Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sebenarnya sidang pembacaan putusan ini merupakan sidang
terbuka, artinya bisa dihadiri oleh siapa pun. Tapi tampaknya, dari pihak
Robert hanya akan disaksikan oleh Miranda sendiri persis seperti sidang
sebelumnya. Pengunjung lainnya lebih banyak dari pihak keluarga Bramantara,
keluarga Lorenzo, beberapa orang wartawan, serta orang-orang yang tidak terkait
sama sekali dengan pihak yang sedang berperkara.
Di sidang-sidang awal, kedua orang tua Robert dan
adik-adiknya masih sempat datang dari Jakarta, khusus untuk menghadiri sidang.
Mereka memberikan dukungan karena percaya Robert tidak mungkin melakukan tindak
kejahatan berat seperti yang dituduhkan padanya. Mereka menduga Robert sedang
mengalami masalah bisnis dan difitnah telah melakukan pembunuhan.
Hal-hal seperti itu bukan sesuatu yang mustahil dan sering
terjadi. Orang tua Robert bahkan bersedia mengeluarkan uang banyak untuk
membayar pengacara paling hebat di Kota Perth untuk membebaskan Robert dari
tuduhan. Mendapat dukungan penuh seperti itu, Robert pun terlihat sangat
bersemangat membela diri.
Namun, pada persidangan berikutnya, keanehan Robert mulai
terungkap di persidangan. Puluhan video rekaman hubungan terlarangnya dengan
Bramantara sempat dipaparkan sekilas di persidangan sebagai barang bukti.
Rekaman itu diserahkan Jones, salah satu polisi rekan kerja Bramantara, kepada
para penyidik. Dengan bukti-bukti dan kesaksian yang kuat yang dimiliki
kepolisian itu, Robert pun akhirnya mengakui kecenderungan seksualnya itu.
Namun dia tetap menolak melakukan pembunuhan.
Terkuaknya kecenderungan seksual Robert itu ternyata membuat
keluarganya sangat terpukul sekaligus murka. Mereka tidak pernah menduga kalau
Robert ternyata penyuka sesama jenis. Mereka mulai tidak hadir di persidangan
berikutnya.
Robert semakin di ujung tanduk. Bukti-bukti dan kesaksian
kuat lainnya kembali diajukan di persidangan. Bram sempat mengaku pada Jones
kalau dia diancam akan dibunuh oleh Robert. Ancaman itu juga disampaikan Bram
kepada beberapa rekan kerja lainnya. Kesaksian mereka sangat konsisten.
Rupanya Robert juga sangat ceroboh. Dia tidak sempat
membersihkan sidik jari di wadah pisau dapur yang digunakan untuk menusuk
jantung Bram. Selembar rambut kemaluan Robert juga tertinggal di mulut Bram
ketika dia meninggal. Pada saat pembunuhan, diduga mereka masih sempat
berhubungan seksual. Entah karena mereka sedang bergairah atau strategi Robert
untuk membuat Bram lengah.
Robert tetap bersikukuh membantah semua bukti dan kesaksian
itu. Dia tidak membantah hubungan terlarang dirinya dengan Bram. Namun dia
terus bersikeras tidak melakukan pembunuhan. Bukti-bukti dan kesaksian itu
tidak membuktikan secara langsung kalau dialah pembunuh Bram.
Bagi, juri, jaksa, dan para pengunjung sidang, fakta-fakta
itu sudah cukup terang benderang untuk membuktikan Robert memang pembunuh Bram.
Itu juga yang kemudian ada di pikiran keluarga Robert sendiri. Menurut mereka,
Robert memang telah membunuh kedua orang itu. Mereka semakin terpukul.
Keterkejutan sekaligus kekecewaan mereka tampaknya tidak dapat diobati lagi.
Mereka pun berubah pikiran. Mereka menghentikan semua dukungan termasuk uang
jasa untuk membayar pembela hukum.
Pemberitaan massif tentang diri Robert yang sampai ke
Jakarta membuat orang tuanya makin naik pitam. Mereka pun kemudian memberikan
pernyataan resmi yang sangat mengejutkan. Mereka membongkar status Robert yang
sebenarnya dalam keluarga. Robert hanyalah anak adopsi! Mereka mengadopsi
Robert dari panti asuhan saat umurnya belum genap setahun. Tidak mau
dipermalukan Robert lebih jauh, mereka pun mengeluarkan Robert dari anggota
keluarga. Itu artinya, Robert bukan lagi bagian dari keluarga mereka.
Hilangnya semua dukungan dari keluarga, membuat tim
pengacara Robert pun ikut mengundurkan diri. Mereka cukup cerdas untuk tidak
mencoreng reputasi sendiri gara-gara membela tindakan Robert. Apalagi Robert
juga kesulitan untuk membayar jasa bantuan hukum pada mereka. Setelah itu,
Robert pun hanya didampingi pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan.
Sidang setelah itu menjadi tidak bertele-tele lagi. Robert
tidak lagi melakukan penolakan atau pembelaan. Sebaliknya, dia mengakui semua
perbuatannya. Dia mengiyakan semua tuduhan yang disampaikan jaksa penuntut
umum. Bahkan dia menceritakan kronologi, modus, dan motif pembunuhan yang
dilakukannya.
Motif pembunuhan terhadap Bramantara dilakukannya karena dia
tidak mau lagi diteror pria itu. Apalagi pria itu sudah sampai mengancam
Miranda. Dia tidak punya pilihan lain untuk menyingkirkan pria itu dari
kehidupannya. Robert merasa selama Bramantara masih hidup, dia akan terus
merongrong kehidupannya dengan Miranda. Membunuh pria itu adalah satu-satunya
solusi yang terpikir olehnya.
Sementara itu pembunuhan terhadap Lorenzo dilakukannya
karena ingin mendapatkan promosi naik jabatan dan pindah ke Paris. Lorenzo
adalah saingannya untuk mendapatkan promosi itu. Robert ingin pindah ke Paris
untuk menghilangkan jejak atas pembunuhan Bramantara.
Sidang pun kemudian menjadi antiklimaks. Tidak ada lagi
perang argumen antara jaksa dengan pembela. Kerja hakim dan para juri pun
menjadi mudah. Dalam waktu singkat, hakim sudah dapat memutuskan putusan hukum
untuk Robert.
Hari ini merupakan hari pembacaan putusan itu. Miranda yang
sedari tadi duduk gelisah kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu
pun mulai masuk pukul 09.00. Jaksa penuntut umum terlihat lebih dulu masuk ke
ruang sidang. Setelah itu, Robert dan kuasa hukumnya juga ikut masuk. Para juri
juga masuk dan menempati tempat mereka masing-masing. Beberapa menit kemudian
tiga orang hakim yang memimpin sidang juga memasuki ruang sidang.
Robert yang sudah mengenakan pakaian tahanan menoleh ke arah
tempat duduk pengunjung. Tatapannya langsung tertuju ke arah Miranda yang
menjadi satu-satunya pengunjung untuknya saat ini. Matanya terlihat sayu. Dia
tidak tahan menatap lama-lama ke arah istrinya. Sambil berjalan pelan ke tempat
yang disediakan khusus untuk tersangka, dia kembali menundukkan kepala. Di
tengah kenyataan memilukan yang sedang dihadapinya saat ini, ternyata masih ada
secercah harapan baginya. Miranda masih bersedia menemaninya hingga sidang
pembacaan putusan hari ini.
Sementara Miranda tak henti-hentinya menatap Robert semenjak
suaminya itu datang, berjalan, dan duduk di tempat duduk yang disediakan khusus
untuk tersangka. Dia langsung terenyuh melihat tatapan sepintas suaminya tadi.
Sudut matanya mulai basah. Segera dilapnya butiran bening yang tidak dapat
ditahannya agar tidak bergulir di pipi.
Tidak lama kemudian hakim pun membuka sidang. Hakim
menanyakan beberapa hal kepada pihak jaksa maupun penasihat hukum Robert.
Sesuai agenda, hakim pun pada akhirnya membacakan putusan sidang yang bunyinya
menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada Robert seperti yang diajukan jaksa
penuntut umum. Hukuman yang dijatuhkan kepada Robert menjadi maksimal karena
dia melakukan pembunuhan berencana terhadap aparat kepolisian. Bramantara
tercatat sebagai salah satu anggota Kepolisian Distrik Perth. Sesuai dengan undang-undang
yang berlaku, pembunuhan terhadap aparat penegak hukum secara terencana
dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Robert dapat sedikit bernafas lega,
karena hukuman mati tidak diberlakukan di Australia.
Hakim juga memberikan kesempatan Robert dan kuasa hukumnya
untuk mengajukan banding paling lambat tujuh hari setelah pembacaan putusan.
Robert tidak bersuara. Penguasa hukumnya tampak berbisik kepada Robert sebelum
akhirnya menjawab,
"pikir-pikir dulu, Yang Mulia," tegasnya pada para
hakim.
Robert merasa kalau vonis yang baru saja dijatuhkan hakim
tidaklah terlalu berat dibandingkan vonis lainnya. Baginya, tidak diakui lagi
sebagai anak dalam sebuah keluarga yang telah membesarkannya sejak bayi adalah
hukuman terberat di dunia. Dia tidak yakin apakah masih kuat menjalani hidup
setelah dihadapkan dengan kenyataan itu.
Setelah sidang ditutup dengan ketokan palu pak hakim, Robert
pun dibawa keluar oleh dua orang petugas. Kuasa hukumnya terlihat berjalan ke
arah yang berbeda. Sepertinya, kebersamaan mereka hanya sampai di situ. Tangan
Robert masih tetap diborgol ketika dibawa menuju mobil tahanan yang terparkir
di samping ruang sidang. Dia akan langsung dipindahkan ke penjara di sebelah
selatan kota.
Miranda beranjak dari tempat duduknya dan berlari kecil ke
arah petugas yang sedang membawa Robert. Ketika sudah berada sekitar dua meter
di belakang kedua petugas itu, dia pun berteriak kecil,
"Boleh saya berbicara dengan Robert sebentar?"
pintanya.
Kedua petugas itu berhenti dan menoleh. Tatapan mereka
tampak menyelidik ke arah Miranda.
"Saya istrinya," kata Miranda langsung menjelaskan
walau tidak ditanya.
Salah satu petugas itu pun mengangguk.
Miranda mendekati Robert.
Robert memutar tubuhnya ke samping menghadap ke arah Miranda
yang sudah berada di sampingnya.
"Kamu juga membenciku?" katanya membuka
percakapan.
Miranda tidak bersuara. Dia hanya menjawab dengan
menggelengkan kepala. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu akan melakukan banding?" tanyanya balik pada
Robert dengan suara pelan seperti berbisik.
Sorot matanya langsung tertuju pada mata Robert.
Kali ini Robert yang terdiam. Dia kemudian hanya menggeleng.
"Jadi kamu menerima hukuman itu?" tanya Miranda
menatap tajam mata suaminya.
Robert langsung mengangguk tanpa keraguan. Tampaknya dia
sudah yakin dengan keputusan yang diambilnya.
Miranda kehilangan kata-kata. Jika Robert memutuskan untuk
tidak mengajukan banding, berarti Robert akan selamanya berada di penjara
seperti bunyi vonis yang dibacakan hakim tadi. Berarti pupus sudah harapan
mereka untuk bersama lagi.
Mungkin pernikahan mereka masih bisa dipertahankan. Tapi
apakah pernikahan itu tetap bisa terus terjaga sementara mereka dipisahkan oleh
jeruji besi sampai akhir hayat mereka?
"Sudah! Silakan naik ke mobil!" kata Petugas tadi
merasa jengkel karena Robert dan Miranda hanya saling berdiam diri.
"Sebentar. Ada sedikit lagi yang ingin
kusampaikan," kata Robert memohon kepada petugas yang barusan menegurnya.
Matanya terlihat mengiba ketika menatap petugas itu.
"Ya sudah! Satu menit!" teriak si petugas memberi
batas waktu.
Robert mengalihkan tatapannya kepada Miranda. Dia menatap
mata istrinya itu dengan khidmat sebelum kemudian berucap,
"Maukah kamu mengunjungiku setiap minggu?"
"Iya, Sayang. Aku akan mengunjungimu setiap
minggu," kata Miranda spontan menjawab sambil berurai air mata.
"Terima kasih," balas Robert.
Akhirnya dia mampu melengkungkan bibirnya, membentuk senyum
yang tak pernah dilakukannya semenjak ditangkap polisi tempo hari.
Miranda pun berusaha membalas dengan lengkungan yang tak
kalah indah. Dia berharap senyumnya dapat menguatkan suaminya untuk tegar
menghadapi takdir ini. Senyum itu agak terlihat aneh, sebab tidak sejalan
dengan kedua matanya. Dia masih tak mampu membendung butiran-butiran bening
yang terus menyeruak dari sudut matanya.
Robert memutar tubuh ke arah pintu keluar pengadilan. Dia
melangkah dengan sedikit lebih bersemangat daripada sebelumnya. Kedua petugas
itu kembali menggiringnya menuju mobil tahanan yang diparkir di samping ruang
sidang.
Miranda ikut melangkah sejajar dengan Robert dan baru
berhenti ketika Robert mulai mendekati mobil. Dia berdiri mematung sekitar dua
meter dari pintu mobil tahanan. Matanya tak mengerjap sedikit pun memperhatikan
Robert yang terus melangkah ke dalam mobil itu.
Sebelum petugas menutup pintu, Robert masih sempat menoleh
ke arah Miranda dan berucap,
"Kamu adalahalasan terakhirku untuk tetap hidup."
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.