Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 7. Jiwa yang Tertukar

Halaman Depan > Novel > S.I.P (sekuel novel M.I.T) > Bab 7. Jiwa yang Tertukar
______________________________________

Kubuka mataku secara perlahan. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari kalau aku sedang berbaring. Tampak langit-langit, lampu, dan lubang-lubang di atas sana. Aneh! Semuanya tampak baru, belum pernah kulihat sebelumnya. Kuturunkan sedikit tatapan sambil mengedarkan pandangan. Suasananya benar-benar asing! Aku belum pernah berada di tempat ini sebelumnya. Ini bukan tempat tidurku. Ini bukan kamarku.

Sebenarnya ini juga tidak tepat disebut tempat tidur, melainkan kursi sofa panjang. Apakah ini hanya mimpi.

“Aku di mana? Kenapa aku terbaring di sini?” tanyaku pelan seperti bergumam.

“Kamu tidak tidur. Kamu tadi pingsan.” Sebuah suara tiba-tiba merespon pertanyaanku barusan. Pemilik suara itu mudah untuk dikenali. Dengan segera aku tahu kalau itu suara ayah mertuaku.

“Apa sebenarnya yang sedang terjadi?” Pikiranku mulai bekerja normal. Aku pun mencoba mengingat-ingat apa sebenarnya yang kualami.

“Sudah. Tidak perlu dipikirkan. Kamu istirahat saja dulu.” Kembali terdengar suara yang sama. Ayah mertuaku mencoba menenangkanku.

Ingatan terakhirku tiba-tiba menyeruak ke ruang kesadaranku. Dengan perlahan ingatan itu makin jelas. Saat itu aku sedang berhadapan dengan dokter di depan pintu ruang operasi. Ucapan dokter itu pun kembali terngiang. Degupan jantungku langsung melonjak. Darahku langsung memanas. Aku pun berteriak,

“Mana istriku???!!”

“Dia baik-baik saja. Itu di tempat tidur.” Ayah mertuaku menunjuk ke arah tempat tidur khas rumah sakit yang ada di sebelah kanannya.

“Mana anakku???!!!” Obrolanku dengan dokter waktu itu semakin jelas terbersit di dalam ingatanku.

Ayah terdiam. Hening. Suasana yang mencurigakan. Naluriku langsung bekerja. Semuanya pasti tidak sedang baik-baik saja. Keheningan ini menusukku.

Beberapa saat kemudian terdengar suara tangisan yang agak tertahan. Aku menoleh ke arah suara itu, di dekat ujung kakiku. Di sana terlihat ibu mertuaku sedang menangis sesegukan.

Kecurigaanku makin menguat. Ada yang tidak beres. Kuingat-ingat kembali kejadian terakhir sebelum aku terbaring di sini. Jawabannya pun menjadi jelas. Semua ucapan dokter yang melakukan operasi terhadap Mentari mampu kuingat secara utuh.

“Tenang saja. Bayinya sudah diurus.” Akhirnya ayah mertuaku kembali bersuara. Terdengar suaranya bergetar. Tampaknya beliau sedang berusaha tegar, menahan kesedihan yang mendalam.

Kejadiannya semakin kumengerti. Semuanya memang tidak baik-baik saja. Kata-kata dokter kembali terlintas di benakku. Bayi yang sudah kami nantikan selama enam bulan ini ternyata tidak terselamatkan.Aku pun tidak dapat menahan diri. Degup jantungku makin kencang. Darahku makin panas. Nafasku makin memburu. Mataku terangat sangat perih. Akhirnya air mataku tidak tertahankan. Perlahan ia menyembul dari sudut mataku. Sudah lama kejadian tragis seperti ini tidak kualami.

Terakhir kali ketidakmampuanku mengendalikan emosi terjadi ketika Mentari hendak menikah dengan Khalid yang kemudian gagal itu. Sejak saat itu, cairan bening di pelupuk mataku tidak pernah kubiarkan menyeruak dan menampakkan diri. Tapi kali ini aku gagal menahannya. Aku kembali menangis.

Kugerakkan tubuhku untuk mencoba duduk. Berhasil. Usahaku untuk berdiri juga berhasil. Dengan sedikit gontai, kulangkahkan kaki mendekati tempat tidur Mentari yang sedang tidak sadarkan diri.

“Dia baru saja minum obat. Jadi tertidur pulas seperti itu.” Ayah mertuaku kembali bersuara sambil berdiri dari kursi di dekat kepala Mentari. Dia mempersilakan aku untuk di duduk di kursi itu.

Aku mengangguk pelan. Kuhempaskan pantatku di kursi yang tadi diduduki ayah mertuaku. Kugenggam tangan istriku dengan sangat erat. Sudut mataku pun bak mata air.

“Seharusnya kamu tidak perlu melakukan eksperimen-eksperimen yang aneh itu. Lihatlah hasilnya kini.” Tiba-tiba terbersit kata-kata di kepalaku. Kata-kata itulah yang ingin kusampaikan kepada istriku kalau nanti dia siuman.

Tapi setelah kurenungkan cukup lama, tidak seharusnya kata-kata seperti itu kuucapkan. Tidak ada gunanya. Tidak akan mengubah keadaan. Waktu tidak bisa diputar kembali. Bukankah dia sekarang sedang terpukul? Sama sepertiku. Penderitaannya itu tidak boleh ditambahi dengan menyalahkannya. Membuatnya merasa bersalah saja harus dihindari, apalagi menyalahkannya. Itu hanya akan menambah kepedihan hatinya.

Pikiranku kembali bekerja menemukan kata-kata yang lebih tepat untuk menghibur dan menguatkannya. Jutaan kata dan kalimat pun berseliweran. Cukup sulit juga memutuskan kata-kata mana yang paling pas untuk diucapkan.

Aku duduk mematung tanpa bersuara. Kedua mertuaku juga melakukan hal yang sama. Suasana hening menyelimuti ruang perawatan. Sesekali hanya terdengar suara tangis tertahan. Itu ibu mertuaku. Sementara Ayah mertuaku tidak melakukan apa-apa, hanya menatap kosong ke arah Mentari yang sedang tertidur.

Pada akhirnya mereka berdua menyerah. Mereka tampak sangat kelelahan. Ibu mertuaku tertidur pulas di sofa tempatku terbaring tadi. Sementara ayah mertuaku tertidur dalam posisi duduk di ujung sofa sambil menyandar ke dinding kamar. Aku sendiri duduk mematung sambil menatap istriku yang terbaring tanpa berkedip sedetik pun.

***

Setengah jam kemudian, tangan Mentari yang sedari tadi terus kugenggam terasa bergerak-gerak. Kelopak matanya juga tampak bergetar seolah sedang berusaha untuk terbuka. Beberapa detik kemudian, matanya perlahan-lahan terbuka.

Perasaanku langsung campur aduk, antara sedih dan senang. Bagaimanapun, tetap saja aku tidak mampu berkata-kata.

Setelah terbuka penuh, bola mata Mentari langsung bergerak ke segala arah. Gerakannya baru terhenti ketika tertuju padaku. Dia menatapku agak lama lalu tersenyum.

“Eh! Abang sudah sadar dari pingsan, ya?” Tangannya terjulur lalu mengelus pipiku.

Aku pun dibuatnya heran. “Kok kamu tahu kalau aku pingsan?”

“Tahulah. Semua orang heboh gara-gara Abang pingsan.”

Seperti biasanya, dapat kupastikan kalau mukaku memerah karena malu.

Mentari memindahkan tangannya yang barusan mengelus pipiku ke atas punggung tanganku yang sedari tadi mengenggam tangan kirinya. Dia ikut menggenggam dengan sangat erat.

“Kamu tahu nasib bayinya?” Kali ini suaraku terdengar pelan seperti berbisik, takut membuatnya sedih.

Dia mengangguk sambil tersenyum.

Kutarik tangan kananku yang sedang digenggamnya dan kuletakkan di keningnya, lalu kuusap ubun-ubunnya dengan lembut. “Kamu seperti tidak sedih?” tanyaku heran.

“Sedihlah, Bang. Enam bulan aku mengandungnya. Masa tidak sedih. Hanya saja, itu sudah terjadi. Tidak bisa diubah lagi.” Matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis tapi bibirnya masih menyunggingkan senyum. Senyum itu benar-benar senyum. Bukan senyum yang dibuat-buat.

Mendengar kata-katanya barusan, tiba-tiba air mataku kembali meleleh. Aku gagal menahan butiran itu menyeruak dari sudut mataku. Aku sesegukan.

“Eehh...! Abang kenapa? Kok nangis seperti anak kecil gitu? Sudah! Sudah! Tidak usah nangis. Itu tidak bakal mengubah keadaan. Terima saja dengan ikhlas.” Mentari mencoba menghiburku.

Aku langsung bengong. Kutatap wajah tenangnya sambil terheran-heran. Sepertinya jiwa kami tertukar. Seharusnya akulah yang berbicara seperti itu untuk menguatkannya. Eh, ternyata akulah yang terbawa emosi sampai menangis sesegukan begini, sehingga dialah yang harus menenangkanku.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar