Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 31. Perawat Istimewa

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 31. Perawat Istimewa
_______________________________________

Hari minggu menjadi hari yang menggairahkan bagi Miranda. Setelah genap seminggu yang lalu dia mengunjungi Robert, hari ini dia akan kembali ke sana, menemui suaminya, untuk membagikan keceriaan dan semangat padanya. Dia baru saja akan keluar dari apartemen ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Dia berhenti sejenak di depan pintu apartemen yang baru saja dikuncinya, lalu mengeluarkan ponsel dari tasnya. Terpampang nama tantenya di layar. Dia pun mengangkat panggilan itu.

"Halo, Tante. Ada apa?" kata Miranda.

"Mir, Papamu masuk UGD! Sepertinya penyakit jantungnya kembali kambuh. Tapi kali ini lebih parah." Terdengar suara Tante Nadya, adik bungsu Ayahnya, samar-samar di ponsel.

"Kapan kejadiannya, Tante?!" Miranda langsung terlihat panik.

"Barusan. Kata orang yang memberitahu Tante tadi, dia sempat berdebat hebat dengan pak Gumira sebelum tiba-tiba pingsan. Ini kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit."

"Iya, Tante. Miranda akan langsung pulang ke Jakarta sekarang. Miranda cari tiket dulu."

Kabar dari tantenya barusan langsung melupakan Miranda terhadap niat awalnya hari ini yang hendak mengunjungi Robert. Dia langsung membuka aplikasi pembelian tiket pesawat. Dipilihnya tanggal hari ini. Dia langsung mengecek jam keberangkatan yang paling dekat. Beruntung dia menemukannya, yaitu dua jam dari sekarang.

Miranda tiba di Jakarta hampir tengah malam. Terminal kedatangan terlihat lengang. Namun karena ini adalah ibukota negara, dia tidak kesulitan mendapatkan taksi yang dapat mengantarnya langsung ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Saat dia sampai di rumah sakit, ayahnya sudah berada di ruang ICU. Tante Nadya terlihat sendirian duduk di bangku tepat di depan ruangan itu. Miranda langsung berjalan cepat menghampirinya.

"Gimana kondisi Papa, Tante?" tanya Miranda dengan panik.

"Masih koma," jawab Tante Nadya pelan sambil menunjuk ke dalam ruangan berdinding kaca di hadapannya.

Miranda melongok ke balik dinding kaca. Terlihat olehnya ayahnya terbujur kaku di atas tempat tidur. Berbagai macam selang dipasangkan di wajah dan lengan Pak Sanjaya. Alat pendeteksi detak jantung juga terlihat di sampingnya. Layar hitam alat itu menampilkan kurva yang terus bergerak naik turun sebagai penanda jantung Pak Sanjaya masih bekerja. Dia masih hidup.

Tiga hari kemudian Miranda mendapat kabar baik. Ayahnya berhasil melewati fase kritis. Ayahnya kembali siuman. Beberapa saat kemudian ayahnya dipindahkan ke kamar rawat inap president suite. Miranda duduk di dekat kepala ayahnya. Dia tampak mengusap-usap punggung tangan ayahnya. Pak Sanjaya terlihat tertidur lelap. Sementara itu, Tante Nadya duduk di sofa panjang dekat jendela berjarak kira-kira empat langkah dari Miranda.

Miranda memutar tubuh menghadap ke arah tantenya itu. "Ibu mana, Tante?" tanyanya pada tantenya yang sedang memainkan ponsel itu. Ibu yang dimaksudkannya adalah Bu Jennita, istri kedua ayahnya. Dia baru menyadari kalau selama ayahnya dirawat di rumah sakit, ibu tirinya itu tidak pernah terlihat.

"Tidak usah ditanyakan. Seperti biasa, mana peduli dia dengan papamu. Tahunya hanya belanja dan jalan-jalan saja," jawab Tante Nadya dengan suara ketus dan raut wajah muak.

"Jangan begitu, Dik. Dia bukan sekedar jalan-jalan. Dia sedang mengunjungi Abigail di London yang mau ujian akhir," Pak Sanjaya tiba-tiba langsung menimpali. Rupanya dia sudah terbangun dari tidurnya.

Tante Nadya mengangkat wajahnya dan menatap sinis pada kakaknya itu. "Seperti biasa, Mas selalu membelanya. Terserah saja. Dia memang istrimu," katanya dengan suara kesal.

"Tapi setidaknya dia berusaha pulang cepat, biar Mas ada yang menemani selama masa pemulihan," tambahnya dengan nada suara semakin meninggi.

"Sudahlah, Tante. Biar Mira saja yang menemani dan merawat Papa," ujar Miranda menengahi. Dia menatap tantenya itu sambil tersenyum.

Perdebatan mereka terhenti ketika seorang perawat datang. Dia memberikan suntikan ke pergelangan tangan Pak Sanjaya. Setelah itu dia memeriksa beberapa hal sebelum meninggalkan kamar lima menit kemudian. 

***

Setelah tiga hari mendapat perawatan khusus di kamar president suite, Pak Sanjaya diperbolehkan pulang. Beliau diperkenankan untuk dirawat di rumah. Rumah sakit juga menyediakan perawat yang akan datang ke rumah.

Miranda menyampaikan pada ayahnya kalau dia juga akan ikut menemani dan merawat ayahnya di rumah sampai kondisi ayahnya benar-benar pulih sepenuhnya.

Mereka pulang dengan dijemput oleh sopir pribadi. Pak Sanjaya masih menggunakan kursi roda dari ruang inap menuju lobi rumah sakit. Seorang petugas membantu menaikkan Pak Sanjaya ke mobil Alphard-nya.Setelah semua beres, sopir pun melajukan mobil mewah itu meninggalkan rumah sakit.

Di perjalanan menuju rumah, Miranda sempat menelepon Cedric, wakil direktur perusahaan yang dipimpinnya di Kota Perth. Dia meminta Cedric untuk menggantikan tugasnya selama beberapa minggu ke depan. Kalau ada sesuatu yang genting, dia meminta menghubunginya melalu berbagai platform video conference atau web meeting, seperti Zoom atau Google Meet. Cedric pun menerima penugasan itu dengan senang hati.

 

***

Sudah hampir dua minggu Miranda menemani dan merawat ayahnya di rumah. Dia membuatkan makanan kesukaan ayahnya. Dia menyuapi ayahnya makan. Dia juga harus membujuk dengan berbagai macam cara agar ayahnya mau makan makanan yang disarankan dokter. Dia juga harus memberikan berbagai macam alasan agar ayahnya mulai mengurangi makan makanan yang dapat memicu penyakit jantungnya.

Seminggu kemudian Pak Sanjaya sudah terlihat kembali pulih seperti sediakala. Dia pun merasa sudah cukup kuat untuk kembali ke kantor. Melihat ayahnya sudah benar-benar pulih, Miranda pun minta izin untuk kembali ke Perth.

Dia sempat menyesal tidak menanyakan nomor kontak penjara tempat suaminya ditahan. Dia pun tidak bisa mengecek keadaan suaminya saat ini. Ketika berkunjung nanti, dia berencana meminta maaf dan menceritakan semua yang sedang dialaminya. Dia berharap suaminya bisa menerima dan memaklumi.

Miranda baru saja ingin melakukan transaksi pembelian tiket pesawat di aplikasi ponsel ketika dia teringat dengan Vania dan Arvin. Urusannya dengan Vania belum selesai. Mereka belum berdamai. Gadis yang baru beranjak remaja itu masih membencinya. Dia pun akhirnya membatalkan kepulangannya ke Australia dan memutuskan untuk mengunjungi Arvin dan anak-anaknya terlebih dahulu.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar