Diposting oleh
Feri Noperman
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di meja makan, Miranda terlihat lega melihat Vania. Dia
merasa sangat bahagia karena pada akhirnya bisa melihat kembali senyuman di
bibir gadis remaja itu. Dia masih tidak tahu penyebabnya apa. Tapi itu tidak
masalah. Baginya, dia tidak perlu tahu semua hal yang membuat Vania sedih dan
tidak bersemangat. Yang terpenting adalah dia bisa melakukan sesuatu untuk bisa
melihat gadis itu kembali tersenyum. Seperti pagi ini.
Selesai sarapan, Vania langsung pamit kepada ayahnya dan
juga Miranda. Diliriknya perempuan itu sebentar sebelum meninggalkan meja
makan. Dia langsung memalingkan wajah ketika Miranda balas menatap.
Saat dia keluar rumah, taksi online sudah menunggu di depan pintu pagar. Dia masuk ke kursi
baris kedua. Taksi pun berangkat.
Dia tiba di sekolah masih sangat pagi. Tidak satu pun
terlihat orang selain penjaga sekolah dan satpam di gerbang. Dia memang
berharap menjadi orang pertama yang tiba di sekolah pagi ini.
Rupanya dugaannya keliru. Dia bukanlah orang pertama yang
datang. Saat dia masuk ke kelas, sudah ada perempuan lain di dalam, sedang
duduk sambil membaca buku catatan. Perempuan itu duduk tepat di sebelah
kursinya.
“Berarti dia adalah ....” bisik Vania pada diri sendiri.
Perempuan itu mengangkat wajah dan menatap ke arah Vania.
Tidak salah lagi. Itu adalah...
“Siska?!!!” teriak Vania histeris.
“Vania?!!!” balas Siska tidak kalah kagetnya.
Vania langsung menghambur ke arah Siska yang telah berdiri
dari kursinya. Langsung dipeluknya dengan sangat erat perempuan itu sambil
menangis sesegukan.
“Kenapa kamu menghilang tanpa kabar?” tanyanya dengan
perasaan campur aduk antara senang, marah, kesal, dan benci menjadi satu.
“Maaf,” jawab Siska singkat.
Setelah beberapa saat, mereka pun saling melepaskan pelukan.
Vania menarik napas dalam-dalam sambil terus menatap Siska. Begitu pun dengan
Siska, tampak masih gugup. Mereka berdiam diri sejenak untuk menenangkan diri
sambil mengusap air mata masing-masing.
“Kita belajar dulu, ya. Nanti selesai ujian akan kuceritakan
apa yang telah terjadi selama ini,” usul Siska.
“Benaran kamu mau menceritakan semuanya?!” tanya Vania
memastikan dengan sorot mata tajam ke arah mata Siska.
“Aku janji,” balas Siska sambil mengangkat tangan dan
mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan. Dia pun tersenyum.
Tidak berapa lama kemudian siswa-siswa lain pun mulai
berdatangan dan masuk ke kelas. Hampir semuanya menatap heran ke arah Vania dan
Siska yang sudah berada di dalam kelas dan sangat fokus membaca buku di tangan
masing-masing. Karena selama ini mereka selalu bersikap cuek, tidak satu pun
dari siswa-siswa itu menegur mereka berdua.
Ujian hari itu hanya dua mata pelajaran. Waktu ujian untuk
sesi pagi selesai sebelum tengah hari. Setelah waktu ujian habis, hampir semua
siswa langsung pulang, kecuali Vania dan Siska. Mereka memutuskan untuk
mengobrol di taman belakang kelas seperti kemarin-kemarin.
Banyak sekali pertanyaan yang ingin diajukan Vania pada
Siska. Begitu juga dengan Siska, banyak sekali cerita ajaib yang ingin
disampaikannya pada Vania.
“Kenapa kamu tiba-tiba menghilang?” tanya Vania dengan nada
kesal bercampur marah ketika mereka sudah duduk bersebelahan sambil menatap
kolam.
Siska hanya mampu menunduk dan tampak sedikit ketakutan.
“Ceritanya panjang,” jawabnya singkat.
“Oke. Sekarang ceritakan padaku. Kalau cerita itu cukup
masuk akal, aku akan memaaafkanmu seperti waktu itu. Tapi, kalau tidak masuk
akal, bohong, dan mengada-ada, aku tidak akan memaafkanmu. Aku akan membencimu
selamanya. Ingat, ya, selamaaannyaa!!“ teriak Vania bernada mengancam.
Sebenarnya ancaman itu hanya main-main. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia tidak
akan pernah rela kehilangan Siska lagi.
Namun Siska menanggapinya lain. Dia tampak sangat kaget
dengan ancaman itu. Bahkan dia tak mampu berkata-kata untuk memulai
penjelasannya. Ancaman itu terdengar sangat serius di telinganya. Dia pun
ketakutan.
“Kenapa bengong?” tanya Vania menatap mata Siska.
“Kesalahanku benar-benar besar, ya, hingga membuatmu sangat
marah seperti itu?” tanya Siska polos dan tampak masih ketakutan
“Enggak.. enggak... maksudku...” Vania jadi tergagap melihat
Siska menanggapi dengan sangat serius ancamannya tadi.
“Ucapanku tadi hanya bercanda,” katanya sambil memamerkan
gigi.
“Hah! Kamu benar-benar membuatku takut,” balas Siska juga
memamerkan giginya.
“Coba kamu ceritakan apa yang terjadi padamu hingga
tiba-tiba menghilang satu bulan lebih.” Kali ini Vania berbicara lebih pelan
dan lebih lembut, takut Siska beranggapan lain.
Siska tampak berpikir keras, memilih kata-kata yang pas
untuk disampaikan pada Vania. “Kemarin itu aku memmutuskan untuk berhenti
sekolah karena harus bekerja,” katanya memulai cerita. Tapi itu tidak
dilanjutkannya.
Vania sudah siap untuk menyimak dengan serius. Dia berjanji
di dalam hati untuk tidak menginterupsi Siska. Namun setelah beberapa menit
menunggu, Siska tidak juga melanjutkan ceritanya, dia pun memutuskan untuk
kembali bertanya, “kenapa?”
Siska tampak bingung. Kejadian yang perlu diceritakannya
sangat banyak walaupun itu semua terjadi dalam waktu singkat. Pada akhirnya dia
menceritakan saja semua yang terlintas di ingatannya.
Ceritanya persis seperti yang disampaikannya pada Miranda.
Kedua orang tuanya meninggal mendadak karena wabah virus. Menyusul setelah itu
calon suaminya juga meninggal. Dia dan keempat saudaranya diusir pemilik
kontrakan. Kakaknya kemudian menginap di tempat kos temannya untuk
menyelesaikan skripsi. Sementara dia sendiri dan ketiga adiknya memilih tinggal
di bawah jembatan layang. Tidak lupa dia menyebutkan nama Rodi sebagai pahlawan
penyelamatnya waktu itu.
Tanpa terasa wajah Vania dipenuhi air mata yang mengalir
deras bagaikan air terjun. Ditatapnya wajah sahabatnya yang terlihat teduh itu.
Siska seperti tanpa beban. Keperihan hidup perempuan itu disikapinya jauh lebih
bijaksana. Vania malu pada diri sendiri. Selama ini dia telah bersikap
kekanak-kanakan. Padahal kehilangan yang dialaminya tidak seberapa dibandingkan
kehilangan yang dialami Siska. Perempuan itu hampir kehilangan segala-galanya,
namun tetap tampak tegar dan bersemangat menjalani hidup. Sementara dirinya?
“Cerita itu belum selesai. Itu belum menjawab kenapa aku
bisa kembali bersekolah dan kembali bertemu denganmu,” sambung Siska.
Vania memutar badan lalu langsung memeluk tubuh sahabatnya
itu dengan erat. Dia kembali sesegukan.
“Jangan diceritakan sekarang. Kita pulang dulu. Kamu ikut
denganku ke rumah ya. Kita perlu cemilan agar kamu lebih lancar berbicara,”
bisiknya di telinga Siska.
Siska mengangguk. Dia ikut menangis sesegukan.
Mereka pun meninggalkan taman belakang sekolah. Sambil
berjalan ke arah gerbang, Vania memesan taksi melalui aplikasi. Saat mereka
sampai di depan gerbang, taksi yang dipesan tadi sudah menunggu. Sebuah mobil
minibus warna hitam sudah parkir tepat di sisi kiri jalan tepat di depan
gerbang.
Sopir taksi itu menurunkan kaca depan sebelah kiri lalu
berkata,
“Vania?”
Vania mengangguk.
Tanpa banyak bersuara, Vania langsung membuka pintu taksi baris belakang. Dia dan Siska lalu masuk dan duduk di kursi itu.
Taksi meluncur pelan menuju rumah Vania. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara. Si supir yang terlihat berusia tiga puluhan itu juga tidak banyak tanya. Dia fokus menatap ke arah jalanan yang lebih sering macet dibandingkan lancar itu.
--------------------
Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya
Baca Juga:
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar positif dan membangun untuk kebaikan kita bersama. Terimakasih.