Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dia tersentak kaget ketika teringat sesuatu. Bukankah anak muda sekarang suka bermain
media sosial? katanya dalam hati. Dia bangun dari tempat tidur, beralih ke
ruang kerja, duduk menghadap meja, membuka laptop, lalu menyalakannya.
Dibukanya satu per satu media sosial yang paling banyak penggunaannya saat ini,
mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, hingga Tik Tok. Diketiknya nama Bima
di setiap laman media sosial itu.
Dia berhasil menemukan akun laki-laki itu. Rupanya Bima
menggunakan semua media sosial itu. Dari foto profilnya dia yakin, itu Bima
yang sedang dicarinya. Namun tidak ada status yang diposting beberapa hari ini.
Status terakhir yang dipostingnya adalah sewaktu keberangkatannya ke London.
Setelah itu, praktis tidak ada sama sekali kabar berita darinya di akun-akun
itu.
Miranda makin pusing. Setelah direnungkannya cukup lama. Dia
pun memutuskan. Tidak ada pilihan lain. Dia harus menemui Sawitri, neneknya
Bima.
Keesokan harinya, dari apartemen dia langsung masuk pintu
tol menuju Merak. Dia tidak berani memacu mobil lebih dari 60 km/jam karena
pikirannya masih kacau. Dia tidak bisa benar-benar fokus ke jalan. Dia tidak
mau mengambil resiko. Kali ini, biarlah lama di perjalanan, asalkan bisa
selamat sampai tujuan. Dia belum ingin mati lebih cepat. Masih ada misteri yang
harus diselesaikannya. Kalau dia mati sekarang, bisa saja dia jadi arwah
penasaran.
Menjelang Zuhur, dia sudah keluar pintu tol Cikupa. Setelah
melewati pintu tol itu, dia menepikan mobil. Diperiksanya lagi alamat yang
sempat ditulisnya di catatan ponsel. Alamat itu disalinnya ke kolom pencarian
Google Map. Muncullah titik lokasi tujuannya. Jaraknya sekitar dua kilometer
dari tempatnya berhenti sekarang.
Dia kembali menjalankan mobilnya masuk ke jalan utama
Tangerang-Merak. Dia mengikuti petunjuk arah di aplikasi peta cerdas di
ponselnya. Saat dia mulai memasuki jalan utama, kemacetan pun langsung
menyambutnya. Tidak ada pilihan lain, dia harus menerima mobilnya berada di
tengah lautan kemacetan yang tidak terselesaikan di negeri ini. Dia harus
menerima dengan lapang data mobilnya hanya bisa merayap pelan. Sesekali dia
harus berhenti mendadak mengikuti mobil di depannya yang tiba-tiba berhenti.
Hampir sejam kemudian dia baru tiba di titik lokasi yang
menjadi tujuannya. Dia langsung mengedarkan pandangan. Rumah-rumah di sekitar
tempatnya berhenti terlihat cukup sederhana. Semuanya bangunan permanen dengan
bentuk yang agak seragam, hampir mirip dengan rumah-rumah pada umumnya.
Bentuk rumah-rumah itu memanjang ke belakang. Di bagian
depan terdapat teras berukuran tiga kali
tiga meter. Atap keseluruhan rumah dan teras berbentuk prisma yang juga
memanjang ke belakang dan dilapisi multiroof.
Perbedaan antar rumah-rumah itu hanyalah pada warnanya. Ada
yang menggunakan cat putih, krim, oranye, hijau muda, biru muda, hingga
abu-abu.
Salah satu dari semua rumah itu sangat penting baginya saat
ini karena akan membantunya menemukan Bima. Bukan menemukan tepatnya, melainkan
membukakan jalan untuk menghubungi remaja itu. Itu pun tidak langsung akan
menyelesaikan semua masalahnya. Masih banyak tahapan yang harus dilaluinya
untuk tiba di solusi akhir sehingga masalah selesai.
Tanpa berlam-lama, dia langsung keluar dan berdiri di dekat
pintu mobil sambil mengedarkan pandangan. Dia menarik napas sangat dalam lalu
menghembuskannya kuat-kuat sebelum melangkah ke salah satu rumah itu.
Diketuknya pintu rumah yang baru didatanginya. Terdengar suara menimpali dari
dalam rumah.
“Sebentar!” kata suara perempuan terdengar sayup-sayup dari
dalam rumah.
Beberapa detik kemudian terdengar bunyi kletek di balik
pintu. Sepertinya seseorang baru saja menggeser grendel pintu. Setelah itu,
daun pintu pun mulai terbuka. Muncullah seorang perempuan tua yang agak
terbungkuk-bungkuk di balik pintu yang telah terbuka penuh.
“Selamat siang, Nek,” kata Miranda menyapa dan mengenalkan
diri.
“Selamat siang,” balas si nenek.
“Saya Miranda”
Si nenek mengamati Miranda dari ujung kepala sampai ujung
kaki.
“Neng Miranda mencari siapa?” tanyanya kemudian.
Miranda langsung menanggapi. “Saya mencari Sawitri, Nek.”
Mata si nenek langsung terbelalak. “Saya Sawitri!” jawabnya
sedikit berteriak dan terheran-heran.
“Ada keperluan apa mencari saya?!” katanya kemudian. Nada
suaranya langsung naik. Raut wajahnya mulai curiga. Tatapan matanya kembali
memperhatikan Miranda dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki.
Miranda tersenyum.
“Saya putrinya Ratna. Ratna itu temannya Tante Mirna,
putrinya Nenek. Itu kalau Nenek benar-benar Sawitri.”
Sawitri mengerutkan keningnya.
“Saya memang Sawitri. Nama putri saya juga Mirna. Kok kamu
bisa tahu?” tanyanya menyelidik. Dia merasa belum pernah melihat Miranda
sebelumnya. Karena pernah beberapa kali ditipu oleh gadis cantik yang datang ke
rumahnya, dia merasa harus waspada.
Miranda tidak terpengaruh dengan tatapan curiga Sawitri.
Raut wajahnya malah makin ceria.
“Nah! Berarti saya tidak salah alamat. Saya mendapatkan
alamat Nek Sawitri dari Pak Cecep yang ada di Jakarta.”
Sawitri masih menatap tajam ke arah Miranda.
“Iya. Saya kenal Pak Cecep. Saudaranya berjarak dua rumah
dari rumah ini,” katanya sambil menunjuk ke samping kanannya.
“Saya ada keperluan penting dengan Nenek,” kata Miranda
lagi.
“Ya sudah. Silahkan duduk dulu,” ujar Sawitri sambil
menunjuk kursi rotan yang ada di teras tepat di sebelah kanan Miranda sedang
berdiri.
“Terima kasih, Nek,” timpal Miranda sambil melangkah ke arah
kursi dekat tepian teras lalu duduk di situ.
Sementara itu Sawitri duduk di kursi dekat pintu.
Kedua kursi itu dipisahkan meja yang juga terbuat dari
rotan. Bagian atas meja berupa kaca riben setebal sepuluh milimeter tidak
diberi taplak. Di atas kaca itu terdapat bunga kertas berbentuk krisan
berwarna-warni di dalam sebuah vas bunga terbuat dari porselin yang berbentuk
gentong kecil.
“Ada keperluan apa?” tanya Sawitri kemudian.
Miranda tidak langsung menjawab. Dia sedang mencoba memilih
kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya.
“Saya sebenarnya ada urusan dengan Tante Mirna. Berhubung
dia sudah pindah ke London, saya kesulitan untuk menghubunginya,”
“Terus?” tanya Sawitri lagi masih dengan suara ketus.
“Mungkin Nenek bisa memberitahu nomor Tante Mirna yang bisa
dihubungi,” jawab Miranda dengan suara memelas.
Sawitri tidak langsung percaya begitu saja. Kembali
ditatapnya Miranda dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Sebentar. Biar saya telepon sendiri saja anak saya itu,”
timpalnya.
Dia mengeluarkan ponsel dari lipatan kain di bagan perut.
Dengan lincah dia membuka kunci layar ponsel menggunakan telunjuk. Dia membuka
daftar kontak, menggeser layar agak ke bawah sampai menemukan kontak dengan
nama ‘putriku tersayang’ diikuti simbol ‘@ lalu diikuti dengan kata ‘London.’
Kata London itu mungkin untuk membedakan dengan putrinya yang berada di tempat
lain.
Sawitri menekan tombol panggil. Namun tidak langsung
diangkat. Dia harus melakukannya tiga kali dan berjeda sekitar lima menit baru
panggilan diangkat. Setelah tersambung, dia menekan logo speaker untuk mengeraskan suara ponsel. Dia memegang dan
memposisikan ponsel sekitar dua puluh meter di depan dada.
“Ada apa, Buk?” tanya suara lembut di seberang sana. “Maaf,
tadi Mirna sedang masak untuk sarapan. Bunyi ponselnya tidak terdengar,” tambah
suara itu lagi.
Miranda tampak lega mendengar suara di ponsel Sawitri. Itu
benar Mirna yang sedang dicarinya.
“Iya tidak apa-apa,” kata Sawitri. “Ini ada perempuan cantik
sedang mencarimu. Katanya dia mengenalmu dan ada urusan denganmu,” tambahnya.
“Siapa, Buk?” tanya Mirna.
“Ini. Kamu tanya sendiri saja langsung ke orangnya,” kata
Sawitri ketus sambil menyerahkan ponsel pada Miranda.
Miranda menyambut ponsel yang diserahkan Sawitri dan
memegangnya sama seperti si nenek tadi, di depan dada.
“Halo, Tante. Ini Miranda,” sapanya dengan nada ceria.
Dia sengaja tidak meletakkan ponsel itu dekat telinga karena
sedang dalam mode loudspeaker. Dia juga membiarkan mode
itu agar Nenek Sawitri dapat menyimak obrolan mereka.
“Eeh, Miranda?!!!” jawab Mirna histeris. “Miranda putrinya
Ratna, teman Tante, bukan?” tanyanya memastikan.
“Benar, Tante,” jawab Miranda senang dan tetap tenang.
“Kamu apa kabar?” tanya Tante Mirna kemudian. Nada suaranya
jauh berbeda dibandingkan ketika dia mengobrol dengan ibunya tadi. Tadi sangat
lembut dan pelan, sekarang berubah agak meledak-ledak dan cepat.
“Kabar Mira baik, Tante,” jawab Miranda. “Tante sendiri apa
kabar?” tanyanya balik.
“Kabar Tante dan keluarga di sini juga baik-baik saja,”
balas Tante Mirna dengan suara yang kembali normal. “Maaf, ya. Tante tidak
mengabarimu ketika hendak berangkat ke London tempo hari,” lanjutnya kemudian
dengan nada penuh penyesalan.
“Iya, Tante. Tidak apa-apa,” balas Miranda dengan suara
tetap tenang.
“Eh! Sebentar. Kamu kok bisa ada di rumah ibuku?” tanya
Tante Mirna dengan nada suara terdengar heran.
Miranda langsung menanggapi.
“Ceritanya panjang, Tante. Ringkasnya, saya sempat ke rumah
Tante di Jakarta. Tapi tidak ada orang. Akhirnya dapatlah alamat rumah Nenek
Sawitri ini dari Pak Cecep.”
“Oh. Pak Cecep.” Suara Tante Mirna terdengar lega. “Gimana
kabar Pak Cecep?” tanyanya kemudian.
Miranda mengerutkan kening. “Aku tidak mengobrol banyak
dengan beliau. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja.”
“Alhamdulillah kalau beliau baik-baik saja.” Tante Mirna
terdiam sejenak. “Jadi ada apa, Mir? Pasti ada hal penting yang membuatmu harus
mencari alamat ibuku,” lanjutnya dengan nada terdengar sedikit menyelidik.
“Saya butuh nomor Bima yang aktif, Tante,” jawab Miranda
jujur.
“Untuk apa?” tanya Tante Mirna. Kali ini nada suaranya
sedikit berubah. Terdengar seperti heran dan penasaran.
Miranda tidak langsung menjawab. Sepertinya dia sedang
memilih alasan yang paling aman sehingga Tante Mirna tidak curiga.
“Ada hal penting yang harus saya bahas dengannya terkait
salah satu temannya di sini.”
“Apakah telah terjadi hal buruk di sekolah lamanya?” tanya
Tante Mirna terdengar mulai khawatir.
“Tidak ada Tante. Hanya urusan sekolah temannya. Itu butuh
sedikit keterangan dari Bima. Siapa tahu ada sesuatu yang diketahuinya tentang
temannya itu,” jawab Miranda dengan suara yang diusahakannya tetap tenang, agar
Tante Mirna juga tetap tenang.
“Benaran? Tidak terjadi hal-hal aneh di sana? Tidak ada
hubungannya dengan Bima?” Tante Mirna kembali bertanya memastikan.
“Urusan di sini tidak ada hubungannya dengan Bima, Tante.
Saya hanya butuh informasi sedikit dari Bima. Percayalah,” jawab Miranda
mantap.
“Oke. Baiklah. Nanti nomornya saya kirim ke ponsel ibuku
saja,” balas Tante Mirna dengan suara yang terdengar lebih tenang.
Miranda akhirnya bisa mengukir senyum. “Terima kasih banyak,
ya, Tante. Maaf kalau merepotkan.”
“Iya. Sama-sama. Tidak merepotkan sama sekali kok. Saya
malah senang bisa kembali berhubungan dan berbincang denganmu. Nanti saya juga
minta kirimi nomormu, ya,” balas Tante Mirna.
“Siap, Tante. Nanti saya kirim nomor ponsel saya.” Kini
Miranda bisa tertawa kecil.
“Sudah dulu, ya. Saya masih ada kegiatan lain. Nanti kita
telpon-telponan lagi,” kata Tante Mirna hendak mengakhiri panggilan.
“Iya, Tante. Sekali lagi terima kasih.”
“Iya, sama-sama.”
Panggilan pun ditutup.
Sawitri menyimak semua obrolan itu. Dia yang tadi sempat
memasang raut wajah curiga pada Miranda, kini mulai tersenyum. Berarti Miranda
tidak berbohong. Perempuan ini bukan penipu dan tidak hendak menipu. Sawitri
mulai yakin kalau Miranda memang putri dari teman anaknya di London itu. Dia
pun akhirnya menawari Miranda untuk makan siang.
“Tidak usah, Nek,” kata Miranda menolak.
“Kamu sudah melakukan perjalanan panjang dan lama. Kamu
pasti lapar,” desak Sawitri tetap memaksa.
Setelah tampak bengong cukup lama, mempertimbangkan tawaran
itu dengan matang, Miranda pun akhirnya menjawab,
“Baiklah,” katanya menerima.
Miranda mengekor di belakang Sawitri yang mulai masuk rumah
dan menuju ruang makan. Di atas meja telah terhidang menu makan siang. Sebuah
piring berisi nasi yang belum tersentuh berada di salah satu tepian meja.
Rupanya si nenek baru saja hendak makan ketika Miranda mengetuk pintu tadi.
Miranda ikut duduk tepat di depan si nenek. Dia menyendok nasi ke piring yang telah disediakan. Mereka pun makan bersama siang itu. Miranda terlihat makan dengan lahap karena memang kelaparan.
Setelah mengobrol sebentar di ruang tamu, Miranda pun berpamitan. Tidak lupa dia mengucapkan terimakasih berkali-kali. Dia sudah mendapatkan nomor ponsel Bima. Namun, dia memutuskan untuk tidak langsung menghubungi laki-laki itu. Dia memilih pulang dulu ke apartemennya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.