Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 48. Bukan yang Pertama

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 48. Bukan yang Pertama
_______________________________________

Vania tampak jauh lebih bersemangat ketika hendak berangkat ke sekolah. Dia sempat berpapasan dengan Miranda ketika mengambil handuk yang masih dijemur di teras samping. Lalu dia bertemu lagi dengan perempuan itu di meja makan. Dia tidak menyadari kalau mata Miranda terus mengawasinya sedari tadi.

Di meja makan, Miranda terlihat lega melihat Vania. Dia merasa sangat bahagia karena pada akhirnya bisa melihat kembali senyuman di bibir gadis remaja itu. Dia masih tidak tahu penyebabnya apa. Tapi itu tidak masalah. Baginya, dia tidak perlu tahu semua hal yang membuat Vania sedih dan tidak bersemangat. Yang terpenting adalah dia bisa melakukan sesuatu untuk bisa melihat gadis itu kembali tersenyum. Seperti pagi ini.

Selesai sarapan, Vania langsung pamit kepada ayahnya dan juga Miranda. Diliriknya perempuan itu sebentar sebelum meninggalkan meja makan. Dia langsung memalingkan wajah ketika Miranda balas menatap.

Saat dia keluar rumah, taksi online sudah menunggu di depan pintu pagar. Dia masuk ke kursi baris kedua. Taksi pun berangkat.

Dia tiba di sekolah masih sangat pagi. Tidak satu pun terlihat orang selain penjaga sekolah dan satpam di gerbang. Dia memang berharap menjadi orang pertama yang tiba di sekolah pagi ini.

Rupanya dugaannya keliru. Dia bukanlah orang pertama yang datang. Saat dia masuk ke kelas, sudah ada perempuan lain di dalam, sedang duduk sambil membaca buku catatan. Perempuan itu duduk tepat di sebelah kursinya.

“Berarti dia adalah ....” bisik Vania pada diri sendiri.

Perempuan itu mengangkat wajah dan menatap ke arah Vania. Tidak salah lagi. Itu adalah...

“Siska?!!!” teriak Vania histeris.

“Vania?!!!” balas Siska tidak kalah kagetnya.

Vania langsung menghambur ke arah Siska yang telah berdiri dari kursinya. Langsung dipeluknya dengan sangat erat perempuan itu sambil menangis sesegukan.

“Kenapa kamu menghilang tanpa kabar?” tanyanya dengan perasaan campur aduk antara senang, marah, kesal, dan benci menjadi satu.

“Maaf,” jawab Siska singkat.

Setelah beberapa saat, mereka pun saling melepaskan pelukan. Vania menarik napas dalam-dalam sambil terus menatap Siska. Begitu pun dengan Siska, tampak masih gugup. Mereka berdiam diri sejenak untuk menenangkan diri sambil mengusap air mata masing-masing.

“Kita belajar dulu, ya. Nanti selesai ujian akan kuceritakan apa yang telah terjadi selama ini,” usul Siska.

“Benaran kamu mau menceritakan semuanya?!” tanya Vania memastikan dengan sorot mata tajam ke arah mata Siska.

“Aku janji,” balas Siska sambil mengangkat tangan dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan. Dia pun tersenyum.

Tidak berapa lama kemudian siswa-siswa lain pun mulai berdatangan dan masuk ke kelas. Hampir semuanya menatap heran ke arah Vania dan Siska yang sudah berada di dalam kelas dan sangat fokus membaca buku di tangan masing-masing. Karena selama ini mereka selalu bersikap cuek, tidak satu pun dari siswa-siswa itu menegur mereka berdua.

Ujian hari itu hanya dua mata pelajaran. Waktu ujian untuk sesi pagi selesai sebelum tengah hari. Setelah waktu ujian habis, hampir semua siswa langsung pulang, kecuali Vania dan Siska. Mereka memutuskan untuk mengobrol di taman belakang kelas seperti kemarin-kemarin.

Banyak sekali pertanyaan yang ingin diajukan Vania pada Siska. Begitu juga dengan Siska, banyak sekali cerita ajaib yang ingin disampaikannya pada Vania.

“Kenapa kamu tiba-tiba menghilang?” tanya Vania dengan nada kesal bercampur marah ketika mereka sudah duduk bersebelahan sambil menatap kolam.

Siska hanya mampu menunduk dan tampak sedikit ketakutan. “Ceritanya panjang,” jawabnya singkat.

“Oke. Sekarang ceritakan padaku. Kalau cerita itu cukup masuk akal, aku akan memaaafkanmu seperti waktu itu. Tapi, kalau tidak masuk akal, bohong, dan mengada-ada, aku tidak akan memaafkanmu. Aku akan membencimu selamanya. Ingat, ya, selamaaannyaa!!“ teriak Vania bernada mengancam. Sebenarnya ancaman itu hanya main-main. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia tidak akan pernah rela kehilangan Siska lagi.

Namun Siska menanggapinya lain. Dia tampak sangat kaget dengan ancaman itu. Bahkan dia tak mampu berkata-kata untuk memulai penjelasannya. Ancaman itu terdengar sangat serius di telinganya. Dia pun ketakutan.

“Kenapa bengong?” tanya Vania menatap mata Siska.

“Kesalahanku benar-benar besar, ya, hingga membuatmu sangat marah seperti itu?” tanya Siska polos dan tampak masih ketakutan

“Enggak.. enggak... maksudku...” Vania jadi tergagap melihat Siska menanggapi dengan sangat serius ancamannya tadi.

“Ucapanku tadi hanya bercanda,” katanya sambil memamerkan gigi.

“Hah! Kamu benar-benar membuatku takut,” balas Siska juga memamerkan giginya.

“Coba kamu ceritakan apa yang terjadi padamu hingga tiba-tiba menghilang satu bulan lebih.” Kali ini Vania berbicara lebih pelan dan lebih lembut, takut Siska beranggapan lain.

Siska tampak berpikir keras, memilih kata-kata yang pas untuk disampaikan pada Vania. “Kemarin itu aku memmutuskan untuk berhenti sekolah karena harus bekerja,” katanya memulai cerita. Tapi itu tidak dilanjutkannya.

Vania sudah siap untuk menyimak dengan serius. Dia berjanji di dalam hati untuk tidak menginterupsi Siska. Namun setelah beberapa menit menunggu, Siska tidak juga melanjutkan ceritanya, dia pun memutuskan untuk kembali bertanya, “kenapa?”

Siska tampak bingung. Kejadian yang perlu diceritakannya sangat banyak walaupun itu semua terjadi dalam waktu singkat. Pada akhirnya dia menceritakan saja semua yang terlintas di ingatannya.

Ceritanya persis seperti yang disampaikannya pada Miranda. Kedua orang tuanya meninggal mendadak karena wabah virus. Menyusul setelah itu calon suaminya juga meninggal. Dia dan keempat saudaranya diusir pemilik kontrakan. Kakaknya kemudian menginap di tempat kos temannya untuk menyelesaikan skripsi. Sementara dia sendiri dan ketiga adiknya memilih tinggal di bawah jembatan layang. Tidak lupa dia menyebutkan nama Rodi sebagai pahlawan penyelamatnya waktu itu.

Tanpa terasa wajah Vania dipenuhi air mata yang mengalir deras bagaikan air terjun. Ditatapnya wajah sahabatnya yang terlihat teduh itu. Siska seperti tanpa beban. Keperihan hidup perempuan itu disikapinya jauh lebih bijaksana. Vania malu pada diri sendiri. Selama ini dia telah bersikap kekanak-kanakan. Padahal kehilangan yang dialaminya tidak seberapa dibandingkan kehilangan yang dialami Siska. Perempuan itu hampir kehilangan segala-galanya, namun tetap tampak tegar dan bersemangat menjalani hidup. Sementara dirinya?

“Cerita itu belum selesai. Itu belum menjawab kenapa aku bisa kembali bersekolah dan kembali bertemu denganmu,” sambung Siska.

Vania memutar badan lalu langsung memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat. Dia kembali sesegukan.

“Jangan diceritakan sekarang. Kita pulang dulu. Kamu ikut denganku ke rumah ya. Kita perlu cemilan agar kamu lebih lancar berbicara,” bisiknya di telinga Siska.

Siska mengangguk. Dia ikut menangis sesegukan.

Mereka pun meninggalkan taman belakang sekolah. Sambil berjalan ke arah gerbang, Vania memesan taksi melalui aplikasi. Saat mereka sampai di depan gerbang, taksi yang dipesan tadi sudah menunggu. Sebuah mobil minibus warna hitam sudah parkir tepat di sisi kiri jalan tepat di depan gerbang.

Sopir taksi itu menurunkan kaca depan sebelah kiri lalu berkata,

“Vania?”

Vania mengangguk.

Tanpa banyak bersuara, Vania langsung membuka pintu taksi baris belakang. Dia dan Siska lalu masuk dan duduk di kursi itu.

Taksi meluncur pelan menuju rumah Vania. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara. Si supir yang terlihat berusia tiga puluhan itu juga tidak banyak tanya. Dia fokus menatap ke arah jalanan yang lebih sering macet dibandingkan lancar itu.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar