Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 8. Masa Lalu yang Enggan Berlalu

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 8. Masa Lalu yang Enggan Berlalu
_____________________________________________

"Jadi ini yang kamu lakukan ketika aku sedang ke luar kota?!" Pak Sanjaya melemparkan foto-foto ke meja di depan Bu Ratna muda.

"Mas ngomong apaan, sih?!" Bu Ratna memungut foto-foto yang baru saja dilemparkan Pak Sanjaya, suaminya.

'"Sudah lama aku mencurigaimu. Jangan pikir aku tidak memperhatikan dan mengawasimu. Sekarang semua sudah jelas. Itu bukti-buktinya!" teriak Pak Sanjaya sambil berdiri. Tapi dia tidak sanggup menatap wajah istrinya yang tampak panik dan kebingungan itu.

Bu Ratna mengamati foto-foto itu satu per satu. Sebagian besar foto itu berupa adegan dua orang berlainan jenis dalam keadaan tanpa busana. Beberapa foto terlihat samar. Tapi banyak juga foto yang tampak jelas, termasuk pada bagian wajahnya.

Bu Ratna pun segera menyadari kalau salah satu wajah di foto itu adalah wajahnya! Sementara wajah lainnya milik Erik, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sangat dewasa, berkharisma, dan penuh pesona yang selalu hadir menemaninya ketika dia sedang dilanda kesepian karena ditinggal suaminya yang sangat sibuk dengan bisnisnya itu.

"Itu karena kamu terlalu sibuk, Mas. Kamu tidak pernah memperhatikan kebutuhan batin istri!!!" Bu Ratna akhirnya berteriak ingin membela diri.

"Kamu pikir aku bekerja keras hanya untuk diriku sendiri?! Kamu pikir dari mana kamu mendapatkan semua bahan untuk berdandan cantik seperti itu?! Kamu pikir dari mana kamu bisa membeli baju-baju bagus yang kamu gunakan untuk merayu lelaki hidung belang itu?" Pak Sanjaya berteriak-teriak.

Dia berhenti sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam ingin menenangkan diri. Namun gagal. Dia pun kembali berteriak, "Semua kerja keras yang kulakukan selama ini hanya untuk kamu dan Miranda!!! Ini semua untuk keluarga kita!!!"

Bu Ratna tak mampu berkata-kata lagi. Percuma dia membela diri. Ini memang kesalahannya karena tidak mau sedikit bersabar ketika dilanda kesepian. Ini benar-benar kesalahannya karena dengan mudah tergoda begitu saja oleh rayuan Erik yang menyesatkan.

"Mulai sekarang aku menceraikanmu. Silahkan lanjutkan kisah asmaramu dengan lelaki pujaanmu itu." Pak Sanjaya berkata agak lebih datar. Tapi kemudian nada suaranya mendadak berubah. Dia pun berteriak, "Pergi kamu dari rumah ini!!!"

Bu Ratna hanya mampu menangis terisak-isak. Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya tidak mungkin diperbaiki lagi. Dia pun beranjak dari sofa dan melangkah cepat menuju pintu depan.

"Mama!!!" Tiba-tiba Miranda kecil yang baru berumur sembilan tahun berteriak dan mengejar Bu Ratna. Rupanya sedari tadi dia menyimak semua adegan yang diperagakan orang tuanya dari balik pintu kamar.

"Mira!!!" Panggil Pak Sanjaya. "Tidak perlu kamu kejar wanita jalang itu. Biarkan dia pergi ke rimba belantara yang lebih disenanginya itu," lanjutnya sambil mengejar Miranda dan menangkap tubuh mungilnya, lalu mendekapnya dengan erat.

"Mama!!! Mama!!! Jangan tinggalkan Mira, Ma. Mira sayang Mama!!! Huhuhu....!!!" Miranda menangis tersedu-sedu sambil meronta-ronta di dalam dekapan ayahnya.

"Sudah, Sayang. Disini ada Papa, kok." Bujuk Pak Sanjaya dengan lembut.

"Papa! Papa! Jangan suruh Mama pergi Pa! Cepat kejar Mama, Pa! Huhuhu..." Miranda terus menangis sambil menghiba kepada Pak Sanjaya.

***

"Apakah ini hukuman yang harus kuterima karena membuat kesalahan di masa lalu itu? Tapi kenapa Miranda yang harus menanggungnya? Kenapa dia yang harus mengalami kepedihan hidup secara bertubi-tubi? Ini semua bukan salahnya. Ini semua salahku," bisik Bu Ratna.

"Mama bicara apa, sih?" Miranda memeluk tubuh ibunya erat-erat.

Pikiran Bu Ratna makin kacau saja tatkala terkenang lagi kesalahan besarnya di masa lalu itu. Tiba-tiba saja dia merasa dadanya sesak. Dia terlihat kesulitan bernafas. Dia mengap-mengap seperti ikan kekeringan.

"Mama kenapa?!" Miranda panik luar biasa. Bu Ratna tidak mampu lagi bersuara. Tubuhnya langsung kejang-kejang beberapa detik, lalu tidak bergerak.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar