Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 7. Tak Mampu Berbohong

Halaman Depan > Novel > Garis Takdir Tiga Insan > Bab 7. Tak Mampu Berbohong
_____________________________________________

Bu Ratna sedang duduk di balkon ketika terdengar suara kunci pintu diputar. Dia tampak kaget. Semenjak Miranda menikah dan memutuskan ikut ke apartemen suaminya, dia dirawat oleh dua orang perawat secara bergantian. Perawat yang menemaninya tadi malam baru saja pulang. Sekarang giliran perawat kedua. Tapi perawat itu sudah meminta izin untuk tidak datang. Lalu siapa yang berusaha membuka pintu itu?

Satu-satunya kemungkinan adalah Miranda. Tapi kenapa Miranda datang di hari kerja seperti ini? Apakah putrinya itu sedang menghadapi masalah?

Setelah menikah, Miranda memang tidak mengabaikannya. Secara rutin putrinya itu datang setiap akhir pekan atau di hari libur nasional. Kadang dia sekedar datang beberapa jam untuk menjenguk dan memastikan kesehatan ibunya. Tapi sering pula dia menginap satu atau dua malam.

Walaupun kebutuhan sehari-hari telah disediakan oleh perawat yang datang rutin setiap hari, Bu Ratna tetap merasa kehadiran putrinya merupakan kebutuhan yang sangat penting, terutama kebutuhan batin. Dia terus berjuang melawan penyakitnya hanya untuk menyaksikan putri semata wayangnya itu bahagia.

Dia pun mulai berharap kalau orang yang sedang membuka pintu itu adalah Miranda. Dia langsung mendorong kursi roda mendekat ke ruang tamu, ingin segera menemui tamu itu. Tebakannya benar. Terlihat Miranda baru saja masuk sambil menarik koper besar.

Pemandangan itu agak aneh. Semenjak tinggal di apartemen suaminya, Miranda tidak pernah membawa koper sebesar itu kalau menginap. Biasanya dia hanya membawa tas ransel kecil berisi beberapa potong pakaian. Berarti putrinya itu berniat menginap cukup lama. Tapi mengapa? Bu Ratna bertanya-tanya dalam hati.

"Kok kamu bawa koper sebesar itu, Mir?" tanya Bu Ratna tampak heran.

"Tidak apa-apa, Ma. Mira hanya ingin menginap di sini agak lama," jawab Miranda. Dia mencoba tersenyum, tapi agak kesulitan mengangkat ujung bibirnya.

"Lha?! Suamimu tidak apa-apa ditinggal lama?" tanya Bu Ratna lagi masih belum mengerti. Keheranannya tentu makin bertambah. Bahkan kini malah berubah menjadi curiga.

"Mas Robert baru saja terbang ke Eropa, Ma. Ada urusan penting. Dia mungkin di sana seminggu lebih. Mira tidak nyaman tidur sendiri di sana," jawab Miranda kembali mencoba tersenyum. Tapi tetap saja itu terlihat agak aneh.

Bu Ratna terlihat lega. "Oh, begitu. Mama malah sangat senang kalau kamu menginap disini lebih lama." Senyumnya langsung mengembang.

"Mira nanti malam tidur sama Mama saja, ya?"

"Lho! Lho! Tumben kamu mau tidur sama Mama. Biasanya tidur sendiri terus. Mencurigakan ini." Bu Ratna terkekeh-kekeh mencoba mencandai putrinya itu.

"Lagi ingin saja, Ma. He he." Miranda juga terkekeh, mencoba meladeni candaan ibunya. Namun, lagi-lagi itu terlihat aneh dan canggung.

"Ya sudah tidak apa-apa. Mama juga senang kalau kamu masih mau tidur dengan Mama."

Sedari tadi diam-diam Bu Ratna mengamati secara seksama tingkah laku dan ekspresi wajah anaknya yang agak aneh itu.

"Mira meletakkan tas ke kamar dulu ya, Ma."

"Iya," jawab Bu Ratna singkat sambil mengangguk.

Miranda melangkah melewati ibunya sambil menarik koper besarnya. Dia pun berlajan menuju kamarnya. Saat pintu kamar dibuka, isinya terlihat bersih dan rapi. Rupanya perawat yang bekerja di sini sangat bertanggung jawab. Walaupun kamar itu hanya ditiduri seminggu sekali, tetap saja perawat itu membersihkan dan merapikan setiap hari.

Sementara itu, Bu Ratna tetap di ruang tamu yang merangkap ruang santai keluarga. Dia menyalakan televisi dan menyetel acara infotainment.

Beberapa menit kemudian Miranda muncul dan langsung duduk di sofa tepat di sebelah ibunya.

Bu Ratna menatap lekat-lekat wajah putrinya itu.

"Kamu baik-baik saja kan, Mir?" tanyanya terlihat khawatir.

"Mira baik-baik saja, Ma," jawab Miranda lebih tegas, sambil mencoba mengukir senyum. Tapi lagi-lagi gagal. Dia benar-benar tidak mampu menyembunyikan suasana hatinya yang kacau balau.

Ibunya masih menatap ragu.

"Tapi semenjak datang tadi sampai sekarang kamu terlihat tidak baik-baik saja," ujarnya dengan suara terdengar khawatir.

"Benaran, Ma. Mira baik-baik saja. Kalau terlihat lesu, itu karena kecapaian saja. Pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya dan sebagian besar sedang bermasalah."

"Mama sering melihat kamu menghadapi banyak masalah di kantor, tapi kamu tidak pernah sekusut ini."

"Yaa... karena masalah kantor sekarang jauh lebih berat daripada sebelumnya, Ma. Dunia sekarang sedang mengalami pandemi sekaligus resesi ekonomi. Itu sangat berdampak pada perusahaan." Miranda berbicara dengan lambat karena harus sambil berpikir ketika menyampaikan itu.

Apa yang disampaikannya barusan hanya hasil imajinasinya belaka. Faktanya tidak seperti itu. Berhubung ibunya tidak terlalu paham tentang dunia bisnis, terpaksa dia memberi alasan itu. Alasan seperti itu tidak pernah mencurigakan bagi ibunya. Bagaimanapun, dia tetap merasa bersalah. Tidak biasanya dia berbohong seperti ini. Masalahnya, dia merasa tidak punya pilihan lain.

"Jujur saja ke Mama. Kamu sedang ribut sama Robert, kan?" Bu Ratna langsung menembak ke sasaran. Ditatapnya mata putrinya itu secara mendalam.

Miranda tidak tahan ditanya dan ditatap seperti itu. Dia memalingkan muka.

"Eeeh... Mama mau dibuatkan apa? Mira mau masak mie instan, he he..." katanya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Miiiraaaa...! Tatap mata Mama! Kamu tidak usah mengalihkan. Mama tahu kamu sedang punya masalah dengan suamimu. Naluri seorang ibu tentang anaknya tidak pernah salah!"

"Iya, Ma.... Mira memang sedang menghadapi banyak masalah. Tapi bukan dengan Robert. Ini hanya masalah kantor. Hubungan kami baik-baik saja. Mama tahu sendiri Robert itu sangat baik. Dia tidak pernah membuat ulah. Sampai sekarang dia masih seperti itu, tetap baik." Miranda menggenggam tangan ibunya, mencoba menenangkannya.

"Mira, kamu tidak usah membohongi Mama. Mama itu merawatmu dari lahir. Walau kemudian kita sempat terpisah, tapi naluri keibuan Mama masih tetap bekerja. Mama tetap bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Mama tahu kapan kamu punya masalah pekerjaan, kapan kamu punya masalah percintaan, serta kapan pula kamu punya masalah rumah tangga."

"Beneran, Ma! Masalah Mira sekarang tidak ada hubungannya dengan Robert. Kalau misalnya memang ada masalah dengan dia, pasti Mira ceritakan ke Mama. Pada siapa lagi Mira menceritakannya kalau bukan pada Mama?"

"Ya sudah kalau memang seperti itu. Kamu masak sarapan dulu sana. Sekalian buatkan mama nasi goreng juga. Nasinya masih ada di rice cooker."

"Iya, Ma. Mira ke dapur dulu, ya."

Ponsel Miranda tiba-tiba berbunyi. Ketika dibukanya, sebuah pesan dari Ratmi. Dia membuka pesan itu lalu membalasnya. Setelah itu diletakkannya begitu saja ponsel itu di atas sofa sewaktu dia berdiri dan beranjak ke dapur.

Sambil memasak, Miranda tampak berpikir keras. Dia sedang dihadapkan pada dilema, menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada ibunya atau merahasiakannya. Pesan dokter spesialis jantung tempo hari sangat jelas, dia tidak boleh menceritakan kabar buruk yang berat-berat. Itu bisa memicu jantung ibunya bekerja terlalu berat. Efeknya bisa sangat berbahaya. Sementara apa yang sedang dihadapinya saat ini dapat dipastikan merupakan kabar sangat buruk bagi ibunya. Miranda pun memutuskan untuk mengarang cerita yang lebih masuk akal agar ibunya percaya.

Setengah jam kemudian, dia pun selesai memasak nasi goreng dan mie instan. Dia langsung membawanya ke ruang keluarga. diletakkannya makanan itu di atas meja di depan televisi.

"Mira! Kamu jangan makan dulu. Mama mau ngomong serius sama kamu!" kata Bu Ratna dengan suara terdengar agak ketus.

Raut wajah Miranda langsung berubah khawatir dan takut. Namun langsung ditutupinya dengan senyuman. Tentu senyum yang tidak terlihat tulus.

"Iya, Ma," katanya dengan suara tetap lembut. Dia kembali duduk di kursi sofa, urung mengambil mie di atas meja.

"Ceritakan pada Mama, apa masalahmu dengan Robert?"

"Mira dan Robert baik-baik saja, Ma," kata Miranda tetap bersikukuh.

"Video siapa yang ada di ponselmu ini? Kenapa wajahnya mirip Robert?" Bu Ratna menyerahkan ponsel yang dipegangnya kepada Miranda.

"Mama barusan memeriksa ponsel Mira?!" tanya Miranda sangat kaget. Ekspresi ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran langsung menjadi satu di wajahnya.

"Ceritakan saja, video siapa itu?!" tanya Bu Ratna lagi dengan nada suara mulai meninggi.

Miranda baru sadar kalau dia lupa menghapus video Robert dan Bram di ponselnya. Dia juga lupa mengunci layar ponselnya ketika tadi hendak pergi ke dapur. Sekarang ibunya sudah tahu isi ponselnya itu.

"Video mana, Ma?" tanyanya masih pura-pura tidak tahu untuk mencegah ibunya bertanya lebih jauh.

"Kamu tidak usah menutup-nutupi. Ceritakan yang sebenarnya pada Mama. Kenapa laki-laki di dalam video itu mirip dengan Robert, suamimu?!" teriak Bu Ratna dengan mata sedikit melotot.

Miranda berusaha berimajinasi mencari penjelasan yang masuk akal. Rencana yang tadi dipikirkannya di dapur tidak mungkin dieksekusi. Ibunya tidak akan percaya begitu saja dengan cerita yang dikarangnya tadi. Pikirannya buntu. Tidak ada cerita karangan yang dapat digunakannya untuk menutupi video itu. Dia tak mampu berkata-kata. Dia serba salah. Dia pun makin panik. Akibatnya, pikirannya makin buntu. Bahkan sekarang lidahnya makin kelu.

"Katakan kalau itu bukan Robert suamimu! Itu bukan suamimu, kan, Mir?!" Bu Ratna mulai nampak panik.

Pada akhirnya pertahanan Miranda runtuh. Dia tidak bisa lagi menutupi masalah yang sedang dihadapinya. Selama ini, hanya ibunya tempat dia mengadu dan mencurahkan isi hati. Memang dia sering menceritakan banyak hal kepada Ratmi. Tapi itu tidak untuk urusan yang sangat sensitif seperti sekarang ini.

"Iya. Itu Robert, Ma," ujar Miranda dengan suarat yang terdengar pelan dan bergetar.

"Jadi suamimu itu....???" Bu Ratna tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Pikirannya pun langsung menembus ruang dan waktu, jauh ke masa lalu, di Jakarta sana. Kejadian yang meluluhlantakkan rumah tangganya, terjadi dua puluh dua tahun yang lalu.

--------------------

Kembali ke bagian sebelumnya < Daftar Isi > Lanjutkan ke bagian berikutnya

Baca Juga:

Komentar