Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 29. Alasan Terakhir

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 29. Alasan Terakhir
__________________________________________

Suasana di depan ruang sidang masih terlihat lengang ketika Miranda tiba di sana. Sesuai jadwal, sidang pembacaan putusan kasus pembunuhan dengan terdakwa atas nama Robert akan dilangsungkan pukul 09.00 di ruang sidang ini. Di jadwal yang dipajang di depan ruang sidang, Robert mendapat jadwal pertama. Setelah mengenalkan diri dan menjelaskan maksudnya pada petugas yang duduk di meja informasi, Miranda pun diperbolehkan masuk.

Sebenarnya sidang pembacaan putusan ini merupakan sidang terbuka, artinya bisa dihadiri oleh siapa pun. Tapi tampaknya, dari pihak Robert hanya akan disaksikan oleh Miranda sendiri  persis seperti sidang sebelumnya. Pengunjung lainnya lebih banyak dari pihak keluarga Bramantara, keluarga Lorenzo, beberapa orang wartawan, serta orang-orang yang tidak terkait sama sekali dengan pihak yang sedang berperkara.

Di sidang-sidang awal, kedua orang tua Robert dan adik-adiknya masih sempat datang dari Jakarta, khusus untuk menghadiri sidang. Mereka memberikan dukungan karena percaya Robert tidak mungkin melakukan tindak kejahatan berat seperti yang dituduhkan padanya. Mereka menduga Robert sedang mengalami masalah bisnis dan difitnah telah melakukan pembunuhan.

Hal-hal seperti itu bukan sesuatu yang mustahil dan sering terjadi. Orang tua Robert bahkan bersedia mengeluarkan uang banyak untuk membayar pengacara paling hebat di Kota Perth untuk membebaskan Robert dari tuduhan. Mendapat dukungan penuh seperti itu, Robert pun terlihat sangat bersemangat membela diri.

Namun, pada persidangan berikutnya, keanehan Robert mulai terungkap di persidangan. Puluhan video rekaman hubungan terlarangnya dengan Bramantara sempat dipaparkan sekilas di persidangan sebagai barang bukti. Rekaman itu diserahkan Jones, salah satu polisi rekan kerja Bramantara, kepada para penyidik. Dengan bukti-bukti dan kesaksian yang kuat yang dimiliki kepolisian itu, Robert pun akhirnya mengakui kecenderungan seksualnya itu. Namun dia tetap menolak melakukan pembunuhan.

Terkuaknya kecenderungan seksual Robert itu ternyata membuat keluarganya sangat terpukul sekaligus murka. Mereka tidak pernah menduga kalau Robert ternyata penyuka sesama jenis. Mereka mulai tidak hadir di persidangan berikutnya.

Robert semakin di ujung tanduk. Bukti-bukti dan kesaksian kuat lainnya kembali diajukan di persidangan. Bram sempat mengaku pada Jones kalau dia diancam akan dibunuh oleh Robert. Ancaman itu juga disampaikan Bram kepada beberapa rekan kerja lainnya. Kesaksian mereka sangat konsisten.

Rupanya Robert juga sangat ceroboh. Dia tidak sempat membersihkan sidik jari di wadah pisau dapur yang digunakan untuk menusuk jantung Bram. Selembar rambut kemaluan Robert juga tertinggal di mulut Bram ketika dia meninggal. Pada saat pembunuhan, diduga mereka masih sempat berhubungan seksual. Entah karena mereka sedang bergairah atau strategi Robert untuk membuat Bram lengah.

Robert tetap bersikukuh membantah semua bukti dan kesaksian itu. Dia tidak membantah hubungan terlarang dirinya dengan Bram. Namun dia terus bersikeras tidak melakukan pembunuhan. Bukti-bukti dan kesaksian itu tidak membuktikan secara langsung kalau dialah pembunuh Bram.

Bagi, juri, jaksa, dan para pengunjung sidang, fakta-fakta itu sudah cukup terang benderang untuk membuktikan Robert memang pembunuh Bram. Itu juga yang kemudian ada di pikiran keluarga Robert sendiri. Menurut mereka, Robert memang telah membunuh kedua orang itu. Mereka semakin terpukul. Keterkejutan sekaligus kekecewaan mereka tampaknya tidak dapat diobati lagi. Mereka pun berubah pikiran. Mereka menghentikan semua dukungan termasuk uang jasa untuk membayar pembela hukum.

Pemberitaan massif tentang diri Robert yang sampai ke Jakarta membuat orang tuanya makin naik pitam. Mereka pun kemudian memberikan pernyataan resmi yang sangat mengejutkan. Mereka membongkar status Robert yang sebenarnya dalam keluarga. Robert hanyalah anak adopsi! Mereka mengadopsi Robert dari panti asuhan saat umurnya belum genap setahun. Tidak mau dipermalukan Robert lebih jauh, mereka pun mengeluarkan Robert dari anggota keluarga. Itu artinya, Robert bukan lagi bagian dari keluarga mereka.

Hilangnya semua dukungan dari keluarga, membuat tim pengacara Robert pun ikut mengundurkan diri. Mereka cukup cerdas untuk tidak mencoreng reputasi sendiri gara-gara membela tindakan Robert. Apalagi Robert juga kesulitan untuk membayar jasa bantuan hukum pada mereka. Setelah itu, Robert pun hanya didampingi pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan.

Sidang setelah itu menjadi tidak bertele-tele lagi. Robert tidak lagi melakukan penolakan atau pembelaan. Sebaliknya, dia mengakui semua perbuatannya. Dia mengiyakan semua tuduhan yang disampaikan jaksa penuntut umum. Bahkan dia menceritakan kronologi, modus, dan motif pembunuhan yang dilakukannya.

Motif pembunuhan terhadap Bramantara dilakukannya karena dia tidak mau lagi diteror pria itu. Apalagi pria itu sudah sampai mengancam Miranda. Dia tidak punya pilihan lain untuk menyingkirkan pria itu dari kehidupannya. Robert merasa selama Bramantara masih hidup, dia akan terus merongrong kehidupannya dengan Miranda. Membunuh pria itu adalah satu-satunya solusi yang terpikir olehnya.

Sementara itu pembunuhan terhadap Lorenzo dilakukannya karena ingin mendapatkan promosi naik jabatan dan pindah ke Paris. Lorenzo adalah saingannya untuk mendapatkan promosi itu. Robert ingin pindah ke Paris untuk menghilangkan jejak atas pembunuhan Bramantara.

Sidang pun kemudian menjadi antiklimaks. Tidak ada lagi perang argumen antara jaksa dengan pembela. Kerja hakim dan para juri pun menjadi mudah. Dalam waktu singkat, hakim sudah dapat memutuskan putusan hukum untuk Robert.

Hari ini merupakan hari pembacaan putusan itu. Miranda yang sedari tadi duduk gelisah kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu pun mulai masuk pukul 09.00. Jaksa penuntut umum terlihat lebih dulu masuk ke ruang sidang. Setelah itu, Robert dan kuasa hukumnya juga ikut masuk. Para juri juga masuk dan menempati tempat mereka masing-masing. Beberapa menit kemudian tiga orang hakim yang memimpin sidang juga memasuki ruang sidang.

Robert yang sudah mengenakan pakaian tahanan menoleh ke arah tempat duduk pengunjung. Tatapannya langsung tertuju ke arah Miranda yang menjadi satu-satunya pengunjung untuknya saat ini. Matanya terlihat sayu. Dia tidak tahan menatap lama-lama ke arah istrinya. Sambil berjalan pelan ke tempat yang disediakan khusus untuk tersangka, dia kembali menundukkan kepala. Di tengah kenyataan memilukan yang sedang dihadapinya saat ini, ternyata masih ada secercah harapan baginya. Miranda masih bersedia menemaninya hingga sidang pembacaan putusan hari ini.

Sementara Miranda tak henti-hentinya menatap Robert semenjak suaminya itu datang, berjalan, dan duduk di tempat duduk yang disediakan khusus untuk tersangka. Dia langsung terenyuh melihat tatapan sepintas suaminya tadi. Sudut matanya mulai basah. Segera dilapnya butiran bening yang tidak dapat ditahannya agar tidak bergulir di pipi.

Tidak lama kemudian hakim pun membuka sidang. Hakim menanyakan beberapa hal kepada pihak jaksa maupun penasihat hukum Robert. Sesuai agenda, hakim pun pada akhirnya membacakan putusan sidang yang bunyinya menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada Robert seperti yang diajukan jaksa penuntut umum. Hukuman yang dijatuhkan kepada Robert menjadi maksimal karena dia melakukan pembunuhan berencana terhadap aparat kepolisian. Bramantara tercatat sebagai salah satu anggota Kepolisian Distrik Perth. Sesuai dengan undang-undang yang berlaku, pembunuhan terhadap aparat penegak hukum secara terencana dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Robert dapat sedikit bernafas lega, karena hukuman mati tidak diberlakukan di Australia. 

Hakim juga memberikan kesempatan Robert dan kuasa hukumnya untuk mengajukan banding paling lambat tujuh hari setelah pembacaan putusan. Robert tidak bersuara. Penguasa hukumnya tampak berbisik kepada Robert sebelum akhirnya menjawab,

"pikir-pikir dulu, Yang Mulia," tegasnya pada para hakim.

Robert merasa kalau vonis yang baru saja dijatuhkan hakim tidaklah terlalu berat dibandingkan vonis lainnya. Baginya, tidak diakui lagi sebagai anak dalam sebuah keluarga yang telah membesarkannya sejak bayi adalah hukuman terberat di dunia. Dia tidak yakin apakah masih kuat menjalani hidup setelah dihadapkan dengan kenyataan itu.

Setelah sidang ditutup dengan ketokan palu pak hakim, Robert pun dibawa keluar oleh dua orang petugas. Kuasa hukumnya terlihat berjalan ke arah yang berbeda. Sepertinya, kebersamaan mereka hanya sampai di situ. Tangan Robert masih tetap diborgol ketika dibawa menuju mobil tahanan yang terparkir di samping ruang sidang. Dia akan langsung dipindahkan ke penjara di sebelah selatan kota.

Miranda beranjak dari tempat duduknya dan berlari kecil ke arah petugas yang sedang membawa Robert. Ketika sudah berada sekitar dua meter di belakang kedua petugas itu, dia pun berteriak kecil,

"Boleh saya berbicara dengan Robert sebentar?" pintanya.

Kedua petugas itu berhenti dan menoleh. Tatapan mereka tampak menyelidik ke arah Miranda.

"Saya istrinya," kata Miranda langsung menjelaskan walau tidak ditanya.

Salah satu petugas itu pun mengangguk.

Miranda mendekati Robert.

Robert memutar tubuhnya ke samping menghadap ke arah Miranda yang sudah berada di sampingnya.

"Kamu juga membenciku?" katanya membuka percakapan.

Miranda tidak bersuara. Dia hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Kamu akan melakukan banding?" tanyanya balik pada Robert dengan suara pelan seperti berbisik.

Sorot matanya langsung tertuju pada mata Robert.

Kali ini Robert yang terdiam. Dia kemudian hanya menggeleng.

"Jadi kamu menerima hukuman itu?" tanya Miranda menatap tajam mata suaminya.

Robert langsung mengangguk tanpa keraguan. Tampaknya dia sudah yakin dengan keputusan yang diambilnya.

Miranda kehilangan kata-kata. Jika Robert memutuskan untuk tidak mengajukan banding, berarti Robert akan selamanya berada di penjara seperti bunyi vonis yang dibacakan hakim tadi. Berarti pupus sudah harapan mereka untuk bersama lagi.

Mungkin pernikahan mereka masih bisa dipertahankan. Tapi apakah pernikahan itu tetap bisa terus terjaga sementara mereka dipisahkan oleh jeruji besi sampai akhir hayat mereka?

"Sudah! Silakan naik ke mobil!" kata Petugas tadi merasa jengkel karena Robert dan Miranda hanya saling berdiam diri.

"Sebentar. Ada sedikit lagi yang ingin kusampaikan," kata Robert memohon kepada petugas yang barusan menegurnya.

Matanya terlihat mengiba ketika menatap petugas itu.

"Ya sudah! Satu menit!" teriak si petugas memberi batas waktu.

Robert mengalihkan tatapannya kepada Miranda. Dia menatap mata istrinya itu dengan khidmat sebelum kemudian berucap,

"Maukah kamu mengunjungiku setiap minggu?"

"Iya, Sayang. Aku akan mengunjungimu setiap minggu," kata Miranda spontan menjawab sambil berurai air mata.

"Terima kasih," balas Robert.

Akhirnya dia mampu melengkungkan bibirnya, membentuk senyum yang tak pernah dilakukannya semenjak ditangkap polisi tempo hari.

Miranda pun berusaha membalas dengan lengkungan yang tak kalah indah. Dia berharap senyumnya dapat menguatkan suaminya untuk tegar menghadapi takdir ini. Senyum itu agak terlihat aneh, sebab tidak sejalan dengan kedua matanya. Dia masih tak mampu membendung butiran-butiran bening yang terus menyeruak dari sudut matanya.

Robert memutar tubuh ke arah pintu keluar pengadilan. Dia melangkah dengan sedikit lebih bersemangat daripada sebelumnya. Kedua petugas itu kembali menggiringnya menuju mobil tahanan yang diparkir di samping ruang sidang.

Miranda ikut melangkah sejajar dengan Robert dan baru berhenti ketika Robert mulai mendekati mobil. Dia berdiri mematung sekitar dua meter dari pintu mobil tahanan. Matanya tak mengerjap sedikit pun memperhatikan Robert yang terus melangkah ke dalam mobil itu.

Sebelum petugas menutup pintu, Robert masih sempat menoleh ke arah Miranda dan berucap,

"Kamu adalahalasan terakhirku untuk tetap hidup."

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar