Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 35. Kembali ke Titik Awal

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 35. Kembali ke Titik Awal
______________________________________

Tidak ada alasan lagi bagi Miranda untuk tetap tinggal di Australia. Perusahaan yang dipimpinnya memang sedang berkembang pesat. Tapi itu tidak berarti sama sekali kalau kehidupan pribadinya terasa hampa. Dia sudah tidak bisa lagi menjalankan peran sebagai seorang anak yang berbakti karena ibunya sudah tiada. Dia juga tidak bisa lagi menjalankan peran sebagai seorang istri yang setia karena suaminya juga telah memilih meninggalkannya untuk selamanya.

Suasana hatinya benar-benar hancur lebur. Sedalam apa dia terpuruk sudah sangat sulit untuk digambarkan lagi. Bagaimanapun, seperti biasa, dia tidak pernah menyerah. Tidak terbersit sedikit pun di benaknya ingin mengakhiri hidup. Dia tetap ingin hidup lama. Dia meyakini kehadirannya di dunia memiliki makna tersendiri. Seperti apa makna hidupnya yang sesungguhnya, dia memang belum begitu bisa menemukan dan memahaminya. Meskipun begitu, dia tetap memilih untuk terus melangkah, apa pun yang akan terjadi ke depannya.

Miranda teringat dengan kata-kata di dalam sebuah novel yang pernah dibacanya. Dia lupa penulisnya siapa. Kata-katanya pun dia tidak ingat persis. Sering kali penderitaan itu muncul bukan karena kenyataan yang ada, tapi karena kita menginginkan sesuatu yang tidak nyata, yang tidak ada di depan mata, yang telah berlalu, yang terlampau jauh dari jangkauan, yang gagal didapatkan, yang lepas dari genggaman, atau yang masih berada jauh di masa depan. Begitu kata-kata yang masih teringat olehnya.

Lalu dia pun teringat dengan nasehat sederhana setelah itu. Belajar menikmati apa yang ada dan melupakan apa yang tiada merupakan salah satu obat manjur untuk segala macam penderitaan. Rasanya nasehat itu sangat sesuai dengan keadaannya saat ini. Dia akan mencoba menerapkannya.

Setelah direnungkannya lebih dalam, selain kehilangan, ternyata masih tersisa banyak hal yang berharga dalam kehidupannya saat ini. Dia masih memiliki ayah yang sangat peduli dan penuh kasih sayang. Ada pula teman lama seperti Arvin dan Menik yang sangat baik dan tulus. Bahkan masih ada pula Angela yang terkadang bersikap sangat menyebalkan namun tetap memiliki kepedulian. Vania dan Widya juga patut untuk mendapat perhatian. Apalagi kedua gadis kecil itu sedang melewati hari-hari terberatnya setelah kehilangan Karin yang sangat berarti bagi mereka dan sangat mereka sayangi.

Paling tidak, untuk saat ini dia masih bisa berusaha memastikan bahwa ayahnya tetap sehat dan tenang dalam menjalani kehidupan. Untuk itu, pilihan yang harus diambilnya adalah kembali Jakarta. Di situ dia bisa lebih dekat dengan ayahnya sehingga dapat secara rutin mengecek keadaannya. Selain itu, ayahnya juga sempat menawarkan sesuatu padanya. Dia merasa sekarang waktu yang tepat untuk menerima tawaran itu.

Sebenarnya ada alasan lain kenapa dia ingin kembali Jakarta. Alasan itulah yang ingin dibahasnya dengan ayahnya secara langsung.

Tidak banyak barang yang dibawa Miranda ketika meninggalkan apartemennya di Kota Perth. Dia hanya membawa dua koper besar berisi baju dan berkas-berkas pribadi. Apartemen yang ditinggalinya bersama ibunya itu akan dijual. Cedric sudah bersedia membantu. Sementara apartemen yang ditinggalinya bersama Robert tidak digubrisnya lagi meskipun dia adalah ahli waris. Beberapa hari lalu dia sudah menghubungi ibunya Robert yang walaupun sudah tidak lagi mengakui Robert sebagai anak, namun tetap menerima ketika diserahi apartemen itu.

Sebelum hari keberangkatannya kembali Jakarta, Miranda sudah menyelesaikan semua urusan di kantor. Untuk sementara kepemimpinan perusahaan sudah diserahkannya kepada Cedric sebagai pelaksana sementara sambil menunggu ayahnya menunjuk pimpinan baru. Segala detail pekerjaan yang harus ditangani Cedric sudah diberitahukannya secara rinci. Dia juga sudah mengadakan acara perpisahan sederhana dengan para pegawai di kantor. Tangis haru dan rasa kehilangan dapat dirasakannya dari para pegawainya itu. Tidak dapat menahan diri, kala itu dia pun menangis terharu mengetahui bahwa dia sangat dicintai oleh para pegawainya.

Di bandara, Miranda masih merenungkan apa yang telah dialaminya selama setahun terakhir. Peristiwa-peristiwa luar biasa terjadi berturut-turut dalam waktu singkat seperti efek domino yang bergerak secara berantai. Setahun yang lalu dia datang ke sini untuk memulai hidup baru. Namun, nyatanya hidup baru itu tidak bisa dijalaninya lebih lama. Semuanya telah berakhir hari ini. Kini, dia harus kembali ke titik awal, tempat di mana dia meninggalkan masa lalu. Dia tidak bermaksud kembali ke masa lalu itu, melainkan ingin memperbaiki semuanya dari titik awal ketika semuanya bermula. Apakah dia akan bisa melakukannya? Dia tidak tahu dan mungkin juga tidak akan pernah tahu, sebelum benar-benar mencobanya.

Pesawat yang akan membawanya pulang ke Jakarta berjenis Boeing 747, satu-satunya pesawat jumbo yang masih membelah awan dan langit biru hingga kini. Dia sengaja memilih kelas bisnis dan memesan dua kursi sekaligus sehingga dia dapat duduk sendirian dengan tenang tanpa ada yang mengganggu di sampingnya. Kesibukannya selama seharian penuh di kota Perth membuat rasa kantuknya datang dengan sangat cepat. Selepas pesawat lepas landas, dia langsung pulas. Dia baru terbangun ketika awak pesawat memberitahu kalau pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Sesampainya di Jakarta, Miranda langsung menuju ke apartemen lamanya menggunakan taksi bandara. Petugas apartemen langsung memberikan kunci apartemen ketika dia melapor dan menunjukkan identitas. Apartemen itu terlihat bersih dan rapi ketika dia masuk karena sudah dibersihkan siang tadi oleh orang suruhan ayahnya. Saat mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, beribu-ribu kenangan langsung menyeruak ke alam sadarnya. Sosok-sosok yang pernah hadir dalam kehidupannya hadir dengan membawa kebahagiaan maupun kesedihan.

Setelah meletakkan koper, dia memutuskan untuk segera menemui ayahnya di rumah. Pak Sanjaya sempat memberitahu kalau mobil di parkiran apartemen di lantai basemen sudah bisa digunakan. Mobil itu diparkir di sana oleh orang suruhan ayahnya tadi pagi. Miranda mengambil kunci mobil yang diletakkan di atas meja ruang tamu. Dengan menggunakan mobil itu, dia berangkat mengunjungi ayahnya.

Di rumah ayahnya, dia sempat bertemu ibu tirinya yang sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menyeruput teh dan menonton drama Korea. Dari raut wajahnya yang tidak sedap dipandang mata, perempuan itu masih terlihat cuek bahkan terkesan judes seperti biasa. Miranda hanya menyapa sebentar wanita yang suka berpenampilan menor itu lalu langsung beranjak ke lantai dua ke ruang kerja ayahnya. Dia tidak terlalu peduli terhadap sikap cuek ibu tirinya itu karena dia memang bukan ingin bertemu dengannya.

"Hai, Pa!" sapa Miranda ketika muncul di ruang kerja ayahnya.

Pak Sanjaya masih tampak serius mengamati layar laptopnya sebelum akhirnya mengangkat kepala, terkejut lalu berucap, "Eh, Mira?! Kamu sudah tiba?"

"Mira malah sudah dari apartemen kok, Pa. Terus langsung ke sini."

"Oh. Duduk dulu. Papa masih ada kerjaan sedikit."

"Oke Pa." Miranda memilih duduk di sofa panjang sambil menyelonjorkan kakinya.

Beberapa menit kemudian Pak Sanjaya menghampiri dan duduk di sofa di depan Miranda. "Papa turut prihatin dengan apa yang menimpa Robert. Kamu pasti sangat terpukul," katanya dengan nada sedih.

Miranda mengangguk tanpa berkata apa pun.

"Kamu sabar, ya," lanjut Pak Sanjaya.

Miranda kembali mengangguk.

Suasana hening kemudian tercipta dan berlangsung cukup lama. Pak Sanjaya membiarkan Miranda yang tampak sedang berusaha menenangkan diri.

"Sepertinya kamu ingin membahas sesuatu?" kata Pak Sanjaya memecah keheningan itu.

Miranda meremas jemari tangannya sendiri. Dia menunduk sebentar sebelum membalas tatapan ayahnya. "Iya, Pa."

"Tentang apa?" nada penasaran mulai muncul dari suara Pak Sanjaya.

"Mira ingin mengajukan satu permintaan pada Papa." Tatapan Miranda tampak mengiba.

"Apa itu?"

Miranda tampak berpikir serius. Sepertinya dia sedang memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya. "Mira ingin membantu Arvin, Pa," katanya kemudian.

Pak Sanjaya tampak bingung sejenak sebelum berucap, "Lah? Bukannya Arvin sudah banyak yang membantu di sini. Sejauh ini, pekerjaannya di kantor berjalan baik dan lancar. Timnya solid. Walaupun ditinggal Karin, dia masih menunjukkan kinerja yang baik. Semua klien merasa puas. Kinerja dan saham perusahaan pun perlahan kembali naik."

"Mira bukan ingin membantunya di kantor Pa, melainkan di rumahnya."

"Maksudmu?!" Pak Sanjaya tampak terkejut.

"Mira ingin jadi ibu asuh bagi anak-anak Arvin?" Kali ini suara Miranda terdengar sedikit pelan. Namun terasa keseriusan dari nada suara itu.

Pak Sanjaya memegang hidungnya lalu berucap, "Bukannya kamu bilang Vania masih membenci kamu?"

"Justru itu, Pa. Mira ingin memperbaiki hubungan dengan Vania. Rasanya meminta maaf dengan kata-kata saja tidak akan cukup untuk meluluhkan hatinya. Mira harus melakukan sesuatu yang nyata."

"Memangnya kamu mau melakukan apa?" Pak Sanjaya kembali terlihat penasaran. Dia tampak mulai bingung dengan jalan pikiran putrinya itu.

"Membantu mengurus mereka di rumah Arvin." Suara Miranda terdengar lebih tegas dan lebih meyakinkan. Tidak terasa sedikit pun keraguan dari kata-katanya itu.

Kedua alis Pak Sanjaya bertaut. Selain belum tahu persis seperti apa rencana putrinya, dia pun belum yakin dengan rencana itu. "Kamu yakin mau melakukan itu?"

"Mira sangat yakin, Pa. Sudah Mira renungkan cukup lama. Mira tidak akan pernah tenang kalau Vania masih memendam kebencian. Mira juga tidak akan pernah bahagia kalau Vania masih menderita dan menganggap Mira sebagai orang yang telah merenggut kebahagiaannya."

Pak Sanjaya tertegun cukup lama, mencoba memikirkan dengan cermat apa yang baru saja disampaikan putrinya itu. Setelah beberapa menit terdiam, dia pun kembali bersuara,

"Ya sudah kalau begitu. Selama itu menyangkut kebahagiaanmu, Papa tidak bisa apa-apa. Kamu lebih tahu apa yang bisa membuatmu bahagia. Kalau nanti kamu butuh bantuan Papa, kasih tahu saja."

"Iya, Pa. Terima kasih selalu mendukung Mira di saat sedang terpuruk sekali pun."

"Kamu itu segala-galanya bagi Papa. Jika ada sesuatu yang bisa membuatmu kembali ceria, Papa akan selalu mendukung seratus persen, bahkan lebih."

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar