Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kali ini dia punya agenda
penting yaitu mencari informasi secara detail tentang Bima. Di depan gerbang
sekolah, dia sempat menelepon Angela untuk meminta izin lagi tidak datang ke
kantor hari ini. Kemudian dia langsung melangkahkan kaki menuju ruang guru
untuk menemui Ibu Sumiyati.
Berhubung wali kelas Vania itu
sedang masuk ke kelas, terpaksa dia menunggu. Dia memilih duduk di bangku
panjang yang disandarkan ke dinding di depan ruang guru.
Ibu Sumiyati muncul setengah
jam kemudian. Dia terlihat senang ketika melihat Miranda. Setelah saling
bertanya kabar, Miranda langsung bertanya tentang Bima.
“Apa yang Ibu ketahui tentang
Bima?” tanyanya.
Ibu Sumiyati pun tidak suka
berbelit-belit. Dia juga langsung bercerita tentang Bima.
“Bima sudah pindah sekolah,
ikut orang tuanya yang pindah ke London. Orang tuanya mendapat tugas di sana.”
Karena tidak mampu mengingat
segala hal tentang Bima secara rinci, Ibu Sumiyati pun pamit.
“Sebentar, ya. Biar saya
carikan dokumen tentang Bima di ruang administrasi dulu,” katanya pada Miranda.
Miranda pun mengangguk.
“Maaf kalau merepotkan ya, Bu.
Terima kasih banyak telah berkenan membantu. Saya tunggu di sini,” katanya
menanggapi.
Dengan bergegas Ibu Sumiyati
berjalan menuju ruang administrasi tepat di samping ruang guru.
Beberapa menit kemudian dia
kembali muncul sambil menyerahkan beberapa map di tangannya pada Miranda.
Tanpa menyia-nyiakan waktu,
Miranda langsung memeriksa dokumen itu. Di map paling atas terdapat biodata
Bima. Nama lengkapnya, Bimantara Perwiranegara. Di situ juga terdapat foto Bima
berwarna ukuran empat kali enam. Miranda sedikit terkejut. Wajah itu rasanya
tidak asing baginya. Dia pernah melihat laki-laki di foto itu. Tapi di mana.
Dia masih belum mampu mengingatnya.
Dia melanjutkan memeriksa
biodata Bima secara detil. Nama ayah Bima terasa asing baginya. Namun nama ibu
Bima itu langsung bisa dikenalinya. Nama itu persis seperti nama teman akrab
ibunya. Miranda mencoba mengingat-ingat lagi. Akhirnya dia mampu mengingat
sesuatu. Dia pun langsung tersenyum senang.
“Kenapa, Mbak?” tanya Bu
Sumiyati heran melihat Miranda senyum-senyum sendiri.
“Saya mengenal Bima ini,”
jawabnya senang sambil menatap Ibu Sumiyati dengan mata berkaca-kaca.
“Ooh.” Ibu Sumiyati
membelalakkan mata. “Syukurlah,” katanya kemudian.
“Terimakasih banyak ya, Bu.
Saya permisi dulu,” kata Miranda menatap dalam ke mata Bu Sumiyati.
“Sama-sama, Mbak. Senang bisa
membantu. Mudah-mudahan informasi itu bisa membuat Vania kembali bersemangat,”
timpal Bu Sumiyati penuh harap.
Sebenarnya dia sendiri belum
tahu apa kaitannya dokumen Bima dengan keadaan Vania saat ini.
Sambil berjalan tergesa-gesa
menuju pintu gerbang, Miranda membuka ponselnya, lalu memeriksa daftar kontak
yang tersimpan di sana. Dia mengetikkan ‘Tante Mirna’ pada kolom pencarian.
Hanya ada satu nama yang muncul di daftar kontak.
Tidak membuang waktu, dia
langsung menekan tombol panggil, menghubungi Tante Mirna. Sial baginya, nomor
itu sudah tidak aktif. Dia baru sadar kalau Tante Mirna sudah pindah ke London.
Otomatis nomor ponselnya sudah berganti. Nomor yang disimpannya itu nomor
khusus operator di Indonesia.
Miranda terduduk lama di
belakang kemudi. Keringat mengucur deras di dahinya. Dia lupa menyalakan mobil
sekaligus menghidupkan AC. Sambil terus berpikir, dihidupkannya mobil lalu
ditekannya tombol lambang kipas angin di dashboard.
Udara di dalam mobil pun mulai terasa sejuk.
Perlahan pikirannya mulai
bekerja normal. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Tidak ada pilihan lain, dia
harus mengunjungi rumah Tante Mirna. Siapa tahu di sana ada petunjuk.
Dia masih ingat alamat rumah
Tante Mirna karena pernah beberapa kali berkunjung ke sana, terutama ketika dia
sedang sibuk mencari keberadaan ibunya tahun lalu. Dia langsung meluncurkan
mobilnya ke sana.
Jalanan macet luar bisa karena
sekarang menjelang makan siang. Itu membuatnya harus menghabiskan waktu hampir
satu jam untuk sampai ke alamat yang dituju.
Sesampainya di rumah Tante
Mirna, dia langsung mengintip dari sela-sela pagar. Rumahnya tampak sepi. Tidak
ada tanda-tanda ada orang di dalam sana. Gerbang besinya terkunci dengan rantai
yang digembok. Rumah itu benar-benar tidak berpenghuni.
Dia pun menyeberangi jalan
lengang perumahan itu dan menghampiri rumah yang tepat berada di depan rumah
Tante Mirna. Ditekannya tombol bel yang menempel di tiang besar di sisi gerbang
masuk rumah.
Beberapa saat kemudian
muncullah seorang wanita paruh baya berpakaian kebaya mendekati pagar.
“Cari siapa?” tanyanya hampir
berteriak.
“Saya mau menanyakan penghuni
rumah di depan sana. Kira-kira orangnya ke mana, ya?” jawab Miranda sekaligus
bertanya. Suaranya pun terdengar lantang.
“Oh. Mereka sudah pindah ke
London,” jawab perempuan itu yang sudah berdiri sekitar satu meter dari pagar
gerbang yang memisahkannya dengan Miranda di luar.
“Kira-kira rumah itu ada yang
menghuninya tidak?” tanya Miranda lagi.
Perempuan itu mengernyitkan
dahi.
“Setahu saya, sekarang kosong.
Tidak ada penghuninya,” katanya tampak ragu.
“Ada keluarga dekat mereka
yang tinggal di sini?” tanya Miranda lagi.
Perempuan itu tampak berpikir
lama.
“Setahu saya tidak ada.”
“Oh, begitu, ya,” jawab
Miranda pelan. Raut wajahnya tampak kecewa.
“Tapi kalau orang yang
sekampung dengan mereka, ada!” kata perempuan itu menambahkan dengan raut wajah
antusias.
“Benarkah?! Di mana?!” tanya
Miranda kembali bersemangat.
“Itu. Rumah warna hijau paling
ujung, dekat pos satpam,” kata perempuan itu menunjuk ke arah gerbang keluar
dari kompleks perumahan.
“Terima kasih banyak, Buk,”
kata Miranda sambil tersenyum simpul.
“Sama-sama,” balas perempuan
itu juga dengan tersenyum.
Miranda bergegas menuju ke
rumah yang ditunjuk perempuan tadi. Dia berjalan kaki ke sana, meninggalkan
mobilnya tetap terparkir di depan rumah Tante Mirna.
Sesampainya di rumah berwarna
hijau yang ditunjuk perempuan tadi, dia langsung memencet bel.
Tidak menunggu lama, keluarlah
seorang laki-laki tua berambut putih, mungkin berusia di atas enam puluh tahun.
Miranda langsung menanyakan beberapa pertanyaan tentang keluarga Tante Mirna.
Laki-laki itu tidak menjawab
semua pertanyaan itu. Dia hanya memberitahu kalau Tante Mirna yang
dimaksudkannya itu masih memiliki ibu yang bernama Sawitri di kampung asal
mereka di Cikupa, Tangerang.
“Sawitri masih hidup. Sebab
baru dua hari yang lalu saya menelepon saudara saya di kampung yang rumahnya
bersebelahan dengan Sawitri. Saudara saya itu sempat menceritakan kalau Sawitri
baru saja mengiriminya makanan yang sangat enak,” kata laki-laki itu.
“Terima kasih banyak atas
informasinya, Pak,” timpal Miranda tampak bahagia.
Dia pun langsung meminta
alamat Sawitri. Dia menceritakan keperluannya agar laki-laki tua itu percaya
sehingga mau memberikan alamat itu.
Laki-laki tua itu mengangguk
tanda percaya. Dia pun menyebutkan alamatnya secara lengkap, mulai dari
kecamatan, kelurahan, RW, RT, nama gang, lalu nomor rumah.
Miranda langsung mencatatnya
di ponsel. Dia juga meminta nomor ponsel laki-laki tua itu untuk berjaga-jaga
kalau misalnya dia tersesat ketika mencari alamat itu nantinya. Ketika
laki-laki itu menyebutkan nomornya, dia langsung mencatatnya di ponsel.
Saat hendak mencatat nama
laki-laki tua itu di ponselnya, Miranda tersentak kaget. Dia merasa telah
bersikap tidak sopan pada laki-laki tua itu. Dia pun langsung meminta maaf.
Rupanya sedari tadi dia sudah bertanya ini itu, tapi malah lupa menanyakan nama
laki-laki tua di hadapannya.
Laki-laki itu tersenyum dan
tidak mempermasalahkan itu. Dia pun menyebut namanya.
“Cecep,” katanya.
Miranda pun menuliskan ‘Pak Cecep tetangga Bima’ di daftar kontak.
Merasa tidak ada lagi informasi yang perlu diketahuinya, Miranda pun berpamitan sambil mengucapkan terima kasih banyak pada Pak Cecep. Dia pun meninggalkan Pak Cecep dan berjalan cepat menuju mobilnya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.