Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 36. Permintaan

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 36. Permintaan
_______________________________________

Miranda tiba di restoran Event Horizon pukul 15.30. Sebelumnya dia telah membuat janji dengan Arvin untuk bertemu di sini setelah laki-laki itu menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Memang waktunya belum begitu pasti. Karena jam pulang kantor tepat jam empat, kemungkinan Arvin akan muncul jam empat lewat sedikit.

Perkiraan Miranda tidak meleset. Jam empat lewat seperempat Arvin pun muncul. Laki-laki itu tampak terburu-buru berjalan menghampiri meja Miranda.

"Kamu kapan datangnya, Mir?" tanya Arvin langsung menyapa ketika sudah berdiri tepat di sisi meja. Dia pun duduk di kursi di hadapan Miranda.

"Semalam," jawab Miranda menjawab sambil tersenyum.

"Kamu baik-baik saja, bukan? Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu," kata Arvin dengan suara terdengar bergetar. Simpati mendalam tampak sangat jelas dari raut wajahnya.

"Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih atas simpatimu," ujar Miranda dengan raut kesedihan tampak di wajahnya.

"Sama-sama," balas Arvin sambil mengangguk.

"Kamu mau memesan sesuatu?"

"Iya boleh. Masa nongkrong di sini tidak memesan apa-apa. He he," jawab Arvin sambil mengambil kertas menu yang diselipkan di kotak kecil di atas meja. Dia mencermati menu-menu yang tersedia sebelum akhirnya memilih memesan Cappuccino dan kue cookies.

"Bagaimana dengan anak-anakmu, apa kabar mereka?" tanya Miranda terlihat agak sedikit bersemangat ketika menanyakan itu.

"Mereka baik-baik saja. Kecuali Vania yang masih sering kumat penyakitnya," jawab Arvin dengan raut kesedihan tampak menyeruak di wajahnya ketika menyebut nama anak gadis tertuanya itu.

"Oh begitu?!" timpal Miranda dengan ekspresi terkejut bercampur penyesalan.

Hingga kini dia masih menempatkan dirinya sebagai penyebab utama Vania berubah menjadi seperti itu. Dia adalah perenggut kebahagiaan gadis remaja itu. Hal itu pula yang menjadi alasannya mengajak Arvin bertemu sekarang ini.

Pelayan mendekati meja mereka dan meletakkan pesanan Arvin.

"Terima kasih," ucap Arvin pada pelayan itu.

"Sama-sama, Pak," balas pelayan itu sembari membungkukkan badan dan tersenyum. Setelah itu dia pun berpamitan dan beranjak meninggalkan meja Arvin dan Miranda.

"Bagaimana dengan Angela? Dia masih suka berbuat yang aneh-aneh?" Miranda kembali bersuara.

"Tidaklah. Tampaknya dia benar-benar telah bertobat," jawab Arvin sambil tersenyum.

"Aku juga merasakan penyesalannya yang sangat mendalam. Bukan dari kata-katanya, melainkan dari sikap dan ekspresi wajahnya. Boleh dikatakan aku tahu tentang dirinya luar dalam. Kami bersahabat sangat akrab sejak SMP."

"Iya. Aku sudah tahu kedekatan kalian. Aku bahkan tidak bisa membayangkan kenapa kalian bisa saling membenci seperti itu."

"Tidak usah dipikirkan. Karakternya sudah seperti itu. Syukurnya, sampai sejauh ini aku masih bisa menyikapinya dengan baik, sehingga persahabatan kami tetap terjaga."

"Kamu memang luar biasa, Mir," ujar Arvin memberikan pujian yang sangat tulus.

Miranda langsung tersipu malu mendapat pujian itu. Hatinya kembali bergetar. Dia coba menyembunyikan sikap dengan melanjutkan pembahasan tentang Angela.

"Penyesalan Angela terlihat sangat kentara ketika di rumah sakit, saat Karin dipastikan meninggal," katanya.

Dia langsung menunduk setelah mengucapkan nama itu. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Rasa bersalah kembali menyeruak di dalam hatinya.

"Iya. Aku juga memperhatikan itu. Aku sempat mendapatinya sedang menangis terisak di kuburan Karin beberapa hari setelah pemakaman."

Miranda terbelalak. "Benarkah? Berarti dia benar-benar menyesal? Dia benar-benar berubah?" tanyanya pada diri sendiri.

Arvin menguatkan dengan menganggukkan kepala. "Sepertinya iya," katanya.

Mereka saling berdiam diri cukup lama.

"Bagaimana dengan dedek bayi? Siapa yang mengurus?" tanya Miranda kemudian mengganti topik pembicaraan karena tidak ingin larut dengan penyesalan dan rasa bersalah.

"Untuk sementara ini ada babysitter. Angela yang mencarikan dan sekaligus menggajinya. Sebenarnya saya sempat menolak, tapi dia bersikeras. Katanya untuk mengurangi rasa bersalahnya." Arvin menggeleng-geleng kecil ketika menceritakan itu. Kedua tangannya terangkat menunjukkan sikap pasrah.

"Ooh... syukurlah kalau begitu. Angela memang seperti itu. Kemauannya harus dituruti kalau mau aman," balas Miranda seraya tersenyum. Senyum itu kembali terlihat setelah menghilang cukup lama sejak masalah bertubi-tubi menghampirinya.

Miranda lalu terdiam. Dia sempat menoleh ke samping, menatap ke luar jendela kaca dengan tatapan kosong.

Arvin pun ikut terdiam, karena kehabisan topik pembicaraan.

Mereka berdua terlihat mulai kikuk.

Arvin memberanikan menatap ke wajah Miranda. Terlihat raut murung di sana. Senyum yang tadi sempat terukir, sirna begitu saja tak berbekas. Dia pun mulai merasa tidak enak hati sekaligus penasaran.

"Kamu kenapa kembali terlihat murung, Mir?" tanyanya, mulai merasa tidak nyaman dengan kesenyapan itu.

Miranda menatap ke arah Arvin sebelum berucap, "Aku tidak habis pikir, Vin. kenapa kehadiranku dalam hidupmu selalu mendatangkan kesusahan bagimu dan keluargamu."

Arvin mengerutkan kening. "Kok kamu bisa berpikiran seperti itu? Jangan merasa bersalah begitu. Mungkin kehidupanku memang sudah ditakdirkan seperti ini. Tinggal lagi bagaimana menyikapi dan menghadapinya sebaik mungkin agar tetap bisa melangkah maju menuju masa depan yang lebih baik."

Miranda mengangguk pelan, tanda setuju dengan ucapan Arvin. Tapi tetap saja dia merasa kalau masalah yang dihadapi Arvin gara-gara dirinya.

"Vania benar-benar masih marah padaku, ya?" tanyanya dengan suara pelan bercampur rasa bersalah. Dia benar-benar tidak mampu menyingkirkan perasaan bersalahnya sekuat apa pun dia mencobanya.

"Tidak usah dipikirkan. Itu hanya masalah waktu saja kok. Suatu saat Vania pasti akan mengerti dan memaafkanmu," jawab Arvin dengan suara tenang.

Miranda tidak langsung menanggapi. Keningnya mengerut, tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Aku minta tolong sama kamu, Vin," katanya kemudian. Kali ini nada bicaranya sedikit meninggi.

"Minta tolong apa?" tanya Arvin tampak sedikit kaget.

"Izinkan aku menjadi ibu asuh untuk anak-anakmu," jawab Miranda dengan suara tegas sekaligus terasa mengiba.

Arvin pun semakin terkejut.

"Maksudmu?!" tanyanya untuk memastikan kalau dia tidak salah dengar.

"Izinkan aku mengasuh dan mengurus anak-anakmu," pinta Miranda terdengar sangat mengiba. Suaranya terdengar pelan tapi tegas. Dia tampak sangat serius dengan ucapannya itu. Sorot matanya yang penuh harap ditujukannya ke mata Arvin.

Arvin membalas sorot mata itu. Dia dapat merasakan keseriusan ucapan Miranda barusan. Tapi dia masih belum mampu mencerna ucapan itu dengan baik.

"Kamu benar-benar serius?" tanyanya untuk lebih memastikan.

"Aku sangat serius, Vin!" jawab Miranda terus menatap Arvin. Harapan tinggi terpancar dari tatapannya itu.

Arvin tampak berpikir sejenak sebelum menanggapi,

"Bukannya kamu akan kembali menjadi CEO di QD? Pastinya kamu bakal sangat sibuk. Jangan menambahi bebanmu yang sudah banyak dan berat itu. Ayahmu pasti tidak akan setuju kalau kamu tidak fokus mengurus perusahaan."

"Aku sudah menceritakan rencanaku pada Papa. Beliau setuju, kok." Miranda langsung menimpali.

"Hah?!" Arvin tampak sangat terkejut.

"Iya. Papa setuju kalau aku akan membagi fokus dan waktuku untuk mengurus perusahaan dan anak-anakmu."

Arvin menggeleng-geleng. Dia belum bisa menerima permintaan itu. Miranda memang rekan kerja dan sebentar lagi akan kembali menjadi atasannya. Tapi hubungan mereka hanya di tempat kerja. Tidak ada ikatan atau hubungan dalam bentuk lain. Mereka tidak punya hubungan keluarga. Mereka juga tidak pernah menikah. Lamarannya tempo hari malah ditolak Miranda dua kali. Tidak ada alasan baginya untuk menerima permintaan Miranda.

"Tidak usah. Tidak perlu repot-repot seperti itu," kata Arvin kemudian. Nada suaranya terdengar serius, benar-benar menolak permintaan Miranda itu.

"Please, Vin!! Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku," kata Miranda terus memohon sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Dia juga membungkuk beberapa kali.

"Kamu tidak salah apa-apa. Sudah takdirnya semua terjadi seperti ini," kata Arvin tetap menanggapi dengan tenang.

"Kamu bisa saja ngomong seperti itu, Vin. Karena kamu tidak berada di posisiku. Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan ini. Sudah kucoba berbagai cara untuk menghilangkan rasa bersalahku. Namun tetap saja tidak bisa. Aku tidak mampu melupakan semua kesalahan yang telah kuperbuat pada keluargamu, terutama pada Karin dan Vania. Aku harus melakukan sesuatu untuk menenangkan hatiku. Aku sudah memikirkannya secara matang. Inilah cara terbaik untuk memperbaiki kesalahanku dan menghapus rasa bersalahku, sekaligus untuk mendapatkan maaf dari Vania."

Arvin terdiam. Keningnya mengerut. Diurut-urutnya pelipis dengan tangan kanan. Miranda benar. Dia tidak berada di posisi itu. Selama ini dia juga tidak mencoba membayangkan kalau berada di posisi Miranda.

"Please, ya Vin!!!" Miranda terus memohon.

Arvin mencoba berempati. Dia mencoba membayangkan dan merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Miranda. Setelah terdiam cukup lama, tampak berpikir sangat dalam, akhirnya dia menanggapi.

"Kalau kamu sudah berkeinginan kuat seperti itu, aku bisa apa."

Dia menyerah menghadapi Miranda. Dari dulu dia tidak pernah menang menghadapi keinginan perempuan di hadapannya.

"Maaf, ya. aku kembali terlihat egois seperti ini. Tapi aku berjanji ini terakhir kalinya aku memaksakan kehendak padamu," ujar Miranda tampak masih mengiba pada Arvin.

Arvin hanya membalas dengan anggukan.

"Terima kasih sudah memberiku kesempatan," kata Miranda dengan raut wajah tampak lega. Kerutan di keningnya sudah tak tampak lagi.

Setelah merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Arvin pamit pulang lebih dulu.

"Boleh aku pamit?" katanya pada Miranda.

"Iya, Vin. Boleh. Aku hanya ingin menyampaikan itu."

"Kamu mau aku antar? Atau masih mau di sini?" tanya Arvin.

"Tidak usah. Aku masih ingin duduk sebentar di sini."

"Baiklah."

Arvin langsung beranjak dari tempat duduk, keluar dari pintu depan, dan berjalan menuju parkiran. Dia masuk ke mobil dan mengemudikannya keluar restoran. Tidak lama kemudian mobil itu membaur dengan ratusan mobil lain yang mengular sepanjang jalan utama itu.

Setelahkepergian Arvin, Miranda langsungberdiri dari tempat duduknya dan beranjak menuju pintu keluar. Dia tidakmemilih pulang, melainkan menuju kantor QDC. Dia punya janji bertemu dengan Angela diruang kerjanya. Sahabatnyaitu sudah menunggu di sana dan ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Dia belumbisa menebak apa itu

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar