Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 42. Detektif Beruntung

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 42. Detektif Beruntung
_______________________________________

Berbekal foto hitam putih yang diberikan Bu Sumiyati, Miranda mulai menyelidiki keberadaan Siska. Pertama-tama dia menunjukkan foto itu pada setiap orang yang berada di sekitar sekolah. Karena semua orang menggeleng, dia melanjutkan dengan mendatangi beberapa rumah yang berada dalam radius seratus meter dari sekolah sambil memperlihatkan foto itu. Hasilnya sama saja. Tidak satu pun orang yang mengenali perempuan di foto itu. Artinya Siska bukan warga sekitar sekolah.

Miranda sempat juga memeriksa media sosial atas nama Siska, namun tidak satu pun foto profil yang dipajang di akun-akun media sosial itu mirip dengan foto di tangannya. Dia juga sempat memeriksa media sosial Vania untuk mengecek temannya yang bernama Siska. Hasilnya nihil. Tidak ada satu pun teman di akun-akun media sosial Vania bernama Siska. Itu sangat aneh. Di zaman yang sudah dikuasai media sosial, ternyata Siska tidak memiliki akun media sosial.

Apa jangan-jangan dia menggunakan nama yang berbeda di akun media sosialnya, seperti nama gaul, nama alias, atau nama-nama lainnya, pikir Miranda. Tapi akan memakan banyak waktu memeriksa nama yang tidak jelas seperti itu.

Miranda sempat mendapat informasi kalau Siska sering turun dari angkot warna biru. Dia pun menindaklanjuti informasi itu. Sepulang dari kantor, dia tidak langsung menuju ke rumah Arvin seperti biasanya, melainkan mampir sebentar di depan sekolah Vania, lalu menunjukkan foto Siska kepada para sopir angkot warna biru. Beberapa orang sopir mengenali wajah itu karena gadis di foto itu memang sering naik angkotnya. Tapi si sopir tidak mampu mengingat secara persis di mana anak itu turun ketika pulang sekolah.

Angkot warna biru itu nongkrong dan lewat di depan sekolah hanya saat jam pulang sekolah. Setelah suasana di depan gerbang sekolah mulai sepi, tidak terlihat lagi angkot berlalu lalang. Miranda pun terlihat kecewa.

Dia memilih duduk di bangku halte tepat di seberang gerbang sekolah. Tiba-tiba lewat seorang pemulung di hadapannya sambil mengais-ngais sampah di bawah tempat duduknya.

Dilihat dari perawakan dan wajahnya, pemulung itu berumur belasan tahun. Secara iseng, Miranda pun menunjukkan foto Siska pada pemulung itu sambil bertanya,

“Kira-kira kamu kenal tidak dengan cewek ini?”

Si pemulung menghentikan aktivitasnya, memperhatikan foto itu dengan seksama, lalu mengangguk mantap.

“Iya. Saya kenal. Namanya Siska. Kenapa Mbak mencari dia?” tanyanya balik.

Raut wajah Miranda langsung berubah drastis. Dia tampak kembali bersemangat.

“Kamu kenal dia di mana?” tanyanya antusias.

“Dia tinggal dekat tempat tinggalku?” jawab si pemulung mantap.

“Di mana itu?” selidik Miranda lagi.

“Di bawah fly over di sebelah sana,” kata si pemulung sambil menunjuk ke arah tenggara. “Dia juga tinggal di sana,” katanya melanjutkan dengan ekspresi serius dan penuh percaya diri. Itu artinya dia memang berkata jujur.

“Berapa penghasilanmu dari memungut sampah setiap hari?” tanya Miranda mengganti topik pembicaraan.

“Tidak menentu, Mbak. Kadang sampai dua puluh ribu. Kadang kalau sedang apes hanya lima ribu rupiah. Bahkan pernah juga hanya dapat dua ribu, Cuma cukup beli kopi segelas,” jawab si pemulung polos sambil tertawa kecil seolah-olah tidak merasakan penderitaan apa-apa.

“Bagaimana kalau kamu saya beri uang dua ratus ribu? Syaratnya, kamu antarkan saya ke tempat tinggal Siska,” kata Miranda sambil mengibaskan foto Siska di depan wajah si pemulung.

Si pemulung tampak kaget. Ekspresinya yang tadi sempat terlihat murung langsung berubah drastis. Matanya langsung berbinar-binar. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengangguk, menerima tawaran itu.

Miranda langsung mengeluarkan uang dua lembar seratus ribu dari tasnya dan diserahkannya pada pemulung itu. Dia tidak peduli dengan kondisi tubuh dan pakaian si pemulung. Dibukanya pintu bagasi belakang dan meminta si pemulung memasukkan karung yang dibawanya ke sana. Lalu dia membuka pintu belakang mobil dan mempersilahkan si pemulung masuk dan duduk di jok belakang. Setelah itu dia memutar lewat belakang dan membuka pintu depan sebelah kanan lalu duduk di belakang kemudi.

Mobil itu meluncur ke arah yang disebut si pemulung. Sambil menyetir, Miranda sempat menelepon ke telepon rumah Arvin. Dia memberitahu babysitter kalau dia telat datang ke sana. Dia juga berpesan agar jangan dulu pulang sampai dia tiba. Si babysitter hanya menjawab iya, karena memang tidak punya pilihan jawaban lain.

“Siapa namamu?” tanya Miranda pada si pemulung sambil tetap fokus melihat ke depan.

“Rodi, mbak,” jawab pemulung itu.

“Berapa umurmu?” tanya Miranda lagi.

“Lima belas tahun, Mbak,” balasnya polos.

Miranda tampak kaget. Kalau sekolah, Rodi berarti baru kelas tiga SMP. “Kamu tidak sekolah?” tanyanya heran.

“Sudah lama tidak sekolah, Mbak. Sejak berhenti di kelas lima SD.”

“Kenapa kamu berhenti?”

Rodi menatap Miranda dari kaca spion kabin.

“Tidak punya uang untuk membeli seragam sekolah dan sepatu, Mbak,” jawabnya sambil masih saja tertawa-tawa kecil.

“Orang tuamu kerja apa?” Miranda makin penasaran.

“Ayah meninggal pas aku kelas lima. Sementara ibu meninggal jauh lebih lama, sewaktu aku masih bayi. Wajahnya pun aku tidak ingat. Fotonya juga tidak ada.” Tampak mata Rodi berkaca-kaca ketika menceritakan ibunya. Tampak terbersit kerinduan di tatapan matanya itu.

“Oh. Kamu tidak punya saudara?” Miranda kembali bertanya tanpa melepas pandangan ke jalanan macet di depannya.

“Ada, Mbak. Satu orang. Kakak perempuan. Tapi sudah menikah dan ikut suaminya entah ke mana. Sampai sekarang aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Sepertinya dia juga tidak berusaha mencariku.”

“Ooh.”

Hati Miranda mulai terasa perih mendengar cerita Rodi barusan. Ternyata penderitaannya selama ini tidaklah sepahit penderitaan laki-laki itu. Dia masih punya ayah yang kaya raya. Sementara Rodi harus membanting tulang setiap hari hanya untuk bertahan hidup.

“Sudah berapa lama kamu jadi pemulung?” tanya Miranda lagi dengar suara bergetar. Rasanya matanya mulai berair.

“Sejak ayah meninggal, Mbak.” Rodi masih menjawab santai seperti tidak ada beban.

“Oh.” Kali ini suara Miranda tercekat.

Miranda melambatkan mobilnya karena flyover yang dimaksudkan Rodi tadi sudah terlihat di depan mereka.

Flyover itu, bukan?” tanyanya untuk memastikan.

“Iya. Benar, Mbak,” balas Rodi dengan suara lantang.

Rupanya ada lapangan kecil di bawah flyover itu, tepat di dekat bak sampah besar. Lapangan kecil itu merupakan tempat truk sampah parkir untuk mengangkut bak sampah besar itu.

Miranda memarkirkan mobilnya di sana.

Di kursi belakang Rodi tampak kebingungan karena tidak tahu cara membuka pintu. Terpaksa Miranda membukakan dari luar.

“Di mana tempat tinggalnya,” tanya Miranda kepada Rodi yang baru saja mengeluarkan karungnya dari dalam bagasi.

“Itu,” kata Rodi menunjuk kotak berukuran satu kali dua meter yang terbuat dari kardus.

Miranda mengernyitkan dahi. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Ada beberapa kotak kardus seperti itu di bawah flyover ini.

Miranda melangkah menuju rumah kardus yang ditunjukkan Rodi. Tepat ketika dia sampai di depan kotak itu, seorang perempuan keluar. Miranda mengamati wajahnya. Walaupun wajah itu terlihat kumal dan rambutnya awut-awutan, wajah itu tetap dapat dikenalinya, persis sama dengan wajah di foto hitam putih di kantong celananya.

“Kamu Siska, bukan?” tanya Miranda.

Perempuan itu tampak sangat kaget. Dia tidak pernah menyangka bakal ada wanita cantik berpakaian rapi dan bersih tiba-tiba mencarinya seperti ini. Tanpa berprasangka apa-apa, dia mengangguk.

“Syukurlah,” kata Miranda lega. Raut wajahnya terlihat sangat senang karena akhirnya berhasil menemukan Siska.

Miranda mengajak Siska mengobrol di dalam mobilnya, namun Siska menolak. Mungkin dia mengira Miranda mau menculiknya. Akhirnya dia bersedia mengobrol di bangku semen dekat jalan raya.

Setelah dibujuk dengan berbagai cara, akhirnya Siska mau menceritakan masalah yang dihadapinya.

“Ibu dan bapak baru saja meninggal secara mendadak sebulan lalu karena virus mematikan yang sedang mewabah saat ini. Kami yang ditinggalkan lima orang, aku, satu kakak perempuanku, dua orang adik perempuanku, dan seorang adik laki-laki. Saat ini kakakku sedang menulis skripsi dan menumpang di tempat kos temannya. Mungkin semester depan dia tamat kuliah. Sementara ketiga adikku masih SD semua.”

Miranda tampak berkaca-kaca mendengarkan cerita itu. Dia teringat dengan perjalanan hidupnya sendiri. Rupanya itu belum seberapa. Perjalanan hidup Siska jauh lebih tragis dibandingkan hidupnya. Dia pun mengucap rasa syukur berkali-kali atas anugerah yang masih dimilikinya saat ini, terutama seorang ayah yang sangat peduli dan penuh kasih sayang.

“Aku sempat dijodohkan oleh ibu dan bapak. Kami rencananya akan menikah ketika nanti aku naik kelas dua. Bapak merasa sudah tidak sanggup lagi membiayai sekolah kami karena beliau dan ibu mulai sakit-sakitan. Aku pun menyukai calon suamiku itu. Kami sudah kenal lama dan berteman sejak kecil. Pekerjaannya memang masih serabutan tapi dia sangat baik, bertanggung jawab, dan banyak membantu keuangan keluarga kami. Sayangnya rencana itu pun pupus. Calon suamiku meninggal juga akibat virus yang sama dengan yang menyerang ibu dan bapak,” lanjut Siska.

Siska terlihat menunduk dan meneteskan air mata ketika hendak melanjutkan.

“Aku sudah hampir sebulan tidak sekolah karena harus bekerja. Aku ingin membantu membiayai kuliah kakakku yang sebentar lagi tamat. Menurut pemikiranku, berhenti sekolah di SMA, apalagi masih kelas satu, tidak terlalu merugikan dibandingkan dengan berhenti ketika hampir tamat kuliah. Daripada kakakku yang berhenti kuliah untuk bekerja, lebih baik aku saja yang berhenti. Aku memilih jadi pemulung karena diajari Rodi. Rasanya pekerjaan inilah yang bisa kukerjakan saat ini.”

Miranda menyimak dengan khidmat sambil terisak-isak.

Siska nyerocos saja bercerita seperti tak ada beban tanpa memperhatikan Miranda di sampingnya.

“Sebelumnya kami masih tinggal di kontrakan. Namun karena tidak mampu lagi membayar uang kontrakan, dan pemilik kontrakan tidak yakin kami bisa membayar kontrakan untuk bulan-bulan berikutnya, kami pun diusir. Akhirnya kami keluar dari kontrakan dua minggu yang lalu dan menemukan tempat di bawah flyover ini. Aku kenal dengan Rodi karena dulu dia sering lewat di depan kontrakan. Berkat Rodi pula kami bisa tinggal sementara di sini. Tempat tinggal dari kardus itu juga dibuatkan oleh Rodi.”

Siska tidak memiliki nomor ponsel ketika Miranda menanyakannya. Terpaksa Miranda berpesan agar Siska jangan dulu pindah ke mana-mana. Beberapa hari lagi dia akan kembali ke sini. Dia tidak bisa berlama-lama di sini karena ada bayi yang harus diurusnya di rumah.

Siska mengangguk mengiyakan. Tapi dia tidak bisa menjamin kalau dia masih tetap berada di sini atau tidak kalau misalnya nanti Miranda benar-benar datang kembali. Beberapa minggu ini, dia sudah tidak bisa menebak apa yang akan dihadapinya ke depan. Termasuk esok hari.

Miranda mengangguk, berpamitan sambil meneteskan air mata, lalu memutar badan dan berjalan ke arah mobilnya. Dia masuk ke belakang kemudi dan menjalankan mobil itu pelan, meninggalkan rumah-rumah kardus di bawah flyover.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar