Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 24. Jawaban Tanpa Kata

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 24. Jawaban Tanpa Kata
________________________________________

Sudah hampir satu jam Bima menatap lurus ke tempat parkir Bandara. Matanya tak berkedip sedikit pun. Sesekali dia juga memperhatikan penumpang yang baru turun dari taksi, bus, atau kendaraan pribadi. Sepertinya dia masih menantikan seseorang secara tiba-tiba muncul di sana, lalu berteriak memanggil namanya.

Di benaknya bergentayangan bayangan seorang gadis berlari tergopoh-gopoh dari arah parkiran sambil berteriak, ‘Bima! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku juga sayang kamu!’.

“Bima! Ayo kita masuk!”

Khayalan Bima seketika buyar ketika terdengar suara yang memanggil namanya tapi sangat jauh berbeda dengan yang barusan dibayangkannya.

"Boleh kita menunggu di sini dulu agak lebih lama, Ma?" balas Bima pada ibunya yang barusan mengajaknya masuk ke ruang tunggu.

"Kenapa?" tanya ibunya tampak keheranan.

"Ada seorang teman yang hendak bertemu denganku sebelum berangkat. Mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikannya langsung," jawab Bima jujur. Tapi dia tidak menegaskan kalau teman yang sedang ditunggunya adalah seorang gadis yang sangat dikaguminya.

Dia sebenarnya tidak begitu yakin bahwa orang yang dimaksudnya itu akan benar-benar datang ke sini. Tapi dia masih memiliki harapan kalau orang itu akan datang. Sekecil apa pun harapan itu, tetap harus diberi kesempatan.

"Baiklah," jawab ibunya.

"Terima kasih, Ma," balas Bima sambil berusaha mengukir senyum.

"Kalau begitu Mama mau menyusul Papamu ke restoran saja. Mama jadinya ikut lapar juga. Kamu mau pesan apa?"

"Apa saja, Ma," timpal Bima tidak terlalu bersemangat.

Dia juga tampak sedang tidak berselera makan.

Ibunya pun beranjak dari kursi panjang yang mereka duduki berdua.

"Koper-kopernya tolong dijaga, ya," pesan ibunya sebelum melangkah menjauh.

"Iya, Ma."

Bima kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru parkiran, masih berharap orang itu muncul di sana. Sesekali mata dan jemarinya memeriksa setiap pesan yang masuk di ponselnya.

Sudah hampir satu jam dia duduk di depan ruang keberangkatan yang langsung menghadap ke tempat parkir itu, tapi belum juga ada tanda-tanda kemunculan orang yang diharapkannya itu.

Sampai kemudian ibu dan ayahnya datang menghampiri, orang yang dinantinya tidak kunjung muncul.

"Hei! Kita masuk, yuk!" ajak ibunya.

"Sudah waktunya kita masukkan bagasi," timpal ayahnya yang sudah berdiri di samping ibunya.

"Sudah datang orangnya?" tanya ibunya sambil memutar troli berisi koper yang akan didorongnya.

Bima hanya menggeleng.

"Siapa, sih? Pacarmu, ya?" tanya ayahnya tampak sedikit penasaran. "Perasaan kamu tidak pernah cerita kalau punya pacar," lanjutnya.

Bima kembali menggeleng.

"Kirimi saja pesan kalau kamu sudah harus berangkat," ujar ibunya sebelum mendorong troli.

Bima menjawab dengan anggukan. Tampak sekali dia kurang bersemangat.

Ibunya hanya menatap bingung ke arah ayahnya.

"Kamu dulu seperti itu juga?" tanya ibunya pada ayah Bima.

"Mungkin," jawab ayahnya singkat sambil tersenyum menggoda.

Bima melihat jam tangan. Dia tidak bisa menunggu lebih lama karena sudah harus segera lapor diri.

Kalau sampai mereka terlambat check-in, tiket mereka bisa hangus dan baru beberapa hari ke depan mereka dapat berangkat. Sementara ayahnya sudah punya agenda dua hari ke depan.

Kedua orang tuanya sudah berjalan sambil mendorong troli masing-masing.

Dengan tampak ogah-ogahan Bima akhirnya berdiri dari kursi panjang itu dan menyusul kedua orang tuanya. Dia juga mendorong troli berisi koper miliknya sendiri mengekor di belakang orang tuanya.

Walaupun saat ini bukan musim liburan, tapi bandara tetap penuh sesak oleh manusia. Entah ke mana orang-orang itu hendak pergi.

Di antara mereka, ada yang berjalan bergegas seperti takut ketinggalan pesawat. Ada juga yang berjalan santai sambil sibuk memainkan ponsel di tangan. Sementara itu, bangku-bangku panjang juga dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menunggu atau sekedar beristirahat sejenak.

Bima dan kedua orang tuanya tidak bisa langsung masuk ke ruangan lapor diri, melainkan harus ikut antrean yang mengular menuju pintu masuk ruangan itu. Butuh waktu beberapa menit bagi mereka agar mendapat giliran untuk memperlihatkan tiket kepada petugas bandara.

Setelah melewati petugas itu, mereka tampak lancar melewati mesin scanning dan petugas pemeriksa di dalam ruangan.

Di dalam ruangan yang sangat luas itu, Bima dan ibunya menunggu di tengah ruangan. Sementara ayahnya melaporkan keberangkatan mereka sambil menyerahkan koper-koper besar yang akan mereka bawa ke London.

Sambil menunggu, ibunya kembali menanyakan orang yang ditunggu Bima,

"Sudah kamu kirimi pesan orang yang kamu tunggu tadi?"

"Belum," jawab Bima singkat.

"Kirimi saja pesan sekarang. Daripada dia terlanjur datang ke sini dan harus kecewa tidak jadi ketemu denganmu."

"Dia tidak akan datang ke sini," jawab Bima dengan sedikit ragu.

"Siapa tahu, dia jadi datang."

Bima mengangguk pertanda setuju dengan usul ibunya. Dia pun kemudian mengaktifkan layar ponselnya. Setelah itu, dia tampak mengetik pesan.

Perhatian ibunya langsung teralihkan ketika ayahnya datang menghampiri.

"Sudah," kata ayahnya. "Kita langsung menunggu di ruang tunggu saja."

"Gate berapa?" tanya ibunya.

"Enam."

Mereka berdua langsung berjalan sambil menenteng tas kecil masing-masing.

Bima tidak langsung bergerak. Dia baru melangkah setelah kedua orang tuanya sudah agak jauh. Langkah kakinya terlihat lesu ketika mulai berjalan. Matanya terus sibuk menatap ke arah ponsel.

Sesampainya di ruang tunggu Gate enam, Bima langsung mencari tempat duduk di bagian paling pojok, jauh dari kedua orang tuanya. Dia segera membuka ponsel dan mengecek semua pesan yang masuk ke beberapa aplikasi. Sampai pesan terakhir dibuka, dia tidak menemukan pesan yang ditunggu-tunggunya.

Dia langsung menarik nafas dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Wajahnya tampak murung Rambut lurusnya langsung menjadi korban kegalauannya. Rambut itu dikucek-kuceknya sehingga menjadi berantakan.

Tadi di depan ibunya, dia hanya berpura-pura mengirim pesan pada orang yang ditunggunya. Entah kenapa kini dia berubah pikiran. Dia malah ingin benar-benar mengirim pesan.

Dia mencari nama Vania di daftar pengirim pesan. Dibukanya pesan terakhir yang dikirim Vania. Diketiknya pesan di situ.

Belum selesai ketikan itu diketik, langsung dihapusnya kembali. Diurungkannya niat ingin mengirim pesan pada Vania.

Sepertinya dia tidak ingin Vania menjawab secara terpaksa. Dia ingin jawaban itu benar-benar datang dari dalam hati gadis itu dengan kesadaran sendiri. Karena itu, dia memutuskan untuk menunggu saja pesan darinya.

Dia membiarkan ponsel itu tetap menyala sambil terus menatap layarnya. Dia langsung mengecek nama pengirim setiap kali pesan masuk.

Diabaikannya saja pesan dari teman-teman yang dikenalnya.

Sebaliknya, dia langsung membuka pesan yang belum ada namanya, berharap nomor itu adalah nomor baru Vania. Dia kembali kecewa ketika mengetahui pesan itu bukanlah berasal dari gadis yang telah mengisi ruang khayalnya selama setahun ini.

Dari ekspresi wajahnya yang gundah gulana, dapat ditebak kalau Bima masih mengharapkan sebuah pesan istimewa dari Vania.

Khayalannya kembali mengelana. Di dunia sana dia melihat Vania mengiriminya pesan yang kira-kira berbunyi, ‘Jangan tinggalkan aku, Bim. Aku juga sayang kamu. Tetaplah tinggal di sini.

Panggilan kepada seluruh penumpang tujuan Dubai untuk segera memasuki pesawat membuyarkan lamunannya.

Bandara itu merupakan tempat transit sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke London Inggris, Bima pun menyadari itu adalah panggilan untuk dirinya juga.

Dia langsung berdiri, lalu berjalan mengekor di belakang kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu bergerak menuju pintu keberangkatan. Sambil berjalan, matanya tidak pernah lepas dari layar ponsel.

Bima masih saja menatap layar ponsel ketika sudah berada di dalam pesawat. Dia masih berharap pesan yang ditunggu-tunggunya muncul di layar.

Andai saja pesan yang diidamkannya itu benar-benar masuk, dia sudah menyusun rencana. Dia akan segera keluar dari pesawat. Dia akan membatalkan keberangkatannya ke London. Dia akan tetap di Jakarta, tinggal bersama neneknya.

Namun, sampai pramugari mengingatkan untuk mematikan ponsel, pesan yang diharapkannya tidak kunjung muncul di layar.

Memang banyak pesan dari teman-temannya yang masuk. Isinya hampir sama. Mereka mengucapkan selamat tinggal, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan, serta selamat menikmati tempat tinggal yang baru.

Sayangnya, tidak ada satu pun pesan yang masuk itu berasal dari nomor Vania. Bima pun mematikan ponselnya. Kini, jawabannya sudah jelas, tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap tinggal di Jakarta.

Sayangnya, dia tidak pernah tahu bahwa apa yang sedang terjadi tidak seperti apa yang sedang dipikirkannya.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar