Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 46. Diam

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 46. Diam
______________________________________

Miranda tiba di apartemennya hampir jam sepuluh malam. Dia langsung menuju ke kamar mandi dan membuka keran air hangat di samping bathtub. Tubuh dan pikirannya sangat lelah hari ini. Sebenarnya bukan hanya hari ini, melainkan beberapa hari belakangan ini. Biasanya berendam air hangat dapat mengembalikan kondisi tubuhnya kembali normal.

Selesai berendam selama kurang lebih lima sepuluh menit dan membersihkan badan dengan sabur cair, Miranda langsung mengenakan piyama panjang dan tebal yang tergantung di dekat pintu. Dia lalu keluar dan berjalan menuju dapur. Diperiksanya isi kulkas yang bisa dimasak secara instan.

Rupanya tidak banyak pilihan karena dia memang jarang berbelanja bahan dapur. Diambilnya telur, sawi, dan wortel. Telur didadarnya. Sementara sawi dan wortel direbusnya dalam satu wadah. Wortel dimasukkannya lebih dulu, tiga menit kemudian menyusul sawi.

Tidak sampai lima belas menit, semua masakan itu siap disantap. Di dalam alat pemanas nasi masih tersedia nasi untuk porsi sekali makan. Dipindahkannya nasi itu ke piring. Telur goreng tadi diletakkannya di atas nasi itu. Dia lalu melumuri telur dengan sambel super pedas botolan. Sawi dan wortel rebus diletakkannya di tepian piring. Dia membawa piring berisi menu makan malamnya itu ke meja di depan tivi. Dia pun makan dengan lahap sambil menonton film.

Setelah makan, dia tetap duduk santai di sana. Dia tidak perlu kembali ke dapur karena masih ada air mineral botolan di atas meja di depannya. Saat itu jam telah menunjukkan pukul sebelas lewat. Setahunya, perbedaan waktu antara Jakarta dan London adalah tujuh jam. Berarti di London sudah pukul empat sore. Miranda pun memutuskan menelepon Bima.

 Dia berdiri. Dambilnya ponsel yang sedang dicas di atas meja dekat tivi. Dibukanya daftar kontak lalu diketiknya nama Bima. Muncullah nomor yang tadi diberikan Tante Mirna. Langsung ditekannya tombol panggil. Bunyi nada dering pun terdengar.

“Halo?!” terdengar suara laki-laki.

“Ini Bima?” tanya Miranda.

“Iya. Ini siapa?” tanya laki-laki itu balik, yang ternyata memang Bima.

“Ini Miranda, anaknya Tante Ratna, teman ibumu,” kata Miranda menjelaskan secara singkat tapi padat dan lengkap, agar obrolan mereka tidak berlarut-larut.

Bima terdiam sejenak, mungkin sedang berpikir, mengingat-ingat sesuatu.

“Kau dan ibumu pernah datang ke Perth di pemakaman ibuku,” kata Miranda menambahkan agar dapat memudahkan Bima mengingat dan mengenalinya.

“Oh iya!” katanya tersentak. “Bukankah Mbak Miranda sedang di Australia? Kenapa nomornya nomor Indonesia, ya?” tanyanya heran.

“Mbak tidak lagi di Australia. Sekarang sudah kembali ke Jakarta,” jawab Miranda tenang. “Ini menelepon dari Jakarta,” tambahnya.

“Oh begitu. Mbak kembali ke Jakarta gara-gara Tante Ratna meninggal, ya?” tanya Bima lagi.

Tapi nada suaranya tidak terdengar benar-benar ingin tahu. Sepertinya dia hanya berbasa basi.

“Salah satu alasannya, ya, itu. Tapi ada alasan lain. Termasuk yang akan Mbak tanyakan padamu sekarang,” jawab Miranda langsung menunjukkan maksudnya.

“Mbak ingin menanyakan apa?” timbal Bima malah bertanya dengan suara tenang.

“Menanyakan tentang Vania,” jawab Miranda langsung ke pokok persoalan.

Terdengar suara tercekat di seberang sana. Bima tidak langsung menanggapi. Namun Miranda tahu panggilan telepon itu masih tersambung karena dia masih bisa mendengar suara napas berat Bima di headset-nya. Lebih dari semenit kemudian Bima belum juga bersuara. Kesenyapan itu pun terasa sangat lama. Walaupun tidak menjawab, Bima juga tidak menutup panggilan.

“Sepertinya ada kesalahpahaman antara kalian berdua,” kata Miranda yang akhirnya memecah kesunyian itu.

Bima tidak langsung menanggapi. Namun beberapa detik kemudian terdengar juga suaranya.

“Apa maksud Mbak?”

“Kira-kira kamu tahu tidak apa yang sedang dihadapi Vania saat ini?” jawab Miranda  dengan pertanyaan, memcoba mencari tahu apakah Bima mengetahui kondisi Vania saat ini atau tidak.

Bima kembali bungkam. Sepertinya nama Vania telah menjelma menjadi pisau belati yang sangat tajam, lalu dengan begitu tega mengiris-iris, merobek-robek, hingga mencacah-cacah hatinya hingga menjadi potongan-potongan kecil. Sakitnya sangat perih. Apakah potongan-potongan itu bisa disatukan lagi, Bima tidak tahu.

Merasa sulit membuat Bima berbicara, Miranda pun memilih menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Vania.

“Bundanya Vania meninggal tepat ketika kamu berangkat ke London.”

“Apa?!!!” pekik Bima di seberang sana.

Dari nada suaranya itu, dia benar-benar terkejut mendengar berita yang barusan disampaikan Miranda. Berarti dia benar-benar tidak tahu apa yang telah menimpa Vania.

“Itulah kenapa dia tidak mengirimimu pesan atau menemuimu ke bandara,” ujar Miranda kemudian menambahkan.

Bima masih bungkam. Mungkin butuh waktu baginya mencerna kabar yang sangat mengejutkan itu.

Miranda tahu kalau Bima menyimak. Dia mungkin hanya belum mampu untuk berkata-kata. Tidak ada pilihan lain, Miranda harus bercerita walau tidak ditanya.

“Dia bukan mengabaikanmu. Tapi dia sedang mendapatkan musibah,” lanjutnya.

“Tapi kenapa dia tidak mengatakan apa-apa? Kenapa dia tidak mengatakan sesuatu sehari sebelum aku berangkat? Kenapa dia tidak menulis pesan sesingkat mungkin sebelum aku berangkat? Kenapa dia tidak memberitahuku tentang musibah itu?” Akhirnya Bima menimpali lagi.

“Kamu tidak boleh egois seperti itu.,” timpal Miranda dengan suara lembut. Dia sedang tidak berusaha menghakimi, tapi menenangkan Bima.

Bima tidak langsung menjawab. Sepertinya dia tipe orang yang berpikir dulu sebelum berbicara.

“Aku tidak egois. Aku hanya ingin tahu jawabannya. Iya atau tidak, sama saja bagiku, yang penting ada jawaban. Walaupun mungkin kata ‘tidak’ terasa sedikit lebih menyakitkan.”

Bima terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan, “Tapi kalau tidak dijawab sama sekali rasanya sangat jauh berbeda. Sakitnya tidak terbayangkan. Rasanya, sakit itu sangat sulit untuk diobati.”

Miranda senyum-senyum sendiri mendengar ungkapan perasaan Bima yang terdengar sedikit berlebihan. Tapi tetap saja dia berusaha menyikapi dengan bijak.

“Dia punya alasan kenapa tidak menjawab pertanyaanmu,” katanya mulai memberi alasan.

Bima kembali terdiam. Baru beberapa detik kemudian dia kembali bersuara.

“Apa alasannya?”

Miranda langsung menanggapi, “Karena dia punya ikrar pada Bunda Karin.”

“Ikrar?! Ikrar apa?!” tanya Bima dengan nada tinggi.

Sepertinya dia makin bingung dengan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

“Vania telah berikrar pada Bunda Karin untuk tidak berpacaran sebelum menikah,” kata Miranda menjawab pelan agar Bima tidak bertanya lagi.

“Kenapa dia tidak sampaikan saja itu semua waktu terakhir kami bertemu. Aku bisa menerima, kok. Tapi nyatanya dia diam saja,” timpal Bima terdengar masih memprotes tindakan Vania.

“Kondisinya waktu itu tidak memungkinkan. Menjelang keberangkatanmu, dia dihadapkan pada dilema besar. Dia sebenarnya juga menyukaimu. Namun dia belum bisa menyampaikannya padamu sebelum menanyakannya pada Bunda Karin dan mendapat tanggapan dari bundanya itu. Sayangnya, bundanya mendapat musibah di malam harinya. Lalu di hari ketika kalian berangkat ke London, bundanya meninggal dunia,” kata Miranda menjelaskan dengan suara bergetar.

Parahnya lagi, musibah itu disebabkan olehku, katanya dalam hati. Tentu itu tidak disampaikannya pada Bima. Menceritakan itu sama saja menghadirkan rasal sesal luar biasa yang coba dikuburnya. Sakitnya juga terasa luar biasa.

“Dari mana Mbak tahu itu semua?”

“Karena aku hadir di sana waktu kejadian.” Suara Miranda tercekat.

Dia harus menarik napas dalam-dalam agar bisa melanjutkan, “Aku juga setiap hari harus menyaksikan Vania yang selalu murung. Dia benar-benar kehilangan semangat hidup. Sejak kejadian itu hingga sekarang.”

“Kenapa dia masih saja murung sampai sekarang? Bukankah bundanya meninggal sudah cukup lama?” tanya Bima polos seperti benar-benar belum memahami situasi yang sebenarnya.

“Itu karena dia selalu memikirkanmu. Dia menyesal tidak menjawab pertanyaanmu. Dia menyesal tidak mengungkapkan isi hatinya.” jawab Miranda agak tinggi.

Tidak ada tanggapan dari Bima.

“Kamu masih belum paham juga apa masalahnya sekarang?” tanya Miranda dengan agak kesal.

Bima tidak langsung menjawab. Sepertinya dia sedang berpikir keras. Mungkin lebih satu menit kemudian dia baru menjawab,

“Iya, Mbak. Aku paham.”

“Terserah seperti apa pun perasaanmu kini pada Vania. Mbak minta tolong. Tolong kamu hubungi dia. Minimal menyapa atau menanyakan kabarnya. Siapa tahu itu dapat sedikit mengurangi penderitaannya. Siapa tahu itu bisa mengurangi kemurungannya. Siapa tahu itu dapat membuatnya kembali bersemangat dan ceria,” kata Miranda lebih tegas. Itu sebenarnya lebih terdengar ancaman daripada permintaan tolong.

Bima terdiam cukup lama. Entah apa yang dipikirkannya kali ini. Tidak lama kemudian dia pun menanggapi.

“Baiklah, Mbak. Akan kucoba. Tapi aku tidak berjanji apakah dengan menghubunginya nanti dapat mengembalikan lagi semangatnya.”

“Mbak juga tidak tahu. Yang terpikir oleh Mbak sekarang ini, ya, hanya itu. Kamu tidak mau melihat Vania menderita berkepanjangan seperti itu, bukan?”

Miranda tidak tahu apakah ucapannya itu berlebihan atau tidak. Dia juga tidak tahu apakah mengatakan itu bisa menjadi solusi untuk kembali membuat Vania bersemangat. Tapi setidaknya dia harus melakukan sesuatu. Saat ini, itulah yang terbersit di benaknya.

Bima tidak menjawab. Dia tetap diam membisu. Bagaimanapun, umumnya diam itu bermakna iya. Itu artinya dia masih peduli dengan Vania. Atau mungkin juga dia masih mencintai gadis itu. Sayangnya, obrolan lewat telepon itu belum menampakkan tanda-tanda ke arah sana. Entah karena dia sudah teramat sangat kecewa, atau memang dia sudah tidak mau lagi mengumbar perasaaannya.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar