Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 45. Buah Manis

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 45. Buah Manis
_____________________________________

Miranda masih tak mampu memejamkan mata. Padahal sudah hampir tengah malam. Dia masih terpikir dengan sosok misterius Bima. Setelah mencerna semua informasi yang telah diperolehnya sejauh ini, dia sudah dapat menyimpulkan sesuatu. Laki-laki itu adalah kunci untuk mengembalikan semangat hidup Vania. Namun masalahnya, laki-laki itu tidak dapat dihubungi. Dia menghilang seperti ditelan Bumi. Miranda tidak yakin ke mana lagi harus mencari informasi.

Dia tersentak kaget ketika teringat sesuatu. Bukankah anak muda sekarang suka bermain media sosial? katanya dalam hati. Dia bangun dari tempat tidur, beralih ke ruang kerja, duduk menghadap meja, membuka laptop, lalu menyalakannya. Dibukanya satu per satu media sosial yang paling banyak penggunaannya saat ini, mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, hingga Tik Tok. Diketiknya nama Bima di setiap laman media sosial itu.

Dia berhasil menemukan akun laki-laki itu. Rupanya Bima menggunakan semua media sosial itu. Dari foto profilnya dia yakin, itu Bima yang sedang dicarinya. Namun tidak ada status yang diposting beberapa hari ini. Status terakhir yang dipostingnya adalah sewaktu keberangkatannya ke London. Setelah itu, praktis tidak ada sama sekali kabar berita darinya di akun-akun itu.

Miranda makin pusing. Setelah direnungkannya cukup lama. Dia pun memutuskan. Tidak ada pilihan lain. Dia harus menemui Sawitri, neneknya Bima.

Keesokan harinya, dari apartemen dia langsung masuk pintu tol menuju Merak. Dia tidak berani memacu mobil lebih dari 60 km/jam karena pikirannya masih kacau. Dia tidak bisa benar-benar fokus ke jalan. Dia tidak mau mengambil resiko. Kali ini, biarlah lama di perjalanan, asalkan bisa selamat sampai tujuan. Dia belum ingin mati lebih cepat. Masih ada misteri yang harus diselesaikannya. Kalau dia mati sekarang, bisa saja dia jadi arwah penasaran.

Menjelang Zuhur, dia sudah keluar pintu tol Cikupa. Setelah melewati pintu tol itu, dia menepikan mobil. Diperiksanya lagi alamat yang sempat ditulisnya di catatan ponsel. Alamat itu disalinnya ke kolom pencarian Google Map. Muncullah titik lokasi tujuannya. Jaraknya sekitar dua kilometer dari tempatnya berhenti sekarang.

Dia kembali menjalankan mobilnya masuk ke jalan utama Tangerang-Merak. Dia mengikuti petunjuk arah di aplikasi peta cerdas di ponselnya. Saat dia mulai memasuki jalan utama, kemacetan pun langsung menyambutnya. Tidak ada pilihan lain, dia harus menerima mobilnya berada di tengah lautan kemacetan yang tidak terselesaikan di negeri ini. Dia harus menerima dengan lapang data mobilnya hanya bisa merayap pelan. Sesekali dia harus berhenti mendadak mengikuti mobil di depannya yang tiba-tiba berhenti.

Hampir sejam kemudian dia baru tiba di titik lokasi yang menjadi tujuannya. Dia langsung mengedarkan pandangan. Rumah-rumah di sekitar tempatnya berhenti terlihat cukup sederhana. Semuanya bangunan permanen dengan bentuk yang agak seragam, hampir mirip dengan rumah-rumah pada umumnya.

Bentuk rumah-rumah itu memanjang ke belakang. Di bagian depan terdapat teras berukuran  tiga kali tiga meter. Atap keseluruhan rumah dan teras berbentuk prisma yang juga memanjang ke belakang dan dilapisi multiroof.

Perbedaan antar rumah-rumah itu hanyalah pada warnanya. Ada yang menggunakan cat putih, krim, oranye, hijau muda, biru muda, hingga abu-abu.

Salah satu dari semua rumah itu sangat penting baginya saat ini karena akan membantunya menemukan Bima. Bukan menemukan tepatnya, melainkan membukakan jalan untuk menghubungi remaja itu. Itu pun tidak langsung akan menyelesaikan semua masalahnya. Masih banyak tahapan yang harus dilaluinya untuk tiba di solusi akhir sehingga masalah selesai.

Tanpa berlam-lama, dia langsung keluar dan berdiri di dekat pintu mobil sambil mengedarkan pandangan. Dia menarik napas sangat dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat sebelum melangkah ke salah satu rumah itu. Diketuknya pintu rumah yang baru didatanginya. Terdengar suara menimpali dari dalam rumah.

“Sebentar!” kata suara perempuan terdengar sayup-sayup dari dalam rumah.

Beberapa detik kemudian terdengar bunyi kletek di balik pintu. Sepertinya seseorang baru saja menggeser grendel pintu. Setelah itu, daun pintu pun mulai terbuka. Muncullah seorang perempuan tua yang agak terbungkuk-bungkuk di balik pintu yang telah terbuka penuh.

“Selamat siang, Nek,” kata Miranda menyapa dan mengenalkan diri.

“Selamat siang,” balas si nenek.

“Saya Miranda”

Si nenek mengamati Miranda dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Neng Miranda mencari siapa?” tanyanya kemudian.

Miranda langsung menanggapi. “Saya mencari Sawitri, Nek.”

Mata si nenek langsung terbelalak. “Saya Sawitri!” jawabnya sedikit berteriak dan terheran-heran.

“Ada keperluan apa mencari saya?!” katanya kemudian. Nada suaranya langsung naik. Raut wajahnya mulai curiga. Tatapan matanya kembali memperhatikan Miranda dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki.

Miranda tersenyum.

“Saya putrinya Ratna. Ratna itu temannya Tante Mirna, putrinya Nenek. Itu kalau Nenek benar-benar Sawitri.”

Sawitri mengerutkan keningnya.

“Saya memang Sawitri. Nama putri saya juga Mirna. Kok kamu bisa tahu?” tanyanya menyelidik. Dia merasa belum pernah melihat Miranda sebelumnya. Karena pernah beberapa kali ditipu oleh gadis cantik yang datang ke rumahnya, dia merasa harus waspada.

Miranda tidak terpengaruh dengan tatapan curiga Sawitri. Raut wajahnya malah makin ceria.

“Nah! Berarti saya tidak salah alamat. Saya mendapatkan alamat Nek Sawitri dari Pak Cecep yang ada di Jakarta.”

Sawitri masih menatap tajam ke arah Miranda.

“Iya. Saya kenal Pak Cecep. Saudaranya berjarak dua rumah dari rumah ini,” katanya sambil menunjuk ke samping kanannya.

“Saya ada keperluan penting dengan Nenek,” kata Miranda lagi.

“Ya sudah. Silahkan duduk dulu,” ujar Sawitri sambil menunjuk kursi rotan yang ada di teras tepat di sebelah kanan Miranda sedang berdiri.

“Terima kasih, Nek,” timpal Miranda sambil melangkah ke arah kursi dekat tepian teras lalu duduk di situ.

Sementara itu Sawitri duduk di kursi dekat pintu.

Kedua kursi itu dipisahkan meja yang juga terbuat dari rotan. Bagian atas meja berupa kaca riben setebal sepuluh milimeter tidak diberi taplak. Di atas kaca itu terdapat bunga kertas berbentuk krisan berwarna-warni di dalam sebuah vas bunga terbuat dari porselin yang berbentuk gentong kecil.

“Ada keperluan apa?” tanya Sawitri kemudian.

Miranda tidak langsung menjawab. Dia sedang mencoba memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya.

“Saya sebenarnya ada urusan dengan Tante Mirna. Berhubung dia sudah pindah ke London, saya kesulitan untuk menghubunginya,”

“Terus?” tanya Sawitri lagi masih dengan suara ketus.

“Mungkin Nenek bisa memberitahu nomor Tante Mirna yang bisa dihubungi,” jawab Miranda dengan suara memelas.

Sawitri tidak langsung percaya begitu saja. Kembali ditatapnya Miranda dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Sebentar. Biar saya telepon sendiri saja anak saya itu,” timpalnya.

Dia mengeluarkan ponsel dari lipatan kain di bagan perut. Dengan lincah dia membuka kunci layar ponsel menggunakan telunjuk. Dia membuka daftar kontak, menggeser layar agak ke bawah sampai menemukan kontak dengan nama ‘putriku tersayang’ diikuti simbol ‘@ lalu diikuti dengan kata ‘London.’ Kata London itu mungkin untuk membedakan dengan putrinya yang berada di tempat lain.

Sawitri menekan tombol panggil. Namun tidak langsung diangkat. Dia harus melakukannya tiga kali dan berjeda sekitar lima menit baru panggilan diangkat. Setelah tersambung, dia menekan logo speaker untuk mengeraskan suara ponsel. Dia memegang dan memposisikan ponsel sekitar dua puluh meter di depan dada.

“Ada apa, Buk?” tanya suara lembut di seberang sana. “Maaf, tadi Mirna sedang masak untuk sarapan. Bunyi ponselnya tidak terdengar,” tambah suara itu lagi.

Miranda tampak lega mendengar suara di ponsel Sawitri. Itu benar Mirna yang sedang dicarinya.

“Iya tidak apa-apa,” kata Sawitri. “Ini ada perempuan cantik sedang mencarimu. Katanya dia mengenalmu dan ada urusan denganmu,” tambahnya.

“Siapa, Buk?” tanya Mirna.

“Ini. Kamu tanya sendiri saja langsung ke orangnya,” kata Sawitri ketus sambil menyerahkan ponsel pada Miranda.

Miranda menyambut ponsel yang diserahkan Sawitri dan memegangnya sama seperti si nenek tadi, di depan dada.

“Halo, Tante. Ini Miranda,” sapanya dengan nada ceria.

Dia sengaja tidak meletakkan ponsel itu dekat telinga karena sedang dalam mode loudspeaker. Dia juga membiarkan mode itu agar Nenek Sawitri dapat menyimak obrolan mereka.

“Eeh, Miranda?!!!” jawab Mirna histeris. “Miranda putrinya Ratna, teman Tante, bukan?” tanyanya memastikan.

“Benar, Tante,” jawab Miranda senang dan tetap tenang.

“Kamu apa kabar?” tanya Tante Mirna kemudian. Nada suaranya jauh berbeda dibandingkan ketika dia mengobrol dengan ibunya tadi. Tadi sangat lembut dan pelan, sekarang berubah agak meledak-ledak dan cepat.

“Kabar Mira baik, Tante,” jawab Miranda. “Tante sendiri apa kabar?” tanyanya balik.

“Kabar Tante dan keluarga di sini juga baik-baik saja,” balas Tante Mirna dengan suara yang kembali normal. “Maaf, ya. Tante tidak mengabarimu ketika hendak berangkat ke London tempo hari,” lanjutnya kemudian dengan nada penuh penyesalan.

“Iya, Tante. Tidak apa-apa,” balas Miranda dengan suara tetap tenang.

“Eh! Sebentar. Kamu kok bisa ada di rumah ibuku?” tanya Tante Mirna dengan nada suara terdengar heran.

Miranda langsung menanggapi.

“Ceritanya panjang, Tante. Ringkasnya, saya sempat ke rumah Tante di Jakarta. Tapi tidak ada orang. Akhirnya dapatlah alamat rumah Nenek Sawitri ini dari Pak Cecep.”

“Oh. Pak Cecep.” Suara Tante Mirna terdengar lega. “Gimana kabar Pak Cecep?” tanyanya kemudian.

Miranda mengerutkan kening. “Aku tidak mengobrol banyak dengan beliau. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja.”

“Alhamdulillah kalau beliau baik-baik saja.” Tante Mirna terdiam sejenak. “Jadi ada apa, Mir? Pasti ada hal penting yang membuatmu harus mencari alamat ibuku,” lanjutnya dengan nada terdengar sedikit menyelidik.

“Saya butuh nomor Bima yang aktif, Tante,” jawab Miranda jujur.

“Untuk apa?” tanya Tante Mirna. Kali ini nada suaranya sedikit berubah. Terdengar seperti heran dan penasaran.

Miranda tidak langsung menjawab. Sepertinya dia sedang memilih alasan yang paling aman sehingga Tante Mirna tidak curiga.

“Ada hal penting yang harus saya bahas dengannya terkait salah satu temannya di sini.”

“Apakah telah terjadi hal buruk di sekolah lamanya?” tanya Tante Mirna terdengar mulai khawatir.

“Tidak ada Tante. Hanya urusan sekolah temannya. Itu butuh sedikit keterangan dari Bima. Siapa tahu ada sesuatu yang diketahuinya tentang temannya itu,” jawab Miranda dengan suara yang diusahakannya tetap tenang, agar Tante Mirna juga tetap tenang.

“Benaran? Tidak terjadi hal-hal aneh di sana? Tidak ada hubungannya dengan Bima?” Tante Mirna kembali bertanya memastikan.

“Urusan di sini tidak ada hubungannya dengan Bima, Tante. Saya hanya butuh informasi sedikit dari Bima. Percayalah,” jawab Miranda mantap.

“Oke. Baiklah. Nanti nomornya saya kirim ke ponsel ibuku saja,” balas Tante Mirna dengan suara yang terdengar lebih tenang.

Miranda akhirnya bisa mengukir senyum. “Terima kasih banyak, ya, Tante. Maaf kalau merepotkan.”

“Iya. Sama-sama. Tidak merepotkan sama sekali kok. Saya malah senang bisa kembali berhubungan dan berbincang denganmu. Nanti saya juga minta kirimi nomormu, ya,” balas Tante Mirna.

“Siap, Tante. Nanti saya kirim nomor ponsel saya.” Kini Miranda bisa tertawa kecil.

“Sudah dulu, ya. Saya masih ada kegiatan lain. Nanti kita telpon-telponan lagi,” kata Tante Mirna hendak mengakhiri panggilan.

“Iya, Tante. Sekali lagi terima kasih.”

“Iya, sama-sama.”

Panggilan pun ditutup.

Sawitri menyimak semua obrolan itu. Dia yang tadi sempat memasang raut wajah curiga pada Miranda, kini mulai tersenyum. Berarti Miranda tidak berbohong. Perempuan ini bukan penipu dan tidak hendak menipu. Sawitri mulai yakin kalau Miranda memang putri dari teman anaknya di London itu. Dia pun akhirnya menawari Miranda untuk makan siang.

“Tidak usah, Nek,” kata Miranda menolak.

“Kamu sudah melakukan perjalanan panjang dan lama. Kamu pasti lapar,” desak Sawitri tetap memaksa.

Setelah tampak bengong cukup lama, mempertimbangkan tawaran itu dengan matang, Miranda pun akhirnya menjawab,

“Baiklah,” katanya menerima.

Miranda mengekor di belakang Sawitri yang mulai masuk rumah dan menuju ruang makan. Di atas meja telah terhidang menu makan siang. Sebuah piring berisi nasi yang belum tersentuh berada di salah satu tepian meja. Rupanya si nenek baru saja hendak makan ketika Miranda mengetuk pintu tadi.

Miranda ikut duduk tepat di depan si nenek. Dia menyendok nasi ke piring yang telah disediakan. Mereka pun makan bersama siang itu. Miranda terlihat makan dengan lahap karena memang kelaparan.

Setelah mengobrol sebentar di ruang tamu, Miranda pun berpamitan. Tidak lupa dia mengucapkan terimakasih berkali-kali. Dia sudah mendapatkan nomor ponsel Bima. Namun, dia memutuskan untuk tidak langsung menghubungi laki-laki itu. Dia memilih pulang dulu ke apartemennya.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar