Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 39. Narasumber Satu-satunya

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 39. Narasumber Satu-satunya
______________________________________

Waktu ternyata masih belum mampu mengobati kepedihan Vania atas kehilangan dua sosok yang sangat berharga dalam hidupnya. Walaupun kejadian itu sudah berlalu, dia masih saja merasakan kepedihan yang sama.

Media sosial bukan pelarian yang tepat. Itu malah menambah beban penderitaannya. Terutama ketika dia mendapati postingan teman-temannya dengan keluarga lengkap atau dengan pacar mereka masing-masing.

Memainkan berbagai macam aplikasi permainan juga bukan solusi yang efektif. Dia malah makin pusing, jengkel, dan marah karena tak satu pun permainan itu yang benar-benar disukainya, apalagi dikuasainya.

Semangat hidupnya sempat kembali tumbuh ketika beberapa waktu lalu Siska memberanikan diri untuk kembali mendekatinya dan meminta maaf. Waktu itu, konsekuensi yang harus ditanggung Siska tentu saja berat. Dia harus ikut-ikutan dikucilkan dan menerima olok-olokan dari siswa lainnya. Namun, dia bergeming dan memilih tetap menemani Vania. Mereka pun kembali akrab. Kesepian Vania pun langsung terobati.

Sayangnya, kebersamaan itu pun hanya berlangsung sesaat. Tidak tahu sebabnya, tiba-tiba Siska ikut menghilang. Sudah seminggu lebih dia tidak datang ke sekolah tanpa kabar sama sekali.

Kini Vania kembali sendiri. Benar-benar sendiri. Di rumah maupun di sekolah. Taman belakang kelas tak mampu lagi menghiburnya. Air mata tidak lagi mampu menjadi sarana untuk menguras kepedihan hatinya. Semakin dia menangis, semakin kepedihannya menumpuk saja. Bahkan dia tak mampu lagi menangis karena sudah tidak ada lagi air mata yang tersisa.

Satu-satunya alasan yang membuatnya masih berangkat ke sekolah hanyalah ayahnya. Berhasil menyamarkan kesedihan agar tidak tampak di mata ayahnya adalah satu hal yang membuatnya merasa sedikit lega. Membuat ayahnya tersenyum melihatnya melangkah penuh semangat ke sekolah adalah sumber kelegaan lainnya.

Namun itu pun bersifat sementara. Ketika dirinya mulai lepas dari tatapan ayahnya, sekujur tubuhnya langsung menampakkan suasana hatinya yang sesungguhnya. Langkah kakinya kembali gontai. Raut wajahnya kembali kusut. Pikirannya langsung semrawut. Tatapannya tampak sayu. Dia langsung berubah menjadi mayat hidup.

Selesai jam sekolah, dia tidak langsung pulang ke rumah. Dia tidak ingin melihat Miranda. Perasaan muak, marah, benci, dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap wanita itu masih bersemayam di hatinya. Kebaikan-kebaikan yang ditunjukkan Miranda masih belum bisa mengatasi perasaan negatif itu.

Vania makin sering berjalan tanpa arah. Di telusurinya trotoar ibu kota sampai benar-benar merasa lelah. Setelah tidak kuat lagi berjalan, barulah dia memesan taksi dan pulang ke rumah. Hanya dengan begitu dia bisa menghentikan pikirannya bekerja.

Ketika Miranda bertanya kenapa pulang terlambat, dia pun langsung menyebutkan semua ekstrakurikuler di sekolah. Dia pun berbohong dengan berkata kalau dia mengikuti semua kegiatan itu. Padahal tidak sama sekali.

Setelah mendengar jawaban itu, biasanya Miranda tidak bertanya lagi. Selesailah obrolan mereka berdua. Vania bisa masuk kamar dengan tenang lalu langsung tertidur pulas.

Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan semua yang sedang dihadapinya, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Vania. Semakin lama dia semakin merasa aneh dengan tindakan Miranda di rumahnya. Dia pun memutuskan untuk menyelidiki kenapa perempuan itu bersikap dan berbuat seperti itu.

Selesai jam sekolah di suatu siang, dia tidak langsung berjalan menelusuri trotoar seperti biasanya, melainkan duduk di halte tepat di samping gerbang sekolah. Pikirannya langsung bekerja untuk mencari tahu siapa orang yang mengenal Miranda dengan baik.

Setelah dipikir-pikirnya, hanya ada tiga orang yang termasuk kategori itu. Nama pertama adalah ayahnya sendiri. Tapi dia tidak mungkin menginterogasi ayahnya.

Nama kedua adalah Angela. Namun, dia juga tidak mungkin bertanya pada wanita itu. Selain karena dia adalah bos besar di perusahaan ayahnya, Angela juga sama memuakkannya dengan Miranda. Mereka sama-sama berusaha menggoda ayahnya hingga membuat bunda Karin meninggal dunia.

Berarti tinggal tersedia satu pilihan. Itu adalah Ratmi. Hanya nama itu yang tersisa untuk ditanyai. Perempuan itu tampak polos dan tulus. Dia pasti akan memberikan jawaban apa adanya

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar