Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 28. Akhir Musim Semi

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 28. Akhir Musim Semi
______________________________________

Tak ada yang abadi. Semua berubah. Seiring berjalannya waktu, semuanya akan terus berubah. Enam bulan lalu, dedaunan mulai berguguran. Berbagai jenis tumbuhan bersepakat untuk sama-sama menyiapkan diri memasuki musim yang mencekam. Tiga bulan setelah itu udara dingin pun mulai menusuk tulang. Pepohonan beristirahat sejenak dari aktivitas sepanjang tahun yang melelahkan. Tiga bulan yang berat itu pun berlalu. Ribuan makhluk pun mulai kembali segar. Dedaunan di ujung-ujung ranting kembali bermunculan. Kicauan burung yang bersahut-sahutan turut memberi hiburan.

Ketika Miranda dan Robert kembali ke Perth, musim semi baru saja tiba. Miranda merasa tidak hanya alam yang memasuki musim semi yang indah. Hidupnya pun kini juga mulai memasuki musim yang sama. Dia merasa roda kehidupan mulai berpihak padanya. Kesulitan-kesulitannya perlahan mulai teratasi dan mereda. Kesediaan Arvin kembali ke QDC menjadi salah satu kabar gembira. Efeknya langsung terasa. Banyak klien perusahaan kembali percaya kepada perusahaan mereka.

Kalau ada yang masih mengganjal di hatinya, itu hanya tentang Vania. Sikap gadis cilik itu masih belum berubah. Hingga dia kembali ke Perth, sang gadis masih belum ingin diajak bicara. Miranda pun menyerah. Mungkin hanya sang waktu yang dapat memperbaikinya. Bagaimanapun, dia tetap bertekad akan kembali mendekati Vania ketika ada momen yang tepat nantinya. Untuk sementara waktu, dia lebih memilih menikmati momen indah bersama suaminya.

Janji Robert bahwa Bram tidak akan mengganggu mereka terbukti nyata. Hampir dua minggu setelah mereka berada di Perth, Miranda tidak pernah lagi dihubungi oleh pria misterius itu. Tidak ada lagi pesan singkat yang bernada mengancam. Tapi Miranda tetap penasaran. Dia pun kembali menanyakan itu ketika Robert pulang lebih cepat di suatu sore.

"Jadi Bram benar-benar tidak akan mengganggu kita lagi?" tanyanya memulai obrolan ketika Robert sudah bergabung dengannya di ruang keluarga.

"Tidak akan. Dia sudah tidak berada di kota ini lagi, sudah pindah tugas ke Newcastle, dekat Sydney sana," jawab Robert menatap Miranda dengan begitu keyakinan.

"Ooh. Baguslah kalau begitu."

"Sudah, ya. Tidak usah diingat lagi. Itu hanya akan membuatmu kembali khawatir. Lebih baik kita mensyukuri dan menikmati apa yang ada sekarang."

Suara Robert terdengar sangat menenangkan.

"Oke!"

Belakangan ini Miranda semakin mudah mengukir senyuman. Hatinya kembali bisa berbunga-bunga.

"Sip!" kata Robert sambil tersenyum tak kalah indahnya.

Waktu benar-benar telah menjalankan tugasnya. Sang waktu mulai menghadirkan kegembiraan-kegembiraan, menggantikan kesedihan-kesedihan yang dulu seolah tak berkesudahan. Kunci menghadapi sang waktu hanyalah kesabaran. Miranda boleh dibilang telah memiliki itu sehingga dia berhasil lulus ujian dengan gemilang.

"Oh, iya. Tadi aku belanja bahan-bahan dapur. Kamu mau dimasakin apa?"

"Kayaknya, apa saja yang kamu masak, pasti enak," jawab Robert sambil menggoda.

"Masak air putih doang juga enak?" tanya Miranda lagi sambil memasang ekspresi ragu.

"Iya. He he he...."

"Gombal!" balas Miranda. Kali ini dia menanggapi dengan seringai. Sepertinya dia mulai dapat kembali menikmati suasana.

"Benaran! Asal pas minumnya sambil memandangimu," lanjut Robert senyum-senyum sambil matanya berkedip-kedip.

"Hadeh... makin menjadi-jadi deh!" balas Miranda langsung beranjak dan menjauh.

"Eh... Kok malah kabur?"

Robert hendak menangkap pinggang Miranda tapi luput.

Miranda bergerak lebih gesit.

"Mau masak dulu, biar pangeran tercinta betah di rumah," katanya sambil melangkah cepat menuju dapur.

"Asyik! Kayaknya berat badanku bakal naik drastis minggu ini."

"Biarlah Biar terlihat sejahtera. Ha ha..."

"Kamu tidak menyesal kalau nanti tidak bisa melihat six packs-ku lagi?"

"Hihi... Kayak Thor pensiun, ya?" kata Miranda menjawab dari dapur.

Dia pun langsung terbayang film Avenger yang mereka tonton berdua lewat aplikasi ponsel beberapa hari yang lalu.

"Yaa... begitu, deh" ujar Robert.

Dia langsung paham dengan ucapan istrinya itu, sebab mereka menonton film itu berdua. Di dalam film itu, perut Thor yang tampak kekar, berubah menjadi buncit karena terlalu lama menganggur. 

Sambil senyum-senyum sendiri, Miranda membuka lemari es dan mengeluarkan bahan-bahan yang dibelinya tadi. Tampak rona kebahagiaan terpancar di wajahnya. Memasak untuk makan malam pun, kini telah menjadi aktivitas membahagiakan baginya. 

***

Momen indah di kehidupan Miranda makin terasa tatkala Robert mengabarkan kabar gembira lainnya seminggu kemudian.

"Aku dapat tawaran promosi naik jabatan dan pindah ke kantor pusat di Paris. Bagaimana menurutmu?" tanya Robert meminta tanggapan istrinya.

"Benarkah?" tanya Miranda terbelalak.

"Iya benar," jawab Robert makin serius.

"Sebenarnya aku sempat terpikir untuk pindah. Tinggal di sini rasanya sudah tidak kondusif lagi. Tapi aku masih ragu menyampaikannya padamu. Kamu memang ditugaskan di sini."

"Benarkah? Berarti tawaran itu sangat tepat, dong?" tanya Robert lagi ingin meyakinkan diri sendiri.

Miranda pun tersenyum.

"Tapi aku tidak sampai terpikir kalau pindahnya ke Paris sana. Bagiku kembali ke Jakarta saja sudah cukup."

"Berarti kamu tidak setuju kalau kita pindah ke Paris?" tanya Robert sambil menatap ragu.

"Setuju, dong! Itu malah melebihi ekspektasi. Siapa yang tidak mau tinggal di kota seromantis itu," jawab Miranda sambil melonjak kesenangan dari tempat duduk.

Dia mendekati Robert dan menggenggam tangan suaminya itu dengan sangat erat.

"Ooh! Aku kira kamu maunya pindah ke Jakarta saja. He he..."

"Tidaklah, Sayang. Ke Paris malah jauh lebih menyenangkan," timbal Miranda.

Raut kebahagiaan langsung memancar dari wajahnya.

"Kapan jadinya?" tanyanya kemudian.

"Sebenarnya aku belum mengiyakan tawaran itu. Kalau nanti persetujuanku sudah disampaikan, paling cepat dua minggu lagi."

"Berarti aku masih ada waktu untuk membicarakan dengan Papa. Aku sudah berniat mengundurkan diri dari perusahaan di sini."

"Iya," jawab Robert sambil mengangguk.

"Terima kasih, ya, Sayang, atas kabar gembira ini."

Miranda langsung memeluk Robert dengan erat.

"Sebenarnya, selain kabar gembira ini, ada pula kabar dukanya."

"Kabar apa?"

Miranda melepaskan pelukannya. Ekspresinya langsung berubah. Dia tampak ketakutan. Dia menatap mata Robert lekat-lekat.

"Awalnya posisi ini akan diberikan kepada Lorenzo. Aku hanya jadi pilihan kedua. Tapi seminggu yang lalu dia ditemukan tewas di apartemennya. Hasil uji forensik menunjukkan kalau dia overdosis obat tidur," kata Robert tampak sedih.

"Ooh!" kata Miranda sambil menutup mulut.

"Tapi itu malah menjadi berkah buatmu," katanya kemudian. Dia pun kembali tenang.

"Tidak. Ini berkah dan hadiah untukmu, yang telah sabar menghadapi berbagai cobaan dan ujian selama ini," kata Robert sambil menatap tajam ke mata istrinya.

Miranda hanya mengangguk.

Suasana pun berubah menjadi hening cukup lama. Sampai kemudian Robert kembali bersuara,

"Di Paris juga ada seorang ahli yang mampu mengatasi masalah-masalah seksual. Mungkin dia bisa membantuku," katanya dengan suara lambat dan pelan.

Sepertinya dia masih ragu untuk membahas masalah itu.

Miranda langsung mengerutkan dahi. Tidak menyangka Robert masih membahas itu.

"Tidak usah dibahas lagi. Aku sudah menerimamu apa adanya," katanya tersenyum berusaha menenangkan.

Setelah melewati banyak tragedi belakangan ini, Miranda mulai menanamkan tekad untuk menerima Robert apa adanya, bukan hanya kelebihan-kelebihannya, melainkan juga kekurangan-kekurangannya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kebahagiaan itu bergantung pada bagaimana menyikapi segala yang ada. Miranda memilih untuk menerima yang sudah ditetapkan, mengubah yang masih bisa diusahakan, mensyukuri apa yang sudah didapatkan, menyerahkan hasil akhirnya hanya kepada Tuhan.

Waktu benar-benar telah berdamai dengan Miranda. Kehidupannya bersama Robert mulai dinaungi ketenangan. Pekerjaan mereka berjalan lancar. Robert pulang selalu lebih awal. Mereka nyaris setiap malam makan bersama di rumah. Setelah bersenda gurau sebentar, mereka beranjak ke tempat tidur untuk tidur lebih awal dari biasanya. 

***

Entah kenapa, ketenangan malam Robert dan Miranda sedikit terganggu di suatu malam. Lewat tengah malam, tiba-tiba mendadak terdengar bunyi bel.

Ting! Tong!

Miranda yang sangat sensitif dengan suara-suara, langsung terbangun. Dia menoleh ke samping. Dilihatnya Robert masih tertidur pulas. Dia menunggu sebentar. Apakah suara tadi hanya ada di dalam mimpinya, atau memang ada orang yang memencet bel ingin bertamu. Diliriknya jam di atas meja samping tempat tidur, sudah menunjukkan pukul satu tengah malam.

Ting! Tong! Bunyi bel kembali terdengar.

Itu berarti bukan mimpi. Memang ada orang yang ingin bertamu. Miranda pun membangunkan Robert. Digoyang-goyangkannya tubuh suaminya sambil berbisik,

"Sayang! Bangun!"

Robert menggeliat sedikit sebelum menanggapi. "Iya. Ada apa?"

"Ada orang memencet bel."

"Siapa?"

"Tidak tahu. Belum dilihat."

"Jam berapa sekarang?"

"Jam satu."

"Ooh. Tumben aku tidur siang-siang begini."

"Sekarang jam satu malam."

"Hah!!!"

Robert langsung terlonjak kaget. Dia langsung duduk di tempat tidur. Setelah mulai sadar seratus persen, dia turun dari tempat tidur lalu beranjak menuju ruang tamu. Miranda menyusul di belakangnya.

Robert mengintip melalui lubang kecil di pintu. Terlihat dua orang pria mengenakan jaket hitam.

"Siapa?!" Robert berteriak dari dalam.

"Kami dari Departemen Kepolisian Kota Perth! Ada urusan penting!"

Salah satu polisi menunjukkan lencana dan surat tugas dari luar pintu.

Robert kembali kaget. Napasnya sempat tercekat. Ekspresi kecemasan sempat tampak sekilas di wajahnya sebelum digantinya dengan ekspresi ketenangan.

"Benar itu polisi?" tanya Miranda cemas.

"Sepertinya, iya. Tapi tenang. Kita tidak melakukan kejahatan," jawab Robert tersenyum, berusaha menenangkan istrinya.

"Saudara Robert. Kami hendak meminta keterangan dari Anda."

Polisi yang tadi kembali berbicara.

"Tentang apa?" tanya Robert.

"Nanti saja di kantor. Anda ikut saja dulu."

Polisi satunya ikut menanggapi.

"Saya ganti baju dulu."

"Tidak usah. Seperti itu saja. Tolong buka dulu pintunya."

"Jangan dibuka! Siapa tahu mereka penipu atau perampok," kata Miranda memperingatkan.

"Mereka benar-benar polisi. Saya mengenali salah satunya," kata Robert menenangkan Miranda.

Dia pun menggeser gerendel pintu, memutar gagang pintu, dan menariknya sehingga pintu pun terbuka.

"Silakan," kata salah seorang polisi meminta Robert keluar.

Robert memeluk Miranda berusaha menenangkan.

"Tidak usah cemas. Aku hanya dimintai keterangan."

"Tapi...?" kata Miranda ingin memprotes.

Robert meletakkan telunjuknya di depan bibir Miranda.

"Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa."

Miranda berdiri mematung. 

"Aku ikut denganmu," katanya dengan suara terdengar bergetar.

Robert langsung menggeleng.

"Tidak usah, Sayang. Kamu di rumah saja. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa."

Robert melangkah keluar. Dia menoleh sebentar ke arah Miranda sebelum melangkah di depan dua polisi itu. Mereka bertiga berjalan santai di sepanjang lorong itu menuju lift. Setelah menunggu sebentar, pintu lift terbuka dan mereka pun masuk. Mereka menghilang ketika pintu lift menutup.

Miranda hanya bisa terpana seolah tidak percaya. Dia mencubit tangan sendiri untuk memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi. Dia terpekik sendiri ketika rasa sakit akibat cubitan itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak sedang bermimpi! 

***

Pagi-pagi sekali, Miranda sudah berada kantor polisi.

"Aku mau menemui suamiku," katanya kepada petugas jaga.

"Siapa namanya?" tanya petugas itu.

"Robert. Semalam dia dibawa ke sini. Katanya mau dimintai keterangan sebagai saksi," jawab Miranda.

"Sebentar," kata petugas itu.

Dia langsung mengetikkan nama Robert mengamati hasilnya di layar komputer.

"Oh. Datanya belum masuk. Tidak ada nama Robert di sini. Saya tanya petugas yang memeriksanya tadi malam dulu."

"Iya. Silakan."

Miranda terlihat semakin was-was.

Si petugas mengangkat telepon, lalu menekan nomor tertentu.

Pikiran-pikiran aneh kembali berkecamuk di kepala Miranda selagi petugas itu sedang menelepon.. Hatinya makin gelisah. Apa sebenarnya yang sedang terjadi. Kalau bukan kasus yang penting, tidak mungkin suaminya dijemput di tengah malam.

"Maaf. Suamimu sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sekarang dia sedang ditahan. Dia juga berpesan belum ingin menemui siapa pun kecuali pengacaranya," kata petugas yang tadi menelepon.

"Apa?!!!" teriak Miranda panik. Dia tampak tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.

"Aku istrinya! Aku ingin menemuinya!" katanya kemudian masih dengan berteriak-teriak.

"Dia menyebutkan secara spesifik siapa saja yang belum ingin ditemuinya. Dia juga belum ingin menemui Anda, Nyonya," kata si petugas menjawab tenang.

"Dia tersangka kasus apa?!" tanya Miranda dengan nada yang makin tinggi.

"Pembunuhan."

"Apa?!!! Tidak mungkin!!!" teriak Miranda lagi.

Tiba-tiba tubuhnya ambruk ke lantai.

Beberapa polisi langsung mendekat. Mereka langsung mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya ke kursi.

Salah satu petugas langsung mengambil air putih.

Beberapa menit kemudian, Miranda kembali siuman. Matanya langsung basah. Air matanya tak mampu dibendung. Namun dia tidak terlihat histeris.

Salah seorang polisi menjelaskan sepintas apa yang sedang terjadi. Dia juga menjelaskan proses yang akan dilewati suaminya ke depannya. Untuk saat ini, Miranda dipersilahkan untuk pulang terlebih dahulu, terutama menemui keluarga untuk menyiapkan segala sesuatu ke depannya.

Miranda yang sudah terlihat lebih bertenaga mulai berdiri dan melangkah gontai keluar dari kantor polisi. Dilihatnya beberapa pohon masih belum selesai mengembalikan dedaunan di dahan-dahannya seperti sediakala.

Musim semi baru saja berlangsung separuh perjalanan. Namun bagi Miranda, musim semi kehidupannya sudah berakhir sejak tadi malam.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar