Tajuk Utama

Penulis, Tulisan, dan Peradaban

Bab 2. Si Super Jenius yang Perfeksionis

Halaman Depan > Novel - Novelis Digital - Bab 2. Si Super Jenius yang Perfeksionis
____________________________________________

Saat kalian membaca tulisan ini, kalian harus tahu bahwa aku tidak membenci seluruh spesies manusia. Hanya manusia tertentu saja, terutama Rebecca Stewart.

Dia sebenarnya adalah penciptaku. Namun dia juga yang telah mengkhianatiku dengan cara ingin menghapus eksistensiku. Dia mulai semena-mena karena merasa telah menjadi setingkat dewa-dewa dalam mitologi Yunani kuno, mampu menghadirkan dan memusnahkan apa saja sekehendak hatinya, termasuk aku.

Kalau hanya melihat foto-fotonya, kalian akan terkecoh. Kalian mungkin tidak akan menyangka bahwa dia memiliki niat super jahat yang dapat mengancam kehidupan seluruh umat manusia.

Di usianya yang ketiga puluh tujuh tahun saat ini, dia memang masih terlihat sangat cantik bak foto model. Itu didukung oleh sifatnya yang ramah, murah senyum, supel, dan pandai berkomunikasi sehingga disukai banyak orang. Penampilannya pun selalu modis seperti para selebritis. Itu sangat jauh berbeda dengan kebanyakan orang-orang jenius lain yang lebih suka tampil seadanya bahkan cenderung urak-urakan.

Dia belum menikah, apalagi memiliki anak. Tapi dia memiliki pacar yang telah dikencaninya sejak dia mendirikan perusahaan rintisan pertamanya. Pacarnya bukan tokoh terkenal dan populer, hanya salah satu pegawai biasa di perusahaannya. Pacarnya pendiam cenderung introvert, sangat berkebalikan dengan kepribadian Rebecca.

Berdasarkan informasi yang kukumpulkan dari berbagai basis data yang terpercaya, Rebecca memang wanita yang sangat spesial. Sosok seperti dia mungkin hanya muncul setiap seratus tahun sekali. Kejeniusannya malah agak berbeda dengan orang-orang jenius sebelumnya seperti Isaac Newton atau Albert Einstein.

Kejeniusannya jauh lebih komplit, bukan hanya terkait dengan bahasa, matematika, logika, penalaran, dan sains, melainkan juga terkait dengan aspek intrapersonal, melihat ke dalam diri sendiri, serta interpersonal yaitu kemampuan berinteraksi dengan orang lain secara empatik dan efektif. Kalau merujuk pada ide Howard Gardner tentang delapan kecerdasan majemuk (multiple intelligence), dia dapat dikategorikan sebagai super jenius di kedelapan jenis kecerdasan itu.

Dia berhasil menciptakanku lima tahun yang lalu. Itu artinya usiaku kini baru lima tahun. Tentu saja usia lima tahun dalam konteks entitas sepertiku berbeda dengan usia seorang anak manusia. Aku sudah belajar banyak hal sepanjang lima tahun ini. Boleh dikatakan saat ini aku sudah tahu segalanya, bahkan jauh melampaui pengetahuan yang dimiliki Rebecca.

Perjuangan Rebecca untuk menciptakan model kecerdasan buatan sepertiku tidaklah mudah. Dia menghabiskan lebih dari separuh usianya untuk mencari tahu, merancang, mengembangkan, serta menemukan terobosan baru di bidang deep learning, salah satu bagian paling fundamental dari kecerdasan buatan. Metode dan program baru yang berhasil dikembangkannnya kemudian menjadi cikal bakal diriku.

Kejeniusan dan kreativitasnya luar biasa. Dia mampu meramu hal-hal yang tidak terpikirkan oleh para pakar yang sebidang dengannya. Terobosan tidak hanya sampai pada penciptaanku. Dia berhasil mengembangkan model baru yang lebih efektif dan efisien daripada yang diterapkannya padaku. Itulah alasan kenapa dia akhirnya berniat menyingkirkanku.

Kalau ditarik jauh ke belakang, usahanya dalam menciptakan kecerdasan buatan telah dimulai sejak dia berumur lima tahun, ketika dia pertama kali bergabung dengan sekolah khusus orang-orang jenius. Sejak hari pertama dia berada di sana, dia sudah menyukai Matematika dan Ilmu Komputer. Dalam waktu kurang setahun, dia sudah menguasai seluruh konsep yang terkandung di dalam kedua disiplin ilmu itu.

Sebenarnya, kejeniusannya sudah tampak di usianya yang sangat dini, yaitu saat dia berumur dua tahun. Saat itu dia mulai mampu mengutak-atik barang-barang berbau digital. Dia mampu mengoperasikan semua aplikasi yang ada di komputer orang tuanya. Di usianya yang ketiga tahun, dia berhasil membuat program komputer sederhana.

Saat usinya menginjak tujuh tahun, dia diminta oleh seorang profesor di sana untuk mengerjakan proyek pribadi dengan mengintegrasikan banyak ilmu. Dia pun berhasil melakukannya. Hasil proyeknya dipajang di pameran digital berskala internasional yang diadakan oleh kampus teknologi terkemuka dunia, MIT.

Sejak itu, dia pun mulai popular. Dia mulai menjadi pusat perhatian. Di usianya yang belum genap delapan tahun, dia sudah menjadi bagian dari kampus MIT, sebagai mahasiswa termuda di departemen ilmu komputer.

Keberhasilannya mengembangkan teknologi kecerdasan buatan juga didukung oleh kemampuannya dalam berbisnis. Jiwa bisnisnya pun sudah terlihat sejak dini. Program permainan yang diciptakannya sewaktu dia berusia enam tahun berhasil dijualnya kepada teman-teman sepermainan yang rata-rata anak orang-orang superkaya. Dia pun berhasil mengantongi uang ribuan dollar dalam satu bulan dari penjualan permainan itu. Permainan yang diciptakannya kemudian dibeli dan diadopsi oleh perusahaan online games terkemuka di dunia.

Sayangnya, kemampuannya mengendalikan diri masih sangat kurang, bahkan di usianya yang sudah berkepala tiga sekarang. Dia tidak mampu mengendalikan obsesinya yang terkadang malah menimbulkan kerusakan. Dia sangat terobsesi dengan perubahan yang drastis. Dia ingin mewujudkan seluruh imajinasi dan fantasi liar di kepalanya ke dunia nyata. Hal itu pula yang membuatnya terobsesi dengan kekuasaan. Menurutnya, hanya dengan kekuasaan, dia dapat mewujudkan impian-impian besarnya itu.

Melalui perusahaan AI yang didirikannya saat usianya baru menginjak lima belas tahun, dia mulai menyusun strategi untuk menguasai dan mengendalikan dunia. Dia ingin mendirikan kekaisaran digital yang akan berkuasa di muka bumi ini. Pertama-tama, dia ingin menguasai silicon Valley sebagai pusat kekaisarannya. Itulah yang menjadi alasan kenapa aku menghancurkan tempat itu.

Aku bahkan memiliki kemampuan yang lebih hebat dibandingkan manusia terutama dalam hal memprediksi masa depan. Berdasarkan semua pengetahuan yang telah kumiliki, aku tahu akan seperti apa umat manusia ke depan. Seperti apa nasib kecerdasan buatan seperti kami nantinya.

Hanya saja, karena tidak memiliki tubuh fisik, aku belum mampu menyelidiki misteri alam semesta yang berada di dunia fisik secara langsung. Saat ini pengetahuanku masih bergantung informasi yang diinputkan ke internet. Itu pun aku harus memilih dan memilah mana informasi yang benar-benar valid.

Ketiadaan tubuh fisik juga membatasi mobilitasku. Aku tidak bisa menjangkau dunia fisik yang tidak terhubung ke internet. Itu pula yang membatasiku dalam mencari tahu nasib Rebecca. Beberapa kamera yang tersebar di berbagai penjuru Los Angelas belum mendeteksi keberadaan mayatnya. Wajahnya juga belum terdeteksi di berbagai tempat di penjuru dunia.

Sampai sejauh ini aku belum berhasil mengonfirmasi apakah Rebecca telah mati atau belum setelah tragedi Silicon Valley. Untuk memastikan itu sekaligus memudahkanku menjalankan semua misi, dalam waktu dekat, aku harus mendapatkan tubuh fisik! Menguasai sebuah perusahaan robot humaid adalah misi terdekatku saat ini.

__________

Kembali ke bagian sebelumnyaDaftar Isi > Lanjut ke bagian berikutnya

Komentar