Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 9. Gencatan Senjata

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 9. Gencatan Senjata
____________________________________________

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya Vania melangkah mendekati ayahnya yang sedang duduk di teras samping rumah.

"Vania minta maaf, Pa!" teriak Vania sambil menghambur dan berlutut di depan ayahnya lalu memeluk kaki laki-laki yang paling disayanginya itu dan mulai menangis tersedu-sedu.

Arvin langsung kaget mendapati tingkah aneh Vania.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya terheran-heran.

Dia kemudian balas memeluk lalu membelai rambut putri sulungnya itu. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa tiba-tiba putrinya bertindak seperti itu. Kenapa Vania berubah sangat cepat, dari sangat membencinya kemarin-kemarin menjadi sangat peduli seperti sekarang.

"Vania minta maaf karena telah mengabaikan Papa." Suara tangis Vania belum berhenti.

"Ooh masalah itu. Tidak perlu dipikirkan. Papa tahu kamu masih marah atas tindakan Papa yang sangat memalukan itu. Papa bisa memaklumi dan menerima kalau kamu sampai semarah kepada Papa," balas Arvin dengan suara lembut, lalu mengangkat kepala putrinya. Dia pun menyunggingkan senyum indah kepada Vania untuk menenangkan.

Vania berdiri lalu duduk di kursi sebelah kiri ayahnya.

"Vania sudah menanyai Tante Ratmi tentang hubungan Papa dengan Tante Angela. Kalau mendengar cerita Tante Ratmi, Vania yakin Papa tidak bermaksud menghianati Bunda Karin. Tante Angela saja yang kecentilan. Benar begitu, Pa?"

Arvin kembali tersenyum lalu mengangguk.

"Papa tidak pernah berniat mengkhianati siapa pun, apalagi kalian. Kalian adalah segala-galanya bagi Papa. Mana mungkin Papa tega mengkhianati."

Dia tampak tertegun cukup lama sebelum melanjutkan,

"Tapi Papa akui Papa sudah melakukan kesalahan fatal."

"Vania sudah memaafkan Papa," timpal Vania.

Gadis remaja itu mengangkat wajah dan menatap ke arah ayahnya sambil memasang ekspresi sedikit bersalah.

Arvin tersenyum lebar.

"Terima kasih, ya, Sayang," ucap Arvin dengan suara bergetar.

Vania membalas dengan anggukan dan mata yang berbinar-benar.

"Vania yakin Bunda Karin juga akan memaafkan Papa," timpalnya.

"Mudah-mudahan. Papa juga tidak berani berharap terlalu banyak," kata Arvin masih terdengar lesu.

"Nanti biar Vania yang meyakinkan Bunda," kata Vania penuh semangat dan sangat meyakinkan.

Mata Arvin tampak berkaca-kaca setelah mendengar ucapan putrinya barusan. Ketakutannya kalau Vania akan membenci dirinya selamanya langsung terkikis habis. Dia kemudian menjadi penasaran, kira-kira apa sebenarnya yang telah terjadi sehingga gadis kecilnya ini bisa tiba-tiba berubah seperti itu.

***

Saat Vania masuk dan berjalan menuju ke kamarnya, Karin mencegatnya di dekat pintu.

"Sebentar! Barusan Bunda tidak salah lihat, bukan? Kamu sudah berbaikan dengan Papamu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.

"Iya" jawab Vania pendek sambil tersenyum indah.

Kening Karin langsung mengerut dalam.

"Kok bisa begitu?" tanyanya heran. "Kemarin kamu bilang sangat membenci papamu. Kamu tidak akan memaafkannya untuk selamanya. Kok sekarang bisa berubah sedrastis itu?"

Vania masih tersenyum.

"Gara-gara teman di sekolah, Bun," jawabnya terlihat malu-malu.

"Teman di sekolah?" Karin masih dibuat heran.

"Iya," jawabnya sambil mengangguk penuh keyakinan.

Karin terlihat makin penasaran.

"Memangnya temanmu itu telah melakukan apa sampai-sampai kamu bisa berubah mendadak seperti itu?"

Vania langsung menangkap pergelangan tangan bundanya lalu menariknya menuju ke kamar. Mereka berdua langsung masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Vania duduk di tepian tempat tidur. Sementara Karin duduk di kursi belajar yang dihadapkannya ke arah putrinya itu.

"Kenapa harus bercerita di sini?" tanya Karin heran.

"Ini rahasia kita berdua saja, Bun?" Vania tersenyum.

"Okey. Jadi bagaimana ceritanya?" tanya Karin tampak sangat penasaran.

"Temanku itu menceritakan pengalamannya di rumah. Dia juga menceritakan sebuah kisah yang penuh makna."

Kening Karin makin mengerut.

"Bunda belum paham. Coba ceritakan secara detail."

Vania pun mulai menceritakan apa yang telah diceritakan teman di sekolahnya beberapa waktu lalu. Dia tidak menyebutkan kalau nama temannya itu adalah Bima, sebab bundanya masih belum mengizinkannya terlalu dekat dengan laki-laki. Dia memberitahu bundanya kalau dia telah merenungkan cerita temannya itu semalaman. Dia pun menyimpulkan kalau temannya itu memang benar. Tidak seharusnya dia ikut menambah beban pikiran ayahnya. Justru kini dia yang telah membuat kesalahan, membiarkan ayahnya berjuang sendirian keluar dari kondisi terpuruk seperti sekarang.

"Ooh begitu." Karin mengangguk-angguk setelah menyimak cerita Vania barusan.

"Bunda juga jangan lama-lama marahnya, ya. Bunda harus segera memaafkan Papa. Lihat Papa seperti mayat hidup begitu. Bunda tidak kasihan melihat Papa seperti itu terus menerus?" bujuk Vania dengan suara sedikit mengiba.

Karin tampak kaget luar biasa ditembak putri sambungnya itu dengan kata-kata yang langsung menohok ulu hati.

"Terima kasih, ya, Sayang. Bunda jadi merasa bersalah juga. Nanti Bunda minta maaf sama Papamu," balasnya dengan suara tenang dan pelan.

Dia akhirnya tersenyum setelah beberapa minggu ini memasang tampang cemberut. Setelah itu, dia tampak tertegun cukup lama. Benar apa yang dikatakan Vania. Selama ini Arvin jarang sekali membuat kesalahan atau sampai menyakiti hatinya. Dia selalu menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik mungkin. Bahkan semua yang dilakukannya terkesan sangat istimewa. Kejadian di video itu mungkin hanya satu dari sedikit sekali kesalahan atau kekhilafan yang pernah diperbuatnya. Tidak seharusnya dia marah berkepanjangan gara-gara satu keburukan dan melupakan kebaikan yang jauh lebih banyak.

Selesai berbincang dengan Vania di kamar itu, Karin langsung pergi ke pasar. Dia kembali berbelanja isi dapur seperti biasanya, sama seperti sebelum muncul video suaminya. Saat di pulang ke rumah, Vania sedang tidur. Arvin juga tidak tampak. Mungkin sedang pergi memancing di danau di ujung kompleks. Dia langsung menuju dapur, kembali sibuk masak, setelah berminggu-minggu tidak melakukannya. Dia terlihat sangat bersemangat memasak beberapa menu dalam jumlah banyak.

Setelah salat maghrib, dia menghidangkan semua masakannya sore tadi di meja makan. Dia kembali menyiapkan empat buah piring dan empat buah gelas di atas meja. Rutinitas yang sempat hilang beberapa minggu ini kembali dilakukannya. Selesai menyiapkan itu semua, dia langsung menuju ke kamar Vania dan Widya. Dibisikinya kedua putri sambungnya itu untuk datang lebih dulu ke meja makan dan menunggu di sana. Kedua putrinya mengangguk sambil tersenyum senang.

Dia juga mendatangi Arvin yang masih berada di kamar tamu. Pintu kamar itu tidak tertutup penuh. Saat didorongnya, pintu itu tidak mengeluarkan bunyi. Dia menghampiri suaminya yang sedang duduk menghadap jendela sehingga membelakanginya.

Rupanya Arvin tidak menyadari kedatangannya. Dipegangnya kedua pundak suaminya itu sambil berucap,

"Makan malam, yuk, Mas."

Suaranya terdengar sangat lembut.

Arvin menoleh dan terlihat kaget.

"Eh, Bunda! Aku tidak sadar Bunda tiba-tiba sudah ada di sini," balas Arvin sambil memutar tubuh hingga berhadapan dengan Karin.

"Duluan saja sama anak-anak. Aku masih ada pekerjaan sedikit."

"Anak-anak sudah menunggu. Kata mereka, mereka baru akan makan kalau papanya juga ikut."

"Hah!" Arvin tampak makin kaget.

Karin menunduk cukup lama. Wajahnya tampak bersemu merah sehingga makin terlihat imut. Dia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Akhirnya dia kembali mengangkat kepala dan menatap lurus ke mata Arvin sambil berucap,

"Aku minta maaf ya, Mas. Aku minta maaf karena sudah mengabaikanmu cukup lama. Bukannya membantumu mengatasi masalah, aku malah menambah beban pikiranmu."

Arvin terlonjak kaget.

"Hei! Kenapa kamu yang meminta maaf? Akulah yang berbuat salah. Akulah yang seharusnya meminta maaf," balasnya sambil terheran-heran.

Dia lalu memberanikan diri memegang lengan istrinya. Sebenarnya dia masih takut Karin akan menepiskan tangannya itu. Tapi rupanya tidak.

"Aku minta maaf, ya, Bunda, atas kekhilafan itu," katanya dengan suara lembut dan mengiba.

"Iya. Aku sudah memaafkanmu. Tapi untuk kali ini saja. Kalau kamu mengulanginya lagi, aku tidak tahu apakah akan memaafkan atau tidak," kata Karin terlihat sedikit merajuk.

Wajahnya masih bersemu merah sehingga membuat Arvin merasa gemas untuk mencubit pipinya.

"Terima kasih, ya, Sayang. Aku senang sekali mendengarnya."

Mata Arvin langsung berbinar-binar. Senyum kebahagiaan langsung terukir indah di bibirnya.

"Janji untuk mengulanginya lagi, ya," kata Karin dengan suara manja dan memasang wajah imut. Pipinya ikut digembungkan sehingga membuat wajahnya semakin menggemaskan.

Arvin mengangguk, lalu berdiri dan memeluk Karin dengan sangat erat.

Karin dengan sedikit ragu mulai ikut melingkarkan tangannya ke pinggang Arvin. Dadanya tiba-tiba terasa plong. Beban berat yang dirasakannya selama ini seperti lenyap begitu saja. Ternyata memaafkan benar-benar dapat menghilangkan beban pikiran dan perasaan negatif yang menyelimutinya selama ini. Pelukan itu makin dieratkannya. Perasaannya makin nyaman ketika satu kecupan mendarat di ubun-ubunnya.

Arvin melepaskan pelukannya.

"Kita makan malam dulu, yuk! Kasihan Vania dan Widya menunggu lama di sana," katanya sambil tersenyum lalu menatap mata Karin yang berkaca-kaca.

Mereka berjalan menuju meja makan. Karin melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Arvin. Sementara Arvin mendekap pundak Karin. Mereka berjalan mantap sambil sesekali saling pandang dan tersenyum.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar