Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 27. Sahabat Sejati

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 27. Sahabat Sejati
_____________________________________

Dulu Vania sempat mengira kalau kasus yang menimpa ayahnya adalah musibah terbesar dalam hidupnya. Dia sempat menduga kalau video itu akan menjadi pertanda ayahnya akan pergi meninggalkan mereka. Dia pun sempat merasa akan kehilangan tempat menggantungkan hidup. Namun nyatanya itu tidak benar-benar terjadi. Itu hanya perasaan saja. Ayahnya memang sempat berbuat salah. Namun ayahnya segera menyesali dan meminta maaf. Lalu dengan begitu saja, semuanya kembali normal. Dia kembali bersemangat dan ceria.

Rupanya kejadian itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang sedang dialaminya saat ini. Dia kembali terpuruk. Benar-benar terpuruk. Bahkan bisa dikatakan sangat terpuruk. Kehilangan yang dirasakannya kali bukan sekedar dugaan. Ini bukan hanya tipuan perasaan, melainkan benar-benar telah menjadi kenyataan. Dia benar-benar kehilangan orang-orang yang sangat disayangi dan sangat dibutuhkannya.

Bunda Karin dan Bima sama-sama sangat penting baginya. Celakanya, mereka berdua menghilang dari kehidupannya di waktu bersamaan! Karin sudah terasa seperti ibu kandungnya sendiri, bahkan jauh sebelum ayahnya menikahinya. Kasih sayang tulus perempuan itu sudah bisa dirasakannya sejak pertama kali mereka berjumpa. Ketulusan itu terasa sama persis seperti ketulusan ibu kandungnya yang telah lebih dulu meninggalkannya.

Karin penuh perhatian, selalu menyemangati, selalu menghibur, menjadi tempatnya mencurahkan isi hati yang dapat menentramkan dan menenangkan hati, memasakkan makanan yang lezat, menceritakan hal-hal yang menyenangkan, mengingatkan untuk melakukan hal-hal yang baik, dan masih banyak lagi hal positif lainnya. Luar biasanya, Karin melakukan itu semua dengan sepenuh hati sebagai seorang ibu sambung alias ibu tiri, bukan sebagai ibu kandung.

Lalu tiba-tiba semua kebaikan itu lenyap, sirna begitu saja dalam sekejap mata. Vania pun bertanya-tanya dalam hati. Apakah hidupnya akan tetap sama tanpa kehadiran Bunda Karin? Apakah dia akan sanggup menjalani hidup ke depannya?

Banyak pertanyaan senada yang terus berkecamuk dalam pikirannya. Dia pun tidak tahu jawabannya. Bahkan dia tidak sanggup untuk memikirkan jawabannya. Bagaimana mungkin dia bisa menjalani hidup ke depannya dengan biasa kalau memikirkannya saja dia merasa tak sanggup?

Bima sama berharganya dengan Bunda Karin. Ketulusannya tidak jauh berbeda dengan bundanya itu. Cowok itu hadir di kala Vania memang sedang membutuhkan seorang teman, baik sebagai tempat bercerita maupun sebagai pemberi semangat dan dukungan. Di kala semua orang di sekolah menjauhinya, Bima malah hadir untuk menghibur dan menguatkannya. Perasaan yang sempat diungkapkan laki-laki itu pun sama dengan perasaannya. Namun sayangnya, dia tidak pernah menjawab pertanyaan Bima atau menyatakan perasaannya hingga kemudian cowok itu pergi ke negeri di belahan bumi yang berbeda.

Kehilangan Bima secara tiba-tiba itu adalah sebuah kepedihan. Membiarkan cowok itu menghilang tanpa pernah tahu bahwa perasaan mereka sama telah melipatgandakan kepedihan itu. Penyesalan yang tak mampu dikubur karena tidak menjawab pertanyaan cowok itu bahkan menempatkan kepedihan itu pada level yang jauh lebih tinggi lagi.

Vania tidak tahu di mana Bima sedang berada. Yang dia tahu hanyalah Bima mengikuti orang tuanya pindah ke London. Yang dia tahu London itu ibu kota negara Inggris. Di mana tepatnya London itu, dia belum memiliki bayangan sama sekali. Dia hanya tahu dari peta kalau kota itu berada di sebuah pulau besar di tepian sebelah barat laut benua Eropa sana. Jarak Jakarta-London belum mampu dibayangkannya. Dia juga belum sempat memeriksa, apalagi mengukur sendiri. Kalau ingin cepat sampai ke sana perlu naik pesawat. Kalau naik kapal laut, jauh lebih lama. Berapa lama? Dia juga belum tahu. Intinya, mustahil baginya untuk menyusul ke sana.

Lebih tragisnya lagi, sebulan setelah kepindahan Bima, Vania masih tidak tahu kabarnya. Laki-laki itu menghilang seperti ditelan bumi. Nomor ponselnya tidak bisa lagi dihubungi. Tentu saja itu terjadi karena dia pasti sudah berganti nomor ponsel karena sudah pindah negara. Media sosialnya masih ada dan aktif, namun tidak pernah ada lagi aktivitas atau kiriman terbaru semenjak hari keberangkatannya itu. Vania sempat menulis pesan di semua media sosial itu, tapi sampai sekarang dia belum juga mendapat tanggapan balik.

Vania sempat juga menulis surat yang dikirimnya ke e-mail Bima. Dia menanyakan kabar laki-laki itu, bagaimana tempat barunya, seperti apa sekolahnya, bagaimana makanannya, bagaimana cuacanya, apakah dia senang atau tidak berada di sana, serta berbagai pertanyaan umum lainnya. Namun sampai sekarang surat itu belum juga dibalas. Apakah Bima sudah membacanya atau belum, Vania pun tidak pernah tahu. 

*** 

Vania masih memiliki kebiasaan yang sama sepulang sekolah. Dia memilih duduk di taman belakang kelasnya sebelum pulang ke rumah. Hari ini pun dia kembali melakukan itu. Belum lama dia duduk di sana, tiba-tiba Siska teman sebangkunya datang menghampirinya. Sudah lama mereka berdua tidak saling sapa. Tanpa tahu sebabnya, tiba-tiba Siska memilih menjauh sewaktu video ayahnya menjadi viral dan diketahui semua siswa di sekolah.

"Boleh aku ikut duduk?" tanya Siska sangat sopan sambil membungkukkan badan.

Vania hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke depan ke arah bunga-bunga di tepian kolam. Dia tidak mengiyakan juga tidak menolak permintaan izin Siska barusan. Dia hanya diam, tanpa mengangguk atau menggeleng.

Siska pun tampak serba salah, apakah duduk di situ, atau pergi meninggalkan Vania sendirian. Bagaimanapun, dia sudah membulatkan tekad untuk memperbaiki persahabatannya dengan Vania. Hatinya teriris-iris melihat sahabatnya itu makin lama makin terpuruk. Sampai-sampai terlihat seperti mayat hidup, tidak memiliki semangat hidup sama sekali.

Vania masih tetap diam. Dia sibuk melemparkan kerikil-kerikil kecil ke kolam di hadapannya. Dia masih tidak memedulikan Siska yang tetap berdiri mematung di samping kursinya itu.

Akhirnya Siska memberanikan diri untuk duduk di bangku panjang di samping Vania. Beberapa saat kemudian dia pun berucap, "Aku minta maaf ya, Van. Kemarin-kemarin aku ikut-ikutan menjauhimu." Suaranya terdengar lembut dan pelan, seperti mengiba untuk mendapat belas kasihan.

Vania tetap bergeming.

"Aku sebenarnya tidak tega menjauhimu. Tapi aku terpaksa melakukannya. Waktu itu aku diancam oleh geng Ashika. Kamu tahu sendiri mereka sangat membencimu. Mereka sangat senang melihatmu menderita. Mereka juga berupaya keras menjauhkanku darimu. Mereka mengancamku akan mengucilkan diriku juga kalau aku masih mendekatimu. Bodohnya aku, aku mengikuti keinginan mereka untuk menjauhimu. Padahal kamu tidak salah apa-apa," kata Siska bercerita tanpa jeda.

Hening sejenak. Vania tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk menanggapi.

Siska menoleh ke arah Vania sebentar sebelum kembali bersuara, "Kini aku sadar kalau kamu jauh lebih berharga bagiku dibandingkan mereka. Tidak masalah mereka mengucilkanku, asalkan aku masih bisa menjadi sahabatmu. Bagiku, tidak perlu memiliki banyak sahabat. Satu saja sudah cukup. Terutama sahabat sepertimu."

Vania masih diam.

Siska menarik napas dalam untuk mengumpulkan tenaga agar bisa meneruskan penjelasannya. "Aku juga merasa pedih melihat kamu menderita seperti ini, Van. Aku sangat menyesal telah ikut-ikutan mengabaikanmu. Seharusnya aku selalu berada di sisimu apa pun yang terjadi. Itulah makna sahabat sesungguhnya. Bukan hanya hadir di kala suka. Namun juga selalu ada di kala duka. Sahabat bukan hanya menerima kelebihan, melainkan juga menerima segala kekurangan. Sahabat itu harus mendengarkan, memberi dukungan, memberi masukan yang baik-baik, serta membuat tersenyum."

Tipikal Siska kembali muncul, bercerita panjang lebar tanpa jeda. Omongannya itu ada benarnya. Namun agak terdengar sok tahu dan sok bijak.

Vania benar-benar mematung. Tidak bersuara. Tidak mengubah posisi tubuh. Tidak berubah ekspresi wajah. Entah dia mendengarkan Siska atau tidak, masih belum jelas.

"Sekali lagi maafkan salahku kemarin-kemarin, Van. Aku akan berubah. Aku ingin menjadi sahabat seperti itu bagimu. Aku akan mendengarkanmu. Aku akan menghiburmu. Aku akan mendukungmu. Aku akan melakukan segala-galanya bagimu."

Vania tetap tak bersuara. Dia masih belum tergoda dengan bujukan indah dari Siska. Mungkin saja teman sebangkunya itu sedang ada maunya.

Setelah bercerita panjang lebar tanpa tanggapan sama sekali, Siska pun memilih untuk meninggalkan Vania sendiri. Mungkin sahabatnya itu memang tidak bisa memaafkannya lagi. Namun setidaknya, dia sudah merasa lega karena telah meminta maaf dan mengungkapkan semua kesalahan yang telah dilakukannya. Dia pun berdiri dan mulai melangkah menjauh. Ketika dia sudah melangkah kira-kira sepuluh langkah, tiba-tiba terdengar teriakan.

"Siska! Tunggu!" teriak Vania.

Siska menghentikan langkah dan menoleh.

Vania berdiri dan memutar tubuh menghadap ke arah Siska.

"Aku memaafkanmu," katanya dengan suara bergetar. "Kamu mau menemaniku di sini?" tanyanya kemudian.

Siska langsung memutar tubuhnya, menatap Vania dengan mata berkaca-kaca, terpana beberapa detik di tempatnya berdiri, lalu berlari menyongsong Vania. Dipeluknya tubuh sahabatnya itu erat-erat sambil berurai air mata.

"Terima kasih banyak, ya, Van. Kamu masih mau memaafkan aku," katanya mengharu biru.

"Maafkan aku juga tadi telah mengabaikanmu," balas Vania ikut-ikutan menangis.

Mereka duduk kembali di bangku itu. Mata Vania mulai terlihat cerah. Bibir Siska tersenyum ceria. Mereka sama-sama berdiam diri, menikmati gencatan senjata itu yang sungguh indah. Memaafkan benar-benar menjadi solusi untuk semua konflik di dunia ini. 

*** 

Semenjak momen mengharukan di belakang sekolah, Vania dan Siska kembali akrab. Tatapan sinis tentu masih sering ditunjukkan teman-teman sekelas mereka, terutama dari Ashika yang sudah dari awal masuk sekolah mengobarkan semangat persaingan dengan siapa saja. Semester pertama kemarin dia harus menerima kenyataan pahit karena berada di posisi kedua, kalah dengan Vania. Itu pertama kalinya sejak kelas satu SD dia tidak mendapat ranking satu di kelas. Semenjak itu dia mulai tidak menyukai bahkan sampai membenci Vania.

Semakin lama, Vania semakin yakin kalau kata-kata Siska di taman belakang kelas waktu itu benar-benar tulus. Siska benar-benar ingin menjadi sahabat sejati. Semua perkataan dan perbuatannya sejalan dengan ucapannya yang tak berjeda waktu itu. Dia penuh perhatian, penyimak yang baik, pemberi saran yang menenangkan, sekaligus juga penutur cerita lucu.

Vania pun mulai terbuka dan banyak bercerita. Dia mencurahkan semua masalah dan kegundahan hatinya. Mereka mengobrol berdua kapan saja dan di mana saja. Mereka mengobrol di taman belakang kelas. Mereka mengobrol di pinggir lapangan olahraga. Bahkan mereka mengobrol di rumah Vania.

Sayangnya, belum sekali pun mereka mengobrol di rumah Siska. Entah apa sebabnya, Vania tidak tahu dan tidak mau tahu. Itu bukan masalah besar baginya.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar