Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Perkiraan Miranda tidak meleset. Jam empat lewat seperempat
Arvin pun muncul. Laki-laki itu tampak terburu-buru berjalan menghampiri meja
Miranda.
"Kamu kapan datangnya, Mir?" tanya Arvin langsung
menyapa ketika sudah berdiri tepat di sisi meja. Dia pun duduk di kursi di
hadapan Miranda.
"Semalam," jawab Miranda menjawab sambil
tersenyum.
"Kamu baik-baik saja, bukan? Aku turut berduka atas
meninggalnya suamimu," kata Arvin dengan suara terdengar bergetar. Simpati
mendalam tampak sangat jelas dari raut wajahnya.
"Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih atas
simpatimu," ujar Miranda dengan raut kesedihan tampak di wajahnya.
"Sama-sama," balas Arvin sambil mengangguk.
"Kamu mau memesan sesuatu?"
"Iya boleh. Masa nongkrong di sini tidak memesan
apa-apa. He he," jawab Arvin sambil mengambil kertas menu yang diselipkan
di kotak kecil di atas meja. Dia mencermati menu-menu yang tersedia sebelum
akhirnya memilih memesan Cappuccino dan kue cookies.
"Bagaimana dengan anak-anakmu, apa kabar mereka?"
tanya Miranda terlihat agak sedikit bersemangat ketika menanyakan itu.
"Mereka baik-baik saja. Kecuali Vania yang masih sering
kumat penyakitnya," jawab Arvin dengan raut kesedihan tampak menyeruak di
wajahnya ketika menyebut nama anak gadis tertuanya itu.
"Oh begitu?!" timpal Miranda dengan ekspresi
terkejut bercampur penyesalan.
Hingga kini dia masih menempatkan dirinya sebagai penyebab
utama Vania berubah menjadi seperti itu. Dia adalah perenggut kebahagiaan gadis
remaja itu. Hal itu pula yang menjadi alasannya mengajak Arvin bertemu sekarang
ini.
Pelayan mendekati meja mereka dan meletakkan pesanan Arvin.
"Terima kasih," ucap Arvin pada pelayan itu.
"Sama-sama, Pak," balas pelayan itu sembari
membungkukkan badan dan tersenyum. Setelah itu dia pun berpamitan dan beranjak
meninggalkan meja Arvin dan Miranda.
"Bagaimana dengan Angela? Dia masih suka berbuat yang
aneh-aneh?" Miranda kembali bersuara.
"Tidaklah. Tampaknya dia benar-benar telah
bertobat," jawab Arvin sambil tersenyum.
"Aku juga merasakan penyesalannya yang sangat mendalam.
Bukan dari kata-katanya, melainkan dari sikap dan ekspresi wajahnya. Boleh
dikatakan aku tahu tentang dirinya luar dalam. Kami bersahabat sangat akrab
sejak SMP."
"Iya. Aku sudah tahu kedekatan kalian. Aku bahkan tidak
bisa membayangkan kenapa kalian bisa saling membenci seperti itu."
"Tidak usah dipikirkan. Karakternya sudah seperti itu.
Syukurnya, sampai sejauh ini aku masih bisa menyikapinya dengan baik, sehingga
persahabatan kami tetap terjaga."
"Kamu memang luar biasa, Mir," ujar Arvin
memberikan pujian yang sangat tulus.
Miranda langsung tersipu malu mendapat pujian itu. Hatinya
kembali bergetar. Dia coba menyembunyikan sikap dengan melanjutkan pembahasan
tentang Angela.
"Penyesalan Angela terlihat sangat kentara ketika di
rumah sakit, saat Karin dipastikan meninggal," katanya.
Dia langsung menunduk setelah mengucapkan nama itu. Matanya
tiba-tiba berkaca-kaca. Rasa bersalah kembali menyeruak di dalam hatinya.
"Iya. Aku juga memperhatikan itu. Aku sempat
mendapatinya sedang menangis terisak di kuburan Karin beberapa hari setelah
pemakaman."
Miranda terbelalak. "Benarkah? Berarti dia benar-benar
menyesal? Dia benar-benar berubah?" tanyanya pada diri sendiri.
Arvin menguatkan dengan menganggukkan kepala.
"Sepertinya iya," katanya.
Mereka saling berdiam diri cukup lama.
"Bagaimana dengan dedek bayi? Siapa yang
mengurus?" tanya Miranda kemudian mengganti topik pembicaraan karena tidak
ingin larut dengan penyesalan dan rasa bersalah.
"Untuk sementara ini ada babysitter. Angela yang mencarikan dan sekaligus menggajinya.
Sebenarnya saya sempat menolak, tapi dia bersikeras. Katanya untuk mengurangi
rasa bersalahnya." Arvin menggeleng-geleng kecil ketika menceritakan itu.
Kedua tangannya terangkat menunjukkan sikap pasrah.
"Ooh... syukurlah kalau begitu. Angela memang seperti
itu. Kemauannya harus dituruti kalau mau aman," balas Miranda seraya
tersenyum. Senyum itu kembali terlihat setelah menghilang cukup lama sejak
masalah bertubi-tubi menghampirinya.
Miranda lalu terdiam. Dia sempat menoleh ke samping, menatap
ke luar jendela kaca dengan tatapan kosong.
Arvin pun ikut terdiam, karena kehabisan topik pembicaraan.
Mereka berdua terlihat mulai kikuk.
Arvin memberanikan menatap ke wajah Miranda. Terlihat raut
murung di sana. Senyum yang tadi sempat terukir, sirna begitu saja tak
berbekas. Dia pun mulai merasa tidak enak hati sekaligus penasaran.
"Kamu kenapa kembali terlihat murung, Mir?"
tanyanya, mulai merasa tidak nyaman dengan kesenyapan itu.
Miranda menatap ke arah Arvin sebelum berucap, "Aku
tidak habis pikir, Vin. kenapa kehadiranku dalam hidupmu selalu mendatangkan
kesusahan bagimu dan keluargamu."
Arvin mengerutkan kening. "Kok kamu bisa berpikiran
seperti itu? Jangan merasa bersalah begitu. Mungkin kehidupanku memang sudah
ditakdirkan seperti ini. Tinggal lagi bagaimana menyikapi dan menghadapinya
sebaik mungkin agar tetap bisa melangkah maju menuju masa depan yang lebih
baik."
Miranda mengangguk pelan, tanda setuju dengan ucapan Arvin.
Tapi tetap saja dia merasa kalau masalah yang dihadapi Arvin gara-gara dirinya.
"Vania benar-benar masih marah padaku, ya?"
tanyanya dengan suara pelan bercampur rasa bersalah. Dia benar-benar tidak
mampu menyingkirkan perasaan bersalahnya sekuat apa pun dia mencobanya.
"Tidak usah dipikirkan. Itu hanya masalah waktu saja
kok. Suatu saat Vania pasti akan mengerti dan memaafkanmu," jawab Arvin
dengan suara tenang.
Miranda tidak langsung menanggapi. Keningnya mengerut,
tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Aku minta tolong sama kamu, Vin," katanya
kemudian. Kali ini nada bicaranya sedikit meninggi.
"Minta tolong apa?" tanya Arvin tampak sedikit
kaget.
"Izinkan aku menjadi ibu asuh untuk anak-anakmu,"
jawab Miranda dengan suara tegas sekaligus terasa mengiba.
Arvin pun semakin terkejut.
"Maksudmu?!" tanyanya untuk memastikan kalau dia
tidak salah dengar.
"Izinkan aku mengasuh dan mengurus anak-anakmu,"
pinta Miranda terdengar sangat mengiba. Suaranya terdengar pelan tapi tegas.
Dia tampak sangat serius dengan ucapannya itu. Sorot matanya yang penuh harap
ditujukannya ke mata Arvin.
Arvin membalas sorot mata itu. Dia dapat merasakan
keseriusan ucapan Miranda barusan. Tapi dia masih belum mampu mencerna ucapan
itu dengan baik.
"Kamu benar-benar serius?" tanyanya untuk lebih
memastikan.
"Aku sangat serius, Vin!" jawab Miranda terus
menatap Arvin. Harapan tinggi terpancar dari tatapannya itu.
Arvin tampak berpikir sejenak sebelum menanggapi,
"Bukannya kamu akan kembali menjadi CEO di QD? Pastinya
kamu bakal sangat sibuk. Jangan menambahi bebanmu yang sudah banyak dan berat
itu. Ayahmu pasti tidak akan setuju kalau kamu tidak fokus mengurus
perusahaan."
"Aku sudah menceritakan rencanaku pada Papa. Beliau
setuju, kok." Miranda langsung menimpali.
"Hah?!" Arvin tampak sangat terkejut.
"Iya. Papa setuju kalau aku akan membagi fokus dan
waktuku untuk mengurus perusahaan dan anak-anakmu."
Arvin menggeleng-geleng. Dia belum bisa menerima permintaan
itu. Miranda memang rekan kerja dan sebentar lagi akan kembali menjadi
atasannya. Tapi hubungan mereka hanya di tempat kerja. Tidak ada ikatan atau
hubungan dalam bentuk lain. Mereka tidak punya hubungan keluarga. Mereka juga
tidak pernah menikah. Lamarannya tempo hari malah ditolak Miranda dua kali.
Tidak ada alasan baginya untuk menerima permintaan Miranda.
"Tidak usah. Tidak perlu repot-repot seperti itu,"
kata Arvin kemudian. Nada suaranya terdengar serius, benar-benar menolak
permintaan Miranda itu.
"Please, Vin!! Beri aku kesempatan untuk memperbaiki
kesalahanku," kata Miranda terus memohon sambil menangkupkan kedua telapak
tangannya di depan dada. Dia juga membungkuk beberapa kali.
"Kamu tidak salah apa-apa. Sudah takdirnya semua
terjadi seperti ini," kata Arvin tetap menanggapi dengan tenang.
"Kamu bisa saja ngomong seperti itu, Vin. Karena kamu
tidak berada di posisiku. Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan ini. Sudah
kucoba berbagai cara untuk menghilangkan rasa bersalahku. Namun tetap saja
tidak bisa. Aku tidak mampu melupakan semua kesalahan yang telah kuperbuat pada
keluargamu, terutama pada Karin dan Vania. Aku harus melakukan sesuatu untuk
menenangkan hatiku. Aku sudah memikirkannya secara matang. Inilah cara terbaik
untuk memperbaiki kesalahanku dan menghapus rasa bersalahku, sekaligus untuk
mendapatkan maaf dari Vania."
Arvin terdiam. Keningnya mengerut. Diurut-urutnya pelipis
dengan tangan kanan. Miranda benar. Dia tidak berada di posisi itu. Selama ini
dia juga tidak mencoba membayangkan kalau berada di posisi Miranda.
"Please, ya Vin!!!" Miranda terus memohon.
Arvin mencoba berempati. Dia mencoba membayangkan dan
merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Miranda. Setelah terdiam cukup lama,
tampak berpikir sangat dalam, akhirnya dia menanggapi.
"Kalau kamu sudah berkeinginan kuat seperti itu, aku
bisa apa."
Dia menyerah menghadapi Miranda. Dari dulu dia tidak pernah
menang menghadapi keinginan perempuan di hadapannya.
"Maaf, ya. aku kembali terlihat egois seperti ini. Tapi
aku berjanji ini terakhir kalinya aku memaksakan kehendak padamu," ujar
Miranda tampak masih mengiba pada Arvin.
Arvin hanya membalas dengan anggukan.
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan," kata
Miranda dengan raut wajah tampak lega. Kerutan di keningnya sudah tak tampak
lagi.
Setelah merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Arvin
pamit pulang lebih dulu.
"Boleh aku pamit?" katanya pada Miranda.
"Iya, Vin. Boleh. Aku hanya ingin menyampaikan
itu."
"Kamu mau aku antar? Atau masih mau di sini?"
tanya Arvin.
"Tidak usah. Aku masih ingin duduk sebentar di
sini."
"Baiklah."
Arvin langsung beranjak dari tempat duduk, keluar dari pintu depan, dan berjalan menuju parkiran. Dia masuk ke mobil dan mengemudikannya keluar restoran. Tidak lama kemudian mobil itu membaur dengan ratusan mobil lain yang mengular sepanjang jalan utama itu.
Setelahkepergian Arvin, Miranda langsungberdiri dari tempat duduknya dan beranjak menuju pintu keluar. Dia tidakmemilih pulang, melainkan menuju kantor QDC. Dia punya janji bertemu dengan Angela diruang kerjanya. Sahabatnyaitu sudah menunggu di sana dan ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Dia belumbisa menebak apa itu
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.