Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 19. Dilema

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 19. Dilema
___________________________________________

Sudah hampir sejam Vania bengong di kursi ruang tamu. Wajahnya tampak sangat kusut. Pertanyaan terakhir Bima benar-benar menguras pikiran dan perasaannya. Dia benar-benar tidak tahu jawaban seperti apa yang harus diberikannya kepada Bima. Obrolannya dengan bunda Karin beberapa bulan lalu pun teringat kembali.

“Bima menyebalkan banget, Bun,” rengeknya waktu itu sambil memeluk Karin.

“Temanmu di sekolah?” tanya bunda Karin pelan.

Vania mengangguk.

“Kenapa dia?” lanjut bunda Karin dengan suara lembut.

“Dia selalu mengangguku, di kelas, di kantin, di lapangan olahraga, bahkan sepulang sekolah. Pokoknya di mana-mana. Ada saja idenya untuk membuatku kesal dan marah. Dia sungguh tipe SOS. Senang lihat Orang Susah. Susah lihat Orang Senang,” balas Vania dengan ekspresi kesal, marah, dan benci menjadi satu.

Karin tidak langsung menanggapi. Dia tampak berpikir serius sebelum berkata, “Kamu tahu itu pertanda apa?”

“Pertanda apa, Bun?” Vania langsung menatap Karin dengan raut wajah penasaran.

“Dia menyukaimu,” kata Karin tersenyum.

“Iissh... Bunda nih!” Wajah Vania langsung bersemu merah.

“Beneran loh! Bunda dulu sering menghadapi laki-laki seperti itu,” tambah Karin meyakinkan.

“Itu bukan tanda suka melainkan tanda permusuhan dan ingin mengajak perang!” Vania cemberut, memprotes ucapan bundanya barusan.

“Dia sedang mencari perhatianmu. Kamu itu tipe cewek idaman. Cantik, baik, pintar, dan sholeha,” goda Karin pada Vania.

“Bunda niihh...” Vania langsung merajuk. Tapi kemudian dia terlihat senyum-senyum sendiri.

“Tapi kamu jangan sampai tergoda dengan tipu dayanya, ya. Kamu harus menjaga perasaanmu. Menjaga hatimu. Kamu harus tangguh,” kata Karin, kali ini dengan raut wajah serius.

“Memangnya kenapa, Bun?” Vania tidak kalah seriusnya menanggapi.

“Saran Bunda, kamu jangan sampai jatuh cinta padanya. Kalau kamu terlalu cepat jatuh cinta, nanti kamu tidak bisa mengendalikan diri. Bisa-bisa mengganggu sekolahmu dan masa depanmu.”

“Kok bisa?” tanya Vania penasaran.

“Biasanya, pacaran yang terlalu cepat dapat menghambat perjuangan untuk meraih kesuksesan di kemudian hari,” jawab Karin. “Kalau kamu punya cita-cita atau impian, lebih baik perjuangkan dulu sampai terwujud. Kalau usiamu sudah cukup matang dan dewasa, baru kamu mulai mengenal lebih dekat laki-laki yang kamu suka. Kalau kamu merasa cocok dengannya, barulah kalian menikah. Pacarannya setelah menikah saja. Itu jauh lebih indah,” lanjutnya kemudian panjang lebar. 

Vania menatap bundanya dengan tatapan kagum sambil mengangguk-angguk mengiyakan.

“Bunda juga harus berjuang keras untuk tidak pacaran padahal Bunda pernah sangat menyukai beberapa cowok di kelasnya. Salah satu cowok itu sempat mengungkapkan perasaannya. Dengan berat hati Bunda harus membohongi diri dan menolaknya. Tapi keputusan itu rupanya sangat tepat. Si cowok itu mengalihkan incarannya pada cewek lain. Beberapa bulan kemudian barulah ketahuan kalau cowok itu bukan cowok baik-baik. Dia ketahuan menghamili adik kelas. Cowok itu akhirnya menikah cepat dengan si adik kelas itu. Lalu belum sempat anak mereka lahir, mereka sudah bercerai.”

Vania menggigil ketakutan. ‘“Vania tidak bakal tergoda, Bun. Vania akan mengikuti jejak Bunda. Pacarannya setelah menikah saja. Biar tidak menimbulkan masalah,” katanya dengan penuh keyakinan.

“Di berita sering ada cerita horor tentang cewek-cewek yang mendapat banyak masalah gara-gara pacaran terlalu cepat dan juga melampui batas. Ada yang terpaksa putus sekolah. Ada yang harus menggugurkan kandungan. Ada yang masuk penjara gara-gara meracuni pacarnya yang ternyata suami orang. Bahkan ada yang tidak sanggup menanggung penderitaannya sehingga sampai bunuh diri,” lanjut Karin dengan wajah serius.

Vania menggetarkan tubuhnya, mengekspresikan ketakutan. “Hiiihh!!” katanya. “Kemaren Vania juga sempat baca berita seorang istri dibunuh oleh suaminya gara-gara si istri menemui mantannya sewaktu sekolah dulu,” lanjutnya.

“Iya. Itulah resiko kalau sering berpacaran dan banyak mantan. Akhirnya rumah tangga yang tentram dan damai pun bisa hancur gara-gara kehadiran kembali si mantan. Apalagi dengan merebaknya media sosial, banyak yang bertemu dan bernostalgia kembali dengan mantan-mantan mereka.” Karin menanmbahkan.

“Ngeri ya, Bun,” timpal Vania masih menampakkan ekspresi ketakutan.

“Ya begitulah yang terjadi kalau tidak mampu mengelola hati dan menahan diri,” jawab Karin kembali mengangguk.

Karin merubah posisi duduknya. Dia memutar tubuh sedikit, lalu mengangkat paha kanannya dan ditumpangkan ke tempat tidur sehingga langsung menghadap Vania. Dia menatap mata gadis remaja itu dengan tajam dan serius. “Kamu mau berikrar ke Bunda?”

Vania menatap heran ke arah bundanya. “Ikrar apa, Bun?” tanyanya penasaran.

“Ikrar seperti yang telah kamu ucapkan tadi,” kata Karin lembut.

Vania mengerutkan dahi. “Yang mana? Tidak pacaran sebelum menikah?” jawabnya dengan bertanya balik untuk memperjelas maksud bundanya.

Karin mengangguk sambil tersenyum.

“Okey, Bun. Vania berjanji,” kata Vania sambil tersenyum dan mengacungkan jari telunjuk dan tengah secara bersamaan.

Karin menggeleng. “Bukan janji tapi ikrar,” katanya mempertegas.

Kening Vania kembali mengkerut. “Apa bedanya?” tanyanya lagi.

Karin kembali menatap mata Vania dalam-dalam lalu berucap, “Ikrar itu janji tingkat tinggi yang tidak bisa dilanggar begitu saja. Bahkan tidak boleh dilanggar dalam situasi apapun.”

Kening Vania semakin mengkerut, tampak berpikir keras memikirkan makna ucapan bundanya barusan. Beberapa menit kemudian dia tersenyum dan berkata lantang, “Vania berikrar, tidak akan pacaran sebelum menikah!” Dia lalu menatap bundanya itu. “Begitu, ya, Bun?”

Karin mengangguk.

“Kalau ada teman laki-lakimu mengajak pacaran, bilang saja ‘kita berteman dulu saja, ya.’ Begitu,” lanjutnya kemudian.

Vania mengangguk.

“Tapi menyampaikannya jangan kasar. Jawab sesopan dan selembut mungkin. Biar tidak menimbulkan kemarahan, kebencian, dan permusuhan,” tambah Karin. Dia juga takut kalau Vania dijauhi teman-temannya gara-gara bersikap terlalu kaku.

Vania kembali mengangguk sambil memperhatikan ibu sambungnya itu dengan serius.

“Intinya, kita tidak boleh menyakiti perasaan orang lain,” tambah Karin masih dengan suara lembut.

Vania tersenyum. Dia mulai terlihat bersemangat. “Kalau Bima yang Vania ceritakan tadi bagaimana menurut Bunda?”

Karin kembali menatap mata Vania dengan sedikit melotot. “Ya sama saja. Itu berlaku untuk semua cowok,” katanya tegas.

“Sebenarnya, Bima itu ganteng dan pintar loh, Bun,” ucap Vania sambil senyum-senyum.

“Lha! kamu juga suka sama Bima?” Karin kaget sekaligus khawatir. Tatapannya langsung menyelidik.

Vania tidak menjawab. Raut wajahnya tampak ragu. Dari mukanya yang kemudian berubah bersemu merah, kemungkinan dia juga menyukai teman sekelasnya yang menyebalkan itu. Hanya saja sikap Bima yang masih kekanak-kanakkan itu lebih sering membuatnya kesal dan jengkel daripada suka.

Karin melambai-lambaikan tangan di depan wajah Vania. “Kamu juga menyukainya?” ujarnya mengulangi pertanyaan tadi dengan suara yang masih lembut.

Lama Vania berpikir sebelumnya akhirnya menatap bundanya dan menggeleng. “Vania akan menjaga ikrar pada Bunda,” katanya dengan suara lantang.

Karin tersenyum lebar. Perasaannya menjadi lega. Walaupun dia bukan ibu kandung Vania, tapi tetap saja dia tidak ingin putri sambungnya itu terjebak pergaulan bebas yang semakin merebak saat ini.

“Kalau kamu punya masalah, ceritakan saja pada Bunda, ya. Jangan disimpan atau dipendam sendiri. Biar hatimu lebih lega, dan pikiranmu lebih tenang sehingga kamu bisa lebih fokus belajar.”

“Siap, Bun! Vania saaayaaaang ... Bunda!” kata Vania sambil memeluk Karin dengan erat. “Sayangnya juga pakai banget,” lanjutnya sambil memamerkan gigi putih dan rapinya.

Lamunan Vania buyar ketika terdengar suara Widya.

"Ada yang sedang berantem, nih!" goda adik semata wayangnya itu.

"Jangan mengganggu! Pergi sana!" balas Vania tampak marah dan jengkel.

Usaha adiknya menggoda Vania tidak berhasil.

"Temani main sepeda di taman, dong!" pinta Widya kembali mengganggu Vania.

"Main saja sendiri!" timpal Vania dengan ketus. Dia tampak semakin kesal.

"Memangnya Kak Vania sedang putus cinta, ya? Sampai kesalnya luar biasa begitu."

Jangan sok tahu! Kamu belum cukup umur!" jawab Vania seraya melotot.

Permintaan Widya yang ingin ditemani main sepeda di taman dekat perumahan itu tidak dituruti Vania. Padahal, dia belum pernah mengecewakan adiknya seperti itu sebelumnya.

Takut Vania semakin marah, Widya pun keluar rumah sendiri. Diambilnya sepeda yang terparkir di samping rumah, lalu dinaiki dan dikayuhnya sepeda itu menuju jalan kompleks.

Sementara itu, Vania masih tampak merenung sangat dalam. "Kalau kamu masih bingung dan ingin memikirkannya, aku tunggu besok ya. Kami berangkat siang. Aku mungkin berangkat, mungkin juga tidak, tergantung jawabanmu." Kata-kata Bima tadi siang itu terus menerus terngiang-ngiang di benaknya. Kata-kata itu mengisyaratkan kalau Bima sangat menunggu jawaban darinya.

Masalahnya dia belum tahu harus menjawab apa. Semakin dia berpikir, semakin dia tidak menemukan jawaban. Mungkinkah dia juga mengakui perasaannya kepada Bima? Tapi itu berarti dia harus mengingkari ikrarnya dengan Bunda Karin. Bagaimana kalau dia menceritakan yang sebenarnya kepada bundanya sekaligus meminta izin untuk mengubah ikrar itu? Banyak sekali pertanyaan dan rencana lain yang bergentayangan di pikirannya. Pada akhirnya dia tidak sanggup menanggungnya sendiri. Dia pun menelepon Karin.

"Bunda pulang jam berapa hari ini?" tanyanya langsung ketika Karin mengangkat telepon. Suaranya terdengar cemas.

"Tadinya Bunda berencana mau langsung pulang setelah selesai pemeriksaan. Tapi Papamu mengajak makan malam di luar. Katanya ada hal penting yang mau dibahas." Suara Karin terdengar samar di seberang telepon.

"Setelah makan malam langsung pulang ya, Bunda," ujar Vania masih dengan suara mengiba.

"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Karin mulai khawatir mendengar nada suara Vania yang terasa memprihatinkan itu.

"Vania benar-benar butuh, Bunda. Vania mau cerita," kata Vania menjawab dengan suara pelan dan tampak cemas.

Terdengar Karin menarik napas dalam-dalam. "Oke, Sayang. Kamu tunggu sebentar di rumah, ya. Nanti selesai makan malam, Bunda dan Papa langsung pulang ke rumah, kok."

"Iya, Bunda," jawab Vania dengan suara agak tenang.

Panggilan pun ditutup.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Novelis Digital
Dilema Novelis Pemula
M.I.T
S.I.P




Komentar