Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 47. Hujan di Musim Kemarau

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 47. Hujan di Musim Kemarau
_______________________________________

Bagi Vania, minggu pagi ini sudah tidak sama lagi dengan minggu pagi sebelum-sebelumnya. Tidak ada lagi agenda jalan-jalan ke tempat wisata. Bukan karena ayahnya tidak menawari atau mengajak ke sana, melainkan karena dia sudah tidak berminat dengan hal-hal seperti itu. Jalan-jalan di akhir pekan hanya akan mengingatkannya pada Bunda Karin. Itu hanya akan membuatnya kembali sedih. Hatinya akan semakin perih. Celakanya, itu tidak ada obatnya sama sekali, setidaknya, hingga saat ini.

Sudah hampir sejam dia menatap kosong ke arah catatan-catatan pelajaran di atas meja belajarnya. Dia tidak berniat sama sekali untuk membaca catatan-catatan itu walaupun besok adalah hari pertama ujian semester kedua. Rangkaian huruf-huruf itu makin tidak menarik karena ditulis secara asal-asalan dengan pena satu warna.

Tulisan di catatan itu tidak jelas sehingga perlu upaya keras untuk memahami kata, frasa, maupun kalimat yang ada di sana. Banyak bagian yang terlihat kosong, baik berupa ruang kosong antar kata yang sengaja dikosongkan, kotak kosong, lingkaran kosong, maupun berupa titik-titik panjang tanpa kata-kata. Tanda tanya terlihat di atas beberapa kata, yang sepertinya si pencatat tidak terlalu yakin dengan kata-kata yang ditulisnya. Mungkin saja ketika itu dia salah menyimak penjelasan guru.

Padahal, dua bulan yang lalu, catatan yang bentuknya sangat merusak pemandangan itu belum pernah ada di buku catatannya dan tidak pernah terbayang akan dibuat olehnya. Dia memiliki jiwa seni yang tinggi. Matanya sangat menyukai keindahan. Begitu pun dengan catatan pelajaran sekolah, harus selalu terlihat indah. Oleh karena itu, dia selalu membuat catatan-catatan yang indah.

Sebelum momen kehilangan menimpanya, dia selalu membuat catatan yang sangat artistik menggunakan pulpen berbagai macam warna. Setiap huruf ditulis dengan sangat rapi serta dengan liukan-liukan bernilai seni. Kata-kata penting ditebalkan atau ditandai dengan sangat menarik. Simbol-simbol cantik dan penuh makna bertebaran melengkapi kata, frasa, atau kalimat. Panah penghubung dibuat dengan berbagai macam warna, bukan hanya untuk menambah keindahan, melainkan juga untuk lebih memudahkan memahami keterkaitan antar bagian yang ada.

Dengan begitu, dia tahan berjam-jam membaca dan mempelajari catatan itu setiap malam. Dengan cepat dia mampu menguasainya. Itulah strategi yang mengantarkannya menjadi juara kelas di  semester kemaren.

Akan tetapi, melihat penampakan catatan di hadapannya sekarang, perutnya langsung mual dan mulas sehingga menjadi malas. Ditambah pula suasana hatinya yang masih saja sakit tak terperih. Semakin dia tidak bersemangat untuk belajar.

Dia pun melemparkan tubuhnya ke tempat tidur, lebih memilih untuk pasrah daripada berusaha. Terserah apapun yang terjadi esok hari. Terserah seperti apa pun hasil ujian nanti. Dia memilih untuk tidak peduli. Hasil ujian itu tidak akan memiliki banyak arti. Tidak akan mampu menggantikan apa yang sudah hilang dari hati.

Matanya hendak terkatup, sebelum tiba-tiba ponselnya berdering. Dia tersentak kaget lalu langsung duduk di tempat tidur. Dengan malas-malasan diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja belajar. Diperiksanya layar ponsel itu. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal. Nomornya aneh karena angka-angka awal jauh berbeda dengan nomor-nomor yang disimpannya di memori ponsel. Mungkin itu nomor operator baru, batinnya.

Panggilan itu diabaikannya begitu saja. Dilemparkannya  ponsel itu di atas kasur di sampingnya. Kembali dia membaringkan tubuh. Namun ponsel itu kembali berdering. Nomor aneh itu muncul lagi.

Setelah deringan itu berhenti sekitar satu menit, muncul deringan berikutnya. Dari nomor yang sama. Deringan dan nomor itu muncul lagi berkali-kali hingga tujuh kali.

Merasa sangat kesal, dia pun mengangkatnya,  hendak mendamprat orang iseng itu. Setelah meletakkan ponsel di dekat telinga dan hendak mengumpat, terdengarlah suara yang tidak asing baginya.

“Halo! Kamu apa kabar?” kata si penelepon. Itu suara laki-laki.

Vania mengenali suara itu. Darahnya berdesir. Jantungnya secara tiba-tiba berdetak lebih cepat. Napasnya langsung tertahan di tenggorokan. Dia tak mampu berkata-kata. Niatnya langsung berubah. Tidak mungkin dia mendamprat laki-laki di telpon ini.

“Eeh... ka... ka... kabarku ba.. ba... ik,” katanya tergagap-gagap.

“Sudah lama aku tidak mendengar suaramu,” kata laki-laki di telepon itu melanjutkan.

“Iii...ii... iiiyaa...” balas Vania masih tergagap-gagap.

“Kamu kenapa terdengar gugup begitu? Kamu sedang sakit?” tanya laki-laki itu terdengar khawatir.

“Eeengg... gaakk... Aaaa.. aku... aku... hanya...”

“Hanya apa? Kamu sedang buang air besar, ya?” tanya laki-laki itu polos.

“Tidak sopan tahu, mengangkat telepon di toilet. Baunya sampai ke sini,” lanjutnya lagi sambil tertawa.

“Buuuukaaan!!!” teriak Vania. “Aku sedang di kamar, mau belajar untuk besok,” lanjutnya terdengar geram. Tiba-tiba suaranya menjadi lebih lancar dan tegas.

“Oh, begitu. Berarti aku mengganggumu, ya? Maaf kalau begitu. Aku telepon lagi setelah kamu ujian saja. Kapan kamu selesai ujian?” Suara laki-laki itu kembali terdengar lembut.

Vania malah terlihat panik. “Enggak apa-apa. Kamu tidak mengganggu sama sekali. Tidak apa-apa kamu menelpon sekarang. Belajarnya sudah selesai kok. Baru saja selesai sebelum kamu menelepon tadi.”

“Oh. Bagaimana kalau kita pakai panggilan video saja. Aku rindu melihat wajahmu. Sangaaat rinduuu,” kata laki-laki itu terdengar agak iseng.

Vania ingin menjawab, ‘Sama. Aku juga rindu sangat.’ Namun segera diurungkannya. Dia tidak boleh terdengar murahan di telinga laki-laki itu. Namun, dia juga tidak memiliki alasan untuk menolak tawaran darinya. Justru perasaaannya melambung tinggi ke langit ketujuh mendengar usulan itu.

Panggilan diakhiri.

Setelah itu, ponsel Vania kembali berdering. Muncul panggilan video di layar ponsel. Dia langsung menerimanya.

Nampaklah wajah laki-laki di seluruh layar ponsel. Wajah itu sempat menghilang selama beberapa bulan dan membawa seluruh semangat hidup Vania bersamanya.

Ribuan pertanyaan bermunculkan di benak Vania. Kenapa laki-laki ini tiba-tiba menghubungi setelah selama ini menghilang tanpa jejak? Tanyanya dalam hati.

“Kamu apa kabar, Bim?” tanya Vania akhirnya memberanikan diri. Tampaknya dia sudah mulai bisa menguasai diri. Gemuruh jantungnya sudah mulai mereda. Napasnya yang sempat tersengal-sengal kembali normal.

Bima tersenyum. “Aku baik-baik saja kok,” jawabnya lembut. “Maaf, ya, baru menghubungimu sekarang.”

Raut wajah Vania langsung berubah ceria. Entah ke mana semangat hidupnya menghilang selama ini. Yang pasti sekarang, semangat hidup itu tiba-tiba muncul kembali, meresap masuk ke dalam dirinya, lalu menyebar ke setiap sel di seluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Aku minta maaf, ya, karena telah mengabaikanmu selama ini, justru ketika kamu sedang menghadapi banyak masalah. Aku benar-benar tidak tahu kalau Bunda Karin meninggal dunia,” kata Bima tampak sedih dan menyesal.

Vania tidak tahu harus menjawab apa. Dia diam saja sambil menyimak.

“Aku baru tahu semuanya beberapa hari lalu,” lanjut Bima.

Vania mengernyitkan dahi. “Tahu dari siapa?” tanyanya penasaran.

“Dari Tante Miranda,” jawab Bima mantap.

“Hah! Kamu kenal Tante Miranda?!” pekik Vania kaget.

“Kenapa kamu kaget begitu?” timpal Bima heran.

“Kok kamu bisa tahu Tante Miranda?” jawab Vania balik bertanya.

Bima terlihat kesal. “Berarti kamu tidak menyimak waktu aku memberi hadiah dari Australia?”

Vania tampak mengingat-ingat, lalu tersenyum malu-malu.

“Waktu itu aku sempat bercerita kalau aku dan Mama baru pulang menghadiri pemakaman teman Mama di Ausralia,” kata Bima melanjutkan.

“Aku lupa bagian itu, he he,” timpal Vania sambil terkekeh.

“Itu pemakaman ibunya Tante Miranda!”

“Hah!” Vania kaget lagi.

Bima mengerutkan kening.

“Oooohhh... Aku baru mengerti,” kata Vania malu-malu.

“Tuh, kan. Berarti kamu tidak menyimak waktu itu.” Bima masih tampak kesal.

“Iya. Kamu benar. Maaf.” Tampak wajah Vania memelas penuh rasa bersalah.

 “Iya tidak apa-apa.” Kali ini Bima tersenyum menenangkan.

Setelah itu mereka pun mengobrolkan banyak hal. Vania banyak bertanya tentang keadaan di London dengan menggebu-gebu. Bima pun sangat senang menjawabnya. Dengan bangga dia menceritakan pengalaman-pengalaman barunya di sana. Mereka pun sesekali tertawa ceria. Kesedihan Vania lenyap begitu saja.

“Kamu belajar yang rajin, ya. Semoga ujianmu besok lancar,” ucap Bima sebelum mengakhiri panggilan video itu.

“Terima kasih, ya, Bim,” balas Vania sambil terus tersenyum.

“Sama-sama. Dah!”

“Dah!”

Panggilan pun berakhir.

Vania masih saja memandangi layar ponsel yang sudah berubah hitam itu. Wajah Bima sudah lenyap dari layarnya. Namun di mata Vania, wajah itu masih terpampang jelas di sana. Dia kemudian terlihat senyum-senyum sendiri. Dipeluknya ponsel itu dengan erat sambil memejamkan mata. Ketika mata itu terbuka, bola matanya terlihat berbinar-binar.

 Ekspresi lesu, sedih, kusut, dan tidak bersemangat yang senantiasa menghiasi wajahnya selama ini tiba-tiba lenyap begitu saja. Itu bisa diibaratkan seperti tanah kering kerontang selama setahun berubah dalam sekejap saat ditimpa hujan sehari. Kemunculan wajah Bima di ponsel itu sudah menjadi guyuran hujan di hatimya yang nyaris tandus.

Dia segera bangun dari tempat tidur dan kembali duduk di belakang meja belajarnya. Diambilnya kembali kertas-kertas berisi catatan amburadul tadi yang berserakan di lantai kamar. Dibacanya kembali catatan-catatan itu dengan sangat serius dan penuh semangat.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar