Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Suasana hatinya benar-benar hancur lebur. Sedalam apa dia
terpuruk sudah sangat sulit untuk digambarkan lagi. Bagaimanapun, seperti
biasa, dia tidak pernah menyerah. Tidak terbersit sedikit pun di benaknya ingin
mengakhiri hidup. Dia tetap ingin hidup lama. Dia meyakini kehadirannya di
dunia memiliki makna tersendiri. Seperti apa makna hidupnya yang sesungguhnya,
dia memang belum begitu bisa menemukan dan memahaminya. Meskipun begitu, dia
tetap memilih untuk terus melangkah, apa pun yang akan terjadi ke depannya.
Miranda teringat dengan kata-kata di dalam sebuah novel yang
pernah dibacanya. Dia lupa penulisnya siapa. Kata-katanya pun dia tidak ingat
persis. Sering kali penderitaan itu
muncul bukan karena kenyataan yang ada, tapi karena kita menginginkan sesuatu
yang tidak nyata, yang tidak ada di depan mata, yang telah berlalu, yang
terlampau jauh dari jangkauan, yang gagal didapatkan, yang lepas dari genggaman,
atau yang masih berada jauh di masa depan. Begitu kata-kata yang masih
teringat olehnya.
Lalu dia pun teringat dengan nasehat sederhana setelah
itu. Belajar menikmati apa yang ada
dan melupakan apa yang tiada merupakan salah satu obat manjur untuk segala
macam penderitaan. Rasanya nasehat itu sangat sesuai dengan keadaannya
saat ini. Dia akan mencoba menerapkannya.
Setelah direnungkannya lebih dalam, selain kehilangan,
ternyata masih tersisa banyak hal yang berharga dalam kehidupannya saat ini.
Dia masih memiliki ayah yang sangat peduli dan penuh kasih sayang. Ada pula
teman lama seperti Arvin dan Menik yang sangat baik dan tulus. Bahkan masih ada
pula Angela yang terkadang bersikap sangat menyebalkan namun tetap memiliki
kepedulian. Vania dan Widya juga patut untuk mendapat perhatian. Apalagi kedua
gadis kecil itu sedang melewati hari-hari terberatnya setelah kehilangan Karin
yang sangat berarti bagi mereka dan sangat mereka sayangi.
Paling tidak, untuk saat ini dia masih bisa berusaha
memastikan bahwa ayahnya tetap sehat dan tenang dalam menjalani kehidupan.
Untuk itu, pilihan yang harus diambilnya adalah kembali Jakarta. Di situ dia
bisa lebih dekat dengan ayahnya sehingga dapat secara rutin mengecek
keadaannya. Selain itu, ayahnya juga sempat menawarkan sesuatu padanya. Dia
merasa sekarang waktu yang tepat untuk menerima tawaran itu.
Sebenarnya ada alasan lain kenapa dia ingin kembali Jakarta.
Alasan itulah yang ingin dibahasnya dengan ayahnya secara langsung.
Tidak banyak barang yang dibawa Miranda ketika meninggalkan
apartemennya di Kota Perth. Dia hanya membawa dua koper besar berisi baju dan
berkas-berkas pribadi. Apartemen yang ditinggalinya bersama ibunya itu akan
dijual. Cedric sudah bersedia membantu. Sementara apartemen yang ditinggalinya
bersama Robert tidak digubrisnya lagi meskipun dia adalah ahli waris. Beberapa
hari lalu dia sudah menghubungi ibunya Robert yang walaupun sudah tidak lagi
mengakui Robert sebagai anak, namun tetap menerima ketika diserahi apartemen
itu.
Sebelum hari keberangkatannya kembali Jakarta, Miranda sudah
menyelesaikan semua urusan di kantor. Untuk sementara kepemimpinan perusahaan
sudah diserahkannya kepada Cedric sebagai pelaksana sementara sambil menunggu
ayahnya menunjuk pimpinan baru. Segala detail pekerjaan yang harus ditangani
Cedric sudah diberitahukannya secara rinci. Dia juga sudah mengadakan acara
perpisahan sederhana dengan para pegawai di kantor. Tangis haru dan rasa
kehilangan dapat dirasakannya dari para pegawainya itu. Tidak dapat menahan
diri, kala itu dia pun menangis terharu mengetahui bahwa dia sangat dicintai
oleh para pegawainya.
Di bandara, Miranda masih merenungkan apa yang telah
dialaminya selama setahun terakhir. Peristiwa-peristiwa luar biasa terjadi
berturut-turut dalam waktu singkat seperti efek domino yang bergerak secara
berantai. Setahun yang lalu dia datang ke sini untuk memulai hidup baru. Namun,
nyatanya hidup baru itu tidak bisa dijalaninya lebih lama. Semuanya telah
berakhir hari ini. Kini, dia harus kembali ke titik awal, tempat di mana dia
meninggalkan masa lalu. Dia tidak bermaksud kembali ke masa lalu itu, melainkan
ingin memperbaiki semuanya dari titik awal ketika semuanya bermula. Apakah dia
akan bisa melakukannya? Dia tidak tahu dan mungkin juga tidak akan pernah tahu,
sebelum benar-benar mencobanya.
Pesawat yang akan membawanya pulang ke Jakarta berjenis
Boeing 747, satu-satunya pesawat jumbo yang masih membelah awan dan langit biru
hingga kini. Dia sengaja memilih kelas bisnis dan memesan dua kursi sekaligus
sehingga dia dapat duduk sendirian dengan tenang tanpa ada yang mengganggu di
sampingnya. Kesibukannya selama seharian penuh di kota Perth membuat rasa
kantuknya datang dengan sangat cepat. Selepas pesawat lepas landas, dia
langsung pulas. Dia baru terbangun ketika awak pesawat memberitahu kalau pesawat
akan segera mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Sesampainya di Jakarta, Miranda langsung menuju ke apartemen
lamanya menggunakan taksi bandara. Petugas apartemen langsung memberikan kunci
apartemen ketika dia melapor dan menunjukkan identitas. Apartemen itu terlihat
bersih dan rapi ketika dia masuk karena sudah dibersihkan siang tadi oleh orang
suruhan ayahnya. Saat mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan,
beribu-ribu kenangan langsung menyeruak ke alam sadarnya. Sosok-sosok yang
pernah hadir dalam kehidupannya hadir dengan membawa kebahagiaan maupun
kesedihan.
Setelah meletakkan koper, dia memutuskan untuk segera
menemui ayahnya di rumah. Pak Sanjaya sempat memberitahu kalau mobil di
parkiran apartemen di lantai basemen sudah bisa digunakan. Mobil itu diparkir
di sana oleh orang suruhan ayahnya tadi pagi. Miranda mengambil kunci mobil
yang diletakkan di atas meja ruang tamu. Dengan menggunakan mobil itu, dia
berangkat mengunjungi ayahnya.
Di rumah ayahnya, dia sempat bertemu ibu tirinya yang sedang
duduk santai di ruang keluarga sambil menyeruput teh dan menonton drama Korea.
Dari raut wajahnya yang tidak sedap dipandang mata, perempuan itu masih
terlihat cuek bahkan terkesan judes seperti biasa. Miranda hanya menyapa
sebentar wanita yang suka berpenampilan menor itu lalu langsung beranjak ke
lantai dua ke ruang kerja ayahnya. Dia tidak terlalu peduli terhadap sikap cuek
ibu tirinya itu karena dia memang bukan ingin bertemu dengannya.
"Hai, Pa!" sapa Miranda ketika muncul di ruang
kerja ayahnya.
Pak Sanjaya masih tampak serius mengamati layar laptopnya
sebelum akhirnya mengangkat kepala, terkejut lalu berucap, "Eh, Mira?!
Kamu sudah tiba?"
"Mira malah sudah dari apartemen kok, Pa. Terus
langsung ke sini."
"Oh. Duduk dulu. Papa masih ada kerjaan sedikit."
"Oke Pa." Miranda memilih duduk di sofa panjang
sambil menyelonjorkan kakinya.
Beberapa menit kemudian Pak Sanjaya menghampiri dan duduk di
sofa di depan Miranda. "Papa turut prihatin dengan apa yang menimpa
Robert. Kamu pasti sangat terpukul," katanya dengan nada sedih.
Miranda mengangguk tanpa berkata apa pun.
"Kamu sabar, ya," lanjut Pak Sanjaya.
Miranda kembali mengangguk.
Suasana hening kemudian tercipta dan berlangsung cukup lama.
Pak Sanjaya membiarkan Miranda yang tampak sedang berusaha menenangkan diri.
"Sepertinya kamu ingin membahas sesuatu?" kata Pak
Sanjaya memecah keheningan itu.
Miranda meremas jemari tangannya sendiri. Dia menunduk
sebentar sebelum membalas tatapan ayahnya. "Iya, Pa."
"Tentang apa?" nada penasaran mulai muncul dari
suara Pak Sanjaya.
"Mira ingin mengajukan satu permintaan pada Papa."
Tatapan Miranda tampak mengiba.
"Apa itu?"
Miranda tampak berpikir serius. Sepertinya dia sedang
memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya. "Mira ingin
membantu Arvin, Pa," katanya kemudian.
Pak Sanjaya tampak bingung sejenak sebelum berucap,
"Lah? Bukannya Arvin sudah banyak yang membantu di sini. Sejauh ini,
pekerjaannya di kantor berjalan baik dan lancar. Timnya solid. Walaupun
ditinggal Karin, dia masih menunjukkan kinerja yang baik. Semua klien merasa
puas. Kinerja dan saham perusahaan pun perlahan kembali naik."
"Mira bukan ingin membantunya di kantor Pa, melainkan
di rumahnya."
"Maksudmu?!" Pak Sanjaya tampak terkejut.
"Mira ingin jadi ibu asuh bagi anak-anak Arvin?"
Kali ini suara Miranda terdengar sedikit pelan. Namun terasa keseriusan dari
nada suara itu.
Pak Sanjaya memegang hidungnya lalu berucap, "Bukannya
kamu bilang Vania masih membenci kamu?"
"Justru itu, Pa. Mira ingin memperbaiki hubungan dengan
Vania. Rasanya meminta maaf dengan kata-kata saja tidak akan cukup untuk
meluluhkan hatinya. Mira harus melakukan sesuatu yang nyata."
"Memangnya kamu mau melakukan apa?" Pak Sanjaya
kembali terlihat penasaran. Dia tampak mulai bingung dengan jalan pikiran
putrinya itu.
"Membantu mengurus mereka di rumah Arvin." Suara
Miranda terdengar lebih tegas dan lebih meyakinkan. Tidak terasa sedikit pun
keraguan dari kata-katanya itu.
Kedua alis Pak Sanjaya bertaut. Selain belum tahu persis
seperti apa rencana putrinya, dia pun belum yakin dengan rencana itu.
"Kamu yakin mau melakukan itu?"
"Mira sangat yakin, Pa. Sudah Mira renungkan cukup
lama. Mira tidak akan pernah tenang kalau Vania masih memendam kebencian. Mira
juga tidak akan pernah bahagia kalau Vania masih menderita dan menganggap Mira
sebagai orang yang telah merenggut kebahagiaannya."
Pak Sanjaya tertegun cukup lama, mencoba memikirkan dengan
cermat apa yang baru saja disampaikan putrinya itu. Setelah beberapa menit
terdiam, dia pun kembali bersuara,
"Ya sudah kalau begitu. Selama itu menyangkut
kebahagiaanmu, Papa tidak bisa apa-apa. Kamu lebih tahu apa yang bisa membuatmu
bahagia. Kalau nanti kamu butuh bantuan Papa, kasih tahu saja."
"Iya, Pa. Terima kasih selalu mendukung Mira di saat sedang terpuruk sekali pun."
"Kamu itu segala-galanya bagi Papa. Jika ada sesuatu yang bisa membuatmu kembali ceria, Papa akan selalu mendukung seratus persen, bahkan lebih."
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.