Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Miranda tentu sangat terpukul dengan kematian Karin. Dia
merasa itu terjadi karena kehadirannya, walaupun dia sendiri tidak pernah
bermaksud melakukan itu. Dia tidak ingin kepulangannya ke Jakarta diketahui
oleh Arvin, apalagi sampai bertemu. Dia bahkan sudah berusaha agar kepulangan
itu tidak diketahui oleh siapa pun, kecuali Ratmi.
Tapi entah kenapa dia malah bertemu dengan Arvin dan
kemudian Karin. Walaupun tidak berniat menimbulkan kekacauan, dia tetap merasa
bersalah atas kematian Karin. Kalau saja dia tidak memutuskan kembali ke
Jakarta, peristiwa itu mungkin saja tidak akan terjadi.
Dia juga merasa bersalah telah menceritakan masalahnya pada
Arvin yang membuat mereka berdua sama-sama tidak mampu mengendalikan perasaan
masing-masing. Kalau saja saat itu dia menahan diri untuk tidak bercerita
kepada Arvin, Karin tidak akan mendapati mereka berdua sedang duduk berdekatan.
Karin tidak akan terkejut seperti itu. Karin tidak akan jatuh dari tangga.
Karin tidak akan sampai meninggal dunia.
Rasa bersalah yang sangat dalam membuat Miranda kelimpungan
tak tahu arah. Dulu, dialah yang mengalah agar Arvin dan Karin bersatu.
Sekarang, dia pulalah yang memisahkan mereka berdua. Bahkan perpisahan yang
sekarang tidak mungkin untuk dipersatukan kembali. Maut yang merupakan pemisah
abadi, telah memisahkan mereka berdua untuk selamanya.
"Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, Mik,"
katanya seperti berbisik pada Ratmi yang berdiri di sampingnya. Dia tidak dapat
menahan kegundahan hatinya. Mulutnya langsung bergetar, mencurahkan segala isi
hati pada Ratmi. Sementara matanya tak lepas menatap Arvin yang sedang membujuk
Vania dan Widya untuk pulang. Hatinya makin teriris-iris menatap adegan itu.
"Aku juga tidak dapat membantu, Mbak," kata Ratmi
ikut kebingungan.
"Kenapa hidupku seperti ini, Mik? Kenapa cobaanku
bertubi-tubi begini? Kenapa aku selalu menimbulkan masalah bagi Arvin? Kenapa
Karin harus meninggal gara-gara aku?"
"Jangan berkata seperti itu, Mbak. Ini semua bukan
salah Mbak dan Mas Arvin. Mungkin memang sudah takdir Mbak Karin seperti
itu."
"Bagaimana aku menghadapi Vania dan Widya. Kalau mereka
tahu bunda mereka meninggal karena aku, mereka tidak akan memaafkanku."
"Mbak jangan berpikir terlalu jauh seperti itu. Belum
tentu juga mereka berpikiran begitu. Mbak positive thinking saja."
Miranda terdiam. Begitu juga dengan Ratmi. Mereka berdua
larut menyaksikan adegan Arvin yang terus membujuk kedua putrinya yang tidak
mau meninggalkan makam bunda mereka.
"Mira!" Tiba-tiba terdengar suara di belakang
Miranda.
Secara refleks Miranda memutar kepala, mencari tahu pemilik
suara itu. Dia pun kaget luar biasa. Robert sudah berdiri di belakangnya.
"Kok kamu tahu aku di sini?" tanyanya heran.
"Aku sudah mencarimu ke mana-mana. Di Perth maupun di
Jakarta ini. Sampai akhirnya aku ke sini. Pegawai QDC memberitahu kalau kamu di
sini," balas Robert tetap dengan suara lembut, tipikal dirinya. Dia
kemudian berdiri sejajar di samping kanan Miranda.
Mereka kemudian sama-sama terdiam. Sama-sama menatap ke arah
yang sama. Di sana, lima meter di depan mereka, Arvin masih terus berupaya
menenangkan Vania dan Widya yang tak mau berhenti menangis. Arvin juga terus
membujuk mereka untuk pulang ke rumah. Tapi kedua putrinya itu bersikeras untuk
bertahan lebih lama.
Hati Miranda kembali seperti teriris-iris menyaksikan itu.
Matanya kembali basah. Linangan air mata tak mampu dibendungnya.
Setelah Arvin berhasil membujuk Vania dan Widya untuk
pulang, mereka semua akhirnya bubar dan meninggalkan pemakaman. Keheningan pun
langsung menyelimuti pemakaman itu. Sunyi. Sepi. Mencekam. Tapi suasana itu tak
mungkin dihindari. Itulah tempat semua manusia akan kembali. Tidak tahu kapan.
Hanya menunggu giliran.
Arvin dan anak-anaknya memilih langsung pulang ke rumah.
Keluarga mereka dari kampung masih berkumpul di rumah. Ratmi berpamitan dengan
Miranda untuk kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus
diselesaikannya. Angela yang matanya masih memerah juga berpamitan langsung
kembali ke apartemennya. Dia merasa tidak akan fokus bekerja kalau kembali ke
kantor. Rencananya membujuk Arvin pun terpaksa dibatalkan sementara. Entah
kapan dia bisa kembali menemui laki-laki itu.
Sementara itu, Miranda dan Robert memutuskan mampir ke
restoran hotel tempat Robert menginap. Mereka naik mobil Miranda karena Robert
rupanya naik taksi menuju ke pemakaman.
***
"Aku sudah tahu kalau kamu pergi karena diancam oleh
Bram," kata Robert membuka pembicaraan ketika mereka berdua sudah duduk
berhadapan di restoran.
Miranda tidak menjawab. Dia hanya menunggu penjelasan kenapa
suaminya sampai menyusul ke Jakarta.
"Tapi jangan khawatir. Aku sudah menyelesaikan urusan
itu. Bram tidak akan mengganggumu lagi. Dia tidak akan mengganggu kita lagi.
Aku jamin itu, Mir."
Robert masih berbicara dengan menggebu-gebu.
Miranda tetap membisu. Tatapannya diarahkan ke samping
restoran menuju kaca pembatas yang menembus ke jalan raya. Dia tidak sedikit
pun membalas tatapan Robert yang dari tadi ditujukan padanya.
Tidak mendapat tanggapan, Robert pun berhenti berbicara.
Mungkin istrinya belum ingin diajak berbicara, pikirnya. Setelah hening
beberapa menit, Miranda yang kemudian memecah kebisuan dengan berucap,
"Memangnya apa yang telah kamu lakukan pada Bram?"
tanyanya pelan. Dia seperti ingin memastikan bahwa keadaan memang sudah
baik-baik saja.
"Aku sudah membuat perjanjian tertulis dengannya.
Selama ini kami ada urusan bisnis. Video yang ditunjukkannya padamu tempo hari
sengaja digunakan untuk mengancam dan memerasku. Tapi sekarang itu semua sudah
selesai. Aku sudah memenuhi tuntutannya. Aku sudah menyerahkan semua yang
diinginkannya. Dengan satu syarat, dia tidak lagi mengusik hidup kita."
"Apakah kamu tidak tahu kalau dia tidak mengancam
keselamatanku, tapi mengancam keselamatanmu?"
Kali ini Miranda mulai menatap Robert. Tatapannya
mengisyaratkan kemarahan sekaligus bercampur dengan kepedulian.
"Aku tahu, Mir. Aku sangat mengenal dia. Bukankah
sebelumnya sudah kuakui secara jujur kalau aku sudah bersamanya selama sepuluh
tahun. Jadi aku tahu persis sejauh mana dia serius dengan ucapannya. Lagi pula
semua ini bukan tentang hubungan pribadi seperti video yang ditunjukkannya
padamu. Tapi lebih ke masalah bisnis semata. Dia berusaha memerasku. Dan aku
sudah menyelesaikannya. Aku sudah memenuhi semua tuntutannya. Jadi tidak ada
alasannya lagi untuk mengganggu kita."
Miranda tidak langsung menanggapi. Dia mencoba mencerna
ucapan Robert barusan. Rasa sakit yang sempat menghilang, kembali muncul
tatkala suaminya menceritakan kebersamaan dengan Bram selama sepuluh tahun ke
belakang. Tapi kabar bahwa suaminya sudah menyelesaikan urusan dengan lelaki
itu sedikit membuatnya tenang. Walaupun masa lalu itu terasa sangat
menyakitkan, setidaknya tetap ada harapan yang indah di masa depan.
"Kita kembali ke Aussie, yuk," bujuk Robert.
Miranda terdiam cukup lama seperti sedang menimbang-nimbang
sesuatu.
"Kamu mau menunggu sebentar. Mungkin seminggu atau
lebih. Masih ada urusan yang harus kuselesaikan di sini," katanya
kemudian.
Dari nada bicaranya itu, tampaknya Miranda setuju untuk ikut
Robert pulang ke Australia.
"Oke. Tidak masalah. Sepertinya hidupku sudah
ditakdirkan untuk menunggumu. Dan menunggumu adalah momen membahagiakan
bagiku," kata Robert terdengar menggombal. Namun raut mukanya tetap
serius.
Miranda tidak tahu lagi dengan perasaannya sendiri. Dulu
hanya kebahagiaan yang merekah di hatinya setiap mendengar gombalan Robert yang
bernada serius seperti barusan. Kini, dia tidak tahu lagi apakah harus bahagia
atau curiga.
Mungkinmereka akan kembali dekat. Namun kedekatan itu bukan berarti akan memuat merekakembali bersatu. Miranda merasa telah terbentang tabir tak kasat mata di antara merekaberdua. Apakah mereka mampu menyibakkan tabir itu, Miranda masih tak tahu. Diamenyerahkan itu pada waktu dan roda kehidupan.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.