Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Koper yang dibawanya kali ini jauh lebih besar dibandingkan
ketika dia pulang ke Jakarta tempo hari. Selama di Jakarta, dia sempat
berbelanja banyak bahan makanan khas Indonesia di sebuah toko khusus ole-ole.
Sebagian besar belanjaannya itu adalah bahan-bahan untuk membuat masakan
kesukaan Robert.
Pemeriksaan berlapis terhadap barang bawaannya itu
membuatnya jauh lebih repot. Dia harus melewati pemeriksaan di ruang karantina.
Dia juga harus masuk ke bagian yang mengurusi barang-barang selundupan.
Semua urusan itu menjadi lancar karena dia sudah
mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan untuk barang bawaannya itu.
Walaupun tampak repot, dia tetap terlihat senang. Setidaknya
dia membawa sesuatu yang dapat digunakan untuk menyogok suaminya agar tidak
marah atau merajuk karena ketidakhadirannya beberapa minggu kemarin.
Dia tiba di apartemen sekitar pukul tujuh malam. Setelah
mandi dan makan makanan siap saji yang dibelinya di bandara tadi, dia pun
langsung pergi tidur agar bisa bangun lebih cepat esok hari.
Keesokan harinya, dia benar-benar bangun sangat cepat. Jarum
jam baru menunjukkan pukul empat pagi ketika dia turun dari tempat tidur.
Dia langsung menuju dapur dan memasak makanan kesukaan
Robert dengan bahan-bahan yang khusus dibawanya dari Indonesia. Dia memasak
rendang, semur jengkol, sayur asem, tempe bacem, serta sambal terasi. Semua
makanan itu tidak pernah ditemuinya di Kota Perth.
Setelah semua persiapan selesai, dia pun langsung mandi.
Saat dia keluar dari kamar mandi, jarum pendek jam dinding baru mendekati angka
enam, sementara jarum panjangnya belum sampai ke angka dua belas. Pakaian yang
dikenakannya pagi itu pun simpel. Dia hanya mengenakan celana jeans biru agak
ketat dengan blus putih berlengan panjang sebatas pinggang.
Belum sampai jam tujuh, dia sudah selesai memasukkan semua
makanan dan beberapa ole-ole dari Jakarta ke bagasi mobil. Dia menyalakan mobil
dan meninggalkan apartemen jam tujuh lewat sepuluh menit.
Mobil yang dikendarainya membelah jalanan lengang menuju
penjara ketika matahari masih malu-malu menampakkan diri. Raut wajahnya tampak
ceria karena akan memberikan kejutan luar biasa untuk suaminya. Sudah lama
Robert tidak makan makanan khas Indonesia.
Dia tiba di penjara ketika gerbangnya baru saja dibuka.
Bahkan dia harus menunggu beberapa menit di luar gerbang karena si petugas
masih harus menyiapkan beberapa dokumen administrasi bagi para pengunjung.
"Tunggu sebentar," kata petugas di depan Miranda.
"Iya, Pak. Aman," balas Miranda.
Seorang petugas datang dari dalam dan membantu petugas tadi.
"Silakan mengisi buku pengunjung ini terlebih
dahulu," kata si petugas.
Dengan begitu antusias Miranda mendekati meja dan menuliskan
namanya di buku yang diletakkan di atas meja itu.
"Silakan temui petugas di dalam untuk memberitahu
tahanan yang hendak dikunjungi," kata petugas satunya lagi.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak," balas Miranda.
Miranda langsung berjalan cepat memasuki pintu gerbang yang
baru saja dibuka itu. Langkah kakinya sangat mantap ketika melewati lorong
menuju ruang pemeriksaan. Setelah melewati pemeriksaan fisik dan pintu scanning untuk memeriksa barang
bawaannya, dia langsung menuju ruang pelaporan.
"Mau ketemu siapa?" tanya petugas yang berjaga di
ruang kunjungan melakukan prosedur standar.
"Suamiku," jawab Miranda pelan.
"Siapa namanya?" tanya petugas itu lagi dengan
suara tetap terdengar tegas.
"Robert Suwarsono," kata Miranda menyebutkan nama
lengkap suaminya.
"Sebentar saya periksa namanya," timpal petugas
itu.
Miranda mengangguk dan tersenyum lalu menjawab,
"Oke."
Si petugas lalu mengetik nama Robert pada keyboard di depannya. Matanya
tampak serius mengamati setiap kata di layar komputer di hadapannya. Setelah
beberapa menit memeriksa dokumen yang terpampang di layar itu, si petugas
beralih menatap ke arah Miranda, lalu berucap,
"Maaf. Apakah Nyonya benar-benar belum tahu?"
"Tahu apa?" tanya Miranda terlihat kaget.
"Bukankah suami Nyonya sudah meninggal seminggu yang
lalu?" jawab si petugas dengan bertanya balik sambil menatap heran ke arah
Miranda.
"Apa?! Kenapa?!" teriak Miranda makin kaget dan
panik.
Wajahnya langsung terlihat pucat pasi.
"Dia bunuh diri," jawab si petugas dengan suara
tenang dan raut wajah datar.
"Bunuh diri?!" teriak Miranda lagi dengan suara
semakin keras.
Raut wajah terkejut berubah menjadi kepanikan. Dia memegangi
kepala sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Dahi si petugas terlihat mengerut, merasa heran melihat
Miranda tidak tahu sama sekali dengan kabar suaminya itu. Dengan tenang dia pun
memberikan penjelasan tambahan.
"Iya. Dia gantung diri menggunakan selimut yang dirobek
menjadi tali. Jasadnya sempat disimpan di rumah sakit penjara beberapa hari,
menunggu keluarga mengambilnya. Namun, karena tidak ada yang mengklaim selama
lima hari setelah kematiannya, akhirnya kemarin dia dimakamkan di pemakaman
umum."
Miranda tak mampu berkata-kata. Tubuhnya langsung merosot ke
lantai. Dia tergeletak tak berdaya di sana.
Beberapa petugas langsung berlarian menghampiri, lalu
menggotong tubuh Miranda, dan mendudukkannya ke kursi. Salah satu petugas
memberinya air putih dari botol plastik. Miranda meminumnya. Wajahnya mulai
memerah. Namun tatapannya masih kosong. Keterkejutan, kepanikan, penyesalan,
kesedihan, kemarahan, tampak bersatu padu di wajahnya itu. Dadanya masih saja
terdengar bergemuruh. Keringat pun langsung bercucuran di sekujur tubuhnya.
"Oh ya. Saya baru ingat," kata petugas yang tadi
menginformasikan kematian Robert.
Dia kembali ke mejanya, membuka laci meja, lalu mengeluarkan
selembar kertas dari laci itu. Dia lalu kembali menghampiri Miranda.
"Dia meninggalkan catatan ini di sel tahanannya. Saya
sengaja menyimpannya, agar dapat diberikan kepada keluarganya," katanya
sambil menyerahkan kertas itu pada Miranda.
Dengan tangan gemetaran, Miranda menerima kertas itu. Perlahan dibukanya lipatan kertas bergaris di tangannya. Dia ingat kalau kertas itu diberikannya pada Robert sewaktu kunjungan pertama dan terakhirnya tempo hari. Terlihat tulisan tangan yang sangat rapi memenuhi baris-baris kertas. Miranda mengamatinya sepintas. Itu seperti sebuah puisi tapi tak ada judulnya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.