Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 38. Never Give Up

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 38. Never Give Up
______________________________________

"Selamat pagi, Princess! Sarapan, yuk!" sapa Miranda pada Vania yang baru saja datang ke ruang makan.

"Lah! Tante kok ada di sini pagi-pagi begini?! Mau apa Tante datang ke sini?!" balas Vania terdengar ketus dan tidak bersahabat. Kata-kata dan nada suaranya itu sudah cukup menjadi pertanda kalau dia masih memendam kebencian dan amarah pada Miranda.

"Mulai hari ini Tante akan membantu kalian, mulai dari menyiapkan sarapan, mengurus dedek bayi, serta menyiapkan makan malam," jawab Miranda tenang sambil mengukir senyum tulus di bibirnya yang pucat karena memang belum sempat dipulas.

Vania melotot makin tidak percaya. Dia langsung membuang wajah. Sebenarnya dia hendak menjawab, tapi diurungkannya. Kalau dia menanggapi, nanti Miranda malah mengira dia telah memaafkan. Sedangkan dia sudah bertekad tidak akan memaafkan wanita yang telah merenggut orang-orang yang sangat berharga dalam hidupnya itu. Sementara itu Widya yang baru saja menghampiri meja makan bersikap berbeda. Dia malah tersenyum dan menyapa Miranda lebih dulu.

"Eh, ada Tante Miranda. Kapan datangnya, Tante?" katanya lembut penuh persahabatan.

"Tante baru datang sebelum subuh tadi. Terus Tante membuatkan kalian sarapan. Mari sarapan sama-sama," jawab Miranda dengan nada suara tetap tenang dan terus tersenyum.

"Tidak usah repot-repot, Tante. Aku mau langsung berangkat saja. Nanti sarapan di sekolah saja. Sudah biasa, kok," timpal Vania tiba-tiba. Dia rupanya tidak tahan juga untuk kembali bersuara. Tampak dia masih memasang tampang judesnya.

"Lah, ini sarapannya sudah siap. Tinggal disantap saja, loh!" Miranda masih berusaha tenang dan tersenyum menghadapi Vania.

"Tidak usah, Tante! Ayo Widya kita berangkat!" balas Vania makin judes, tidak terpengaruh dengan senyuman dan kata-kata lembut Miranda. Dia tetap mengotot ingin langsung berangkat.

"Tapi, Kak...!" kata Widya protes. Tampaknya dia menerima dengan senang hati tawaran Miranda untuk sarapan bersama.

Arvin datang dari ruang tengah dan langsung menghadang Vania yang hendak meninggalkan ruang makan. Dia berjongkok di hadapan Vania, lalu memegang bahu putrinya itu.

"Kakaaaak!!!" katanya dengan lembut. "Kakak tidak boleh begitu, dong. Tante Miranda sudah capek-capek membuatkan sarapan, kok malah tidak dimakan," lanjutnya mencoba memberi pengertian. Dia berusaha untuk tetap memelankan dan melembutkan suara.

"Vania tidak minta dibuatkan! Ayo Widya cepat kita berangkat! Jemputanmu sudah mau datang, tuh!" jawab Vania sambil menoleh ke arah Widya yang sudah menyuap nasi goreng buatan Miranda.

"Tunggu dulu, Kak! Dicoba dulu makanannya. Baru Kakak berangkat," bujuk Arvin lagi masih dengan suara lembut.

Vania menepiskan tangan ayahnya lalu melangkah lewat samping kiri. Dia berjalan cepat menuju pintu depan. Terdengar pintu itu dibuka dengan kasar. Setelah Vania lewat, pintu itu pun tertutup kembali dengan cepat serta meninggalkan suara yang sangat kencang.

Widya terlihat bengong. "Kakak kenapa, Pa? Baru putus cinta, ya?" tanyanya pada ayahnya.

Arvin tersenyum ke arah putri keduanya itu. "Adek ini ada-ada saja. Kakak belum pacaran. Kok sudah putus cinta," jawabnya lembut.

"Terus kenapa Kakak pagi-pagi buta begini sudah mengamuk seperti itu?" tanya Widya lagi.

Arvin berdiri dari jongkoknya lalu berjalan menuju meja makan. Dia duduk di sebelah Widya dan berhadapan langsung dengan tempat duduk Miranda.

"Kakakmu sedang olahraga bibir. Jadi bicaranya kencang begitu," katanya sambil memamerkan gigi pada Widya.

"He he... Adek baru tahu kalau ada olahraga bibir," ucap Widya tampak kembali tenang.

Miranda ikut terkekeh dan senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Widya itu. Dugaannya tidak meleset, Vania masih tetap mengabaikannya. Kemarahan dan kebencian masih tampak jelas dari wajah, tubuh, kata-kata, dan seluruh perilaku gadis itu. Bagaimanapun, dia tetap bersyukur, setidaknya Widya tidak bersekongkol dengan kakaknya untuk ikut membencinya.

Widya menghabiskan sarapannya dengan cepat. Beberapa menit kemudian, setelah mencuci dan mengelap tangan, dia berpamitan pada Arvin dan Miranda untuk berangkat sekolah. Diciumnya kedua tangan mereka sebelum beranjak ke pintu depan.

Dia membuka pintu depan jauh lebih pelan dibandingkan dengan apa yang dilakukan Vania tadi. Dia menutupnya pun sama pelannya sampai-sampai tidak menimbulkan bunyi sama sekali.

Di depan rumah mobil jemputan sekolah telah menunggu sejak lima menit yang lalu. Sopir mobil itu sudah membukakan pintu tengah sambil berdiri di sebelah pintu itu. Dia tersenyum tulus ketika Widya mendekat. Gadis cilik itu langsung masuk ke mobil. Si sopir menutup pintu, berjalan memutar lewat depan, membuka pintu kabin, duduk di belakang kemudi, lalu menjalankan mobil.

Sementara di meja makan, Miranda masih menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan dua bersaudara yang sangat bertolak belakang itu. Apa yang ditunjukkan Widya barusan telah menjadi penghiburan baginya pagi ini setelah dikecewakan Vania. Kelakuan polos Widya makin menguatkan tekadnya untuk melakukan sesuatu yang cukup berharga bagi keluarga Arvin.

Arvin yang sedang mengunyah makanannya mengangkat kepala dan menatap Miranda yang tampak sedang merenung. Dia pun berucap,

"Maaf, ya, Mir. Vania sudah bersikap tidak sopan seperti itu padamu," katanya. Setelah menelan makanan yang dikunyahnya, dia meraih gelas yang tadi sudah diisikan oleh Miranda, lalu meminum setengahnya.

"Tidak apa-apa," balas Miranda singkat sambil menatap balik.

"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini. Ini hanya akan menyakitimu dan membuatmu makin sedih," lanjut Arvin.

Miranda tersenyum. "Tidak apa-apa, kok, Vin. Aku sudah menduga dia akan bersikap seperti itu. Aku pun bisa memahaminya. Dia pasti masih sangat marah. Dia masih membenciku. Aku tahu dia sangat kehilangan Karin. Aku tahu betapa sedihnya dia ditinggal bundanya itu karena aku juga mengalaminya."

"Iya. Aku tahu kamu ingin berempati kepada Vania. Tapi kamu tidak perlu melakukannya sampai seperti ini. Kalau kejadiannya begini, malah akan semakin menyakiti hatimu. Kamu tunggu saja sampai kemarahan Vania mereda, dan suasana hatinya mulai tenang. Baru setelah itu kamu meminta maaf. Aku yakin dia akan mengerti dan memaafkanmu."

"Kamu benar-benar tidak memahami jalan pikiran perempuan, Vin. Vania itu perempuan. Tidak semudah dan sesederhana itu untuk meminta maaf padanya," timpal Miranda lembut.

Kening Arvin mengerut. Tiba-tiba dia teringat dengan Karin. Apakah kecelakaan yang menimpa mendiang istrinya itu karena waktu itu dia sangat marah sampai-sampai kehilangan kesadaran dan akhirnya jatuh dari tangga. Dia merinding mengingat kejadian itu. Itu kesalahan terbesar keduanya yang berakibat sangat fatal.

"Setelah sarapan, kamu langsung berangkat saja, ya. Biar aku yang menyiapkan segala sesuatu untuk dedek bayi," kata Miranda kembali bersuara dan mengganti topik pembicaraan.

Arvin meraih gelas yang baru saja diisi kembali oleh Miranda lalu meminumnya. "Tidak usah repot-repot begitu, Mir. Sebentar lagi baby sitter datang," katanya menimpali.

"Aku sudah bilang sama baby sitter untuk datang agak siang saja. Pagi ini biar aku yang akan mengurus dedek bayinya," kata Miranda langsung menanggapi.

"Hah!" kata Arvin tampak terkejut sambil meletakkan gelas ke atas meja.

Ditatapnya mata Miranda lekat-lekat, mencoba menyelami isi pikiran perempuan yang ada di hadapannya. Namun tetap saja gagal. Dia masih belum mampu memahami jalan pikiran perempuan itu. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan dan dilakukannya. Atau jangan-jangan dia tidak memiliki rencana sama sekali. Hanya melakukan apa yang dirasanya harus dilakukan.

"Tidak perlu merepotkan diri sejauh itu," tolaknya kemudian.

"Aku tidak repot, kok. Aku malah senang melakukan ini semua," balas Miranda sambil tetap tersenyum.

"Tapi ... Mir...." Arvin masih ingin protes, tapi langsung dipotong oleh Miranda.

"Pleaseee... Vin. Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku, oke! Mungkin bukan sesuatu yang besar. Namun sejauh ini, hanya inilah yang terpikirkan olehku dan mampu kulakukan," kata Miranda lembut namun tegas. Tidak ada lagi senyum di wajahnya. Tatapannya berubah serius.

Arvin terlihat gusar. "Mir... Kamu tidak perlu merasa bersalah karena kamu memang tidak salah."

"Arviiiin!!! Pleasee!!! Aku tahu dari dulu aku selalu egois. Aku selalu memaksakan kehendak padamu. Tapi aku janji. Ini kali terakhir aku memohon padamu. Tolong beri kesempatan padaku untuk melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanku. Walaupun mungkin apa yang kulakukan ini tidak penting dan tidak berarti bagimu, tapi bagiku sangat berarti," ucap Miranda terdengar mengiba.

Arvin hanya terdiam sesaat sebelum akhirnya menyerah. "Baiklah," balasnya singkat.

Miranda kembali tersenyum. "Terima kasih, ya."

Arvin mengangguk, lalu bertanya "Bagaimana dengan jam kerja dan pekerjaanmu di kantor?"

"Aku sudah mengatur jam kerjaku dengan Angela. Dia sudah menyetujuinya."

"Kalian sudah tidak lagi berperang?" tanya Arvin heran.

"Tidaklah. Kami berdua bukan anak kecil lagi," jawab Miranda mantap dan meyakinkan.

Arvin menggeleng-gelengkan kepala. Miranda benar, dia benar-benar tidak bisa memahami pikiran wanita. Kemarin, dua wanita itu saling menyerang seperti ingin saling membunuh. Sekarang mereka tiba-tiba kembali akur. Benar-benar jalan pikiran yang aneh.

"Oke kalau begitu. Aku berangkat ke kantor dulu," katanya sambil beranjak dari kursi makan.

Miranda mengangguk. "Hati-hati ya, Vin."

Arvin membalas dengan anggukan pula.

***

Miranda melakukan hal yang sama di hari-hari berikutnya. Dia datang sebelum subuh. Dia tidak perlu lagi mengetuk pintu yang dapat membangunkan seluruh penghuni rumah karena Arvin sudah memberinya kunci cadangan. Dengan menggunakan kunci cadangan itu, dia dapat masuk tanpa menimbulkan suara. Langkah kakinya selalu langsung menuju dapur untuk memasak makanan untuk sarapan. Kurang lima belas menit dari jam enam, semua masakannya sudah matang dan lima menit kemudian sudah tersaji di meja makan.

Seminggu pertama, Vania masih teguh dengan pendiriannya untuk tidak ikut sarapan. Dia tidak mau makan masakan Miranda karena tidak ingin disalahartikan oleh wanita itu. Dia masih belum bisa memaafkan. Entah sampai kapan. Mungkin saja selamanya.

Bahkan, sering dia tidak datang ke meja makan sama sekali. Keluar dari kamar, dia langsung menuju pintu depan. Dia pun sering tidak berpamitan dengan Arvin maupun Miranda. Tiba-tiba dia sudah menghilang.

Namun di minggu kedua dia mulai berubah. Perubahan itu bolehdibilang cukup drastis. Dia tiba-tiba mau bergabung di meja makan untuk sarapanbersama. Namun raut wajahnya malah makin memprihatinkan. Dia makin murung dantidak bersemangat. Dia bukan hanya masih memendam amarah dan kebencian,melainkan juga menambahinya dengan emosi lain seperti penyesalan, kesedihan, sertaemosi negatif lainnya yang belum mampu dipahami oleh Miranda, apalagi oleh Arvin.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar