Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Rupanya kejadian itu tidak ada apa-apanya dibandingkan
dengan apa yang sedang dialaminya saat ini. Dia kembali terpuruk. Benar-benar
terpuruk. Bahkan bisa dikatakan sangat terpuruk. Kehilangan yang dirasakannya
kali bukan sekedar dugaan. Ini bukan hanya tipuan perasaan, melainkan
benar-benar telah menjadi kenyataan. Dia benar-benar kehilangan orang-orang
yang sangat disayangi dan sangat dibutuhkannya.
Bunda Karin dan Bima sama-sama sangat penting baginya.
Celakanya, mereka berdua menghilang dari kehidupannya di waktu bersamaan! Karin
sudah terasa seperti ibu kandungnya sendiri, bahkan jauh sebelum ayahnya
menikahinya. Kasih sayang tulus perempuan itu sudah bisa dirasakannya sejak
pertama kali mereka berjumpa. Ketulusan itu terasa sama persis seperti
ketulusan ibu kandungnya yang telah lebih dulu meninggalkannya.
Karin penuh perhatian, selalu menyemangati, selalu
menghibur, menjadi tempatnya mencurahkan isi hati yang dapat menentramkan dan
menenangkan hati, memasakkan makanan yang lezat, menceritakan hal-hal yang
menyenangkan, mengingatkan untuk melakukan hal-hal yang baik, dan masih banyak
lagi hal positif lainnya. Luar biasanya, Karin melakukan itu semua dengan
sepenuh hati sebagai seorang ibu sambung alias ibu tiri, bukan sebagai ibu
kandung.
Lalu tiba-tiba semua kebaikan itu lenyap, sirna begitu saja
dalam sekejap mata. Vania pun bertanya-tanya dalam hati. Apakah hidupnya akan tetap sama tanpa
kehadiran Bunda Karin? Apakah dia akan sanggup menjalani hidup ke depannya?
Banyak pertanyaan senada yang terus berkecamuk dalam
pikirannya. Dia pun tidak tahu jawabannya. Bahkan dia tidak sanggup untuk
memikirkan jawabannya. Bagaimana mungkin dia bisa menjalani hidup ke depannya
dengan biasa kalau memikirkannya saja dia merasa tak sanggup?
Bima sama berharganya dengan Bunda Karin. Ketulusannya tidak
jauh berbeda dengan bundanya itu. Cowok itu hadir di kala Vania memang sedang
membutuhkan seorang teman, baik sebagai tempat bercerita maupun sebagai pemberi
semangat dan dukungan. Di kala semua orang di sekolah menjauhinya, Bima malah
hadir untuk menghibur dan menguatkannya. Perasaan yang sempat diungkapkan
laki-laki itu pun sama dengan perasaannya. Namun sayangnya, dia tidak pernah
menjawab pertanyaan Bima atau menyatakan perasaannya hingga kemudian cowok itu
pergi ke negeri di belahan bumi yang berbeda.
Kehilangan Bima secara tiba-tiba itu adalah sebuah
kepedihan. Membiarkan cowok itu menghilang tanpa pernah tahu bahwa perasaan
mereka sama telah melipatgandakan kepedihan itu. Penyesalan yang tak mampu
dikubur karena tidak menjawab pertanyaan cowok itu bahkan menempatkan kepedihan
itu pada level yang jauh lebih tinggi lagi.
Vania tidak tahu di mana Bima sedang berada. Yang dia tahu
hanyalah Bima mengikuti orang tuanya pindah ke London. Yang dia tahu London itu
ibu kota negara Inggris. Di mana tepatnya London itu, dia belum memiliki
bayangan sama sekali. Dia hanya tahu dari peta kalau kota itu berada di sebuah
pulau besar di tepian sebelah barat laut benua Eropa sana. Jarak Jakarta-London
belum mampu dibayangkannya. Dia juga belum sempat memeriksa, apalagi mengukur
sendiri. Kalau ingin cepat sampai ke sana perlu naik pesawat. Kalau naik kapal
laut, jauh lebih lama. Berapa lama? Dia juga belum tahu. Intinya, mustahil
baginya untuk menyusul ke sana.
Lebih tragisnya lagi, sebulan setelah kepindahan Bima, Vania
masih tidak tahu kabarnya. Laki-laki itu menghilang seperti ditelan bumi. Nomor
ponselnya tidak bisa lagi dihubungi. Tentu saja itu terjadi karena dia pasti
sudah berganti nomor ponsel karena sudah pindah negara. Media sosialnya masih
ada dan aktif, namun tidak pernah ada lagi aktivitas atau kiriman terbaru
semenjak hari keberangkatannya itu. Vania sempat menulis pesan di semua media
sosial itu, tapi sampai sekarang dia belum juga mendapat tanggapan balik.
Vania sempat juga menulis surat yang dikirimnya ke e-mail Bima. Dia menanyakan kabar laki-laki itu, bagaimana tempat barunya, seperti apa sekolahnya, bagaimana makanannya, bagaimana cuacanya, apakah dia senang atau tidak berada di sana, serta berbagai pertanyaan umum lainnya. Namun sampai sekarang surat itu belum juga dibalas. Apakah Bima sudah membacanya atau belum, Vania pun tidak pernah tahu.
***
Vania masih memiliki kebiasaan yang sama sepulang sekolah.
Dia memilih duduk di taman belakang kelasnya sebelum pulang ke rumah. Hari ini
pun dia kembali melakukan itu. Belum lama dia duduk di sana, tiba-tiba Siska
teman sebangkunya datang menghampirinya. Sudah lama mereka berdua tidak saling
sapa. Tanpa tahu sebabnya, tiba-tiba Siska memilih menjauh sewaktu video
ayahnya menjadi viral dan diketahui semua siswa di sekolah.
"Boleh aku ikut duduk?" tanya Siska sangat sopan sambil
membungkukkan badan.
Vania hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke depan
ke arah bunga-bunga di tepian kolam. Dia tidak mengiyakan juga tidak menolak
permintaan izin Siska barusan. Dia hanya diam, tanpa mengangguk atau
menggeleng.
Siska pun tampak serba salah, apakah duduk di situ, atau
pergi meninggalkan Vania sendirian. Bagaimanapun, dia sudah membulatkan tekad
untuk memperbaiki persahabatannya dengan Vania. Hatinya teriris-iris melihat
sahabatnya itu makin lama makin terpuruk. Sampai-sampai terlihat seperti mayat
hidup, tidak memiliki semangat hidup sama sekali.
Vania masih tetap diam. Dia sibuk melemparkan
kerikil-kerikil kecil ke kolam di hadapannya. Dia masih tidak memedulikan Siska
yang tetap berdiri mematung di samping kursinya itu.
Akhirnya Siska memberanikan diri untuk duduk di bangku
panjang di samping Vania. Beberapa saat kemudian dia pun berucap, "Aku
minta maaf ya, Van. Kemarin-kemarin aku ikut-ikutan menjauhimu." Suaranya
terdengar lembut dan pelan, seperti mengiba untuk mendapat belas kasihan.
Vania tetap bergeming.
"Aku sebenarnya tidak tega menjauhimu. Tapi aku
terpaksa melakukannya. Waktu itu aku diancam oleh geng Ashika. Kamu tahu
sendiri mereka sangat membencimu. Mereka sangat senang melihatmu menderita.
Mereka juga berupaya keras menjauhkanku darimu. Mereka mengancamku akan
mengucilkan diriku juga kalau aku masih mendekatimu. Bodohnya aku, aku
mengikuti keinginan mereka untuk menjauhimu. Padahal kamu tidak salah
apa-apa," kata Siska bercerita tanpa jeda.
Hening sejenak. Vania tidak mengucapkan sepatah kata pun
untuk menanggapi.
Siska menoleh ke arah Vania sebentar sebelum kembali
bersuara, "Kini aku sadar kalau kamu jauh lebih berharga bagiku
dibandingkan mereka. Tidak masalah mereka mengucilkanku, asalkan aku masih bisa
menjadi sahabatmu. Bagiku, tidak perlu memiliki banyak sahabat. Satu saja sudah
cukup. Terutama sahabat sepertimu."
Vania masih diam.
Siska menarik napas dalam untuk mengumpulkan tenaga agar
bisa meneruskan penjelasannya. "Aku juga merasa pedih melihat kamu
menderita seperti ini, Van. Aku sangat menyesal telah ikut-ikutan
mengabaikanmu. Seharusnya aku selalu berada di sisimu apa pun yang terjadi.
Itulah makna sahabat sesungguhnya. Bukan hanya hadir di kala suka. Namun juga
selalu ada di kala duka. Sahabat bukan hanya menerima kelebihan, melainkan juga
menerima segala kekurangan. Sahabat itu harus mendengarkan, memberi dukungan, memberi
masukan yang baik-baik, serta membuat tersenyum."
Tipikal Siska kembali muncul, bercerita panjang lebar tanpa
jeda. Omongannya itu ada benarnya. Namun agak terdengar sok tahu dan sok bijak.
Vania benar-benar mematung. Tidak bersuara. Tidak mengubah
posisi tubuh. Tidak berubah ekspresi wajah. Entah dia mendengarkan Siska atau
tidak, masih belum jelas.
"Sekali lagi maafkan salahku kemarin-kemarin, Van. Aku
akan berubah. Aku ingin menjadi sahabat seperti itu bagimu. Aku akan
mendengarkanmu. Aku akan menghiburmu. Aku akan mendukungmu. Aku akan melakukan
segala-galanya bagimu."
Vania tetap tak bersuara. Dia masih belum tergoda dengan
bujukan indah dari Siska. Mungkin saja teman sebangkunya itu sedang ada maunya.
Setelah bercerita panjang lebar tanpa tanggapan sama sekali,
Siska pun memilih untuk meninggalkan Vania sendiri. Mungkin sahabatnya itu
memang tidak bisa memaafkannya lagi. Namun setidaknya, dia sudah merasa lega
karena telah meminta maaf dan mengungkapkan semua kesalahan yang telah
dilakukannya. Dia pun berdiri dan mulai melangkah menjauh. Ketika dia sudah
melangkah kira-kira sepuluh langkah, tiba-tiba terdengar teriakan.
"Siska! Tunggu!" teriak Vania.
Siska menghentikan langkah dan menoleh.
Vania berdiri dan memutar tubuh menghadap ke arah Siska.
"Aku memaafkanmu," katanya dengan suara bergetar.
"Kamu mau menemaniku di sini?" tanyanya kemudian.
Siska langsung memutar tubuhnya, menatap Vania dengan mata
berkaca-kaca, terpana beberapa detik di tempatnya berdiri, lalu berlari
menyongsong Vania. Dipeluknya tubuh sahabatnya itu erat-erat sambil berurai air
mata.
"Terima kasih banyak, ya, Van. Kamu masih mau memaafkan
aku," katanya mengharu biru.
"Maafkan aku juga tadi telah mengabaikanmu," balas
Vania ikut-ikutan menangis.
Mereka duduk kembali di bangku itu. Mata Vania mulai terlihat cerah. Bibir Siska tersenyum ceria. Mereka sama-sama berdiam diri, menikmati gencatan senjata itu yang sungguh indah. Memaafkan benar-benar menjadi solusi untuk semua konflik di dunia ini.
***
Semenjak momen mengharukan di belakang sekolah, Vania dan
Siska kembali akrab. Tatapan sinis tentu masih sering ditunjukkan teman-teman
sekelas mereka, terutama dari Ashika yang sudah dari awal masuk sekolah
mengobarkan semangat persaingan dengan siapa saja. Semester pertama kemarin dia
harus menerima kenyataan pahit karena berada di posisi kedua, kalah dengan
Vania. Itu pertama kalinya sejak kelas satu SD dia tidak mendapat ranking satu
di kelas. Semenjak itu dia mulai tidak menyukai bahkan sampai membenci Vania.
Semakin lama, Vania semakin yakin kalau kata-kata Siska di
taman belakang kelas waktu itu benar-benar tulus. Siska benar-benar ingin
menjadi sahabat sejati. Semua perkataan dan perbuatannya sejalan dengan
ucapannya yang tak berjeda waktu itu. Dia penuh perhatian, penyimak yang baik,
pemberi saran yang menenangkan, sekaligus juga penutur cerita lucu.
Vania pun mulai terbuka dan banyak bercerita. Dia mencurahkan semua masalah dan kegundahan hatinya. Mereka mengobrol berdua kapan saja dan di mana saja. Mereka mengobrol di taman belakang kelas. Mereka mengobrol di pinggir lapangan olahraga. Bahkan mereka mengobrol di rumah Vania.
Sayangnya, belum sekali pun mereka mengobrol di rumah Siska. Entah apa sebabnya, Vania tidak tahu dan tidak mau tahu. Itu bukan masalah besar baginya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.