Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Karin duduk termenung di ruang tunggu. Dia masih terpikir
dengan telepon Vania barusan. Kenapa anak itu terdengar sangat khawatir? Apa
sebenarnya yang ingin disampaikannya? Sambil tetap duduk menunggu, dia membuka
pesan-pesan yang masuk ke ponselnya. Dia juga membaca kembali pesan dari
suaminya.
[Malam ini kita makan malam di Event Horizon Restaurant, ya. Tempatnya tepat di depan gerbang
masuk kawasan kantor pusat QDC. Mas tunggu di sana jam tujuh malam. Ada urusan
yang sangat penting.] Begitu bunyi pesan itu.
Karin belum sempat menjawabnya. Dia sempat ingin menelepon,
tapi takut mengganggu. Mungkin suaminya sedang sibuk dengan rekan bisnisnya.
Dia pun memilih mengetik jawaban singkat.
[Iya. Tunggu saja di sana. Nanti aku akan langsung ke sana.]
Dia kembali terbayang dengan Vania. Kenapa putri sambungnya
itu benar-benar ingin bercerita. Dia mulai cemas memikirkan
kemungkinan-kemungkinannya. Tapi lamunannya tidak berlangsung lama karena
tiba-tiba perawat yang berjaga di samping pintu ruang kerja dokter kandungan
itu memanggil namanya.
"Karin!" panggil perawat itu.
"Saya, Mbak," jawab Karin sigap sambil mengangkat
tangan kanan.
Dia pun berdiri dari tempat duduk dan berjalan pelan menuju
meja perawat yang barusan memanggilnya.
"Silakan duduk sebentar," kata si perawat ramah.
Karin langsung duduk di kursi yang telah disediakan di depan
meja. Si perawat memeriksa dokumen Karin yang sedang dipegangnya.
"Oh, iya. Ibu rutin memeriksakan diri di sini. Ibu kok
sendirian saja kali ini? Seingat saya, biasanya Ibu datang berdua dengan
suami," katanya sambil sesekali melirik ke arah Karin.
Karin pun mencoba tersenyum. "Suami saya hari ini ada
urusan yang tidak dapat ditinggalkan," jawabnya.
"Kalau tidak salah usia kandungan Ibu sudah tujuh
bulan, ya?" tanya si perawat.
"Masih aman kalau jalan sendirian. Tapi tetap hati-hati
saja, ya, Bu," katanya mengingatkan.
Karin mengangguk sambil kembali tersenyum ramah.
Si perawat lalu berdiri, mendorong pintu ruang pemeriksaan
sampai terbuka setengah, lalu mempersilahkan Karin masuk.
"Silakan, Bu," katanya sambil tersenyum.
"Oh, iya. Terima kasih, Mbak."
Karin ikut berdiri, lalu berjalan masuk ke melewati pintu
yang baru saja dibukakan perawat.
Perawat itu mengantar Karin menemui dokter kandungan. Dia
menyerahkan dokumen Karin kepada dokter pria separuh baya yang sedang duduk di
belakang meja. Lalu dia berdiri tegap tepat di samping si dokter.
"Apa kabarnya, Bu?" tanya dokter kandungan yang
sangat berpengalaman itu.
"Baik, Dok?"
"Ada keluhan?"
"Tidak ada, Dok. Hanya pemeriksaan rutin saja.
Kebetulan hari ini jadwalnya."
"Oke. Kalau begitu. Ibu berbaring dulu di situ seperti
biasa, ya."
"Iya, Dok."
Karin berdiri dan berjalan menuju tempat tidur yang tersedia
di sebelah kanan meja dokter.
Perawat tadi langsung membantu Karin naik ke tempat tidur
itu.
Beberapa saat kemudian si dokter menjalankan prosedur
pemeriksaan kandungan menggunakan USG.
Setelah selesai, dia mempersilahkan Karin untuk kembali
duduk.
Mereka kembali berhadapan.
"Bayinya tampak normal dan sehat," kata si dokter
menyerahkan foto kondisi janin di dalam rahim yang diambil menggunakan USG
tadi.
"Syukurlah," timpal Karin singkat.
"Ibu bisa mulai berolahraga khusus ibu hamil untuk
melancarkan persalinan nanti. Ibu tetap makan teratur yang mengandung asupan
gizi lengkap. Diet makanannya bisa dilihat di pamflet yang pernah diberikan
beberapa bulan yang lalu. Dicek saja diet untuk usia kehamilan tujuh
bulan."
"Siap, Dok," balas Karin mantap.
"Begini, Dok. Di rumah kami ada tangga menuju lantai
dua. Apakah saya masih boleh naik tangga itu, Dok?" tanya Karin kemudian.
"Ada pegangannya tidak?"
"Ada, Dok."
"Boleh-boleh saja kalau ada pegangannya. Tidak masalah.
Justru gerakan naik tangga itu memiliki manfaat, misalnya menurunkan risiko
terjadinya preeklampsia dan
mengurangi kemungkinan terjadinya diabetes gestasional. Namun, Ibu tetap harus berhati-hati. Usahakan untuk
naik secara perlahan serta berpegangan erat."
"Iya, Dok. Terima kasih."
Selesai memeriksakan diri, Karin keluar ruangan pemeriksaan
dan memilih duduk kembali di ruang tunggu. Jam tangannya baru menunjukkan pukul
empat lewat lima belas menit. Kalau dia datang sekarang ke restoran Event
Horizon, tempat suaminya mengajaknya ketemu, itu terlalu cepat.
Dia pun memutuskan menelepon salah satu temannya yang
tinggalnya tidak jauh dari restoran itu.
"Assalamualaikum," kata Karin setelah telepon
diangkat.
"Wa'alaikum salam. Ini Karin ya?" jawab perempuan
di seberang telepon.
"Iya," ujar Karin. "Kamu masih tinggal di
tempat lama?" tanyanya.
"Iya. Mau ke mana lagi. He he."
"Kamu ada di rumah?" tanya Karin lagi.
"Ada."
"Boleh aku mampir sebentar ke rumahmu."
"Boleh, dong. Aku malah sangat senang kalau kamu masih
mau mampir ke pondokku."
"Oke. Tunggu, ya. Sebentar lagi aku ke sana."
"Baik. Aku tunggu, ya."
Telepon pun diakhiri.
Sambil berjalan menuju pintu keluar klinik, Karin memesan taksi online melalui aplikasi di ponselnya. Dia lalu menunggu di bangku panjang depan klinik.
***
Sebuah minibus warna perak berhenti di parkiran tepat di
depan Karin duduk. Si sopir membuka kaca samping kiri lalu bertanya,
"Bu Karin?" tanya si sopir pada Karin.
"Iya. Saya!" jawab Karin.
Melihat kondisi Karin, si sopir langsung sigap turun dari
mobil. Dia kemudian membukan pintu tengah untuk memudahkan Karin naik dan masuk
ke mobil.
Karin terlihat agak berat untuk berdiri dari kursinya. Dia
pun berjalan pelan menuju pintu yang telah dibukakan si sopir tadi.
Kandungannya membuat dia kurang leluasa bergerak.
"Hati-hati, Bu!" kata si sopir mengingatkan ketika
Karin mulai mengangkat kaki untuk berpijak di tepian pintu mobil.
"Terima kasih, Pak," balas Karin dengan santun.
Dengan sedikit meringis, Karin berhasil naik dan duduk di
baris kedua.
Si sopir langsung menutup pintu, berjalan memutari bagian
belakang mobil menuju pintu di pengemudi. Dia membuka pintu, lalu masuk.
"Kita berangkat, Bu?" tanyanya sopan pada Karin.
"Iya, Pak. Silakan," jawab Karin juga dengan
sopan.
Si sopir menjalankan mobilnya meninggalkan klinik.
Sekitar setengah jam kemudian taksi itu tiba di tujuan.
Setelah membayar ongkos, Karin pun turun. Seorang perempuan yang sebaya
dengannya sudah menunggu di teras sebuah rumah minimalis.
"Karin!" teriak perempuan itu sambil menghambur
menuju pagar. Dia membukakan pagar itu.
"Sarah!" balas Karin juga berteriak.
Dia langsung menyambut perempuan itu.
Mereka pun berpelukan.
"Ha?!Kamu sedang hamil?!" tanya Sarah sambil
menganga tercengang. "Sudah berapa bulan?!"
"Tujuh bulan."
"Sudah tujuh bulan tapi kamu masih nekat ke sini? Kalau
tadi aku tahu kamu sedang hamil, tidak kuizinkan kamu ke sini. Seharusnya aku
yang main ke rumahmu."
"Tidak apa-apa. Kata dokter bagus kok kalau banyak
bergerak."
"Ayo kita masuk dulu. Kita lanjutkan mengobrol di dalam
saja."
Sarah langsung memapah Karin berjalan menuju teras.
Setelah mempersilakan Karin duduk di ruang tamu, Sarah
beranjak ke belakang mengambilkan minuman. Karin meminta air putih saja.
Karin menghabiskan air segelas penuh yang disajikan Sarah.
"Terima kasih," katanya.
"Kamu kok mendadak datang ke sini?" tanya Sarah
tampak penasaran.
"Sebenarnya aku tidak berencana mau ke sini, he
he," jawab Karin jujur.
"Terus?"
"Aku punya janji makan malam dengan suamiku di Restoran
Event Horizon."
Dahi Sarah langsung mengernyit,
"Restoran di pangkal gang kompleks perumahan kami di
depan sana itu?"
Karin pun mengangguk.
"Oh."
"Aku barusan memeriksakan kandungan di klinik."
"Kok suamimu tidak menemani?"
"Dia sedang sibuk. Seharian ini dia sibuk menemui dan
berdiskusi dengan rekan bisnisnya. Entah kenapa tiba-tiba dia malah mengajak
makan malam."
"Mungkin ingin memberikan kejutan untuk usia
kehamilanmu yang ketujuh bulan. He he," timpal Sarah menggoda.
"Bisa jadi, he he," Karin membalas godaan itu.
Mereka berdua pun mengobrol santai sampai tidak menyadari
kalau waktu maghrib sudah masuk. Setelah salat, Karin langsung pamit untuk
mendatangi restoran tempat dia dan suaminya membuat janji makan malam.
Sarah sempat menawarkan untuk makan malam dulu, tapi ditolak
secara lembut oleh Karin karena dia pun akan makan malam dengan suaminya. Sarah
pun tertawa kecil menyadari kebodohannya, menawari makan malam pada orang yang
mau makan malam di luar.
"Aku antar kamu ke restoran, ya," kata Sarah tetap
ngotot menawarkan bantuan.
"Tidak usah," jawab Karin lembut. Dia tampaknya
tidak ingin merepotkan sahabatnya itu.
"Aku antar sampai di depan restoran saja."
"Tidak usah. Merepotkan saja."
"Tidak apa-apa. Tidak merepotkan, kok."
Karin tampak tidak enak hati.
"Pokoknya aku antar. Aku tidak akan ikut dan mengganggu
kalian makan malam."
"Ya sudah kalau begitu."
Mereka pun keluar rumah dan berjalan menyusuri gang sambil
kembali mengobrol. Sesekali mereka tertawa-tawa ketika menceritakan kenangan
lucu sewaktu kuliah dulu. Setelah sampai di depan restoran, Karin pamit dan
memutuskan untuk berjalan sendiri masuk restoran. Dia menoleh sebentar ke arah
Sarah, lalu melambaikan tangan tanda perpisahan. Sarah pun tersenyum dan
membalas lambaian itu dengan melambaikan tangan juga.
Karin tiba di lobi hotel Event Horizon pukul tujuh lewat
lima menit. Dia langsung masuk dan melangkah ke arah tangga yang digunakan
untuk naik ke lantai dua tempat restoran berada. Dia teringat dengan pesan
dokter tadi, tidak masalah naik tangga asal berpegangan erat.
Dilihatnya tangga itu memiliki pegangan. Berarti tangga itu
aman untuknya. Dia melangkahkan kaki ke anak tangga pertama dengan berpegangan
erat pada pegangan di sebelah kirinya.
Karin melangkahkan kakinya menaiki tangga secara perlahan
sesuai pesan dokter di klinik tadi. Dia hampir tiba di puncak anak tangga
ketika tatapannya langsung tertuju pada seorang laki-laki dan perempuan yang
sedang duduk sangat dekat. Tangan kanan laki-laki itu memeluk erat bahu si
perempuan.
Karin tersentak kaget ketika menyadari wajah laki-laki itu
adalah wajah suaminya. Dia berhenti sejenak di anak tangga paling atas untuk
memastikan kalau wajah itu memang wajah suaminya.
Dia mengucek-ngucek matanya untuk memastikan sekali lagi
karena dia tidak yakin suaminya tega melakukan perbuatan itu. Tapi tetap saja
wajah laki-laki yang sedang mendekap perempuan itu memang wajah suaminya.
Dadanya serasa dicabik-cabik menyaksikan suaminya memeluk perempuan lain di
depan matanya sendiri!
Keterkejutannya semakin bertambah ketika dia menyadari bahwa
dia mengenali wajah murung yang sedang menangis sesenggukan dan berada di
pelukan suaminya itu. Wajah itu sangat tidak asing baginya. Jantung Karin
langsung bergemuruh. Napasnya tercekat di tenggorokan. Seluruh tubuhnya
langsung kaku.
Pikirannya langsung menerawang ke video viral suaminya
beberapa waktu lalu. Dia sebenarnya tidak ingin mempercayai kalau suaminya tipe
pria mata keranjang. Tapi kalau kejadiannya terjadi sampai dua kali seperti
ini, bagaimana dia bisa menjelaskannya. Kalau sekali bisa disebut khilaf. Tapi
kalau sampai dua kali, berarti suaminya benar-benar berniat.
Prasangka buruk pun mulai menguasai pikirannya.
Jangan-jangan pesan yang dikirim suaminya tadi siang bukan ditujukan untuknya,
melainkan untuk wanita itu. Jangan-jangan suaminya itu salah mengirimkan pesan.
Dalam keadaan yang sedang hamil tujuh bulan, dicampur dengan
kondisi tubuhnya yang sudah lemah karena berjalan kaki ke sana kemari, ditambah
pula dengan perasaan terluka yang sangat dalam, Karin pun tidak dapat menahan
diri.
Kepalanya langsung berdenyut-denyut. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya melemas. Dia tidak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri. Genggaman tangannya pada pegangan tangga pun terlepas. Tubuhnya tiba-tiba ambruk ke belakang.
Dia jatuh bergulingan di tangga. Kepalanya berkali-kali terbentur anak tangga yang terbuat dari baja tahan karat tersebut. Tubuhnya baru berhenti bergulingan ketika tiba di lantai bawah. Darah mulai terlihat mengalir di sekitar paha dan selangkangannya, juga di sekitar kepalanya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.