Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Setelah memastikan semua belanjaannya tadi masuk bagasi,
Miranda pun melajukan mobilnya ke arah yang berbeda dari biasanya. Setelah
melewati kemacetan panjang, akhirnya dia tiba di tujuannya. Dia melambatkan
mobil di dekat flyover, tempat dia
bertemu dengan Siska tiga hari yang lalu. Rupanya dia memenuhi janjinya pada
perempuan itu untuk kembali datang.
Saat dia memarkirkan mobil di dekat bak sampah besar, Rodi
langsung muncul menghampiri. Miranda langsung meminta laki-laki itu untuk
mengeluarkan semua belanjaan di bagasi. Tanpa banyak berpikir Rodi langsung
beraksi. Dengan gesit dia langsung menuju bagasi yang sudah terbuka. Dengan
raut wajah riang dikeluarkannya semua plastik belanjaan bergambar dan
bertuliskan sebuah minimarket yang menjamur di penjuru kota.
“Diletakkan di mana,
Mbak?” tanya Rodi bingung menatap semua kantong plastik yang menumpuk di dekat
kakinya.
“Oh, iya, ya. Di mana, ya,” balas Miranda juga terlihat
bingung.
Dilihatnya rumah kardus Rodi dan Siska secara bergantian.
Ukurannya hampir sama besarnya. Bedanya, Rodi tinggal sendirian. Senentara
Siska tinggal berempat. Otomatis tempat Rodi lebih luas. “Bawa saja ke
rumahmu,” katanya pada Rodi.
Beberapa saat kemudian Siska juga muncul. Dia langsung
menghampiri Miranda yang berdiri di sebelah kanan mobil. Disalaminya wanita itu
sambil menunduk. Mereka saling bertanya kabar. Setelah itu dia menghampiri Rodi
yang bersiap mengangkat kantong-kantong plastik itu.
Setelah meletakkan dua buah kantong besar tepat di depan
pintu masuk rumah kardusnya, Rodi masuk dan keluar lagi sambil membawa kardus
lain. Dibentangkannya kardus itu di depan pintu masuk rumah kardusnya.
“Mbak mau duduk di sini?” tanyanya sopan.
Miranda tersenyum lalu mengangguk. Tanpa sungkan, dia pun
duduk di atas kardus itu dengan kedua kaki dilipat ke samping.
“Terima kasih, ya,” katanya pada Rodi.
“Sama-sama, Mbak,” balas Rodi.
Rodi meninggalkan Miranda, lalu kembali mengangkut kantong
plastik yang masih disisakan Siska. Rupanya kantong itu paling berat. Diangkat
dan dipindahkannya kantong itu dengan wajah ceria lalu digabungkannya dengan
kantong yang lain yang sudah menumpuk di dekat rumah kardusnya.
Setelah meletakkan kantong itu, dia langsung mengangkat
kedua tangan tinggi-tinggi sambil tertawa ceria. Siska pun menampakkan ekspresi
yang sama. Sementara Miranda mengamati keduanya dengan senyuman indah. Dia
merasa tertular kebahagiaan sederhana kedua remaja itu.
“Ini apa, Mbak? Banyak banget,” tanya Rodi penuh rasa ingin
tahu sambil menunjuk tumpukan kantong plastik di depan dia duduk.
“Itu oleh-oleh untuk kalian,” jawab Miranda sambil tetap
tersenyum.
“Benaran, Mbak?!” tanya Rodi dan Siska berbarengan hampir
seperti berteriak.
Miranda mengangguk. “Coba dibuka.”
Mereka berdua langsung sibuk membongkar isi kantong plastik
itu dan meletakkannya di atas kardus di sebelah Miranda duduk. Di salah satu
kantong terdapat berbagai macam makanan kemasan. Ada makanan ringan untuk
cemilan seperti cracker berlapis cokelat, keripik kentang, wafer, serta roti
kelapa. Di kantong lainnya terdapat makanan kalengan seperti ikan kalengan dan
kornet.
“Mbak kurang tahu kalian sukanya apa. Jadi Mbak beli saja
macam-macam seperti itu,” kata Miranda sambil terus mengamati tingkah Rodi dan
Siska yang membongkar kantong itu seperti kesetanan.
Mereka berdua tertawa-tawa riang.
“Kami suka semua ini, Mbak. Iya, kan, Siska?” tanya Rodi
pada Siska yang masih membongkar isi kantong kelima. Dia senyum-senyum sendiri
melihat makanan sebanyak itu.
Miranda mengedarkan pandangan sambil menunjuk rumah-rumah
kardus itu satu per satu.
“Ada tujuh rumah kardus di sini. Jumlah orangnya berapa,
ya?” tanyanya pada Rodi.
“Lima belas orang, Mbak,” jawab Rodi tanpa menoleh.
Dia masih sibuk mengecek isi kantong yang keenam. Rupanya
isinya bahan-bahan untuk mencuci dan mandi, seperti deterjen, pengharum
pakaian, sabun cair, sampo, pasta gigi, dan sikat gigi.
“Waah! Waktu belanja tadi, Mbak tidak terpikir kalau orang
di sini sebanyak itu. Kalian bagi saja, ya. Tidak harus sama banyak. Yang
penting setiap orang mencicipi,” kata Miranda menanggapi Rodi.
“Siap, Mbak!” balas Rodi mantap seperti komandan upacara
saja sore itu.
“Orangnya ada semua?” tanya Miranda lagi.
“Tidak, Mbak. Sebagian masih menjelajah mencari sesuap nasi
dan sebongkah berlian, Mbak.” Rodi kembali menjawab sambil senyum-senyum.
Miranda ikut tersenyum mendengar ucapan Rodi barusan.
Sementara Siska masih belum bersuara. Tapi senyum indah
tetap mengembang di bibirnya.
Rodi dan Siska kemudian sibuk membagi-bagi semua belanjaan
itu dengan mengelompokkan dan menumpuknya di atas kardus yang baru saja
dibentangkan Rodi. Ada tujuh tumpukan sesuai dengan jumlah rumah kardus di
situ. Setiap tumpukan berisi semua jenis barang yang ada di situ. Ada makanan
ringan, minuman botol, makanan kaleng, bahan pencuci baju, serta bahan
pembersih untuk mandi. Setelah dirasa pas, Rodi meminta tanggapan Miranda,
“Bagaimana kalau seperti ini, Mbak?”
Miranda mengangguk.
“Rasanya sudah pas itu,” katanya setuju.
Rodi dan Siska pun memasukkan satu tumpukan ke satu kantong
plastik. Jadi dibutuhkan tujuh kantong plastik. Rodi mengambil satu kantong
tambahan dari dalam rumah kardusnya agar mampu menampung ketujuh tumpukan itu.
setelah semuanya masuk kantong, mereka langsung membagikan lima kantong ke
setiap rumah kardus. Dua kantong sisanya untuk mereka berdua.
Sebagian rumah kardus itu tidak ada orang di dalamnya. Rodi
meletakkan saja kantong itu di dalamnya. Sementara untuk rumah kardus yang ada
orangnya, Rodi langsung menyerahkannya pada orang tersebut. Terlihat tawa ceria
di wajah orang itu. Matanya pun berkaca-kaca. Dia pun tidak lupa berterima
kasih dan menjabat tangan Rodi dengan sangat erat.
Setelah selesai membagikan kelima kantong itu, Rodi dan
Siska kembali mendekati Miranda dan duduk di samping kiri dan kanannya.
Rodi membuka sebungkus wafer. Sambil mengunyah dan
tertawa-tawa ceria dia pun bercerita.
“Kami sebenarnya tidak bisa lama tinggal di sini, Mbak.
Sebulan sekali Satpol PP datang ke sini melakukan penertiban. Sebelum mereka
datang, kami harus sudah membongkar rumah kardus itu lalu pindah ke tempat lain
atau bersembunyi sementara waktu. Setelah Satpol PP menghilang, atau tidak lagi
melakukan patroli. Kami kembali lagi ke sini. Kadang-kadang sebagian malah
benar-benar pindah ke tempat lain.”
Siska tampak bengong mendengar penuturan Rodi barusan.
Wajahnya langsung pucat pasi. Dia baru tahu sekarang tentang fakta itu.
Dipikirnya dia dapat tinggal dengan tenang dan aman di sini. Dia belum pernah
merasakan diusir Satpol PP atau mengungsi ke tempat lain karena baru pindah ke
sini dua minggu yang lalu. Selama dua minggu ini, belum ada tanda-tanda
kedatangan Satpol PP.
Rodi seperti melihat kegelisahan Siska. Dia pun menatap
gadis itu sambil berucap,
“Kamu tenang saja. Kami di sini sudah punya mata-mata yang
tugasnya menyelidiki kapan Satpol PP datang. Sebelum mereka mengobrak-abrikkan
rumah kita, kita sudah pindah duluan. Rumah-rumah kardus itu termasuk rumahmu
dirancang untuk bisa dilipat dengan cepat. Kurang dari lima menit selesai.
Setelah itu bisa dibawa ke mana-mana dengan mudah. Paling-paling, kau harus
menaruh barang atau pakaian di dalam tas atau kantong yang kuat. Kalau misalnya
harus pindah, bisa lebih cepat membereskan dan mengangkutnya.”
Siska tampak sedikit lega mendengar itu. Dia kembali
tersenyum.
Sementara Miranda hanya menyimak. Diam-diam dia merasakan
hatinya kembali teriris-iris mengetahui perjuangan para penghuni rumah kardus
di bawah jembatan layang ini. Namun dia tetap berusaha tersenyum agar tidak
membuat Rodi dan Siska khawatir.
“Kalau kamu sendiri sudah berapa lama tinggal di sini?”
tanya Miranda pada Rodi.
“Aku sudah hampir dua tahun di sini, Mbak. Sebelumnya ikut
berpindah-pindah juga. Entah sudah berapa kali, aku lupa, Mbak,” jawab Rodi
bersemangat.
“Oooh!” balas Miranda memonyongkan mulutnya. “Ternyata kamu
banyak pengalaman juga, ya, hehe,” lanjutnya terkekeh, mencoba menggoda Rodi.
“Kalau pengalaman berpindah-pindah tempat, lumayanlah,
Mbak,” balas Rodi ikut terkekeh.
Setengah jam kemudian Rodi pamit karena ada keperluan di
dekat lampu merah.
Miranda dan Siska mengangguk.
Rodi berdiri dan beranjak pergi.
Sepeninggal Rodi, Miranda dan Siska mulai mengobrol berdua.
Mereka terlihat lebih terbuka dibandingkan tadi. Siska lebih mudah membuka
mulut, tidak seperti tadi yang banyak diam. Sesekali mereka terlihat
tertawa-tawa kecil. Siska rupanya cukup supel dan sering menceritakan hal lucu.
Miranda menyukai ceritanya. Miranda pun makin kagum dengan Siska yang tidak
terlihat menderita atau terbebani dengan masalah berat yang sedang dihadapinya.
Setelah mengobrolkan macam-macam hal, Miranda mulai fokus
pada rencananya.
“Kamu bersahabat baik dengan Vania, bukan?” tanyanya.
Siska mengangguk kecil.
“Vania sering curhat padamu?” tanya Miranda lagi.
Siska lagi-lagi hanya menanggapi dengan anggukan.
“Apa saja yang sering diceritakannya?” lanjut Miranda terus
menyelidik.
Kali ini Siska tidak langsung merespon. Dia butuh berpikir
untuk memanggil kembali ingatannya sekaligus memilih kata-kata yang tepat untuk
menjawab pertanyaan itu.
“Vania paling sering curhat tentang Bima. Katanya dia masih
memikirkan cowok itu. Bahkan katanya, setiap hari, setiap malam, setiap detik,
dan setiap waktu. Aku sempat ingin tertawa ketika dia mengatakan itu. ‘Lebay,’
kataku setiap kali dia membahas Bima. Dia juga mengaku telah mencoba melupakan,
tapi tidak bisa. Dia bahkan sering bercerita kalau dia memimpikannya. ‘Bukan
mimpi yang disengaja,’ katanya. ‘Di mana-mana, mimpi itu tidak disengaja,’
jawabku. Kami kemudian tertawa bersama. Dia juga menceritakan kalau masih
menyesal tidak menjawab pertanyaan Bima sehari sebelum cowok itu hendak pindah
keluar negeri. Dia menyesal tidak mengantarnya ke bandara. Sekarang dia tidak
bisa lagi berkomunikasi dengan Bima. Mungkin Bima marah padanya sehingga
benar-benar menghilang,” ujar Siska panjang lebar. Dia bercerita tanpa jeda
sama sekali.
“Oohhh.” Miranda manggut-manggut.
Benar dugaannya. Kemurungan gadis itu bukan lagi disebabkan
karena meninggalnya Karin, melainkan karena seorang cowok bernama Bima.
Keningnya mulai berkerut.
“Kenapa dia tidak menjawab atau menemui Bima waktu itu?”
tanyanya mulai penasaran.
“Karena hari keberangkatan Bima berbarengan dengan
meninggalnya bunda Karin. Jadi tidak mungkin dia ke bandara menemui Bima,”
jawab Siska tanpa sela.
“Hah!!!” Mata Miranda langsung terbelalak.
Dia tampak benar-benar kaget sampai-sampai kedua tangannya
ditutupkan ke mulut. Jantungnya langsung berdegup kencang dan tidak beraturan.
Napasnya tercekat di tenggorokan. Seluruh tubuhnya langsung memanas seketika.
Dia butuh waktu cukup lama untuk bisa menenangkan diri kembali.
“Kenapa dia tidak mengirim pesan saja pada Bima?” tanyanya
lagi dengan suara yang agak bergetar.
“Vania punya ikrar dengan bunda Karin untuk tidak pacaran
sebelum menikah. Sehari sebelum keberangkatannya, Bima mengungkapkan
perasaannya. Dia pun bertanya apakah Vania memiliki perasaan yang sama. Vania
tidak langsung menjawab. Untuk menjawabnya, dia harus bertanya dan minta izin
dulu pada bunda Karin. Jadi dia belum bisa menjawab pertanyaan itu sebelum
mendapat tanggapan dari bunda Karin. Sayangnya bunda Karin meninggal sebelum
Vania sempat menyampaikan itu.”
Siska bercerita secara detail tanpa jeda. Matanya
berkaca-kaca seperti hendak menangis ketika menceritakan itu. Sepertinya dia
turut merasakan kesedihan dan kepedihan Vania.
“Begitu, ya,” kata Miranda menanggapi dengan suara pelan
seperti berbisik. Matanya pun mulai berkaca-kaca.
Kini Miranda mulai tahu alasan kenapa Vania benar-benar
membencinya. Dua orang yang paling berharga dalam hidup gadis itu telah
menghilang di waktu bersamaan. Dan itu semua gara-gara dirinya.
Apakah mungkin Vania
masih menyisahkan ruang maaf untukku? tanyanya dalam hati.
Miranda merasa sudah cukup mengajukan pertanyaan pada Siska
sore itu. Dia pun pamit untuk pulang ke rumah.
Siska mengucapkan terima kasih berkali-kali ketika
mengantarkan Miranda masuk ke mobilnya.
Ketika Miranda membuka jendela kaca mobil untuk melambaikan
tangan, Siska membungkuk dan kembali mengucapkan terima kasih.
Miranda mengangguk sambil tersenyum.
Dia meninggalkan gadis itu dengan perasaan sedikit lega
karena sudah mendapat informasi yang sangat dibutuhkannya. Hanya saja informasi
itu belum menjawab pertanyaan-pertanyaan lain di benaknya. Salah satunya, siapa Bima
sebenarnya sehingga telah membuat Vania sampai kehilangan semangat hidup
seperti itu? Apa yang harus
dilakukannya agar dapat memeperbaiki hubungan Bima dan Vania?
Miranda tidak langsung pulang ke apartemennya, melainkan menuju ke rumah Arvin. Sesampainya di sana dia masih sempat memasakkan keluarga itu makan malam. Sementara bagian mengurus bayi terpaksa diserahkannya pada pengasuh. Sore ini dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk ikut mengurus dedek bayi.
Bagaimanapun, dia masih menyempatkan diri menjenguk si bayi yang baru saja selesai dimandikan oleh pengasuh. Dia mencium kening si bayi yang sedang dipakaikan baju itu sebelum menuju teras menunggu Arvin pulang. Dia telah memutuskan tidak ikut bergabung makan malam karena merasa sangat lelah sehingga ingin beristirahat lebih cepat. Dia langsung pamit pulang ketika Arvin datang menjelang maghrib.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.