Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 43. Laki-laki Misterius

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 43. Laki-laki Misterius
_______________________________________

Jam dua sore Miranda langsung meninggalkan kantor. Dia tidak langsung mengarahkan mobilnya ke rumah Arvin melainkan ke arah sebaliknya. Dia sempat mampir ke minimarket dan membeli banyak sekali barang, mulai dari makanan hingga sikat gigi. Ada enam kantong plastik jumbo yang mewadahi semua belanjaannya itu. Pelayan minimarket bahkan ikut membantu membawakan belanjaan ke bagasi.

Setelah memastikan semua belanjaannya tadi masuk bagasi, Miranda pun melajukan mobilnya ke arah yang berbeda dari biasanya. Setelah melewati kemacetan panjang, akhirnya dia tiba di tujuannya. Dia melambatkan mobil di dekat flyover, tempat dia bertemu dengan Siska tiga hari yang lalu. Rupanya dia memenuhi janjinya pada perempuan itu untuk kembali datang.

Saat dia memarkirkan mobil di dekat bak sampah besar, Rodi langsung muncul menghampiri. Miranda langsung meminta laki-laki itu untuk mengeluarkan semua belanjaan di bagasi. Tanpa banyak berpikir Rodi langsung beraksi. Dengan gesit dia langsung menuju bagasi yang sudah terbuka. Dengan raut wajah riang dikeluarkannya semua plastik belanjaan bergambar dan bertuliskan sebuah minimarket yang menjamur di penjuru kota.

 “Diletakkan di mana, Mbak?” tanya Rodi bingung menatap semua kantong plastik yang menumpuk di dekat kakinya.

“Oh, iya, ya. Di mana, ya,” balas Miranda juga terlihat bingung.

Dilihatnya rumah kardus Rodi dan Siska secara bergantian. Ukurannya hampir sama besarnya. Bedanya, Rodi tinggal sendirian. Senentara Siska tinggal berempat. Otomatis tempat Rodi lebih luas. “Bawa saja ke rumahmu,” katanya pada Rodi.

Beberapa saat kemudian Siska juga muncul. Dia langsung menghampiri Miranda yang berdiri di sebelah kanan mobil. Disalaminya wanita itu sambil menunduk. Mereka saling bertanya kabar. Setelah itu dia menghampiri Rodi yang bersiap mengangkat kantong-kantong plastik itu.

Setelah meletakkan dua buah kantong besar tepat di depan pintu masuk rumah kardusnya, Rodi masuk dan keluar lagi sambil membawa kardus lain. Dibentangkannya kardus itu di depan pintu masuk rumah kardusnya.

“Mbak mau duduk di sini?” tanyanya sopan.

Miranda tersenyum lalu mengangguk. Tanpa sungkan, dia pun duduk di atas kardus itu dengan kedua kaki dilipat ke samping.

“Terima kasih, ya,” katanya pada Rodi.

“Sama-sama, Mbak,” balas Rodi.

Rodi meninggalkan Miranda, lalu kembali mengangkut kantong plastik yang masih disisakan Siska. Rupanya kantong itu paling berat. Diangkat dan dipindahkannya kantong itu dengan wajah ceria lalu digabungkannya dengan kantong yang lain yang sudah menumpuk di dekat rumah kardusnya.

Setelah meletakkan kantong itu, dia langsung mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sambil tertawa ceria. Siska pun menampakkan ekspresi yang sama. Sementara Miranda mengamati keduanya dengan senyuman indah. Dia merasa tertular kebahagiaan sederhana kedua remaja itu.

“Ini apa, Mbak? Banyak banget,” tanya Rodi penuh rasa ingin tahu sambil menunjuk tumpukan kantong plastik di depan dia duduk.

“Itu oleh-oleh untuk kalian,” jawab Miranda sambil tetap tersenyum.

“Benaran, Mbak?!” tanya Rodi dan Siska berbarengan hampir seperti berteriak.

Miranda mengangguk. “Coba dibuka.”

Mereka berdua langsung sibuk membongkar isi kantong plastik itu dan meletakkannya di atas kardus di sebelah Miranda duduk. Di salah satu kantong terdapat berbagai macam makanan kemasan. Ada makanan ringan untuk cemilan seperti cracker berlapis cokelat, keripik kentang, wafer, serta roti kelapa. Di kantong lainnya terdapat makanan kalengan seperti ikan kalengan dan kornet.

“Mbak kurang tahu kalian sukanya apa. Jadi Mbak beli saja macam-macam seperti itu,” kata Miranda sambil terus mengamati tingkah Rodi dan Siska yang membongkar kantong itu seperti kesetanan.

Mereka berdua tertawa-tawa riang.

“Kami suka semua ini, Mbak. Iya, kan, Siska?” tanya Rodi pada Siska yang masih membongkar isi kantong kelima. Dia senyum-senyum sendiri melihat makanan sebanyak itu.

Miranda mengedarkan pandangan sambil menunjuk rumah-rumah kardus itu satu per satu.

“Ada tujuh rumah kardus di sini. Jumlah orangnya berapa, ya?” tanyanya pada Rodi.

“Lima belas orang, Mbak,” jawab Rodi tanpa menoleh.

Dia masih sibuk mengecek isi kantong yang keenam. Rupanya isinya bahan-bahan untuk mencuci dan mandi, seperti deterjen, pengharum pakaian, sabun cair, sampo, pasta gigi, dan sikat gigi.

“Waah! Waktu belanja tadi, Mbak tidak terpikir kalau orang di sini sebanyak itu. Kalian bagi saja, ya. Tidak harus sama banyak. Yang penting setiap orang mencicipi,” kata Miranda menanggapi Rodi.

“Siap, Mbak!” balas Rodi mantap seperti komandan upacara saja sore itu.

“Orangnya ada semua?” tanya Miranda lagi.

“Tidak, Mbak. Sebagian masih menjelajah mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian, Mbak.” Rodi kembali menjawab sambil senyum-senyum.

Miranda ikut tersenyum mendengar ucapan Rodi barusan.

Sementara Siska masih belum bersuara. Tapi senyum indah tetap mengembang di bibirnya.

Rodi dan Siska kemudian sibuk membagi-bagi semua belanjaan itu dengan mengelompokkan dan menumpuknya di atas kardus yang baru saja dibentangkan Rodi. Ada tujuh tumpukan sesuai dengan jumlah rumah kardus di situ. Setiap tumpukan berisi semua jenis barang yang ada di situ. Ada makanan ringan, minuman botol, makanan kaleng, bahan pencuci baju, serta bahan pembersih untuk mandi. Setelah dirasa pas, Rodi meminta tanggapan Miranda,

“Bagaimana kalau seperti ini, Mbak?”

Miranda mengangguk.

“Rasanya sudah pas itu,” katanya setuju.

Rodi dan Siska pun memasukkan satu tumpukan ke satu kantong plastik. Jadi dibutuhkan tujuh kantong plastik. Rodi mengambil satu kantong tambahan dari dalam rumah kardusnya agar mampu menampung ketujuh tumpukan itu. setelah semuanya masuk kantong, mereka langsung membagikan lima kantong ke setiap rumah kardus. Dua kantong sisanya untuk mereka berdua.

Sebagian rumah kardus itu tidak ada orang di dalamnya. Rodi meletakkan saja kantong itu di dalamnya. Sementara untuk rumah kardus yang ada orangnya, Rodi langsung menyerahkannya pada orang tersebut. Terlihat tawa ceria di wajah orang itu. Matanya pun berkaca-kaca. Dia pun tidak lupa berterima kasih dan menjabat tangan Rodi dengan sangat erat.

Setelah selesai membagikan kelima kantong itu, Rodi dan Siska kembali mendekati Miranda dan duduk di samping kiri dan kanannya.

Rodi membuka sebungkus wafer. Sambil mengunyah dan tertawa-tawa ceria dia pun bercerita.

“Kami sebenarnya tidak bisa lama tinggal di sini, Mbak. Sebulan sekali Satpol PP datang ke sini melakukan penertiban. Sebelum mereka datang, kami harus sudah membongkar rumah kardus itu lalu pindah ke tempat lain atau bersembunyi sementara waktu. Setelah Satpol PP menghilang, atau tidak lagi melakukan patroli. Kami kembali lagi ke sini. Kadang-kadang sebagian malah benar-benar pindah ke tempat lain.”

Siska tampak bengong mendengar penuturan Rodi barusan. Wajahnya langsung pucat pasi. Dia baru tahu sekarang tentang fakta itu. Dipikirnya dia dapat tinggal dengan tenang dan aman di sini. Dia belum pernah merasakan diusir Satpol PP atau mengungsi ke tempat lain karena baru pindah ke sini dua minggu yang lalu. Selama dua minggu ini, belum ada tanda-tanda kedatangan Satpol PP.

Rodi seperti melihat kegelisahan Siska. Dia pun menatap gadis itu sambil berucap,

“Kamu tenang saja. Kami di sini sudah punya mata-mata yang tugasnya menyelidiki kapan Satpol PP datang. Sebelum mereka mengobrak-abrikkan rumah kita, kita sudah pindah duluan. Rumah-rumah kardus itu termasuk rumahmu dirancang untuk bisa dilipat dengan cepat. Kurang dari lima menit selesai. Setelah itu bisa dibawa ke mana-mana dengan mudah. Paling-paling, kau harus menaruh barang atau pakaian di dalam tas atau kantong yang kuat. Kalau misalnya harus pindah, bisa lebih cepat membereskan dan mengangkutnya.”

Siska tampak sedikit lega mendengar itu. Dia kembali tersenyum.

Sementara Miranda hanya menyimak. Diam-diam dia merasakan hatinya kembali teriris-iris mengetahui perjuangan para penghuni rumah kardus di bawah jembatan layang ini. Namun dia tetap berusaha tersenyum agar tidak membuat Rodi dan Siska khawatir.

“Kalau kamu sendiri sudah berapa lama tinggal di sini?” tanya Miranda pada Rodi.

“Aku sudah hampir dua tahun di sini, Mbak. Sebelumnya ikut berpindah-pindah juga. Entah sudah berapa kali, aku lupa, Mbak,” jawab Rodi bersemangat.

“Oooh!” balas Miranda memonyongkan mulutnya. “Ternyata kamu banyak pengalaman juga, ya, hehe,” lanjutnya terkekeh, mencoba menggoda Rodi.

“Kalau pengalaman berpindah-pindah tempat, lumayanlah, Mbak,” balas Rodi ikut terkekeh.

Setengah jam kemudian Rodi pamit karena ada keperluan di dekat lampu merah.

Miranda dan Siska mengangguk.

Rodi berdiri dan beranjak pergi.

Sepeninggal Rodi, Miranda dan Siska mulai mengobrol berdua. Mereka terlihat lebih terbuka dibandingkan tadi. Siska lebih mudah membuka mulut, tidak seperti tadi yang banyak diam. Sesekali mereka terlihat tertawa-tawa kecil. Siska rupanya cukup supel dan sering menceritakan hal lucu. Miranda menyukai ceritanya. Miranda pun makin kagum dengan Siska yang tidak terlihat menderita atau terbebani dengan masalah berat yang sedang dihadapinya.

Setelah mengobrolkan macam-macam hal, Miranda mulai fokus pada rencananya.

“Kamu bersahabat baik dengan Vania, bukan?” tanyanya.

Siska mengangguk kecil.

“Vania sering curhat padamu?” tanya Miranda lagi.

Siska lagi-lagi hanya menanggapi dengan anggukan.

“Apa saja yang sering diceritakannya?” lanjut Miranda terus menyelidik.

Kali ini Siska tidak langsung merespon. Dia butuh berpikir untuk memanggil kembali ingatannya sekaligus memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.

“Vania paling sering curhat tentang Bima. Katanya dia masih memikirkan cowok itu. Bahkan katanya, setiap hari, setiap malam, setiap detik, dan setiap waktu. Aku sempat ingin tertawa ketika dia mengatakan itu. ‘Lebay,’ kataku setiap kali dia membahas Bima. Dia juga mengaku telah mencoba melupakan, tapi tidak bisa. Dia bahkan sering bercerita kalau dia memimpikannya. ‘Bukan mimpi yang disengaja,’ katanya. ‘Di mana-mana, mimpi itu tidak disengaja,’ jawabku. Kami kemudian tertawa bersama. Dia juga menceritakan kalau masih menyesal tidak menjawab pertanyaan Bima sehari sebelum cowok itu hendak pindah keluar negeri. Dia menyesal tidak mengantarnya ke bandara. Sekarang dia tidak bisa lagi berkomunikasi dengan Bima. Mungkin Bima marah padanya sehingga benar-benar menghilang,” ujar Siska panjang lebar. Dia bercerita tanpa jeda sama sekali.

“Oohhh.” Miranda manggut-manggut.

Benar dugaannya. Kemurungan gadis itu bukan lagi disebabkan karena meninggalnya Karin, melainkan karena seorang cowok bernama Bima. Keningnya mulai berkerut.

“Kenapa dia tidak menjawab atau menemui Bima waktu itu?” tanyanya mulai penasaran.

“Karena hari keberangkatan Bima berbarengan dengan meninggalnya bunda Karin. Jadi tidak mungkin dia ke bandara menemui Bima,” jawab Siska tanpa sela.

“Hah!!!” Mata Miranda langsung terbelalak.

Dia tampak benar-benar kaget sampai-sampai kedua tangannya ditutupkan ke mulut. Jantungnya langsung berdegup kencang dan tidak beraturan. Napasnya tercekat di tenggorokan. Seluruh tubuhnya langsung memanas seketika. Dia butuh waktu cukup lama untuk bisa menenangkan diri kembali.

“Kenapa dia tidak mengirim pesan saja pada Bima?” tanyanya lagi dengan suara yang agak bergetar.

“Vania punya ikrar dengan bunda Karin untuk tidak pacaran sebelum menikah. Sehari sebelum keberangkatannya, Bima mengungkapkan perasaannya. Dia pun bertanya apakah Vania memiliki perasaan yang sama. Vania tidak langsung menjawab. Untuk menjawabnya, dia harus bertanya dan minta izin dulu pada bunda Karin. Jadi dia belum bisa menjawab pertanyaan itu sebelum mendapat tanggapan dari bunda Karin. Sayangnya bunda Karin meninggal sebelum Vania sempat menyampaikan itu.”

Siska bercerita secara detail tanpa jeda. Matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis ketika menceritakan itu. Sepertinya dia turut merasakan kesedihan dan kepedihan Vania.

“Begitu, ya,” kata Miranda menanggapi dengan suara pelan seperti berbisik. Matanya pun mulai berkaca-kaca.

Kini Miranda mulai tahu alasan kenapa Vania benar-benar membencinya. Dua orang yang paling berharga dalam hidup gadis itu telah menghilang di waktu bersamaan. Dan itu semua gara-gara dirinya.

Apakah mungkin Vania masih menyisahkan ruang maaf untukku? tanyanya dalam hati.

Miranda merasa sudah cukup mengajukan pertanyaan pada Siska sore itu. Dia pun pamit untuk pulang ke rumah.

Siska mengucapkan terima kasih berkali-kali ketika mengantarkan Miranda masuk ke mobilnya.

Ketika Miranda membuka jendela kaca mobil untuk melambaikan tangan, Siska membungkuk dan kembali mengucapkan terima kasih.

Miranda mengangguk sambil tersenyum.

Dia meninggalkan gadis itu dengan perasaan sedikit lega karena sudah mendapat informasi yang sangat dibutuhkannya. Hanya saja informasi itu belum menjawab pertanyaan-pertanyaan lain di benaknya. Salah satunya, siapa Bima sebenarnya sehingga telah membuat Vania sampai kehilangan semangat hidup seperti itu? Apa yang harus dilakukannya agar dapat memeperbaiki hubungan Bima dan Vania?

Miranda tidak langsung pulang ke apartemennya, melainkan menuju ke rumah Arvin. Sesampainya di sana dia masih sempat memasakkan keluarga itu makan malam. Sementara bagian mengurus bayi terpaksa diserahkannya pada pengasuh. Sore ini dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk ikut mengurus dedek bayi.

Bagaimanapun, dia masih menyempatkan diri menjenguk si bayi yang baru saja selesai dimandikan oleh pengasuh. Dia mencium kening si bayi yang sedang dipakaikan baju itu sebelum menuju teras menunggu Arvin pulang. Dia telah memutuskan tidak ikut bergabung makan malam karena merasa sangat lelah sehingga ingin beristirahat lebih cepat. Dia langsung pamit pulang ketika Arvin datang menjelang maghrib.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar