Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dia pun berjalan ke beberapa rumah di sekitar rumah Arvin
ingin bertanya. Di ujung gang, tampak seorang perempuan yang berusia sekitar
empat puluhan sedang menyiram tanaman di dekat pagar.
“Permisi, Bu!” ujar Miranda kepada perempuan itu.
Si perempuan menoeh. “Iya. Ada apa?” jawabnya dengan tatapan
sedikit curiga.
“Mau nanya sedikit, Bu, boleh?”
“Iya. Nanya apa?”
“Penghuni rumah hijau itu kira-kira sedang ke mana ya, Bu?
Kok rumahnya kosong? Saya hubungi nomornya juga tidak diangkat,” tanya Miranda
sambil menunjuk rumah Arvin yang berjarak kira-kira lima buah rumah dari rumah perempuan yang
sedang ditanyainya.
“Oh! Penghuni rumah itu. Kalau tidak salah, anak gadisnya
yang bernama Vania terkena penyakit typus dan sudah dua hari dirawat di rumah
sakit.”
Miranda tampak sangat kaget. “Oh gitu?!” timpalnya dengan
wajah langsung memerah.
Tanpa ditanya, Si perempuan langsung menyebutkan nama rumah
sakit tempat Vania dirawat.
Setelah berterima kasih dan berpamitan dengan perempuan itu, tanpa pikir panjang, Miranda pun langsung meluncur ke rumah sakit yang disebutkan si perempuan tadi.
***
Vania masih diopname dan dirawat di kamar VIP ketika Miranda
tiba di rumah sakit.
"Sudah berapa hari?" tanya Miranda pada Arvin yang
sedang duduk di sisi kepala Vania.
"Dua hari," jawab Arvin.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Miranda lagi
makin terlihat khawatir.
"Sudah membaik. Tinggal pemulihan saja. Mungkin perlu
dirawat di sini beberapa hari lagi."
"Biar aku yang menemani, ya," kata Miranda pada
Vania.
Vania menatap kosong ke arah Miranda. Dia tidak mengangguk,
tidak pula menggeleng. Lima belas menit kemudian Vania mengatupkan mata lalu
tertidur lelap.
Arvin mengajak Miranda ke luar kamar.
"Kamu tidak usah repot. Aku masih bisa menemaninya di
malam hari. Kalau siang, sudah ada perawat," katanya sopan ketika sudah
duduk di koridor dekat kamar Vania dirawat. Dia menolak tawaran Miranda tadi.
"Tidak apa-apa, Vin. Biar siangnya aku yang mengurus
Vania," balas Miranda tetap bersikeras.
Arvin tampak berpikir keras. Selalu saja begitu. Dia tidak
punya alasan untuk menolak tawaran Miranda.
"Pliiiss...ya, Vin!" pinta Miranda sedikit
mengiba.
Arvin pun mengangguk dengan berat. Mereka pun bersepakat kalau Miranda menemani Vania di siang hari ketika Arvin berangkat ke kantor. Sementara Arvin menjaga di malam hari.
***
Miranda tampak sangat telaten merawat Vania. Dia tidak
pernah lupa memberikan obat, menyuapi makan, menemani ke kamar mandi, bahkan
menyebokinya. Sayangnya, Vania tetap terlihat kurang menghargai semua itu.
Tatapan mata dan kata-katanya tetap saja judes pada Miranda.
Tidak ada pilihan lain, Miranda tetap tersenyum menyikapi
sikap Vania itu.
Miranda juga memutuskan untuk tetap menemani Vania di rumah
ketika gadis itu dieprbolehkan pulang. Dia datang pagi-pagi sekali ke rumah
Arvin. Dia memasakkan makanan yang disukai Vania. Dia juga menemani Vania,
Widya, dan Arvin sarapan dan makan malam. Dia baru pulang ketika Vania dan
Widya masuk ke kamar untuk tidur. Sesekali dia juga ikut membantu pengasuh
mengurus Trisna, bayinya Karin.
Apa yang dilakukan Miranda ternyata belum mampu meluluhkan
hati Vania. Semingg minggu setelah Miranda menemaninya, sikap Vania tetap tidak
berubah. Dia tetap bersikap dingin, sulit diajak bicara, menjawab pendek ketika
ditanya. Ekspresi wajahnya datar, tidak menampakkan emosi apa pun. Kalau pun
muncul emosi, itu malah emosi negatif seperti kesal dan marah.
Vania benar-benar pulih setelah dua minggu dirawat di rumah. Dia pun sudah diizinkan ayahnya untuk pergi ke sekolah. Miranda tersenyum senang melihat Vania sudah kembali bersekolah. Namun, tetap saja sikap Vania tidak berubah. Dia tetap bersikap sinis dan dingin terhadap Miranda.
Dengan hati yang galau, Miranda pun memutuskan kembali ke Australia. Dia tidak bisa berlama-lama. Sudah lebih sebulan dia meninggalkan kantor dan juga suaminya. Memang Cedric yang dimintanya menggantikan di kantor berhasil menjalankantugasnya dengan baik. Dia mampu mengerjakan dan menyelesaikan semua urusan.Namun, dia tidak ingin merepotkan pria energik dan penuh semangat itu terlalu lama.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.