Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 10. Kesempatan Kedua

 Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 10. Kesempatan Kedua
_____________________________________________

Mendapat kabar yang sangat mengejutkan dari Miranda, Pak Sanjaya langsung bergerak cepat. Hari itu juga dia mencari tiket penerbangan Jakarta-Perth. Untung saja penerbangan ke sana tidak seramai ke kota-kota lain di Australia seperti Sydney atau Melbourne. Dia pun langsung mendapat tiket sore itu juga.

Perjalanan Jakarta-Perth ditempuh sekitar empat jam. Selama berada di dalam pesawat, dia panik bukan kepalang. Sebenarnya dia sudah berencana menemui mantan istrinya itu sejak bulan lalu, tapi kesibukannya untuk mengakuisisi kembali saham QDC dari Pak Gumira telah membuatnya lupa akan rencananya itu. Kini, ketika dia kembali teringat dengan niat itu, kondisinya malah mengkhawatirkan. Berdasarkan keterangan putrinya siang tadi, kondisi Bu Ratna sangat kritis.

Sesampainya di Bandara Internasional Perth, Pak Sanjaya langsung bergegas mencari taksi yang dapat mengantarkan langsung ke rumah sakit. Dia meminta sang sopir untuk mencari jalan pintas menuju ke sana. Dia seperti sedang dikejar-kejar waktu. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dilakukannya sebelum terlambat. Dia tidak berhenti menelepon Miranda, menanyakan keadaan Bu Ratna sekaligus memastikan ruang tempat mantan istrinya itu dirawat.

Saat dia datang, Miranda sedang duduk di kursi panjang di depan ruang ICU, didampingi oleh Robert. Karena sangat panik waktu itu, rupanya Miranda masih sempat menelepon dan memberitahu suaminya itu untuk minta ditemani di rumah sakit.

"Bagaimana keadaan Mamamu, Mir?" tanya Pak Sanjaya yang terlihat sangat panik.

"Masih koma, Pa. Sekarang masih mendapat perawatan dari para dokter," jawab Miranda sambil terisak-isak.

Robert langsung memeluk tubuh Miranda dari samping, dan membelai rambutnya. Dia merasa beruntung Miranda masih mempercayainya dengan memberitahukan kejadian yang menimpa ibu mertuanya. Dia merasa, ini pertanda kalau Miranda masih mau memberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.

"Boleh saya bicara berdua dengan Miranda dulu, Rob," kata Pak Sanjaya pada Robert.

"Oh iya, Pa. Silakan."

Robert melepaskan dekapannya pada Miranda, lalu berdiri dan berjalan menjauh. Ditelusurinya lorong panjang rumah sakit dan berhenti di ujungnya. Dia memilih duduk di bangku panjang yang menghadap ke arah Miranda dan ayahnya. Dia pun menyunggingkan senyum ke arah Miranda untuk memberikan dukungan moril.

Sementara itu, Pak Sanjaya sudah duduk di sebelah kiri Miranda. Namun dia tidak langsung bersuara. Tampak dia sedang berpikir keras untuk memilih kata-kata yang tepat yang akan disampaikannya pada putrinya.

"Papa mau cerita, Mir," katanya kemudian.

Miranda menoleh. "Cerita apa, Pa?"

Pak Sanjaya kembali tampak berpikir dan menimbang-nimbang sesuatu.

"Papa tidak tahu apakah Mamamu sudah menceritakan ini atau belum. Tapi Papa tetap mau bercerita ke kamu secara langsung," katanya pelan.

Miranda mengangkat kepala lagi lalu menoleh ke arah ayahnya.

"Tentang apa, Pa?" katanya terlihat sedikit penasaran.

"Dulu, sebulan setelah Mamamu meninggalkan rumah, dia pernah mendatangi Papa ke kantor, ingin memperbaiki semuanya," kata Pak Sanjaya sambil pikirannya menerawang jauh ke masa lalu.

Miranda diam, tidak memberikan tanggapan sedikit pun.

Pikiran Pak Sanjaya terus melintasi ruang dan waktu jauh ke masa lalu di Jakarta sana, ke suatu momen yang sangat disesalinya. Andai saja dulu dia mengambil keputusan berbeda, mungkin perjalanan hidup dirinya, Bu Ratna, dan Miranda akan jauh berbeda.

***

"Mau apa kamu ke sini?!" tanya Pak Sanjaya muda dengan sinis ketika Bu Ratna muda mendatanginya ke kantor.

"Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Erik, Mas!" Bu Ratna muda menjawab agak terbata-bata.

"Terus apa hubungannya denganku?" kata Pak Sanjaya masih sinis.

"Beri aku kesempatan memperbaiki diri, Mas. Aku tidak akan lagi melakukan perbuatan seperti itu."

"Silakan saja kalau kamu mau memperbaiki diri. Itu sangat bagus. Tapi itu tidak ada hubungannya lagi denganku."

"Aku bukan hanya ingin memperbaiki diriku, Mas. Tapi memperbaiki hubungan kita," kata Bu Ratna terdengar mengiba.

Pak Sanjaya masih menatap sinis.

"Kenapa? Kamu mulai tidak nyaman hidup tanpa memiliki apa pun? Kamu mulai kesulitan membeli make-up dan pakaian mahal?"

"Demi Tuhan, Mas. Bukan itu maksudku ingin memperbaiki diri. Semua ini bukan demi harta dan kekayaan, Mas. Semua ini demi Miranda." Ratna mulai terisak.

"Maaf. Aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama."

"Pertimbangkanlah sekali lagi, Mas. Miranda masih membutuhkan pengasuhan kita berdua," kata Bu Ratna terus mengiba dan mulai menitikkan air mata.

Pak Sanjaya malah terkekeh cenderung meremehkan.

"Tidak! Aku yang akan mengasuh Miranda. Aku tidak akan membiarkan dia diasuh oleh wanita sepertimu. Itu hanya akan merusak kepribadiannya!" balas Pak Sanjaya dengan suara lantang.

Bu Ratna langsung terperangah mendengar itu.

"Masya Allah, Mas. Aku memang pernah berbuat salah. Tapi aku tidak akan merusak anakku sendiri," katanya dengan suara bergetar.

Pak Sanjaya tertawa sinis.

"Kamu tega merusak dirimu sendiri. Tidak menutup kemungkinan kamu pun tega merusak anakmu sendiri."

Bu Ratna terbelalak seolah tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Pak Sanjaya. Dia memilih tidak meneruskan perdebatan itu karena sudah tahu seperti apa ujungnya. Pernikahan mereka selama sepuluh tahun sudah cukup untuk mengenali seperti apa suaminya itu. Satu kata yang dapat disematkan kepadanya adalah perfeksionis, selalu menginginkan kesempurnaan, tidak bisa mentoleransi kesalahan.

Dengan berurai air mata, Bu Ratna langsung berbalik arah. Dia berjalan cepat menuju pintu keluar ruang kerja Pak Sanjaya.

***

"Maafkan Papa ya, Mir. Papa tidak pernah memberi kesempatan untuk Mamamu," kata Pak Sanjaya mulai terdengar parau. Tampaknya dia ingin menangis, tapi ditahannya.

Miranda tidak menatap ayahnya, melainkan menoleh ke arah Robert yang sedang duduk di kursi panjang di ujung lorong sana. Dia seolah-olah mendapat pencerahan. Dia telah memiliki keputusan, apa yang akan dilakukannya terhadap suaminya.

Robert menyadari kalau Miranda sedang menatapnya. Dia pun balas menatap dan mencoba tersenyum. Dia melambaikan tangannya.

Pak Sanjaya menoleh ke arah Miranda yang tidak menanggapi ceritanya barusan. Dia tidak mempermasalahkannya. Dia malah kembali melanjutkan,

"Rupanya, tekad Mamamu untuk memperbaiki diri memang dibuktikannya. Beberapa bulan lalu Papa menemui, Tante Retno, kakak mamamu yang tinggal di Jogja. Mungkin kamu belum pernah menemuinya."

Miranda menggeleng. Dia memang belum pernah bertemu langsung dengan kakak mamanya itu.

"Apa kata Tante, Pa?" tanyanya mulai agak penasaran.

Pak Sanjaya menarik napas panjang sebelum meneruskan.

"Tante Retno bercerita. Setelah berpisah, mamamu lama tinggal bersamanya. Semenjak terakhir kali mamamu mendatangi Papa, dia benar-benar tidak pernah lagi mendekati laki-laki lain. Dia tidak pernah menikah lagi, walaupun puluhan laki-laki melamarnya. Mamamu tidak pernah kehilangan pesonanya. Tapi dia tidak pernah lagi memanfaatkan pesona itu untuk melampiaskan keinginan-keinginannya. Mamamu benar-benar berubah. Tapi sayangnya, Papa tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu."

Raut penyesalan luar biasa terpancar di wajah Pak Sanjaya.

"Sudahlah, Pa. Tidak usah dipikirkan lagi. Semua sudah terjadi. Miranda bisa memahami keputusan Papa waktu itu. Lagi pula, Miranda sudah bisa tinggal bersama Mama selama setahun terakhir ini."

"Tapi Papa menyesal belum sempat menyampaikan satu kata pun padanya. Papa menyesal belum mengatakan kata maaf pada mamamu dulu. Papa menyesal belum mengatakan bahwa papa juga telah memaafkannya. Papa menyesal belum sempat meminta maaf padanya sekarang. Kini, Papa tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk menyampaikan kata maaf itu."

Miranda kembali menatap ke arah Robert. Terbersit di pikirannya untuk tidak membuat kesalahan seperti ayahnya. Dia tidak ingin diselimuti penyesalan berkepanjangan andai nanti tidak memberikan kesempatan pada suaminya itu. Penyesalan ayahnya itu mungkin saja tidak akan pernah berakhir andai saja ibunya tetap tidak sadarkan diri dari komanya. Dia tidak ingin seperti itu.

Robert tahu kalau dia sedang ditatap oleh istrinya. Dia kembali tersenyum untuk menenangkan. Senyum itu terlihat sangat tulus. Mungkin dia sama seperti Bu Ratna, mulai menyadari kesalahan dan ingin memperbaiki diri. Sekarang kuncinya ada pada Miranda. Apakah dia akan memberi kesempatan atau tidak.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar