Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 30. Janji

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 30. Janji
_______________________________________

Miranda duduk tertegun di balkon apartemennya. Setelah merenungkan perjalanan hidupnya bersama Robert, dia pun menyadari satu hal, laki-laki itu benar-benar mencintainya dengan tulus. Cintanya luar biasa.

Sejak mereka bertemu, saling menjajaki, menikah, sampai kemudian suaminya itu dijatuhi hukum penjara seumur hidup, tidak pernah sekali pun dia bertindak kasar. Hanya ada kelembutan dan perhatian. Jangankan melakukan kekerasan fisik, berbicara kasar pun selalu ditahannya. Kalau kemudian suaminya itu nekat melakukan tindakan kasar yaitu sampai membunuh, itu dilakukannya kepada orang lain.

Miranda pun menyadari kalau pembunuhan yang dilakukan suaminya itu karena semata-mata ingin melindungi pernikahan mereka. Oleh karena itu, tidak ada alasan baginya untuk menolak permohonan Robert yang ingin dikunjungi seminggu sekali. Dia tidak menyesal sewaktu menyetujui permintaannya itu.

Seminggu setelah Robert dipenjara, Miranda pun memutuskan untuk memenuhi janjinya. Dia akan mengunjungi suaminya di penjara. Sudah sejak subuh dia sibuk memasak makanan kesukaan suaminya. Dia juga sudah membeli beberapa buku bacaan sebagai teman suaminya mengisi waktu selama di penjara.

Laptop juga sudah dimasukkannya ke dalam tas. Siapa tahu sipir penjara mengizinkan suaminya beraktivitas menggunakan laptop itu. Hobby menulis suaminya itu akan lebih mudah tersalurkan dengan adanya laptop.

Selain itu, Miranda juga menyiapkan kertas kosong bergaris sebagai antisipasi kalau laptop itu tidak diizinkan dibawa suaminya ke kamar sel.

Menjelang pukul tujuh, semua persiapannya sudah selesai. Dia langsung memasukkan semua barang-barang bawaannya ke bagasi mobil yang diparkir di basemen.

Baru saja dia hendak masuk ke mobil, tiba-tiba ponselnya berdering.

Dilihatnya panggilan dari ayahnya.

Tanpa banyak berpikir, langsung diangkatnya panggilan itu.

"Kamu apa kabar, Mir?" tanya ayahnya.

"Baik, pa," jawab Miranda pelan.

"Kalau suamimu?" lanjut ayahnya.

"Belum tahu, Pa. Ini Mira baru mau ke penjara mau menjenguknya," jawab Miranda dengan suara datar.

Pak Sanjaya terdengar berdehem. "Oh begitu. Kamu yang sabar, ya," katanya mencoba menenangkan putrinya itu.

"Iya, Pa," timpal Miranda dengan suara tenang, agar ayahnya tidak merasa khawatir.

"Boleh kita membahas topik yang agak serius?" tanya ayahnya lagi.

Miranda mengerutkan dahinya.

"Sebentar, Pa," balasnya sambil masuk dan duduk di belakang kemudi, tapi dia tidak langsung melajukan mobil itu.

"Tentang apa, Pa?" tanyanya kemudian.

"Tentang perusahaan," jawab Pak Sanjaya singkat.

Miranda terlihat lega. Dia tidak pernah merasa khawatir berlebihan kalau menyangkut perusahaan.

"Iya boleh, Pa."

Suasana pun hening sejenak.

"Papa punya rencana untuk QDC," kata Pak Sanjaya kembali bersuara.

"Rencana apa, Pa?" tanya Miranda terdengar mulai agak penasaran.

"Jadi begini. Dulu sewaktu menjual saham QDC ke Pak Gumira, kami punya perjanjian tertulis bahwa Papa dapat membeli kembali saham itu sewaktu-waktu agar dapat kembali menjadi pemilik saham mayoritas di QDC."

"Terus?" Miranda tampak mulai tertarik.

"Papa mulai menyadari kalau penjualan saham kepada pak Gumira tempo hari itu merupakan kesalahan besar. Keputusan itu telah mendatangkan banyak masalah. Rencananya Papa akan menjual aset-aset lain terutama di anak-anak perusahaan yang tidak produktif dan membebani. Uangnya nanti akan Papa gunakan untuk membeli kembali saham dari Pak Gumira," jelas Pak Sanjaya meneruskan.

"Mira ikut saja mana yang terbaik menurut Papa," timpal Miranda menanggapi singkat.

Ada jeda sebentar sebelum Pak Sanjaya kembali menjelaskan.

"Papa sudah menyampaikan itu pada Pak Gumira. Untuk saat ini dia belum berkenan karena QDC sedang kembali naik daun semenjak Arvin kembali bergabung dan menghasilkan profit besar. Dia juga belum rela putrinya itu kehilangan tampuk pimpinan tertinggi di QDC."

Miranda tidak menanggapi.

Pak Sanjaya kembali melanjutkan. "Untuk saat ini Papa masih berdiskusi alot dengan Pak Gumira."

"Kenapa Papa mengotot ingin mengambil alih saham QDC?" Akhirnya Miranda penasaran dengan alasan ayahnya merencanakan itu.

Tanpa jeda, Pak Sanjaya langsung menjawab, "Papa ingin mengembalikan kursi yang diduduki Angela itu padamu. Sebagian besar pegawai lebih menyukai gaya kepemimpinanmu dibandingkan putri Pak Gumira yang angkuh itu."

Miranda tidak langsung menimpali. Dia malah terdiam lama.

"Miranda?!" panggil Pak Sanjaya, takut kalau telepon sudah ditutup.

"Iya, Pa. Mira masih menyimak," timpal Miranda.

"Bagaimana menurut pendapatmu?" tanya ayahnya dengan suara pelan tapi jelas.

Miranda tidak langsung menjawab. Dia mengurut-urut pelipisnya memikirkan pendapatnya sendiri.

"Mira masih bingung, Pa. Sepertinya Mira belum bisa menerima tawaran Papa itu. Mira punya janji dengan Robert untuk mengunjunginya di penjara seminggu sekali. Mira masih memilih untuk tetap tinggal di sini, Pa," ujarnya kemudian memberikan pendapat.

"Tapi Robert sudah menyakitimu. Kenapa kamu masih bersikap baik padanya?" balas Pak Sanjaya dengan nada suara yang tiba-tiba meninggi.

Sepertinya dia mulai tidak menyukai menantunya yang pembunuh sekaligus gay itu.

Miranda tidak terpengaruh dengan nada tinggi ayahnya.

"Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi, Pa. Hanya Mira satu-satunya orang yang masih memedulikannya," katanya masih dengan suara pelan dan lembut.

Pak Sanjaya tidak ingin tahu itu karena dia sudah tahu banyak dari pemberitaan di media. Salah satunya tentang keluarga Robert yang tidak lagi mengakui Robert sebagai anak karena laki-laki itu memang anak adopsi.

"Kalau dia memang mencintaimu, seharusnya dia tidak melakukan perbuatan bodoh itu!" ujar Pak Sanjaya masih dengan nada tinggi.

"Papa jangan ngomong begitu. Justru karena dia sangat mencintai Miranda makanya dia melakukan itu," balas Miranda membela suaminya.

"Mencintai itu harus mampu menjaga dan melindungi! Bukan sekedar kata-kata! Bagaimana mungkin dia dapat menjaga dan melindungimu kalau dia sendiri akan berada di dalam penjara itu sepanjang hayat?!" Nada bicara Pak Sanjaya makin tinggi. Sepertinya dia masih belum bisa memahami jalan pikiran putrinya yang masih saja setia kepada Robert yang jelas-jelas telah merusak dan menghancurkan semuanya, termasuk dirinya sendiri.

Miranda terdiam. Kali ini dia tidak memiliki argumen bantahan untuk melawan pernyataan ayahnya itu.

"Begini saja. Kamu pikirkan lagi matang-matang tawaran papa, sambil papa terus berusaha membuat kesepakatan baru dengan Pak Gumira. Kalau nanti kesepakatannya berhasil, kamu harus kembali ke Jakarta," kata Pak Sanjaya dengan suara yang lebih lembut namun tetap terdengar tegas.

Miranda sepertinya sedang tidak ingin berdebat.

"Iya, Pa!" katanya kemudian menyetujui.

Paling tidak dia setuju dengan tawaran untuk memikirkan kembali itu. Keputusan berikutnya akan seperti apa, dia masih belum tahu. Dia sudah malas memikirkan masa depan yang tidak menentu dan tidak bisa diprediksi. Kini dia ingin menjalani hidup mengalir saja.

"Sudah. Itu saja dulu," ujar Pak Sanjaya terdengar sedikit kesal.

"Iya, Pa. Papa jangan lupa menjaga kesehatan, ya," balas Miranda dengan suara lembut dan terdengar sedikit khawatir.

Pak Sanjaya tidak membalas itu karena telepon sudah ditutupnya.

Miranda kembali teringat dengan agendanya hari ini, mengunjungi suaminya di penjara.

Dia langsung menyalakan mesin mobil, memanaskannya sebentar, lalu melajukannya meninggalkan parkiran apartemen. Dia berbelok ke kiri, ke arah penjara tempat suaminya menjalani hukuman. Sekitar pukul sembilan, dia tiba di tujuan. Dengan langkah tergesa-gesa, dia mengeluarkan barang bawaan lalu menuju pintu pemeriksaan sebelum masuk ke gedung penjara.

Setelah melakukan prosedur pemeriksaan yang sangat ketat dan cukup merepotkan, salah satu petugas penjara membawanya ke ruangan khusus kunjungan. Rupanya hanya kertas kosong bergaris itu saja yang boleh dibawa Robert ke kamar selnya. Sementara laptop tidak diperbolehkan. Laptop itu pun di tinggal di meja petugas yang memeriksa.

Makanan yang telah dimasak Miranda diperbolehkan dibawa ke ruang tunggu setelah pemeriksaan yang sangat ketat pada wadahnya. Sendok stainless yang dimasukkan ke dalam wadah itu harus ditinggalkan juga di meja petugas. Miranda ditemani seorang petugas berjalan di lorong menuju ruang tunggu agak ke dalam gedung. Dia harus melewati beberapa pintu pemeriksaan untuk sampai ke ruang kunjungan. Petugas yang menemaninya membukan pintu ruangan dan mempersilahkannya untuk masuk.

Ruang kunjungan itu cukup luas. Terdapat belasan meja seperti itu di dalam ruangan. Beberapa meja sudah terisi pengunjung dan tahanan yang dikunjungi.

Petugas yang tadi menemani kemudian meminta Miranda menunggu di salah satu meja yang berukuran kira-kira satu kali satu meter. Petugas itu juga memberitahu kalau Robert akan segera datang. Dia lalu melangkah menuju pintu yang berseberangan dengan pintu masuk tadi lalu menghilang dibalik pintu.

Beberapa menit kemudian Robert pun muncul dari balik pintu besi tepat di depan Miranda duduk menunggu. Seorang sipir mengawalnya dan mengantar sampai ke meja tempat Miranda berada. Dengan wajah yang langsung berubah ceria, Robert duduk di hadapan Miranda.

"Hai sayang," sapanya dengan suara terdengar sangat bahagia.

Miranda tidak langsung menjawab karena masih syok melihat kondisi Robert yang sangat kusut, pucat, dan seperti mulai enggan untuk hidup itu. Rambutnya terlihat acak-acakan. Badannya juga mulai terlihat kurus. Tulang pipinya mulai terlihat menonjol.

"Kamu baik-baik saja, Sayang?" Akhirnya Miranda bersuara yang terdengar bergetar. Matanya pun berkaca-kaca.

Robert tersenyum semringah. "Iya," balasnya terlihat sedikit lebih bersemangat.

"Ini aku bawakan makanan kesukaanmu," ucap Miranda sambil menyodorkan kotak makanan dari dalam kantong lalu meletakkan di atas meja.

Tidak menunggu lama, Robert langsung membuka kotak itu lalu menyantap makanan di dalamnya dengan terburu-buru. Sepertinya dia takut makanan itu akan diminta oleh orang lain. Caranya makan itu tidak mencerminkan kalau dia dulu anak orang kaya dan pernah bekerja di perusahaan internasional dengan jawaban yang cukup bergengsi.

"Kamu seperti orang yang belum makan selama seminggu saja, he he," kata Miranda mencoba bergurau melihat Robert makan begitu lahap.

Robert mengangguk. Anggukan itu malah membuat Miranda makin terenyuh. Matanya kembali berkaca-kaca. Terbayang olehnya penderitaan yang dialami suaminya selama seminggu di penjara.

"Kamu harus datang setiap minggu, ya," pinta Robert mengiba.

"Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Hanya kamu yang kumiliki di dunia ini. Hanya kamu satu-satunya alasanku untuk tetap hidup."

Miranda mengangguk sambil bercucuran air mata.

Mereka mengobrol dengan ceria. Robert tidak henti-hentinya tersenyum dan tertawa. Sementara Miranda pura-pura ikut tertawa untuk menutupi kesedihan mendalam di hatinya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis agar tidak merusak suasana hati suaminya yang tampak bahagia dengan pertemuan mereka kali ini.

Kunjungan itu dibatasi waktu, maksimal hanya setengah jam. Mereka merasa waktu cepat sekali berlalu. Tanpa terasa, waktu kunjungan pun habis. Miranda harus meninggalkan suaminya di sana.

Nampak tatapan tak rela di mata Robert ketika dia diminta petugas untuk kembali ke sel. Sambil terus berjalan dipapah dua orang petugas di kiri dan kanannya, dia terus menerus menoleh ke belakang ke arah Miranda yang telah berdiri dari tempat duduknya.

Dia kemudian berteriak, "Berjanjilah padaku! Kau akan datang setiap minggu!"

"Iya, Sayang! Aku berjanji! Aku akan datang setiap minggu!" balas Miranda dari tempatnya berdiri juga dengan berteriak.

Dia tidak tega melihat tatapan mata yang sangat sayu itu. Dia pun tidak tega mendengar permohonan menyayat hati itu. Dia tidak kuat dengan perpisahan ini. Tapi apa daya, dia tidak bisa bertemu dan menunggui suaminya lebih lama.

Waktu kunjungan telah habis. Miranda harus meninggalkan penjara tempat suaminya menjalani hukuman. Saat melangkah mendekati pintu ke luar ruangan, dia tak mampu lagi membendung air mata. Cairan bening di matanya itu tumpah ruah seperti bendungan jebol.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar