Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sejak mereka bertemu, saling menjajaki, menikah, sampai
kemudian suaminya itu dijatuhi hukum penjara seumur hidup, tidak pernah sekali
pun dia bertindak kasar. Hanya ada kelembutan dan perhatian. Jangankan
melakukan kekerasan fisik, berbicara kasar pun selalu ditahannya. Kalau
kemudian suaminya itu nekat melakukan tindakan kasar yaitu sampai membunuh, itu
dilakukannya kepada orang lain.
Miranda pun menyadari kalau pembunuhan yang dilakukan
suaminya itu karena semata-mata ingin melindungi pernikahan mereka. Oleh karena
itu, tidak ada alasan baginya untuk menolak permohonan Robert yang ingin
dikunjungi seminggu sekali. Dia tidak menyesal sewaktu menyetujui permintaannya
itu.
Seminggu setelah Robert dipenjara, Miranda pun memutuskan
untuk memenuhi janjinya. Dia akan mengunjungi suaminya di penjara. Sudah sejak
subuh dia sibuk memasak makanan kesukaan suaminya. Dia juga sudah membeli
beberapa buku bacaan sebagai teman suaminya mengisi waktu selama di penjara.
Laptop juga sudah dimasukkannya ke dalam tas. Siapa tahu
sipir penjara mengizinkan suaminya beraktivitas menggunakan laptop itu. Hobby
menulis suaminya itu akan lebih mudah tersalurkan dengan adanya laptop.
Selain itu, Miranda juga menyiapkan kertas kosong bergaris
sebagai antisipasi kalau laptop itu tidak diizinkan dibawa suaminya ke kamar
sel.
Menjelang pukul tujuh, semua persiapannya sudah selesai. Dia
langsung memasukkan semua barang-barang bawaannya ke bagasi mobil yang diparkir
di basemen.
Baru saja dia hendak masuk ke mobil, tiba-tiba ponselnya
berdering.
Dilihatnya panggilan dari ayahnya.
Tanpa banyak berpikir, langsung diangkatnya panggilan itu.
"Kamu apa kabar, Mir?" tanya ayahnya.
"Baik, pa," jawab Miranda pelan.
"Kalau suamimu?" lanjut ayahnya.
"Belum tahu, Pa. Ini Mira baru mau ke penjara mau
menjenguknya," jawab Miranda dengan suara datar.
Pak Sanjaya terdengar berdehem. "Oh begitu. Kamu yang
sabar, ya," katanya mencoba menenangkan putrinya itu.
"Iya, Pa," timpal Miranda dengan suara tenang,
agar ayahnya tidak merasa khawatir.
"Boleh kita membahas topik yang agak serius?"
tanya ayahnya lagi.
Miranda mengerutkan dahinya.
"Sebentar, Pa," balasnya sambil masuk dan duduk di
belakang kemudi, tapi dia tidak langsung melajukan mobil itu.
"Tentang apa, Pa?" tanyanya kemudian.
"Tentang perusahaan," jawab Pak Sanjaya singkat.
Miranda terlihat lega. Dia tidak pernah merasa khawatir
berlebihan kalau menyangkut perusahaan.
"Iya boleh, Pa."
Suasana pun hening sejenak.
"Papa punya rencana untuk QDC," kata Pak Sanjaya
kembali bersuara.
"Rencana apa, Pa?" tanya Miranda terdengar mulai
agak penasaran.
"Jadi begini. Dulu sewaktu menjual saham QDC ke Pak
Gumira, kami punya perjanjian tertulis bahwa Papa dapat membeli kembali saham
itu sewaktu-waktu agar dapat kembali menjadi pemilik saham mayoritas di
QDC."
"Terus?" Miranda tampak mulai tertarik.
"Papa mulai menyadari kalau penjualan saham kepada pak
Gumira tempo hari itu merupakan kesalahan besar. Keputusan itu telah
mendatangkan banyak masalah. Rencananya Papa akan menjual aset-aset lain
terutama di anak-anak perusahaan yang tidak produktif dan membebani. Uangnya
nanti akan Papa gunakan untuk membeli kembali saham dari Pak Gumira,"
jelas Pak Sanjaya meneruskan.
"Mira ikut saja mana yang terbaik menurut Papa,"
timpal Miranda menanggapi singkat.
Ada jeda sebentar sebelum Pak Sanjaya kembali menjelaskan.
"Papa sudah menyampaikan itu pada Pak Gumira. Untuk
saat ini dia belum berkenan karena QDC sedang kembali naik daun semenjak Arvin
kembali bergabung dan menghasilkan profit besar. Dia juga belum rela putrinya
itu kehilangan tampuk pimpinan tertinggi di QDC."
Miranda tidak menanggapi.
Pak Sanjaya kembali melanjutkan. "Untuk saat ini Papa
masih berdiskusi alot dengan Pak Gumira."
"Kenapa Papa mengotot ingin mengambil alih saham
QDC?" Akhirnya Miranda penasaran dengan alasan ayahnya merencanakan itu.
Tanpa jeda, Pak Sanjaya langsung menjawab, "Papa ingin
mengembalikan kursi yang diduduki Angela itu padamu. Sebagian besar pegawai
lebih menyukai gaya kepemimpinanmu dibandingkan putri Pak Gumira yang angkuh
itu."
Miranda tidak langsung menimpali. Dia malah terdiam lama.
"Miranda?!" panggil Pak Sanjaya, takut kalau
telepon sudah ditutup.
"Iya, Pa. Mira masih menyimak," timpal Miranda.
"Bagaimana menurut pendapatmu?" tanya ayahnya
dengan suara pelan tapi jelas.
Miranda tidak langsung menjawab. Dia mengurut-urut
pelipisnya memikirkan pendapatnya sendiri.
"Mira masih bingung, Pa. Sepertinya Mira belum bisa
menerima tawaran Papa itu. Mira punya janji dengan Robert untuk mengunjunginya
di penjara seminggu sekali. Mira masih memilih untuk tetap tinggal di sini,
Pa," ujarnya kemudian memberikan pendapat.
"Tapi Robert sudah menyakitimu. Kenapa kamu masih
bersikap baik padanya?" balas Pak Sanjaya dengan nada suara yang tiba-tiba
meninggi.
Sepertinya dia mulai tidak menyukai menantunya yang pembunuh
sekaligus gay itu.
Miranda tidak terpengaruh dengan nada tinggi ayahnya.
"Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi, Pa. Hanya Mira
satu-satunya orang yang masih memedulikannya," katanya masih dengan suara
pelan dan lembut.
Pak Sanjaya tidak ingin tahu itu karena dia sudah tahu
banyak dari pemberitaan di media. Salah satunya tentang keluarga Robert yang
tidak lagi mengakui Robert sebagai anak karena laki-laki itu memang anak
adopsi.
"Kalau dia memang mencintaimu, seharusnya dia tidak
melakukan perbuatan bodoh itu!" ujar Pak Sanjaya masih dengan nada tinggi.
"Papa jangan ngomong begitu. Justru karena dia sangat
mencintai Miranda makanya dia melakukan itu," balas Miranda membela
suaminya.
"Mencintai itu harus mampu menjaga dan melindungi!
Bukan sekedar kata-kata! Bagaimana mungkin dia dapat menjaga dan melindungimu
kalau dia sendiri akan berada di dalam penjara itu sepanjang hayat?!" Nada
bicara Pak Sanjaya makin tinggi. Sepertinya dia masih belum bisa memahami jalan
pikiran putrinya yang masih saja setia kepada Robert yang jelas-jelas telah
merusak dan menghancurkan semuanya, termasuk dirinya sendiri.
Miranda terdiam. Kali ini dia tidak memiliki argumen
bantahan untuk melawan pernyataan ayahnya itu.
"Begini saja. Kamu pikirkan lagi matang-matang tawaran
papa, sambil papa terus berusaha membuat kesepakatan baru dengan Pak Gumira.
Kalau nanti kesepakatannya berhasil, kamu harus kembali ke Jakarta," kata
Pak Sanjaya dengan suara yang lebih lembut namun tetap terdengar tegas.
Miranda sepertinya sedang tidak ingin berdebat.
"Iya, Pa!" katanya kemudian menyetujui.
Paling tidak dia setuju dengan tawaran untuk memikirkan
kembali itu. Keputusan berikutnya akan seperti apa, dia masih belum tahu. Dia
sudah malas memikirkan masa depan yang tidak menentu dan tidak bisa diprediksi.
Kini dia ingin menjalani hidup mengalir saja.
"Sudah. Itu saja dulu," ujar Pak Sanjaya terdengar
sedikit kesal.
"Iya, Pa. Papa jangan lupa menjaga kesehatan, ya,"
balas Miranda dengan suara lembut dan terdengar sedikit khawatir.
Pak Sanjaya tidak membalas itu karena telepon sudah
ditutupnya.
Miranda kembali teringat dengan agendanya hari ini,
mengunjungi suaminya di penjara.
Dia langsung menyalakan mesin mobil, memanaskannya sebentar,
lalu melajukannya meninggalkan parkiran apartemen. Dia berbelok ke kiri, ke
arah penjara tempat suaminya menjalani hukuman. Sekitar pukul sembilan, dia
tiba di tujuan. Dengan langkah tergesa-gesa, dia mengeluarkan barang bawaan
lalu menuju pintu pemeriksaan sebelum masuk ke gedung penjara.
Setelah melakukan prosedur pemeriksaan yang sangat ketat dan
cukup merepotkan, salah satu petugas penjara membawanya ke ruangan khusus
kunjungan. Rupanya hanya kertas kosong bergaris itu saja yang boleh dibawa
Robert ke kamar selnya. Sementara laptop tidak diperbolehkan. Laptop itu pun di
tinggal di meja petugas yang memeriksa.
Makanan yang telah dimasak Miranda diperbolehkan dibawa ke
ruang tunggu setelah pemeriksaan yang sangat ketat pada wadahnya. Sendok stainless yang dimasukkan ke dalam
wadah itu harus ditinggalkan juga di meja petugas. Miranda ditemani seorang
petugas berjalan di lorong menuju ruang tunggu agak ke dalam gedung. Dia harus
melewati beberapa pintu pemeriksaan untuk sampai ke ruang kunjungan. Petugas
yang menemaninya membukan pintu ruangan dan mempersilahkannya untuk masuk.
Ruang kunjungan itu cukup luas. Terdapat belasan meja
seperti itu di dalam ruangan. Beberapa meja sudah terisi pengunjung dan tahanan
yang dikunjungi.
Petugas yang tadi menemani kemudian meminta Miranda menunggu
di salah satu meja yang berukuran kira-kira satu kali satu meter. Petugas itu
juga memberitahu kalau Robert akan segera datang. Dia lalu melangkah menuju
pintu yang berseberangan dengan pintu masuk tadi lalu menghilang dibalik pintu.
Beberapa menit kemudian Robert pun muncul dari balik pintu
besi tepat di depan Miranda duduk menunggu. Seorang sipir mengawalnya dan
mengantar sampai ke meja tempat Miranda berada. Dengan wajah yang langsung
berubah ceria, Robert duduk di hadapan Miranda.
"Hai sayang," sapanya dengan suara terdengar
sangat bahagia.
Miranda tidak langsung menjawab karena masih syok melihat
kondisi Robert yang sangat kusut, pucat, dan seperti mulai enggan untuk hidup
itu. Rambutnya terlihat acak-acakan. Badannya juga mulai terlihat kurus. Tulang
pipinya mulai terlihat menonjol.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" Akhirnya Miranda
bersuara yang terdengar bergetar. Matanya pun berkaca-kaca.
Robert tersenyum semringah. "Iya," balasnya
terlihat sedikit lebih bersemangat.
"Ini aku bawakan makanan kesukaanmu," ucap Miranda
sambil menyodorkan kotak makanan dari dalam kantong lalu meletakkan di atas
meja.
Tidak menunggu lama, Robert langsung membuka kotak itu lalu
menyantap makanan di dalamnya dengan terburu-buru. Sepertinya dia takut makanan
itu akan diminta oleh orang lain. Caranya makan itu tidak mencerminkan kalau
dia dulu anak orang kaya dan pernah bekerja di perusahaan internasional dengan
jawaban yang cukup bergengsi.
"Kamu seperti orang yang belum makan selama seminggu
saja, he he," kata Miranda mencoba bergurau melihat Robert makan begitu
lahap.
Robert mengangguk. Anggukan itu malah membuat Miranda makin
terenyuh. Matanya kembali berkaca-kaca. Terbayang olehnya penderitaan yang
dialami suaminya selama seminggu di penjara.
"Kamu harus datang setiap minggu, ya," pinta
Robert mengiba.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Hanya kamu
yang kumiliki di dunia ini. Hanya kamu satu-satunya alasanku untuk tetap
hidup."
Miranda mengangguk sambil bercucuran air mata.
Mereka mengobrol dengan ceria. Robert tidak henti-hentinya
tersenyum dan tertawa. Sementara Miranda pura-pura ikut tertawa untuk menutupi
kesedihan mendalam di hatinya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis
agar tidak merusak suasana hati suaminya yang tampak bahagia dengan pertemuan
mereka kali ini.
Kunjungan itu dibatasi waktu, maksimal hanya setengah jam.
Mereka merasa waktu cepat sekali berlalu. Tanpa terasa, waktu kunjungan pun
habis. Miranda harus meninggalkan suaminya di sana.
Nampak tatapan tak rela di mata Robert ketika dia diminta
petugas untuk kembali ke sel. Sambil terus berjalan dipapah dua orang petugas
di kiri dan kanannya, dia terus menerus menoleh ke belakang ke arah Miranda
yang telah berdiri dari tempat duduknya.
Dia kemudian berteriak, "Berjanjilah padaku! Kau akan
datang setiap minggu!"
"Iya, Sayang! Aku berjanji! Aku akan datang setiap
minggu!" balas Miranda dari tempatnya berdiri juga dengan berteriak.
Dia tidak tega melihat tatapan mata yang sangat sayu itu.
Dia pun tidak tega mendengar permohonan menyayat hati itu. Dia tidak kuat
dengan perpisahan ini. Tapi apa daya, dia tidak bisa bertemu dan menunggui
suaminya lebih lama.
Waktu kunjungan telah habis. Miranda harus meninggalkan penjara tempat suaminya menjalani hukuman. Saat melangkah mendekati pintu ke luar ruangan, dia tak mampu lagi membendung air mata. Cairan bening di matanya itu tumpah ruah seperti bendungan jebol.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.