Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 20. Prasangka

Halaman Depan > Novel  > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 20. Prasangka Berujung Tragedi
____________________________________________

Karin duduk termenung di ruang tunggu. Dia masih terpikir dengan telepon Vania barusan. Kenapa anak itu terdengar sangat khawatir? Apa sebenarnya yang ingin disampaikannya? Sambil tetap duduk menunggu, dia membuka pesan-pesan yang masuk ke ponselnya. Dia juga membaca kembali pesan dari suaminya.

[Malam ini kita makan malam di Event Horizon Restaurant, ya. Tempatnya tepat di depan gerbang masuk kawasan kantor pusat QDC. Mas tunggu di sana jam tujuh malam. Ada urusan yang sangat penting.] Begitu bunyi pesan itu.

Karin belum sempat menjawabnya. Dia sempat ingin menelepon, tapi takut mengganggu. Mungkin suaminya sedang sibuk dengan rekan bisnisnya. Dia pun memilih mengetik jawaban singkat.

[Iya. Tunggu saja di sana. Nanti aku akan langsung ke sana.]

Dia kembali terbayang dengan Vania. Kenapa putri sambungnya itu benar-benar ingin bercerita. Dia mulai cemas memikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Tapi lamunannya tidak berlangsung lama karena tiba-tiba perawat yang berjaga di samping pintu ruang kerja dokter kandungan itu memanggil namanya.

"Karin!" panggil perawat itu.

"Saya, Mbak," jawab Karin sigap sambil mengangkat tangan kanan.

Dia pun berdiri dari tempat duduk dan berjalan pelan menuju meja perawat yang barusan memanggilnya.

"Silakan duduk sebentar," kata si perawat ramah.

Karin langsung duduk di kursi yang telah disediakan di depan meja. Si perawat memeriksa dokumen Karin yang sedang dipegangnya.

"Oh, iya. Ibu rutin memeriksakan diri di sini. Ibu kok sendirian saja kali ini? Seingat saya, biasanya Ibu datang berdua dengan suami," katanya sambil sesekali melirik ke arah Karin.

Karin pun mencoba tersenyum. "Suami saya hari ini ada urusan yang tidak dapat ditinggalkan," jawabnya.

"Kalau tidak salah usia kandungan Ibu sudah tujuh bulan, ya?" tanya si perawat.

"Masih aman kalau jalan sendirian. Tapi tetap hati-hati saja, ya, Bu," katanya mengingatkan.

Karin mengangguk sambil kembali tersenyum ramah.

Si perawat lalu berdiri, mendorong pintu ruang pemeriksaan sampai terbuka setengah, lalu mempersilahkan Karin masuk.

"Silakan, Bu," katanya sambil tersenyum.

"Oh, iya. Terima kasih, Mbak."

Karin ikut berdiri, lalu berjalan masuk ke melewati pintu yang baru saja dibukakan perawat.

Perawat itu mengantar Karin menemui dokter kandungan. Dia menyerahkan dokumen Karin kepada dokter pria separuh baya yang sedang duduk di belakang meja. Lalu dia berdiri tegap tepat di samping si dokter.

"Apa kabarnya, Bu?" tanya dokter kandungan yang sangat berpengalaman itu.

"Baik, Dok?"

"Ada keluhan?"

"Tidak ada, Dok. Hanya pemeriksaan rutin saja. Kebetulan hari ini jadwalnya."

"Oke. Kalau begitu. Ibu berbaring dulu di situ seperti biasa, ya."

"Iya, Dok."

Karin berdiri dan berjalan menuju tempat tidur yang tersedia di sebelah kanan meja dokter.

Perawat tadi langsung membantu Karin naik ke tempat tidur itu.

Beberapa saat kemudian si dokter menjalankan prosedur pemeriksaan kandungan menggunakan USG.

Setelah selesai, dia mempersilahkan Karin untuk kembali duduk.

Mereka kembali berhadapan.

"Bayinya tampak normal dan sehat," kata si dokter menyerahkan foto kondisi janin di dalam rahim yang diambil menggunakan USG tadi.

"Syukurlah," timpal Karin singkat.

"Ibu bisa mulai berolahraga khusus ibu hamil untuk melancarkan persalinan nanti. Ibu tetap makan teratur yang mengandung asupan gizi lengkap. Diet makanannya bisa dilihat di pamflet yang pernah diberikan beberapa bulan yang lalu. Dicek saja diet untuk usia kehamilan tujuh bulan."

"Siap, Dok," balas Karin mantap.

"Begini, Dok. Di rumah kami ada tangga menuju lantai dua. Apakah saya masih boleh naik tangga itu, Dok?" tanya Karin kemudian.

"Ada pegangannya tidak?"

"Ada, Dok."

"Boleh-boleh saja kalau ada pegangannya. Tidak masalah. Justru gerakan naik tangga itu memiliki manfaat, misalnya menurunkan risiko terjadinya preeklampsia dan mengurangi kemungkinan terjadinya diabetes gestasional. Namun, Ibu tetap harus berhati-hati. Usahakan untuk naik secara perlahan serta berpegangan erat."

"Iya, Dok. Terima kasih."

Selesai memeriksakan diri, Karin keluar ruangan pemeriksaan dan memilih duduk kembali di ruang tunggu. Jam tangannya baru menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Kalau dia datang sekarang ke restoran Event Horizon, tempat suaminya mengajaknya ketemu, itu terlalu cepat.

Dia pun memutuskan menelepon salah satu temannya yang tinggalnya tidak jauh dari restoran itu.

"Assalamualaikum," kata Karin setelah telepon diangkat.

"Wa'alaikum salam. Ini Karin ya?" jawab perempuan di seberang telepon.

"Iya," ujar Karin. "Kamu masih tinggal di tempat lama?" tanyanya.

"Iya. Mau ke mana lagi. He he."

"Kamu ada di rumah?" tanya Karin lagi.

"Ada."

"Boleh aku mampir sebentar ke rumahmu."

"Boleh, dong. Aku malah sangat senang kalau kamu masih mau mampir ke pondokku."

"Oke. Tunggu, ya. Sebentar lagi aku ke sana."

"Baik. Aku tunggu, ya."

Telepon pun diakhiri.

Sambil berjalan menuju pintu keluar klinik, Karin memesan taksi online melalui aplikasi di ponselnya. Dia lalu menunggu di bangku panjang depan klinik. 

***

Sebuah minibus warna perak berhenti di parkiran tepat di depan Karin duduk. Si sopir membuka kaca samping kiri lalu bertanya,

"Bu Karin?" tanya si sopir pada Karin.

"Iya. Saya!" jawab Karin.

Melihat kondisi Karin, si sopir langsung sigap turun dari mobil. Dia kemudian membukan pintu tengah untuk memudahkan Karin naik dan masuk ke mobil.

Karin terlihat agak berat untuk berdiri dari kursinya. Dia pun berjalan pelan menuju pintu yang telah dibukakan si sopir tadi. Kandungannya membuat dia kurang leluasa bergerak.

"Hati-hati, Bu!" kata si sopir mengingatkan ketika Karin mulai mengangkat kaki untuk berpijak di tepian pintu mobil.

"Terima kasih, Pak," balas Karin dengan santun.

Dengan sedikit meringis, Karin berhasil naik dan duduk di baris kedua.

Si sopir langsung menutup pintu, berjalan memutari bagian belakang mobil menuju pintu di pengemudi. Dia membuka pintu, lalu masuk.

"Kita berangkat, Bu?" tanyanya sopan pada Karin.

"Iya, Pak. Silakan," jawab Karin juga dengan sopan.

Si sopir menjalankan mobilnya meninggalkan klinik.

Sekitar setengah jam kemudian taksi itu tiba di tujuan. Setelah membayar ongkos, Karin pun turun. Seorang perempuan yang sebaya dengannya sudah menunggu di teras sebuah rumah minimalis.

"Karin!" teriak perempuan itu sambil menghambur menuju pagar. Dia membukakan pagar itu.

"Sarah!" balas Karin juga berteriak.

Dia langsung menyambut perempuan itu.

Mereka pun berpelukan.

"Ha?!Kamu sedang hamil?!" tanya Sarah sambil menganga tercengang. "Sudah berapa bulan?!"

"Tujuh bulan."

"Sudah tujuh bulan tapi kamu masih nekat ke sini? Kalau tadi aku tahu kamu sedang hamil, tidak kuizinkan kamu ke sini. Seharusnya aku yang main ke rumahmu."

"Tidak apa-apa. Kata dokter bagus kok kalau banyak bergerak."

"Ayo kita masuk dulu. Kita lanjutkan mengobrol di dalam saja."

Sarah langsung memapah Karin berjalan menuju teras.

Setelah mempersilakan Karin duduk di ruang tamu, Sarah beranjak ke belakang mengambilkan minuman. Karin meminta air putih saja.

Karin menghabiskan air segelas penuh yang disajikan Sarah.

"Terima kasih," katanya.

"Kamu kok mendadak datang ke sini?" tanya Sarah tampak penasaran.

"Sebenarnya aku tidak berencana mau ke sini, he he," jawab Karin jujur.

"Terus?"

"Aku punya janji makan malam dengan suamiku di Restoran Event Horizon."

Dahi Sarah langsung mengernyit,

"Restoran di pangkal gang kompleks perumahan kami di depan sana itu?"

Karin pun mengangguk.

"Oh."

"Aku barusan memeriksakan kandungan di klinik."

"Kok suamimu tidak menemani?"

"Dia sedang sibuk. Seharian ini dia sibuk menemui dan berdiskusi dengan rekan bisnisnya. Entah kenapa tiba-tiba dia malah mengajak makan malam."

"Mungkin ingin memberikan kejutan untuk usia kehamilanmu yang ketujuh bulan. He he," timpal Sarah menggoda.

"Bisa jadi, he he," Karin membalas godaan itu.

Mereka berdua pun mengobrol santai sampai tidak menyadari kalau waktu maghrib sudah masuk. Setelah salat, Karin langsung pamit untuk mendatangi restoran tempat dia dan suaminya membuat janji makan malam.

Sarah sempat menawarkan untuk makan malam dulu, tapi ditolak secara lembut oleh Karin karena dia pun akan makan malam dengan suaminya. Sarah pun tertawa kecil menyadari kebodohannya, menawari makan malam pada orang yang mau makan malam di luar.

"Aku antar kamu ke restoran, ya," kata Sarah tetap ngotot  menawarkan bantuan.

"Tidak usah," jawab Karin lembut. Dia tampaknya tidak ingin merepotkan sahabatnya itu.

"Aku antar sampai di depan restoran saja."

"Tidak usah. Merepotkan saja."

"Tidak apa-apa. Tidak merepotkan, kok."

Karin tampak tidak enak hati.

"Pokoknya aku antar. Aku tidak akan ikut dan mengganggu kalian makan malam."

"Ya sudah kalau begitu."

Mereka pun keluar rumah dan berjalan menyusuri gang sambil kembali mengobrol. Sesekali mereka tertawa-tawa ketika menceritakan kenangan lucu sewaktu kuliah dulu. Setelah sampai di depan restoran, Karin pamit dan memutuskan untuk berjalan sendiri masuk restoran. Dia menoleh sebentar ke arah Sarah, lalu melambaikan tangan tanda perpisahan. Sarah pun tersenyum dan membalas lambaian itu dengan melambaikan tangan juga.

Karin tiba di lobi hotel Event Horizon pukul tujuh lewat lima menit. Dia langsung masuk dan melangkah ke arah tangga yang digunakan untuk naik ke lantai dua tempat restoran berada. Dia teringat dengan pesan dokter tadi, tidak masalah naik tangga asal berpegangan erat.

Dilihatnya tangga itu memiliki pegangan. Berarti tangga itu aman untuknya. Dia melangkahkan kaki ke anak tangga pertama dengan berpegangan erat pada pegangan di sebelah kirinya.

Karin melangkahkan kakinya menaiki tangga secara perlahan sesuai pesan dokter di klinik tadi. Dia hampir tiba di puncak anak tangga ketika tatapannya langsung tertuju pada seorang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk sangat dekat. Tangan kanan laki-laki itu memeluk erat bahu si perempuan.

Karin tersentak kaget ketika menyadari wajah laki-laki itu adalah wajah suaminya. Dia berhenti sejenak di anak tangga paling atas untuk memastikan kalau wajah itu memang wajah suaminya.

Dia mengucek-ngucek matanya untuk memastikan sekali lagi karena dia tidak yakin suaminya tega melakukan perbuatan itu. Tapi tetap saja wajah laki-laki yang sedang mendekap perempuan itu memang wajah suaminya. Dadanya serasa dicabik-cabik menyaksikan suaminya memeluk perempuan lain di depan matanya sendiri!

Keterkejutannya semakin bertambah ketika dia menyadari bahwa dia mengenali wajah murung yang sedang menangis sesenggukan dan berada di pelukan suaminya itu. Wajah itu sangat tidak asing baginya. Jantung Karin langsung bergemuruh. Napasnya tercekat di tenggorokan. Seluruh tubuhnya langsung kaku.

Pikirannya langsung menerawang ke video viral suaminya beberapa waktu lalu. Dia sebenarnya tidak ingin mempercayai kalau suaminya tipe pria mata keranjang. Tapi kalau kejadiannya terjadi sampai dua kali seperti ini, bagaimana dia bisa menjelaskannya. Kalau sekali bisa disebut khilaf. Tapi kalau sampai dua kali, berarti suaminya benar-benar berniat.

Prasangka buruk pun mulai menguasai pikirannya. Jangan-jangan pesan yang dikirim suaminya tadi siang bukan ditujukan untuknya, melainkan untuk wanita itu. Jangan-jangan suaminya itu salah mengirimkan pesan.

Dalam keadaan yang sedang hamil tujuh bulan, dicampur dengan kondisi tubuhnya yang sudah lemah karena berjalan kaki ke sana kemari, ditambah pula dengan perasaan terluka yang sangat dalam, Karin pun tidak dapat menahan diri.

Kepalanya langsung berdenyut-denyut. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya melemas. Dia tidak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri. Genggaman tangannya pada pegangan tangga pun terlepas. Tubuhnya tiba-tiba ambruk ke belakang.

Dia jatuh bergulingan di tangga. Kepalanya berkali-kali terbentur anak tangga yang terbuat dari baja tahan karat tersebut. Tubuhnya baru berhenti bergulingan ketika tiba di lantai bawah. Darah mulai terlihat mengalir di sekitar paha dan selangkangannya, juga di sekitar kepalanya.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar IsiLanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Novelis Digital
Dilema Novelis Pemula
M.I.T
S.I.P

Komentar