Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 41. Titik Terang

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 41. Titik Terang
_____________________________________

Semakin lama, perasaan Miranda semakin perih. Hatinya serasa disayat-sayat melihat keadaan Vania yang semakin memprihatinkan. Sepertinya malaikat maut sempat mendatangi gadis itu. Tapi bukan untuk mencabut nyawanya, melainkan mencabut seluruh semangat hidupnya.

Miranda tahu, kehilangan Bunda Karin merupakan penyebab utama kenapa Vania menjadi seperti itu. Namun kejadian itu sudah berlalu berbulan-bulan yang lalu. Firasatnya mengatakan, penyebabnya bukan hanya itu. Ada penyebab lain yang sampai sekarang belum diketahuinya.

Dia sangat yakin, untuk saat ini Vania tidak akan mau memberitahunya atau menceritakan semua permasalahannya. Aura kebencian masih terpancar sangat kuat dari wajah maupun gerak tubuh gadis yang sedang beranjak dewasa itu. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan menyelidikinya lewat orang lain.

Siapa orang lain itu, Miranda masih belum tahu. Tapi dia punya pengalaman yang cukup dalam urusan selidik menyelidik. Dia pernah melakukannya ketika ingin mengetahui latar belakang dan status Robert sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima laki-laki itu beberapa waktu lalu.

Dia cukup berhasil mengetahui secara detail masa lalu mendiang suaminya itu walau tetap tidak mampu menguak rahasia terdalamnya. Tapi setidaknya dia punya pengalaman bagus tentang seluk beluk dan liku-liku dalam menyelidiki sesuatu. Kali ini pengalamannya itu akan digunakan untuk menyelidiki penyebab Vania yang semakin tidak bersemangat.

Miranda baru saja selesai mengurus semua kebutuhan si bayi ketika pengasuhnya datang. Setelah memberi beberapa arahan pada pengasuh itu, dia pamit dan meninggalkan rumah. Dia menelepon Angela untuk meminta izin tidak datang ke kantor hari ini. Dia menyampaikan kalau ada urusan penting di luar kantor yang harus diselesaikan.

Pagi itu Miranda mendatangi sekolah Vania. Dia hendak menanyai wali kelas 10A, kelasnya Vania. Saat ini, dia tidak tahu sama sekali siapa saja yang berhubungan erat dengan Vania. Informasi dari wali kelas itu akan sangat berguna.

Miranda tidak ingin terlihat oleh Vania di sekolah. Berhubung pandemi belum mereda, dia pun dapat menyamarkan diri dengan mengenakan masker, berkacamata hitam, serta memakai topi baseball. Sesampainya di sekolah, dia langsung mendatangi staf administrasi untuk menanyakan nama wali kelas 10A.

"Sumiyati," jawab staf tersebut.

Setelah mendapatkan nama itu, Miranda langsung menuju ruang guru untuk menemui Bu Sumiyati. Beruntung, wali kelas Vania itu sedang berada di kantor ketika dia datang. Karena pertanyaan yang diajukannya agak pribadi, Miranda mengajaknya mengobrol di kantin.

Letak kantin itu agak jauh dari kantor. Setelah berjalan melewati koridor panjang, mereka tiba di sana. Kantin terlihat sepi ketika mereka datang. Mungkin karena sekarang sedang jam pelajaran, tidak terlihat seorang siswa pun makan di sana.

Mereka memilih duduk di meja paling pojok, paling jauh dari meja konter. Seorang pelayan langsung datang menghampiri. Mereka berdua lalu memesan makanan ala kadarnya. Miranda mengamati Bu Sumiyati yang sudah duduk di hadapannya.

Usia Bu Sumiyati mungkin sudah mendekati kepala lima. Entah apakah karena dia menjalani diet ketat atau metode yang lain, yang pasti bentuk tubuhnya tidak seperti kebanyakan guru-guru perempuan di sekolah itu. Berat dan tinggi tubuhnya masih tampak proporsional. Dia juga terlihat penuh semangat dan energik. Aura kasih sayang senantiasa terpancar dari raut wajahnya.

"Saya Miranda, tantenya Vania," kata Miranda memperkenalkan diri.

"Oh, iya. Saya sangat mengenal Vania karena dia sangat menonjol di kelas. Selain baik, dia juga anak yang cerdas," balas wali kelas itu.

"Saya ingin menanyakan beberapa hal tentang Vania, terutama kondisi kesehariannya di kelas dan di sekolah ini." Miranda langsung ke topik pembicaraan.

"Ternyata maksud kita sama. Saya juga ingin menceritakan itu sekaligus bertanya tentang itu. Vania sudah beberapa minggu terlihat lesu dan tidak bersemangat. Beberapa guru juga sering mengeluhkan itu. Kata mereka gadis itu sering melamun, tatapannya kosong, dan tidak memperhatikan pelajaran sama sekali. Sosok Vania yang cerdas dan energik tiba-tiba menghilang dari kelas. Bukan menghilang dalam arti sebenarnya. Tubuhnya tetap ada di dalam kelas. Tapi jiwanya sepertinya mengembara entah ke mana." Sumiyati bercerita tanpa jeda dengan begitu menggebu-gebu.

"Di rumah dia juga seperti itu. Kalau di sekolah, kira-kira ibu tahu penyebabnya apa?" tanya Miranda mulai antusias.

Sumiyati tampak berpikir, mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukannya terhadap Vania.

"Saya pernah mengajaknya berbicara, tapi dia tidak mau bercerita. Dia hanya menyimak perkataan dan nasehat saya, tanpa menimpali atau membalas sama sekali."

"Kira-kira siapa yang harus saya tanyai untuk tahu lebih dalam tentang apa yang sedang dialaminya?" tanya Miranda lagi.

Bu Sumiyati tampak kembali berpikir. Kali ini lebih lama.

"Coba hubungi guru bimbingan konseling. Saya pernah meminta Vania menghadap guru itu. Biasanya guru konseling tahu cara membuat siswa bicara," jawabnya.

Makanan datang. Mereka langsung menyantap makanan masing-masing. Setelah itu, Miranda berpamitan dengan Bu Sumiyati. Dia pun beranjak dari kursi. Dia mampir ke meja kasir untuk membayar makanan, sebelum menuju ruang BK.

Rupanya guru BK yang hanya satu-satunya di sekolah itu sedang melayani konsultasi seorang siswa ketika Miranda datang ke ruangannya. Terpaksa dia menunggu dengan duduk di kursi panjang yang menyandar ke tembok tepat di depan ruangan BK.

Setelah siswa tadi selesai berkonsultasi, Miranda langsung berdiri dan berjalan menuju pintu ruang BK.

"Permisi! Boleh saya masuk?" katanya pada guru BK yang sedang duduk anggun di kursinya.

Guru itu langsung mengangkat wajahnya yang tadi sempat menunduk membaca buku.

"Iya. Silakan!" jawabnya dengan ramah sambil tersenyum manis dan tampak tulus.

Guru BK itu berdiri menyambut Miranda. Dari tampilannya, tampaknya dia berumur awal tiga puluhan. Perawakannya enak dilihat. Tubuhnya langsing. Wajahnya manis. Kulitnya kuning langsat. Pakaiannya pun tampak modis sesuai dengan tren pakaian kantor zaman sekarang. Pembawaannya pun supel, ramah, dan sopan.

"Saya Miranda, tantenya Vania, siswa kelas 10A," kata Miranda langsung memperkenalkan diri setelah duduk di kursi tepat di depan meja si guru BK.

"Saya Evelyn, guru BK di sekolah ini," balasnya sambil tetap tersenyum ramah.

"Ibu mungkin sudah tahu tentang Vania Asmawinata?" tanya Miranda memastikan.

"Iya. Saya mengenalnya. Seingat saya, sudah dua kali saya berbicara dengannya dalam sebulan ini. Tapi sayangnya dia tidak datang pada jadwal konsultasi ketiga kemarin," jawab Evelyn tenang. Keningnya sempat berkerut sejenak sebelum kembali tersenyum.

"Bagaimana hasilnya?" desak Miranda penasaran.

Evelyn tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Saya belum berhasil menggali lebih dalam tentang penyebab dia bersikap seperti itu. Saya belum tahu persis kenapa dia bisa kehilangan semangat secara mendadak. Saya hanya tahu kalau ibu sambungnya meninggal. Tapi biasanya dampaknya tidak berlarut-larut seperti ini. Sayangnya, saya belum mendapatkan informasi lain. Sampai sekarang, dia belum mau bercerita. Maaf, ya, Bu."

"Oh, begitu. Iya tidak apa-apa," timpal Miranda dengan raut wajah kecewa.

"Tapi saya punya sedikit informasi lainnya. Semenjak wali kelas meminta saya membantu Vania, saya mulai mengamati perilakunya dan juga bertanya pada beberapa teman sekelasnya. Setahu saya, dia memiliki satu teman akrab bernama Siska. Coba ibu bertanya langsung pada Siska. Siapa tahu Vania sempat menceritakan masalahnya atau kegundahan hatinya pada sahabatnya itu," saran Evelyn pada Miranda.

"Nah, benar itu. Saya akan mencobanya." Miranda tampak kembali antusias.

"Siska itu teman sekelasnya, bukan?" tanyanya.

Evelyn mengangguk sambil tersenyum.

Miranda berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Evelyn.

Dia kembali menemui Bu Sumiyati di ruang guru untuk bertanya tentang Siska. Sayangnya jawaban wali kelas itu membuatnya harus gigit jari.

"Siska sudah sebulan tidak datang ke sekolah tanpa keterangan. Nomor kontak pribadi untuk menghubunginya maupun keluarganya juga sudah tidak aktif. Semua siswa di kelas termasuk Vania tidak tahu di mana rumahnya," jawab Bu Sumiyati.

Karena tidak mendapat informasi lagi tentang Siska, Miranda pun berpamitan pada Bu Sumiyati. Sambil berjalan menuju gerbang sekolah, dia mulai memikirkan sosok Siska. Dia merasa kalau Siska cukup berharga untuk ditanyai.

Beberapa hari kemudian Miranda datang lagi ke sekolah untuk mulai menyelidiki beberapa teman sekelas Vania. Secara diam-diam dia mulai mencari tahu tentang Siska. Hampir semuanya mengatakan kalau Siska merupakan satu-satunya teman akrab Vania di kelas bahkan di sekolah ini. Mereka sama-sama mengaku sering melihat Vania mengobrol akrab dengan Siska di belakang kelas. Biasanya Vania terlihat lebih bersemangat setiap kali selesai mengobrol dengan Siska di sana. Mungkin saja ketidakhadiran Siska ke sekolah selama sebulan ini menjadi penyebab lain kenapa Vania kembali tidak bersemangat.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar