Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Halaman Cerpen berisi produk tulisan berupa kumpulan cerita pendek, terutama yang telah ditulis oleh pemilik situs ini. Beberapa cerpen juga berasal dari penulis lain.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya terdengar jawaban. Suara seorang perempuan. Nampak wajahnya langsung berbinar. Senyumnya pun langsung terkembang.
“Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif” terdengar suara samar dari ponsel yang kini telah diletakkannya di dekat telinga.
Ekspresinya pun langsung berubah. Wajahnya langsung pucat pasi dan tegang. Mulutnya menganga seolah tidak percaya.
Ditatapnya punggung perempuan itu terakhir kalinya sebelum menghilang di belokan ke kanan di ujung sana. Baca Selengkapnya >>>
Hari masih pagi, tapi langit sudah terlihat mendung. Sama persis seperti hatiku. Aku bergegas masuk ke mobil untuk pergi ke gedung pengadilan agama. Hari ini jadwal mediasi pertama setelah aku mengajukan gugatan cerai kepada suamiku beberapa minggu yang lalu.
Aku kaget luar biasa saat masuk ke dalam ruang mediasi. Jantungku langsung berdegup tidak beraturan. Wajah mediator yang sedang duduk tenang di ujung meja sana tidak mungkin tidak kukenali. Namanya pun masih terpatri sangat kuat di dalam ingatanku. Jujur kuakui, dia adalah pria paling mengesankan di sepanjang hidupku. Dia adalah pria terbaik yang pernah kukenal. Baca Selengkapnya >>>
Matanya beralih menatap kosong ke arah buket bunga krisan yang tergeletak di atas pasir di sampingnya. Momen beberapa jam yang lalu masih terbayang dengan jelas di benaknya. Rencananya buket bunga itu hendak diberikannya kepada seorang perempuan spesial yang telah lama mengisi hatinya, bahkan sejak kecil. Tapi rencana itu berantakan dalam hitungan detik saja. Baca selengkapnya >>>
“Bad week!” kataku dengan ketus. "Tidak satu pun orang-orang disini nyambung dengan obrolanku. Mereka benar-benar ketinggalan zaman. Rasanya orang-orang zaman batu lebih maju daripada mereka.
Sebenarnya aku tidak habis pikir dengan negeri yang katanya gemah ripah loh jenawi ini. Tanda-tanda salah urus begitu vulgar terpampang di depan mata. Teknologi untuk bisnis cepat sekali merambah sampai ke pelosok desa, seperti desa tempatku bertugas sekarang ini. Sementara teknologi untuk dunia pendidikan tidak tahu kapan akan dinikmati anak-anak di sini. Aku tidak bersemangat kalau harus mengajar dengan cara-cara kuno yang masih dipraktikkan para guru di sekolah baruku itu." Baca Selanjutnya >>>
“Kenapa baru pulang!!!” kata-kata bernada tinggi dan intonasi yang keras langsung menghantam telingaku. Suara itu keluar dari pria menyeramkan di depanku, yang sedang duduk di meja piket asrama. Itulah resikonya jika kakiku terlambat menginjak anyaman kain bekas di depan teras asramaku, yang tak pernah bisa mengeluh diinjak-injak. Nasib kain bekas tersebut tidak jauh berbeda dengan nasibku. Baca Selanjutnya >>>
Peluh yang mengucur deras di dahi Viola sepertinya menjadi pertanda kalau ada sesuatu yang mengusik hatinya. Rasanya itu bukan karena pengap. Sebab, gedung yang menjadi tempat sakral untuk mengikat janji suci antara ia dengan pangeran pilihannya dibatasi untuk beberapa tamu undangan saja. AC pun bekerja dengan baik.
"Kamu sakit?" tanya Brian yang kini telah sah menjadi suaminya.
"Keringatmu ini ...," tambahnya sambil menghapus bulir-bulir bening di dahi Viola dengan tisu yang tersedia. Baca selengkapinya >>>
"Aku tak sanggup lagi mendampingimu. Biarkan aku pulang, merawat anak-anak kita di rumah. Nanti, biar Mamak menggantikan aku di sini."
Tiga kalimat keluar dari lisanku serupa mantra. Membuat air matamu dengan cepat menganak sungai, lalu mengalir membasahi rambutmu yang beberapa hari belum sempat kurapikan.
"Kenapa?" tanyamu pelan, di sela isak tangis yang akhir-akhir ini tidak kusukai. Baca selengkapnya >>>
________________________
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.