Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 18. Janji Makan Malam

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 18. Janji Makan Malam
_______________________________________

Suasana di ruang direktur utama QDC sangat terang karena matahari bersinar sangat cerah. Langit bersih tanpa awan. Kaca ruangan mengkilap karena baru dibersihkan. Seluruh tirai penutup jendela dibuka lebar. Namun cerahnya hari bertolak belakang dengan suasana hati Angela. Kabut tebal nan gelap sedang menyelimuti hati dan pikirannya. Dia sedang pusing bukan kepalang memikirkan kemerosotan perusahaan. Saham mereka terjun bebas akibat laporan keuangan yang buruk. Kinerja perusahaan sangat buruk. Profit mereka menurun drastis.

Beberapa klien mulai tidak percaya sehingga mempertimbangkan untuk membatalkan kerja sama untuk tahun berikutnya. Itu semua karena Arvin tidak lagi terlibat. Para klien tidak peduli dengan kasus yang menimpa laki-laki itu. Yang mereka pedulikan adalah kualitas hasil proyek. Sejauh ini, hanya Arvin yang dapat menjamin bahwa kualitasnya memang memenuhi atau bahkan di atas standar.

Angela tidak habis pikir, kenapa perusahaan sebesar ini harus bergantung dengan satu orang. Kenapa Arvin harus menjadi sosok sentral atas semua permasalahan perusahaan saat ini? Kenapa harus pria itu yang menjadi tokoh utama?

Masalah semakin rumit karena dia sangat membenci Arvin, sekaligus mengaguminya, mungkin juga mencintainya. Perasaan aneh dan paradoks yang telah dirasakannya semenjak memimpin perusahaan ini benar-benar menyiksanya. Parahnya lagi, dia sudah mempermalukan bahkan menghancurkan kehidupan pria itu. Apakah masih ada peluang membujuk pria itu untuk kembali bergabung?

Sering kali akal sehat dan logika Angela bisa memenangkan pertarungan. Dia bisa menyingkirkan sejenak perasaan-perasaan negatif untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Setelah merenungkannya cukup lama, dia mendapat satu kesimpulan. Itu adalah satu-satunya kesimpulan. Mau tidak mau dia harus kembali melibatkan Arvin dalam semua proyek, baik yang sedang dikaji ulang, hampir dibatalkan, maupun yang sedang berlangsung.

Mengajak Arvin bergabung kembali tentu tidak mudah karena dia pernah menghancurkan kehidupan pria itu. Dia yang telah menuduh Arvin melakukan pelecehan. Dia juga yang memecat Arvin dari perusahaan sehingga pria itu menjadi pengangguran. Tuduhan yang telah dilaporkannya kepada pihak berwajib juga mengancam pernikahan dan rumah tangga Arvin.

Bagaimanapun, dia tetap punya rencana. Itulah salah satu kelebihannya, memiliki perencanaan matang dan detail. Dia sudah menyiapkan tawaran yang sangat mungkin bakal diterima Arvin. Tawaran itu nanti bisa menjadi solusi atas semua permasalahan yang sedang dihadapi Arvin, sekaligus menjadi penebusan dosa bagi Angela.

Tugasnya kini, mencari cara menawarkan itu pada Arvin. Dia harus bertemu dan kembali meyakinkannya. Dia langsung memeriksa daftar kontak di ponselnya untuk segera menghubungi Arvin. Dia yakin nomor Arvin masih tersimpan di ponselnya. Namun dia kesulitan menemukannya. Dia harus berusaha keras mengingat-ingat nama Arvin yang dituliskannya di ponsel. Akhirnya dia mampu mengingatnya.

Nama yang ditulisnya di daftar kontak untuk Arvin sedikit kekanak-kanakan, yaitu 'Pria Paling Menjengkelkan' diikuti emoji marah sebanyak lima buah dan api menyala sebanyak tiga buah. Dia kelihatan jengkel sendiri membaca nama itu. Ditekannya tombol panggilan untuk nomor itu.

Setelah menunggu beberapa detik, panggilan itu pun diangkat. "Halo, ada apa?" terdengar suara laki-laki di seberang panggilan itu.

Angela mengenali suara itu. Dia yakin itu suara Arvin. Tanpa basa basi, dia langsung memanfaatkan kesempatan yang sangat langka itu, "Ini Arvin, bukan?"

"Iya benar."

"Kamu ada acara malam ini?"

"Ini siapa?"

"Angela."

"Angela mana?"

Angela mulai jengkel. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan amarahnya.

"Direktur Utama QDC," jawabnya tetap lembut dan sopan, urung menunjukkan kejengkelannya.

Panggilan langsung ditutup.

Angela makin jengkel. Tapi dia tetap berusaha menenangkan diri demi keberhasilan membujuk laki-laki itu. Dia kembali menekan tombol panggil ke nomor Arvin. Tidak diangkat. Dia kembali menekan tombol itu. Masih tidak diangkat. Dia mencoba sekali lagi. Panggilan langsung ditolak.

"Sial!" umpatnya dengan geram.

Tangannya mengepal kuat. Giginya gemeretuk. Dipukulkannya kepalan tangannya berkali-kali ke permukaan meja kaca. Dia mulai merasakan darahnya mendidih. Benar-benar laki-laki menjengkelkan, katanya dalam hati. Dia bertanya-tanya sendiri, kenapa dia dulu bisa menyukai laki-laki itu. Sebenarnya, kalau sedang tidak jengkel, dia sekarang masih menyukai laki-laki itu.

Kalau saja tidak terbiasa berpikir cerdas, dia bisa gila memikirkan perasaannya sendiri. Di satu sisi dia mengagumi laki-laki itu. Di sisi lain dia juga jengkel luar biasa. Di satu sisi dia ingin menyingkirkan laki-laki itu jauh-jauh. Di sisi lain dia juga membutuhkannya dan berusaha menariknya agar kembali dekat.

"Sial! Sial! Sial!" katanya mengumpat berkali-kali.

Angela berjalan ke arah kulkas, mengeluarkan botol minuman mineral ukuran sedang, membuka tutupnya, lalu meminumnya sampai tersisa setengah. Air dingin itu mampu sedikit menurunkan suhu tinggi amarah yang sedang menguasainya. Setelah berhasil menenangkan diri, ditekannya lagi nomor Arvin. Dia harus melakukannya sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya panggilan itu diangkat.

"Kenapa?!" tanya Arvin dengan nada suara lebih tinggi dari sebelumnya.

"Kamu ada acara malam ini?" tanya Angela tanpa berbasa-basi.

Suaranya tetap dibuatnya lembut dan tenang, sangat bertolak belakang dengan suasana hatinya.

"Tidak ada. Kenapa?" jawab Arvin dengan nada suara sedikit menurun.

"Bisa kita bertemu langsung?" Angela langsung to the point.

"Maaf. Sepertinya tidak bisa." Arvin langsung menolak.

"Please, Vin." Untuk pertama kalinya Angela memohon dengan cara mengiba.

"Maaf, Mbak. Aku tidak bisa membiarkan masalah perasaan menghancurkan rumah tanggaku dan perusahaanmu. Keluarga adalah segala-galanya bagiku."

"Ini bukan lagi masalah perasaan. Ini masalah perusahaan. Aku tidak akan mengganggumu kalau ini bukan masalah besar," kata Angela mencoba menjelaskan maksud yang sebenarnya.

"Tapi tetap saja interaksi dengan Mbak mengancam keutuhan rumah tanggaku. Keluargaku dan orang-orang akan kembali beranggapan kalau aku memang menyukai dan melakukan tindakan tidak senonoh yang Mbak tuduhkan itu."

Arvin diam sejenak sebelum melanjutkan, "Lagi pula, aku sudah dipecat. Jadi tidak ada tanggung jawabku lagi kepada perusahaan. Mbak juga sedang mencoba menjerumuskanku ke jeruji besi."

"Aku sudah mencabut laporanku di kepolisian," timpal Arvin.

"Baguslah. Berarti Mbak tidak perlu menghabiskan energi secara percuma."

"Bagaimana kalau kau mengajak Karin juga? Aku akan meluruskan kesalahpahaman waktu itu. Aku akan mengakui semua kesalahanku. Aku akan menyampaikan padanya bahwa kau tidak bersalah sama sekali. Aku akan minta maaf kepadanya. Silakan kalau kau mau mengumpat dan menyumpahiku. Aku akan terima." Angela akhirnya mengeluarkan semua amunisinya untuk membujuk Arvin.

"Karin sedang hamil besar. Dia tidak bisa ke mana-mana." Arvin masih terus beralasan.

"Pliiiiss, Vin. Perusahaan sangat membutuhkanmu. Para klien hanya percaya padamu untuk mengurus proyek-proyek yang sedang berjalan. Sebagian klien juga sudah membatalkan perjanjian setelah mengetahui bukan kau yang menangani langsung proyek-proyek itu."

Angela kemudian terdiam. Arvin tidak memberi tanggapan. Tapi Angela tahu laki-laki itu menyimak. Dia pun kembali melanjutkan.

"Ini bukan hanya berkaitan dengan nasibku, tapi juga nasib perusahaan, nasib Pak Sanjaya, nasib Miranda, serta nasib semua pegawai dan karyawan yang sebagian besar adalah teman-temanmu." Untuk pertama kalinya Angela mengakui kalau dia tidak bisa mengendalikan semuanya seorang diri.

Dampak yang ditimbulkan dengan pemecatan Arvin tempo hari membuat dia tersadar tentang pentingnya kolaborasi dan kerja sama untuk tetap bertahan dalam persaingan yang sangat ketat saat ini. Selama ini Arvin telah mampu menjadi lem perekat kolaborasi itu. Sementara dia sendiri telah gagal melakukannya. Malah kemudian dia menjadi perusak kesatuan pegawai. Satu-satunya cara untuk mengembalikan keadaan menjadi normal seperti semula adalah mengajak Arvin kembali bergabung. Mau tidak mau, dia harus menurunkan egonya demi kebaikan bersama, sekaligus kebaikan dirinya juga.

"Ya sudah. Aku pikirkan dulu," balas Arvin dengan suara datar, tidak bernada tinggi seperti sebelumnya.

"Aku tunggu di Event Horizon pukul 7.30 ya."

"Aku belum bisa memastikan."

"Iya. Tolong dipertimbangkan ya. Pliiiiss..." Angela memelankan suaranya, sehingga terdengar benar-benar mengiba, tipe suara orang yang memang sedang butuh.

***

Di sebuah ruko tiga pintu berlantai lima yang sedang kosong, Arvin tampak berpikir keras. Dia sedang sibuk merancang tata letak toko cerdas yang hendak dikembangkannya dengan Pamannya Bima. Mereka telah berdiskusi beberapa kali termasuk beberapa menit yang lalu dan menemukan banyak kesamaan pandangan tentang bisnis. Tekad Arvin sudah bulat untuk mulai menjalankan bisnisnya itu. Pamannya Bima barusan juga sudah menyatakan komitmen lisan untuk memberikan dukungan.

Sekarang pikirannya kembali bercabang akibat telepon dari Angela barusan. Dia pun harus berpikir lebih keras lagi. Bukan hanya itu, dia kembali dilanda kegalauan.

Setelah merenung beberapa lama, akhirnya dia memutuskan menerima ajakan makan malam dari Angela. Tidak ada salahnya dia memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk memperbaiki keadaan. Apalagi dia sudah berjanji akan berusaha meluruskan kesalahpahaman tempo hari yang membuat Karin masih menjaga jarak dan agak tertutup belakangan ini.

Arvin juga terpikir dengan nasib teman-temannya yang bekerja di QDC. Dia tidak tega mereka harus menanggung dampak buruk akibat kesalahan orang lain. Bisa jadi kesalahannya. Bisa juga kesalahan Angela. Memberi kesempatan pada Angela mungkin dapat mencegah munculnya dampak buruk itu.

Dia juga tidak tega melihat Pak Sanjaya kewalahan menghadapi kemerosotan QDC secara drastis dalam waktu singkat. Dia tidak ingin usaha Pak Sanjaya dan Miranda yang berjuang mati-matian membesarkan QDC berpuluh-puluh tahun menjadi sia-sia hanya gara-gara keegoisannya. Dia tidak mau menjadi bagian yang membuat QDC tinggal sejarah.

Arvin pun menelepon Karin. Sampai tiga kali dia mencoba, telepon tidak juga diangkat. Dia baru teringat kalau Karin sedang memeriksakan diri ke klinik kandungan. Dia sempat ingin menemani sebelum mendapat telepon dari Pamannya Bima yang sedang berada di Jakarta yang mengajak bertemu langsung untuk membahas lebih dalam rencana usaha mereka. Karin pun tidak mempermasalahkan itu. Dia pun pergi memeriksakan kandungannya sendirian.

Tidak ingin mengganggu Karin, Arvin pun mengirim pesan singkat pada istrinya.

[Malam ini kita makan malam di Event Horizon Restaurant, ya. Tempatnya tepat di depan gerbang masuk kawasan kantor pusat QDC. Mas tunggu di sana jam tujuh malam. Ada urusan yang sangat penting.] bunyi pesan singkat yang dikirimnya ke Karin.

***

Pukul satu siang di ruang Direktur Utama QDC, sebuah pesan masuk di ponsel Angela.

[Iya. Kita bertemu di Event Horizon pukul 19.00]. bunyi pesan dari Arvin.

Angela langsung menyunggingkan senyum puas. Pintu kesempatan itu akhirnya terbuka untuknya. Tinggal kini dia menyusun strategi bagaimana membujuk laki-laki itu. Dia juga mulai membesarkan hati untuk meminta maaf secara tulus pada Karin serta mengakui semua kesalahan dan kekhilafannya.

***

Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Miranda berdiri mematung di depan conveyor bagasi Bandara Soekarno-Hatta. Sambil menunggu barang bawaannya, dia mengeluarkan ponsel lalu menekan nomor Ratmi.

"Mik, aku ingin mengobrol," katanya ketika panggilannya diterima Ratmi.

"Iya, Mbak. Boleh," balas Ratmi dengan sigap.

"Tapi tidak sekarang. Nanti malam saja, ya," balasnya dengan suara yang terdengar parau. Butiran bening kembali menyeruak dari sudut matanya.

"Siap, Mbak!" jawab Ratmi masih dengan sikap yang sigap dan setengah bercanda, belum menyadari perubahan suara Miranda.

"Kenapa hidupku seperti ini, Mik?" tanya Miranda dengan suara yang akhirnya terdengar sesenggukan.

"Mbak kenapa?!" balas Ratmi mulai panik. Dia baru menyadari kalau Miranda sedang menangis.

"Robert, Mik. Robert...! Ternyata dia.. dia..." Miranda tidak sanggup melanjutkan ceritanya.

"Kenapa Mas Robert, Mbak?!" Ratmi terdengar makin panik mendapat cerita sepotong-sepotong seperti itu.

"Nanti malam saja aku ceritakan semua," jawab Miranda masih saja sesenggukan.

"Siap, Mbak, siap! Mbak telepon lagi saja nanti malam. Atau Ratmi saja yang menelepon," jawab Ratmi.

"Bukan lewat telepon. Kita bertemu langsung," timpal Miranda sambil mencoba menenangkan diri sendiri.

"Loh? Mbak sekarang di mana?!" Ratmi tambah kaget.

"Aku baru saja tiba di Jakarta. Ini sedang menunggu bagasi," jawab Miranda. Usahanya untuk menenangkan diri cukup berhasil. Suaranya berangsur-angsur kembali normal.

"Oke siap, Mbak. Nanti sepulang dari kantor Ratmi langsung meluncur ke rumah Mbak."

"Kalau di rumahku, kamu yang kejauhan. Aku tunggu kamu di Event Horizon saja. Biar lebih dekat dari kantormu."

"Siap, Mbak, siap! Jam berapa Mbak?" tanya Ratmi penuh semangat.

"Kamu sendiri bisanya jam berapa?"

"Mungkin sekitar jam tujuh, ya, Mbak. Ratmi masih ada pekerjaan dari Mbak Angela yang harus diselesaikan hari ini."

"Oke, boleh. Nanti aku tunggu di situ. Aku pulang ke apartemen dulu sebentar, mengantarkan barang bawaan."

"Oke, Mbak."

Miranda pun menutup telepon.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Novelis Digital
Dilema Novelis Pemula
M.I.T
S.I.P

Komentar