Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Teriknya matahari siang itu tidak menjadi penghalang bagi Bima untuk menjalankan niatnya. Diterobosnya ratusan siswa yang sedang berjalan di tengah lapangan menuju gerbang sekolah untuk mencari dan menemukan Vania. Segera! Dia harus segera memastikan sesuatu sebelum semuanya terlambat.
Akhirnya dia melihat gadis itu sedang berjalan sendirian di tengah kerumunan siswa di tengah lapangan. Dengan berlari berkecepatan maksimal, dia bisa mensejajari Vania.
"Bareng saja, ya," kata Bima dengan nafas memburu setelah berhasil berjalan sejajar dengan langkah Vania.
Saat itu juga banyak tatapan langsung terarah pada mereka berdua.
Walaupun sudah mulai mempercayai Bima sepenuhnya, Vania masih merasa risi setiap kali cowok itu menghampirinya di tengah kerumunan siswa seperti sekarang ini.
Belakangan ini, tatapan meremehkan serta isu-isu tidak sedap makin sering menerpa mereka berdua. Banyak yang mencemooh dan menganggap Bima bodoh telah mendekati Vania. Kata mereka, Bima seharusnya mendekati cewek lain yang lebih cantik, berkelas, dan terhormat.
Vania tentu sakit hati mendengar komentar seperti itu. Bagaimanapun, dia tetap tidak tega atau mungkin tidak berani melarang Bima mendekatinya. Sikap cowok itu benar-benar sudah berubah dan menjadi sangat manis. Berada di sisi Bima selalu membuatnya merasa aman dan nyaman. Satu-satunya yang harus dilakukannya adalah mengabaikan semua pandangan negatif dan suara-suara miring itu.
Mendekati gerbang, Bima kembali bersuara. "Kamu mau ke mana, Van?"
"Langsung pulang ke rumah," jawab Vania pendek.
"Aku traktir makan, yuk."
Vania menoleh sebentar. "Ehm," katanya tampak ragu. Tidak ada lanjutannya.
Bima mengerutkan dahi. "Bagaimana?" tanyanya lembut, namun tetap tampak tidak sabaran menunggu jawaban.
Vania masih diam lalu berhenti melangkah. Bima pun ikut berhenti. Mereka berhenti tepat di tengah gerbang sekolah. Hal itu tentu mengganggu siswa yang hendak keluar. Beberapa orang sempat menyenggol bahu mereka.
"Jangan pacaran di sini, mengganggu orang lewat," kata beberapa siswa yang lewat di sisi kiri dan kanan mereka.
Bima mengerutkan dahi lalu menarik tangan Vania ke pinggir. Mereka berdiri di dekat pilar besar gerbang sekolah. Bima masih menatap Vania dengan tatapan penuh harap. Dia sebenarnya yakin kalau diamnya Vania itu tanda sebuah persetujuan. Namun dia belum berani menyimpulkan. Dia butuh jawaban lisan dari mulut Vania yang lebih meyakinkan.
Vania mengangkat kepala lalu mengedarkan pandangan ke ratusan siswa yang sedang melewati gerbang sekolah. Dia tetap saja merasa kesepian walaupun sedang berada di keramaian. Semua teman dekatnya mulai menjauh, baik secara perlahan-lahan, maupun secara kilat, termasuk teman paling akrabnya, Siska. Kini hanya tinggal tersisa Bima. Menolak ajakannya sama saja dengan menenggelamkan diri dalam kesepian abadi dan tidak berujung.
Akhirnya Vania pun bersuara. "Baiklah," katanya masih terdengar agak ragu.
Bima langsung tersenyum lebar, terlihat sangat bahagia. "Kamu tunggu di sini sebentar, ya. Aku ambil motor dulu," ujarnya pada Vania.
Vania pun mengangguk.
Bima langsung memutar badan dan melangkah bergegas menuju parkiran sepeda motor di sebelah kiri gerbang sekolah. Dia masih senyum-senyum sendiri ketika tiba di parkiran. Sambil bersiul-siul riang, dipakainya helm, didudukinya jok motor, distaternya motor itu, lalu dijalankannya menuju pintu gerbang.
Ketika dia tiba di hadapan Vania, suasana sudah mulai sepi. Tidak terlalu banyak lagi kerumunan siswa yang melewati gerbang. Hanya tampak beberapa orang yang berjalan tanpa memperhatikan mereka.
Bima turun dari motor lalu melepaskan helm yang digantungnya di jok belakang. Dia tidak langsung menyerahkan helm itu pada Vania melainkan hendak memakaikannya. Momen itu tentu saja membuat Vania risi. Secara spontan dia menolak sambil berusaha merebut helm itu dari tangan Bima.
Tapi rupanya Bima bersikeras untuk memasangkannya ke kepala Vania. Dijauhkannya helm itu dari jangkauan Vania.
"Tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum. "Biar aku saja yang memasangkan."
Vania menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada mata yang memperhatikan mereka berdua.
Tetap saja siswa-siswa yang lewat memperhatikan mereka berdua sambil senyum-senyum.
Akhirnya, Vania hanya pasrah.
Dengan penuh kelembutan Bima memasangkan helm itu ke kepala Vania. Bunyi klik pun terdengar ketika Bima menyatukan kaitan helm di bawah dagu. Setelah itu dia langsung naik ke motor dan duduk di jok depan.
Vania tampak tertegun cukup lama di samping jok.
"Ayo naik!" kata Bima membuyarkan lamunan sejenaknya itu.
Vania merasakan jantungnya berdebar-debar ketika naik ke jok belakang motor Bima. Dia duduk dengan posisi menghadap ke samping.
"Sudah?" tanya Bima pada Vania.
"Sudah."
Sambil tersenyum riang, Bima meluncurkan sepeda motornya melewati gerbang sekolah.
Dia berbelok ke kanan sambil melewati angkot-angkot yang masih mengantre di depan sekolah. Dengan meliuk-liuk, sepeda motor itu berhasil melewati kerumunan siswa yang sedang berebutan masuk angkot atau masuk jemputan pribadi yang mengantre di sepanjang jalan sempit depan sekolah.
Vania tampak cemas dibonceng dengan agak ekstrem seperti itu. Dia ingin protes tapi takut mengganggu konsentrasi Bima yang malah membahayakan mereka berdua. Dia pun hanya bisa pasrah.
Bima menarik napas lega setelah berhasil melewati kerumunan siswa di jalan sempit itu. Dia langsung mempercepat laju motornya dan membawa Vania menuju restoran siap saji yang berada di ujung jalan dekat pertigaan menuju jalan arteri dua jalur.
Saat mereka tiba, parkiran restoran itu tidak terlalu ramai. Banyak ruang parkir kosong sehingga Bima tidak kesulitan memarkirkan motornya.
Setelah mereka turun, Bima langsung membantu Vania melepaskan helmnya. Mereka kembali berhadap-hadapan. Mata mereka beradu. Vania salah tingkah. Tangan Bima tampak sedikit gemetaran.
Kali ini gadis itu tidak menunjukkan penolakan seperti di gerbang sekolah tadi. Tampak dia menatap serba salah ketika berhadapan muka dengan Bima seperti itu. Jantungnya masih berdegup kencang dan tidak beraturan. Dia pun menahan napas lama.
"Kamu cantik banget," kata Bima menggoda sambil membuka kaitan helm di bawah dagu Vania.
Vania langsung tersipu malu. Jantungnya berdegup makin tidak beraturan. Napasnya belum mampu dia hembuskan.
Saat Bima mengangkat helm itu dari kepalanya, barulah dia bisa menghembuskan napas yang tertahan cukup lama.
Bima meletakkan helm yang baru dilepasnya di spion kanan motor. Dia lalu melepaskan sendiri helmnya dan meletakkannya di spion kiri. Dia kemudian kembali menatap Vania sambil tersenyum.
"Ayo," ajaknya pada Vania.
Vania mengangguk juga sambil tersenyum. Wajahnya kini tampak bersemu merah. Ini pengalaman pertamanya naik motor, dipasangi helm, dibantu pula melepaskannya, lalu diajak makan siang berdua. Dunia terlihat jauh lebih indah di matanya siang ini.
Mereka berjalan sejajar melintasi lapangan parkir menuju pintu masuk restoran yang terlihat tidak terlalu ramai. Beruntung bagi mereka, tidak tampak pengunjung restoran yang berseragam sekolah. Berarti tidak ada teman-teman sekolah mereka di sini. Kebanyakan pengunjung berseragam kantor. Beberapa orang lainnya berpakaian bebas.
Bima mengajak Vania duduk di meja kecil yang berada di pojok ruangan. Hanya ada dua kursi di meja itu. Setelah mengantar Vania ke meja, dia langsung mengantre untuk memesan makanan.
Posisi duduk Vania menghadap ke meja pemesanan. Dia tampak merenung sambil sesekali menatap cowok itu dari samping. Dari sudut pandangnya, Bima terlihat sangat gagah dan keren.
Dia sering mendengar isu kalau banyak cewek di sekolahnya yang mencoba mendekati Bima. Di antara mereka bahkan ada model sampul majalah atau artis sinetron. Mereka tentu saja sangat cantik. Tiba-tiba Vania merasa minder.
Merasa diperhatikan, Bima menoleh ke arah Vania di saat gadis itu memang sedang menatapnya. Mereka pun bertemu mata. Vania menjadi gelagapan salah tingkah. Bima terkekeh.
Karena antrian tidak terlalu panjang, Vania tidak terlalu lama menunggu. Beberapa menit kemudian Bima datang membawa nampan berisi dua potong ayam, dua bungkus nasi, dua gelas minuman soda, dan semangkuk sup krim. Sepertinya Bima punya ide ingin menyantap sup krim itu berdua. Itu pun kalau Vania setuju.
"Kita makan!" kata Bima dengan suara penuh keceriaan sambil duduk di kursi di hadapan Vania.
"Okey!" Vania juga tampak ceria.
Mereka makan tanpa banyak mengobrol. Sesekali saja Bima bertanya tentang kegiatan Vania di rumah. Dia bertanya apakah Vania suka main gim di waktu luang seperti Mobile Legend, PUBG Mobile, Free Fire, HAGO, Genshin Impact, dan banyak gim lain yang disebutkan Bima. Vania pun hanya menggeleng.
"Jadi kamu hanya belajar saja seharian di rumah?" tanya Bima lagi.
Vania tertawa lalu menggeleng.
"Tidak juga. Aku suka mengerjakan hal lain. Aku biasanya main piano sambil bernyanyi. Aku juga suka melukis, menyulam, menjahit, dan membaca novel," katanya kemudian bersuara.
"Wow! Kamu memang istimewa, berbeda jauh dari orang kebanyakan," kata Bima takjub sambil menyendok sup krim.
"Kamu mau mencicipi?" katanya menawari Vania.
"Tidak. Terima kasih. Kamu habiskan sendiri saja," jawab Vania sopan sambil tersenyum.
"Kamu punya akun Tik Tok?" tanya Bima lagi.
"Punya. Tapi jarang kubuka. Perasaan isinya kurang bermanfaat dan tidak mendidik. Tidak membuat orang menjadi lebih baik. Kesannya, banyak hura-huranya saja."
"Aku setuju," kata Bima tegas.
"Aku juga punya. Tapi juga jarang kubuka. Aku lebih suka membuat konten Youtube. Sekali-kali kunjungi akunku, ya."
Vania mengangguk, "Boleh. Isinya tentang apa?"
"Kebanyakan tentang dunia komputer. Peminat bidang itu kayaknya sedikit. Viewer setiap konten-kontenku masih sangat sedikit. Bahkan ada konten yang penontonnya hanya sepuluh orang. Tapi tidak apa-apa. Aku suka saja melakukannya. Aku bukan tipe orang yang ingin jadi viral lalu menghalalkan segala cara."
"Mantap!"
"Bagiku, tidak ada gunanya viral dan terkenal sebentar, lalu tiba-tiba meredup dan menghilang. Lebih baik pelan-pelan saja, asal konsisten dan nyaman menjalaninya."
"Kamu seperti bukan anak kelas satu SMA kalau ngomong seperti itu," timpal Vania serius.
Jangan terlalu memuji. Aku suka besar kepala kalau dipuji."
"Iya. Kelihatan kepalamu sekarang terlihat jauh lebih besar," ujar Vania bernada bercanda.
Mereka sama-sama tertawa.
Selesai makan, Bima langsung membereskan bekas makan dengan meletakkannya di atas nampan lalu memindahkan nampan itu ke meja sebelah yang masih kosong. Setelah itu tangan kanannya tampak merogoh sesuatu dari tas sandangnya. Beberapa detik kemudian dia mengeluarkan tangan dari tas itu lalu menyodorkan kotak kecil warna merah muda ke hadapan Vania.
"Apa ini, Bim?" tanya Vania sedikit tersentak kaget dan deg-degan ketika menatap kotak itu. Raut wajahnya langsung bersemu merah.
"Ole-ole dari Australia."
"Loh? Kapan kamu ke Australia?" tanya Vania kembali kaget.
"Maaf, kemarin tidak sempat memberitahumu. Acaranya mendadak. Aku tidak masuk beberapa hari kemarin karena menemani mamaku menghadiri pemakaman teman akrab mama yang meninggal di Australia."
"Oh."
Vania masih terpana menatap kotak itu. Dia tidak berniat bertanya lebih jauh tentang pemakaman karena sibuk menebak-nebak isi kotak.
"Kamu terima, ya," kata Bima terdengar sedikit mengiba.
Vania tampak berpikir sejenak sebelum berucap, "Terima kasih, ya."
"Sama-sama," timpal Bima seraya mengangguk dan tersenyum. "Buka, dong," pintanya kemudian.
"Dibuka sekarang?" tanya Vania dengan kembali memasang ekspresi kaget.
"Sekarang boleh. Di rumah nanti juga boleh. Tapi sebaiknya sekarang saja," jelas Bima sambil menampakkan gigi-gigi putihnya.
Kotak kecil itu sangat sederhana. Membukanya pun tidak susah. Vania hanya perlu merobek kertas pembungkusnya. Setelah mengangkat tutupnya, Vania kembali kaget. Isinya ternyata sebuah kalung perak dengan gantungan berbentuk bumerang. Dia pun tampak kebingungan.
"Gantungannya itu bumerang, alat khas suku Aborigin, suku asli Australia."
"Oh."
"Kamu suka?"
Vania mengangguk sambil tersenyum indah. "Terima kasih, ya, Bim."
"Sama-sama."
"Ini apa maksudnya, ya?" tanya Vania tampak kebingungan. Dia kembali tersenyum, sambil mencoba menyelidiki alasan Bima memberikan hadiah itu.
"Tidak ada," jawab Bima agak gelagapan.
"Oh." Vania mengangkat bahunya. Dia masih penasaran.
Suasana tiba-tiba hening. Bima terdiam lama tampak sedang mempertimbangkan sesuatu. Vania juga tidak terbiasa bertanya lebih dulu. Suasana itu membuat mereka sama-sama salah tingkah. Mereka tampak canggung.
"Maafkan aku, ya, kalau baru jujur di akhir-akhir ini," ujar Bima akhirnya kembali bersuara.
"Jujur tentang apa, Bim? Perasaan dari dulu kamu tidak pernah berbohong" timpal Vania sedikit menyeringai, mencoba menetralkan suasana hatinya. Jantungnya tiba-tiba kembali berdegup lebih cepat.
Bima tidak langsung menjawab. Dia kembali salah tingkah. Jantungnya juga berdegup tidak beraturan. Napasnya menjadi berat. Diedarkannya pandangan ke segala arah untuk menenangkan diri, tapi tidak berhasil. Berkali-kali dia mengetukkan jemarinya ke meja. Napasnya yang ditarik dalam-dalam dan dihembuskan kuat-kuat juga tidak membantu.
Vania makin kebingungan sekaligus makin cemas. Banyak kemungkinan yang akan diungkapkan Bima. Tapi hanya ada satu kemungkinan yang masih ditakutinya hingga sekarang. Dia berharap Bima tidak mengungkapkan itu. Dia berharap Bima tidak menyatakan perasaannya. Ungkapan itu hanya akan menyiksanya. Sebab dia tidak akan bisa menjawabnya. Ikrarnya kepada Bunda Karin tidak akan diingkarinya, walau sejujurnya dia makin menyukai cowok di hadapannya ini.
"Sebenarnya aku suka sama kamu, Van." Bima akhirnya berhasil mengucapkan kalimat yang tertahan sangat lama di tenggorokannya. Ada kelegaan luar biasa yang dirasakannya setelah kata-kata itu terucap. Tapi tentu saja masih tersisa kekhawatiran di hatinya kalau-kalau tanggapan Vania tidak sesuai dengan harapan. Apa pun tanggapannya nanti, Bima sudah bertekad akan siap menerima. Tekad itu sudah ditanamkannya dalam-dalam sejak tadi malam.
Jantung Vania langsung berdegup makin kencang. Darahnya mengalir cepat ke seluruh tubuhnya. Bulu kuduknya langsung merinding. Dia merasa panas dingin. Ternyata apa yang ditakutinya benar-benar terjadi. Tapi rasa takut itu tidak sendirian, melainkan ditemani perasaan lain. Dia pun merasa bahagia. Sangat bahagia. Mendengarkan pengakuan Bima membuat hatinya berbunga-bunga. Sebab dia pun memiliki perasaan yang sama.
Akan tetapi, ketika ikrarnya kepada Bunda Karin menyeruak dari memori jangka panjangnya, mendadak bunga-bunga yang tadi tampak indah berubah menjadi berduri-duri sehingga menghadirkan perih di hati. Dia tidak bisa atau tidak boleh mengakui perasaannya pada Bima.
Melihat Vania tidak memberikan tanggapan, Bima pun terpaksa kembali bertanya, "Kalau kamu bagaimana, Van?" Suara itu terdengar bergetar.
Vania semakin serba salah. Dia ingin sekali mengangguk atau mengatakan kata 'Iya.' Tapi jawaban itu akan melanggar ikrarnya. Tapi mengatakan kata 'tidak' juga akan membohongi Bima sekaligus membohongi dirinya sendiri. Dia takut itu malah menjadi penyesalan di kemudian hari.
"Kamu tidak suka sama aku ya, Van?" Bima mulai tampak kecewa.
Vania tampak semakin bingung. Bibirnya semakin kelu. Butuh energi besar untuknya agar bisa mengangkat sudut-sudut bibirnya dan membuka mulut lalu bersuara.
"Bukan begitu, Bim," katanya pelan dengan suara bergetar. "Sepertinya ..." Ucapannya terhenti. Dia tidak mampu melanjutkan. Bibirnya tiba-tiba kembali kelu. Napasnya tercekat di tenggorokan sehingga tidak mampu menggetarkan pita suara.
Itu membuat Bima makin penasaran. Dia pun langsung mengajukan pertanyaan, "Sepertinya apa, Van?"
Vania tampak berpikir keras untuk menemukan kalimat yang paling tepat. Memang tidak mudah. Tapi dia harus menemukannya. Dia harus menjawab agar tidak menimbulkan prasangka yang keliru.
Bima menahan diri. Dia mencoba bersabar menunggu jawaban Vania. Dia tidak ingin memaksa gadis itu yang kemudian malah membuatnya tidak berkata jujur. Dia menginginkan kejujuran yang akan menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan berikutnya.
"Sepertinya, kita masih butuh waktu untuk saling mengenal, Bim." Akhirnya Vania mampu merangkai kalimat yang dirasanya paling baik.
Raut kecewa langsung tampak jelas di wajah Bima. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Semalaman dia memikirkan ini. Tekadnya sudah bulat untuk menerima apa pun jawaban Vania.
Vania sedikit lega. Kali ini dia memberanikan menatap mata Bima. Tatapan itu berusaha menembus ke dalam pikiran dan hati Bima. Vania tidak ingin kata-katanya barusan menimbulkan goresan di sana. Berteman adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
"Kamu tahu kenapa aku harus mengakui perasaanku sekarang, Van?" Sebuah pertanyaan retorika dilontarkan Bima kemudian.
Vania diam saja dan kembali menunduk.
"Aku takut menyesal kalau tidak mengakuinya," ujar Bima melanjutkan dengan suara bergetar.
Vania mengangkat kepala. Raut wajahnya tampak kebingungan. "Maksud kamu apa, Bim?"
Bima tidak langsung menjawab. Dengan sedikit malu-malu, dia menatap sebentar ke arah Vania sebelum berucap, "Besok keluargaku akan pindah ke London. Papa ditugaskan di sana selama lima tahun. Tadinya aku tidak ingin ikut ke sana, aku sudah meminta izin untuk tetap tinggal di sini dengan Nenek."
Dia diam sebentar sambil menarik napas dalam sebelum kembali melanjutkan, "Aku tidak sanggup pergi ke sana karena tidak bisa meninggalkanmu. Aku tidak tahan berpisah denganmu."
Vania terpaku. Dadanya makin bergemuruh. Seluruh otot dan persendiannya langsung melemas. Dia menunduk sebentar lalu mengangkat kembali wajahnya, menatap raut wajah Bima yang penuh harap. Hatinya semakin perih. Pikirannya semakin kacau. Dilemanya semakin membesar. Tadinya dia berharap mereka tidak perlu berpacaran, tapi tetap dapat terus berteman dan bertemu. Tampaknya harapan itu akan menjadi sebuah kemustahilan.
"Tapi kalau perasaanmu tidak sama dengan perasaanku, rasanya tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap tinggal di sini. Aku akan ikut keluargaku pindah ke London. Mungkin ini pertemuan terakhir kita."
Vania semakin tidak mampu berkata-kata. Dadanya seperti ditonjok dengan sangat kuat. Napasnya terasa sesak.
Dia sudah dapat mengenali perasaannya sendiri. Dia tahu kalau perasaannya juga sama dengan perasaan yang diungkapkan Bima barusan. Tapi dia tidak mampu mengakui itu. Dia tahu dia mulai merasakan rasa sayang kepada Bima. Tapi dia juga tahu kalau dia juga merasa sayang pada Papa dan Bunda. Dia tidak mungkin mengingkari ikrar pada mereka.
"Aku mohon maaf kalau selama ini sering membuatmu marah, kesal, atau uring-uringan. Semua itu aku lakukan bukan karena ingin menyakitimu. Kuakui itu kulakukan karena hanya mencari perhatianmu. Aku mengagumimu semenjak kita masuk sekolah. Semakin lama aku semakin menyadari kalau aku benar-benar menyukaimu. Aku benar-benar sayang kamu. Memang setelah kupikirkan, cara itu benar-benar kekanak-kanakan. Tapi aku tidak tahu cara yang lain. Aku bingung bagaimana caranya agar kamu membalas perasaanku dengan perasaan yang sama." Bima berbicara jauh lebih lancar daripada sebelumnya.
Mendengar pengakuan itu menimbulkan dua perasaan berbeda di hati Vania. Dia sangat senang mengetahui kalau Bima yang dikaguminya juga mengaguminya sejak awal. Namun dia juga sedih tidak mampu memberikan pengakuan yang sama seperti itu. Dia kemudian hanya mampu menatap keluh. Dia bergeming. Mulutnya masih tak mampu digerakkan.
Setelah terdiam cukup lama, Bima kembali melanjutkan, "Tapi sepertinya semua cara yang kutempuh itu tetap tidak berhasil." Dia mencoba tersenyum, seperti sedang menguatkan diri sendiri.
Vania semakin merasakan perih di matanya. Dia ingin sekali menangis. Tapi dia teringat dengan nasehat yang diberikannya kepada Siska tempo hari agar cewek tidak menangis di depan cowok. Tangisan cewek akan dimanfaatkan cowok untuk bertindak semena-mena. Dia tidak mau hanya pintar menasihati tapi itu tidak dilakukannya. Dia menahan diri sekuat tenaga agar tidak sampai menangis di depan Bima.
Akhirnya, dia hanya berkata, "Sama-sama ya, Bim. Aku juga minta maaf atas sikapku yang kurang berkenan di hatimu. Aku juga berterima kasih banyak atas bantuanmu selama ini."
Mereka berdua berdiam diri cukup lama.
"Kamu benar-benar tidak memiliki perasaan yang sama denganku, ya, Van?" tanya Bima kembali ingin mendapatkan jawaban yang benar-benar meyakinkan.
Vania bergeming. Tidak mengangguk. Tidak pula menggeleng. Membuat Bima makin bingung.
"Kalau kamu masih ingin memikirkannya, tidak apa-apa. Aku tunggu besok, ya. Kami besok berangkat siang. Aku mungkin berangkat, mungkin juga tidak, tergantung jawabanmu."
Kali ini Vania yang mengangguk. Dia mencoba melebarkan bibirnya ingin mengukir senyum, tapi tidak bisa. Dia pun menunduk.
"Ya, sudah, kita pulang, yuk." Bima berdiri sambil menghembuskan napas kuat-kuat.
"Iya, Bim."
"Aku antar kamu pulang, ya."
"Tidak usah, Bim. Aku naik taksi online saja."
Dengan wajah sama-sama muram, mereka keluar dari restoran cepat saji itu.
Bima masih menunggu sampai taksi online yang dipesan Vania datang. Dia membiarkan Vania pulang sendiri dengan taksi itu. Perasaannya campur aduk ketika melihat punggung Vania yang mulai masuk ke dalam mobil.
Vania menurunkan kaca dan melambaikan tangan dari bangku belakang. Dia berusaha tersenyum, tapi terlihat kurang tulus.
Bima membalas sambil juga berusaha tersenyum. Sebuah senyum kecut.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Novelis Digital
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.