Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 14. Kartu As

 Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 14. Kartu As
____________________________________________

Semenjak ditunjuk menjadi presiden direktur di QDC, Angela memutuskan tinggal sendiri di salah satu apartemen mewah di bagian utara ibukota yang dibelinya sehari setelah penunjukkan dirinya sebagai presdir. Dia menyukai tinggal di sini karena pemandangannya yang indah dan jaraknya juga tidak terlalu jauh dari kantor. Sudut pandang yang luas dari jendela apartemennya merupakan terapi tersendiri baginya.

Sebenarnya dia memiliki beberapa rumah atas namanya sendiri. Sebuah rumah besar dan mewah berharga puluhan miliar rupiah berada tepat di tengah kawasan perumahan elit di daerah BSD. Rumah lainnya berada kawasan perumahan mewah di Cibubur. Namun tinggal di rumah-rumah itu sendirian bukanlah pilihan yang menyenangkan baginya. Apalagi jarak rumah-rumah itu ke kantornya cukup jauh, memakan waktu terlalu lama di perjalanan. Dia tidak suka tua-tua di jalan.

Unit apartemen bertipe garden yang dihuninya saat ini berada di lantai enam puluh satu, lantai paling atas gedung apartemen itu. Sebuah elevator khusus disediakan untuknya. Pintu elevator langsung terhubung ke ruang tamunya.

Di unit apartemennya terdapat satu kamar tidur luas dengan kamar mandi mewah yang dilengkapi jacuzy. Ruang santai dan ruang tamu dibuat menjadi satu yang langsung terhubung ke balkon dan ruang terbuka hijau. Balkonnya sendiri langsung menghadap ke pemandangan indah laut utara jawa. Dapur minimalis mewah berada di salah satu sudut ruangan dekat dengan dinding kaca. Sebuah kamar mandi lain terdapat di sebelah kiri dapur.

Apartemennya disebut tipe garden karena memiliki taman atau ruang terbuka hijau, baik yang berada di lantai dasar gedung maupun yang berada di lantai paling atas yang ditempatinya. Ruang terbuka hijau ini bersifat pribadi, hanya dapat diakses olehnya. Letaknya di sisi sebelah barat menghadap matahari terbenam. Beberapa pohon palem dan beraneka ragam jenis tanaman menghias taman. Penataan tanaman, jalan setapak, serta tempat duduknya yang sangat artistik membuat taman itu sangat sedap dipandang mata. Jendela kaca kamar tidurnya yang lebar langsung menghadap ke taman itu.

Sejak kecil dia sangat suka berolahraga terutama senam. Beberapa kali dia memenangkan kompetisi senam sejak sekolah dasar hingga universitas. Karena itulah dia menjadikan salah satu sudut ruang santainya yang luas sebagai tempat olahraga. Di situ tersedia alat gym lengkap. Secara rutin dia berolahraga sebelum berangkat ke kantor atau setelah pulang, termasuk juga malam ini.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi dia belum terlihat akan menghentikan aktivitas olahraganya. Setelah hampir setengah jam berlari di treadmill, dia menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit menggunakan rowing machines. Dia meneruskan dengan mengangkat barbel di smith machines hampir lima puluh kali. Dia juga masih menyempatkan diri memukuli samsak tinju yang tergantung di sudut.

Keringat terlihat mengucur deras di wajahnya. Baju olahraga ketatnya basah dengan peluh membuat lekuk tubuh langsing dan padatnya makin tampak jelas. Dengan kecantikan dan kemolekan tubuh seperti itu, dia dapat dengan mudah memenangkan kontes ratu sejagad. Hanya saja hal-hal seperti itu tidak pernah menarik minatnya. Dia menganggap itu tidak ada tantangan intelektualnya.

Dia baru saja selesai menghantam habis-habisan samsak tinju ketika ponselnya berdering. Dengan langkah yang agak malas-malasan, dihampirinya meja tempat ponselnya diletakkan. Saat dilihatnya, sebuah panggilan dari Wisnu, kepala tim kuasa hukumnya yang sedang mengurus kasus pelaporan pelecehan yang dituduhkan ke Arvin. Dia pun segera mengangkat panggilan itu.

"Halo" katanya membuka percakapan.

"Halo. Selamat malam, Mbak. Boleh mengganggu sebentar?" Suara pengacara itu terdengar lembut tapi tetap tegas.

"Iya. Ada perkembangan apa?" tanya Angela tenang.

Ada jeda sebentar sebelum Wisnu menjawab,

"Kira-kira perlu saya sampaikan secara langsung, atau cukup di telepon ini saja?"

Angela tampak berpikir sejenak.

"Kita bertemu di luar saja. Kebetulan malam ini saya tidak masak dan belum makan malam," katanya kemudian.

"Baiklah," ucap Wisnu setuju. "Mbak Angela mau bertemu di mana?"

Angela terdiam beberapa detik, tampak kembali berpikir, sebelum akhirnya berucap,

"Saya sedang selera makan stik sapi. Kalau tidak salah ada satu restoran yang menyajikan stik paling enak di dekat sini. Kira-kira lima kilometer arah selatan dari apartemen ini. Saya lupa nama restorannya. Kita bertemu di situ."

Wisnu tidak langsung menimpali, sepertinya sedang berpikir untuk mengira-ngira lokasi restoran yang dimaksudkan Angela.

"Oh iya. Saya tahu restoran itu. Baiklah. Saya segera ke sana," katanya kemudian.

"Kamu sendiri sudah makan malam?" tanya Angela.

"Belum, Mbak," jawab Wisnu agak ragu.

"Kalau begitu, sekalian temani saya makan. Baru setelah itu kita membahas perkembangan kasus yang sedang kalian tangani," tambah Angela.

"Baik, Mbak," timpal Wisnu mantap.

"Okey. Sampai jumpa di sana," kata Angela mengakhiri telepon.

"Iya. Mbak. Selamat malam,"

Angela menutup panggilan itu. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak banyak rutinitas yang dilakukannya ketika mandi. Lima belas menit kemudian dia sudah selesai dan segera mengenakan pakaian.

Karena pertemuan itu bukanlah sebuah kencan dengan pasangan, dia tidak terlalu repot memilih pakaian untuk dikenakan. Dia hanya mengenakan kaos oblong warna hitam polos berlengan pendek yang agak ketat dipadukan dengan celana jin ketat pula. Kombinasi itu membuat hampir semua lekuk tubuhnya terlihat.

Setelah itu, dia beranjak ke meja rias. Dia hanya mengenakan bedak tipis di wajah lalu memoles bibirnya dengan lipstik warna natural yang juga dipoles tipis. Rambutnya disisir ke belakang lalu diikat dengan ikat rambut berwarna ungu tepat di belakang leher. Dia memang sering tampil sederhana seperti itu.

Selesai menyiapkan diri, dia langsung melangkah ke arah pintu elevator pribadi yang akan membawanya ke lantai basement tempat Mercy mewahnya terparkir. Malam ini dia memilih menyetir sendiri menuju restoran. Mobilnya itu terparkir tepat di dekat pintu keluar elevator sehingga dia tidak perlu berjalan kaki terlalu jauh. Beberapa menit kemudian mercy itu pun terlihat keluar dari basement, melaju pelan melewati gerbang apartemen, berbelok ke kiri, lalu membelah jalan dua jalur yang sudah tampak lenggang. Tidak sampai seperempat jam, mobil itu sudah berada di lapangan parkir tepat di depan restoran.

Angela keluar dari mobil dan melangkah cepat menuju pintu depan restoran. Saat dia masuk, Wisnu, laki-laki yang berusia sekitar lima puluh tahun itu sudah duduk menunggu di sudut ruangan dekat dinding kaca yang menghadap ke depan restoran. Dia langsung melambaikan tangan ke arah Angela. Angela yang melihat lambaian itu langsung melangkahkan kaki ke arahnya. Dia duduk tepat di depan Wisnu.

Mereka lalu memesan makanan, mengobrolkan hal ringan sambil menunggu pesanan, lalu segera makan setelah pesanan masing-masing datang. Angela belum menanyakan sama sekali topik utamanya. Dia hendak mengenyangkan perut terlebih dahulu sebelum mendengar kabar dari pengacara di hadapannya. Dia tidak ingin kehilangan selera makan setelah mendengar kabar dari pria paruh baya itu yang sepertinya mengarah ke hal yang kurang menyenangkan. Dia bisa menebak itu dengan hanya melihat ekspresi kurang bersemangat di wajah si pengacara.

"Jadi seperti apa perkembangan laporan itu?" Angela mulai bertanya serius setelah menghabiskan makanan penutup.

Seorang pelayan datang untuk memberesi meja. Dia menunduk meminta izin. Angela mengangguk mengizinkan. Wisnu masih terdiam, menunggu pelayan itu selesai mengerjakan tugasnya.

"Perkembangannya kurang menguntungkan kita, Mbak," ucap Wisnu setelah melihat pelayan tadi telah berjalan menjauh. Terlihat sepintas sedikit kekhawatiran dari raut wajahnya. Namun sebagai pengacara berpengalaman, dia segera bisa bersikap lebih tenang.

Angela tidak tampak kaget karena sudah menduga itu.

"Tolong jelaskan kenapa bisa seperti itu," katanya dengan nada suara tidak terdengar kesal.

Wisnu merasa sedikit lega karena klien yang sudah menjadi langganannya bertahun-tahun ini tidak menunjukkan kemarahan atas kabar yang baru disampaikannya. Dia pun kembali melanjutkan berbicara masih dengan suara tenang.

"Bukti-bukti yang selama ini diajukan belum cukup untuk melanjutkan laporan itu ke persidangan. Di pihak Arvin, tim kuasa hukumnya semakin di atas angin setelah analisis terhadap video bukti pelecehan itu selesai dilakukan. Sepertinya mereka juga memiliki bukti kuat yang dapat dengan mudah meruntuhkan bukti yang kita miliki."

"Seperti apa kesimpulan hasil analisisnya?" tanya Angela mulai ingin tahu lebih rinci.

"Tim analis menyimpulkan kalau video itu diambil sendiri oleh Mbak Angela, bukan oleh Arvin" ujar Wisnu langsung menanggapi.

"Oh begitu," ucap Angela, masih tampak tenang.

Kesimpulan itu tidak mengagetkannya karena memang sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Hanya saja, kejadian itu tidak pernah diceritakannya secara gamblang pada kuasa hukumnya ini karena menurutnya bukan hal penting dan bukan juga inti dari aduannya.

"Dengan hasil analisis itu, sulit mengkategorikan tindakan Pak Arvin sebagai pelecehan karena Mbak sendiri yang mengabadikan adegan itu," tambah Wisnu menjelaskan konsekuensi dari hasil analisis video.

Angela tampak berpikir sejenak.

"Bisa saja dibangun argumen kalau saya melakukan perekaman diam-diam sebagai bukti pembelaan diri," katanya kemudian.

Kening Wisnu mengernyit sedikit sebelum menanggapi. Tampaknya dia sedang memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan.

"Tidak bisa juga dianggap seperti itu, Mbak," ujarnya.

Angela mengangkat wajah dan menatap pria itu.

"Apa alasannya?" tanyanya makin penasaran.

Wisnu tampak kembali berpikir keras untuk memilih kata-kata yang tidak berdampak negatif pada kliennya.

"Pak Arvin sempat menoleh ke kamera, dan dia tidak memprotes sama sekali dengan aksi Mbak merekam. Kalau itu pelecehan, tentu saja dia tidak akan setuju direkam seperti itu karena bisa menjadi barang bukti yang akan memberatkannya di kemudian hari," jelasnya kemudian sambil sedikit meringis.

Angela terdiam sambil memegangi dagunya, tampak memikirkan argumen lain untuk membantah itu.

"Rasanya dia tidak berpikir sampai sejauh itu karena sedang mabuk. Atau dia bisa dikelompokkan ke dalam golongan orang narsis yang malah makin senang aksinya diabadikan seperti itu," katanya kembali menanggapi.

"Tim kuasa hukum di sana sudah juga melakukan tes kepribadian pada Pak Arvin."

"Hasilnya?" tanya Angela sedikit penasaran.

Si pengacara menatap Angela.

"Mbak rasanya tahu sendiri kepribadian Pak Arvin seperti apa. Dia bukanlah orang yang narsis. Justru dia termasuk introvert, tidak suka tampil di depan umum atau menonjolkan diri."

"Oke. Terus?"

"Ada hasil analisis lain yang tetap kurang menguntungkan bagi Mbak," jawab Wisnu terlihat mulai gelisah.

"Apa?" tanya Angela dengan nada suara meninggi.

Wisnu menunduk sebentar sebelum berkata,

"Mohon maaf kalau saya harus menyampaikan ini."

"Iya tidak apa-apa. Ceritakan saja," kata Angela sambil memperhatikan dengan serius.

Pengacara berpengalaman itu menunduk sebentar sebelum berkata dengan suara terdengar agak ragu.

"Ada juga hasil analisis ekspresi wajah," katanya.

"Maksudnya?" tanya Angela agak tercengang.

"Seorang pakar ekspresi wajah telah menganalisis ekspresi wajah Mbak Angela di video. Dia menyimpulkan kalau Mbak juga menikmati momen itu. Mbak terlihat tidak merasa terpaksa atau menolak. Sulit mengategorikan itu sebagai pelecehan kalau Mbak sendiri menikmati itu. Boleh dibilang itu perbuatan suka sama suka," urai Wisnu dengan agak sungkan.

Angela mulai terlihat gusar. Sebelumnya dia tidak menyangka analisis video itu akan dilakukan sedalam itu. Rupanya tim kuasa hukum Arvin yang juga dikenalnya dengan baik itu tidak main-main. Sial, umpatnya dalam hati. Ucapan Miranda tempo hari ternyata memang serius. Dia benar-benar membela mantannya itu mati-matian.

"Mbak tidak apa-apa?" tanya Wisnu membuyarkan lamunan Angela.

"Tidak apa-apa. Silakan sampaikan hal lain kalau masih ada."

Angela mulai mampu menenangkan diri lagi.

"Pemeriksaan terhadap para saksi-saksi terutama para karyawan QDC juga meringankan pak Arvin," lanjut Wisnu.

Dia kemudian terdiam sebentar sebelum melanjutkan. Dia menambahkan secara panjang lebar bagaimana pandangan para pegawai yang dimintai kesaksian terhadap Angela dan Arvin ketika di kantor. Boleh dikatakan, hampir tidak ada saksi yang mendukung Angela.

Informasi itu tidak begitu mengagetkan Angela. Dia sudah merasakan kalau para pegawainya itu kurang menyukainya. Mereka taat hanya karena aturan dan takut padanya bukan karena menghormati dirinya. Angela bisa merasakan kalau mereka memang lebih mengagumi Arvin.

"Masih ada lagi?" katanya masih penasaran.

"Apakah Mbak sudah tahu kalau di ruangan Direktur Utama yang Mbak tempati itu ada CCTV yang menyorot ke seluruh ruangan termasuk ke sofa? Posisinya sangat tersembunyi sehingga tidak terlihat. Rekaman CCTV itu disimpan di ruang khusus yang kuncinya hanya dipegang Miranda."

Kali ini Angela tidak mampu lagi menutupi keterkejutannya. Ternyata Miranda benar-benar memegang Kartu As permainan ini. Dia hanya mengangguk-angguk menanggapi itu lalu bertanya,

"Jadi apa langkah selanjutnya?"

"Kalau kita berpegang pada bukti konkret, mungkin kita akan kalah. Tapi hukum hanya buatan manusia. Masih bisa diakali. Kami akan terus mengupayakan hal yang terbaik," jawab si pengacara dengan meyakinkan.

Angela tetap bergeming.

Melihat Angela tidak memberikan tanggapan apa-apa, Wisnu pun melanjutkan,

"Kalau Mbak Angela punya saran atau informasi tambahan, boleh juga."

Walaupun tampak sedikit kegusaran di wajahnya, sebagai pengacara berpengalaman serta terkenal licin dan alot, Wisnu selalu menemukan solusi terbaik di momen-momen kritis. Dia pantang menyerah, selalu bekerja keras, serta rela bermain kotor dan licik untuk memenangkan pertarungan. Itulah beberapa faktor yang membuatnya dipercaya klien sekaligus disegani lawan.

Angela akhirnya bersuara.

"Tidak ada. Silahkan lanjutkan dulu upaya kalian. Sementara itu, saya perlu memikirkan semuanya," ujarnya sambil tersenyum.

Dia diam sejenak sebelum kembali bertanya,

"Masih ada lagi perkembangan lain?"

"Untuk sementara, hanya itu, Mbak," jawab Wisnu tegas.

"Baiklah. Kalau tidak ada lagi, saya mau pulang ke apartemen. Mau istirahat. Makanannya biar saya yang bayar," timpal Angela dengan raut wajah yang mulai kembali terlihat tenang.

Wisnu membalas dengan tersenyum.

"Iya, Mbak. Selamat beristirahat," jawabnya.

Dia langsung berdiri dan pamit.

Angela mengangguk kecil lalu memanggil pelayan untuk meminta tagihan atas makanan yang mereka santap tadi. Seorang pelayan datang dan menyerahkan kertas tagihan yang diminta. Angela menyerahkan kartu kredit kepada pelayan itu. Si pelayan segera memproses pembayaran menggunakan alat yang dibawanya dari meja kasir.

Setelah transaksi selesai, Angela berdiri dari kursinya lalu melangkah ke luar restoran, kembali menemui Wisnu yang masih menunggu di depan pintu masuk.

Setelah mengobrol sebentar, mereka lalu berpisah di sana. Angela melangkah ke kanan karena mobilnya di parkir di sayap kanan tempat parkir. Sementara Wisnu memarkirkan mobilnya di sebelah kiri gedung restoran.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar