Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 25. Tak Kasat Mata

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 25. Tak Kasat Mata
______________________________________

Dalam hitungan minggu, Miranda harus kembali menghadiri pemakaman orang terdekatnya. Setelah sebulan yang lalu ibunya yang pergi untuk selamanya. Kini Karin yang juga ikut menyusul. Ditatapnya Vania dan Widya yang menangis sesenggukan di samping gundukan tanah merah, tempat pembaringan abadi bunda mereka. Dia dapat merasakan apa yang dirasakan kedua anak itu karena beberapa minggu sebelumnya, dialah yang berada di posisi itu.

Miranda tentu sangat terpukul dengan kematian Karin. Dia merasa itu terjadi karena kehadirannya, walaupun dia sendiri tidak pernah bermaksud melakukan itu. Dia tidak ingin kepulangannya ke Jakarta diketahui oleh Arvin, apalagi sampai bertemu. Dia bahkan sudah berusaha agar kepulangan itu tidak diketahui oleh siapa pun, kecuali Ratmi.

Tapi entah kenapa dia malah bertemu dengan Arvin dan kemudian Karin. Walaupun tidak berniat menimbulkan kekacauan, dia tetap merasa bersalah atas kematian Karin. Kalau saja dia tidak memutuskan kembali ke Jakarta, peristiwa itu mungkin saja tidak akan terjadi.

Dia juga merasa bersalah telah menceritakan masalahnya pada Arvin yang membuat mereka berdua sama-sama tidak mampu mengendalikan perasaan masing-masing. Kalau saja saat itu dia menahan diri untuk tidak bercerita kepada Arvin, Karin tidak akan mendapati mereka berdua sedang duduk berdekatan. Karin tidak akan terkejut seperti itu. Karin tidak akan jatuh dari tangga. Karin tidak akan sampai meninggal dunia.

Rasa bersalah yang sangat dalam membuat Miranda kelimpungan tak tahu arah. Dulu, dialah yang mengalah agar Arvin dan Karin bersatu. Sekarang, dia pulalah yang memisahkan mereka berdua. Bahkan perpisahan yang sekarang tidak mungkin untuk dipersatukan kembali. Maut yang merupakan pemisah abadi, telah memisahkan mereka berdua untuk selamanya.

"Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, Mik," katanya seperti berbisik pada Ratmi yang berdiri di sampingnya. Dia tidak dapat menahan kegundahan hatinya. Mulutnya langsung bergetar, mencurahkan segala isi hati pada Ratmi. Sementara matanya tak lepas menatap Arvin yang sedang membujuk Vania dan Widya untuk pulang. Hatinya makin teriris-iris menatap adegan itu.

"Aku juga tidak dapat membantu, Mbak," kata Ratmi ikut kebingungan.

"Kenapa hidupku seperti ini, Mik? Kenapa cobaanku bertubi-tubi begini? Kenapa aku selalu menimbulkan masalah bagi Arvin? Kenapa Karin harus meninggal gara-gara aku?"

"Jangan berkata seperti itu, Mbak. Ini semua bukan salah Mbak dan Mas Arvin. Mungkin memang sudah takdir Mbak Karin seperti itu."

"Bagaimana aku menghadapi Vania dan Widya. Kalau mereka tahu bunda mereka meninggal karena aku, mereka tidak akan memaafkanku."

"Mbak jangan berpikir terlalu jauh seperti itu. Belum tentu juga mereka berpikiran begitu. Mbak positive thinking saja."

Miranda terdiam. Begitu juga dengan Ratmi. Mereka berdua larut menyaksikan adegan Arvin yang terus membujuk kedua putrinya yang tidak mau meninggalkan makam bunda mereka.

"Mira!" Tiba-tiba terdengar suara di belakang Miranda.

Secara refleks Miranda memutar kepala, mencari tahu pemilik suara itu. Dia pun kaget luar biasa. Robert sudah berdiri di belakangnya.

"Kok kamu tahu aku di sini?" tanyanya heran.

"Aku sudah mencarimu ke mana-mana. Di Perth maupun di Jakarta ini. Sampai akhirnya aku ke sini. Pegawai QDC memberitahu kalau kamu di sini," balas Robert tetap dengan suara lembut, tipikal dirinya. Dia kemudian berdiri sejajar di samping kanan Miranda.

Mereka kemudian sama-sama terdiam. Sama-sama menatap ke arah yang sama. Di sana, lima meter di depan mereka, Arvin masih terus berupaya menenangkan Vania dan Widya yang tak mau berhenti menangis. Arvin juga terus membujuk mereka untuk pulang ke rumah. Tapi kedua putrinya itu bersikeras untuk bertahan lebih lama.

Hati Miranda kembali seperti teriris-iris menyaksikan itu. Matanya kembali basah. Linangan air mata tak mampu dibendungnya.

Setelah Arvin berhasil membujuk Vania dan Widya untuk pulang, mereka semua akhirnya bubar dan meninggalkan pemakaman. Keheningan pun langsung menyelimuti pemakaman itu. Sunyi. Sepi. Mencekam. Tapi suasana itu tak mungkin dihindari. Itulah tempat semua manusia akan kembali. Tidak tahu kapan. Hanya menunggu giliran.

Arvin dan anak-anaknya memilih langsung pulang ke rumah. Keluarga mereka dari kampung masih berkumpul di rumah. Ratmi berpamitan dengan Miranda untuk kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Angela yang matanya masih memerah juga berpamitan langsung kembali ke apartemennya. Dia merasa tidak akan fokus bekerja kalau kembali ke kantor. Rencananya membujuk Arvin pun terpaksa dibatalkan sementara. Entah kapan dia bisa kembali menemui laki-laki itu.

Sementara itu, Miranda dan Robert memutuskan mampir ke restoran hotel tempat Robert menginap. Mereka naik mobil Miranda karena Robert rupanya naik taksi menuju ke pemakaman.

***

"Aku sudah tahu kalau kamu pergi karena diancam oleh Bram," kata Robert membuka pembicaraan ketika mereka berdua sudah duduk berhadapan di restoran.

Miranda tidak menjawab. Dia hanya menunggu penjelasan kenapa suaminya sampai menyusul ke Jakarta.

"Tapi jangan khawatir. Aku sudah menyelesaikan urusan itu. Bram tidak akan mengganggumu lagi. Dia tidak akan mengganggu kita lagi. Aku jamin itu, Mir."

Robert masih berbicara dengan menggebu-gebu.

Miranda tetap membisu. Tatapannya diarahkan ke samping restoran menuju kaca pembatas yang menembus ke jalan raya. Dia tidak sedikit pun membalas tatapan Robert yang dari tadi ditujukan padanya.

Tidak mendapat tanggapan, Robert pun berhenti berbicara. Mungkin istrinya belum ingin diajak berbicara, pikirnya. Setelah hening beberapa menit, Miranda yang kemudian memecah kebisuan dengan berucap,

"Memangnya apa yang telah kamu lakukan pada Bram?" tanyanya pelan. Dia seperti ingin memastikan bahwa keadaan memang sudah baik-baik saja.

"Aku sudah membuat perjanjian tertulis dengannya. Selama ini kami ada urusan bisnis. Video yang ditunjukkannya padamu tempo hari sengaja digunakan untuk mengancam dan memerasku. Tapi sekarang itu semua sudah selesai. Aku sudah memenuhi tuntutannya. Aku sudah menyerahkan semua yang diinginkannya. Dengan satu syarat, dia tidak lagi mengusik hidup kita."

"Apakah kamu tidak tahu kalau dia tidak mengancam keselamatanku, tapi mengancam keselamatanmu?"

Kali ini Miranda mulai menatap Robert. Tatapannya mengisyaratkan kemarahan sekaligus bercampur dengan kepedulian.

"Aku tahu, Mir. Aku sangat mengenal dia. Bukankah sebelumnya sudah kuakui secara jujur kalau aku sudah bersamanya selama sepuluh tahun. Jadi aku tahu persis sejauh mana dia serius dengan ucapannya. Lagi pula semua ini bukan tentang hubungan pribadi seperti video yang ditunjukkannya padamu. Tapi lebih ke masalah bisnis semata. Dia berusaha memerasku. Dan aku sudah menyelesaikannya. Aku sudah memenuhi semua tuntutannya. Jadi tidak ada alasannya lagi untuk mengganggu kita."

Miranda tidak langsung menanggapi. Dia mencoba mencerna ucapan Robert barusan. Rasa sakit yang sempat menghilang, kembali muncul tatkala suaminya menceritakan kebersamaan dengan Bram selama sepuluh tahun ke belakang. Tapi kabar bahwa suaminya sudah menyelesaikan urusan dengan lelaki itu sedikit membuatnya tenang. Walaupun masa lalu itu terasa sangat menyakitkan, setidaknya tetap ada harapan yang indah di masa depan.

"Kita kembali ke Aussie, yuk," bujuk Robert.

Miranda terdiam cukup lama seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

"Kamu mau menunggu sebentar. Mungkin seminggu atau lebih. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan di sini," katanya kemudian.

Dari nada bicaranya itu, tampaknya Miranda setuju untuk ikut Robert pulang ke Australia.

"Oke. Tidak masalah. Sepertinya hidupku sudah ditakdirkan untuk menunggumu. Dan menunggumu adalah momen membahagiakan bagiku," kata Robert terdengar menggombal. Namun raut mukanya tetap serius.

Miranda tidak tahu lagi dengan perasaannya sendiri. Dulu hanya kebahagiaan yang merekah di hatinya setiap mendengar gombalan Robert yang bernada serius seperti barusan. Kini, dia tidak tahu lagi apakah harus bahagia atau curiga.

Mungkinmereka akan kembali dekat. Namun kedekatan itu bukan berarti akan memuat merekakembali bersatu. Miranda merasa telah terbentang tabir tak kasat mata di antara merekaberdua. Apakah mereka mampu menyibakkan tabir itu, Miranda masih tak tahu. Diamenyerahkan itu pada waktu dan roda kehidupan.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar