Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Robert sepakat untuk pindah ke apartemen milik Miranda yang selama ini ditempati ibunya. Apartemen itu tidaklah semewah apartemen milik Robert yang telah mereka tempati setelah menikah. Bagaimanapun, kenyamanan tempat tinggal tidaklah ditentukan oleh kemewahan bangunan dan isinya, melainkan suasana yang tercipta dari interaksi antar manusia di dalamnya.
Suasana indah sempat tercipta di awal pernikahan mereka. Memang penyatuan cinta mereka berdua tidaklah istimewa, tidak seperti kisah cinta di dalam novel-novel best seller atau drama Korea. Setelah Miranda menjawab “iya” atas tawaran Robert untuk menjalin hubungan yang lebih serius, seminggu kemudian Robert pun melamar Miranda.
Prosesi lamaran itu pun dilakukan secara sederhana. Itu berawal ketika mobil Miranda harus masuk bengkel karena ada gangguan kecil pada sistem elektronik. Robert pun berinisiatif menjemput Miranda di kantor dan mengantar pulang ke apartemen. Di depan apartemen, sebelum Miranda keluar dari mobil, Robert menyampaikan maksudnya.
“Maukah kamu menikah denganku?” tanyanya sambil menyodorkan kotak kecil berisi cincin emas putih tanpa hiasan berharga beberapa juta rupiah.
Miranda tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk sambil tersenyum sumringah. Sudah. Begitu saja. Tidak ada prosesi bertekuk lutut sambil diiringi lagu-lagu romantis. Tidak ada pemasangan cincin berlian berharga miliaran. Tidak ada hantaran bunga krisan satu truk kontainer. Tidak ada pula pelepasan ribuan balon warna merah muda ke angkasa.
Pernikahan mereka seminggu setelah itu juga berlangsung amat sederhana, tidak seperti pesta pernikahan crazy rich-nya Indonesia yang heboh beberapa waktu sebelumnya. Prosesi sakral dilakukan di taman sebuah rumah makan kecil dekat pantai yang menghadap langsung Samudera Hindia. Prosesi itu hanya dihadiri keluarga dekat dan beberapa undangan tertentu.
Miranda hanya didampingi Bu Ratna dan Pak Sanjaya. Namun kedua orang tua kandungnya itu tidak saling menyapa sama sekali. Bu Ratna tampak sungkan menyapa lebih dulu mantan suaminya. Sementara Pak Sanjaya juga merasa enggan menegur. Mereka benar-benar saling membisu sehingga layak dianggap ikut menjadi saksi bisu dalam pernikahan putri mereka. Mereka terus membisu hingga pulang ke rumah masing-masing.
Robert pun tidak jauh berbeda. Dia hanya didampingi salah satu adik laki-lakinya. Kedua orang tuanya tidak hadir. Robert beralasan kalau orang tuanya sedang melakukan kunjungan bisnis ke beberapa negara sehingga tidak dapat hadir. Padahal sebenarnya mereka ada di rumah. Hanya saja mereka memilih tidak hadir karena kurang setuju dengan pernikahan itu. Ayah Robert sudah lama tidak akur dengan Pak Sanjaya. Persaingan bisnis diantara mereka seringkali berujung pada konflik, bahkan sampai ke persidangan yang seringkali dimenangkan Pak Sanjaya.
Selain pendeta yang menikahkan, para hadirin lainnya adalah empat orang saksi sekaligus undangan. Masing-masing dua orang pegawai di kantor Miranda dan dua orang teman sekantor Robert.
Kesederhanaan itu pun berlanjut. Tidak ada pesta setelah prosesi mengikrarkan janji untuk hidup bersama. Miranda setuju dengan ide pernikahan yang sederhana ini. Dia merasa tidak terlalu nyaman mengadakan pesta karena sudah berstatus janda. Begitu juga dengan Robert, dia adalah orang yang berpikir pragmatis dan minimalis. Kalau tujuan utama sudah tercapai, pernak-pernik yang mengiringinya sudah tidak penting lagi.
Saat itu mereka berdua sepakat bahwa keindahan suatu kisah cinta bukanlah dtentukan oleh kehebohan halaman pembukanya. Keindahannya justru terletak pada kekonsistenan halaman-halaman berikutnya dalam menjaga ikatan yang telah diikrarkan bersama hingga maut memisahkan. Memang tidak mudah. Tapi bisa. Buktinya sudah ada. Banyak yang berhasil menjaga keutuhan kisah cinta dengan cara yang sederhana hingga akhir hayat mereka.
Kekonsistenan itulah yang coba ditunjukkan oleh Miranda. Di tengah kesibukannya di tempat kerja, dia tetap menyempatkan diri melakukan peranannya sebagai istri sebaik yang dia bisa, termasuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana di apartemen mereka.
Namun, saat ini Miranda mulai merasa kalau semua perjuangannya sia-sia belaka. Dia tidak tahu dan tidak juga yakin apakah ke depan mereka dapat mengembalikan suasana indah yang telah tercipta di awal-awal pernikahan. Semuanya kini berubah menjadi gelap.
Bagaimanapun, setidaknya saat ini dia merasa jauh lebih nyaman tinggal di apartemennya sendiri dibandingkan tinggal di apartemen Robert mengingat rahasia terdalam yang telah terkuak dari suaminya itu. Dia kembali mencoba menjalankan perannya sebagai istri dengan baik. Dia bangun sangat pagi untuk memasakkan sarapan buat suaminya. Dia juga membangunkan suaminya dengan lembut dan mengajaknya sarapan.
Robert tampak serba salah masih diperlakukan secara istimewa mengingat Miranda sudah mengetahui secara terang benderang sisi paling gelap dari dirinya. Dia tidak tahu kenapa istrinya itu masih bersikap baik. Bahkan, Miranda sudah tidak pernah lagi mengungkit rahasia yang sudah diakuinya itu. Kemarahannya yang meledak-ledak tempo hari tidak pernah lagi muncul. Meskipun menyaksikan sendiri video-video tidak senonoh itu, tampaknya Miranda sudah tidak merasa risi.
Tidak banyak perubahan sikap dan perilaku Miranda selain hanya semakin sedikit berbicara. Mereka saling berdiam diri di ruang tamu, meja makan, maupun di tempat tidur. Merasa takut memulai, Robert hanya berbicara sekedarnya saja,
"Tolong ambilkan roti itu," katanya lembut pada Miranda, minta diambilkan roti yang jauh dari jangkauannya.
Sementara itu, Miranda bahkan tidak bersuara sama sekali. Dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan, termasuk mengambilkan roti yang diminta Robert barusan.
Ketika Robert selesai mandi, pakaiannya sudah disiapkan Miranda di atas tempat tidur. Setelah mengenakan pakaian, Robert langsung pamit untuk berangkat kerja. Sementara itu, Miranda sibuk merapikan tempat tidur, membuang sampah ke tempatnya, serta membuka gorden kamar untuk membiarkan cahaya mentari pagi menghangatkan kamar tidur mereka.
"Aku berangkat dulu," kata Robert terdengar kurang percaya diri.
Miranda yang baru saja selesai mandi hanya mengangguk seraya tersenyum yang tampak jelas hanya dibuat-buat. Ini pertama kali dia mandi di pagi hari selama seminggu ini. Dia berencana untuk datang ke kantor. Meskipun sedang menghadapi banyak sekali masalah pribadi, dia ingin tetap berusaha bersikap profesional dan memberikan teladan yang baik bagi para bawahannya.
Sebagai pimpinan di kantor, dia menyadari bahwa dia harus menunjukkan ketangguhan, walau sebenarnya di dalam dirinya terasa sangat rapuh. Dia hanya tidak ingin kerapuhan itu tampak di mata para pegawai, karena dapat merapuhkan semangat kerja mereka. Ketika mereka semua rapuh, maka rapuh pulalah keseluruhan perusahaan.
Ketika dia tiba di kantor, semua pegawainya menatap iba padanya. Satu per satu mereka mengucapkan belasungkawa. Bahkan sebagian besar pegawai wanita memeluknya sambil terisak-isak. Simpati dan empati mereka terasa sangat tulus.
Miranda mencoba tersenyum kepada mereka. Tapi tetap saja air matanya tidak dapat dibendung. Dia ikutan menangis. Hanya saja tidak terisak-isak. Dia segera menguasai diri dan malah menenangkan para pegawai wanita yang terus menangis tiada henti.
Setelah melewati momen dramatis di hari pertamanya berada di kantor, Miranda langsung menuju ruang kerjanya. Dia sempat tertegun sebentar di depan laptop sebelum akhirnya berhasil menguasai diri dan mulai membuka laptop. Dia kembali mengerjakan banyak sekali pekerjaan yang tertunda di masa-masa berkabungnya selama seminggu ini. Rupanya pekerjaan-pekerjaan itu berhasil membuatnya melupakan sejenak kepedihan hidup yang sedang dirasakannya. Dia tampak jauh lebih bersemangat dari sebelumnya.
Tok! Tok!
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.
"Siapa?" tanya Miranda tanpa menoleh.
"Melanie, Mbak!" kata suara di balik pintu.
"Oh! Masuk saja."
Wajah Melanie muncul dibalik pintu yang baru saja terbuka.
"Ada yang ingin ketemu, Mbak. Dia menunggu di lobby," kata Melanie masih di depan pintu. Dia tidak melangkah masuk.
"Siapa?" tanya Miranda kali ini menoleh ke arah Melanie.
"Kurang tahu, Mbak. Dia tidak mengenalkan diri. Tapi katanya urusannya sangat penting," jawab Melanie lagi.
"Bilang saja untuk menunggu dulu di sana. Sebentar lagi saya ke sana."
"Baik, Mbak."
Melanie berbalik sambil menutup kembali pintu ruang kerja Miranda.
Setelah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan pentingnya hari ini, Miranda pun menyempatkan diri untuk menemui orang yang mencarinya itu. Dia beranjak dari meja kerjanya, berjalan keluar dari ruang kerja, menuruni tangga, lalu melangkah menuju lobby kantor.
Dia kaget luar biasa ketika melihat wajah tamu yang sedang duduk di sofa dekat pintu masuk itu. Dia mengenali wajah tamu pria itu. Wajah itulah yang ditemuinya di kafe tempo hari! Menurut Robert, namanya Bram!
"Kenapa kau masih mencariku?!" tanya Miranda ketus ketika sudah berdiri di hadapan Bram.
Bram langsung mengangkat wajah dan menatap Miranda.
"Santai saja. Saya hanya mau berbicara baik-baik," jawabnya tenang sambil tersenyum agak sinis.
Masih berdiri di tempat, Miranda pun menanggapi.
"Jangan di sini," katanya dengan suara lebih pelan.
Urusan dengan Bram ini sangat sensitif sekaligus penting sehingga harus dibahas di tempat sepi yang tidak terdengar orang lain.
"Terserah kau saja mau di mana," balas Bram tampak pasrah masih tetap tersenyum.
"Ikut aku," kata Miranda kemudian.
Dia melangkah cepat keluar dari lobby.
Bram langsung membuntuti.
Miranda lalu berbelok ke kanan menuju taman di samping kanan kantor. Di situ terdapat meja dan kursi tepat di tengah-tengah taman. Sekitar sepuluh meter dari meja itu ada pos keamanan.
Tempat yang dipilihnya sangat pas untuk membicarakan hal-hal yang cukup rahasia karena jauh dari keramaian. Selain itu, keamanannya pun terjamin. Kalau ada apa-apa, dia cukup berteriak. Beberapa detik kemudian dapat dipastikan para petugas keamanan di pos itu akan segera tiba.
"Apalagi yang kau inginkan dariku?" tanya Miranda penuh selidik ketika mereka berdua sudah duduk berhadapan di kursi di tengah-tengah taman itu.
"Bukankah kau belum menuruti permintaanku waktu itu?" jawab Bram dengan wajah serius.
"Permintaan yang mana?!" tanya Miranda sedikit berteriak dan terlihat sedikit bingung.
Dia mencoba mengingat-ingat obrolan terakhir dengan pria misterius ini.
"Permintaan agar kau meninggalkan Robert!" jawab Bram langsung memperjelas maksudnya.
"Kenapa itu menjadi urusanmu. Robert yang memutuskan ingin mempertahankan hubungan kami. Harusnya kau yang tahu diri. Kalau Robert sudah tidak ingin lagi bersamamu, kaulah yang harus menjauhinya," balas Miranda ketus.
Rupanya Miranda mulai naik pitam dan memberanikan diri sendiri untuk tegas pada pria ini. Entah kenapa, kini dia merasa harus membela suaminya.
"Hmmm... begitu ya?" kata Bram tenang.
Dia lalu menyibakkan bagian bawah jaketnya dan menunjukkan sesuatu dari balik jaket itu.
"Kau tahu ini apa?" tanyanya pada Miranda.
Miranda langsung mengamati benda di balik jaket yang muncul sebagian itu. Rupanya itu sebuah gagang pistol yang diselipkan Bram di pinggangnya!
Miranda pun langsung panik luar biasa. Wajahnya langsung pucat pasi.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" katanya dengan suara bergetar dan terdengar ketakutan. Awalnya dia ingin berteriak, tapi urung karena Bram kembali menutup jaketnya.
"Tidak usah panik. Aku tidak akan menggunakan ini padamu. Permintaanku sederhana. Kau tinggalkan saja Robert," balas Bram tenang sambil kembali tersenyum.
Miranda makin gelisah. Aliran darah di tubuhnya makin cepat. Hormon adrenalin di tubuhnya melonjak drastis. Dia benar-benar takut, kesal, marah, sekaligus kebingungan. Dia tidak bisa menjawab iya ataupun tidak.
"Mudah, bukan?" kata Bram kembali menegaskan. "Kalau kau tidak bisa meninggalkannya, terpaksa aku menggunakan cara terakhir ini. Tapi ini tidak akan kulakukan padamu," lanjutnya.
Bram terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan dengan ekspresi yang lebih serius,
"Kalau aku tidak bisa memilikinya lagi, berarti begitu juga denganmu. Aku tidak pernah main-main."
Bram lalu berdiri dan melangkah tenang meninggalkan Miranda.
Miranda masih mematung ketika Bram pergi. Dia terus mengamati punggung laki-laki itu sampai masuk ke sebuah SUV warna hitam yang terparkir di tempat parkir. Beberapa detik kemudian SUV itu pun meninggalkan tempat parkir.
Pikiran Miranda langsung menerawang ke suaminya. Dia membayangkan konsekuensi yang harus diterima Robert kalau dia bertahan untuk tetap bersama. Perasaannya kembali terasa diaduk-aduk. Satu pertanyaan yang terlintas di pikirannya. Apakah kali ini perpisahan adalah jalan terbaik?
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.