Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dia memilih cara lain untuk menghabiskan waktu. Setelah
keluar dari gerbang sekolah, dia tidak langsung pulang ke rumah seperti
biasanya melainkan berdiri menunggu di depan gerbang hingga kerumunan siswa
mulai berkurang sampai tersisa satu dua orang saja yang menunggu jemputan. Dia
berdiam diri seperti itu terkadang hingga setengah jam lebih. Setelah itu, dia
mulai berjalan menyusuri trotoar tanpa tujuan jelas mau ke mana. Yang
dilakukannya hanyalah melangkahkan kaki sejauh mungkin sampai dirinya merasa
lelah. Barulah kemudian dia memesan taksi untuk pulang ke rumah.
Hari ini kebiasaan itu kembali dilakukannya. Tapi dia
mencoba berjalan ke arah yang berbeda dari biasanya. Langkah kakinya sangat
pelan. Kepalanya terus tertunduk. Kemungkinan besar hanya tubuhnya yang berada
di situ. Sementara pikirannya bergentayangan ke tempat yang lain. Dia sedang
berjalan terseok-seok, ketika sebuah mobil mewah tiba-tiba melambat dan menepi
tepat di sampingnya. Mobil itu terus berjalan pelan di sisi kanannya. Tampaknya
pengemudi mobil itu sedang menguntitnya.
Beberapa menit kemudian terdengar bunyi klakson dari mobil
itu. Vania tidak menghiraukannya. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Klakson kembali berbunyi. Vania tetap tidak menggubrisnya. Klakson itu kembali
berbunyi berkali-kali. Tapi percuma saja. Vania tetap meneruskan langkah
seperti tidak mendengar apa-apa.
Mobil itu akhirnya melaju sedikit lebih cepat dan berhenti
beberapa meter di depan Vania. Seorang perempuan cantik bergegas keluar dari
mobil itu lalu berjalan cepat menghampiri Vania.
"Vania?!" panggilnya sambil menyentuh pundak
Vania.
Vania mengangkat wajah, lalu menoleh. "Tante
Angela?" balasnya dengan suara yang sangat pelan dan ekspresi datar.
Setelah menatap Angela sejenak, dia kembali menunduk lagi.
"Hai, Sayang! Kamu terlihat sangat pucat dan lesu. Ada
apa?" ucap Angela dengan suara yang terdengar lembut dan ramah.
Vania bergeming.
"Tante antar pulang, yuk," kata Angela membujuk.
Vania hanya menggeleng.
Setelah diam sejenak, Angela kembali berucap, "Boleh
Tante mengobrol sebentar denganmu?"
Vania pun mengangguk.
"Kita mengobrol di tempat lain saja, ya," kata
Angela menawari.
"Di sini saja, Tante." Akhirnya Vania bersuara.
"Bagaimana kalau sambil duduk di mobil saja?"
tawar Angela lagi.
Vania sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
Angela langsung bergegas melangkah mendekati sisi kiri
mobil, membukakan pintu depan, dan mempersilahkan Vania masuk. Setelah Vania
masuk dan duduk di kursi di samping pengemudi, dia langsung menutupkan pintu
itu. Dia lalu memutari bagian depan mobil, membuka pintu depan sebelah kanan
dan duduk di kursi pengemudi. Dia kemudian menyalakan mobil dan mengaktifkan
pendingin sehingga suasana di dalam mobil langsung berubah sejuk.
Angela tidak langsung bersuara. Dia seperti sedang
mengumpulkan energi untuk membuka mulutnya yang tiba-tiba terkatup rapat.
Setelah membulatkan tekad, dia pun bersuara,
"Tante mau minta maaf padamu," katanya kemudian
sambil menoleh ke arah Vania. Tangannya menggenggam erat kemudi.
Vania duduk dengan meletakkan kedua telapak tangannya di
atas paha. Kepalanya menunduk sehingga rambut hitam, lurus, dan panjang itu
hampir menutupi semua wajahnya.
"Minta maaf untuk apa, Tante?" tanyanya polos.
"Untuk semua yang menimpamu. Semua masalahmu dan
keluargamu boleh dibilang gara-gara Tante," jawab Angela dengan suara
tegas namun terlihat lebih tenang.
Vania hanya menoleh sebentar lalu kembali menunduk. Dia
memainkan jemari tangan yang ditumpukannya di atas paha. Tidak terlihat
keinginannya untuk tahu lebih banyak. Dia hanya menunggu untuk menyimak.
Angela tampak serba salah. Dari tingkah anehnya itu,
sepertinya ada sesuatu yang sangat penting hendak disampaikannya. Setelah
beberapa menit terdiam, akhirnya dia kembali bersuara,
"Masalah video papamu tempo hari, itu bukan salah
papamu."
Vania mengangkat kepala, menoleh ke arah Angela, lalu
langsung menimpali, "Vania sudah tahu. Papa sudah menjelaskan itu. Vania
percaya cerita papa."
Angela balas menatap ke arah gadis itu. Namun dia kesulitan
menatap matanya karena Vania segera kembali menunduk. Hampir seluruh wajahnya
kembali tertutupi oleh rambutnya yang hitam dan panjang.
"Setidaknya kalau Tante yang menyampaikannya, itu makin
memperkuat apa yang disampaikan papamu," timpalnya sambil lebih
mengeratkan pegangan tangannya pada setir mobil. Matanya kini kembali menatap
jauh ke depan. Tapi tatapan itu tampak gamang dan penuh penyesalan.
Vania kembali bergeming, tidak menanggapi sama sekali.
"Kejadian yang menimpa bundamu sedikit banyak juga
gara-gara Tante. Waktu itu Tante yang mengajak papamu dan bundamu bertemu di
restoran itu. Tante ingin menjelaskan semuanya pada bundamu sekaligus meminta
maaf. Tapi tidak tahu kenapa kejadiannya malah berakhir petaka seperti itu.
Saat Tante tiba di restoran, bundamu sudah dibawa pergi menggunakan
ambulans."
"Papa juga sudah menceritakannya. Persis seperti yang
Tante sampaikan," kata Vania menimpali.
"Bagaimanapun, Tante tetap merasa bersalah karena Tane
yang meminta papamu mengajak Bunda Karin."
Vania kembali mengangkat wajah sedikit lalu memandang ke
depan menembus kaca mobil, menuju jalanan yang agak lengang di depan sana.
"Tidak usah dipikirkan lagi, Tante. Semua sudah terjadi dan tidak bisa
diputar ulang."
Beberapa saat kemudian butiran bening mulai muncul di sudut
mata Vania. Semua kenangan indah bersama Bunda Karin langsung menyeruak di
ingatannya. Tak mampu membendung kenangan itu, dia pun terisak-isak.
"Sekali lagi Tante minta maaf." Suara Angela kali
ini terdengar bergetar. Sepertinya suara itu benar-benar tulus dari lubuk
hatinya yang terdalam.
Air Vania mengalir lebih deras. Dia menatap ke arah Angela
sebelum kemudian mengangguk. Dia merasa harus menerima permintaan maaf itu.
Bukan untuk menenangkan dirinya melainkan untuk menenangkan hati Angela. Dia
tidak ingin membuat perempuan itu ikut menderita. Lagi pula, penjelasan dan
permintaan maaf itu tidak berarti lagi baginya. Itu tidak akan mampu membuat
semua kembali seperti semula. Itu tidak akan mampu menghadirkan kembali semua
yang telah hilang dari dirinya.
Angela merasa sedikit lega telah menceritakan semuanya. Tapi
itu tidak membuat rasa bersalahnya sirna begitu saja. Karena ternyata itu belum
mampu mengembalikan keceriaan Vania. Raut wajah gadis itu tidak berubah. Malah
sekarang kesedihan semakin tampak jelas di wajahnya dihiasi dengan air mata
penuh kehilangan. Itu artinya suasana hatinya tetap sama seperti sebelum dia
menceritakan semuanya dan meminta maaf. Atau mungkin sekarang menjadi lebih
parah dibandingkan sebelumnya.
"Kamu mau ke mana setelah ini?" tanya Angela
memecah kesunyian yang berlangsung cukup lama.
"Vania mau pulang, Tante."
"Tante antar pulang ke rumah, ya," kata Angela menawari.
"Aku pulang naik taksi saja, Tante," balas Vania
menolak tawaran Angela
Dia lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.
"Tante duluan saja," katanya meminta Angela
meninggalkannya sebelum dia menutup pintu mobil.
Angela hanya bisa mengangguk. "Kamu hati-hati,
ya," katanya sambil tersenyum ke arah Vania.
Vania hanya membalas dengan anggukan kepala.
Perlahan mobil yang dikemudikan Angela bergerak menjauh, meninggalkan Vania sendirian. Setelah mobil itu berbelok ke kanan dan menghilang dari tatapan, Vania kembali melangkah. Dia berjalan menyusuri trotoar entah hendak ke mana. Dia seperti kehilangan arah, tidak tahu ke mana lagi harus mengarahkan langkah kakinya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.