Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di benaknya bergentayangan bayangan seorang gadis berlari
tergopoh-gopoh dari arah parkiran sambil berteriak, ‘Bima! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku juga sayang kamu!’.
“Bima! Ayo kita masuk!”
Khayalan Bima seketika buyar ketika terdengar suara yang
memanggil namanya tapi sangat jauh berbeda dengan yang barusan dibayangkannya.
"Boleh kita menunggu di sini dulu agak lebih lama,
Ma?" balas Bima pada ibunya yang barusan mengajaknya masuk ke ruang
tunggu.
"Kenapa?" tanya ibunya tampak keheranan.
"Ada seorang teman yang hendak bertemu denganku sebelum
berangkat. Mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikannya langsung," jawab
Bima jujur. Tapi dia tidak menegaskan kalau teman yang sedang ditunggunya
adalah seorang gadis yang sangat dikaguminya.
Dia sebenarnya tidak begitu yakin bahwa orang yang
dimaksudnya itu akan benar-benar datang ke sini. Tapi dia masih memiliki
harapan kalau orang itu akan datang. Sekecil apa pun harapan itu, tetap harus
diberi kesempatan.
"Baiklah," jawab ibunya.
"Terima kasih, Ma," balas Bima sambil berusaha
mengukir senyum.
"Kalau begitu Mama mau menyusul Papamu ke restoran
saja. Mama jadinya ikut lapar juga. Kamu mau pesan apa?"
"Apa saja, Ma," timpal Bima tidak terlalu
bersemangat.
Dia juga tampak sedang tidak berselera makan.
Ibunya pun beranjak dari kursi panjang yang mereka duduki
berdua.
"Koper-kopernya tolong dijaga, ya," pesan ibunya
sebelum melangkah menjauh.
"Iya, Ma."
Bima kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru
parkiran, masih berharap orang itu muncul di sana. Sesekali mata dan jemarinya
memeriksa setiap pesan yang masuk di ponselnya.
Sudah hampir satu jam dia duduk di depan ruang keberangkatan
yang langsung menghadap ke tempat parkir itu, tapi belum juga ada tanda-tanda
kemunculan orang yang diharapkannya itu.
Sampai kemudian ibu dan ayahnya datang menghampiri, orang
yang dinantinya tidak kunjung muncul.
"Hei! Kita masuk, yuk!" ajak ibunya.
"Sudah waktunya kita masukkan bagasi," timpal
ayahnya yang sudah berdiri di samping ibunya.
"Sudah datang orangnya?" tanya ibunya sambil
memutar troli berisi koper yang akan didorongnya.
Bima hanya menggeleng.
"Siapa, sih? Pacarmu, ya?" tanya ayahnya tampak
sedikit penasaran. "Perasaan kamu tidak pernah cerita kalau punya
pacar," lanjutnya.
Bima kembali menggeleng.
"Kirimi saja pesan kalau kamu sudah harus
berangkat," ujar ibunya sebelum mendorong troli.
Bima menjawab dengan anggukan. Tampak sekali dia kurang
bersemangat.
Ibunya hanya menatap bingung ke arah ayahnya.
"Kamu dulu seperti itu juga?" tanya ibunya pada
ayah Bima.
"Mungkin," jawab ayahnya singkat sambil tersenyum
menggoda.
Bima melihat jam tangan. Dia tidak bisa menunggu lebih lama
karena sudah harus segera lapor diri.
Kalau sampai mereka terlambat check-in, tiket mereka bisa hangus dan baru beberapa hari ke depan
mereka dapat berangkat. Sementara ayahnya sudah punya agenda dua hari ke depan.
Kedua orang tuanya sudah berjalan sambil mendorong troli
masing-masing.
Dengan tampak ogah-ogahan Bima akhirnya berdiri dari kursi
panjang itu dan menyusul kedua orang tuanya. Dia juga mendorong troli berisi
koper miliknya sendiri mengekor di belakang orang tuanya.
Walaupun saat ini bukan musim liburan, tapi bandara tetap
penuh sesak oleh manusia. Entah ke mana orang-orang itu hendak pergi.
Di antara mereka, ada yang berjalan bergegas seperti takut
ketinggalan pesawat. Ada juga yang berjalan santai sambil sibuk memainkan
ponsel di tangan. Sementara itu, bangku-bangku panjang juga dipenuhi oleh
orang-orang yang sedang menunggu atau sekedar beristirahat sejenak.
Bima dan kedua orang tuanya tidak bisa langsung masuk ke
ruangan lapor diri, melainkan harus ikut antrean yang mengular menuju pintu
masuk ruangan itu. Butuh waktu
beberapa menit bagi mereka agar mendapat giliran untuk memperlihatkan tiket
kepada petugas bandara.
Setelah melewati petugas itu, mereka tampak lancar melewati
mesin scanning dan petugas
pemeriksa di dalam ruangan.
Di dalam ruangan yang sangat luas itu, Bima dan ibunya
menunggu di tengah ruangan. Sementara ayahnya melaporkan keberangkatan mereka
sambil menyerahkan koper-koper besar yang akan mereka bawa ke London.
Sambil menunggu, ibunya kembali menanyakan orang yang
ditunggu Bima,
"Sudah kamu kirimi pesan orang yang kamu tunggu
tadi?"
"Belum," jawab Bima singkat.
"Kirimi saja pesan sekarang. Daripada dia terlanjur
datang ke sini dan harus kecewa tidak jadi ketemu denganmu."
"Dia tidak akan datang ke sini," jawab Bima dengan
sedikit ragu.
"Siapa tahu, dia jadi datang."
Bima mengangguk pertanda setuju dengan usul ibunya. Dia pun
kemudian mengaktifkan layar ponselnya. Setelah itu, dia tampak mengetik pesan.
Perhatian ibunya langsung teralihkan ketika ayahnya datang
menghampiri.
"Sudah," kata ayahnya. "Kita langsung
menunggu di ruang tunggu saja."
"Gate berapa?" tanya ibunya.
"Enam."
Mereka berdua langsung berjalan sambil menenteng tas kecil
masing-masing.
Bima tidak langsung bergerak. Dia baru melangkah setelah
kedua orang tuanya sudah agak jauh. Langkah kakinya terlihat lesu ketika mulai
berjalan. Matanya terus sibuk menatap ke arah ponsel.
Sesampainya di ruang tunggu Gate enam, Bima langsung mencari
tempat duduk di bagian paling pojok, jauh dari kedua orang tuanya. Dia segera
membuka ponsel dan mengecek semua pesan yang masuk ke beberapa aplikasi. Sampai
pesan terakhir dibuka, dia tidak menemukan pesan yang ditunggu-tunggunya.
Dia langsung menarik nafas dalam dan menghembuskannya
kuat-kuat. Wajahnya tampak murung Rambut lurusnya langsung menjadi korban
kegalauannya. Rambut itu dikucek-kuceknya sehingga menjadi berantakan.
Tadi di depan ibunya, dia hanya berpura-pura mengirim pesan
pada orang yang ditunggunya. Entah kenapa kini dia berubah pikiran. Dia malah
ingin benar-benar mengirim pesan.
Dia mencari nama Vania di daftar pengirim pesan. Dibukanya
pesan terakhir yang dikirim Vania. Diketiknya pesan di situ.
Belum selesai ketikan itu diketik, langsung dihapusnya
kembali. Diurungkannya niat ingin mengirim pesan pada Vania.
Sepertinya dia tidak ingin Vania menjawab secara terpaksa.
Dia ingin jawaban itu benar-benar datang dari dalam hati gadis itu dengan
kesadaran sendiri. Karena itu, dia memutuskan untuk menunggu saja pesan
darinya.
Dia membiarkan ponsel itu tetap menyala sambil terus menatap
layarnya. Dia langsung mengecek nama pengirim setiap kali pesan masuk.
Diabaikannya saja pesan dari teman-teman yang dikenalnya.
Sebaliknya, dia langsung membuka pesan yang belum ada
namanya, berharap nomor itu adalah nomor baru Vania. Dia kembali kecewa ketika
mengetahui pesan itu bukanlah berasal dari gadis yang telah mengisi ruang
khayalnya selama setahun ini.
Dari ekspresi wajahnya yang gundah gulana, dapat ditebak
kalau Bima masih mengharapkan sebuah pesan istimewa dari Vania.
Khayalannya kembali mengelana. Di dunia sana dia melihat
Vania mengiriminya pesan yang kira-kira berbunyi, ‘Jangan tinggalkan aku, Bim. Aku juga sayang kamu. Tetaplah tinggal di
sini.
Panggilan kepada seluruh penumpang tujuan Dubai untuk segera
memasuki pesawat membuyarkan lamunannya.
Bandara itu merupakan tempat transit sebelum mereka
melanjutkan perjalanan ke London Inggris, Bima pun menyadari itu adalah
panggilan untuk dirinya juga.
Dia langsung berdiri, lalu berjalan mengekor di belakang
kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu bergerak menuju pintu keberangkatan.
Sambil berjalan, matanya tidak pernah lepas dari layar ponsel.
Bima masih saja menatap layar ponsel ketika sudah berada di
dalam pesawat. Dia masih berharap pesan yang ditunggu-tunggunya muncul di
layar.
Andai saja pesan yang diidamkannya itu benar-benar masuk,
dia sudah menyusun rencana. Dia akan segera keluar dari pesawat. Dia akan
membatalkan keberangkatannya ke London. Dia akan tetap di Jakarta, tinggal
bersama neneknya.
Namun, sampai pramugari mengingatkan untuk mematikan ponsel,
pesan yang diharapkannya tidak kunjung muncul di layar.
Memang banyak pesan dari teman-temannya yang masuk. Isinya
hampir sama. Mereka mengucapkan selamat tinggal, hati-hati di jalan, semoga
selamat sampai tujuan, serta selamat menikmati tempat tinggal yang baru.
Sayangnya, tidak ada satu pun pesan yang masuk itu berasal
dari nomor Vania. Bima pun mematikan ponselnya. Kini, jawabannya sudah jelas,
tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap tinggal di Jakarta.
Sayangnya, dia tidak pernah tahu bahwa apa yang sedang terjadi tidak seperti apa yang sedang dipikirkannya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.