Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sudah hampir sejam dia menatap
kosong ke arah catatan-catatan pelajaran di atas meja belajarnya. Dia tidak
berniat sama sekali untuk membaca catatan-catatan itu walaupun besok adalah
hari pertama ujian semester kedua. Rangkaian huruf-huruf itu makin tidak
menarik karena ditulis secara asal-asalan dengan pena satu warna.
Tulisan di catatan itu tidak
jelas sehingga perlu upaya keras untuk memahami kata, frasa, maupun kalimat
yang ada di sana. Banyak bagian yang terlihat kosong, baik berupa ruang kosong
antar kata yang sengaja dikosongkan, kotak kosong, lingkaran kosong, maupun
berupa titik-titik panjang tanpa kata-kata. Tanda tanya terlihat di atas
beberapa kata, yang sepertinya si pencatat tidak terlalu yakin dengan kata-kata
yang ditulisnya. Mungkin saja ketika itu dia salah menyimak penjelasan guru.
Padahal, dua bulan yang lalu,
catatan yang bentuknya sangat merusak pemandangan itu belum pernah ada di buku
catatannya dan tidak pernah terbayang akan dibuat olehnya. Dia memiliki jiwa
seni yang tinggi. Matanya sangat menyukai keindahan. Begitu pun dengan catatan
pelajaran sekolah, harus selalu terlihat indah. Oleh karena itu, dia selalu
membuat catatan-catatan yang indah.
Sebelum momen kehilangan
menimpanya, dia selalu membuat catatan yang sangat artistik menggunakan pulpen
berbagai macam warna. Setiap huruf ditulis dengan sangat rapi serta dengan
liukan-liukan bernilai seni. Kata-kata penting ditebalkan atau ditandai dengan
sangat menarik. Simbol-simbol cantik dan penuh makna bertebaran melengkapi
kata, frasa, atau kalimat. Panah penghubung dibuat dengan berbagai macam warna,
bukan hanya untuk menambah keindahan, melainkan juga untuk lebih memudahkan
memahami keterkaitan antar bagian yang ada.
Dengan begitu, dia tahan
berjam-jam membaca dan mempelajari catatan itu setiap malam. Dengan cepat dia
mampu menguasainya. Itulah strategi yang mengantarkannya menjadi juara kelas
di semester kemaren.
Akan tetapi, melihat
penampakan catatan di hadapannya sekarang, perutnya langsung mual dan mulas
sehingga menjadi malas. Ditambah pula suasana hatinya yang masih saja sakit tak
terperih. Semakin dia tidak bersemangat untuk belajar.
Dia pun melemparkan tubuhnya
ke tempat tidur, lebih memilih untuk pasrah daripada berusaha. Terserah apapun
yang terjadi esok hari. Terserah seperti apa pun hasil ujian nanti. Dia memilih
untuk tidak peduli. Hasil ujian itu tidak akan memiliki banyak arti. Tidak akan
mampu menggantikan apa yang sudah hilang dari hati.
Matanya hendak terkatup,
sebelum tiba-tiba ponselnya berdering. Dia tersentak kaget lalu langsung duduk
di tempat tidur. Dengan malas-malasan diraihnya ponsel yang tergeletak di atas
meja belajar. Diperiksanya layar ponsel itu. Sebuah panggilan dari nomor tidak
dikenal. Nomornya aneh karena angka-angka awal jauh berbeda dengan nomor-nomor
yang disimpannya di memori ponsel. Mungkin itu nomor operator baru, batinnya.
Panggilan itu diabaikannya
begitu saja. Dilemparkannya ponsel itu
di atas kasur di sampingnya. Kembali dia membaringkan tubuh. Namun ponsel itu
kembali berdering. Nomor aneh itu muncul lagi.
Setelah deringan itu berhenti
sekitar satu menit, muncul deringan berikutnya. Dari nomor yang sama. Deringan
dan nomor itu muncul lagi berkali-kali hingga tujuh kali.
Merasa sangat kesal, dia pun
mengangkatnya, hendak mendamprat orang
iseng itu. Setelah meletakkan ponsel di dekat telinga dan hendak mengumpat,
terdengarlah suara yang tidak asing baginya.
“Halo! Kamu apa kabar?” kata
si penelepon. Itu suara laki-laki.
Vania mengenali suara itu.
Darahnya berdesir. Jantungnya secara tiba-tiba berdetak lebih cepat. Napasnya
langsung tertahan di tenggorokan. Dia tak mampu berkata-kata. Niatnya langsung
berubah. Tidak mungkin dia mendamprat laki-laki di telpon ini.
“Eeh... ka... ka... kabarku
ba.. ba... ik,” katanya tergagap-gagap.
“Sudah lama aku tidak
mendengar suaramu,” kata laki-laki di telepon itu melanjutkan.
“Iii...ii... iiiyaa...” balas
Vania masih tergagap-gagap.
“Kamu kenapa terdengar gugup
begitu? Kamu sedang sakit?” tanya laki-laki itu terdengar khawatir.
“Eeengg... gaakk... Aaaa..
aku... aku... hanya...”
“Hanya apa? Kamu sedang buang
air besar, ya?” tanya laki-laki itu polos.
“Tidak sopan tahu, mengangkat
telepon di toilet. Baunya sampai ke sini,” lanjutnya lagi sambil tertawa.
“Buuuukaaan!!!” teriak Vania.
“Aku sedang di kamar, mau belajar untuk besok,” lanjutnya terdengar geram.
Tiba-tiba suaranya menjadi lebih lancar dan tegas.
“Oh, begitu. Berarti aku
mengganggumu, ya? Maaf kalau begitu. Aku telepon lagi setelah kamu ujian saja.
Kapan kamu selesai ujian?” Suara laki-laki itu kembali terdengar lembut.
Vania malah terlihat panik.
“Enggak apa-apa. Kamu tidak mengganggu sama sekali. Tidak apa-apa kamu menelpon
sekarang. Belajarnya sudah selesai kok. Baru saja selesai sebelum kamu
menelepon tadi.”
“Oh. Bagaimana kalau kita
pakai panggilan video saja. Aku rindu melihat wajahmu. Sangaaat rinduuu,” kata
laki-laki itu terdengar agak iseng.
Vania ingin menjawab, ‘Sama.
Aku juga rindu sangat.’ Namun segera diurungkannya. Dia tidak boleh terdengar
murahan di telinga laki-laki itu. Namun, dia juga tidak memiliki alasan untuk
menolak tawaran darinya. Justru perasaaannya melambung tinggi ke langit ketujuh
mendengar usulan itu.
Panggilan diakhiri.
Setelah itu, ponsel Vania
kembali berdering. Muncul panggilan video di layar ponsel. Dia langsung
menerimanya.
Nampaklah wajah laki-laki di
seluruh layar ponsel. Wajah itu sempat menghilang selama beberapa bulan dan
membawa seluruh semangat hidup Vania bersamanya.
Ribuan pertanyaan bermunculkan
di benak Vania. Kenapa laki-laki ini
tiba-tiba menghubungi setelah selama ini menghilang tanpa jejak? Tanyanya
dalam hati.
“Kamu apa kabar, Bim?” tanya
Vania akhirnya memberanikan diri. Tampaknya dia sudah mulai bisa menguasai
diri. Gemuruh jantungnya sudah mulai mereda. Napasnya yang sempat
tersengal-sengal kembali normal.
Bima tersenyum. “Aku baik-baik
saja kok,” jawabnya lembut. “Maaf, ya, baru menghubungimu sekarang.”
Raut wajah Vania langsung
berubah ceria. Entah ke mana semangat hidupnya menghilang selama ini. Yang
pasti sekarang, semangat hidup itu tiba-tiba muncul kembali, meresap masuk ke
dalam dirinya, lalu menyebar ke setiap sel di seluruh tubuhnya, dari ujung kepala
hingga ujung kaki.
“Aku minta maaf, ya, karena
telah mengabaikanmu selama ini, justru ketika kamu sedang menghadapi banyak
masalah. Aku benar-benar tidak tahu kalau Bunda Karin meninggal dunia,” kata
Bima tampak sedih dan menyesal.
Vania tidak tahu harus
menjawab apa. Dia diam saja sambil menyimak.
“Aku baru tahu semuanya
beberapa hari lalu,” lanjut Bima.
Vania mengernyitkan dahi.
“Tahu dari siapa?” tanyanya penasaran.
“Dari Tante Miranda,” jawab
Bima mantap.
“Hah! Kamu kenal Tante
Miranda?!” pekik Vania kaget.
“Kenapa kamu kaget begitu?”
timpal Bima heran.
“Kok kamu bisa tahu Tante
Miranda?” jawab Vania balik bertanya.
Bima terlihat kesal. “Berarti
kamu tidak menyimak waktu aku memberi hadiah dari Australia?”
Vania tampak mengingat-ingat,
lalu tersenyum malu-malu.
“Waktu itu aku sempat
bercerita kalau aku dan Mama baru pulang menghadiri pemakaman teman Mama di
Ausralia,” kata Bima melanjutkan.
“Aku lupa bagian itu, he he,”
timpal Vania sambil terkekeh.
“Itu pemakaman ibunya Tante
Miranda!”
“Hah!” Vania kaget lagi.
Bima mengerutkan kening.
“Oooohhh... Aku baru
mengerti,” kata Vania malu-malu.
“Tuh, kan. Berarti kamu tidak
menyimak waktu itu.” Bima masih tampak kesal.
“Iya. Kamu benar. Maaf.”
Tampak wajah Vania memelas penuh rasa bersalah.
“Iya tidak apa-apa.” Kali ini Bima tersenyum
menenangkan.
Setelah itu mereka pun mengobrolkan banyak hal. Vania banyak
bertanya tentang keadaan di London dengan menggebu-gebu. Bima pun sangat senang
menjawabnya. Dengan bangga dia menceritakan pengalaman-pengalaman barunya di
sana. Mereka pun sesekali tertawa ceria. Kesedihan Vania lenyap begitu saja.
“Kamu belajar yang rajin, ya. Semoga ujianmu besok lancar,”
ucap Bima sebelum mengakhiri panggilan video itu.
“Terima kasih, ya, Bim,” balas Vania sambil terus tersenyum.
“Sama-sama. Dah!”
“Dah!”
Panggilan pun berakhir.
Vania masih saja memandangi layar ponsel yang sudah berubah
hitam itu. Wajah Bima sudah lenyap dari layarnya. Namun di mata Vania, wajah
itu masih terpampang jelas di sana. Dia kemudian terlihat senyum-senyum
sendiri. Dipeluknya ponsel itu dengan erat sambil memejamkan mata. Ketika mata
itu terbuka, bola matanya terlihat berbinar-binar.
Ekspresi lesu, sedih, kusut, dan tidak bersemangat yang senantiasa menghiasi wajahnya selama ini tiba-tiba lenyap begitu saja. Itu bisa diibaratkan seperti tanah kering kerontang selama setahun berubah dalam sekejap saat ditimpa hujan sehari. Kemunculan wajah Bima di ponsel itu sudah menjadi guyuran hujan di hatimya yang nyaris tandus.
Dia segera bangun dari tempat tidur dan kembali duduk di belakang meja belajarnya. Diambilnya kembali kertas-kertas berisi catatan amburadul tadi yang berserakan di lantai kamar. Dibacanya kembali catatan-catatan itu dengan sangat serius dan penuh semangat.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.