaan impian itu mulai berkembang menjadi impian besar dan bersifat kolektif, yaitu ingin menjadikan Indonesia sebagai negara adidaya, minimal masuk lima besar di dunia. Apa alasan saya memimpikan itu? Apakah impian seperti itu masuk akal dan didukung oleh keadaan? Baca selengkapnya >>>

______________________________________

Halaman Depan

Komentar