Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Halo, Tante. Ada apa?" kata Miranda.
"Mir, Papamu masuk UGD! Sepertinya penyakit jantungnya
kembali kambuh. Tapi kali ini lebih parah." Terdengar suara Tante Nadya,
adik bungsu Ayahnya, samar-samar di ponsel.
"Kapan kejadiannya, Tante?!" Miranda langsung
terlihat panik.
"Barusan. Kata orang yang memberitahu Tante tadi, dia
sempat berdebat hebat dengan pak Gumira sebelum tiba-tiba pingsan. Ini kami
sedang dalam perjalanan ke rumah sakit."
"Iya, Tante. Miranda akan langsung pulang ke Jakarta
sekarang. Miranda cari tiket dulu."
Kabar dari tantenya barusan langsung melupakan Miranda
terhadap niat awalnya hari ini yang hendak mengunjungi Robert. Dia langsung
membuka aplikasi pembelian tiket pesawat. Dipilihnya tanggal hari ini. Dia
langsung mengecek jam keberangkatan yang paling dekat. Beruntung dia
menemukannya, yaitu dua jam dari sekarang.
Miranda tiba di Jakarta hampir tengah malam. Terminal
kedatangan terlihat lengang. Namun karena ini adalah ibukota negara, dia tidak
kesulitan mendapatkan taksi yang dapat mengantarnya langsung ke rumah sakit
tempat ayahnya dirawat. Saat dia sampai di rumah sakit, ayahnya sudah berada di
ruang ICU. Tante Nadya terlihat sendirian duduk di bangku tepat di depan
ruangan itu. Miranda langsung berjalan cepat menghampirinya.
"Gimana kondisi Papa, Tante?" tanya Miranda dengan
panik.
"Masih koma," jawab Tante Nadya pelan sambil
menunjuk ke dalam ruangan berdinding kaca di hadapannya.
Miranda melongok ke balik dinding kaca. Terlihat olehnya
ayahnya terbujur kaku di atas tempat tidur. Berbagai macam selang dipasangkan
di wajah dan lengan Pak Sanjaya. Alat pendeteksi detak jantung juga terlihat di
sampingnya. Layar hitam alat itu menampilkan kurva yang terus bergerak naik
turun sebagai penanda jantung Pak Sanjaya masih bekerja. Dia masih hidup.
Tiga hari kemudian Miranda mendapat kabar baik. Ayahnya
berhasil melewati fase kritis. Ayahnya kembali siuman. Beberapa saat kemudian
ayahnya dipindahkan ke kamar rawat inap president suite. Miranda duduk di dekat kepala ayahnya. Dia tampak
mengusap-usap punggung tangan ayahnya. Pak Sanjaya terlihat tertidur lelap.
Sementara itu, Tante Nadya duduk di sofa panjang dekat jendela berjarak
kira-kira empat langkah dari Miranda.
Miranda memutar tubuh menghadap ke arah tantenya itu.
"Ibu mana, Tante?" tanyanya pada tantenya yang sedang memainkan
ponsel itu. Ibu yang dimaksudkannya adalah Bu Jennita, istri kedua ayahnya. Dia
baru menyadari kalau selama ayahnya dirawat di rumah sakit, ibu tirinya itu
tidak pernah terlihat.
"Tidak usah ditanyakan. Seperti biasa, mana peduli dia
dengan papamu. Tahunya hanya belanja dan jalan-jalan saja," jawab Tante
Nadya dengan suara ketus dan raut wajah muak.
"Jangan begitu, Dik. Dia bukan sekedar jalan-jalan. Dia
sedang mengunjungi Abigail di London yang mau ujian akhir," Pak Sanjaya
tiba-tiba langsung menimpali. Rupanya dia sudah terbangun dari tidurnya.
Tante Nadya mengangkat wajahnya dan menatap sinis pada
kakaknya itu. "Seperti biasa, Mas selalu membelanya. Terserah saja. Dia
memang istrimu," katanya dengan suara kesal.
"Tapi setidaknya dia berusaha pulang cepat, biar Mas
ada yang menemani selama masa pemulihan," tambahnya dengan nada suara
semakin meninggi.
"Sudahlah, Tante. Biar Mira saja yang menemani dan
merawat Papa," ujar Miranda menengahi. Dia menatap tantenya itu sambil
tersenyum.
Perdebatan mereka terhenti ketika seorang perawat datang. Dia memberikan suntikan ke pergelangan tangan Pak Sanjaya. Setelah itu dia memeriksa beberapa hal sebelum meninggalkan kamar lima menit kemudian.
***
Setelah tiga hari mendapat perawatan khusus di kamar president suite, Pak Sanjaya
diperbolehkan pulang. Beliau diperkenankan untuk dirawat di rumah. Rumah sakit
juga menyediakan perawat yang akan datang ke rumah.
Miranda menyampaikan pada ayahnya kalau dia juga akan ikut
menemani dan merawat ayahnya di rumah sampai kondisi ayahnya benar-benar pulih
sepenuhnya.
Mereka pulang dengan dijemput oleh sopir pribadi. Pak
Sanjaya masih menggunakan kursi roda dari ruang inap menuju lobi rumah sakit.
Seorang petugas membantu menaikkan Pak Sanjaya ke mobil Alphard-nya.Setelah
semua beres, sopir pun melajukan mobil mewah itu meninggalkan rumah sakit.
Di perjalanan menuju rumah, Miranda sempat menelepon Cedric,
wakil direktur perusahaan yang dipimpinnya di Kota Perth. Dia meminta Cedric
untuk menggantikan tugasnya selama beberapa minggu ke depan. Kalau ada sesuatu
yang genting, dia meminta menghubunginya melalu berbagai platform video conference atau web meeting, seperti Zoom atau Google
Meet. Cedric pun menerima penugasan itu dengan senang hati.
***
Sudah hampir dua minggu Miranda menemani dan merawat ayahnya
di rumah. Dia membuatkan makanan kesukaan ayahnya. Dia menyuapi ayahnya makan.
Dia juga harus membujuk dengan berbagai macam cara agar ayahnya mau makan
makanan yang disarankan dokter. Dia juga harus memberikan berbagai macam alasan
agar ayahnya mulai mengurangi makan makanan yang dapat memicu penyakit
jantungnya.
Seminggu kemudian Pak Sanjaya sudah terlihat kembali pulih
seperti sediakala. Dia pun merasa sudah cukup kuat untuk kembali ke kantor.
Melihat ayahnya sudah benar-benar pulih, Miranda pun minta izin untuk kembali
ke Perth.
Dia sempat menyesal tidak menanyakan nomor kontak penjara tempat suaminya ditahan. Dia pun tidak bisa mengecek keadaan suaminya saat ini. Ketika berkunjung nanti, dia berencana meminta maaf dan menceritakan semua yang sedang dialaminya. Dia berharap suaminya bisa menerima dan memaklumi.
Miranda baru saja ingin melakukan transaksi pembelian tiket pesawat di aplikasi ponsel ketika dia teringat dengan Vania dan Arvin. Urusannya dengan Vania belum selesai. Mereka belum berdamai. Gadis yang baru beranjak remaja itu masih membencinya. Dia pun akhirnya membatalkan kepulangannya ke Australia dan memutuskan untuk mengunjungi Arvin dan anak-anaknya terlebih dahulu.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.