Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 40. Mulai Berhalusinasi

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 40. Mulai Berhalusinasi
______________________________________

Vania akhirnya memutuskan untuk menemui Ratmi. Tanpa perlu berpikir panjang lagi, dia langsung mengirim pesan pada perempuan itu.

[apa kabar, Tante?] tulis Vania di kolom pesan lalu mengirimkannya ke kontak Ratmi.

Sayangnya pesan itu tidak langsung dibaca oleh Ratmi. Hampir lima belas menit dia menunggu, tetap saja tidak ada tanda-tanda Ratmi akan membalas pesannya.

Merasa bosan hanya duduk di halte untuk menunggu jawaban pesan itu, Vania memasukkan ponselnya lalu berdiri. Dia melangkahkan kaki untuk kembali menyusuri trotoar depan sekolah ke arah pusat perbelanjaan di arah timur.

Baru berjalan sekitar seratus meter, ponselnya berdenting, tanda ada pesan masuk. Dia langsung mengeluarkan ponselnya dari tas. Dibukanya aplikasi yang dipakainya mengirim pesan tadi. Tampak pesan balasan dari Ratmi di layar.

[Kabar Tante baik. Kamu apa kabar?] bunyi pesan dari Ratmi diikuti emoji senyum.

Vania langsung buru-buru membalas pesan itu, agar langsung dibaca Ratmi. [Aku juga baik, Tante. Vania bisa ketemu Tante?] tulisnya.

Pesan itu langsung terconteng dua warna biru. Itu artinya Ratmi langsung membaca pesan itu. Terlihat Ratmi sedang mengetik di layar. Beberapa detik kemudian muncul pesan balasan.

[Boleh, dong. Dengan senang hati. Kapan?]

[Kalau sore ini bagaimana, Tante?] balas Vania cepat.

[Boleh juga. Tapi setelah Tante pulang dari kantor, ya.] balas Ratmi beberapa detik kemudian.

Vania langsung mengetik lagi. [Jam berapa kira-kira, Tante? Di mana?]

Kali ini Ratmi mengetik cukup lama. Rupanya tulisannya memang cukup panjang. [Tante keluar kantor jam 4.30 sore. Kita bertemu jam 5 sore saja. Bagaimana kalau di restoran cepat saji di dekat kantor sini?]

[Oke. Deal, Tante.]

[Oke. Sampai ketemu di sana.]

[Terima kasih, Tante.]

[Sama-sama.]

Vania langsung membuka Google map, memeriksa restoran cepat saji yang berada di dekat QDC. Setelah itu dia membuka aplikasi taksi online, memilih alamat restoran tadi sebagai tujuannya.

Beberapa menit kemudian sebuah minibus sejuta umat menghampirinya. Jendela kaca mobil terbuka. Sopirnya langsung meneriakkan nama,

"Vania?"

Vania langsung mengangguk. Dia kemudian membuka pintu tengah mobil, melangkahkan kaki ke dalam, lalu menutup kembali pintu itu dengan kencang.

Melihat Vania tampak uring-uringan dari spion kabin, si sopir tidak tahan untuk berkomentar,

"Baru putus, ya, Neng?" tanyanya sambil menyeringai.

Vania tidak membalas dengan suara, melainkan dengan tatapan mata yang melotot mengerikan.

"Maaf, Neng. Saya bercanda saja, he he," balas si sopir terkekeh.

Vania menanggapi dengan mendengus kesal.

"Tidak ada yang ketinggalan, Neng? Atau jangan-jangan separuh hati Eneng masih tertinggal di sana." Si sopir kembali terkekeh.

Akhirnya Vania tidak tahan juga. "Sudah, Mang! Berangkat saja!" teriaknya dengan nada sangat kesal.

"Ashiaapp, Neng!" balas si sopir tetap senyum-senyum, tidak terpengaruh dengan kekesalan Vania yang luar biasa itu.

Mobil pun melaju menuju lokasi di peta yang ada di layar ponsel si sopir.

"Panggil saja saya Dito, Neng," kata si sopir memperkenalkan diri.

"Enggak nanya!" jawab Vania judes.

"Eneng tahu tidak nama panjang saya?" tanya si sopir tanpa menoleh. Dia tetap fokus melihat ke depan ke antrean panjang mobil menjelang lampu merah.

"Enggak!" teriak Vania makin judes.

"Nama panjang saya adalah, 'Dito-lak mentah-mentah,' Neng. Atau bisa juga 'Dito-lak berkali-kali'," kata Dito sambil tertawa kecil.

Mendengar itu, Vania sempat terlihat senyum sendiri. Ternyata si sopir bernama Dito ini kocak juga, pikirnya.

"Tragis sekali, bukan, Neng? Begitulah kehidupan saya, Neng. Dulu sering ditolak cewek. Sekarang sering dito-lak penumpang. Kayak dengan Eneng ini, ditolak mengobrol," kata Dito sambil kembali terkekeh.

Vania memilih diam. Si sopir makin menjadi-jadi karena tadi dia menanggapi omongannya. Sekarang dia tidak lagi mau melakukan itu.

"Nama saya benaran Dito, Neng. Tapi kepanjangannya bukan itu," kata Dito masih terkekeh. "Gara-gara saya tahu kepanjangannya itu, saya sempat ingin berganti nama, Neng. Siapa tahu nama baru lebih banyak membawa keberuntungan seperti yang sering dialami para selebriti tanah air."

Vania tetap memilih diam sepanjang perjalanan. Tapi beberapa kali dia terlihat senyum-senyum sendiri mendengar cerita Dito yang tidak berjeda itu.

Sementara itu, Dito sendiri tidak terlalu peduli dengan sikap acuh tak acuh Vania. Mungkin baginya, berceloteh seperti itu dapat mengurangi kebosanan dan kekesalan berada di tengah kesemrawutan jalanan macet ibukota yang tidak pernah terselesaikan.

Kekocakan Dito ternyata telah berhasil menghibur Vania. Tanpa terasa, taksi yang ditumpanginya sampai di titik lokasi. Dia yang ketika naik tadi terlihat sangat dingin, kini terlihat sedikit lebih hangat dan ramah. Dia tersenyum ketika memberikan ongkos pada Dito.

Dito pun menerima uang itu dengan raut wajah ceria sambil berceloteh lagi.

"Terima kasih, Neng. Semoga Eneng menjadi langganan saya. Ke mana pun Eneng ingin pergi akan saya antar. Termasuk ke pelaminan."

Tiba-tiba Dito terdiam dengan mimik wajah berubah serius. "Ups! Salah! Jangan GR ya, Neng. Saya sudah beristri," katanya kembali terkekeh.

"Ish! Siapa pula mau ikut Mamang. Mamang yang ke-GR-an," jawab Vania kembali kesal. Sambil melengos, dia segera keluar dari mobil. Dibantingnya pintu mobil keras-keras. Dia pun langsung berlarian meninggalkan taksi itu menuju pintu masuk restoran cepat saji tepat di hadapannya.

Setelah melewati pintu masuk restoran, Vania langsung ikut berdiri di ujung antrean untuk memesan makanan. Sepuluh menit kemudian dia pun mendapat giliran. Dipesannya nasi, ayam goreng, sup krim, dan minuman mineral. Setelah selesai membayar, dia langsung menuju meja dekat dinding kaca agar bisa mengamati kedatangan Tante Ratmi.

Setelah meletakkan pesanan, dia duduk menghadap dinding kaca, lalu membuka ponsel untuk melihat jam. Angka yang tertera di ponselnya menunjukkan pukul 15.52. Masih sekitar sejam lagi Ratmi akan datang.

Difotonya makanan yang sudah dipesannya lalu dikirimkannya ke nomor Ratmi. Diketiknya pesan singkat di bawah pesan gambar itu.

[Vania sudah di lokasi].

[Oke. Tunggu di situ, ya] balas Ratmi beberapa menit kemudian.

Kurang sepuluh menit jam lima sore, Ratmi muncul. Dia menyapa Vania sebelum mengantre di tempat pemesanan makanan. Setelah mendapat giliran, dia memesan es krim dan kentang goreng. Dia lalu membawa makanannya ke meja Vania.

"Apa kabar, Sayang? Bosan, ya, menunggu lama?" sapanya pada Vania.

"Enggak juga, kok, Tante?" balas Vania masih dengan muka terlihat kusut.

"Oke. Langsung saja. Kamu mau menanyakan apa?" tanya Ratmi langsung menodong Vania.

Ini pertama kalinya Vania mengajaknya bertemu di luar berdua saja. Pasti ada sesuatu yang sangat penting yang membuat Vania memilih melakukannya.

"Tante tahu saja." jawab Vania sambil tersenyum kecut.

"Ini pertama kali kamu mengajak ketemu? Tidak mungkin kamu melakukannya tanpa maksud tertentu. Aku juga tidak begitu yakin kalu kamu mau bercerita."

"Vania ingin menanyakan beberapa hal tentang Tante Miranda," kata Vania juga langsung ke pokok persoalan yang ingin dibahasnya sore ini.

"Menanyakan apa?" tanya Ratmi sambil mengerutkan kening.

"Semuanya," jawab Vania serius.

Ratmi terlihat terkejut sekaligus panik. "Hah?! Semuanya?! Memangnya aku ini siapanya Tante Miranda sampai tahu semuanya, he he," katanya kemudian sambil menampakkan raut wajah yang kembali normal.

Vania tampak berpikir.

"Kalau begitu, beritahu saja semua hal yang Tante ketahui tentang Tante Miranda," ujarnya kemudian.

Ratmi mengangguk-angguk. "Oke. Tante Miranda orangnya baik."

Setelah itu dia terdiam cukup lama.

Vania yang menunggu-nunggu kelanjutannya langsung terlihat kesal.

"Bukan itu!" katanya sedikit berteriak.

"Terus apa?" tanya Ratmi tampak bengong, pura-pura polos.

Vania memegang kepalanya sambil tampak berpikir. "Kenapa sekarang Tante Miranda memperhatikan dan memedulikan kami?" tanyanya kemudian.

Ratmi mengernyit. "Wah, kalau urusan itu aku tidak tahu. Sebaiknya kamu tanyakan langsung kepada yang bersangkutan,"

"Malas," jawab Vania sambil menggembungkan kedua pipinya.

Ratmi malah tertawa kecil melihat ekspresi wajah Vania.

"Coba ceritakan masa lalu Tante Miranda," pinta Vania kemudian.

"Untuk apa kamu tahu itu?" tanya Ratmi heran. Dia masih berusaha untuk tidak menceritakan apa-apa tentang Miranda.

"Tante ceritakan saja. Biar Vania yang memikirkan hubungannya," jawab Vania dengan nada suara agak meninggi.

Ratmi tampak berpikir keras. "Dia dulu CEO di QDC sebelum digantikan Mbak Angela," ujarnya kemudian.

"Kalau itu Vania tahu," teriak Vania makin kesal.

Ratmi tampak bingung. "Terus masa lalu yang mana yang kamu maksudkan?"

"Hubungannya dengan Papaku!" teriak Vania lagi.

Raut wajah Ratmi langsung berubah. Dia tidak pandai menyembunyikan ekspresi wajah. Senyumnya langsung lenyap berganti dengan kekhawatiran dan mungkin pula ketakutan.

"Setahuku, mereka tidak ada hubungan selain hubungan kerja antara atasan dan bawahan."

"Tante tidak usah bohong. Wajah Tante itu tidak bisa menipu Vania."

Hadeh. Meniru siapalah gadis kecil ini sampai-sampai mengotot begini. Perasaan Arvin tidak pernah mengotot seperti itu. Mungkinkah dia meniru ibu kandungnya? kata Ratmi dalam hati.

"Hayo, Tante! Ceritakan dengan jujur!" desak Vania lagi.

Akhirnya Ratmi menceritakan semua yang dia tahu. Termasuk tentang ayahnya Vania yang sempat melamar Miranda sebanyak dua kali dan ditolak. Ratmi tentu menjelaskan juga kalau kejadian itu terjadi sebelum Arvin menikahi Karin agar Vania tidak salah paham.

"Cerita lainnya, Tante!" kata Vania masih dengan nada tinggi.

Ratmi tampak bingung. Dia pun menceritakan bagian lain.

"Mbak Miranda pernah bercerita kalau dia merasa dialah yang menjadi penyebab Bunda Karin meninggal. Sepertinya itu yang sekarang membuatnya ingin membantu kalian. Mungkin itu adalah sebuah bentuk penebusan dosa."

Vania menyimak serius. Kali ini dia mengangguk.

"Rasanya itu sedikit masuk akal," katanya dengan tatapan serius ke arah Ratmi.

"Sudah?" tanya Ratmi.

"Belum," jawab Vania pendek. "Kenapa Tante Miranda merasa bersalah?" lanjutnya.

Ratmi kembali bingung. Dari mana dia harus mulai menceritakan. Dia tampak berpikir lama, menimbang-nimbang apakah perlu menceritakan bagian ini.

"Mungkin karena dia sempat mengobrol dengan papamu di restoran itu yang kemudian memicu Bunda Karin jatuh dari tangga."

"Kenapa Tante Miranda menemui Papaku di restoran itu? Lalu kenapa dia mengundang Bunda Karin juga? Apa sebenarnya yang terjadi waktu itu?"

Pertanyaan itu terdengar bagus di telinga Ratmi. Ini adalah momen yang tepat untuk menjelaskan kronologis kejadian waktu itu sehingga bisa meluruskan kesalahpahaman Vania terhadap Miranda.

"Mbak Miranda tidak pernah berniat bertemu dengan Papamu di restoran itu. Dia sebenarnya punya janji bertemu denganku. Sementara Papamu dan Bunda Karin punya janji bertemu dengan Mbak Angela. Kebetulan saja waktu dan tempatnya waktu itu sama. Jam tujuh malam di restoran Event Horizon."

Vania tampak bingung. Tapi dia tetap tampak serius menyimak.

Setelah membalas tatapan Vania sebentar, Ratmi kembali menjelaskan,

"Saat itu Mbak Miranda sedang stres berat setelah mendapat ancaman dari Bram, mantan pacar suaminya yang sesama gay di Australia sana. Dia ingin mencurahkan semua kegundahannya padaku. Akan tetapi dia malah bertemu lebih dulu dengan papamu di restoran itu. Entah kenapa dan bagaimana, dia malah banyak bercerita pada papamu. Saat itulah Bunda Karin datang dan melihat mereka sedang mengobrol berdua. Mungkin Bunda Karin kaget dan syok melihat itu sehingga kehilangan keseimbangan dan jatuh."

Vania tampak berpikir keras. Sepertinya dia sedang membanding-bandingkan cerita dari ayahnya, cerita dari Angela, dan cerita dari Ratmi barusan. Semua cerita itu serupa dan saling bersesuaian. Itu artinya, memang seperti itu kejadian yang menimpa Bunda Karin. Itu artinya ayahnya dan Miranda tidak sedang berselingkuh. Itu hanya sebuah kesalahpahaman yang berakibat fatal.

Ratmi menatap sayu ke mata Vania yang mulai berkaca-kaca. Sepertinya ceritanya barusan membuat Vania kembali teringat dengan Karin.

"Apakah Tante Miranda dulu benar-benar mencintai Papaku? Sebelum Papa menikah dengan Bunda Karin," tanya Vania lebih jauh.

"Kenapa kamu menanyakan itu?" kata Ratmi balik bertanya dengan ekspresi penuh kebingungan.

"Hanya ingin tahu."

Ratmi memijit-mijit pelipisnya. Pertanyaan ini sangat sulit dijawab. Dia tidak mungkin diam karena Vania pasti akan mendesak. Dia juga tidak bisa berbohong karena tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Setelah berpikir agak lama, dia pun memutuskan. Sepertinya sudah waktunya Vania tahu kebenarannya.

"Mbak Miranda sangat mencintai papamu. Bahkan semua orang di kantor sudah mengetahui itu. Dia kemudian menolak lamaran papamu bukan karena tidak mencintai papamu. Justru dia melakukan itu karena sangat mencintai papamu."

Vania tampak bingung mendengar penjelasan Ratmi. Dia menatap Ratmi tanpa berkedip, menunggu kelanjutan cerita perempuan itu.

Ratmi balik menatap Vania sebelum kembali melanjutkan,

"Sebagai pimpinan tertinggi di QDC, Mbak Miranda memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Kalau dia menerima lamaran papamu, lalu menikah, dia merasa tidak akan mampu menjadi istri sekaligus ibu yang baik. Dia tidak akan mampu menjaga dan mengurusmu dan adikmu karena di waktu bersamaan dia juga harus mengurus perusahaan sebesar QDC. Dia sadar, mencintai papamu berarti mencintai kalian semua. Dia merasa belum bisa melakukan itu. Dia merelakan papamu menikah dengan Bunda Karin karena yakin Bunda Karin lebih mampu mengurus kalian."

Vania tampak merenung. Dia sebenarnya dapat merasakan cinta Miranda padanya, Widya, dan papanya. Namun kebenciannya yang meluap-luap telah menutupi semua perwujudan cinta Miranda.

Ratmi kembali bersuara. "Mbak Miranda sekarang pun masih seperti dulu. Dia masih mencintai kalian. Namun, dia tidak mau memaksakan kehendak. Dia tidak mau memaksakan perasaannya itu. Dia juga tidak berharap papamu membalas perasaannya lagi. Dia hanya ingin melakukan sesuatu yang memang harus dilakukannya. Dia menganggap apa yang sedang dilakukannya sekarang pada kalian memang sebuah kewajiban dan tanggung jawab yang harus diembannya."

Vania menanggapi dingin cerita Ratmi. Dia tidak marah, tidak juga senang. Ekspresinya sangat datar. Sulit untuk memahami apa yang sedang dipikirkannya.

"Tante menceritakan yang sebenarnya, bukan?" tanyanya kemudian masih dengan raut wajah datar.

"Iya. Itu yang sebenarnya," jawab Ratmi pelan namun meyakinkan.

"Tante tidak berbohong, bukan?" tanya Vania lagi masih dengan ekspresi datar.

Ratmi tersenyum kecil mendapat pertanyaan itu. "Untuk apa aku berbohong. Tidak ada untungnya bagiku. Malahan, dengan bercerita seperti ini, dapat mengancam persahabatanku dengan Mbak Miranda."

Vania menatap wajah Ratmi. "Kenapa Tante menceritakan semuanya itu?"

Ratmi yang sempat tertunduk langsung mengangkat wajah dan menatap mata Vania. "Bukankah tadi kamu yang memaksa Tante menceritakan semuanya?"

Vania mengangguk pelan lalu menunduk. Keningnya mengerut amat dalam, sepertinya sedang berusaha memahami dan memaknai apa yang sedang terjadi.

Ratmi tersenyum menatap Vania, lalu berucap, "Setelah kupikirkan lagi, kamu memang berhak mengetahui semua itu. Aku berharap, kebenaran itu bisa membuatmu merasa lebih lega. Kamu dapat menerima kenyataan yang ada. Kamu tidak lagi salah sangka pada Mbak Miranda. Semoga kamu juga bisa membuka pintu maaf untuknya."

Obrolan mereka sore itu hanya sampai di sana. Vania tidak lagi bersuara. Ratmi juga sudah kehabisan cerita. Semua yang harus diketahui Vania, sudah diceritakannya semua.

Langit di ufuk barat mulai memerah ketika mereka berpisah di depan restoran. Ratmi langsung naik mobil suaminya yang datang menjemput. Sementara Vania naik taksi online yang akan mengantarkannya pulang ke rumah.

Sopir taksi ini jauh berbeda dengan sopir bernama Dito tadi. Dia sangat pendiam. Mereka saling berdiam diri sepanjang perjalanan.

Taksi merayap pelan sepanjang jalan. Si sopir memilih berbelok ke gang sempit di sebelah kiri untuk menghindari kemacetan yang mengular panjang di depan mereka. Dia memilih jalan tikus agar lebih cepat sampai ke tujuan.

Di jalanan kecil ini, tatapan Vania terhenti pada satu sosok perempuan yang sedang menggendong karung besar di punggungnya. Awalnya dia tidak begitu menghiraukannya. Namun semakin dekat, wajah perempuan itu makin jelas karena dia sedang berjalan menghadap ke arah matahari sore hari.

Wajah itu sangat mirip dengan Siska, sahabat karibnya yang sudah sebulan lebih tidak datang ke sekolah.

Setelah taksi melewati perempuan itu, Vania baru tersadar. Dia harus memastikan kalau wajah itu benar-benar milik Siska. Langsung dimintanya sopir untuk berhenti.

Mobil berhenti sekitar seratus meter dari tempat perempuan tadi terlihat. Saat Vania keluar, perempuan itu sudah tidak tampak lagi. Dia meminta sopir taksi untuk menunggu sebentar. Lalu dia langsung berlari menuju tempat terakhir kali melihat perempuan pembawa karung itu.

Diedarkannya pandangan ke segala penjuru, tidak ada tanda-tanda samasekali. Perempuan itu benar-benar telah menghilang. Dia kembali melangkahmendekati taksi dengan langkah yang semakin goyah. Mungkin aku mulai berhalusinasi, katanya dalam hati.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar