Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 50. Angka Ajaib (Bab Terakhir - Tamat)

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan >  Bab 50. Angka Ajaib
_______________________________________

Miranda baru saja memarkirkan mobilnya di basemen gedung apartemennya ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Langsung dibukanya tas dan dikeluarkannya ponsel yang mendendangkan nada panggil perfect dari Ed Sheeran itu. Saat dicek, sebuah panggilan dari Widya. Dengan tenang dia menerima panggilan itu.

“Tante!!! Cepat kesini!!!” teriak Widya tiba-tiba seperti sedang panik. Suaranya terdengar jelas bahkan tanpa harus mengaktifkan loudspeaker sekali pun.

“Ada apa, sayang???!!!” teriak Miranda yang tampak langsung ikutan panik.

“Tolooonggg, Tante!!! Too…loooong... Tan... tee.....!!! Too....” teriak Widya dengan suara terputus-putus dan makin pelan. Terdengar suaranya sangat panik.

Tidak berapa lama kemudian suaranya benar-benar menghilang. Setelah itu terdengar bunyi kresek-kresek sangat kasar yang diiringi bunyi tut tut tanda panggilan telah ditutup.

“Wdyaaaa!!! Widyaaaa!! Ada apa sayaaaang?!” panggil Miranda masih berteriak-teriak panik. Tangan kirinya langsung memegangi kepala, tampak sangat kalut.

Panggilan dari seberang pun ditutup.

Miranda tidak menunggu lama untuk melakukan panggilan balik. Berkali-kali ditekannya nomor Widya dan tombol panggil, selalu saja dijawab suara perempuan yang mengatakan ‘nomor yang sedang Anda hubungi sedang tidak aktif.’ Dia tidak kehilangan akal. Langsung ditekannya nomor Vania. Tapi sama saja, juga tidak aktif. Dia menelepon Arvin. Tidak jauh berbeda, nomornya juga tidak aktif. Miranda makin panik.

Tanpa berpikir panjang, dia langsung balik badan dan kembali ke parkiran. Dengan gesit dia masuk ke mobilnya. Setelah berhasil menghidupkan mobil itu dengan tergesa-gesa, dia langsung mengarahkan moncong mobilnya ke jalan. Mobilnya membelah jalanan yang mulai lenggang dengan kecepatan hampir seratus kilometer per jama menuju ke rumah Arvin.

Saking kalutnya, Miranda berkali-kali hampir bersenggolan dengan mobil atau pun motor di sepanjang jalan. Dia memukul-mukul kemudi ketika tepat mendapat lampu merah. Dia menginjak pedal gas sampai dasar ketika lampu hijau menyala. Ini pertama kalinya dia menyetir dengan kecepatan setinggi itu.

Kepanikan Miranda semakin menjadi-jadi ketika sampai di depan rumah Arvin semua lampu rumah mati, termasuk lampu taman depan dan samping. Keadaan rumah sangat gelap. Terlihat pintu depan rumah terbuka sebagian. Pasti telah terjadi sesuatu di dalam rumah, pikirnya.

Tadi sore ketika dia meninggalkan rumah untuk pulang ke apartemennya, anak-anak baik-baik saja. Semua lampu sudah dinyalakan. Hanya saja dia memang tidak sempat menunggu Arvin pulang karena tiba-tiba saja Vania memasang tampang cemberut terus-terusan dan memintanya untuk pulang lebih cepat. Walaupun gadis itu sudah terlihat ceria dan bersemangat, sampai sejauh ini mereka masih belum berdamai.

Semenjak kematian Karin, dia tidak mampu lagi membujuk Vania. Satu-satunya cara menghindari anak itu makin marah adalah dengan mengalah dan mengikuti keinginannya. Sekarang dia menyesal mengikuti keinginan Vania tadi sore. Seharusnya dia menunggu sebentar sampai Arvin pulang.

Miranda berjalan cepat menuju pintu depan. Dia memelankan langkah ketika mendekati pintu. Dilepasnya sepatu dan diletakkannya secara perlahan di depan teras agar tidak menimbulkan suara di lantai. Dari sini dia dapat mengamati kalau semua lampu di dalam rumah juga dalam keadaan mati. Padahal seingatnya tadi semua lampu itu sudah dinyalakan. Sekarang juga tidak sedang ada pemadaman dari PLN karena lampu rumah-rumah lain di kompleks ini semuanya dalam keadaan menyala.

Secara perlahan didorongnya pintu lalu dilangkahkannya kaki menuju ke dalam rumah. Sebelum melewati puntuk tadi, dia sempat ingin menelepon polisi, takut telah terjadi peristiwa buruk di dalam rumah. Tapi diurungkannya. Kalau ada kejadian buruk di dalam, dia akan menghadapinya sendiri dulu. Walaupun wanita, dia juga jago bela diri karena sempat mendapat sabuk hitam sewaktu ikut karate.

Pertama-tama Miranda melangkahkan kakinya ke arah dinding tempat saklar lampu ruang tengah berada. Ketika sedang berada di tengah-tengah ruang tamu, Miranda mendadak berhenti karena lampu tiba-tiba menyala. Ruangan langsung terang benderang. Bersamaan dengan itu terdengar teriakan dari beberapa orang secara bersamaan.

“Suuuuurpriiiiise!!!” Arvin, Vania, dan Widya kompak berteriak.

Miranda tersentak kaget. Kalau misalnya dia menderita penyakit jantung, mungkin saja dia sudah langsung pingsan. Sambil menenangkan diri, dia menatap satu per satu Arvin, Vania, Widya yang sedang berdiri sambil berbaris seperti pengibar bendera. Sementara Ridho yang masih saja tertidur pulas di dalam stroler juga ikut dalam barisan yaitu di sebelah kiri Widya.

“Coba baca tulisan di dada baju kami, Tante. Mulai dari Papa sampai Ridho. Ini pesan dari Papa. Iya, kan, Pa?” Vania menatap ke arah ayahnya.

Arvin tampak ragu sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan.

Miranda mengikuti instruksi Vania barusan, mengamati pakaian mereka. Saat ini mereka berempat mengenakan baju seragam berupa kaos hitam dengan tulisan berwarna putih di bagian dada. Miranda memperhatikan kata-kata yang tertulis di baju mereka. Di masing-masing baju tertulis satu kata berbahasa inggris, kecuali baju Ridho yang tertulis kata yang diikuti simbol.

Kata ‘Will’ tertulis di kaos Arvin.

Kata ‘You’ tertulis di baju Vania.

Kata ‘Marry’ tertulis di baju Widya.

Sementara kata ‘Me’ yang diikuti tanda tanya tertulis di baju Ridho.

Betapa terkejutnya Miranda ketika menyadari kalau tulisan di baju mereka berempat jika digabung maka akan menjadi kalimat tanya yang berbunyi “Will You Marry Me?”

Miranda terkesiap seperti tidak percaya. Dial langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Matanya langsung berkaca-kaca. Dia tertegun lama, tidak mampu berkata-kata. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan jawaban atas pertanyaan itu.

Pada akhirnya dia menganggukkan kepala sambil berkata pelan, “Yes, I will.”

Vania dan Widya langsung berteriak dengan girang. Mereka berdua langsung meloncat-loncat saking gembiranya. Mereka langsung mendekati Miranda dan memeluknya. Miranda juga membalas dengan pelukan yang tidak kalah eratnya. Air matanya tak terbendung lagi.

Arvin masih berdiri mematung menatap mereka semua. Dia tertegun seolah tidak percaya dengan respon Miranda. Dulu dia berusaha mati-matian untuk meyakinkan perempuan itu tentang perasaannya. Tapi itu tidak cukup untuk merobohkan tembok tebal di hati Miranda. Dia tetap saja menolak lamarannya. Bahkan hingga dua kali.

Sekarang, Arvin tidak berupaya sama sekali, walaupun rasa di hatinya tetap sama. Dia hanya mengikuti rencana Vania dan Widya. Tapi jawabannya malah luar biasa. Dia pun melangkah mendekati Miranda, Vania, dan Widya untuk merayakan kebahagiaan bersama-sama.

Namun sebelum Arvin mendekat, Miranda tiba-tiba berdiri, memegang pergelangan tangannya lalu menarik pria itu ke arah teras samping.

“Kalian berdua tunggu di dalam, ya. Jaga dedek bayi sebentar,” katanya pada Vania dan Widya.

“Siap, Tante!!!” jawab Vania dan Widya secara bersamaan sambil tetap senyum-senyum ceria.

“Ada apa, Mir?” Arvin tampak panik ketika mereka telah melewati pintu samping.

Setelah berada di teras, Miranda membalikkan badan, berdiri menghadap Arvin, menatap mata laki-laki itu, lalu menjawab pertanyaan barusan,

“Aku hanya ingin menyampaikan kalau kamu jangan berpikir berlebihan. Aku menerima lamaran ini bukan karena aku jatuh cinta lagi padamu. Aku merasa setiap kali aku mencintaimu, ending-nya selalu menyakitkan. Aku tidak ingin itu terjadi lagi,” katanya serius pada Arvin.

Arvin tidak langsung menanggapi. Dia hanya menatap mata Miranda lekat-lekat. Sejauh ini dia belum mampu arah pembicaraan perempuan cantik di depannya itu.

Miranda pun melanjutkan, “Aku menerima lamaranmu karena ingin menjalankan tanggung jawabku yang belum tuntas di masa lalu. Aku ingin menjadi bunda bagi Vania dan Widya. Aku juga ingin merawat anak Karin. Selama ini aku telah banyak membuat kesalahan dan mengecewakan mereka. Mungkin keputusanku ini adalah cara terbaik untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu.”

Arvin akhirnya menanggapi dengan suara pelan dan tenang “Aku tidak terlalu mempedulikan alasanmu menerima lamaranku. Aku juga tidak tahu apakah aku masih mencintaimu atau malah makin jatuh cinta lagi padamu. Yang aku tahu, Aku tidak ingin melihatmu menderita terus menerus. Aku hanya ingin kamu juga merasakan kebahagiaan dalam hidupmu. Jika ini adalah salah satu cara untuk membahagiakanmu, aku akan melakukannya. Aku ingin memberikan kebahagiaan yang dulu sempat kujanjikan namun tidak pernah sempat kuwujudkan.”

“Oke, deal. Saat ini aku sudah tidak terlalu berharap banyak padamu. Aku harap kau juga tidak berharap terlalu banyak padaku ya. Kita lakukan ini demi anak-anak saja.”

“Iya.”

Mereka berdua kembali masuk. Vania dan Widya langsung menyerbu Miranda. Keduanya langsung memeluk Miranda dengan erat.

“Maafkan Vania, ya, tante. Kemarin Vania sangat sering membuat Tante sedih.” Mata Vania berkaca-kaca.

“Tidak usah dipikirkan, Princess. Tante sudah tidak sedih lagi, kok. Sekarang Tante malah merasa sangat bahagia. Terimakasih ya atas kejutan yang sangat luar biasa ini.” Miranda kembali tersenyum indah. Matanya berkaca-kaca mewakili hatinya yang berbunga-bunga.

“Iya, Tante.”

“Ayo Papa, pasangkan cincinnya ke jari Tante Miranda,” kata Vania mengingatkan kalau prosesi lamaran itu belum selesai.

Arvin tampak kaget. Dia telah melupakan sesuatu yang paling penting dari kejutan malam ini. Dengan sedikit kikuk, dikeluarkannya kotak cincin yang tadi disimpannya di saku celana. Didekatinya Miranda yang masih berdiri mematung,

“Will you marry me?” katanya pada wanita itu.

Miranda menatap mata Arvin dengan penuh keharuan. Tubuhnya mendadak membeku seolah-olah baru saja diterpa angin kutub yang super dingin. Bahkan untuk menggerakkan kepala saja dia tampak kesulitan. Pada akhirnya dia berhasil juga mengangguk. Dengan mata berkaca-kaca, disodorkannya tangannya pada Arvin.

Arvin membuka kotak cincin di tangannya, lalu mengeluarkan cincin tersebut dan memasangkannya ke jari manis tangan kanan Miranda.

“Waahh… pas sekali, Tante!” kata Vania dan Widya hampir berbarengan mengomentari cincin di jari Miranda.

“Terima kasih, ya, Sayang,” kata Miranda pada Vania dan Widya.

“Terima kasih juga, ya, Vin,” katanya sambil menatap mata Arvin lekat-lekat.

Sudut matanya kini mulai menyembulkan basah. Perlahan-lahan terbentuklah butiran bening di sana. Ketika ukurannya tidak mampu lagi ditahan oleh kelopak matanya, butiran itu pun bergulir di pipinya. Bersamaan dengan itu mulailah memancar rona kebahagiaan dari wajahnya.

Vania dan Widya kembali memeluk Miranda.

“Kami sayang Tante,” kata mereka berbarengan.

Setelah cukup lama, mereka lalu melepas dekapan, tapi tetap menatap mata Miranda.

“Mulai sekarang, kami sudah boleh manggil Bunda belum?” kata mereka berdua kembali berbarengan dengan tatapan lugu.

“Hah!!!” Miranda terperangah. Dia tidak pernah menyangka semua ini bisa berubah begitu cepat. Mendung gelap nan pekat itu lenyap begitu saja tersapu angin barat yang tidak lumrah hingga langit kembali cerah.

“Terserah kalian saja, mana yang lebih nyaman,” balasnya sambil tersenyum sangat lebar.

“Siap, Bunda!” kata Vania dan Widya kembali berbarengan.

Matan Miranda masih saja berkaca-kaca penuh ceria. “Sekarang Bunda temani kamu tidur, ya, Sayang. Sudah malam. Besok kamu mau sekolah.”

Dia mengucek-ucek rambut Widya.

“Vania ke kamar sendiri saja, ya. Kan sudah besar,” katanya menoleh ke arah Vania.

“Aman, Bunda,” balas Vania sambil tersenyum senang.

“Ayo, Bunda!” kata Widya sambil menarik tangan Miranda.

Arvin ikut mendorong stroler bayi ke kamar tidurnya.

*****

Setelah selesai mengantarkan anak-anak tidur, Arvin dan Miranda memilih duduk di kursi teras samping. Tempat duduk mereka dipisahkan meja kecil yang terdapat vas bunga kecil di atasnya. Tadi siang Vania sempat meletakkan vas bunga itu di situ.

Sementara itu, cahaya lampu taman yang berada tepat di tepi kolam cukup terang untuk menampakkan dasar kolam yang berbatu-batu. Beberapa ekor ikan koi seukuran telapak kaki yang hilir mudik di sana membuat malam ini menjadi indah, seindah suasana hati Arvin dan Miranda.

“Aku minta maaf jika kau merasa terpaksa menerima lamaranku kali ini. Aku tahu, ini nanti akan berat bagimu. Sekarang aku sudah memiliki tiga orang anak. Tentu akan sangat merepotkan nantinya.” Arvin membuka obrolan.

“Tidak. Aku tidak merasa terpaksa, kok. Aku menerima lamaranmu karena aku memang ingin menerimanya.”

“Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Vania dan Widya benar-benar menginginkan kamu menjadi bunda mereka. Aku tidak tahu sejak kapan dan kenapa mereka berubah drastis seperti itu. Aku juga tidak tahu bagaimana cara menyikapinya. Jadi aku ikut saja rencana mereka,” tambah Arvin polos.

“Aku tahu kamu sangat menyayangi mereka. Kamu pasti akan melakukan segalanya untuk membuat mereka bahagia.” Miranda membalas sambil tersenyum.

“Kamu benar-benar tidak merasa terpaksa?” Arvin menoleh ke arah Miranda dan menatap matanya dengan tajam.

Miranda balas menatap mata Arvin untuk menunjukkan kejujuran dan ketulusannya. “Tidak, Vin. Aku menerimanya dengan senang hati.”

Dia kemudian mengalihkan pandangan ke arah taman samping di depan mereka lalu berucap, “Malah aku berpikir kamulah yang merasa terpaksa dan tidak tulus,” jawabanya pelan dan sedikit bergetar.

“Mereka memang memaksa. Tapi aku melakukannya tanpa merasa terpaksa. Ini urusan serius. Aku tulus melakukannya.”

Arvin terdiam sejenak.

“Entah kenapa, rasanya perasaanku masih sama seperti dulu,” bisiknya pelan.

Miranda mengangguk-angguk. Dia tampak sedang menimbang sesuatu. “Boleh aku mengungkap sesuatu?”

Arvin kembali menoleh. “Apa? Silahkan saja.”

Miranda melirik sebentar ke arah Arvin sebelum berucap, “Sebenarnya aku telah memikirkan hal ini jauh sebelum kau dan anak-anak mengutarakannya. Aku ingin sekali menjadi bunda bagi anak-anakmu. Tapi sebagai wanita, aku tidak mungkin mengutarakannya terlebih dahulu. Aku takut kalian tidak mau menerimaku lagi akibat kesalahan-kesalahanku di masa lalu. Jadi yang kulakukan hanyalah menunggu dan menunggu sambil terus berdoa. Sekarang aku merasa sangat bahagia. Mungkin ini adalah doaku yang terkabulkan. Mungkin juga ini adalah mimpiku yang terwujudkan.”

Raut wajah Arvin berubah drastis. Dia tampak benar-benar terkejut.

“Benarkah?” katanya agak ragu sambil menatap jauh ke dalam mata Miranda.

“Iya.” Miranda balas menatap lebih dalam.

“Syukurlah kalau begitu. Aku merasa selama ini sering sekali menyakiti hatimu. Mulai sekarang, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji.”

“Tidak perlu berjanji. Aku percaya, kok. Lagipula kamu tidak pernah menyakitiku. Mungkin dulu keadaannya belum tepat untuk kita bersama sehingga kita seperti sama-sama tersakiti. Mungkin kita ditakdirkan untuk melewati jalan berkelok-kelok dulu sebelum tiba di titik ini.”

“Kini kamu bahagia?” tanya Arvin.

“Aku sangat bahagia,” jawab Miranda dengan mata kembali berkaca-kaca.

“Boleh aku membelai rambutmu.” Arvin menatap mata Miranda dalam-dalam.

“Belum boleh. Tunggu setelah ijab-kabul saja, ya.” Miranda menggeleng sambil senyum-senyum.

“Oh gitu, ya.” Arvin memasang tampang kecewa.

“Hi hi hi! Tampang kamu lucu banget,” ejek Miranda. Dia lalu tersenyum sumringah.

Mereka sama-sama tertawa lalu berdiam diri beberapa saat.

“Mungkinkah angka tiga menjadi angka keberuntungan bagi kita?” tanya Miranda kembali bersuara.

“Memangnya kenapa?” jawab Arvin heran.

Keningnya langsung mengkerut, tidak tahu maksud pertanyaan itu dan juga tidak mengerti kenapa Miranda tiba-tiba membahas itu.

“Ini adalah lamaranmu kepadaku untuk yang ketiga kalinya, kan?” Miranda malah balik bertanya.

“Iya benar,” jawab Arvin mantap karena dia dapat mengingat dengan jelas dua kali momen lamaran sebelumnya.

“Ini ketiga kalinya kamu akan menikah, kan?” tanya Miranda lagi.

“Iya, ya? Aku terlihat seperti playboy saja, ya. He he he,” jawab Arvin sambil terkekeh membayangkan apa yang telah dilaluinya sejauh ini. Dia akan menikah untuk ketiga kalinya.

“Kalau begitu aku seperti playgirl, dong? He he he.” Miranda ikut terkekeh, sebelum melanjutkan, “Karena ini juga ketiga kalinya aku akan menikah.”

Arvin terbelalak. “Oh, iya, ya? Aku baru sadar.”

“Semuanya angka tiga. Benar-benar ajaib.” Miranda tersenyum sambil menatap Arvin lekat-lekat.

Arvin balas tersenyum, “Aku tidak pernah percaya dengan angka-angka keberuntungan. Lebih baik kita terus berdoa, semoga keputusan kita ini merupakan keputusan yang tepat, yang akan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan untuk kita semua. Aamiin.”

“Aamiin.” Miranda ikut mengaminkan.

“Sebenarnya masih ada lagi. Aku adalah duda beranak tiga. He he he,” timpal Arvin mulai terpancing dengan tema angka keberuntungan itu.

“Tuh, kan, aku benar. Serba tiga, kan?” Miranda ikut tertawa ceria.

“Iya benar. Semuanya terkait angka tiga.”

Miranda tercengang sendiri ketika menyadari sesuatu. Bahkan ada tiga kepingan berharga yang harus dihadirkannya kembali untuk meluluhkan hati Vania. Kepingan pertama adalah sahabat karibnya yaitu Siska, kepingan kedua adalah cowok penyemangat jarak jauhnya yaitu Bima, dan kepingan ketiga adalah seorang bunda.

Karena aku tidak mungkin lagi menghadirkan Bunda Karin yang telah tiada, pilihan terakhirku adalah menjadkan diriku sebagai kepingan ketiga bagi Vania, yaitu menjadi bunda baginya, katanya dalam hati.

Keterkejutannya tidak hanya sampai di situ. Bahkan, aku adalah kepingan ketiga bagi Arvin, batinnya dalam hati. Dia tidak merasa kecewa dengan kenyataan itu. Dia tetap merasa bahwa kepingan ketiga tetaplah kepingan istimewa.

---------- TAMAT ----------

Kembali ke bagian sebelumnya - Daftar Isi 

Baca Juga:

Komentar