Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ratmi merupakan pegawai lama perusahaan. Dia mungkin tidak tergolong wanita cantik, tapi tetap menarik. Tingginya 155 cm dengan tubuh yang agak berisi karena dia memang tidak berminat menjaga pola makan, sehingga tubuhnya terlihat kurang proporsional.
Wajahnya bulat cenderung lebar menyesuaikan dengan bentuk tubuhnya. Rambutnya agak ikal dipotong sekitar sepuluh senti di bawah bahu, lebih sering diikat dibandingkan terurai. Matanya agak besar sehingga disamarkannya dengan kacamata bulat bening berbingkai perak. Hidungnya agak lebar dan pesek, sering makin lebar kalau sedang marah. Bibirnya memang tampak tebal dan gelap, namun tetap manis kalau tersenyum.
Kulitnya kecoklatan seperti terpanggang matahari. Padahal itu bukan karena dia sering berjemur, melainkan karena bawaan dari lahir. Tapi bukan tampilan fisik itu yang membuatnya tetap terlihat menarik, melainkan karena sikap dan kepribadiannya yang ramah, lembut, sopan, penuh empati kala mengobrol. Tentu saja, yang membuatnya awet bekerja di QDC karana kecerdasannya di atas rata-rata.
Dia merantau ke Jakarta setelah tamat SMA untuk kuliah. Karena tidak lulus seleksi di kampus negeri, dia pun memilih kuliah di salah satu kampus swasta jurusan managemen dan selesai tepat empat tahun kemudian. Setelah itu dia langsung melamar ke QDC dan diterima.
Dia sudah bersuami. Tapi sampai sekarang mereka belum dikaruniai anak, bahkan tanda-tandanya pun belum terlihat. Itu bukan disengaja, karena mereka sudah sejak awal memutuskan ingin segera memiliki anak setelah menikah. Keputusan itu tentu sesuai permintaan orang tua masing-masing. Suaminya itu pegawai biasa di kantor yang berbeda. Mereka bertemu ketika sedang ada pembicaraan kesepakatan antara perusahaan QDC dengan perusahaan tempat suaminya bekerja. Mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama empat tahun lalu. Setelah berpacaran sekitar tiga tahun, mereka pun menikah tahun lalu.
Dia sedang berjalan cepat menuju jembatan penyeberangan orang yang merentang di atas jalan protokol dua jalur ketika terdengar sirene ambulans dari arah Event Horizon Hotel and Restaurant. Suara sirene seperti itu sudah biasa terdengar di jalan protokol itu sehingga dia tidak terlalu hirau.
Sebelum dia menginjakkan kaki ke tangga pertama jembatan penyeberangan, tiba-tiba sebuah mobil melambat dan mendekatinya. Kaca jendela kiri mobil itu tampak diturunkan. Sebuah wajah langsung terlihat di balik kemudi. Rupanya itu Angela.
"Kamu mau ke mana?" tanya Angela pada Ratmi.
"Eh Mbak Angela. Aku mau ke Event Horizon," jawab Ratmi.
"Lah?! Kok sama?!"
"Iyakah? Mbak mau ke sana juga?"
"Iya. Kita bareng saja, yuk!" ajak Angela sambil tersenyum.
"Tidak usah, Mbak. Ratmi jalan kaki saja."
"Tidak apa-apa. Ayolah! Kamu pasti sudah capek. Kalau mau olahraga jalan kaki, pagi-pagi saja."
"Iya, Mbak," kata Ratmi akhirnya menerima ajakan itu. Dia pun membuka pintu kiri depan mobil, masuk, dan duduk di sebelah Angela.
Mobil itu pun kembali bergerak.
"Kenapa ada ambulans datang ke restoran, ya, Mbak?" tanya Ratmi seraya menunjuk ke pintu masuk restoran, tempat ambulans itu baru saja parkir.
"Aku juga tidak tahu," jawab Angela menggeleng.
"Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang buruk."
"Iya. Mudah-mudahan itu bukan kejadian buruk,"
Mereka kemudian saling berdiam diri.
***
Bunyi sirene terdengar mendekati restoran Event Horizon. Bunyi itu berasal dari sebuah ambulance yang baru saja memasuki kawasan hotel dan restoran Event Horizon. Ambulans itu kemudian berhenti tepat di depan lobi. Empat orang petugas medis terlihat keluar dari kabin dan bagian belakang mobil. Mereka mengeluarkan sebuah tandu beroda dari belakang mobil dan mendorongnya ke arah pintu masuk hotel. Ketika mereka melewati pintu masuk lobi, beberapa orang yang berdiri di dekat situ langsung menunjuk ke arah Karin yang telah tergeletak di ujung bawah tangga.
"Di sana!" teriak salah satunya dengan raut wajah tampak sangat panik.
Keempat petugas itu langsung berbelok ke arah yang ditunjuk orang itu. Mereka mendorong tandu beroda seperti berlari-lari. Tidak lama kemudian tandu itu sudah berada tepat di sisi tubuh Karin yang tergeletak mengenaskan. Dengan sigap keempat petugas itu langsung mengangkat tubuh Karin sesuai dengan prosedur pertolongan pertama. Tubuh Karin langsung diletakkan di atas tandu beroda. Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung mendorong tandu itu menuju pintu keluar lobi.
Arvin ikut berjalan cepat mengiringi para petugas medis itu. Setelah mereka memasukkan Karin ke dalam ambulans, dia langsung menghampiri salah satu petugas.
"Aku suaminya," katanya pada petugas.
Petugas itu mengizinkan Arvin ikut masuk dan duduk di dekat tandu.
Ambulans pun bergerak meninggalkan Event Horizon Hotel and Restaurant.
***
Miranda masih berdiri syok di dekat pintu masuk lobi Hotel dan Restoran Event Horizon ketika Angela dan Ratmi datang menghampirinya.
"Ada apa, Mbak?" tanya Ratmi dengan suara terdengar panik setelah melihat raut wajah Miranda pucat pasi.
"Karin tadi jatuh dari tangga, Mik," jawab Miranda dengan suara bergetar penuh kecemasan dan ketakutan.
"Kok bisa, Mbak?" tanya Ratmi makin panik.
"Nanti kuceritakan kejadiannya. Kita harus ke rumah sakit sekarang, Mik."
"Naik mobil aku saja," ujar Angela yang tadi hanya berdiam diri langsung menawarkan diri.
Miranda sempat menatap ragu pada Angela. Tapi dia langsung menghapus semua prasangka terhadap sahabatnya itu. Kini ada urusan lain yang harus diselesaikan.
Mereka harus cepat-cepat ke rumah sakit. Mereka bertiga akhirnya sepakat ke sana menggunakan mobil Angela. Dengan berjalan tergesa-gesa mereka pun menuju parkiran di mana Angela memarkirkan mobilnya barusan.
***
Vania melirik sebentar jam dinding ruang tamu. Hampir pukul sepuluh malam. Matanya tidak lepas dari pintu depan, masih menantikan Bunda Karin pulang.
Tiba-tiba terdengar suara mobil di depan rumah. Dengan bergegas dia membukakan pintu. Rupanya itu bukan bunda Karin. Vania langsung kecewa. Ratmi terlihat berlari kecil mendekati teras lalu menyapa Vania.
"Hai, Sayang."
"Hai, Tante," balas Vania. Diamatinya wajah Ratmi sebelum mempersilakannya masuk.
Mereka lalu duduk di kursi tamu.
Tanpa berbasa-basi, Ratmi langsung menyampaikan maksudnya.
"Tante dapat amanah dari papamu. Dia dan bunda Karin belum bisa pulang. Jadi Tante diminta menemanimu di rumah."
"Memangnya papa sama bunda lagi di mana dan ada kerja apa?" tanya Vania dengan tatapan mata penuh selidik.
Matanya tajam menyorot mata Ratmi.
"Tante belum tahu pasti."
Ratmi terlihat kikuk dan cemas.
Vania langsung menanggapi,
"Apa yang terjadi sebenarnya, Tante? Vania yakin Tante tahu apa yang terjadi. Kalau papa sama bunda pulang telat, mereka selalu memberitahu Vania secara langsung, tidak pernah meminta tolong atau menyuruh orang lain."
Tatapan menyelidik itu tidak juga menghilang.
Melihat tatapan polos Vania, Ratmi menyerah.
Dia tidak tega membohongi gadis itu. Dia pun menceritakan apa sebenarnya yang sedang terjadi.
"Aku mau ke rumah sakit! Sekarang!" teriak Vania seraya menangis terisak sambil berteriak.
Ratmi langsung terlihat kebingungan. Dia tidak tahu bagaimana cara membujuk Vania.
"Kalau Tante tidak mau mengantar, aku bisa naik taksi!" teriak Vania lagi mengancam.
Kebingungan Ratmi berubah menjadi kepanikan.
"Tapi pesan papamu, biar kamu di rumah saja. Nanti kamu akan dikabari perkembangan bundamu," katanya mencoba membujuk Vania.
"Enggak mau, Tante! Vania harus ke rumah sakit! Vania harus melihat kondisi bunda secara langsung!" jawab Vania tampak mengotot.
Dia lalu berdiri dan melangkah ke kamarnya.
"Baiklah. Biar Tante antar," kata Ratmi menyerah seraya menatap punggung Vania yang sudah masuk kamar.
Vania muncul lagi dari kamar sudah mengenakan jilbabnya.
"Vania memberi tahu Widya dulu. Tidak mungkin dia ditinggal sendiri di rumah," katanya bergegas menuju kamar Widya.
Ratmi mengangguk. Dia langsung membuka ponsel dan memesan taksi online.
Vania tidak menyuruh adiknya itu berganti pakaian karena ketika muncul dari kamar, Widya masih mengenakan pakaian tidur.
Widya bukan tipe orang yang mudah panik seperti kakaknya. Dia menganggap apa yang sedang dialami bunda Karin bukan masalah serius. Jadi dia tampak tidak antusias untuk ikut ke rumah sakit.
Melihat Widya seperti ogah-ogahan, Vania langsung memegang pergelangan tangan adiknya itu lalu menariknya ke luar rumah.
"Kita berangkat Tante," kata Vania dengan langkah tergesa-gesa sambil terus memegangi pergelangan tangan adiknya.
Ratmi langsung berdiri dan ikut melangkah ke luar rumah.
"Kunci dulu pintu itu," katanya mengingatkan Vania.
Vania segera mengambil kunci yang masih menempel di belakang pintu, memindahkannya ke bagian depan lalu menutupkan pintu itu. Dia memutar kunci itu sampai terdengar bunyi ceklek.
Mereka bertiga bergegas menuju mobil taksi online yang sudah menunggu di depan rumah. Ratmi duduk di dekat sopir. Sementara Vania dan Widya duduk di kursi belakang sopir.
Beberapa saat kemudian MPV low end itu bergerak, menuju ke rumah sakit.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.