Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
[apa kabar, Tante?] tulis Vania di kolom pesan lalu
mengirimkannya ke kontak Ratmi.
Sayangnya pesan itu tidak langsung dibaca oleh Ratmi. Hampir
lima belas menit dia menunggu, tetap saja tidak ada tanda-tanda Ratmi akan
membalas pesannya.
Merasa bosan hanya duduk di halte untuk menunggu jawaban
pesan itu, Vania memasukkan ponselnya lalu berdiri. Dia melangkahkan kaki untuk
kembali menyusuri trotoar depan sekolah ke arah pusat perbelanjaan di arah
timur.
Baru berjalan sekitar seratus meter, ponselnya berdenting,
tanda ada pesan masuk. Dia langsung mengeluarkan ponselnya dari tas. Dibukanya
aplikasi yang dipakainya mengirim pesan tadi. Tampak pesan balasan dari Ratmi
di layar.
[Kabar Tante baik. Kamu apa kabar?] bunyi pesan dari Ratmi
diikuti emoji senyum.
Vania langsung buru-buru membalas pesan itu, agar langsung
dibaca Ratmi. [Aku juga baik, Tante. Vania bisa ketemu Tante?] tulisnya.
Pesan itu langsung terconteng dua warna biru. Itu artinya
Ratmi langsung membaca pesan itu. Terlihat Ratmi sedang mengetik di layar.
Beberapa detik kemudian muncul pesan balasan.
[Boleh, dong. Dengan senang hati. Kapan?]
[Kalau sore ini bagaimana, Tante?] balas Vania cepat.
[Boleh juga. Tapi setelah Tante pulang dari kantor, ya.]
balas Ratmi beberapa detik kemudian.
Vania langsung mengetik lagi. [Jam berapa kira-kira, Tante?
Di mana?]
Kali ini Ratmi mengetik cukup lama. Rupanya tulisannya
memang cukup panjang. [Tante keluar kantor jam 4.30 sore. Kita bertemu jam 5
sore saja. Bagaimana kalau di restoran cepat saji di dekat kantor sini?]
[Oke. Deal, Tante.]
[Oke. Sampai ketemu di sana.]
[Terima kasih, Tante.]
[Sama-sama.]
Vania langsung membuka Google map, memeriksa restoran cepat
saji yang berada di dekat QDC. Setelah itu dia membuka aplikasi taksi online, memilih alamat restoran tadi
sebagai tujuannya.
Beberapa menit kemudian sebuah minibus sejuta umat
menghampirinya. Jendela kaca mobil terbuka. Sopirnya langsung meneriakkan nama,
"Vania?"
Vania langsung mengangguk. Dia kemudian membuka pintu tengah
mobil, melangkahkan kaki ke dalam, lalu menutup kembali pintu itu dengan
kencang.
Melihat Vania tampak uring-uringan dari spion kabin, si
sopir tidak tahan untuk berkomentar,
"Baru putus, ya, Neng?" tanyanya sambil
menyeringai.
Vania tidak membalas dengan suara, melainkan dengan tatapan
mata yang melotot mengerikan.
"Maaf, Neng. Saya bercanda saja, he he," balas si
sopir terkekeh.
Vania menanggapi dengan mendengus kesal.
"Tidak ada yang ketinggalan, Neng? Atau jangan-jangan
separuh hati Eneng masih tertinggal di sana." Si sopir kembali terkekeh.
Akhirnya Vania tidak tahan juga. "Sudah, Mang!
Berangkat saja!" teriaknya dengan nada sangat kesal.
"Ashiaapp, Neng!" balas si sopir tetap
senyum-senyum, tidak terpengaruh dengan kekesalan Vania yang luar biasa itu.
Mobil pun melaju menuju lokasi di peta yang ada di layar
ponsel si sopir.
"Panggil saja saya Dito, Neng," kata si sopir
memperkenalkan diri.
"Enggak nanya!" jawab Vania judes.
"Eneng tahu tidak nama panjang saya?" tanya si
sopir tanpa menoleh. Dia tetap fokus melihat ke depan ke antrean panjang mobil
menjelang lampu merah.
"Enggak!" teriak Vania makin judes.
"Nama panjang saya adalah, 'Dito-lak mentah-mentah,'
Neng. Atau bisa juga 'Dito-lak berkali-kali'," kata Dito sambil tertawa
kecil.
Mendengar itu, Vania sempat terlihat senyum sendiri.
Ternyata si sopir bernama Dito ini kocak juga, pikirnya.
"Tragis sekali, bukan, Neng? Begitulah kehidupan saya,
Neng. Dulu sering ditolak cewek. Sekarang sering dito-lak penumpang. Kayak
dengan Eneng ini, ditolak mengobrol," kata Dito sambil kembali terkekeh.
Vania memilih diam. Si sopir makin menjadi-jadi karena tadi
dia menanggapi omongannya. Sekarang dia tidak lagi mau melakukan itu.
"Nama saya benaran Dito, Neng. Tapi kepanjangannya
bukan itu," kata Dito masih terkekeh. "Gara-gara saya tahu
kepanjangannya itu, saya sempat ingin berganti nama, Neng. Siapa tahu nama baru
lebih banyak membawa keberuntungan seperti yang sering dialami para selebriti
tanah air."
Vania tetap memilih diam sepanjang perjalanan. Tapi beberapa
kali dia terlihat senyum-senyum sendiri mendengar cerita Dito yang tidak
berjeda itu.
Sementara itu, Dito sendiri tidak terlalu peduli dengan
sikap acuh tak acuh Vania. Mungkin baginya, berceloteh seperti itu dapat
mengurangi kebosanan dan kekesalan berada di tengah kesemrawutan jalanan macet
ibukota yang tidak pernah terselesaikan.
Kekocakan Dito ternyata telah berhasil menghibur Vania.
Tanpa terasa, taksi yang ditumpanginya sampai di titik lokasi. Dia yang ketika
naik tadi terlihat sangat dingin, kini terlihat sedikit lebih hangat dan ramah.
Dia tersenyum ketika memberikan ongkos pada Dito.
Dito pun menerima uang itu dengan raut wajah ceria sambil
berceloteh lagi.
"Terima kasih, Neng. Semoga Eneng menjadi langganan
saya. Ke mana pun Eneng ingin pergi akan saya antar. Termasuk ke
pelaminan."
Tiba-tiba Dito terdiam dengan mimik wajah berubah serius.
"Ups! Salah! Jangan GR ya, Neng. Saya sudah beristri," katanya
kembali terkekeh.
"Ish! Siapa pula mau ikut Mamang. Mamang yang
ke-GR-an," jawab Vania kembali kesal. Sambil melengos, dia segera keluar
dari mobil. Dibantingnya pintu mobil keras-keras. Dia pun langsung berlarian
meninggalkan taksi itu menuju pintu masuk restoran cepat saji tepat di
hadapannya.
Setelah melewati pintu masuk restoran, Vania langsung ikut
berdiri di ujung antrean untuk memesan makanan. Sepuluh menit kemudian dia pun
mendapat giliran. Dipesannya nasi, ayam goreng, sup krim, dan minuman mineral.
Setelah selesai membayar, dia langsung menuju meja dekat dinding kaca agar bisa
mengamati kedatangan Tante Ratmi.
Setelah meletakkan pesanan, dia duduk menghadap dinding
kaca, lalu membuka ponsel untuk melihat jam. Angka yang tertera di ponselnya
menunjukkan pukul 15.52. Masih sekitar sejam lagi Ratmi akan datang.
Difotonya makanan yang sudah dipesannya lalu dikirimkannya
ke nomor Ratmi. Diketiknya pesan singkat di bawah pesan gambar itu.
[Vania sudah di lokasi].
[Oke. Tunggu di situ, ya] balas Ratmi beberapa menit
kemudian.
Kurang sepuluh menit jam lima sore, Ratmi muncul. Dia
menyapa Vania sebelum mengantre di tempat pemesanan makanan. Setelah mendapat
giliran, dia memesan es krim dan kentang goreng. Dia lalu membawa makanannya ke
meja Vania.
"Apa kabar, Sayang? Bosan, ya, menunggu lama?"
sapanya pada Vania.
"Enggak juga, kok, Tante?" balas Vania masih
dengan muka terlihat kusut.
"Oke. Langsung saja. Kamu mau menanyakan apa?"
tanya Ratmi langsung menodong Vania.
Ini pertama kalinya Vania mengajaknya bertemu di luar berdua
saja. Pasti ada sesuatu yang sangat penting yang membuat Vania memilih
melakukannya.
"Tante tahu saja." jawab Vania sambil tersenyum
kecut.
"Ini pertama kali kamu mengajak ketemu? Tidak mungkin
kamu melakukannya tanpa maksud tertentu. Aku juga tidak begitu yakin kalu kamu
mau bercerita."
"Vania ingin menanyakan beberapa hal tentang Tante
Miranda," kata Vania juga langsung ke pokok persoalan yang ingin
dibahasnya sore ini.
"Menanyakan apa?" tanya Ratmi sambil mengerutkan
kening.
"Semuanya," jawab Vania serius.
Ratmi terlihat terkejut sekaligus panik. "Hah?!
Semuanya?! Memangnya aku ini siapanya Tante Miranda sampai tahu semuanya, he
he," katanya kemudian sambil menampakkan raut wajah yang kembali normal.
Vania tampak berpikir.
"Kalau begitu, beritahu saja semua hal yang Tante
ketahui tentang Tante Miranda," ujarnya kemudian.
Ratmi mengangguk-angguk. "Oke. Tante Miranda orangnya
baik."
Setelah itu dia terdiam cukup lama.
Vania yang menunggu-nunggu kelanjutannya langsung terlihat
kesal.
"Bukan itu!" katanya sedikit berteriak.
"Terus apa?" tanya Ratmi tampak bengong, pura-pura
polos.
Vania memegang kepalanya sambil tampak berpikir.
"Kenapa sekarang Tante Miranda memperhatikan dan memedulikan kami?"
tanyanya kemudian.
Ratmi mengernyit. "Wah, kalau urusan itu aku tidak
tahu. Sebaiknya kamu tanyakan langsung kepada yang bersangkutan,"
"Malas," jawab Vania sambil menggembungkan kedua
pipinya.
Ratmi malah tertawa kecil melihat ekspresi wajah Vania.
"Coba ceritakan masa lalu Tante Miranda," pinta
Vania kemudian.
"Untuk apa kamu tahu itu?" tanya Ratmi heran. Dia
masih berusaha untuk tidak menceritakan apa-apa tentang Miranda.
"Tante ceritakan saja. Biar Vania yang memikirkan
hubungannya," jawab Vania dengan nada suara agak meninggi.
Ratmi tampak berpikir keras. "Dia dulu CEO di QDC
sebelum digantikan Mbak Angela," ujarnya kemudian.
"Kalau itu Vania tahu," teriak Vania makin kesal.
Ratmi tampak bingung. "Terus masa lalu yang mana yang
kamu maksudkan?"
"Hubungannya dengan Papaku!" teriak Vania lagi.
Raut wajah Ratmi langsung berubah. Dia tidak pandai
menyembunyikan ekspresi wajah. Senyumnya langsung lenyap berganti dengan
kekhawatiran dan mungkin pula ketakutan.
"Setahuku, mereka tidak ada hubungan selain hubungan
kerja antara atasan dan bawahan."
"Tante tidak usah bohong. Wajah Tante itu tidak bisa
menipu Vania."
Hadeh. Meniru siapalah
gadis kecil ini sampai-sampai mengotot begini. Perasaan Arvin tidak pernah
mengotot seperti itu. Mungkinkah dia meniru ibu kandungnya? kata Ratmi
dalam hati.
"Hayo, Tante! Ceritakan dengan jujur!" desak Vania
lagi.
Akhirnya Ratmi menceritakan semua yang dia tahu. Termasuk
tentang ayahnya Vania yang sempat melamar Miranda sebanyak dua kali dan
ditolak. Ratmi tentu menjelaskan juga kalau kejadian itu terjadi sebelum Arvin
menikahi Karin agar Vania tidak salah paham.
"Cerita lainnya, Tante!" kata Vania masih dengan
nada tinggi.
Ratmi tampak bingung. Dia pun menceritakan bagian lain.
"Mbak Miranda pernah bercerita kalau dia merasa dialah
yang menjadi penyebab Bunda Karin meninggal. Sepertinya itu yang sekarang
membuatnya ingin membantu kalian. Mungkin itu adalah sebuah bentuk penebusan
dosa."
Vania menyimak serius. Kali ini dia mengangguk.
"Rasanya itu sedikit masuk akal," katanya dengan tatapan
serius ke arah Ratmi.
"Sudah?" tanya Ratmi.
"Belum," jawab Vania pendek. "Kenapa Tante
Miranda merasa bersalah?" lanjutnya.
Ratmi kembali bingung. Dari mana dia harus mulai
menceritakan. Dia tampak berpikir lama, menimbang-nimbang apakah perlu
menceritakan bagian ini.
"Mungkin karena dia sempat mengobrol dengan papamu di
restoran itu yang kemudian memicu Bunda Karin jatuh dari tangga."
"Kenapa Tante Miranda menemui Papaku di restoran itu?
Lalu kenapa dia mengundang Bunda Karin juga? Apa sebenarnya yang terjadi waktu
itu?"
Pertanyaan itu terdengar bagus di telinga Ratmi. Ini adalah
momen yang tepat untuk menjelaskan kronologis kejadian waktu itu sehingga bisa
meluruskan kesalahpahaman Vania terhadap Miranda.
"Mbak Miranda tidak pernah berniat bertemu dengan
Papamu di restoran itu. Dia sebenarnya punya janji bertemu denganku. Sementara
Papamu dan Bunda Karin punya janji bertemu dengan Mbak Angela. Kebetulan saja
waktu dan tempatnya waktu itu sama. Jam tujuh malam di restoran Event
Horizon."
Vania tampak bingung. Tapi dia tetap tampak serius menyimak.
Setelah membalas tatapan Vania sebentar, Ratmi kembali
menjelaskan,
"Saat itu Mbak Miranda sedang stres berat setelah
mendapat ancaman dari Bram, mantan pacar suaminya yang sesama gay di Australia sana. Dia ingin
mencurahkan semua kegundahannya padaku. Akan tetapi dia malah bertemu lebih
dulu dengan papamu di restoran itu. Entah kenapa dan bagaimana, dia malah
banyak bercerita pada papamu. Saat itulah Bunda Karin datang dan melihat mereka
sedang mengobrol berdua. Mungkin Bunda Karin kaget dan syok melihat itu
sehingga kehilangan keseimbangan dan jatuh."
Vania tampak berpikir keras. Sepertinya dia sedang
membanding-bandingkan cerita dari ayahnya, cerita dari Angela, dan cerita dari
Ratmi barusan. Semua cerita itu serupa dan saling bersesuaian. Itu artinya,
memang seperti itu kejadian yang menimpa Bunda Karin. Itu artinya ayahnya dan
Miranda tidak sedang berselingkuh. Itu hanya sebuah kesalahpahaman yang
berakibat fatal.
Ratmi menatap sayu ke mata Vania yang mulai berkaca-kaca.
Sepertinya ceritanya barusan membuat Vania kembali teringat dengan Karin.
"Apakah Tante Miranda dulu benar-benar mencintai
Papaku? Sebelum Papa menikah dengan Bunda Karin," tanya Vania lebih jauh.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" kata Ratmi balik
bertanya dengan ekspresi penuh kebingungan.
"Hanya ingin tahu."
Ratmi memijit-mijit pelipisnya. Pertanyaan ini sangat sulit
dijawab. Dia tidak mungkin diam karena Vania pasti akan mendesak. Dia juga
tidak bisa berbohong karena tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.
Setelah berpikir agak lama, dia pun memutuskan. Sepertinya sudah waktunya Vania
tahu kebenarannya.
"Mbak Miranda sangat mencintai papamu. Bahkan semua
orang di kantor sudah mengetahui itu. Dia kemudian menolak lamaran papamu bukan
karena tidak mencintai papamu. Justru dia melakukan itu karena sangat mencintai
papamu."
Vania tampak bingung mendengar penjelasan Ratmi. Dia menatap
Ratmi tanpa berkedip, menunggu kelanjutan cerita perempuan itu.
Ratmi balik menatap Vania sebelum kembali melanjutkan,
"Sebagai pimpinan tertinggi di QDC, Mbak Miranda
memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Kalau dia menerima lamaran papamu,
lalu menikah, dia merasa tidak akan mampu menjadi istri sekaligus ibu yang
baik. Dia tidak akan mampu menjaga dan mengurusmu dan adikmu karena di waktu
bersamaan dia juga harus mengurus perusahaan sebesar QDC. Dia sadar, mencintai
papamu berarti mencintai kalian semua. Dia merasa belum bisa melakukan itu. Dia
merelakan papamu menikah dengan Bunda Karin karena yakin Bunda Karin lebih
mampu mengurus kalian."
Vania tampak merenung. Dia sebenarnya dapat merasakan cinta
Miranda padanya, Widya, dan papanya. Namun kebenciannya yang meluap-luap telah
menutupi semua perwujudan cinta Miranda.
Ratmi kembali bersuara. "Mbak Miranda sekarang pun
masih seperti dulu. Dia masih mencintai kalian. Namun, dia tidak mau memaksakan
kehendak. Dia tidak mau memaksakan perasaannya itu. Dia juga tidak berharap
papamu membalas perasaannya lagi. Dia hanya ingin melakukan sesuatu yang memang
harus dilakukannya. Dia menganggap apa yang sedang dilakukannya sekarang pada
kalian memang sebuah kewajiban dan tanggung jawab yang harus diembannya."
Vania menanggapi dingin cerita Ratmi. Dia tidak marah, tidak
juga senang. Ekspresinya sangat datar. Sulit untuk memahami apa yang sedang
dipikirkannya.
"Tante menceritakan yang sebenarnya, bukan?"
tanyanya kemudian masih dengan raut wajah datar.
"Iya. Itu yang sebenarnya," jawab Ratmi pelan
namun meyakinkan.
"Tante tidak berbohong, bukan?" tanya Vania lagi
masih dengan ekspresi datar.
Ratmi tersenyum kecil mendapat pertanyaan itu. "Untuk
apa aku berbohong. Tidak ada untungnya bagiku. Malahan, dengan bercerita
seperti ini, dapat mengancam persahabatanku dengan Mbak Miranda."
Vania menatap wajah Ratmi. "Kenapa Tante menceritakan
semuanya itu?"
Ratmi yang sempat tertunduk langsung mengangkat wajah dan
menatap mata Vania. "Bukankah tadi kamu yang memaksa Tante menceritakan
semuanya?"
Vania mengangguk pelan lalu menunduk. Keningnya mengerut
amat dalam, sepertinya sedang berusaha memahami dan memaknai apa yang sedang
terjadi.
Ratmi tersenyum menatap Vania, lalu berucap, "Setelah
kupikirkan lagi, kamu memang berhak mengetahui semua itu. Aku berharap,
kebenaran itu bisa membuatmu merasa lebih lega. Kamu dapat menerima kenyataan
yang ada. Kamu tidak lagi salah sangka pada Mbak Miranda. Semoga kamu juga bisa
membuka pintu maaf untuknya."
Obrolan mereka sore itu hanya sampai di sana. Vania tidak
lagi bersuara. Ratmi juga sudah kehabisan cerita. Semua yang harus diketahui
Vania, sudah diceritakannya semua.
Langit di ufuk barat mulai memerah ketika mereka berpisah di
depan restoran. Ratmi langsung naik mobil suaminya yang datang menjemput.
Sementara Vania naik taksi online yang
akan mengantarkannya pulang ke rumah.
Sopir taksi ini jauh berbeda dengan sopir bernama Dito tadi.
Dia sangat pendiam. Mereka saling berdiam diri sepanjang perjalanan.
Taksi merayap pelan sepanjang jalan. Si sopir memilih
berbelok ke gang sempit di sebelah kiri untuk menghindari kemacetan yang
mengular panjang di depan mereka. Dia memilih jalan tikus agar lebih cepat
sampai ke tujuan.
Di jalanan kecil ini, tatapan Vania terhenti pada satu sosok
perempuan yang sedang menggendong karung besar di punggungnya. Awalnya dia
tidak begitu menghiraukannya. Namun semakin dekat, wajah perempuan itu makin
jelas karena dia sedang berjalan menghadap ke arah matahari sore hari.
Wajah itu sangat mirip dengan Siska, sahabat karibnya yang
sudah sebulan lebih tidak datang ke sekolah.
Setelah taksi melewati perempuan itu, Vania baru tersadar.
Dia harus memastikan kalau wajah itu benar-benar milik Siska. Langsung
dimintanya sopir untuk berhenti.
Mobil berhenti sekitar seratus meter dari tempat perempuan tadi terlihat. Saat Vania keluar, perempuan itu sudah tidak tampak lagi. Dia meminta sopir taksi untuk menunggu sebentar. Lalu dia langsung berlari menuju tempat terakhir kali melihat perempuan pembawa karung itu.
Diedarkannya pandangan ke segala penjuru, tidak ada tanda-tanda samasekali. Perempuan itu benar-benar telah menghilang. Dia kembali melangkahmendekati taksi dengan langkah yang semakin goyah. Mungkin aku mulai berhalusinasi, katanya dalam hati.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.