Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 34. Pengakuan

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 34. Pengakuan
_______________________________________

Vania kembali murung. Sudah tiga hari Siska tidak datang ke sekolah. Dia pun akhirnya memutuskan untuk tidak lagi duduk di taman belakang kelas itu. Bima dan Siska tiba-tiba menghilang setelah duduk menemaninya di situ. Sepertinya, taman itu telah menjadi kutukan baginya.

Dia memilih cara lain untuk menghabiskan waktu. Setelah keluar dari gerbang sekolah, dia tidak langsung pulang ke rumah seperti biasanya melainkan berdiri menunggu di depan gerbang hingga kerumunan siswa mulai berkurang sampai tersisa satu dua orang saja yang menunggu jemputan. Dia berdiam diri seperti itu terkadang hingga setengah jam lebih. Setelah itu, dia mulai berjalan menyusuri trotoar tanpa tujuan jelas mau ke mana. Yang dilakukannya hanyalah melangkahkan kaki sejauh mungkin sampai dirinya merasa lelah. Barulah kemudian dia memesan taksi untuk pulang ke rumah.

Hari ini kebiasaan itu kembali dilakukannya. Tapi dia mencoba berjalan ke arah yang berbeda dari biasanya. Langkah kakinya sangat pelan. Kepalanya terus tertunduk. Kemungkinan besar hanya tubuhnya yang berada di situ. Sementara pikirannya bergentayangan ke tempat yang lain. Dia sedang berjalan terseok-seok, ketika sebuah mobil mewah tiba-tiba melambat dan menepi tepat di sampingnya. Mobil itu terus berjalan pelan di sisi kanannya. Tampaknya pengemudi mobil itu sedang menguntitnya.

Beberapa menit kemudian terdengar bunyi klakson dari mobil itu. Vania tidak menghiraukannya. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Klakson kembali berbunyi. Vania tetap tidak menggubrisnya. Klakson itu kembali berbunyi berkali-kali. Tapi percuma saja. Vania tetap meneruskan langkah seperti tidak mendengar apa-apa.

Mobil itu akhirnya melaju sedikit lebih cepat dan berhenti beberapa meter di depan Vania. Seorang perempuan cantik bergegas keluar dari mobil itu lalu berjalan cepat menghampiri Vania.

"Vania?!" panggilnya sambil menyentuh pundak Vania.

Vania mengangkat wajah, lalu menoleh. "Tante Angela?" balasnya dengan suara yang sangat pelan dan ekspresi datar. Setelah menatap Angela sejenak, dia kembali menunduk lagi.

"Hai, Sayang! Kamu terlihat sangat pucat dan lesu. Ada apa?" ucap Angela dengan suara yang terdengar lembut dan ramah.

Vania bergeming.

"Tante antar pulang, yuk," kata Angela membujuk.

Vania hanya menggeleng.

Setelah diam sejenak, Angela kembali berucap, "Boleh Tante mengobrol sebentar denganmu?"

Vania pun mengangguk.

"Kita mengobrol di tempat lain saja, ya," kata Angela menawari.

"Di sini saja, Tante." Akhirnya Vania bersuara.

"Bagaimana kalau sambil duduk di mobil saja?" tawar Angela lagi.

Vania sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

Angela langsung bergegas melangkah mendekati sisi kiri mobil, membukakan pintu depan, dan mempersilahkan Vania masuk. Setelah Vania masuk dan duduk di kursi di samping pengemudi, dia langsung menutupkan pintu itu. Dia lalu memutari bagian depan mobil, membuka pintu depan sebelah kanan dan duduk di kursi pengemudi. Dia kemudian menyalakan mobil dan mengaktifkan pendingin sehingga suasana di dalam mobil langsung berubah sejuk.

Angela tidak langsung bersuara. Dia seperti sedang mengumpulkan energi untuk membuka mulutnya yang tiba-tiba terkatup rapat. Setelah membulatkan tekad, dia pun bersuara,

"Tante mau minta maaf padamu," katanya kemudian sambil menoleh ke arah Vania. Tangannya menggenggam erat kemudi.

Vania duduk dengan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha. Kepalanya menunduk sehingga rambut hitam, lurus, dan panjang itu hampir menutupi semua wajahnya.

"Minta maaf untuk apa, Tante?" tanyanya polos.

"Untuk semua yang menimpamu. Semua masalahmu dan keluargamu boleh dibilang gara-gara Tante," jawab Angela dengan suara tegas namun terlihat lebih tenang.

Vania hanya menoleh sebentar lalu kembali menunduk. Dia memainkan jemari tangan yang ditumpukannya di atas paha. Tidak terlihat keinginannya untuk tahu lebih banyak. Dia hanya menunggu untuk menyimak.

Angela tampak serba salah. Dari tingkah anehnya itu, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting hendak disampaikannya. Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya dia kembali bersuara,

"Masalah video papamu tempo hari, itu bukan salah papamu."

Vania mengangkat kepala, menoleh ke arah Angela, lalu langsung menimpali, "Vania sudah tahu. Papa sudah menjelaskan itu. Vania percaya cerita papa."

Angela balas menatap ke arah gadis itu. Namun dia kesulitan menatap matanya karena Vania segera kembali menunduk. Hampir seluruh wajahnya kembali tertutupi oleh rambutnya yang hitam dan panjang.

"Setidaknya kalau Tante yang menyampaikannya, itu makin memperkuat apa yang disampaikan papamu," timpalnya sambil lebih mengeratkan pegangan tangannya pada setir mobil. Matanya kini kembali menatap jauh ke depan. Tapi tatapan itu tampak gamang dan penuh penyesalan.

Vania kembali bergeming, tidak menanggapi sama sekali.

"Kejadian yang menimpa bundamu sedikit banyak juga gara-gara Tante. Waktu itu Tante yang mengajak papamu dan bundamu bertemu di restoran itu. Tante ingin menjelaskan semuanya pada bundamu sekaligus meminta maaf. Tapi tidak tahu kenapa kejadiannya malah berakhir petaka seperti itu. Saat Tante tiba di restoran, bundamu sudah dibawa pergi menggunakan ambulans."

"Papa juga sudah menceritakannya. Persis seperti yang Tante sampaikan," kata Vania menimpali.

"Bagaimanapun, Tante tetap merasa bersalah karena Tane yang meminta papamu mengajak Bunda Karin."

Vania kembali mengangkat wajah sedikit lalu memandang ke depan menembus kaca mobil, menuju jalanan yang agak lengang di depan sana. "Tidak usah dipikirkan lagi, Tante. Semua sudah terjadi dan tidak bisa diputar ulang."

Beberapa saat kemudian butiran bening mulai muncul di sudut mata Vania. Semua kenangan indah bersama Bunda Karin langsung menyeruak di ingatannya. Tak mampu membendung kenangan itu, dia pun terisak-isak.

"Sekali lagi Tante minta maaf." Suara Angela kali ini terdengar bergetar. Sepertinya suara itu benar-benar tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.

Air Vania mengalir lebih deras. Dia menatap ke arah Angela sebelum kemudian mengangguk. Dia merasa harus menerima permintaan maaf itu. Bukan untuk menenangkan dirinya melainkan untuk menenangkan hati Angela. Dia tidak ingin membuat perempuan itu ikut menderita. Lagi pula, penjelasan dan permintaan maaf itu tidak berarti lagi baginya. Itu tidak akan mampu membuat semua kembali seperti semula. Itu tidak akan mampu menghadirkan kembali semua yang telah hilang dari dirinya.

Angela merasa sedikit lega telah menceritakan semuanya. Tapi itu tidak membuat rasa bersalahnya sirna begitu saja. Karena ternyata itu belum mampu mengembalikan keceriaan Vania. Raut wajah gadis itu tidak berubah. Malah sekarang kesedihan semakin tampak jelas di wajahnya dihiasi dengan air mata penuh kehilangan. Itu artinya suasana hatinya tetap sama seperti sebelum dia menceritakan semuanya dan meminta maaf. Atau mungkin sekarang menjadi lebih parah dibandingkan sebelumnya.

"Kamu mau ke mana setelah ini?" tanya Angela memecah kesunyian yang berlangsung cukup lama.

"Vania mau pulang, Tante."

"Tante antar pulang ke rumah, ya," kata Angela menawari.

"Aku pulang naik taksi saja, Tante," balas Vania menolak tawaran Angela

Dia lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. 

"Tante duluan saja," katanya meminta Angela meninggalkannya sebelum dia menutup pintu mobil.

Angela hanya bisa mengangguk. "Kamu hati-hati, ya," katanya sambil tersenyum ke arah Vania.

Vania hanya membalas dengan anggukan kepala.

Perlahan mobil yang dikemudikan Angela bergerak menjauh, meninggalkan Vania sendirian. Setelah mobil itu berbelok ke kanan dan menghilang dari tatapan, Vania kembali melangkah. Dia berjalan menyusuri trotoar entah hendak ke mana. Dia seperti kehilangan arah, tidak tahu ke mana lagi harus mengarahkan langkah kakinya.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar