Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 49. Kepingan Hati

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 49. Kepingan Hati
______________________________________

Saat Vania dan Siska tiba, suasana rumah tampak sepi. Widya memang belum pulang dari sekolah. Sementara si pengasuh ikut tertidur di sebelah si bayi yang diasuhnya. Terlihat bekas makanan yang belum sempat dibereskan di sebelah mereka.

Vania langsung mengajak Siska ke ruang makan. Di atas meja sudah tersedia menu makan siang. Tanpa banyak berkata-kata, mereka langsung makan dengan lahap.

Sambil menyuap nasi, Vania kembali bertanya pada Siska. “Apa lagi yang sudah terjadi padamu?” tanyanya.

“Tante Miranda telah mengangkatku menjadi anak,” jawab Siska pelan.

“Hah!”

Mulut Vania langsung menganga. Matanya melotot. Ekspresi keterkejutan luar biasa langsung tampak di wajahnya. Terlihat dia seperti tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya. Dia tidak mampu berkata-kata dalam waktu beberapa lama.

“Maksudmu, Tante Miranda yang sering ke rumahku? Yang penah kuceritakan padamu dulu?” tanyanya masih dengan raut wajah tidak percaya.

“Aku kan belum pernah bertemu dengan Tante Mirandamu itu. Jadi aku kurang tahu persis apakah Tante Miranda yang membantuku juga merupakan Tante Miranda yang kau maksudkan,” balas Siska dengan ekspresi keraguan.

Vania langsung menyalakan ponselnya, membuka galeri, menggeser layar hingga menemukan foto Miranda. “Seperti ini wajahnya?” tanyanya sambil menunjukkan foto itu pada Siska.

Siska mengangguk.

“Apa yang telah dilakukannya padamu?” selidik Vania.

“Tante Miranda menjadikanku sebagai anak angkat,” jawab Siska mempertegas apa yang telah diucapkannya sebelumnya.

“Iya. Terus apa lagi yang telah dilakukannya?” Vania makin penasaran.

“Dia mengajakku tinggal di apartemennya. Aku diberi kamar sendiri. Pagi tadi aku ikut mobilnya untuk berangkat ke sekolah. Karena Tante Miranda berangkat sangat dini, aku terpaksa datang ke sekolah juga sangat pagi. Makanya kamu tadi tidak jadi orang pertama yang tiba ke sekolah, he he.” Siska terkekeh.

Keterkejutan Vania belum usai. Cerita Siska sulit untuk dipercaya. Tapi sampai sejauh ini, sahabatnya itu tidak pernah berbohong. Apa yang keluar dari mulutnya selalu berupa fakta atau kebenaran.

Siska melanjutkan ceritanya. “Tante Miranda juga telah mengusulkan kakakku sebagai penerima beasiswa dari yayasan perusahan QDC. Karena prestasi kakakku lumayan bagus, Tante Miranda juga menawari beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister. Setelah tamat nanti, Tante Miranda juga menjanjikan pekerjaan untuk kakakku di QDC.”

“Hah?! Sudah sejauh itu?!” Vania makin kaget. “Kenapa Tante Miranda melakukan itu semua?” tanyanya lagi.

Siska menggeleng karena tidak tahu persis alasan dibalik kebaikan-kebaikan Tante Miranda itu.

Mereka saling berdiam diri cukup lama.

Vania kemudian terpikir sesuatu. “Besok-besok, ketika kau ikut Tante Miranda berangkat ke sekolah, jangan dulu langsung ke sekolah. Ikut saja dulu ke rumahku. Tante Miranda setiap pagi ke rumahku. Setelah itu, baru kita berangkat sama-sama ke sekolah,” kata Vania antusias dan bersemangat.

Siska tidak menanggapi.

“Lagipula, ngapain coba kamu pagi-pagi sudah berada di sekolah. Nanti orang-orang malah menyangka kamu itu arwah siswa penasaran yang mati bunuh diri karena putus cinta, hehe,” lanjut Vania dengan raut wajah penuh keceriaan.

“Aku ikut Tante Miranda saja, Van,” timpal Siska akhirnya menanggapi.

“Nanti biar aku yang memberi tahu Tante Miranda,” kata Vania masih bersemangat.

“Baiklah,” jawab Siska sambil mengangguk.

“Bagaimana dengan kakak dan adik-adikmu?” tanya Vania masih juga penasaran.

“Sementara ini mereka tinggal di kontrakan. Tante Miranda sudah membayar uang kontrakan itu selama setahun. Aku pernah berkunjung ke sana. Kontrakannya bagus dan sangat nyaman. Ada AC-nya. Dapurnya keren dan bersih. Kamar mandinya juga tidak jauh beda dengan kamar mandi di apartemen Tante Miranda.” Siska bercerita sambil senyum-senyum sendiri. Dia seperti baru saja memasuki negeri dongeng. Entah lewat mana, dia tidak tahu. Apakah lewat pintu kemana sajanya Doraemon, atau stasiun bawah tanah di kota London seperti di film Harry Potter.

“Sungguh? Kamu tidak sedang berhalusinasi, bukan? Kamu tidak sedang mengarang cerita itu, bukan?” Vania masih saja terkaget-kaget.. Ternyata kejutan dari Siska belum selesai.

“Buat apa aku mengarang cerita itu, Van. Tidak ada untungnya bagiku. Sebenarnya aku merasa tidak enak hati menerima kebaikan Tante Miranda yang sungguh luar biasa dan sangat ajaib itu. Sampai sekarang aku pun aku masih mengaggapnya sebagai sebuah mimpi. Tapi tidak mungkin, kan, aku bermimpi berhari-hari dan tidak bangun-bangun?” balas Siska raut wajah sangat serius.

Vania tampak berpikir keras mencerna cerita Siska. “Dia tidak punya permintaan sama sekali padamu? Katakanlah balasan atas apa yang telah dilakukannya itu. Ada tidak yang seperti itu?” katanya masih berusaha menyelidiki.

Tindakan Tante Miranda itu benar-benar di luar dugaan dan hampir tidak masuk akal baginya. Di zaman sekarang, hampir mustahil menemukan orang sebaik itu. Terutama orang-orang yang dikenalnya. Mayoritas orang-orang yang dikenalnya lebih suka nyinyir dan mengolok-olok terutama teman sekelasnya.

Siska terlihat berpikir keras, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. “Ada, sih, satu. Tapi katanya jangan diceritakan kepada siapa pun tentang permintaan itu, termasuk padamu.”

Tidak habis-habisnya Vania dibuat kaget oleh Siska. “Benarkah?! Sebesar apa rahasia permintaan itu sehingga tidak boleh diceritakan pada siapa pun?!” tanyanya lagi berusaha menyelidik.

“Bukan rahasia besar. Hanya saja aku sudah mengiyakan dan berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapa pun,” jawab Siska sambil menunduk. Dia terlihat tidak berani menatap Vania.

“Termasuk padaku? Sahabat baikmu ini?” desak Vania.

“Iya. Termasuk padamu, Van.” Siska menjawab pelan. Tapi suaranya itu tedengar mantap dan penuh keyakinan seakan tidak akan pernah tergoyahkan bahkan oleh angin badai terdahsyat atau tsunami terbesar sekalipun.

“Bagaimana kalau kau ceritakan saja padaku. Lalu aku juga akan menjaga rahasia itu. Jadi Tante Miranda tidak akan pernah tahu kalau kau pernah memberitahuku,” bujuk Vania dengan suara yang lebih lembut dan agak terdengar mengiba.

“Tapi...” Suara Siska tecekat di tenggorokan.

“Kenapa? Kau tidak mempercayaiku?” tanya Vania lagi dengan tatapan tajam.

Siska memberanikan diri menatap balik ke arah Vania. “Bukan itu. Kalau aku menceritakannya padamu, berarti aku sudah ingkar janji. Katamu dulu, kalau mau menjadi orang yang benar-benar baik, jangan pernah mengingkari janji. Kamu juga begitu kan? Tidak pernah mengingkari ikrarmu pada Bunda Karin?”

“Iya, sih. Tapi ini, kan, ceritanya lain,” balas Vania.

Dia kemudian tampak tertegun cukup lama, mungkin sedang berpikir keras.

“Ya sudah. Aku tidak boleh memaksamu dan aku tidak akan memaksamu. Sekarang atau pun nanti,” ucapnya kemudian.

“Terima kasih, ya, sudah bisa memahami kondisiku,” balas Siska dengan mata berbinar-binar.

Setelah saling berdiam diri cukup lama, tiba-tiba Vania kembali bersuara, “Tapi boleh aku tahu sedikit petunjuk tentang permintaan Tante Miranda itu?”

“Maksudmu?” Siska menatap kaget ke arah Vania. Dia tampak kembali ketakutan.

Vania balas menatap mata sahabatnya itu. “Apakah permintaannya itu ada kaitannya denganku?”

“Aku tidak bisa mengatakannya, Van.” Raut ketakutan kembali muncul di wajah Siska.

“Kau tidak mengatakannya. Cukup menjawab dengan anggukan atau gelengan,” kata Vania.

Dia kemudian terdiam sebentar. “Kuulangi sekali lagi pertanyaanku. Apakah permintaan Tante Miranda itu ada kaitannya denganku?”

Siska tampak ragu. Dia tertegun cukup lama. Nampak raut kebimbangan di wajahnya. Namun pada akhirnya dia memberanikan diri untuk mengangguk sambil berucap, “Sudah, ya, Van. Itu saja yang bisa kulakukan.”

“Oke oke sudah. Terima kasih, ya,” balas Vania sambil mengukir senyum indah.

Vania terlihat kembali merenung. Dia sangat tidak menyangka Tante Miranda sudah berbuat sejauh itu. Tante Miranda pasti melakukan semuanya demi diriku, katanya dalam hati.

Sebenarnya dia memiliki naluri yang tajam tentang ketulusan seseorang. Naluri itulah yang dirasakannya pada Bunda Karin dulu. Kini dia juga merasakan hal yang sama pada Tante Miranda. Mantan bos ayahnya itu telah memberikan perhatian dan kepedulian yang tulus padanya dan keluarganya beberapa minggu ini. Hanya saja, Vania masih bingung bagaimana dia harus bersikap pada perempuan itu. Apalagi setelah semua yang telah dilakukannya ini.

Apakah perempuan itu benar-benar merasa sangat bersalah hingga sampai bertindak luar bisa seperti ini, tanya Vania dalam hati. Dia menyadari sepenuh hati kalau Miranda sudah sangat berjasa baginya karena telah menghadirkan kembali kepingan-kepingan di hatinya yang sempat menghilang. Tapi tetap saja, masih ada satu kepingan lagi yang tidak akan pernah mampu dikembalikan oleh Tante Miranda. Kepingan itu adalah Bunda Karin.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar