Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 37. Kekuatan Hati

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 37. Kekuatan Hati
_____________________________________

Angela mengamati secara seksama setiap detail ruang kerjanya. Ruang ini telah menjadi tempat yang sangat bersejarah baginya dan perusahaan yang dipimpinnya. Banyak kejadian penting telah terjadi di sini semenjak dia ditunjuk sebagai presiden direktur. Sayangnya, salah satu kejadian itu telah menimbulkan masalah besar sampai berujung tragis. Kenyataan itu hampir membuatnya trauma. Kini, dia sedang mencoba memperbaikinya.

Miranda sudah bersedia menemuinya di sini. Saat dia melirik jam tangan, waktu yang mereka janjikan akan tiba lima menit lagi. Rupanya Miranda tidak tepat waktu. Dia datang lebih cepat. Dia muncul dari balik pintu ruang kerja Angela kurang tiga menit dari waktu yang dijadwalkan. Bagaimanapun, itu jauh lebih baik dibandingkan datang terlambat.

"Maaf kalau membuatmu repot harus datang ke sini," kata Angela ketika Miranda sudah duduk di sofa. Dia juga sudah duduk tepat di seberang Miranda, hanya dipisahkan meja kaca.

"Tidak apa-apa. Kamu bosnya," balas Miranda, tidak untuk menyindir, melainkan lebih terdengar seperti bercanda.

"Iya benar. Dengan cara menyingkirkanmu," timpal Angela juga sambil terkekeh.

"Kuakui, untuk urusan prestasi, kau selalu menang, sejak SMP hingga sekarang," Kali ini nada pujian tulus terasa dari ucapan Miranda.

"Dan kau menang untuk urusan lainnya, terutama urusan cinta dan asmara." Angela tak mau kalah.

Mereka sama-sama tertawa. Pemandangan itu terasa aneh, mengingat beberapa waktu lalu di tempat ini juga mereka sempat saling memaki dan saling meneriaki.

"Mau minum apa?" tanya Angela kemudian.

"Air putih saja," jawab Miranda.

"Anggur putih maksudmu?" tanya Angela lagi. Pertanyaan itu serius karena dia sudah tidak tahu kapan terakhir kali melihat Miranda minum minuman beralkohol.

Miranda menggeleng. "Air mineral," katanya mempertegas maksudnya.

"Oh," ucap Angela ternganga lalu tertawa kecil. "Kamu tidak minum alkohol lagi?" tanyanya masih menampakkan gigi putihnya yang berbaris rapi.

Miranda tersenyum. "Terakhir kali di Amerika dulu. Setelah itu tidak pernah lagi."

"Oke. Pilihan yang bijak." Angela mengangguk. "Aku akan menyesuaikan kalau begitu," tambahnya.

Angela berdiri dan melangkah menuju kulkas di sebelah kanannya yang berjarak sekitar lima langkah. Dia kembali lagi dengan membawa dua botol air mineral dan dua buah gelas. Gelas itu lebih tepat untuk minum minuman beralkohol karena memang disediakan untuk itu. Berhubung tidak ada pilihan gelas lain, terpaksa Angela menggunakan itu. Diletakkannya botol dan gelas itu di atas meja kaca di depannya. Sebuah botol dan sebuah gelas didorongnya mendekat ke Miranda. Dia membuka tutup botol di hadapannya lalu menuangkan isinya ke gelas. 

Setelah itu, dia pun berucap,

"Terima kasih kamu masih peduli dengan perusahaan ini walaupun kamu bukan bagiannya lagi," katanya sambil mengangkat gelas itu ke mulut.

Miranda melakukan hal yang sama, memutar tutup botol dan menuangkan isinya ke gelas di hadapannya sampai mendekati tepi atas gelas. Setelah itu dia meneguk setengahnya.

"Jangan salah. Papaku pemilik saham nomor dua di sini setelah papamu. Jadi masuk akal kalau aku masih mau terlibat," ucapnya kemudian sambil tersenyum.

Setelah meneguk air yang tersisa di gelas sampai habis, Angela pun kembali bersuara. "Bukan karena Arvin?" tanyanya dengan nada menggoda.

Miranda yang sudah meneguk habis air di gelasnya langsung meletakkan gelas itu ke atas meja. Rupanya berjalan dari restoran di seberang sana sampai ke ruangan ini membuatnya kehausan. Dia kemudian menimpali,

"Jangan sebut nama itu. Dia hanya masa lalu. Semua yang kulakukan tidak ada hubungan dengannya."

Angela menatap mata Miranda, seolah tidak percaya begitu saja dengan ucapan Miranda barusan. "Lalu kenapa kamu masih sangat peduli padanya?"

Miranda membalas tatapan Angela sebelum menanggapi, "Karena dia aset berharga bagi perusahaan ini. Itu artinya dia juga aset berharga bagi Papa."

Angela terkekeh, masih tidak percaya. "Tidak usah menghindar. Kita bersahabat sudah lama. Mulutmu mungkin bisa membohongiku. Tapi tatapan matamu itu tidak bisa. Kau masih mencintainya, bukan?"

"Bisa kita membahas topik lain?" Miranda berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Dia sedang tidak berminat membahas masalah hati dan perasaan. Itu terlalu menyakitkan. Semua masalah yang dihadapinya sampai saat ini berawal dari situ.

Angela terlonjak. Dia menegakkan tubuhnya yang sempat bersandar di sofa. "Uuups. Maaf," katanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Aku memang ingin membahas hal lain. Bukan itu," lanjutnya sambil tersenyum.

"Jadi kenapa kau mengajakku bertemu?" todong Miranda.

Angela menggoyang-goyangkan gelas yang masih digenggamnya. Tatapannya tajam ke arah gelas itu. Dia kemudian beralih menatap ke arah Miranda sambil berucap,

"Aku masih tidak menyangka dapat kembali tertawa-tawa seperti ini denganmu. Padahal beberapa bulan lalu kita bertengkar sangat hebat di sini."

Miranda menatap balik sambil tersenyum. "Bukankah kita sudah terbiasa bertengkar sejak SMP? Eh... Rasanya baru di SMA kita mulai bertengkar hebat ya?" tanyanya ingin memastikan.

Ingatannya langsung mengembara ke masa-sama SMP dan SMA dulu. Dia terbayang bagaimana dinamika persahabatan mereka berdua waktu itu. Di SMP mereka sangat lengket seperti prangko dan surat. Tiba-tiba di SMA, tepatnya menjelang kelulusan, mereka seperti kucing dan tikus, selalu beradu mulut dengan intensitas tinggi setiap kali bertemu muka.

Angela mengangguk sambil tertawa kecil. "Tapi rasanya, sebelum-sebelumnya kita belum pernah sampai tertawa lepas seperti ini setelah berdamai. Berarti kita mengalami banyak kemajuan. Sepertinya ini pertanda kalau kita makin dewasa. Atau jangan-jangan karena kau yang semakin dewasa," katanya terkekeh menggoda.

"Rasanya kau yang terlihat jauh lebih dewasa. Bukankah kau yang membatalkan laporan terhadap Arvin tempo hari?" Miranda balas terkekeh.

"Tidak usah diungkit masalah itu," kata Angela agak bersemu merah. "Kuakui waktu itu aku memang bersikap kekanak-kanakan."

Miranda mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya. "Syukurlah kalau kau menyadarinya."

Angela terdiam sejenak sebelum tiba-tiba terlonjak seperti kaget sendiri. "Oh ya. Aku hampir lupa menyampaikan sesuatu yang penting," katanya. Raut wajahnya tampak serius. "Aku turut berduka cita atas kematian suamimu," katanya terdengar penuh simpati. Raut wajahnya pun menunjukkan kesedihan yang tulus.

"Iya. Terima kasih," balas Miranda sambil mengernyitkan kening.

Banyak sekali momen-momen yang seharusnya mulai dilupakannya malah muncul lagi. Termasuk kematian Robert. Kejadian itu sangat tragis. Tapi dia tidak bisa pula menyalahkan Angela yang tiba-tiba membahas itu.

"Sebenarnya aku ingin berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan hidupku," lanjut Angela.

"Apa maksudmu?" tanya Miranda sambil mengerutkan dahi.

Angela mengamati raut wajah Miranda, ingin memastikan kalau sahabatnya itu tidak risi dengan topik ini. "Andai saja Robert menerima perjodohan yang direncanakan mamanya. Berarti akulah yang menikah dengannya. Tidak bisa kubayangkan akan seperti apa hidupku menikah dengan pria yang lebih menyukai sesama pria daripada wanita."

Miranda tertawa getir. Rupanya Angela sudah mengetahui sampai sejauh itu. Bagaimanapun, itu bukan hal yang aneh. Kecenderungan seksual Robert itu sudah terkuak dengan terang benderang di persidangan. Beritanya menjadi headline di halaman depan semua surat kabar, baik di Australia maupun di Indonesia. Nama dan fotonya juga dipajang jelas di sana.

"Kau benar-benar luar biasa. Sanggup menghadapi semua itu." Kata Angela.

"Kalau misalnya aku tahu sejak awal dia lebih memiliki ketertarikan seksual dengan sesama jenis, aku tidak akan pernah menerimanya. Aku tidak akan memilih hidup bersamanya." Miranda menyeringai, mencoba menghibur diri. "Karena sudah terjadi, ya, harus dijalani," tambahnya sambil merentangkan tangan, tampak pasrah.

"Makanya kukatakan kau hebat, Mir," kata Angela dengan mimik serius.

Miranda hanya membalas dengan senyuman. "Karena aku dipaksa keadaan harus menghadapi, menjalani, dan melewati itu."

"Tetap saja orang-orang yang berhasil melewati ujian seberat itu tergolong orang-orang hebat." Angela bersikeras.

"Apa maksudmu dengan terus-terusan memujiku?" tanya Miranda sambil menatap mata Angela penuh selidik.

Angela menggeleng kecil. "Tidak ada. Hanya ingin jujur saja. Selama ini aku terlalu egois untuk mengakui itu."

Miranda terus memperhatikan gerak gerik Angela. "Apa yang kau rasakan setelah mengakui itu?" tanyanya santai. Raut wajahnya sudah tidak tampak gusar seperti tadi.

"Merasa lebih ringan dan tenang saja," jawab Angela sambil kembali menuang air di botol ke dalam gelas. Dia lalu meneguknya hingga tandas.

Miranda merapatkan bibirnya hingga membentuk garis lurus. Keningnya sedikit mengernyit. "Hmmm. Berarti kau baru saja mendapatkan pencerahan spiritual," ucapnya serius.

"Tidak sampai sebegitunya."

Miranda tetap menatap Angela dengan raut wajah serius. "Kau juga hebat, berhasil menaklukkan egomu. Tidak banyak orang yang bisa seperti itu."

"Kau lebih dulu melakukannya. Dan aku banyak belajar darimu," balas Angela sambil memamerkan gigi putih dan rapinya.

"Jadi kapan selesainya kita saling memuji seperti ini?" tanya Miranda tersenyum tapi dengan kening mengerut. Ekspresi yang agak aneh.

"Aku bisa meladenimu semalaman kalau kau mau," balas Angela tertawa kecil. "Kita bisa lanjut ke apartemenku kalau kau masih kuat," lanjutnya.

Tiba-tiba mereka saling berdiam diri. Miranda mengecek ponselnya yang sudah bergetar beberapa kali. Dia membuka satu per satu pesan yang masuk, lalu membalas pesan yang dirasanya penting.

Begitu pun dengan Angela. Dia ikut membuka ponsel dan mengecek beberapa panggilan tak terjawab. Karena menganggap tidak ada panggilan yang penting, dia tidak melakukan panggilan balik. Sementara pesan-pesan yang ada di berbagai aplikasi yang digunakannya belum digubrisnya sama sekali.

"Aku sempat merenungkan sesuatu," kata Angela memulai lagi obrolan mereka. Ponselnya telah dimatikan dan diletakkannya di atas sofa, tepat di sebelah kanannya.

"Apa?" tanya Miranda sambil mengunci layar ponselnya dan meletakkannya ke atas meja kaca di samping botol air mineral.

Angela tidak langsung menanggapi. Dia tampak berpikir sejenak sebelum berkata, "Apakah kau menyadari kalau persahabatan kita ini terasa aneh?" katanya kemudian.

Miranda mengernyit. "Maksudmu?"

Angela tampak berpikir, mungkin sedang memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya. "Setelah kupikirkan dengan seksama, akar masalah kenapa kita sering bertengkar selama ini adalah karena kita memiliki selera yang sama terhadap laki-laki. Dari SMA hingga kini kita sering menyukai pria yang sama."

Miranda tampak terkejut sebentar. Disandarkannya punggungnya ke sandaran sofa. Diingat-ingatnya semua pria yang sempat disukainya. Mulai dari pacar pertamanya, suami pertamanya, suami keduanya, sampai pria terakhir yang masih disukainya hingga kini, Arvin. Pertengkaran pertamanya dengan Angela gara-gara pacar pertamanya itu. Dia bercerai dengan Mahendra, suami pertamanya, juga karena campur tangan Angela. Sahabatnya itu mengamuk beberapa bulan lalu juga karena marah dia menikah dengan Robert. Terakhir, dia sering mendapat laporan dari Ratni tentang perhatian Angela terhadap Arvin. Bahkan Angela rela melakukan tindakan yang kemudian menyebabkan masalah besar tempo hari.

"Apa yang kau pikirkan? Ucapanku benar, bukan?" tanya Angela.

Miranda mengangguk mengiyakan.

"Aku pun kemudian menyadari kenapa aku selalu kalah denganmu dalam menaklukkan hati pria. Kau memiliki kelembutan hati. Kelembutan itulah yang sebenarnya menjadi kekuatanmu. Kau memang wanita sejati yang disukai pria sejati," tambah Angela lagi.

"Kira-kira berapa banyak lagi stok pujian di benakmu?" balas Miranda mengerutkan kening, tampak mulai risi dipuji Angela terus menerus sedari tadi.

"Itu bukan pujian, tapi pengakuan. Bahwa kau jauh lebih hebat dariku."

"Oke. Terus?"

"Oleh karena itu, kaulah yang lebih layak memimpin QDC," timpal Angela dengan suara mendayu, lembut, dan pelan.

Miranda terbelalak. "Apakah kau sudah tahu rencana papaku?" tanyanya tampak kaget.

"Tidak," jawab Angela. "Aku belum tahu rencana papamu seperti apa. Seperti apapun rencana papamu, tidak ada kaitannya dengan apa yang akan kusampaikan," tambahnya lagi.

"Jadi apa yang akan kau sampaikan?"

"Aku akan mengundurkan diri. Paling lambat tiga bulan ke depan."

"Hah!"

"Aku sudah merekomendasikanmu pada papa sebagai penggantiku."

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa mendadak begini?"

"Itu tidak mendadak. Aku sudah merenungkan dan mempertimbangkannya secara matang."

"Tidak. Aku belum siap menerima itu. Masalahku masih banyak. Bahkan masih ada hal penting lain yang harus kuselesaikan."

"Waktumu masih tiga bulan lagi. Bukan sekarang atau besok." Angela kembali terkekeh.

Miranda mengurut-urut pelipisnya.

"Aku minta maaf atas semua prasangka burukku padamu selama ini," kata Angela dengan raut wajah serius bercampur mengiba seperti sedang mengharapkan belas kasihan.

Miranda menatap mata sahabatnya itu lekat-lekat.

"Boleh aku memelukmu," kata Angela lagi.

Miranda mengangguk lalu berdiri. Dia masih belum mampu berkata-kata.

Angela ikut berdiri lalu melangkah menghampiri Miranda. Dipeluknya sahabatnya itu dengan erat. Tanpa terasa, beberapa butiran air sebening kristal bergulir dari sudut matanya. "Maafkan aku ya, Mir," katanya lagi.

"Iya, Angel. Sama-sama. Aku juga minta maaf kalau selama ini sering menyakiti hatimu. Walau sebenarnya aku tidak pernah berniat sama sekali. Tidak ada setitik pun niatku untuk melakukan itu," balas Miranda. Dia pun ikut meneteskan air mata.

Setelah saling meluapkan emosi masing-masing, mereka kembal duduk di tempat semula. Angela mengambil tisu yang ada di atas meja kerjanya lalu menyerahkan pada Miranda. Mereka mengelap sisa air mata di pipi masing-masing dengan tisu itu.

Angela menatap Miranda sebelum kembali bersuara, "Kalau kau ingin kegiatan sementara di sini, aku akan mengusulkanmu menempati jabatan direktur HRD untuk sementara waktu," katanya menawari.

"Sebenarnya aku bersedia ditempatkan pada posisi apa pun termasuk staf biasa," balas Miranda terkekeh.

Angela ikut terkekeh. "Padahal aku ingin memberi kesempatan padamu untuk memilih sendiri posisi apa yang kau sukai. Hanya saja karena direktur HRD perlu penyegaran, untuk sementara kau bisa menempati posisi itu."

"Tapi aku ada permintaan," kata Miranda menanggapi.

"Iya, boleh. Apa?" tanya Angela penasaran.

Miranda tidak langsung menjawab. Dia memukul-mukulkan jemari tangan kiri dan kanannya satu sama lain. "Aku minta jam kerja yang agak fleksibel. Aku minta izin kalau jam masuk kantorku agak telat. Paling cepat jam sembilan pagi. Sementara jam pulangnya lebih cepat yaitu jam tiga sore. Selebihnya aku akan mengerjakan semua tugas-tugasku dari rumah."

Angela mengernyitkan dahi, merasa aneh dengan permintaan Miranda. "Kenapa?" tanyanya ingin tahu alasan dibalik permintaan itu.

"Aku tidak bisa memberi tahu alasannya sekarang. Suatu saat kau akan tahu sendiri," jawab Miranda sambil tersenyum.

Angela mengangguk sepakat. "Baiklah, boleh," katanya. "Kau mau ke mana setelah ini?"

"Aku akan menginap ke rumah Ratmi. Suaminya sedang tugas keluar kota. Dia sendirian di rumah. Aku ingin menemaninya sekaligus berbagi banyak cerita yang terpendam."

"Oh, iya. Aku juga sudah tahu kalau kalian berdua bukan sekedar bos dan sekretaris, melainkan juga kakak dan adik," timpal Angela sambil tersenyum.

Mereka berjabat tangan dan berpelukan sekali lagi sebelum sama-sama keluar meninggalkan ruang kerja dan turun menuju basemen melalui lift khusus dirut yang ada di dekat pintu masuk ruangan. Mereka berpisah di parkiran itu untuk masuk ke mobil masing-masing.

Keluardari basemen, Miranda membawa mobilnya lewat di depan lobi gedung untukmenjemput Ratmi yang sudah menunggu. Saat mobilnya berhenti, Ratmi langsungberlarian dari lobi menyambut Miranda yang baru saja keluar dari mobil. Merekalangsung berpelukan erat. Setelah berbincang sebentar, mereka sama-sama masukmobil dan meninggalkan gedung kantor.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar