Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Karin kembali menjalankan aktivitas rutin sore hari, menyiram tanaman di taman depan rumah, yang sempat berhenti gara-gara berkonflik dengan suaminya. Dia mengenakan daster longgar sampai ke mata kaki dan jilbab hitam panjang yang menutupi hingga ke perut. Semangatnya kembali muncul setelah melihat Vania sudah mau berangkat ke sekolah seperti biasanya. Semangat Vania mempengaruhi semangatnya. Ikatan batin keduanya tampak sudah sangat erat.
Meskipun bukan ibu kandung Vania, kedekatannya dengan Vania sudah hampir sama dengan ikatan ibu dan anak kandungnya. Dia tampak masih muda karena memiliki wajah imut dan memang masih muda. Usianya hanya terpaut sembilan tahun di atas Vania, dan lima belas tahun di bawah Arvin. Pernikahan mereka juga belum berlangsung lama, baru berjalan beberapa bulan, sewaktu usia Karin tepat dua puluh empat tahun.
Kedekatan Arvin dan Karin sudah terjalin jauh lebih lama, hampir tiga tahun. Semuanya bermula ketika Karin menjadi guru les sekaligus pengasuh Widya. Saat itu dia masih berstatus mahasiswi yang terancam drop out karena tidak mampu membayar uang kuliah.
Selepas ayahnya meninggal, usaha keluarga Karin langsung bangkrut karena tidak ada yang meneruskan. Ibunya sakit keras beberapa bulan setelah itu. Sebagai anak tertua, dia tidak pandai berjualan. Setelah usaha keluarga mereka gulung tikar, dia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Kondisi itulah yang memaksanya bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya sekaligus sekolah adik-adiknya.
Sebagai mahasiswa keguruan, dia pun memutuskan memberikan les privat dari rumah ke rumah karena hanya itu kemampuan yang dimilikinya. Belakangan dia memutuskan untuk memberikan les khusus untuk keluarga Arvin. Dia nyaman dengan suasana harmonis keluarga ini. Sifat keibuannya juga membuat Vania dan Widya sangat nyaman dan makin menyukainya. Semakin hari mereka semakin akrab.
Arvin pun merasakan itu sehingga dia meminta Karin untuk mengerjakan banyak pekerjaan lainnya dengan imbalan yang tentu sangat layak atau malah jauh di atas penghasilan rata-rata para asisten rumah tangga. Arvin pun ikut membiayai sekolah adik-adik Karin sebagai salah satu bentuk imbalan itu. Kebaikan Arvin itu membuat Karin ingin membalas dengan kebaikan juga.
Kedekatan dan keakraban Karin dengan Vania dan Widya makin lama makin erat. Kedua putri Arvin itu merasa memiliki ibu kandung sendiri. Hingga kemudian mereka berdua bersepakat untuk meminta ayahnya melamar Karin.
Permintaan kedua putrinya itu sempat membuat Arvin menghadapi dilema. Tidak dipungkirinya kalau dia mengagumi sosok Karin yang baik, lembut, dan taat beragama. Namun di waktu bersamaan dia sedang dekat dengan Miranda. Bahkan dia sempat melamar perempuan itu walau sempat ditolak sampai dua kali.
Setelah berpikir mendalam dan lebih matang, Arvin pun memutuskan untuk mengikuti kemauan kedua putrinya. Mereka berdualah yang harus menjadi pusat perhatian. Merekalah yang sangat membutuhkan sosok ibu. Dia mengurungkan niatnya melamar Miranda untuk ketiga kalinya. Dia pun memutuskan untuk melamar Karin.
Gayung pun bersambut. Karin tidak memungkiri kalau dia pun menyukai laki-laki yang berselisih lima belas tahun di atasnya itu. Namun perbedaan usia itu bukanlah penghalang baginya. Dia tidak terlalu banyak berpikir untuk mengiyakan lamaran itu. Mereka pun akhirnya menikah.
Lamunan Karin langsung buyar ketika terdengar seseorang menyapanya.
"Assalamualaikum," sapa Vania tanpa rasa bersalah.
Karin sampai terlonjak saking terkejutnya. Keterkejutannya semakin menjadi-jadi ketika melihat Vania muncul bersama seorang laki-laki. Dia pun tidak sempat menjawab salam dari Vania karena masih tidak percaya kalau Vania berani mengajak teman laki-laki pulang ke rumah. Dipandanginya laki-laki yang seragamnya persis sama dengan seragam Vania itu dari kepala sampai ujung kaki.
"Assalamualaikum, Bunda!" kata Vania sekali lagi dengan mengeraskan suaranya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Karin mulai tersadar kalau di hadapannya memang benar-benar Vania bersama seorang laki-laki.
"Ini Bima, teman sekolah Vania, Bunda." Vania memperkenalkan laki-laki di sampingnya itu.
"Selamat sore, Tante," kata Bima.
"Selamat sore," balas Karin dengan suara terdengar agak ketus.
Matanya masih mengamati Bima dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Bima hendak mengobrolkan urusan bisnis dengan Papa," Vania buru-buru menjelaskan agar bundanya tidak salah paham.
"Ooh... Itu papamu ada di teras samping. Bisa lewat samping rumah, tidak perlu masuk ke rumah," jawab Karin sambil menunjuk jalan setapak terbuat dari batu alam berbentuk tidak beraturan yang disusun secara acak.
Jalan setapak selebar satu meter itu melengkung ke kanan di sudut rumah menuju teras samping.
"Vania mengantar Bima dulu ya, Bun," ucap Vania lembut pada Bunda Karin.
Karin mengangguk masih dengan ekspresi bengong bercampur cemas dan khawatir.
"Yuk, Bim!" kata Vania pada Bima.
Kebingungan Karin belum berkurang. Dilihatnya dua remaja itu berjalan cepat di atas jalan setapak yang menuju teras samping. Vania berjalan di depan. Bima mengekor sekitar satu setengah meter di belakangnya.
Karin baru tersadar kalau dia sedang melamun ketika air di dalam ember yang sedang diisinya tumpah ruah dan meluber ke kakinya. Buru-buru dia berlari ke keran tempat selang pipa yang dipegangnya berasal. Diputarnya keran itu hingga air di selang yang dipegangnya tidak lagi mengucur.
Beberapa saat kemudian Vania muncul lagi ke taman depan. Sepertinya dia memang sekedar mengantar. Dibiarkannya saja Bima mengobrol berdua dengan ayahnya. Dihampirinya bundanya yang sedang menyiram Rhoe discolor yang tumbuh di sudut pagar.
"Hai, Bun!" kejutnya.
"Astaga, Vania!" balas Karin sambil menoleh dan tampak terkaget-kaget. "Kamu mengagetkan saja. Kamu kok malah ke sini?" tanyanya heran.
"Itu obrolan laki-laki, Bun," jawab Vania sambil memamerkan gigi-gigi putih dan bersihnya.
"Kalian tidak pacaran, bukan?" selidik Karin langsung. "Jangan lupa kamu punya ikrar dengan bunda loh," lanjutnya mengingatkan.
"Tidaklah, Bun. Kami hanya berteman." Vania menjawab sambil menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke pipi.
"Syukurlah kalau begitu." Raut wajah Karin terlihat lega.
"Memangnya mereka membahas apa?" tanyanya penasaran.
"Bima ingin memberi saran terkait rencana bisnis Papa. Ternyata dia jago komputer loh, Bun. Benar-benar laki-laki idola zaman sekarang." Vania terlihat berbinar-binar ketika menceritakan itu.
"Hush! Kamu harus menjaga hati!" ujar bundanya mengingatkan.
Vania terkekeh melihat kekhawatiran yang berlebihan dari bundanya.
"Dia juga punya paman yang ahli komputer sekaligus pengusaha di Amerika sana. Pamannya itu sedang ingin berinvestasi sekaligus mencari orang yang tertarik mengembangkan bisnis berbasis kecerdasan buatan di Indonesia. Itu kan pas banget dengan rencana Papa."
"Ooh," jawab Karin pendek.
Keningnya mulai mengerut karena tidak paham dengan semua penjelasan Vania. Dia hanya bisa menangkap kalau Bima berusaha membantu Arvin. Itu saja.
"Orang tua Bima juga punya ruko kosong yang baru saja ditinggal penyewanya begitu saja tanpa membayar uang sewa. Bima mau menawari Papa untuk menggunakan ruko kosong itu sebagai tempat memulai usaha smartstore-nya. Bima juga ingin membantu Papa membangun sistem cerdas berbasis kecerdasan buatannya," lanjut Vania menjelaskan panjang lebar tanpa menyadari sedikit pun kalau bundanya tampak stres menyimaknya.
"Sebentar," kata Karin menyela. "Bima itu laki-laki yang sering kamu ceritakan kemarin-kemarin itu, bukan? Yang katamu sering menjahili, mengusili, mengganggu, entah apa lagi itu."
"Iya, Bun. He he." balas Vania polos lalu memamerkan giginya.
"Terus kenapa sekarang kamu mengajaknya main ke rumah?" Suara Karin terdengar mulai meninggi.
"Kemarin Vania lupa memberitahu Bunda kalau Bima itu yang telah mengubah pandangan Vania terhadap Papa. Bimalah teman yang Vania maksudkan tempo hari, yang menemani Vania di sekolah ketika semua siswa lain menjauhi Vania. Dia berubah drastis loh, Bun. Sekarang sikapnya sangat baik."
"Jadi kemarin kamu memaafkan papamu karena cerita Bima itu?"
Vania mengangguk sambil tersenyum lebar.
Karin memukul kepalanya sendiri.
"Tapi kamu harus tetap waspada ya!" ujarnya kemudian mengingatkan Vania.
"Aman, Bun. Kami tidak pernah membicarakan perasaan masing-masing, kok. Vania akan memegang teguh ikrar pada Bunda," timpal Vania dengan suara mantap dan penuh keyakinan.
"Syukurlah kalau begitu," Karin tampak sedikit lega.
Namun tetap saja muncul kekhawatiran di hatinya. Firasatnya mengatakan, seiring berjalannya waktu, Vania dan Bima akan semakin akrab. Tidak mungkin mereka dapat terus menjaga hati masing-masing. Suatu saat pasti perasaan mereka berdua akan ikut terlibat. Itu akan menjadi tantangan mereka berdua sekaligus tantangan bagi Karin sendiri di kemudian hari. Dia malah pusing sendiri memikirkan itu. Kejadiannya belum terjadi, tapi dia sudah merasa stres.
"Bunda melamunkan apa?" tanya Vania.
"Eh, enggak ada," jawab Bunda Karin tergagap-gagap.
"Terus kenapa Bunda menyiram bunga itu sampai banjir?" tanya Vania lagi menunjuk sudut halaman yang sedang disiram Karin dengan gayung.
"Hah!!!" Karin langsung panik melihat tanah di sekitar Rhoe discolor yang sedang disiramnya tergenang air.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.