Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 1. Muslihat Kepala Sekolah

Halaman Depan > Novel > Dilema Novelis Pemula > Bab 1. Muslihat Kepala Sekolah

_____________________________________________

Sekolah dasar itu tidak terlalu mencolok, baik bangunan maupun reputasinya. Walaupun lokasinya tidak jauh dari pusat kota, tapi bangunannya tampak jauh ketinggalan zaman. Masih ada ruang kelas yang dindingnya terbuat dari papan-papan yang mulai lapuk. Seluruh permukaan atapnya sudah berubah menjadi cokelat tua akibat karat yang merajalela. Plafon triplek yang dipasang untuk mencegah anak-anak langsung terkena panas dari atap sudah berguguran sejak lama. Ritual para murid dan guru mengelap keringat di tengah jam pelajaran sudah menjadi pemandangan yang lumrah.

Meskipun begitu, masih cukup banyak nasib anak manusia yang digantungkan di langit-langitnya. Masa depan para siswa sangat ditentukan bagaimana mereka diperlakukan oleh guru di sana. Keberlangsungan hidup guru honorer juga sangat bergantung dengan dana bantuan pemerintah yang dikucurkan ke sekolah sesuai dengan jumlah siswa. Rasanya, hanya para guru berstatus aparat sipil negara yang bisa tersenyum semringah setiap bulannya karena gaji mereka sudah dilipatgandakan oleh pemerintah. Meskipun faktanya, kinerja mereka tetap sama saja, bahkan sebagian malah menjadi lebih parah dari sebelumnya.

Hania adalah salah satu guru honorer yang menggantungkan nasib di sekolah itu. Pagi ini dia berlari-lari kecil melewati gerbang Sekolah, tampak sangat terbaru-buru. Wajahnya pucat pasi setelah melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Pagi ini dia terlambat datang! Untuk ukuran masyarakat di sana, keterlambatannya merupakan hal biasa. Apalagi itu baru sepuluh menit. Tapi bagi Hania, itu bisa menjadi malapetaka luar biasa yang akan mempengaruhi masa depan dan keberlangsungan hidup dia dan keluarganya.

Sebelum ke sekolah tempatnya bekerja, Hania menyempatkan diri mampir ke SMA tempat adik perempuannya bersekolah. Dia harus menemui kepala SMA secara langsung untuk memberitahukan kalau adiknya tidak bisa ikut studi banding ke luar kota. Ongkos yang dibebankan oleh sekolah untuk kegiatan itu tidak berhasil dikumpulkannya.

Sebenarnya Hania tidak ingin mengecewakan adiknya. Boleh dikata, dia rela melakukan segala cara demi membuat adiknya semringah. Segala upaya sudah dilakukannya untuk mengumpulkan uang yang harus disetor ke sekolah. Tapi jumlah yang terkumpul sangat kecil, masih jauh dari jumlah yang harus dibayarkan kepada panitia studi banding di sekolah. Hingga batas waktu yang ditentukan yaitu hari ini, dia tetap tidak mampu menyediakan uang sesuai dengan jumlah yang telah diinformasikan sebelumnya.

Kalau saja ayahnya masih hidup, mungkin masalah itu akan dengan mudah diatasinya. Ayahnya merupakan sosok yang sangat bertanggung jawab. Walau hanya seorang pekerja serabutan, dia selalu mampu mengatasi semua masalah keluarganya, sebesar apa pun masalah itu. Hania berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana berkat kerja keras ayahnya.

Tiba-tiba butiran bening menyeruak di sudut matanya tatkala raut wajah ayahnya terbersit begitu saja di ingatannya. Segera dikeluarkannya tisu. Sambil terus melangkah cepat, dihapusnya butiran bening yang mulai antri bergulir di pipi mulusnya. Emosinya sedikit tidak terkendali pagi ini.

Langkahnya semakin cepat ketika melewati lapangan tanah kuning yang luas di tengah-tengah sekolah. Suasana tampak lengang karena para murid sudah masuk semua ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran pertama.

Sambil terus melangkah, pikirannya mulai berandai-andai. Kalau misalnya ibunya masih sehat, uang untuk studi banding adiknya masih memungkinkan untuk diusahakan. Namun, semenjak mulai sakit dua bulan lalu, dan semakin parah dua minggu kemudian, ibunya tidak bisa lagi berjualan di pasar. Otomatis tidak ada lagi sumber pemasukan keluarga mereka selain dari honornya sebagai guru honorer.

Sayangnya, honor yang diterimanya setiap tiga bulan sekali itu tidak akan pernah cukup untuk membayar uang studi banding adiknya. Jangankan untuk studi banding, untuk makan sehari-hari saja upah yang tidak berperikemanusiaan itu malah sering tidak cukup. Hania terpaksa melakukan bermacam-macam pekerjaan sampingan untuk menutupi kekurangannya.

Ketika mahasiswa sedang musim ujian, dia menawarkan jasa pengeditan naskah skripsi. Upah dari jasa itu lumayan menjanjikan. Namun itu tidak berlangsung sepanjang tahun. Paling-paling dalam satu tahun, hanya dua atau tiga bulan dia mendapat banyak pesanan jasa pengeditan. Beberapa mahasiswa pernah menawarinya honor yang jauh lebih besar, sampai jutaan rupiah, tapi permintaannya tidak sesuai dengan hati nuraninya. Mereka minta dibuatkan skripsi utuh. Dengan lembut, Haniyah menolaknya, meskipun di dalam hati dia sempat tergoda.

Ketika di malam hari dia punya waktu sengang, dia menyempatkan diri membuat kue jajanan untuk anak-anak. Pagi harinya kue itu dibawanya ke sekolah untuk dititipkan di kantin. Walaupun untungnya tidak banyak, tapi cukup untuk membeli sayuran sehari-hari.

 “Bu Hani!!!”

Lamunan Hania buyar ketika terdengar namanya dipanggil. Dia langsung menoleh ke sumber suara. Rupanya itu suara Bu Surtini, ibu kepala sekolah.

“Ke ruangan saya dulu!” teriak Bu Surtini dari depan pintu kantor kepala sekolah.

Karena jarak ibu kepala sekolah itu cukup jauh dari tempatnya berdiri, Hania terpaksa menjawab hanya dengan anggukan. Tanpa berpikir lagi, dia langsung memutar badan dan melangkah cepat menuju ruang kepala sekolah.

***

“Kalau tidak sanggup dan tidak mampu lagi bekerja di sini, berhenti saja! Tidak ada yang memaksa kamu tetap di sini!” Bentak Bu Surtini dengan sangat geram. Dia sebenarnya belum lama ditunjuk menjadi kepala sekolah di SD ini, baru tiga bulan yang lalu. Tapi mungkin karena karakternya memang keras dan temperamen, dia tidak segan untuk langsung melampiaskan amarahnya kepada siapa pun yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapannya.

Haniyah yang duduk tepat di depan meja Bu Surtini hanya tertunduk ketakutan. Wajahnya kembali pucat pasi.

“Sudah datang terlambat, pekerjaan juga tidak kelar-kelar!” rutuk Bu Surtini lagi masih dengan muka memerah karena marah.

Haniyah masih tidak mampu mengangkat kepala. Dia bukannya tidak mau menyelesaikan tugas tambahan yang diberikan kepala sekolah seminggu yang lalu. Belakangan ini dia tidak bisa bekerja di rumah karena harus merawat ibunya yang sakitnya semakin parah. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Sementara untuk menyelesaikan tugas itu, dia harus berpikir keras dan fokus.

Dia tampak hendak menyampaikan sesuatu, mungkin ingin menjelaskan kondisi yang sedang dihadapinya kepada Bu Surtini, tapi segera diurungkannya karena merasa itu akan percuma. Sudah terlihat sangat jelas kalau Bu Surtini sangat tidak menyukai dirinya sejak pertama kali ditugaskan di sini dengan berbagai alasan.

“Saya tunggu sampai nanti siang!” Akhirnya Bu Surtini memberikan ultimatum.

“Baik, Bu. Akan segera saya selesaikan,” balas Haniyah dengan suara terdengar sedikit bergetar.

“Cepat kembali ke meja kerjamu! Kerjakan segera tugas itu! Hari ini adalah batas akhir penggunggahannya! Jangan sampai kamu merusak mood saya hari ini!”

Haniyah berdiri tanpa berani mengangkat kepala sama sekali. Dia tidak berani menatap wajah Bu Surtini itu, yang selain sangar juga sering berdandan mencolok, seperti tidak tahu cara berdandan. Ucapan dan riasannya sering kali setali tiga uang.

 Haniyah berjalan cepat meninggalkan ruang kepala sekolah. Dia ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan yang seperti neraka itu. Semakin hari kecemasan semakin menumpuk. Dia semakin tidak yakin dapat mempertahankan status honorernya di sekolah ini. Dia pernah mendengar isu bahwa Bu Surtini memang sengaja membuatnya tidak betah. Alasannya sederhana, dia ingin memasukkan kerabatnya yang baru wisuda ke sekolah ini.

Peraturan terbaru dari walikota dengan tegas membatasi tenaga honorer. Jatah honorer di sekolah ini sudah penuh. Otomatis Bu Kepsek temperamen itu tidak bisa langsung mengangkat kerabatnya itu. Selain itu, kepala sekolah juga tidak bisa memberhentikan tenaga honorer tanpa alasan yang jelas. Hanya pelanggaran disiplin yang berat yang bisa dijadikan sebagai dasar pemberhentian itu. Pelanggaran sedang yang dilakukan secara berulang-ulang memang bisa menjadi alasan. Tapi itu jarang terjadi.

Hingga minggu lalu, Haniyah tidak pernah melakukan pelanggaran-pelanggaran itu. Seberat apa pun pekerjaan yang diberikan kepala sekolah padanya, dia mampu menyelesaikannya. Sebanyak apa pun tuntutan yang diminta kepala sekolah, dia mampu memenuhinya. Haniyah memang sempat mengeluh dalam hati kenapa dia mendapat perlakuan yang tidak adil seperti itu. Besaran honor yang diterimanya setiap bulan sama dengan honorer yang lain. Tapi pekerjaan yang harus dia lakukan jauh lebih banyak dan lebih berat dibandingkan mereka.

Sebenarnya guru honorer di sekolah itu lumayan banyak, ada sebelas orang. Namun sepuluh orang lainnya punya kerabat di sekolah, baik guru maupun staf TU. Hanya Haniyah yang tidak memiliki kerabat. Dia diterima di sekolah itu benar-benar atas pertimbangan kemampuan yang dimilikinya. Pada waktu itu, kepala sekolah yang lama sedang berupaya meningkatkan akreditasi sekolah. Dia butuh orang yang memang cerdas, rajin, pandai menulis, dan pandai mengoperasikan hal-hal berbau TIK. Haniyah memenuhi semua persyaratan itu. Dan dia benar-benar bisa diandalkan!

Haniyah tidak mengurangi kecepatannya berjalan menuju ruang guru. Ketika dia masuk, ruangan lengang karena para guru sedang masuk ke kelas masing-masing. Dia langsung duduk di mejanya lalu membuka laptop. Jantungnya kembali berdegup kencang ketika terdapat pemberitahuan di layar laptopnya. Hari ini juga batas akhir untuk pekerjaan lain yang harus diselesaikannya!

----------

Daftar Isi > Lanjut ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar