Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 26. Berharap pada Waktu

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 26. Berharap pada Waktu
______________________________________

Sudah lebih seminggu sejak kematian Karin. Kesedihan masih tampak di wajah Arvin. Namun dia tidak larut dalam kesedihan itu. Dia harus move on. Banyak hal yang harus dikerjakannya. Selain harus mengasuh ketiga anaknya, dia juga harus segera mengeksekusi rencana usahanya. Rekan bisnisnya sudah mendesak agar dia segera membuka smartstore mereka.

Tidak seperti biasanya, sore ini dia berada di rumah. Tapi bukan berarti dia hanya sekedar bersantai. Tatapannya terlihat sangat fokus ke layar laptop yang diletakkannya di atas meja. Keningnya dari tadi terus mengernyit, seperti sedang berpikir keras memproses informasi yang tersaji di berbagai aplikasi yang dibuka secara bersamaan.

"Selamat sore," ucap seseorang yang tiba-tiba memberi salam.

Arvin mengangkat wajah sambil menjawab,

"Selamat sore,"

Mimik keterkejutan langsung terlukis di wajahnya ketika menyadari siapa pemilik suara itu.

"Miranda?!" katanya sedikit terperangah.

Miranda mengangguk, sambil diam mematung di depan teras.

"Silakan duduk, Mir," kata Arvin yang akhirnya menyadari kekhilafannya, membiarkan Miranda berdiri begitu lama di sana.

Dia sempat terpana karena tidak menyangka perempuan itu berkunjung tanpa sepengetahuannya.

"Terima kasih," balas Miranda.

Dia melangkah ke atas teras lalu duduk di kursi kayu di sebelah kanan Arvin.

"Kok kamu datang mendadak? Tanpa memberitahu lebih dulu?" tanya Arvin masih terlihat kaget.

"Maaf. Aku tidak sempat memberitahu," jawab Miranda mencoba tersenyum.

Dalam situasi seperti sekarang, mengukir seulas senyuman pun menjadi sebuah perjuangan berat baginya.

"Tidak apa-apa juga. Untung saja aku ada di rumah. Takutnya kalau aku tidak ada di rumah," timpal Arvin.

Perjuangan yang sama juga dialami Arvin. Dia pun belum mampu mengangkat sudut bibirnya untuk menghadirkan sebuah senyuman. Kehilangan Karin secara tiba-tiba benar-benar membuatnya terpukul.

"Angela belum datang?" tanya Miranda.

"Loh? Memangnya dia mau ke sini juga?" Arvin bertanya balik, masih tampak kaget.

Miranda pun mengangguk.

"Iya. Ada yang ingin kami sampaikan padamu."

"Tentang apa?" tanya Arvin lagi dengan tatapan curiga.

"Nanti biar Angela sendiri yang menyampaikan. Aku hanya diminta menemani."

Tidak berapa lama kemudian orang yang sedang mereka bicarakan datang. Mata Miranda dan Arvin langsung tertuju ke suara deru mesin yang baru saja datang.

Angela memarkirkan sedan BMW-nya di tepi jalan di belakang HRV-nya Miranda. Dia datang sendirian, tidak diantar sopir. Setelah turun dari mobil, dia langsung melangkah cepat, tipikal pekerja keras yang sangat menghargai waktu.

"Maaf, ya, kalian jadi menunggu lama," katanya sambil berjalan tergesa-gesa mendekat ke teras rumah.

"Tidak masalah. Aku juga barusan datang, kok," kata Miranda langsung menimpali.

"Silakan duduk," kata Arvin ikut bersuara.

Angela pun duduk di kursi persis di samping Miranda.

"Oh, ya, kalian mau minum apa?" tanya Arvin yang baru sadar kalau dari tadi lupa menyuguhi tamunya dengan minuman.

"Tidak usah!" balas Miranda dan Angela kompak.

"Loh, kok?"

Arvin yang sudah berdiri dari kursi, urung melangkahkan kaki.

"Benaran?" tanyanya memastikan.

"Benaran! Tidak usah. Kami tidak lama, kok." Lagi-lagi keduanya memberikan tanggapan yang sama seperti sudah berjanji sebelum datang tadi.

Arvin pun kembali duduk.

Angela menarik nafas dalam secara perlahan. Dia berusaha menenangkan diri setelah tadi berjalan tergesa-gesa.

"Ada keperluan apa kalian menemuiku mendadak begini?" tanya Arvin setelah melihat Angela mulai tenang.

"Kami berharap kamu mau bergabung kembali dengan QDC."

Tanpa pengantar sedikit pun, Angela langsung menyampaikan maksudnya.

Arvin tampak berpikir sejenak.

"Tapi aku sedang memulai usaha baru. Aku sudah menginvestasikan semua tabunganku pada perusahaan rintisan yang sedang kukembangkan bersama rekanku ini. Sebentar lagi usaha itu akan di-launching," katanya to the point juga.

"Mohon dipertimbangkan kembali, Vin. Pliss..." kata Angela mengiba. Dia sudah berubah, mungkin hampir seratus delapan puluh derajat. Karakternya yang dulu selalu memaksa, kini telah berubah menjadi memohon.

Arvin menarik nafas dalam sebelum memberikan tanggapan, "Bukannya aku tidak mau. Lihat saja kesibukanku sekarang. Selain harus mengurus perusahaan rintisan, aku juga harus mengurus ketiga anakku."

Miranda tak mampu menanggapi. Dia hanya mampu menggigit bibir. Hatinya makin teriris mendengar ucapan Arvin barusan. Ternyata luar biasa dampak yang diakibatkan oleh keteledorannya tempo hari. Terkadang dia percaya dengan takdir. Setiap kejadian sudah ditentukan seperti itu. Dalam istilah agama, semua kejadian sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Tapi dia pun pernah berharap. Kalau misalnya muncul takdir buruk pada siapa pun, jangan sampai dia yang menjadi pemicunya. Namun kenyataannya malah bertolak belakang dengan harapannya itu. Takdir buruk yang menimpa Arvin, orang yang pernah menghiasi hatinya atau mungkin masih menghiasi hatinya hingga kini, malah disebabkan olehnya.

Setelah hening sejenak, Angela kembali bersuara, "Tolong dipertimbangkan lagi, Vin. Nanti aku akan mengatur segala sesuatunya agar urusanmu di rumah tetap lancar. Perusahaan akan menyediakan baby sitter untuk mengasuh anak-anakmu. Aku juga akan memberi kesempatan padamu untuk mengembangkan usahamu itu. Pokoknya, apa pun yang kamu butuhkan, akan kami sediakan."

Arvin tidak menanggapi. Tapi dia menyimak. Dia merasakan perubahan sikap yang luar biasa pada Angela. Arvin menyadari kalau hatinya masih terpaut erat dengan QDC. Tapi kondisinya sekarang masih cukup rumit untuk langsung menerima tawaran itu.

"Aku pikirkan dulu, ya," ujarnya singkat.

"Baiklah. Silakan kau pikirkan dulu, Vin. Kalau kau sudah memutuskan, tolong kabari kami secepatnya, ya," balas Angela. Dia kini sudah mulai menggunakan kata kami, bukan lagi kata aku, seperti yang sering digunakannya selama ini. Itu artinya dia mulai mampu menanggalkan egonya untuk kepentingan bersama.

Arvin hanya mengangguk, lalu menatap Miranda.

Miranda hanya membalas dengan senyuman. Dia tidak memberikan tanggapan sedikit pun. Dia memang telah berjanji kepada Angela hanya menemani. Dia sudah menyerahkan urusan membujuk Arvin kepada wanita itu. Kesediaan Arvin untuk kembali bergabung dengan QDC sangat ditentukan oleh sikap Angela pada Arvin.

"Ya sudah. Aku tidak bisa lama-lama. Tadi sebenarnya ada rapat yang belum selesai. Tapi karena aku sudah berjanji dengan Miranda ingin menemuimu langsung, jadi rapatnya aku tunda sebentar. Aku pamit ya, Vin, Mir," kata Angela tetap berbicara santun.

Dia pun mulai melengkungkan bibirnya ke atas. Senyumnya pun mulai terlihat tulus. Mungkin krisis di perusahaan dan kejadian yang menimpa Karin telah mengubahnya menjadi lebih manusiawi.

"Iya, tidak apa-apa," jawab Miranda.

Sementara Arvin hanya membalas dengan anggukkan.

 

***

Setelah kepulangan Angela, Miranda memutuskan untuk tetap tinggal sebentar. Dia mau menanyakan keadaan Vania, Widya, dan bayi Karin yang selamat, yang sampai sekarang belum diketahui namanya.

"Jadi bayi perempuanmu diberi nama apa? Maaf ya. Aku beneran belum tahu namanya."

Miranda kembali memulai obrolan setelah mereka sama-sama berdiam diri sejak Angela berpamitan.

"Ooh, namanya Trisna Reksadana," ujar Arvin menyebutkan nama anak ketiganya.

"Assalamualaikum!!!" Tiba-tiba terdengar suara salam yang diucapkan secara melengking.

Obrolan Miranda dan Arvin pun terpotong. Miranda langsung menoleh. Ternyata suara itu berasal dari Vania.

"Eh, Vania. Kamu baru pulang, Sayang?" tanya Miranda dengan suara lembut sama seperti yang sering dilakukannya selama ini.

Tapi Vania tidak menggubris sedikit pun. Dia seolah-olah tidak mendengar pertanyaan itu. Dia malah sibuk melepas sepatu dan meletakkannya di teras. Tanpa menoleh sedikit pun, dia lewat begitu saja di depan Miranda, langsung masuk ke rumah.

Miranda hanya bisa bengong melihat sikap Vania itu.

"Vania marah padaku, ya?" tanyanya kemudian pada Arvin.

Perasaannya pun langsung tak enak.

"Tidaklah. Mungkin dia kelelahan saja, Mir. Tidak usah diambil hati," jawab Arvin mencoba menenangkan.

Miranda merasa ini pertama kalinya Vania bersikap seperti itu. Kata-kata Arvin itu tak mampu mengubah persepsi dan perasaannya.

"Pasti dia marah padaku. Dia tidak pernah secuek itu sebelumnya," katanya.

Arvin terdiam cukup lama seperti sedang memikirkan dan menimbang sesuatu, sebelum akhirnya memberikan tanggapan,

"Maaf ya, Mir. Mungkin ini salahku. Aku terlalu jujur padanya."

"Jujur tentang apa?" tanya Miranda dengan raut penuh rasa penasaran.

Keningnya langsung mengerut.

Arvin kembali tertegun. Tampak ekspresi bersalah terpancar di wajahnya. Akhirnya dia berucap,

"Vania terus mendesakku. Dia terus bertanya kenapa Bunda Karin sampai bisa jatuh dari tangga tempo hari."

"Terus kamu cerita apa?"

"Aku tak pandai berimajinasi atau mengarang-ngarang cerita. Pada akhirnya aku menceritakan saja apa adanya," jawab Arvin makin terlihat kusut.

Ternyata kejujuran malah dapat membuat situasi makin semrawut.

"Tuh, kan! Berarti benaran dia marah padaku," kata Miranda makin terlihat cemas.

Kerutan di dahinya makin dalam. Perasaan tidak nyaman kembali menyelimuti hatinya. Ketakutannya tempo hari akhirnya benar-benar menjadi nyata. Dia tidak bisa menyalahkan Arvin yang telah menceritakan kronologis musibah yang menimpa Karin. Masalahnya memang ada pada dirinya. Dia yang telah memicu itu semua. Rasa bersalahnya yang sempat tersembunyi, kini menyeruak kembali ke permukaan. Tubuhnya langsung bergetar hebat.

"Kamu tenang saja. Vania tidak akan terus-terusan seperti itu. Nanti aku akan kembali berbicara baik-baik padanya. Aku akan memberikan pengertian. Tapi mungkin tidak sekarang. Nanti setelah dia mulai tenang," ujar Arvin kembali mencoba menenangkan Miranda.

"Tapi dia butuh waktu untuk menenangkan diri, bukan?" tanya Miranda retoris.

"Iya. Semua butuh waktu," jawab Arvin dengan suara bergetar.

Kini Miranda hanya bisa berharap pada waktu. Semoga sang waktu dapat mengurai dan menyulam kembali benang-benang kehidupannya yang semakin kusut dan berserakan

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar