Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 11. Modus

 Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 11. Modus
____________________________________________

Setelah berdamai dengan ayahnya, Vania datang ke sekolah dengan wajah yang jauh lebih ceria. Tanggapan miring dan negatif dari teman-temannya tidak lagi berpengaruh. Dia pun mulai bisa fokus kembali belajar untuk berprestasi dan mengejar cita-cita seperti yang telah dijanjikan pada ayahnya.

Dari yang telah dialaminya beberapa waktu terakhir ini, dia juga mendapat pandangan baru tentang pertemanan. Baginya, teman itu tidak perlu banyak, apalagi kalau hanya menyusahkan serta mendatangkan masalah dan penderitaan. Lebih baik memiliki sedikit teman, asalkan mereka memiliki ketulusan, kepedulian serta saling menguatkan dan menenangkan. Beruntung bagi Vania, dia telah memiliki teman seperti itu.

Bima adalah salah satunya. Laki-laki itu benar-benar telah berubah. Sikapnya terasa benar-benar tulus. Bahkan dia rela melakukan hal ekstrem untuk membela Vania. Beberapa kali dia mendamprat teman sekelasnya yang masih mengolok-olok gadis itu.

Sepulang sekolah, Vania kembali duduk di taman belakang kelas. Dia membawa sebuah buku tentang ekonomi dan bisnis yang dipinjamnya di perpustakaan. Rupanya dia mulai tertarik mempelajari dunia bisnis.

"Hai!" tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.

Vania langsung menoleh ke belakang.

"Bima!" katanya dengan suara terdengar sedikit jengkel karena dikagetkan.

"Maaf. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu," balas Bima.

"Boleh aku duduk?" lanjutnya.

Dia tidak langsung duduk seperti biasanya. Rupanya kali ini dia menunggu Vania mempersilakan.

Vania tidak langsung menjawab karena tanpa dipersilakan pun biasanya Bima langsung duduk. Namun ketika dia menyadari laki-laki itu masih tegak mematung di samping kursi, dia pun bersuara,

"Iya silakan," katanya sambil menoleh. "Tumben kamu tidak langsung duduk? Biasanya langsung saja," lanjutnya.

"He he. Aku tidak mau dianggap tidak sopan," timpal Bima sambil sedikit menyeringai.

"Oh begitu. Baguslah kalau mulai sadar." Vania mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Kamu punya masalah apa lagi?" tanya Bima dengan raut wajah serius.

"Dari mana kamu tahu aku punya masalah?"

"Kalau kamu mulai nongkrong di sini, biasanya kamu sedang menghadapi masalah."

Vania tampak takjub ketika menyadari Bima mulai tahu kebiasaannya. Kali ini dia langsung menceritakan obrolan dengan ayahnya kemarin sore tentang rencana ayahnya yang akan memulai bisnis smart store atau toko cerdas berbasis kecerdasan buatan. Entah kenapa dia tidak lagi tertutup pada Bima. Dia berbicara lancar dan apa adanya tanpa berusaha menutup-nutupi. Sepertinya dia sudah sangat percaya pada laki-laki itu.

Setelah menyimak cerita Vania dengan sangat serius, Bima pun menanggapi,

"Boleh aku main ke rumahmu?"

"Hah! Tidak boleh! Nanti Bunda Karin marah besar kalau aku mengajak laki-laki ke rumah."

"Jangan salah sangka dulu. Maksudku bukan untuk main denganmu," balas Bima buru-buru meluruskan. "Aku sangat tertarik dengan rencana papamu itu. Sudah sejak SD aku mengotak-atik komputer. Boleh dibilang, teknologi yang disebutkan oleh papamu itu sudah menjadi makananku sehari-hari. Bahkan baru saja terpikir olehku berbagai alternatif solusi untuk membantu rencana papamu itu."

"Jangan bilang kamu mulai mendekati papaku karena ada maunya?" timpal Vania dengan raut wajah curiga.

"Ish!!! Kamu ini. Bawaannya curiga melulu. Selain menyukai cewek, aku juga sangat menyukai dunia komputer," kata Bima tampak sedikit jengkel.

"Siapa cewek yang sedang kau sukai?" tanya Vania menyelidik.

"Bukan waktunya membahas itu," jawab Bima berusaha mengelak. "Kita sedang membahas teknologi terbaru yang akan menguasai dunia ke depannya. Papamu sudah mengambil langkah yang sangat tepat," lanjutnya dengan muka yang sedikit memerah.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar