Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ratmi sempat menelepon Miranda tentang keadaan Karin dan
tempat dia dirawat. Miranda memberitahu kalau mereka masih di ruang operasi.
Ratmi belum pernah mendatangi rumah sakit ini sehingga dia tidak tahu di mana
ruang operasi berada. Dia pun memutuskan bertanya ke bagian informasi.
"Lurus saja, lalu berbelok ke kanan. Di situ ada
tangga. Naik saja ke tangga itu lalu berbelok ke kiri sampai mentok. Ruangan
terakhir di lorong itulah ruang operasi," jawab si petugas mendeskripsikan
lokasi ruang operasi.
Vania yang menyimak dengan khidmat langsung berlari menuju
tangga yang ditunjukkan petugas itu. Sementara Ratmi memegangi Widya yang
tampak tidak begitu bersemangat. Mereka berdua hanya berjalan, tapi sedikit
lebih cepat dibandingkan berjalan biasanya.
Saat Vania tiba di ruang operasi, dia tidak melihat siapa
pun di situ. Tidak ada ayahnya. Hanya ada seorang perawat yang kemudian lewat
di depannya.
"Permisi, Mbak. Pasien bernama Karin masih di
dalam?" tanyanya pada perawat itu sambil menunjuk ke arah ruang operasi.
"Sudah dibawa ke ruang ICU," jawab si perawat
tenang.
"Di mana ruangannya?!" tanya Vania dengan wajah
masih pucat pasi.
Si perawat pun langsung memberitahu Vania sambil memberi
petunjuk dengan telunjuk. Tanpa pikir panjang, Vania langsung berlarian menuju
arah yang ditunjuk si perawat. Di perempatan lorong, dia berbelok ke kiri
seperti arahan perawat tadi. Agak di ujung lorong, dia langsung melihat ayahnya
berdiri sambil menyandarkan punggung ke dinding. Dia yakin itu ruang yang
dimaksud perawat tadi.
"Papa!!!" panggil Vania dari jauh.
Arvin langsung menoleh dan tampak terkejut ketika Vania
mendekat. Dia langsung melebarkan tangan dengan ekspresi wajah campur aduk.
Vania langsung menghambur memeluk pinggang ayahnya. Arvin balas memeluk
putrinya itu dengan sangat erat. Sebenarnya dia sempat kaget melihat Vania
tiba-tiba muncul. Tapi dia tidak ingin memikirkannya.
Setelah ayahnya melepaskan pelukan, Vania menoleh ke arah
ruangan yang berdinding kaca transparan yang membatasi ruangan itu dengan
tempatnya sedang berdiri.
"Itu Bunda, Pa?" tanyanya.
Arvin pun mengangguk.
"Apa yang terjadi, Pa?" tanya Vania dengan suara
pelan dan bergetar.
Arvin menatap mata putrinya lekat-lekat. Dia seperti sedang
menimbang-nimbang untuk menceritakan semuanya atau tidak.
Beberapa menit kemudian Widya dan Ratmi tiba juga di sana.
Tidak seperti Vania, Widya tampak tenang-tenang saja. Dia
tidak histeris dan menghambur ke pelukan ayahnya. Dia tetap berdiri di samping
Ratmi dengan tangan menggenggam tangan perempuan itu.
Keheningan sempat tercipta beberapa menit. Arvin menatap
Vania dan Widya secara bergantian. Setelah itu, dia pun kembali bersuara,
"Bunda kalian terjatuh di tangga restoran dan mengalami
pendarahan hebat. Dia sempat sadar sebentar lalu tim dokter langsung
mengoperasinya untuk menyelamatkan bayi di dalam kandungannya. Setelah operasi,
Bunda pingsan lagi. Sampai sekarang Bunda belum juga siuman. Tapi alhamdulillah
bayinya selamat. Sekarang sedang ditempatkan di tabung."
Vania kembali menangis histeris. Widya hanya memasang
tampang bengong. Dia tampak jauh lebih tegar dibandingkan Vania. Ratmi segera
memeluk Widya dari samping mencoba menenangkannya. Sementara Arvin sibuk
menenangkan Vania dengan berbagai cara. Bahkan pelukannya tidak langsung mampu
menghentikan tangisan histeris putri sulungnya itu. Dia butuh waktu cukup lama
untuk membuat Vania tidak berteriak-teriak seperti itu.
Setelah agak tenang, dengan masih sesenggukan, Vania
mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Dia merasa mengenali mereka semua.
Miranda yang sudah lama tidak bertemu dengannya terlihat sedang duduk di bangku
panjang sambil sesekali mengelap pipinya yang berurai air mata. Vania sempat
menyukai dan akrab dengannya sebelum perempuan itu memutuskan pindah ke
Australia. Dia belum tahu persis kenapa Miranda bisa berada di sini.
Tatapan Vania terhenti ketika beradu tatap dengan Angela
yang sedari tadi tidak bergerak berdiri sambil bersandar ke dinding. Kedua
tangannya disilangkan di dada. Angela terlihat sempat balik menatap sebentar ke
arah Vania sebelum kembali mengalihkan pandangan ke arah lain.
Vania merasa mengenal wajah Angela. Dia merasa pernah melihatnya. Namun dia belum begitu yakin di mana pernah melihat wajah itu. Rasanya bukan bertemu secara langsung. Darahnya langsung berdesir ketika teringat video ayahnya yang viral beberapa bulan lalu. Wajah Angela sangat mirip dengan wajah perempuan yang sedang bersama ayahnya di dalam video itu!
***
Hampir tengah malam ketika Arvin meminta semua yang ada di
situ untuk beristirahat. Miranda memilih tidur di bangku panjang di depan ruang
ICU. Vania akhirnya tertidur selonjoran di bangku panjang lainnya sambil
meletakkan kepalanya di atas paha ayahnya. Sementara Arvin sendiri tidur dalam
posisi duduk sambil membelai rambut putrinya. Angela dan Ratmi pamit pulang dan
berjanji akan datang kembali esok pagi. Arvin meminta tolong pada Ratmi untuk
mengajak Widya menginap di rumahnya.
Widya setuju dan ikut Ratmi. Dia tipikal orang yang tidak suka merepotkan dan menyiksa diri. Baginya, tidur di rumah sakit bukan pilihan yang tepat. Apalagi besok mereka bisa kembali mengunjungi Karin.
***
Vania masih tertidur pulas di bangku panjang sewaktu Angela,
Ratmi, dan Widya datang kembali ke ruang ICU keesokan paginya. Sementara itu,
Arvin dan Miranda sedang berada di dalam ruangan di samping ranjang Karin.
Hampir sejam yang lalu denyut jantung Karin sempat berhenti
sebentar. Tim medis sempat melakukan prosedur kejut jantung untuk membuat
jantungnya kembali berdetak. Mereka akhirnya berhasil melakukan itu. Jantung
Karin kembali berdenyut.
"Maafkan aku, Rin. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu
seperti ini," ratap Miranda di samping tubuh Karin. Dia menggenggam jemari
Karin dengan erat. Dia terus saja menangis dan mengoceh tak henti-henti,
termasuk mengakui semua kesalahannya. Untung saja suaranya tidak terlalu
kencang. Ucapannya lebih seperti berbisik di telinga Karin.
Karin tentu saja tidak menanggapi ucapan itu. Namun Miranda
merasakan beberapa jemari Karin bergerak pelan ketika tadi dia meminta maaf.
Apakah gerakan jemari itu merupakan pertanda bahwa Karin mendengarkan
permohonan maafnya.
Angela, Ratmi, dan Widya ikut masuk dan sudah berdiri di
ujung tempat Karin terbaring. Untuk pertama kalinya raut wajah Angela terlihat
sedih. Terutama setelah dia menyaksikan Miranda menangis tersedu-sedu dan
meminta maaf. Dia sebenarnya belum mengetahui sepenuhnya penyebab Miranda
menangis sehisteris itu. Apakah Karin memang tidak tertolong lagi? Ataukah
Miranda memang sedang sentimental? Bagaimanapun, melihat kondisi Miranda yang
seperti itu, rasa bersalahnya pun muncul.
Angela mendekati sisi kiri ranjang. Matanya mulai
berkaca-kaca. Lalu tanpa bisa ditahannya, butiran bening muncul di sudut
matanya. Gaya gravitasi menarik butiran itu sehingga bergulir di pipinya yang
putih dan mulus. Bersamaan dengan itu keluarlah kata-kata yang sangat jarang
terdengar dari mulut Angela,
"Maafkan aku, ya, Karin."
Selama ini, kata maaf adalah kata yang paling sulit
diucapkannya. Entah kenapa sekarang kata itu dengan lancar keluar dari
mulutnya. Setelah itu, dia ikut menangis terisak-isak.
Arvin rupanya juga tersentuh dengan ucapan dua perempuan
itu. Dia pun melakukan hal yang sama, meminta maaf pada istrinya. Digenggamnya
tangan Karin dengan erat. Tidak tertahankan lagi, dia pun ikut menangis
tersedu-sedu.
Saat mereka sedang meratap secara bersamaan seperti itu,
tiba-tiba gelombang di layar indikator denyut jantung kembali melandai hingga
membentuk garis lurus. Arvin langsung panik, lalu berdiri dan berlarian ke luar
kamar untuk kembali memanggil tim medis.
Dengan sangat gesit tim medis langsung datang dan memasuki
ruangan. Mereka kembali melakukan prosedur kejut jantung sama seperti tadi.
Sayangnya, setengah jam sudah berlalu. Prosedur yang diulang-ulang itu tidak
dapat membuat garis di layar monitor berubah menjadi gelombang. Garis itu tetap
melandai dan lurus. Itu artinya jantung Karin gagal untuk berdenyut kembali.
Itu artinya,
"Dia sudah meninggal," kata dokter yang menjadi
ketua tim itu pada Arvin.
Arvin, Miranda, dan Angela langsung kembali menangis
histeris sambil mengulang-ulang kata maaf bernuansa penyesalan karena belum
sempat mendapatkan tanggapan dari Karin.
"Bunda meninggal, Pa?" tanya Widya polos pada
Arvin.
Arvin hanya bisa menjawab dengan anggukan.
Dengan ekspresi datar, tiba-tiba air mata bergulir di pipi
Widya. Dia menangis tanpa bersuara.
Cukup lama tangisan mereka berlangsung.
Setelah sedikit berhasil mengendalikan diri, Ratmi pun
bersuara sambil terus terisak,
"Apakah kalian tadi melihat Mbak Karin tersenyum manis
saat kalian meminta maaf? Aku yakin Mbak Karin mendengarkan dan memaafkan.
Senyum itu adalah jawabannya," katanya pada Arvin, Miranda, dan Angela.
Miranda, Arvin, dan Angela kompak langsung menatap ke arah
Ratmi seolah tidak percaya. Mereka bertiga juga serempak mengalihkan pandangan
ke arah wajah Karin. Ucapan Ratmi benar. Karin bahkan masih tampak tersenyum
tenang.
Beberapa menit kemudian, Vania yang baru saja terbangun
karena keributan tadi masuk ke ruangan. Tidak perlu menunggu lama, dia langsung
ikut menangis histeris dan berteriak-teriak memanggil Karin.
"Bunda!!!Jangan tinggalin Vania!!! Vania butuh Bunda!!! Huuu huuuu huuuu!!! Jangan pergi Bunda!!!"
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.