Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Selesai berendam selama kurang
lebih lima sepuluh menit dan membersihkan badan dengan sabur cair, Miranda
langsung mengenakan piyama panjang dan tebal yang tergantung di dekat pintu.
Dia lalu keluar dan berjalan menuju dapur. Diperiksanya isi kulkas yang bisa
dimasak secara instan.
Rupanya tidak banyak pilihan
karena dia memang jarang berbelanja bahan dapur. Diambilnya telur, sawi, dan
wortel. Telur didadarnya. Sementara sawi dan wortel direbusnya dalam satu
wadah. Wortel dimasukkannya lebih dulu, tiga menit kemudian menyusul sawi.
Tidak sampai lima belas menit,
semua masakan itu siap disantap. Di dalam alat pemanas nasi masih tersedia nasi
untuk porsi sekali makan. Dipindahkannya nasi itu ke piring. Telur goreng tadi
diletakkannya di atas nasi itu. Dia lalu melumuri telur dengan sambel super
pedas botolan. Sawi dan wortel rebus diletakkannya di tepian piring. Dia
membawa piring berisi menu makan malamnya itu ke meja di depan tivi. Dia pun
makan dengan lahap sambil menonton film.
Setelah makan, dia tetap duduk
santai di sana. Dia tidak perlu kembali ke dapur karena masih ada air mineral
botolan di atas meja di depannya. Saat itu jam telah menunjukkan pukul sebelas
lewat. Setahunya, perbedaan waktu antara Jakarta dan London adalah tujuh jam.
Berarti di London sudah pukul empat sore. Miranda pun memutuskan menelepon
Bima.
Dia berdiri. Dambilnya ponsel yang sedang
dicas di atas meja dekat tivi. Dibukanya daftar kontak lalu diketiknya nama
Bima. Muncullah nomor yang tadi diberikan Tante Mirna. Langsung ditekannya
tombol panggil. Bunyi nada dering pun terdengar.
“Halo?!” terdengar suara
laki-laki.
“Ini Bima?” tanya Miranda.
“Iya. Ini siapa?” tanya
laki-laki itu balik, yang ternyata memang Bima.
“Ini Miranda, anaknya Tante
Ratna, teman ibumu,” kata Miranda menjelaskan secara singkat tapi padat dan
lengkap, agar obrolan mereka tidak berlarut-larut.
Bima terdiam sejenak, mungkin
sedang berpikir, mengingat-ingat sesuatu.
“Kau dan ibumu pernah datang
ke Perth di pemakaman ibuku,” kata Miranda menambahkan agar dapat memudahkan
Bima mengingat dan mengenalinya.
“Oh iya!” katanya tersentak.
“Bukankah Mbak Miranda sedang di Australia? Kenapa nomornya nomor Indonesia,
ya?” tanyanya heran.
“Mbak tidak lagi di Australia.
Sekarang sudah kembali ke Jakarta,” jawab Miranda tenang. “Ini menelepon dari
Jakarta,” tambahnya.
“Oh begitu. Mbak kembali ke
Jakarta gara-gara Tante Ratna meninggal, ya?” tanya Bima lagi.
Tapi nada suaranya tidak
terdengar benar-benar ingin tahu. Sepertinya dia hanya berbasa basi.
“Salah satu alasannya, ya,
itu. Tapi ada alasan lain. Termasuk yang akan Mbak tanyakan padamu sekarang,”
jawab Miranda langsung menunjukkan maksudnya.
“Mbak ingin menanyakan apa?”
timbal Bima malah bertanya dengan suara tenang.
“Menanyakan tentang Vania,”
jawab Miranda langsung ke pokok persoalan.
Terdengar suara tercekat di
seberang sana. Bima tidak langsung menanggapi. Namun Miranda tahu panggilan
telepon itu masih tersambung karena dia masih bisa mendengar suara napas berat
Bima di headset-nya. Lebih dari
semenit kemudian Bima belum juga bersuara. Kesenyapan itu pun terasa sangat
lama. Walaupun tidak menjawab, Bima juga tidak menutup panggilan.
“Sepertinya ada kesalahpahaman
antara kalian berdua,” kata Miranda yang akhirnya memecah kesunyian itu.
Bima tidak langsung
menanggapi. Namun beberapa detik kemudian terdengar juga suaranya.
“Apa maksud Mbak?”
“Kira-kira kamu tahu tidak apa
yang sedang dihadapi Vania saat ini?” jawab Miranda dengan pertanyaan, memcoba mencari tahu
apakah Bima mengetahui kondisi Vania saat ini atau tidak.
Bima kembali bungkam.
Sepertinya nama Vania telah menjelma menjadi pisau belati yang sangat tajam,
lalu dengan begitu tega mengiris-iris, merobek-robek, hingga mencacah-cacah
hatinya hingga menjadi potongan-potongan kecil. Sakitnya sangat perih. Apakah potongan-potongan
itu bisa disatukan lagi, Bima tidak tahu.
Merasa sulit membuat Bima
berbicara, Miranda pun memilih menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada
Vania.
“Bundanya Vania meninggal
tepat ketika kamu berangkat ke London.”
“Apa?!!!” pekik Bima di
seberang sana.
Dari nada suaranya itu, dia
benar-benar terkejut mendengar berita yang barusan disampaikan Miranda. Berarti
dia benar-benar tidak tahu apa yang telah menimpa Vania.
“Itulah kenapa dia tidak
mengirimimu pesan atau menemuimu ke bandara,” ujar Miranda kemudian
menambahkan.
Bima masih bungkam. Mungkin
butuh waktu baginya mencerna kabar yang sangat mengejutkan itu.
Miranda tahu kalau Bima
menyimak. Dia mungkin hanya belum mampu untuk berkata-kata. Tidak ada pilihan
lain, Miranda harus bercerita walau tidak ditanya.
“Dia bukan mengabaikanmu. Tapi
dia sedang mendapatkan musibah,” lanjutnya.
“Tapi kenapa dia tidak
mengatakan apa-apa? Kenapa dia tidak mengatakan sesuatu sehari sebelum aku
berangkat? Kenapa dia tidak menulis pesan sesingkat mungkin sebelum aku
berangkat? Kenapa dia tidak memberitahuku tentang musibah itu?” Akhirnya Bima
menimpali lagi.
“Kamu tidak boleh egois
seperti itu.,” timpal Miranda dengan suara lembut. Dia sedang tidak berusaha
menghakimi, tapi menenangkan Bima.
Bima tidak langsung menjawab.
Sepertinya dia tipe orang yang berpikir dulu sebelum berbicara.
“Aku tidak egois. Aku hanya
ingin tahu jawabannya. Iya atau tidak, sama saja bagiku, yang penting ada
jawaban. Walaupun mungkin kata ‘tidak’ terasa sedikit lebih menyakitkan.”
Bima terdiam sejenak sebelum
kembali melanjutkan, “Tapi kalau tidak dijawab sama sekali rasanya sangat jauh
berbeda. Sakitnya tidak terbayangkan. Rasanya, sakit itu sangat sulit untuk
diobati.”
Miranda senyum-senyum sendiri
mendengar ungkapan perasaan Bima yang terdengar sedikit berlebihan. Tapi tetap
saja dia berusaha menyikapi dengan bijak.
“Dia punya alasan kenapa tidak
menjawab pertanyaanmu,” katanya mulai memberi alasan.
Bima kembali terdiam. Baru
beberapa detik kemudian dia kembali bersuara.
“Apa alasannya?”
Miranda langsung menanggapi,
“Karena dia punya ikrar pada Bunda Karin.”
“Ikrar?! Ikrar apa?!” tanya
Bima dengan nada tinggi.
Sepertinya dia makin bingung
dengan apa sebenarnya yang sedang terjadi.
“Vania telah berikrar pada
Bunda Karin untuk tidak berpacaran sebelum menikah,” kata Miranda menjawab
pelan agar Bima tidak bertanya lagi.
“Kenapa dia tidak sampaikan
saja itu semua waktu terakhir kami bertemu. Aku bisa menerima, kok. Tapi
nyatanya dia diam saja,” timpal Bima terdengar masih memprotes tindakan Vania.
“Kondisinya waktu itu tidak
memungkinkan. Menjelang keberangkatanmu, dia dihadapkan pada dilema besar. Dia
sebenarnya juga menyukaimu. Namun dia belum bisa menyampaikannya padamu sebelum
menanyakannya pada Bunda Karin dan mendapat tanggapan dari bundanya itu.
Sayangnya, bundanya mendapat musibah di malam harinya. Lalu di hari ketika
kalian berangkat ke London, bundanya meninggal dunia,” kata Miranda menjelaskan
dengan suara bergetar.
Parahnya lagi, musibah itu disebabkan olehku, katanya dalam hati. Tentu itu tidak disampaikannya pada
Bima. Menceritakan itu sama saja menghadirkan rasal sesal luar biasa yang coba
dikuburnya. Sakitnya juga terasa luar biasa.
“Dari mana Mbak tahu itu
semua?”
“Karena aku hadir di sana
waktu kejadian.” Suara Miranda tercekat.
Dia harus menarik napas
dalam-dalam agar bisa melanjutkan, “Aku juga setiap hari harus menyaksikan
Vania yang selalu murung. Dia benar-benar kehilangan semangat hidup. Sejak
kejadian itu hingga sekarang.”
“Kenapa dia masih saja murung
sampai sekarang? Bukankah bundanya meninggal sudah cukup lama?” tanya Bima
polos seperti benar-benar belum memahami situasi yang sebenarnya.
“Itu karena dia selalu
memikirkanmu. Dia menyesal tidak menjawab pertanyaanmu. Dia menyesal tidak
mengungkapkan isi hatinya.” jawab Miranda agak tinggi.
Tidak ada tanggapan dari Bima.
“Kamu masih belum paham juga
apa masalahnya sekarang?” tanya Miranda dengan agak kesal.
Bima tidak langsung menjawab.
Sepertinya dia sedang berpikir keras. Mungkin lebih satu menit kemudian dia
baru menjawab,
“Iya, Mbak. Aku paham.”
“Terserah seperti apa pun
perasaanmu kini pada Vania. Mbak minta tolong. Tolong kamu hubungi dia. Minimal
menyapa atau menanyakan kabarnya. Siapa tahu itu dapat sedikit mengurangi
penderitaannya. Siapa tahu itu bisa mengurangi kemurungannya. Siapa tahu itu
dapat membuatnya kembali bersemangat dan ceria,” kata Miranda lebih tegas. Itu
sebenarnya lebih terdengar ancaman daripada permintaan tolong.
Bima terdiam cukup lama. Entah
apa yang dipikirkannya kali ini. Tidak lama kemudian dia pun menanggapi.
“Baiklah, Mbak. Akan kucoba.
Tapi aku tidak berjanji apakah dengan menghubunginya nanti dapat mengembalikan
lagi semangatnya.”
“Mbak juga tidak tahu. Yang
terpikir oleh Mbak sekarang ini, ya, hanya itu. Kamu tidak mau melihat Vania
menderita berkepanjangan seperti itu, bukan?”
Miranda tidak tahu apakah ucapannya itu berlebihan atau tidak. Dia juga tidak tahu apakah mengatakan itu bisa menjadi solusi untuk kembali membuat Vania bersemangat. Tapi setidaknya dia harus melakukan sesuatu. Saat ini, itulah yang terbersit di benaknya.
Bima tidak menjawab. Dia tetap diam membisu. Bagaimanapun, umumnya diam itu bermakna iya. Itu artinya dia masih peduli dengan Vania. Atau mungkin juga dia masih mencintai gadis itu. Sayangnya, obrolan lewat telepon itu belum menampakkan tanda-tanda ke arah sana. Entah karena dia sudah teramat sangat kecewa, atau memang dia sudah tidak mau lagi mengumbar perasaaannya.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.