Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 33. Puisi tak Berjudul

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 33. Puisi tak Berjudul
______________________________________

Bab 33. Puisi tak Berjudul

Miranda tiba di Bandara Internasional Kota Perth pada Sabtu pagi. Dia memang sengaja memilih hari itu agar keesokan harinya bisa langsung menjenguk suaminya di penjara. Dia dapat merasakan kalau semangat hidup Robert juga ditentukan oleh kehadirannya.

Koper yang dibawanya kali ini jauh lebih besar dibandingkan ketika dia pulang ke Jakarta tempo hari. Selama di Jakarta, dia sempat berbelanja banyak bahan makanan khas Indonesia di sebuah toko khusus ole-ole. Sebagian besar belanjaannya itu adalah bahan-bahan untuk membuat masakan kesukaan Robert.

Pemeriksaan berlapis terhadap barang bawaannya itu membuatnya jauh lebih repot. Dia harus melewati pemeriksaan di ruang karantina. Dia juga harus masuk ke bagian yang mengurusi barang-barang selundupan.

Semua urusan itu menjadi lancar karena dia sudah mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan untuk barang bawaannya itu.

Walaupun tampak repot, dia tetap terlihat senang. Setidaknya dia membawa sesuatu yang dapat digunakan untuk menyogok suaminya agar tidak marah atau merajuk karena ketidakhadirannya beberapa minggu kemarin.

Dia tiba di apartemen sekitar pukul tujuh malam. Setelah mandi dan makan makanan siap saji yang dibelinya di bandara tadi, dia pun langsung pergi tidur agar bisa bangun lebih cepat esok hari.

Keesokan harinya, dia benar-benar bangun sangat cepat. Jarum jam baru menunjukkan pukul empat pagi ketika dia turun dari tempat tidur.

Dia langsung menuju dapur dan memasak makanan kesukaan Robert dengan bahan-bahan yang khusus dibawanya dari Indonesia. Dia memasak rendang, semur jengkol, sayur asem, tempe bacem, serta sambal terasi. Semua makanan itu tidak pernah ditemuinya di Kota Perth.

Setelah semua persiapan selesai, dia pun langsung mandi. Saat dia keluar dari kamar mandi, jarum pendek jam dinding baru mendekati angka enam, sementara jarum panjangnya belum sampai ke angka dua belas. Pakaian yang dikenakannya pagi itu pun simpel. Dia hanya mengenakan celana jeans biru agak ketat dengan blus putih berlengan panjang sebatas pinggang.

Belum sampai jam tujuh, dia sudah selesai memasukkan semua makanan dan beberapa ole-ole dari Jakarta ke bagasi mobil. Dia menyalakan mobil dan meninggalkan apartemen jam tujuh lewat sepuluh menit.

Mobil yang dikendarainya membelah jalanan lengang menuju penjara ketika matahari masih malu-malu menampakkan diri. Raut wajahnya tampak ceria karena akan memberikan kejutan luar biasa untuk suaminya. Sudah lama Robert tidak makan makanan khas Indonesia.

Dia tiba di penjara ketika gerbangnya baru saja dibuka. Bahkan dia harus menunggu beberapa menit di luar gerbang karena si petugas masih harus menyiapkan beberapa dokumen administrasi bagi para pengunjung.

"Tunggu sebentar," kata petugas di depan Miranda.

"Iya, Pak. Aman," balas Miranda.

Seorang petugas datang dari dalam dan membantu petugas tadi.

"Silakan mengisi buku pengunjung ini terlebih dahulu," kata si petugas.

Dengan begitu antusias Miranda mendekati meja dan menuliskan namanya di buku yang diletakkan di atas meja itu.

"Silakan temui petugas di dalam untuk memberitahu tahanan yang hendak dikunjungi," kata petugas satunya lagi.

"Baik, Pak. Terima kasih banyak," balas Miranda.

Miranda langsung berjalan cepat memasuki pintu gerbang yang baru saja dibuka itu. Langkah kakinya sangat mantap ketika melewati lorong menuju ruang pemeriksaan. Setelah melewati pemeriksaan fisik dan pintu scanning untuk memeriksa barang bawaannya, dia langsung menuju ruang pelaporan.

"Mau ketemu siapa?" tanya petugas yang berjaga di ruang kunjungan melakukan prosedur standar.

"Suamiku," jawab Miranda pelan.

"Siapa namanya?" tanya petugas itu lagi dengan suara tetap terdengar tegas.

"Robert Suwarsono," kata Miranda menyebutkan nama lengkap suaminya.

"Sebentar saya periksa namanya," timpal petugas itu.

Miranda mengangguk dan tersenyum lalu menjawab,

"Oke."

Si petugas lalu mengetik nama Robert pada keyboard di depannya. Matanya tampak serius mengamati setiap kata di layar komputer di hadapannya. Setelah beberapa menit memeriksa dokumen yang terpampang di layar itu, si petugas beralih menatap ke arah Miranda, lalu berucap,

"Maaf. Apakah Nyonya benar-benar belum tahu?"

"Tahu apa?" tanya Miranda terlihat kaget.

"Bukankah suami Nyonya sudah meninggal seminggu yang lalu?" jawab si petugas dengan bertanya balik sambil menatap heran ke arah Miranda.

"Apa?! Kenapa?!" teriak Miranda makin kaget dan panik.

Wajahnya langsung terlihat pucat pasi.

"Dia bunuh diri," jawab si petugas dengan suara tenang dan raut wajah datar.

"Bunuh diri?!" teriak Miranda lagi dengan suara semakin keras.

Raut wajah terkejut berubah menjadi kepanikan. Dia memegangi kepala sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Dahi si petugas terlihat mengerut, merasa heran melihat Miranda tidak tahu sama sekali dengan kabar suaminya itu. Dengan tenang dia pun memberikan penjelasan tambahan.

"Iya. Dia gantung diri menggunakan selimut yang dirobek menjadi tali. Jasadnya sempat disimpan di rumah sakit penjara beberapa hari, menunggu keluarga mengambilnya. Namun, karena tidak ada yang mengklaim selama lima hari setelah kematiannya, akhirnya kemarin dia dimakamkan di pemakaman umum."

Miranda tak mampu berkata-kata. Tubuhnya langsung merosot ke lantai. Dia tergeletak tak berdaya di sana.

Beberapa petugas langsung berlarian menghampiri, lalu menggotong tubuh Miranda, dan mendudukkannya ke kursi. Salah satu petugas memberinya air putih dari botol plastik. Miranda meminumnya. Wajahnya mulai memerah. Namun tatapannya masih kosong. Keterkejutan, kepanikan, penyesalan, kesedihan, kemarahan, tampak bersatu padu di wajahnya itu. Dadanya masih saja terdengar bergemuruh. Keringat pun langsung bercucuran di sekujur tubuhnya.

"Oh ya. Saya baru ingat," kata petugas yang tadi menginformasikan kematian Robert.

Dia kembali ke mejanya, membuka laci meja, lalu mengeluarkan selembar kertas dari laci itu. Dia lalu kembali menghampiri Miranda.

"Dia meninggalkan catatan ini di sel tahanannya. Saya sengaja menyimpannya, agar dapat diberikan kepada keluarganya," katanya sambil menyerahkan kertas itu pada Miranda.

Dengan tangan gemetaran, Miranda menerima kertas itu. Perlahan dibukanya lipatan kertas bergaris di tangannya. Dia ingat kalau kertas itu diberikannya pada Robert sewaktu kunjungan pertama dan terakhirnya tempo hari. Terlihat tulisan tangan yang sangat rapi memenuhi baris-baris kertas. Miranda mengamatinya sepintas. Itu seperti sebuah puisi tapi tak ada judulnya. 

Kupikir engkau akan selalu menepati janji
Tapi minggu ini ternyata engkau tak datang lagi
Ah, mungkin engkau hanya lupa

Minggu berikutnya masih tak ada berita
Tak ada petugas yang membawa kabar indah
Tak ada bayangmu di lorong sana
Sepertinya engkau memang mulai melupa

Minggu selanjutnya sama saja
Rupanya engkau pun sudah benar-benar melupakan semua
Minggu keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan ke berapa pun itu akan sama saja
Itu hanya penguat untuk hal yang serupa

Maaf, Sayang
Aku tak mampu menahan beratnya kerinduan
Tapi aku lebih tak mampu lagi menahan beratnya dilupakan

Kupikir cinta kita kan abadi
Tapi ternyata dengan mudahnya dipisahkan oleh jeruji
Maaf, Sayang
aku tak mampu lagi bertahan

Selamat tinggal
Kutunggu dirimu di keabadian

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar