Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 44. Jalan Berliku

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 44. Jalan Berliku
______________________________________

Keesokan harinya Miranda langsung menindaklanjuti informasi yang diberikan Siska. Setelah menyelesaikan rutinitasnya di rumah Arvin sepanjang pagi dan memberikan instruksi pada pengasuh si bayi, dia langsung menuju ke sekolah Vania.

Kali ini dia punya agenda penting yaitu mencari informasi secara detail tentang Bima. Di depan gerbang sekolah, dia sempat menelepon Angela untuk meminta izin lagi tidak datang ke kantor hari ini. Kemudian dia langsung melangkahkan kaki menuju ruang guru untuk menemui Ibu Sumiyati.

Berhubung wali kelas Vania itu sedang masuk ke kelas, terpaksa dia menunggu. Dia memilih duduk di bangku panjang yang disandarkan ke dinding di depan ruang guru.

Ibu Sumiyati muncul setengah jam kemudian. Dia terlihat senang ketika melihat Miranda. Setelah saling bertanya kabar, Miranda langsung bertanya tentang Bima.

“Apa yang Ibu ketahui tentang Bima?” tanyanya.

Ibu Sumiyati pun tidak suka berbelit-belit. Dia juga langsung bercerita tentang Bima.

“Bima sudah pindah sekolah, ikut orang tuanya yang pindah ke London. Orang tuanya mendapat tugas di sana.”

Karena tidak mampu mengingat segala hal tentang Bima secara rinci, Ibu Sumiyati pun pamit.

“Sebentar, ya. Biar saya carikan dokumen tentang Bima di ruang administrasi dulu,” katanya pada Miranda.

Miranda pun mengangguk.

“Maaf kalau merepotkan ya, Bu. Terima kasih banyak telah berkenan membantu. Saya tunggu di sini,” katanya menanggapi.

Dengan bergegas Ibu Sumiyati berjalan menuju ruang administrasi tepat di samping ruang guru.

Beberapa menit kemudian dia kembali muncul sambil menyerahkan beberapa map di tangannya pada Miranda.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, Miranda langsung memeriksa dokumen itu. Di map paling atas terdapat biodata Bima. Nama lengkapnya, Bimantara Perwiranegara. Di situ juga terdapat foto Bima berwarna ukuran empat kali enam. Miranda sedikit terkejut. Wajah itu rasanya tidak asing baginya. Dia pernah melihat laki-laki di foto itu. Tapi di mana. Dia masih belum mampu mengingatnya.

Dia melanjutkan memeriksa biodata Bima secara detil. Nama ayah Bima terasa asing baginya. Namun nama ibu Bima itu langsung bisa dikenalinya. Nama itu persis seperti nama teman akrab ibunya. Miranda mencoba mengingat-ingat lagi. Akhirnya dia mampu mengingat sesuatu. Dia pun langsung tersenyum senang.

“Kenapa, Mbak?” tanya Bu Sumiyati heran melihat Miranda senyum-senyum sendiri.

“Saya mengenal Bima ini,” jawabnya senang sambil menatap Ibu Sumiyati dengan mata berkaca-kaca.

“Ooh.” Ibu Sumiyati membelalakkan mata. “Syukurlah,” katanya kemudian.

“Terimakasih banyak ya, Bu. Saya permisi dulu,” kata Miranda menatap dalam ke mata Bu Sumiyati.

“Sama-sama, Mbak. Senang bisa membantu. Mudah-mudahan informasi itu bisa membuat Vania kembali bersemangat,” timpal Bu Sumiyati penuh harap.

Sebenarnya dia sendiri belum tahu apa kaitannya dokumen Bima dengan keadaan Vania saat ini.

Sambil berjalan tergesa-gesa menuju pintu gerbang, Miranda membuka ponselnya, lalu memeriksa daftar kontak yang tersimpan di sana. Dia mengetikkan ‘Tante Mirna’ pada kolom pencarian. Hanya ada satu nama yang muncul di daftar kontak.

Tidak membuang waktu, dia langsung menekan tombol panggil, menghubungi Tante Mirna. Sial baginya, nomor itu sudah tidak aktif. Dia baru sadar kalau Tante Mirna sudah pindah ke London. Otomatis nomor ponselnya sudah berganti. Nomor yang disimpannya itu nomor khusus operator di Indonesia.

Miranda terduduk lama di belakang kemudi. Keringat mengucur deras di dahinya. Dia lupa menyalakan mobil sekaligus menghidupkan AC. Sambil terus berpikir, dihidupkannya mobil lalu ditekannya tombol lambang kipas angin di dashboard. Udara di dalam mobil pun mulai terasa sejuk.

Perlahan pikirannya mulai bekerja normal. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Tidak ada pilihan lain, dia harus mengunjungi rumah Tante Mirna. Siapa tahu di sana ada petunjuk.

Dia masih ingat alamat rumah Tante Mirna karena pernah beberapa kali berkunjung ke sana, terutama ketika dia sedang sibuk mencari keberadaan ibunya tahun lalu. Dia langsung meluncurkan mobilnya ke sana.

Jalanan macet luar bisa karena sekarang menjelang makan siang. Itu membuatnya harus menghabiskan waktu hampir satu jam untuk sampai ke alamat yang dituju.

Sesampainya di rumah Tante Mirna, dia langsung mengintip dari sela-sela pagar. Rumahnya tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam sana. Gerbang besinya terkunci dengan rantai yang digembok. Rumah itu benar-benar tidak berpenghuni.

Dia pun menyeberangi jalan lengang perumahan itu dan menghampiri rumah yang tepat berada di depan rumah Tante Mirna. Ditekannya tombol bel yang menempel di tiang besar di sisi gerbang masuk rumah.

Beberapa saat kemudian muncullah seorang wanita paruh baya berpakaian kebaya mendekati pagar.

“Cari siapa?” tanyanya hampir berteriak.

“Saya mau menanyakan penghuni rumah di depan sana. Kira-kira orangnya ke mana, ya?” jawab Miranda sekaligus bertanya. Suaranya pun terdengar lantang.

“Oh. Mereka sudah pindah ke London,” jawab perempuan itu yang sudah berdiri sekitar satu meter dari pagar gerbang yang memisahkannya dengan Miranda di luar.

“Kira-kira rumah itu ada yang menghuninya tidak?” tanya Miranda lagi.

Perempuan itu mengernyitkan dahi.

“Setahu saya, sekarang kosong. Tidak ada penghuninya,” katanya tampak ragu.

“Ada keluarga dekat mereka yang tinggal di sini?” tanya Miranda lagi.

Perempuan itu tampak berpikir lama.

“Setahu saya tidak ada.”

“Oh, begitu, ya,” jawab Miranda pelan. Raut wajahnya tampak kecewa.

“Tapi kalau orang yang sekampung dengan mereka, ada!” kata perempuan itu menambahkan dengan raut wajah antusias.

“Benarkah?! Di mana?!” tanya Miranda kembali bersemangat.

“Itu. Rumah warna hijau paling ujung, dekat pos satpam,” kata perempuan itu menunjuk ke arah gerbang keluar dari kompleks perumahan.

“Terima kasih banyak, Buk,” kata Miranda sambil tersenyum simpul.

“Sama-sama,” balas perempuan itu juga dengan tersenyum.

Miranda bergegas menuju ke rumah yang ditunjuk perempuan tadi. Dia berjalan kaki ke sana, meninggalkan mobilnya tetap terparkir di depan rumah Tante Mirna.

Sesampainya di rumah berwarna hijau yang ditunjuk perempuan tadi, dia langsung memencet bel.

Tidak menunggu lama, keluarlah seorang laki-laki tua berambut putih, mungkin berusia di atas enam puluh tahun. Miranda langsung menanyakan beberapa pertanyaan tentang keluarga Tante Mirna.

Laki-laki itu tidak menjawab semua pertanyaan itu. Dia hanya memberitahu kalau Tante Mirna yang dimaksudkannya itu masih memiliki ibu yang bernama Sawitri di kampung asal mereka di Cikupa, Tangerang.

“Sawitri masih hidup. Sebab baru dua hari yang lalu saya menelepon saudara saya di kampung yang rumahnya bersebelahan dengan Sawitri. Saudara saya itu sempat menceritakan kalau Sawitri baru saja mengiriminya makanan yang sangat enak,” kata laki-laki itu.

“Terima kasih banyak atas informasinya, Pak,” timpal Miranda tampak bahagia.

Dia pun langsung meminta alamat Sawitri. Dia menceritakan keperluannya agar laki-laki tua itu percaya sehingga mau memberikan alamat itu.

Laki-laki tua itu mengangguk tanda percaya. Dia pun menyebutkan alamatnya secara lengkap, mulai dari kecamatan, kelurahan, RW, RT, nama gang, lalu nomor rumah.

Miranda langsung mencatatnya di ponsel. Dia juga meminta nomor ponsel laki-laki tua itu untuk berjaga-jaga kalau misalnya dia tersesat ketika mencari alamat itu nantinya. Ketika laki-laki itu menyebutkan nomornya, dia langsung mencatatnya di ponsel.

Saat hendak mencatat nama laki-laki tua itu di ponselnya, Miranda tersentak kaget. Dia merasa telah bersikap tidak sopan pada laki-laki tua itu. Dia pun langsung meminta maaf. Rupanya sedari tadi dia sudah bertanya ini itu, tapi malah lupa menanyakan nama laki-laki tua di hadapannya.

Laki-laki itu tersenyum dan tidak mempermasalahkan itu. Dia pun menyebut namanya.

“Cecep,” katanya.

Miranda pun menuliskan ‘Pak Cecep tetangga Bima’ di daftar kontak.

Merasa tidak ada lagi informasi yang perlu diketahuinya, Miranda pun berpamitan sambil mengucapkan terima kasih banyak pada Pak Cecep. Dia pun meninggalkan Pak Cecep dan berjalan cepat menuju mobilnya.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar