Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 32. Gagal

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 32. Gagal
_______________________________________

Saat Miranda tiba di rumah Arvin, tidak ada siapa-siapa di sana. Nomor Arvin yang dihubunginya sedang tidak aktif. Nomor Vania juga tidak aktif.

Dia pun berjalan ke beberapa rumah di sekitar rumah Arvin ingin bertanya. Di ujung gang, tampak seorang perempuan yang berusia sekitar empat puluhan sedang menyiram tanaman di dekat pagar.

“Permisi, Bu!” ujar Miranda kepada perempuan itu.

Si perempuan menoeh. “Iya. Ada apa?” jawabnya dengan tatapan sedikit curiga.

“Mau nanya sedikit, Bu, boleh?”

“Iya. Nanya apa?”

“Penghuni rumah hijau itu kira-kira sedang ke mana ya, Bu? Kok rumahnya kosong? Saya hubungi nomornya juga tidak diangkat,” tanya Miranda sambil menunjuk rumah Arvin yang berjarak kira-kira  lima buah rumah dari rumah perempuan yang sedang ditanyainya.

“Oh! Penghuni rumah itu. Kalau tidak salah, anak gadisnya yang bernama Vania terkena penyakit typus dan sudah dua hari dirawat di rumah sakit.”

Miranda tampak sangat kaget. “Oh gitu?!” timpalnya dengan wajah langsung memerah.

Tanpa ditanya, Si perempuan langsung menyebutkan nama rumah sakit tempat Vania dirawat.

Setelah berterima kasih dan berpamitan dengan perempuan itu, tanpa pikir panjang, Miranda pun langsung meluncur ke rumah sakit yang disebutkan si perempuan tadi. 

***

Vania masih diopname dan dirawat di kamar VIP ketika Miranda tiba di rumah sakit.

"Sudah berapa hari?" tanya Miranda pada Arvin yang sedang duduk di sisi kepala Vania.

"Dua hari," jawab Arvin.

"Bagaimana perkembangannya?" tanya Miranda lagi makin terlihat khawatir.

"Sudah membaik. Tinggal pemulihan saja. Mungkin perlu dirawat di sini beberapa hari lagi."

"Biar aku yang menemani, ya," kata Miranda pada Vania.

Vania menatap kosong ke arah Miranda. Dia tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Lima belas menit kemudian Vania mengatupkan mata lalu tertidur lelap.

Arvin mengajak Miranda ke luar kamar.

"Kamu tidak usah repot. Aku masih bisa menemaninya di malam hari. Kalau siang, sudah ada perawat," katanya sopan ketika sudah duduk di koridor dekat kamar Vania dirawat. Dia menolak tawaran Miranda tadi.

"Tidak apa-apa, Vin. Biar siangnya aku yang mengurus Vania," balas Miranda tetap bersikeras.

Arvin tampak berpikir keras. Selalu saja begitu. Dia tidak punya alasan untuk menolak tawaran Miranda.

"Pliiiss...ya, Vin!" pinta Miranda sedikit mengiba.

Arvin pun mengangguk dengan berat. Mereka pun bersepakat kalau Miranda menemani Vania di siang hari ketika Arvin berangkat ke kantor. Sementara Arvin menjaga di malam hari. 

***

Miranda tampak sangat telaten merawat Vania. Dia tidak pernah lupa memberikan obat, menyuapi makan, menemani ke kamar mandi, bahkan menyebokinya. Sayangnya, Vania tetap terlihat kurang menghargai semua itu. Tatapan mata dan kata-katanya tetap saja judes pada Miranda.

Tidak ada pilihan lain, Miranda tetap tersenyum menyikapi sikap Vania itu.

Miranda juga memutuskan untuk tetap menemani Vania di rumah ketika gadis itu dieprbolehkan pulang. Dia datang pagi-pagi sekali ke rumah Arvin. Dia memasakkan makanan yang disukai Vania. Dia juga menemani Vania, Widya, dan Arvin sarapan dan makan malam. Dia baru pulang ketika Vania dan Widya masuk ke kamar untuk tidur. Sesekali dia juga ikut membantu pengasuh mengurus Trisna, bayinya Karin.

Apa yang dilakukan Miranda ternyata belum mampu meluluhkan hati Vania. Semingg minggu setelah Miranda menemaninya, sikap Vania tetap tidak berubah. Dia tetap bersikap dingin, sulit diajak bicara, menjawab pendek ketika ditanya. Ekspresi wajahnya datar, tidak menampakkan emosi apa pun. Kalau pun muncul emosi, itu malah emosi negatif seperti kesal dan marah.

Vania benar-benar pulih setelah dua minggu dirawat di rumah. Dia pun sudah diizinkan ayahnya untuk pergi ke sekolah. Miranda tersenyum senang melihat Vania sudah kembali bersekolah. Namun, tetap saja sikap Vania tidak berubah. Dia tetap bersikap sinis dan dingin terhadap Miranda.

Dengan hati yang galau, Miranda pun memutuskan kembali ke Australia. Dia tidak bisa berlama-lama. Sudah lebih sebulan dia meninggalkan kantor dan juga suaminya. Memang Cedric yang dimintanya menggantikan di kantor berhasil menjalankantugasnya dengan baik. Dia mampu mengerjakan dan menyelesaikan semua urusan.Namun, dia tidak ingin merepotkan pria energik dan penuh semangat itu terlalu lama.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar