Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sudah seminggu Pak Sanjaya, Miranda, dan Robert secara bergantian menunggu di depan ruang ICU. Pagi ini mereka hadir bertiga di sana. Bu Ratna belum juga menunjukkan tanda-tanda siuman dari koma. Malahan, jam lima subuh tadi kondisinya semakin memburuk. Lalu, sekarang kurva di layar yang biasanya turun naik itu tiba-tiba berubah mendatar! Itu pertanda denyut jantung Bu Ratna berhenti!!!
Miranda yang melihat itu langsung panik dan berlarian melapor kepada perawat penjaga. Perawat itu langsung menghubungi dokter. Beberapa dokter langsung datang ke ruangan itu untuk melakukan prosedur penyelamatan.
Miranda tampak cemas luar biasa. Ini adalah kondisi terburuk yang dialami ibunya. Entah kenapa dia merasa ini seperti pertanda buruk. Robert yang melihat kecemasan itu langsung berusaha menenangkannya. Dipeluknya Miranda dengan erat. Pak Sanjaya yang sedari tadi berjalan hilir mudik di depan ruang ICU memasang ekspresi ketegaran walau sebenarnya dia juga memendam kecemasan luar biasa. Dia berusaha terlihat tenang untuk menguatkan putrinya.
Beberapa menit kemudian, salah satu dari tim dokter yang tadi mencoba menyelamatkan Bu Ratna keluar dari pintu itu dan menghampiri Miranda, Pak Sanjaya, dan Robert.
"Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi kami tidak berhasil," katanya pelan dengan raut wajah tampak menyesal.
Ketakutan Miranda akan kehilangan ibunya akhirnya benar-benar menjadi kenyataan. Tiba-tiba tubuhnya lemas dan hampir saja ambruk kalau tidak segera ditangkap Robert. Setelah didudukkan di bangku panjang di depan ruang ICU, Miranda langsung menangis terisak-isak.
Sementara itu, Pak Sanjaya berbalik badan lalu duduk mematung di ujung lain bangku panjang itu. Beberapa kali dia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, lalu menunduk. Dia kenudian mendongakkan kepala dan menatap ke langit-langit. Rambutnya yang sudah tidak pernah disisir selama seminggu ini dikucek-kuceknya hingga makin berantakan. Dia hanya mampu terdiam membisu. Tak mampu berkata-kata.
Ternyata memang sudah terlambat. Kata maaf itu tidak mungkin lagi disampaikannya kepada mantan istrinya itu.
***
Alam seperti mampu membaca suasana hati Miranda. Dikirimnya awan hitam pekat di atas makam ibunya. Para pengantar jenazah pun ikut bersekongkol. Mereka sama-sama mengenakan pakaian berwarna hitam, melengkapi suasana di pemakaman yang memang selalu muram.
Pak Sanjaya berjongkok di samping Miranda. Dia lalu berbisik pada putrinya itu, mencoba membujuknya untuk pulang. Tapi sang putri bergeming. Dia menggeleng sambil terus terisak. Mata merahnya seakan tak ingin berhenti menyirami tanah merah itu. Pak Sanjaya pun berdiri lagi dan melangkah menjauh.
Seorang perempuan paruh baya melangkah maju dan menghampiri Miranda. Dia ikut berjongkok tepat di sebelah kiri Miranda. Perempuan itu pun berusaha membujuk Miranda.
"Kita pulang, yuk," katanya lembut.
Miranda mengenali suara itu. Dia pun menoleh.
"Eh Tante Mirna," katanya tampak kaget.
Sungguh istimewa melihat teman ibunya itu rela datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk menghadiri pemakaman ibunya.
"Sebentar lagi, Tante," jawabnya sangat pelan seperti berbisik.
Miranda sangat mengenal perempuan itu karena dia adalah sahabat karib ibunya sejak SMA sampai kuliah. Tante Mirna banyak menemani ketika dulu ibunya meninggalkan rumah. Tante Mirna pula yang banyak membantu Miranda menyelidiki keberadaan ibunya sampai akhirnya upaya mereka berhasil. Mereka menemukan Bu Ratna setahun yang lalu. Ikatan persahabatan yang tak lekang oleh waktu itu rupanya telah membawa Tante Mirna datang ke Kota Perth untuk ikut menghadiri pemakaman ini.
"Tante sama siapa ke sini?" tanya Miranda masih sambil menangis sesegukkan.
"Itu. Anak laki-lakiku satu-satunya," jawab Tante Mirna sambil menoleh ke belakang dan menunjuk anak laki-laki yang berdiri di belakangnya.
Miranda menoleh ke belakang, menatap ke arah laki-laki gagah dan tinggi itu. Dia hanya menatap sebentar sambil tersenyum dan mengangguk, sebelum kembali menunduk menatap ke arah gundukan tanah merah.
Pak Sanjaya berjalan menghampiri Robert yang masih berdiri di samping kanan Miranda.
"Kamu temani Miranda dulu, ya," pintanya pada Robert.
"Iya, Pa," jawab Robert sambil mengangguk pelan.
Pak Sanjaya pun berbalik dan melangkah menjauhi gundukan tanah merah tempat peristirahatan terakhir mantan istrinya itu.
Beberapa menit kemudian Tante Mirna juga berpamitan pada Miranda. Dia berdiri lalu menggandeng tangan Bima meninggalkan pemakaman.
Kini, hanya tinggal Robert dan Miranda di sana.
Miranda merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. Tapi tidak dihiraukannya. Kilatan-kilatan memori yang menampilkan kebersamaan indah dengan ibunya langsung berkelebat begitu saja di benaknya.
Dulu dia sudah terbiasa tanpa ibu kandung. Masa-masa sekolah awal dihabiskan hanya bersama ayahnya. Disiplin luar biasa yang dibiasakan Pak Sanjaya membuatnya menjadi perempuan tangguh dan luar biasa.
Dia selalu berprestasi dan menjadi yang terbaik di setiap jenjang pendidikan hingga dia mendapat beasiswa pendidikan pascasarjana ke Amerika. Setelah menyelesaikan pendidikan magister di Harvard Business School, dia pun pulang ke Indonesia dan menjadi andalan dalam mengembangkan perusahaan ayahnya.
Di tengah kesibukan di kantor, Miranda terus mencari petunjuk tentang keberadaan ibu kandungnya. Setelah melakukan pencarian ke sana kemari, dia pun berhasil menemukannya. Perpisahan mereka selama dua puluh dua tahun pun berakhir. Mereka pun kembali bersatu.
Memang pertemuan itu tidak membuat semuanya kembali utuh seperti sediakala. Ayahnya sudah beristri lagi. Jadi tidak mungkin keduanya dipersatukan kembali dalam sebuah ikatan resmi yang dulu sempat terbina. Meskipun demikian, kebersamaan mereka berdua tetaplah indah.
Entah kenapa, kini Miranda merasa semuanya sangat jauh berbeda. Ketangguhannya dulu musnah begitu saja. Dia seperti telah menjadi wanita lemah tak berdaya. Baru kemarin rasanya dia dipertemukan kembali dengan ibunya, tapi kenapa tiba-tiba itu semua berakhir begitu saja. Di saat semua mulai terasa indah, kenapa maut tiba-tiba merenggut semuanya. Kenapa keindahan itu tidak pernah abadi. Kenapa nasib tidak pernah berpihak padanya.
Dia berusaha melawan kilatan kenangan itu. Tapi dia tak punya kuasa. Dia pun pasrah. Dibiarkannya saja semua kenangan itu menyeruak dari alam bawah sadar. Kenangan itu makin mengaduk-aduk perasaan serta mencabik-cabik rongga dadanya.
Setelah hampir setengah jam berdiri di samping Miranda, akhirnya Robert pun bersuara,
"Kita pulang, yuk."
Miranda tetap membisu. Suasana hening pun kembali melanda.
Pada akhirnya Miranda pun bersuara, "Aku ingin kembali tinggal di apartemenku, Rob."
Suaranya terdengar parau karena tidak berhenti menangis selama dua hari ini.
"Baiklah. Tidak apa-apa kalau kamu merasa lebih nyaman di sana. Aku akan ikut ke sana juga. Aku akan menemanimu" balas Robert lembut.
Miranda pun berdiri. Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berbalik membelakangi gundukan tanah merah itu. Dia pun melangkah, mencoba meninggalkan masa lalu, menuju masa depan. Entah akan seperti apa masa depan itu, apakah akan terasa indah atau malah sebaliknya, dia tak tahu. Dia hanya ingin melangkah tanpa menoleh lagi. Hanya dengan begitu dia bisa menjalani hidup dengan lebih tegar.
Robert dengan sigap mengembangkan payung. Disejajarkannya langkah di samping kanan Miranda. Rintik hujan mulai turun satu per satu. Beberapa butirannya sempat hinggap di wajah istrinya yang sembab. Tapi Robert memastikan butiran itu adalah butiran terakhir yang berhasil melewati penjagaannya. Dia telah bertekat, tidak ada lagi yang bisa membuat bidadari hatinya terluka. Tidak juga butiran hujan itu.
"Walaupun kita mungkin masih bisa bersama, tapi aku tidak berjanji akan mampu bersikap seperti biasa," ucap Miranda ketika mereka sudah berada di dalam mobil yang membawa mereka kembali ke apartemen.
"Tidak apa-apa. Aku tahu konsekuensi itu, kok. Hanya satu keinginanku, Mir. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku ingin selalu bersamamu," balas Robert dengan ekspresi penuh ketulusan.
Dulu, kata-kata yang terucap dari mulut Robert selalu membuat hati Miranda berbunga-bunga. Tapi kini, kata-kata itu telah berubah menjadi hampa tanpa makna. Kata-kata itu laksana angin, yang hanya lewat begitu saja. Setelah berlalu, ia hilang tanpa jejak. Tidak ada sedikit pun yang meresap ke hatinya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.