Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Perusahaan Quantum Design and Construction (QDC) bergerak di bidang perancangan dan pembangunan kompleks perkantoran pemerintah, perusahaan-perusahaan besar, kompleks perumahan mewah, gedung pameran, serta bangunan-bangunan ikonik dan berkelas lainnya. Mereka mengusung rancangan futuristik klasik, yaitu perpaduan antara unsur tradisional khas Indonesia dengan unsur masa depan serta berteknologi ramah lingkungan dan berbiaya operasional murah. Untuk saat ini, perusahaan ini belum memiliki saingan yang cukup berarti di dalam negeri.
Kantor pusatnya terletak di tengah kota. Namun, karena perusahaan ini memiliki lahan sendiri yang sangat luas, mereka menjadikan lahan itu sebagai hutan buatan lalu mendirikan kantor di tengah-tengahnya. Hutan ini menjadi salah satu program pemerintah kota sebagai ruang terbuka hijau sehingga perawatannya juga mendapat bantuan dari anggaran pemerintah kota. Di belakang gedung utama terdapat danau buatan yang bisa dinikmati dengan nyaman, terutama dari ruang kerja direktur utama.
Gedung kantor QDC sendiri berbentuk sangat ikonik yang dirancang oleh Arvin, pegawai teladan sekaligus andalan perusahaan. Gedung itu berlantai lima. Fasad yang menghadap ke depan sangat unik, mungkin satu-satunya di dunia. Selain terlihat futuristik, terkandung juga unsur-unsur etnik khas suku-suku yang ada di Indonesia. Lantai teratas dijadikan sebagai ruang kerja direktur utama, komisaris, serta para direktur lainnya.
Di lantai itu pula terdapat ruang rapat khusus pimpinan dan auditorium utama. Beberapa kali auditorium itu digunakan sebagai tempat konferensi internasional yang diselenggarakan berbagai organisasi internasional yang cukup berpengaruh seperti World Economic Forum (WEF), atau World Trading Organization (WTO).
Gedung utama QDC sendiri berjarak kira-kira lima ratus meter dari jalan raya utama. Terdapat jalan dua jalur selebar kira-kira dua puluh meter yang menghubungkan antara bangunan utama itu dengan gerbang utama dekat jalan raya. Di sisi kanan kiri jalan penghubung terdapat trotoar marmer. Di sebelah trotoar itu terdapat tanaman bonsai yang tertata indah. Di belakangnya lagi berjejer berbagai jenis pohon khas hutan tropis, seperti meranti, cendana, mahoni, serta jati. Pepohonan itu kemudian meluas ke dalam sana sampai sejauh satu kilometer lebih.
Di ruang direktur utama QDC, Angela terlihat sedang memijit-mijit pelipisnya. Dia sudah melakukan itu sejak duduk setengah jam yang lalu. Situasi yang sedang berkembang saat ini benar-benar sedang tidak menguntungkan baginya. Bukan hanya kabar dari kepala tim kuasa hukumnya yang membuatnya mulai pusing bahkan mendekati stres. Beberapa minggu ini dia juga mulai mendapat banyak keluhan dari para klien tentang proyek-proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan yang dipimpinnya ini. Beberapa proyek molor cukup lama akibat keteledoran pegawainya. Proyek lainnya malah tidak sesuai dengan spesifikasi sehingga para klien minta diulang dari awal.
Tiba-tiba terdengar dering telepon yang berada tepat di depannya. Langsung diangkatnya telepon itu. Beberapa hari ini dia sangat disiibukkan oleh panggilan-panggilan dari para klien yang sebagian besar memberikan berita yang tidak menyenangkan.
"Halo?" katanya.
"Ini Prambodo."
"Oh, iya, Pak Pram."
"Bagaimana kabar Pak Arvin? Apakah dia bakal kembali bergabung mengerjakan proyek untuk kami?"
Angela langsung terdiam. Dia belum memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Pada akhirnya dia hanya bisa berkata,
"Untuk saat ini Pak Arvin belum bisa bergabung. Dia masih ada urusan lain yang belum diselesaikan."
"Memang di kontrak kerja tidak disebutkan kalau proyek kami harus melibatkan Arvin. Tapi perlu diketahui, kami memutuskan menjalin kerja sama dengan perusahaan QDC karena sosok Arvin. Boleh dibilang, dia adalah pertimbangan utama kami. Kalau dia tidak dilibatkan dalam proyek kami, mungkin kontrak kerja kita perlu dikaji ulang."
"Bapak tidak bisa seperti itu. Perusahaan kami tidak bergantung pada satu orang. Seluruh pegawai kami memiliki kualitas yang sama. Kami jamin, siapa pun yang mengerjakan, hasilnya akan tetap sesuai dengan kontrak."
"Maaf, Mbak. Saya bukan meragukan kehebatan perusahaan QDC dan kualitas SDM-nya. Saya hanya ingin memastikan kalau proyek tersebut dikerjakan dengan baik. Sejauh pengalaman kami, hanya Pak Arvin yang bisa menjamin itu."
"Baiklah, Pak. Nanti akan saya pertimbangkan."
Telepon diakhiri dengan nada kurang puas dari Pak Prambodo.
Angela kembali mengerutkan dahi. Kerutan itu makin dalam. Sudah beberapa klien yang menyampaikan hal yang sama, meminta Arvin terlibat dalam proyek yang dikerjakan untuk perusahaan mereka.
"Sial!" rutuknya sambil melemparkan pulpen yang sedari tadi dipegangnya.
Sampai sejauh ini, usahanya mencari sosok pengganti Arvin gagal total. Tidak ada seorang pun yang memiliki kompetensi sekomplit laki-laki tenang dan berkarisma itu. Keuletan, ketekunan, dedikasi, dan kreativitasnya belum mampu disamai oleh siapa pun yang dikenal Angela.
Perkembangan-perkembangan yang tidak sesuai rencana dan harapan itu membuat dia mulai dihadapkan pada dilema besar. Apakah dia harus terus memperturutkan egonya dengan meneruskan tuntutan kepada Arvin? Ataukah dia harus mengakui kekalahan dan kesalahan demi mengajak Arvin kembali bergabung?
Mengajak pria itu bergabung lagi ke QDC tampak menjadi opsi terbaik untuk mengatasi semua permasalahan yang sedang dihadapi perusahaan saat ini. Namun sudah dapat dipastikan kalau itu bukan perkara yang mudah. Banyak tantangan berat yang harus dilakukannya agar bisa mengajak kembali Arvin bergabung.
Pertama-tama dia harus meyakinkan kembali ayahnya untuk mengangkat kembali Arvin, karena dialah yang dulu menjelek-jelekkan Arvin serta menyampaikan informasi yang menyesatkan sehingga ayahnya berprasangka buruk dan sangat membenci Arvin.
Mengakui semua kebohongan itu di depan ayahnya bukan perkara mudah. Ayahnya sangat tidak suka dengan kebohongan apalagi kalau sampai tahu dia dibohongi secara mentah-mentah. Kalau ingin mengajak Arvin kembali bergabung, dia harus siap dimarah habis-habisan oleh ayahnya.
Dia juga harus mengundang kembali dewan etik untuk mengklarifikasi beberapa hal yang tidak diakuinya ketika sidang kode etik terhadap Arvin tempo hari. Pengakuannya waktu itu semuanya memberatkan Arvin. Padahal banyak dari pengakuan itu karangannya saja. Dia terpaksa mengarang banyak kebohongan itu agar Arvin tidak berkutik. Padahal itu semua tidak perlu dilakukan karena Arvin ternyata tidak membela diri sama sekali.
Tugas paling berat yang dirasakannya tentu saja meyakinkan Arvin. Laki-laki itu tentu sangat kecewa berat atas apa yang telah menimpanya. Arvin pasti sangat membenci dirinya. Angela tentu sudah tahu kalau hubungan Arvin dan istrinya sedang merenggang. Mereka memang tidak sampai bercerai. Tapi tetap saja ada bara api dalam pernikahan mereka. Angelalah yang menghadirkan bara api itu.
Mengakui kekalahan merupakan kata-kata haram dalam kamus kehidupan Angela selama ini, bahkan sejak dia kecil. Apa yang diperolehnya sejauh ini karena dia adalah pejuang tangguh yang tidak pernah menyerah apalagi mengaku kalah.
Dia selalu ingin menang dalam hal apa pun. Kalau pun kalah, dia tidak pernah mengakui itu sebuah titik akhir. Dia tetap berjuang untuk menang dalam tahap berikutnya atau dalam bentuk yang lain.
Setelah direnungkannya lebih dalam, masalah yang sedang dihadapinya kali ini bukan tentang menang atau kalah dalam perang. Masalah sebenarnya terletak pada perangnya itu sendiri.
Angela sangat menyukai pelajaran sejarah. Dia telah mendapat banyak pelajaran dari sejarah umat manusia selama ribuan tahun. Pelajaran-pelajaran itu telah menginspirasinya untuk mengembangkan diri dan mencapai puncak tertinggi impiannya dalam hidup.
Sepanjang sejarah umat manusia sudah sering terjadi perang. Perang yang membekas di dalam memorinya adalah perang melawan penjajahan dan kezaliman. Perang seperti itu dihormati semua orang dan dikenang sepanjang masa. Kematian dalam perang seperti itu kemudian dianugerahi gelar pahlawan. Berjuang dalam perang seperti itu sangat masuk akal untuk dilakukan.
Namun berjuang untuk memenangkan perang yang sudah keliru dari awal tidak pernah masuk akal. Hasil perang seperti itu sudah bisa diprediksi, persis seperti pepatah lama "menang jadi arang, kalah jadi abu." Kalaupun menang, kemenangan itu tidak ada artinya sama sekali.
Kini Angela menyadari, perang keliru seperti itulah yang telah dimulainya tempo hari. Seharusnya dia tidak perlu mengobarkan perang ini.
Untuk pertama kalinya dia harus belajar berbesar hati, yaitu mengakui kekalahan. Tentu saja bukan pengakuan kekalahan dari Miranda dan Arvin, melainkan pengakuan kekalahan karena telah mengobarkan perang yang salah dan keliru dari awal. Perang seperti ini seharusnya tidak pernah dimulainya.
Karena perangnya terlanjur sudah terjadi, maka pilihannya hanya tinggal satu, menghentikan perang ini sekarang juga.
Dia langsung mengambil ponselnya di atas meja lalu menekan nomor Wisnu. Tidak lama menunggu, panggilan itu langsung diangkat.
"Ada apa, Mbak?" kata kuasa hukum andalannya itu.
"Segera cabut laporan pelecehan itu!" jawabnya tegas tanpa nada keraguan.
"Hah?! Laporannya dicabut?!" timpal Wisnu dengan nada terkejut.
"Iya!" jawab Angela dengan sangat tegas.
"Tapi kenapa, Mbak?" tanya Wisnu masih tidak percaya.
"Tidak usah bertanya. Dicabut saja. Alasannya saya beritahu kemudian."
"Mbak benar-benar yakin ingin mencabut laporan itu?! Mbak sudah mempertimbangkannya dengan matang?" tanya Wisnu sekali lagi untuk benar-benar memastikan.
"Iya! Saya sangat yakin. Kamu tenang saja. Jasa bantuan hukummu akan kubayar seratus persen sesuai perjanjian," jawab Angela lagi masih terdengar tegas dan penuh keyakinan.
"Baiklah kalau begitu. Segera saya lakukan," timpal Wisnu yang akhirnya terdengar pasrah dan agak bingung.
Dia merasa Angela telah menjadi orang lain, tidak seperti perempuan keras kepala yang telah dikenalnya selama sepuluh tahun ini.
"Sudah itu saja," kata Angela membuyarkan lamunan pengacara itu.
"Iya, Mbak," balas Wisnu tergagap.
Panggilan pun diakhiri.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.