Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 23. Pergi

_____________________________________

Taksi online itu berhenti tepat di depan lobi rumah sakit. Ratmi, Vania, dan Widya bergegas turun. Mereka kemudian berjalan cepat menuju ruang operasi. Di antara ketiganya, Vania terlihat paling panik. Sementara Widya terlihat paling tenang.

Ratmi sempat menelepon Miranda tentang keadaan Karin dan tempat dia dirawat. Miranda memberitahu kalau mereka masih di ruang operasi. Ratmi belum pernah mendatangi rumah sakit ini sehingga dia tidak tahu di mana ruang operasi berada. Dia pun memutuskan bertanya ke bagian informasi.

"Lurus saja, lalu berbelok ke kanan. Di situ ada tangga. Naik saja ke tangga itu lalu berbelok ke kiri sampai mentok. Ruangan terakhir di lorong itulah ruang operasi," jawab si petugas mendeskripsikan lokasi ruang operasi.

Vania yang menyimak dengan khidmat langsung berlari menuju tangga yang ditunjukkan petugas itu. Sementara Ratmi memegangi Widya yang tampak tidak begitu bersemangat. Mereka berdua hanya berjalan, tapi sedikit lebih cepat dibandingkan berjalan biasanya.

Saat Vania tiba di ruang operasi, dia tidak melihat siapa pun di situ. Tidak ada ayahnya. Hanya ada seorang perawat yang kemudian lewat di depannya.

"Permisi, Mbak. Pasien bernama Karin masih di dalam?" tanyanya pada perawat itu sambil menunjuk ke arah ruang operasi.

"Sudah dibawa ke ruang ICU," jawab si perawat tenang.

"Di mana ruangannya?!" tanya Vania dengan wajah masih pucat pasi.

Si perawat pun langsung memberitahu Vania sambil memberi petunjuk dengan telunjuk. Tanpa pikir panjang, Vania langsung berlarian menuju arah yang ditunjuk si perawat. Di perempatan lorong, dia berbelok ke kiri seperti arahan perawat tadi. Agak di ujung lorong, dia langsung melihat ayahnya berdiri sambil menyandarkan punggung ke dinding. Dia yakin itu ruang yang dimaksud perawat tadi.

"Papa!!!" panggil Vania dari jauh.

Arvin langsung menoleh dan tampak terkejut ketika Vania mendekat. Dia langsung melebarkan tangan dengan ekspresi wajah campur aduk. Vania langsung menghambur memeluk pinggang ayahnya. Arvin balas memeluk putrinya itu dengan sangat erat. Sebenarnya dia sempat kaget melihat Vania tiba-tiba muncul. Tapi dia tidak ingin memikirkannya.

Setelah ayahnya melepaskan pelukan, Vania menoleh ke arah ruangan yang berdinding kaca transparan yang membatasi ruangan itu dengan tempatnya sedang berdiri.

"Itu Bunda, Pa?" tanyanya.

Arvin pun mengangguk.

"Apa yang terjadi, Pa?" tanya Vania dengan suara pelan dan bergetar.

Arvin menatap mata putrinya lekat-lekat. Dia seperti sedang menimbang-nimbang untuk menceritakan semuanya atau tidak.

Beberapa menit kemudian Widya dan Ratmi tiba juga di sana.

Tidak seperti Vania, Widya tampak tenang-tenang saja. Dia tidak histeris dan menghambur ke pelukan ayahnya. Dia tetap berdiri di samping Ratmi dengan tangan menggenggam tangan perempuan itu.

Keheningan sempat tercipta beberapa menit. Arvin menatap Vania dan Widya secara bergantian. Setelah itu, dia pun kembali bersuara,

"Bunda kalian terjatuh di tangga restoran dan mengalami pendarahan hebat. Dia sempat sadar sebentar lalu tim dokter langsung mengoperasinya untuk menyelamatkan bayi di dalam kandungannya. Setelah operasi, Bunda pingsan lagi. Sampai sekarang Bunda belum juga siuman. Tapi alhamdulillah bayinya selamat. Sekarang sedang ditempatkan di tabung."

Vania kembali menangis histeris. Widya hanya memasang tampang bengong. Dia tampak jauh lebih tegar dibandingkan Vania. Ratmi segera memeluk Widya dari samping mencoba menenangkannya. Sementara Arvin sibuk menenangkan Vania dengan berbagai cara. Bahkan pelukannya tidak langsung mampu menghentikan tangisan histeris putri sulungnya itu. Dia butuh waktu cukup lama untuk membuat Vania tidak berteriak-teriak seperti itu.

Setelah agak tenang, dengan masih sesenggukan, Vania mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Dia merasa mengenali mereka semua. Miranda yang sudah lama tidak bertemu dengannya terlihat sedang duduk di bangku panjang sambil sesekali mengelap pipinya yang berurai air mata. Vania sempat menyukai dan akrab dengannya sebelum perempuan itu memutuskan pindah ke Australia. Dia belum tahu persis kenapa Miranda bisa berada di sini.

Tatapan Vania terhenti ketika beradu tatap dengan Angela yang sedari tadi tidak bergerak berdiri sambil bersandar ke dinding. Kedua tangannya disilangkan di dada. Angela terlihat sempat balik menatap sebentar ke arah Vania sebelum kembali mengalihkan pandangan ke arah lain.

Vania merasa mengenal wajah Angela. Dia merasa pernah melihatnya. Namun dia belum begitu yakin di mana pernah melihat wajah itu. Rasanya bukan bertemu secara langsung. Darahnya langsung berdesir ketika teringat video ayahnya yang viral beberapa bulan lalu. Wajah Angela sangat mirip dengan wajah perempuan yang sedang bersama ayahnya di dalam video itu! 

***

Hampir tengah malam ketika Arvin meminta semua yang ada di situ untuk beristirahat. Miranda memilih tidur di bangku panjang di depan ruang ICU. Vania akhirnya tertidur selonjoran di bangku panjang lainnya sambil meletakkan kepalanya di atas paha ayahnya. Sementara Arvin sendiri tidur dalam posisi duduk sambil membelai rambut putrinya. Angela dan Ratmi pamit pulang dan berjanji akan datang kembali esok pagi. Arvin meminta tolong pada Ratmi untuk mengajak Widya menginap di rumahnya.

Widya setuju dan ikut Ratmi. Dia tipikal orang yang tidak suka merepotkan dan menyiksa diri. Baginya, tidur di rumah sakit bukan pilihan yang tepat. Apalagi besok mereka bisa kembali mengunjungi Karin. 

***

Vania masih tertidur pulas di bangku panjang sewaktu Angela, Ratmi, dan Widya datang kembali ke ruang ICU keesokan paginya. Sementara itu, Arvin dan Miranda sedang berada di dalam ruangan di samping ranjang Karin.

Hampir sejam yang lalu denyut jantung Karin sempat berhenti sebentar. Tim medis sempat melakukan prosedur kejut jantung untuk membuat jantungnya kembali berdetak. Mereka akhirnya berhasil melakukan itu. Jantung Karin kembali berdenyut.

"Maafkan aku, Rin. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu seperti ini," ratap Miranda di samping tubuh Karin. Dia menggenggam jemari Karin dengan erat. Dia terus saja menangis dan mengoceh tak henti-henti, termasuk mengakui semua kesalahannya. Untung saja suaranya tidak terlalu kencang. Ucapannya lebih seperti berbisik di telinga Karin.

Karin tentu saja tidak menanggapi ucapan itu. Namun Miranda merasakan beberapa jemari Karin bergerak pelan ketika tadi dia meminta maaf. Apakah gerakan jemari itu merupakan pertanda bahwa Karin mendengarkan permohonan maafnya.

Angela, Ratmi, dan Widya ikut masuk dan sudah berdiri di ujung tempat Karin terbaring. Untuk pertama kalinya raut wajah Angela terlihat sedih. Terutama setelah dia menyaksikan Miranda menangis tersedu-sedu dan meminta maaf. Dia sebenarnya belum mengetahui sepenuhnya penyebab Miranda menangis sehisteris itu. Apakah Karin memang tidak tertolong lagi? Ataukah Miranda memang sedang sentimental? Bagaimanapun, melihat kondisi Miranda yang seperti itu, rasa bersalahnya pun muncul.

Angela mendekati sisi kiri ranjang. Matanya mulai berkaca-kaca. Lalu tanpa bisa ditahannya, butiran bening muncul di sudut matanya. Gaya gravitasi menarik butiran itu sehingga bergulir di pipinya yang putih dan mulus. Bersamaan dengan itu keluarlah kata-kata yang sangat jarang terdengar dari mulut Angela,

"Maafkan aku, ya, Karin."

Selama ini, kata maaf adalah kata yang paling sulit diucapkannya. Entah kenapa sekarang kata itu dengan lancar keluar dari mulutnya. Setelah itu, dia ikut menangis terisak-isak.

Arvin rupanya juga tersentuh dengan ucapan dua perempuan itu. Dia pun melakukan hal yang sama, meminta maaf pada istrinya. Digenggamnya tangan Karin dengan erat. Tidak tertahankan lagi, dia pun ikut menangis tersedu-sedu.

Saat mereka sedang meratap secara bersamaan seperti itu, tiba-tiba gelombang di layar indikator denyut jantung kembali melandai hingga membentuk garis lurus. Arvin langsung panik, lalu berdiri dan berlarian ke luar kamar untuk kembali memanggil tim medis.

Dengan sangat gesit tim medis langsung datang dan memasuki ruangan. Mereka kembali melakukan prosedur kejut jantung sama seperti tadi. Sayangnya, setengah jam sudah berlalu. Prosedur yang diulang-ulang itu tidak dapat membuat garis di layar monitor berubah menjadi gelombang. Garis itu tetap melandai dan lurus. Itu artinya jantung Karin gagal untuk berdenyut kembali. Itu artinya,

"Dia sudah meninggal," kata dokter yang menjadi ketua tim itu pada Arvin.

Arvin, Miranda, dan Angela langsung kembali menangis histeris sambil mengulang-ulang kata maaf bernuansa penyesalan karena belum sempat mendapatkan tanggapan dari Karin.

"Bunda meninggal, Pa?" tanya Widya polos pada Arvin.

Arvin hanya bisa menjawab dengan anggukan.

Dengan ekspresi datar, tiba-tiba air mata bergulir di pipi Widya. Dia menangis tanpa bersuara.

Cukup lama tangisan mereka berlangsung.

Setelah sedikit berhasil mengendalikan diri, Ratmi pun bersuara sambil terus terisak,

"Apakah kalian tadi melihat Mbak Karin tersenyum manis saat kalian meminta maaf? Aku yakin Mbak Karin mendengarkan dan memaafkan. Senyum itu adalah jawabannya," katanya pada Arvin, Miranda, dan Angela.

Miranda, Arvin, dan Angela kompak langsung menatap ke arah Ratmi seolah tidak percaya. Mereka bertiga juga serempak mengalihkan pandangan ke arah wajah Karin. Ucapan Ratmi benar. Karin bahkan masih tampak tersenyum tenang.

Beberapa menit kemudian, Vania yang baru saja terbangun karena keributan tadi masuk ke ruangan. Tidak perlu menunggu lama, dia langsung ikut menangis histeris dan berteriak-teriak memanggil Karin.

"Bunda!!!Jangan tinggalin Vania!!! Vania butuh Bunda!!! Huuu huuuu huuuu!!! Jangan pergi Bunda!!!"

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar