Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Arvin tiba di restoran dan hotel Event Horizon pukul tujuh
kurang dua puluh menit. Dia datang lebih cepat dua puluh lima menit
dibandingkan Karin. Sebenarnya dia merasa kurang nyaman mengajak Karin ke sini
mengingat usia kandungan Karin yang sudah menginjak bulan ketujuh.
Kekhawatirannya itu muncul ketika berada di depan tangga
yang menghubungkan lobby hotel dengan restoran. Dia pun baru menyadari kalau
kondisi restoran ini kurang bersahabat bagi ibu hamil. Namun dia tidak punya
pilihan lain. Jam pertemuan mereka sebentar lagi. Tentu susah mencari tempat
lain dengan waktu bertemu yang sudah mepet.
Dengan agak ragu, dilangkahkannya kaki menaiki tangga baja
yang dicat hitam yang berada di sebelah kiri pintu masuk itu. Langkahnya tampak
tergesa-gesa walaupun jam di lobi tadi masih menunjukkan pukul tujuh kurang.
Ketika menginjakkan kakinya di anak tangga ketiga dari atas,
tatapan Arvin langsung tertuju kepada seorang perempuan yang tepat berada di
ujung pandangannya. Perempuan itu sedang duduk sendirian di kursi sofa panjang
yang menyandar ke dinding dan menghadap ke tangga
"Bukankah itu
Miranda?" tanya Arvin dalam hati.
Dia pun langsung melangkah menghampiri Miranda.
Miranda masih saja menatap kosong ke depan walaupun Arvin
sudah berdiri tepat di hadapannya. Dia masih juga belum menyadari kehadiran
Arvin.
"Hai! Boleh aku duduk di sini?" tanya Arvin
meminta izin untuk duduk di kursi tepat di depanya.
Barulah Miranda tersentak kaget. Dia langsung mendongak
menatap wajah yang baru saja mengagetkannya.
"Eh, Arvin?! Kok kamu tahu aku di sini?!" tanyanya
keheranan dan terlihat benar-benar terkejut.
Dia langsung berprasangka buruk pada Ratmi. Jangan-jangan
perempuan gempal itu yang memberitahu Arvin tentang kepulangannya ke Jakarta.
"Kebetulan saja, kok. Aku punya janji makan malam di
sini. Aku melihat kamu pas datang tadi," jawab Arvin menjelaskan.
Miranda tampak sedikit lega. Tapi kecemasannya masih
tersisa. Dia sedikit tidak nyaman denga kehadiran Arvin. Rencananya yang ingin
mencurahkan isi hati bisa-bisa batal.
"Boleh aku duduk?" tanya Arvin kembali membuyarkan
lamunan Miranda.
"Ooh... Boleh, boleh, silakan duduk. Maaf... maaf ...
aku membiarkan kamu berdiri lama," jawab Miranda terlihat gelagapan dan
sedikit salah tingkah.
"Terima kasih, Mir," ucap Arvin sambil duduk.
Miranda kembali tampak termenung.
"Kamu sendirian saja?" tanya Arvin memulai
obrolan, tidak enak hati kalau hanya saling berdiam diri.
"Iya," jawab Miranda pelan sambil mengangguk.
"Tapi aku sedang menunggu Ratmi, kok," lanjutnya kemudian masih
tampak salah tingkah.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu kalau pulang ke
Jakarta?"
"Oh, iya. Ini juga baru mau memberi tahu kamu dan
anak-anak," jawab Miranda masih kelihatan gelagapan lalu menunjukkan layar
ponselnya yang menampakkan antarmuka aplikasi pesan singkat.
"Kamu pasti sedang menghadapi banyak masalah, ya? Kamu
terus-terusan melamun dari tadi," kata Arvin seraya tersenyum.
"Tidak ada. Kamu sok tahu." Miranda mencoba
tersenyum.
Senyum itu sangat jelas hanya dibuat-buat. Bahkan senyum itu
hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali berganti dengan kemurungan.
Melihat wajah Miranda yang kembali murung itu, Arvin pun
tidak tahan untuk kembali mengomentari.
"Kamu benar-benar terlihat murung, loh, Mir. Coba
ceritakan apa masalahmu. Siapa tahu aku bisa membantu."
"Aku sedang berpikir keras mencari solusi untuk
menyelamatkan QDC. Kamu sudah tahu, bukan, kalau QDC sedang terpuruk saat
ini."
Arvin mengangguk,
"Angela memberitahuku," jawabnya.
"Begitulah," kata Miranda menanggapi singkat.
Arvin kembali mengamati wajah Miranda. Dia tidak pernah
melihat perempuan di hadapannya ini semurung itu sebelumnya.
"Aku sering melihat kamu menghadapi masalah berat dalam
pekerjaan. Tapi kamu tidak pernah terlihat semurung ini. Ada masalah
lainkah?" tanya Arvin sedikit penasaran.
Miranda tidak langsung menanggapi. Dia tampak berpikir
keras, entah sedang memikirkan alasan yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan
Arvin, atau malah sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Iya. Aku baru kehilangan mama. Aku masih sangat sedih
ditinggal begitu cepat. Padahal kebersamaan kami belum begitu lama,"
ujarnya kemudian menanggapi dengan suara pelan.
Arvin hanya bisa mengangguk membenarkan.
"Oh, iya. Aku juga tidak menyangka mamamu meninggal
mendadak seperti itu. Aku turut prihatin, ya, Mir. Mohon maaf, ya, kemarin aku
tidak ikut melayat ke sana,"
"Terima kasih, Vin. Aku juga memaklumi kondisimu."
"Kamu harus segera move on, Mir," lanjutnya dengan suara yang lebih kencang dan
lebih bersemangat.
"Iya, Vin. Aku sedang berusaha, kok," timpal
Miranda sambil kembali berusaha tersenyum.
"Kamu sendiri dulu yang bilang padaku, kita tidak akan
pernah maju ke depan kalau kita masih terus tinggal di masa lalu," kata
Arvin melanjutkan.
"Iya. Tenang saja. Aku pasti bisa move on, kok. Hanya saja perlu
waktu, bukan?" balas Miranda sambil tersenyum.
Arvin membalas dengan senyuman pula.
"Kata-katamu dulu itu benar-benar berkesan bagiku, dan
benar-benar mengubah hidupku setelahnya," kata Arvin lagi.
Miranda hanya mengangguk mengiyakan.
Mereka kembali terdiam, mungkin sedang tenggelam
mendengarkan lagu Lovely milik
Billie Ellish yang dinyanyikannya bersama Khalid. Lagu itu membuat kesedihan
Miranda tampak makin bertambah. Lirik lagu itu memang tidak terlalu sesuai
dengan apa yang sedang dialaminya saat ini. Tapi suasana yang dilukiskan dalam
lagu itu persis sama dengan suasana hatinya saat ini.
"Apa kabar Robert?" tanya Arvin enteng ingin
mencoba mencairkan kembali kebisuan itu.
Miranda langsung tersentak kaget. Tapi itu hanya sesaat. Dia
segera berusaha menguasai diri dan juga berusaha menampilkan raut wajah yang
tenang.
"Dia baik-baik saja," jawabnya dengan suara yang
terdengar ragu.
Setelah mengatakan itu, Miranda langsung tertegun. Dia baru
saja berbohong. Robert tidak sedang baik-baik saja. Bukan hanya Robert, dia
sendiri juga tidak sedang baik-baik saja. Hubungan pernikahan mereka tidak
sedang baik-baik saja. Tatapannya kembali tampak kosong.
Sedari tadi Arvin memperhatikan gelagat aneh yang
ditunjukkan Miranda. Dia langsung dapat menebak kalau Miranda dan Robert sedang
tidak baik-baik saja. Tapi dia tidak ingin bertanya terlalu jauh karena itu
masalah rumah tangga mereka. Dia tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga
orang lain.
Mereka berdua kembali terdiam.
Setelah keheningan cukup lama itu, akhirnya Miranda yang
kembali membuka suara,
"Aku percaya kalau hidup yang kita lalui ini sudah
ditentukan atau ditakdirkan. Tapi terkadang aku ingin protes. Kenapa takdirku
seperti ini?! Kenapa aku harus menghadapi cobaan berat secara
bertubi-tubi?!"
Miranda pada akhirnya tidak dapat menahan diri. Air matanya
tiba-tiba menyembul di sudut matanya lalu bergulir di pipi.
Arvin melihat air mata itu. Ini pertama kalinya dia melihat
Miranda menangis. Itu artinya masalah yang sedang dihadapi perempuan yang
dianggapnya sangat tegar itu sudah sangat berat.
Dari dulu hingga sekarang, Miranda tidak pernah bisa
berbohong kepada Arvin. Dia pun mencurahkan semua kepedihan hatinya kepada
laki-laki itu terutama tentang rahasia terdalam Robert.
Miranda tidak dapat memungkiri bahwa perasaannya kepada
Arvin tidak pernah pudar walaupun dia telah menikah dengan Robert. Akibatnya
dia benar-benar tidak dapat mengendalikan diri. Dia terus saja menangis
sesenggukan.
Melihat itu, secara refleks Arvin pindah tempat duduk. Kini
dia duduk tepat di samping kiri Miranda. Dia seperti ikut merasakan kepedihan
mendalam yang dialami perempuan itu.
Arvin juga tidak memungkiri kalau rasa sayang pada Miranda
masih bersemayam di hatinya. Hanya saja, selama ini perasaan itu coba
ditepikannya untuk menghargai perasaan Karin. Perasaan pada Miranda telah
ditempatkannya di salah satu sudut terdalam di hatinya agar tidak muncul ke
permukaan.
Sekarang perasaan itu kembali menyeruak begitu saja tanpa
mampu ditahannya. Dia pun tak mampu menahan tangan kanannya yang secara refleks
melingkar di bahu Miranda. Sementara tangan kirinya dengan lembut mengusap
setiap butiran bening yang tidak henti-hentinya menyembul dari sudut mata
Miranda.
Saking larutnya dengan perasaan, Arvin bahkan lupa kalau dia
sedang menunggu Karin dan Angela!
"Ada orang jatuh dari tangga!!!" Tiba-tiba
terdengar teriakan dan kegaduhan dari arah lobi.
Arvin dan Miranda pun ikut penasaran dengan kegaduhan itu.
Mereka langsung berdiri dan berlari bergegas menuju tangga. Setelah menuruni
beberapa anak tangga, Miranda menghentikan langkahnya di pertengahan tangga.
Dari tempatnya berdiri, dia dapat dengan jelas menatap wajah perempuan yang
tertelentang di dasar tangga di bawahnya. Wajah itu milik Karin!
Dia tidak ingin mempercayai penglihatannya begitu saja.
Berkali-kali dia mengusap mata untuk memastikan bahwa wajah itu bukanlah milik
Karin. Tapi percuma, wajah itu tidak berubah, tetap seperti pertama kali
dilihatnya tadi.
Sementara itu, Arvin langsung turun ke dasar tangga dan
menyeruak di antara kerumunan orang,
"Dia istriku!!! Dia istriku!!!" teriaknya dengan sangat panik dan ketakutan.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Novelis Digital
Dilema Novelis Pemula
M.I.T
S.I.P
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.