Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ketika Miranda dan Robert kembali ke Perth, musim semi baru
saja tiba. Miranda merasa tidak hanya alam yang memasuki musim semi yang indah.
Hidupnya pun kini juga mulai memasuki musim yang sama. Dia merasa roda
kehidupan mulai berpihak padanya. Kesulitan-kesulitannya perlahan mulai
teratasi dan mereda. Kesediaan Arvin kembali ke QDC menjadi salah satu kabar
gembira. Efeknya langsung terasa. Banyak klien perusahaan kembali percaya
kepada perusahaan mereka.
Kalau ada yang masih mengganjal di hatinya, itu hanya
tentang Vania. Sikap gadis cilik itu masih belum berubah. Hingga dia kembali ke
Perth, sang gadis masih belum ingin diajak bicara. Miranda pun menyerah.
Mungkin hanya sang waktu yang dapat memperbaikinya. Bagaimanapun, dia tetap
bertekad akan kembali mendekati Vania ketika ada momen yang tepat nantinya.
Untuk sementara waktu, dia lebih memilih menikmati momen indah bersama
suaminya.
Janji Robert bahwa Bram tidak akan mengganggu mereka
terbukti nyata. Hampir dua minggu setelah mereka berada di Perth, Miranda tidak
pernah lagi dihubungi oleh pria misterius itu. Tidak ada lagi pesan singkat
yang bernada mengancam. Tapi Miranda tetap penasaran. Dia pun kembali
menanyakan itu ketika Robert pulang lebih cepat di suatu sore.
"Jadi Bram benar-benar tidak akan mengganggu kita
lagi?" tanyanya memulai obrolan ketika Robert sudah bergabung dengannya di
ruang keluarga.
"Tidak akan. Dia sudah tidak berada di kota ini lagi,
sudah pindah tugas ke Newcastle, dekat Sydney sana," jawab Robert menatap
Miranda dengan begitu keyakinan.
"Ooh. Baguslah kalau begitu."
"Sudah, ya. Tidak usah diingat lagi. Itu hanya akan
membuatmu kembali khawatir. Lebih baik kita mensyukuri dan menikmati apa yang
ada sekarang."
Suara Robert terdengar sangat menenangkan.
"Oke!"
Belakangan ini Miranda semakin mudah mengukir senyuman.
Hatinya kembali bisa berbunga-bunga.
"Sip!" kata Robert sambil tersenyum tak kalah
indahnya.
Waktu benar-benar telah menjalankan tugasnya. Sang waktu
mulai menghadirkan kegembiraan-kegembiraan, menggantikan kesedihan-kesedihan
yang dulu seolah tak berkesudahan. Kunci menghadapi sang waktu hanyalah
kesabaran. Miranda boleh dibilang telah memiliki itu sehingga dia berhasil
lulus ujian dengan gemilang.
"Oh, iya. Tadi aku belanja bahan-bahan dapur. Kamu mau
dimasakin apa?"
"Kayaknya, apa saja yang kamu masak, pasti enak,"
jawab Robert sambil menggoda.
"Masak air putih doang juga enak?" tanya Miranda
lagi sambil memasang ekspresi ragu.
"Iya. He he he...."
"Gombal!" balas Miranda. Kali ini dia menanggapi dengan
seringai. Sepertinya dia mulai dapat kembali menikmati suasana.
"Benaran! Asal pas minumnya sambil memandangimu,"
lanjut Robert senyum-senyum sambil matanya berkedip-kedip.
"Hadeh... makin menjadi-jadi deh!" balas Miranda
langsung beranjak dan menjauh.
"Eh... Kok malah kabur?"
Robert hendak menangkap pinggang Miranda tapi luput.
Miranda bergerak lebih gesit.
"Mau masak dulu, biar pangeran tercinta betah di
rumah," katanya sambil melangkah cepat menuju dapur.
"Asyik! Kayaknya berat badanku bakal naik drastis
minggu ini."
"Biarlah Biar terlihat sejahtera. Ha ha..."
"Kamu tidak menyesal kalau nanti tidak bisa
melihat six packs-ku lagi?"
"Hihi... Kayak Thor pensiun, ya?" kata Miranda
menjawab dari dapur.
Dia pun langsung terbayang film Avenger yang mereka tonton
berdua lewat aplikasi ponsel beberapa hari yang lalu.
"Yaa... begitu, deh" ujar Robert.
Dia langsung paham dengan ucapan istrinya itu, sebab mereka
menonton film itu berdua. Di dalam film itu, perut Thor yang tampak kekar,
berubah menjadi buncit karena terlalu lama menganggur.
Sambil senyum-senyum sendiri, Miranda membuka lemari es dan mengeluarkan bahan-bahan yang dibelinya tadi. Tampak rona kebahagiaan terpancar di wajahnya. Memasak untuk makan malam pun, kini telah menjadi aktivitas membahagiakan baginya.
***
Momen indah di kehidupan Miranda makin terasa tatkala Robert
mengabarkan kabar gembira lainnya seminggu kemudian.
"Aku dapat tawaran promosi naik jabatan dan pindah ke
kantor pusat di Paris. Bagaimana menurutmu?" tanya Robert meminta
tanggapan istrinya.
"Benarkah?" tanya Miranda terbelalak.
"Iya benar," jawab Robert makin serius.
"Sebenarnya aku sempat terpikir untuk pindah. Tinggal
di sini rasanya sudah tidak kondusif lagi. Tapi aku masih ragu menyampaikannya
padamu. Kamu memang ditugaskan di sini."
"Benarkah? Berarti tawaran itu sangat tepat,
dong?" tanya Robert lagi ingin meyakinkan diri sendiri.
Miranda pun tersenyum.
"Tapi aku tidak sampai terpikir kalau pindahnya ke
Paris sana. Bagiku kembali ke Jakarta saja sudah cukup."
"Berarti kamu tidak setuju kalau kita pindah ke
Paris?" tanya Robert sambil menatap ragu.
"Setuju, dong! Itu malah melebihi ekspektasi. Siapa
yang tidak mau tinggal di kota seromantis itu," jawab Miranda sambil
melonjak kesenangan dari tempat duduk.
Dia mendekati Robert dan menggenggam tangan suaminya itu
dengan sangat erat.
"Ooh! Aku kira kamu maunya pindah ke Jakarta saja. He
he..."
"Tidaklah, Sayang. Ke Paris malah jauh lebih
menyenangkan," timbal Miranda.
Raut kebahagiaan langsung memancar dari wajahnya.
"Kapan jadinya?" tanyanya kemudian.
"Sebenarnya aku belum mengiyakan tawaran itu. Kalau
nanti persetujuanku sudah disampaikan, paling cepat dua minggu lagi."
"Berarti aku masih ada waktu untuk membicarakan dengan
Papa. Aku sudah berniat mengundurkan diri dari perusahaan di sini."
"Iya," jawab Robert sambil mengangguk.
"Terima kasih, ya, Sayang, atas kabar gembira
ini."
Miranda langsung memeluk Robert dengan erat.
"Sebenarnya, selain kabar gembira ini, ada pula kabar
dukanya."
"Kabar apa?"
Miranda melepaskan pelukannya. Ekspresinya langsung berubah.
Dia tampak ketakutan. Dia menatap mata Robert lekat-lekat.
"Awalnya posisi ini akan diberikan kepada Lorenzo. Aku
hanya jadi pilihan kedua. Tapi seminggu yang lalu dia ditemukan tewas di
apartemennya. Hasil uji forensik menunjukkan kalau dia overdosis obat
tidur," kata Robert tampak sedih.
"Ooh!" kata Miranda sambil menutup mulut.
"Tapi itu malah menjadi berkah buatmu," katanya
kemudian. Dia pun kembali tenang.
"Tidak. Ini berkah dan hadiah untukmu, yang telah sabar
menghadapi berbagai cobaan dan ujian selama ini," kata Robert sambil
menatap tajam ke mata istrinya.
Miranda hanya mengangguk.
Suasana pun berubah menjadi hening cukup lama. Sampai
kemudian Robert kembali bersuara,
"Di Paris juga ada seorang ahli yang mampu mengatasi
masalah-masalah seksual. Mungkin dia bisa membantuku," katanya dengan
suara lambat dan pelan.
Sepertinya dia masih ragu untuk membahas masalah itu.
Miranda langsung mengerutkan dahi. Tidak menyangka Robert
masih membahas itu.
"Tidak usah dibahas lagi. Aku sudah menerimamu apa
adanya," katanya tersenyum berusaha menenangkan.
Setelah melewati banyak tragedi belakangan ini, Miranda
mulai menanamkan tekad untuk menerima Robert apa adanya, bukan hanya kelebihan-kelebihannya,
melainkan juga kekurangan-kekurangannya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Kebahagiaan itu bergantung pada bagaimana menyikapi segala yang ada. Miranda
memilih untuk menerima yang sudah ditetapkan, mengubah yang masih bisa diusahakan,
mensyukuri apa yang sudah didapatkan, menyerahkan hasil akhirnya hanya kepada
Tuhan.
Waktu benar-benar telah berdamai dengan Miranda. Kehidupannya bersama Robert mulai dinaungi ketenangan. Pekerjaan mereka berjalan lancar. Robert pulang selalu lebih awal. Mereka nyaris setiap malam makan bersama di rumah. Setelah bersenda gurau sebentar, mereka beranjak ke tempat tidur untuk tidur lebih awal dari biasanya.
***
Entah kenapa, ketenangan malam Robert dan Miranda sedikit
terganggu di suatu malam. Lewat tengah malam, tiba-tiba mendadak terdengar
bunyi bel.
Ting! Tong!
Miranda yang sangat sensitif dengan suara-suara, langsung
terbangun. Dia menoleh ke samping. Dilihatnya Robert masih tertidur pulas. Dia
menunggu sebentar. Apakah suara tadi hanya ada di dalam mimpinya, atau memang
ada orang yang memencet bel ingin bertamu. Diliriknya jam di atas meja samping
tempat tidur, sudah menunjukkan pukul satu tengah malam.
Ting! Tong! Bunyi bel kembali terdengar.
Itu berarti bukan mimpi. Memang ada orang yang ingin
bertamu. Miranda pun membangunkan Robert. Digoyang-goyangkannya tubuh suaminya
sambil berbisik,
"Sayang! Bangun!"
Robert menggeliat sedikit sebelum menanggapi. "Iya. Ada
apa?"
"Ada orang memencet bel."
"Siapa?"
"Tidak tahu. Belum dilihat."
"Jam berapa sekarang?"
"Jam satu."
"Ooh. Tumben aku tidur siang-siang begini."
"Sekarang jam satu malam."
"Hah!!!"
Robert langsung terlonjak kaget. Dia langsung duduk di
tempat tidur. Setelah mulai sadar seratus persen, dia turun dari tempat tidur
lalu beranjak menuju ruang tamu. Miranda menyusul di belakangnya.
Robert mengintip melalui lubang kecil di pintu. Terlihat dua
orang pria mengenakan jaket hitam.
"Siapa?!" Robert berteriak dari dalam.
"Kami dari Departemen Kepolisian Kota Perth! Ada urusan
penting!"
Salah satu polisi menunjukkan lencana dan surat tugas dari
luar pintu.
Robert kembali kaget. Napasnya sempat tercekat. Ekspresi
kecemasan sempat tampak sekilas di wajahnya sebelum digantinya dengan ekspresi
ketenangan.
"Benar itu polisi?" tanya Miranda cemas.
"Sepertinya, iya. Tapi tenang. Kita tidak melakukan
kejahatan," jawab Robert tersenyum, berusaha menenangkan istrinya.
"Saudara Robert. Kami hendak meminta keterangan dari
Anda."
Polisi yang tadi kembali berbicara.
"Tentang apa?" tanya Robert.
"Nanti saja di kantor. Anda ikut saja dulu."
Polisi satunya ikut menanggapi.
"Saya ganti baju dulu."
"Tidak usah. Seperti itu saja. Tolong buka dulu
pintunya."
"Jangan dibuka! Siapa tahu mereka penipu atau
perampok," kata Miranda memperingatkan.
"Mereka benar-benar polisi. Saya mengenali salah
satunya," kata Robert menenangkan Miranda.
Dia pun menggeser gerendel pintu, memutar gagang pintu, dan
menariknya sehingga pintu pun terbuka.
"Silakan," kata salah seorang polisi meminta
Robert keluar.
Robert memeluk Miranda berusaha menenangkan.
"Tidak usah cemas. Aku hanya dimintai keterangan."
"Tapi...?" kata Miranda ingin memprotes.
Robert meletakkan telunjuknya di depan bibir Miranda.
"Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa."
Miranda berdiri mematung.
"Aku ikut denganmu," katanya dengan suara
terdengar bergetar.
Robert langsung menggeleng.
"Tidak usah, Sayang. Kamu di rumah saja. Mudah-mudahan
tidak ada apa-apa."
Robert melangkah keluar. Dia menoleh sebentar ke arah
Miranda sebelum melangkah di depan dua polisi itu. Mereka bertiga berjalan
santai di sepanjang lorong itu menuju lift. Setelah menunggu sebentar, pintu
lift terbuka dan mereka pun masuk. Mereka menghilang ketika pintu lift menutup.
Miranda hanya bisa terpana seolah tidak percaya. Dia mencubit tangan sendiri untuk memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi. Dia terpekik sendiri ketika rasa sakit akibat cubitan itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak sedang bermimpi!
***
Pagi-pagi sekali, Miranda sudah berada kantor polisi.
"Aku mau menemui suamiku," katanya kepada petugas
jaga.
"Siapa namanya?" tanya petugas itu.
"Robert. Semalam dia dibawa ke sini. Katanya mau
dimintai keterangan sebagai saksi," jawab Miranda.
"Sebentar," kata petugas itu.
Dia langsung mengetikkan nama Robert mengamati hasilnya di
layar komputer.
"Oh. Datanya belum masuk. Tidak ada nama Robert di
sini. Saya tanya petugas yang memeriksanya tadi malam dulu."
"Iya. Silakan."
Miranda terlihat semakin was-was.
Si petugas mengangkat telepon, lalu menekan nomor tertentu.
Pikiran-pikiran aneh kembali berkecamuk di kepala Miranda
selagi petugas itu sedang menelepon.. Hatinya makin gelisah. Apa sebenarnya
yang sedang terjadi. Kalau bukan kasus yang penting, tidak mungkin suaminya
dijemput di tengah malam.
"Maaf. Suamimu sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Sekarang dia sedang ditahan. Dia juga berpesan belum ingin menemui siapa pun
kecuali pengacaranya," kata petugas yang tadi menelepon.
"Apa?!!!" teriak Miranda panik. Dia tampak tidak
percaya dengan apa yang sedang terjadi.
"Aku istrinya! Aku ingin menemuinya!" katanya
kemudian masih dengan berteriak-teriak.
"Dia menyebutkan secara spesifik siapa saja yang belum
ingin ditemuinya. Dia juga belum ingin menemui Anda, Nyonya," kata si
petugas menjawab tenang.
"Dia tersangka kasus apa?!" tanya Miranda dengan
nada yang makin tinggi.
"Pembunuhan."
"Apa?!!! Tidak mungkin!!!" teriak Miranda lagi.
Tiba-tiba tubuhnya ambruk ke lantai.
Beberapa polisi langsung mendekat. Mereka langsung
mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya ke kursi.
Salah satu petugas langsung mengambil air putih.
Beberapa menit kemudian, Miranda kembali siuman. Matanya
langsung basah. Air matanya tak mampu dibendung. Namun dia tidak terlihat
histeris.
Salah seorang polisi menjelaskan sepintas apa yang sedang
terjadi. Dia juga menjelaskan proses yang akan dilewati suaminya ke depannya.
Untuk saat ini, Miranda dipersilahkan untuk pulang terlebih dahulu, terutama
menemui keluarga untuk menyiapkan segala sesuatu ke depannya.
Miranda yang sudah terlihat lebih bertenaga mulai berdiri
dan melangkah gontai keluar dari kantor polisi. Dilihatnya beberapa pohon masih
belum selesai mengembalikan dedaunan di dahan-dahannya seperti sediakala.
Musim semi baru saja berlangsung separuh perjalanan. Namun bagi Miranda, musim semi kehidupannya sudah berakhir sejak tadi malam.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.