Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tidak seperti biasanya, sore ini dia berada di rumah. Tapi
bukan berarti dia hanya sekedar bersantai. Tatapannya terlihat sangat fokus ke
layar laptop yang diletakkannya di atas meja. Keningnya dari tadi terus
mengernyit, seperti sedang berpikir keras memproses informasi yang tersaji di
berbagai aplikasi yang dibuka secara bersamaan.
"Selamat sore," ucap seseorang yang tiba-tiba
memberi salam.
Arvin mengangkat wajah sambil menjawab,
"Selamat sore,"
Mimik keterkejutan langsung terlukis di wajahnya ketika
menyadari siapa pemilik suara itu.
"Miranda?!" katanya sedikit terperangah.
Miranda mengangguk, sambil diam mematung di depan teras.
"Silakan duduk, Mir," kata Arvin yang akhirnya
menyadari kekhilafannya, membiarkan Miranda berdiri begitu lama di sana.
Dia sempat terpana karena tidak menyangka perempuan itu
berkunjung tanpa sepengetahuannya.
"Terima kasih," balas Miranda.
Dia melangkah ke atas teras lalu duduk di kursi kayu di
sebelah kanan Arvin.
"Kok kamu datang mendadak? Tanpa memberitahu lebih
dulu?" tanya Arvin masih terlihat kaget.
"Maaf. Aku tidak sempat memberitahu," jawab
Miranda mencoba tersenyum.
Dalam situasi seperti sekarang, mengukir seulas senyuman pun
menjadi sebuah perjuangan berat baginya.
"Tidak apa-apa juga. Untung saja aku ada di rumah.
Takutnya kalau aku tidak ada di rumah," timpal Arvin.
Perjuangan yang sama juga dialami Arvin. Dia pun belum mampu
mengangkat sudut bibirnya untuk menghadirkan sebuah senyuman. Kehilangan Karin
secara tiba-tiba benar-benar membuatnya terpukul.
"Angela belum datang?" tanya Miranda.
"Loh? Memangnya dia mau ke sini juga?" Arvin
bertanya balik, masih tampak kaget.
Miranda pun mengangguk.
"Iya. Ada yang ingin kami sampaikan padamu."
"Tentang apa?" tanya Arvin lagi dengan tatapan
curiga.
"Nanti biar Angela sendiri yang menyampaikan. Aku hanya
diminta menemani."
Tidak berapa lama kemudian orang yang sedang mereka
bicarakan datang. Mata Miranda dan Arvin langsung tertuju ke suara deru mesin
yang baru saja datang.
Angela memarkirkan sedan BMW-nya di tepi jalan di belakang
HRV-nya Miranda. Dia datang sendirian, tidak diantar sopir. Setelah turun dari
mobil, dia langsung melangkah cepat, tipikal pekerja keras yang sangat
menghargai waktu.
"Maaf, ya, kalian jadi menunggu lama," katanya
sambil berjalan tergesa-gesa mendekat ke teras rumah.
"Tidak masalah. Aku juga barusan datang, kok,"
kata Miranda langsung menimpali.
"Silakan duduk," kata Arvin ikut bersuara.
Angela pun duduk di kursi persis di samping Miranda.
"Oh, ya, kalian mau minum apa?" tanya Arvin yang
baru sadar kalau dari tadi lupa menyuguhi tamunya dengan minuman.
"Tidak usah!" balas Miranda dan Angela kompak.
"Loh, kok?"
Arvin yang sudah berdiri dari kursi, urung melangkahkan
kaki.
"Benaran?" tanyanya memastikan.
"Benaran! Tidak usah. Kami tidak lama, kok."
Lagi-lagi keduanya memberikan tanggapan yang sama seperti sudah berjanji
sebelum datang tadi.
Arvin pun kembali duduk.
Angela menarik nafas dalam secara perlahan. Dia berusaha
menenangkan diri setelah tadi berjalan tergesa-gesa.
"Ada keperluan apa kalian menemuiku mendadak
begini?" tanya Arvin setelah melihat Angela mulai tenang.
"Kami berharap kamu mau bergabung kembali dengan
QDC."
Tanpa pengantar sedikit pun, Angela langsung menyampaikan
maksudnya.
Arvin tampak berpikir sejenak.
"Tapi aku sedang memulai usaha baru. Aku sudah
menginvestasikan semua tabunganku pada perusahaan rintisan yang sedang
kukembangkan bersama rekanku ini. Sebentar lagi usaha itu akan di-launching," katanya to the point juga.
"Mohon dipertimbangkan kembali, Vin. Pliss..."
kata Angela mengiba. Dia sudah berubah, mungkin hampir seratus delapan puluh
derajat. Karakternya yang dulu selalu memaksa, kini telah berubah menjadi
memohon.
Arvin menarik nafas dalam sebelum memberikan tanggapan,
"Bukannya aku tidak mau. Lihat saja kesibukanku sekarang. Selain harus
mengurus perusahaan rintisan, aku juga harus mengurus ketiga anakku."
Miranda tak mampu menanggapi. Dia hanya mampu menggigit
bibir. Hatinya makin teriris mendengar ucapan Arvin barusan. Ternyata luar
biasa dampak yang diakibatkan oleh keteledorannya tempo hari. Terkadang dia
percaya dengan takdir. Setiap kejadian sudah ditentukan seperti itu. Dalam
istilah agama, semua kejadian sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Tapi dia pun
pernah berharap. Kalau misalnya muncul takdir buruk pada siapa pun, jangan
sampai dia yang menjadi pemicunya. Namun kenyataannya malah bertolak belakang
dengan harapannya itu. Takdir buruk yang menimpa Arvin, orang yang pernah
menghiasi hatinya atau mungkin masih menghiasi hatinya hingga kini, malah
disebabkan olehnya.
Setelah hening sejenak, Angela kembali bersuara,
"Tolong dipertimbangkan lagi, Vin. Nanti aku akan mengatur segala
sesuatunya agar urusanmu di rumah tetap lancar. Perusahaan akan
menyediakan baby sitter untuk
mengasuh anak-anakmu. Aku juga akan memberi kesempatan padamu untuk
mengembangkan usahamu itu. Pokoknya, apa pun yang kamu butuhkan, akan kami
sediakan."
Arvin tidak menanggapi. Tapi dia menyimak. Dia merasakan
perubahan sikap yang luar biasa pada Angela. Arvin menyadari kalau hatinya
masih terpaut erat dengan QDC. Tapi kondisinya sekarang masih cukup rumit untuk
langsung menerima tawaran itu.
"Aku pikirkan dulu, ya," ujarnya singkat.
"Baiklah. Silakan kau pikirkan dulu, Vin. Kalau kau
sudah memutuskan, tolong kabari kami secepatnya, ya," balas Angela. Dia
kini sudah mulai menggunakan kata kami, bukan lagi kata aku, seperti yang
sering digunakannya selama ini. Itu artinya dia mulai mampu menanggalkan egonya
untuk kepentingan bersama.
Arvin hanya mengangguk, lalu menatap Miranda.
Miranda hanya membalas dengan senyuman. Dia tidak memberikan
tanggapan sedikit pun. Dia memang telah berjanji kepada Angela hanya menemani.
Dia sudah menyerahkan urusan membujuk Arvin kepada wanita itu. Kesediaan Arvin
untuk kembali bergabung dengan QDC sangat ditentukan oleh sikap Angela pada
Arvin.
"Ya sudah. Aku tidak bisa lama-lama. Tadi sebenarnya
ada rapat yang belum selesai. Tapi karena aku sudah berjanji dengan Miranda
ingin menemuimu langsung, jadi rapatnya aku tunda sebentar. Aku pamit ya, Vin,
Mir," kata Angela tetap berbicara santun.
Dia pun mulai melengkungkan bibirnya ke atas. Senyumnya pun
mulai terlihat tulus. Mungkin krisis di perusahaan dan kejadian yang menimpa
Karin telah mengubahnya menjadi lebih manusiawi.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Miranda.
Sementara Arvin hanya membalas dengan anggukkan.
***
Setelah kepulangan Angela, Miranda memutuskan untuk tetap tinggal
sebentar. Dia mau menanyakan keadaan Vania, Widya, dan bayi Karin yang selamat,
yang sampai sekarang belum diketahui namanya.
"Jadi bayi perempuanmu diberi nama apa? Maaf ya. Aku
beneran belum tahu namanya."
Miranda kembali memulai obrolan setelah mereka sama-sama
berdiam diri sejak Angela berpamitan.
"Ooh, namanya Trisna Reksadana," ujar Arvin
menyebutkan nama anak ketiganya.
"Assalamualaikum!!!" Tiba-tiba terdengar suara
salam yang diucapkan secara melengking.
Obrolan Miranda dan Arvin pun terpotong. Miranda langsung
menoleh. Ternyata suara itu berasal dari Vania.
"Eh, Vania. Kamu baru pulang, Sayang?" tanya
Miranda dengan suara lembut sama seperti yang sering dilakukannya selama ini.
Tapi Vania tidak menggubris sedikit pun. Dia seolah-olah
tidak mendengar pertanyaan itu. Dia malah sibuk melepas sepatu dan
meletakkannya di teras. Tanpa menoleh sedikit pun, dia lewat begitu saja di
depan Miranda, langsung masuk ke rumah.
Miranda hanya bisa bengong melihat sikap Vania itu.
"Vania marah padaku, ya?" tanyanya kemudian pada
Arvin.
Perasaannya pun langsung tak enak.
"Tidaklah. Mungkin dia kelelahan saja, Mir. Tidak usah
diambil hati," jawab Arvin mencoba menenangkan.
Miranda merasa ini pertama kalinya Vania bersikap seperti
itu. Kata-kata Arvin itu tak mampu mengubah persepsi dan perasaannya.
"Pasti dia marah padaku. Dia tidak pernah secuek itu
sebelumnya," katanya.
Arvin terdiam cukup lama seperti sedang memikirkan dan
menimbang sesuatu, sebelum akhirnya memberikan tanggapan,
"Maaf ya, Mir. Mungkin ini salahku. Aku terlalu jujur
padanya."
"Jujur tentang apa?" tanya Miranda dengan raut
penuh rasa penasaran.
Keningnya langsung mengerut.
Arvin kembali tertegun. Tampak ekspresi bersalah terpancar
di wajahnya. Akhirnya dia berucap,
"Vania terus mendesakku. Dia terus bertanya kenapa
Bunda Karin sampai bisa jatuh dari tangga tempo hari."
"Terus kamu cerita apa?"
"Aku tak pandai berimajinasi atau mengarang-ngarang
cerita. Pada akhirnya aku menceritakan saja apa adanya," jawab Arvin makin
terlihat kusut.
Ternyata kejujuran malah dapat membuat situasi makin
semrawut.
"Tuh, kan! Berarti benaran dia marah padaku," kata
Miranda makin terlihat cemas.
Kerutan di dahinya makin dalam. Perasaan tidak nyaman
kembali menyelimuti hatinya. Ketakutannya tempo hari akhirnya benar-benar
menjadi nyata. Dia tidak bisa menyalahkan Arvin yang telah menceritakan
kronologis musibah yang menimpa Karin. Masalahnya memang ada pada dirinya. Dia
yang telah memicu itu semua. Rasa bersalahnya yang sempat tersembunyi, kini
menyeruak kembali ke permukaan. Tubuhnya langsung bergetar hebat.
"Kamu tenang saja. Vania tidak akan terus-terusan
seperti itu. Nanti aku akan kembali berbicara baik-baik padanya. Aku akan
memberikan pengertian. Tapi mungkin tidak sekarang. Nanti setelah dia mulai
tenang," ujar Arvin kembali mencoba menenangkan Miranda.
"Tapi dia butuh waktu untuk menenangkan diri,
bukan?" tanya Miranda retoris.
"Iya. Semua butuh waktu," jawab Arvin dengan suara
bergetar.
Kini Miranda hanya bisa berharap pada waktu. Semoga sang waktu dapat mengurai dan menyulam kembali benang-benang kehidupannya yang semakin kusut dan berserakan
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.